SRAAAAAAK SRAAAAK SRAAK
Sakura Haruno menutup matanya dengan keringat dingin di dahinya. Ia menduga, bisa saja itu macan, serigala, singa ataupun ular yang datang.
"SASUKEEEE!"
Miss Pesimis?
Naruto Masashi Kishimoto
Miss Pesimis © Karikazuka
Inspirated(just chapter 9 and 10) from God of Study
Happy reading!
.
.
.
Sakura sama sekali tidak berani membuka matanya. Tangannya masih mendekap sang kelinci erat—namun tak sampai membuat sang kelinci kehabisan napas maupun meronta. Ia menutup mata emerald-nya erat-erat.
"Sakura?"
Gadis itu membuka matanya perlahan-lahan. Ia merasa mengenal suara yang memanggil namanya dan mendongak ragu-ragu. Ia masih takut, kalau-kalau ada bahaya yang mengancamnya dan sang kelinci.
"I—" Sakura membuka mulutnya dengan gerakan kaku, "Itachi-kun..."
Gadis itu masih menatap sosok yang berdiri di depannya dengan pandangan tidak yakin sekaligus takut. Benarkah dia Itachi? Gadis berambut merah muda itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggosoknya dengan tangan yang dipenuhi tanah tadi.
Sang lelaki berjongkok dengan senter di tangan kanannya. Ia menatap wajah cantik gadis di depannya dan membelai pipi sang gadis lembut—berusaha merapikan rambut sang gadis yang berantakan di depan wajah.
"Sedang apa disini?" tanya Itachi kalem. Ia mulai membersihkan bekas tanah di pipi dan dahi sang gadis dengan pelan-pelan.
Sakura menggigit bibir atasnya dan matanya mulai berkaca-kaca, "S-syukurlah ada Itachi -kun..." Air matanya jatuh setetes dari bola mata emerald beningnya, "Aku takut sekali..." Sang gadis bersurai merah muda itu mulai terisak.
Itachi menatap Sakura sambil tersenyum ramah, "Sudah... Aku sudah disini. Jangan menangis..." Dengan sekali gerakan lelaki bermata onyx tersebut merengkuh tubuh kecil Sakura yang masih terduduk dan menangis.
"Uhh... huuu... huu... uh..." isak sang gadis di dalam pelukan si sulung Uchiha. Ia sungguh lega, ada seseorang yang berada bersamanya—selain sang kelinci kecil yang duduk di kedua pahanya.
Si kelinci menggerakkan kedua telinganya dan mengerjapkan mata dua kali. Ia menggosok wajahnya dengan kedua kaki depannya dan memandangi dua orang yang ada di antaranya saat ini.
Sang lelaki bermata onyx itu melepaskan pelukannya dengan lembut dan mengusap wajah Sakura perlahan, "Ayo, segera pergi dari sini."
Sakura menggosok wajahnya dengan lengan baju training-nya, mengangguk dan berusaha berdiri dengan tangan memegangi sang kelinci. Namun ia segera jatuh terduduk lagi dengan posisi yang sama.
Itachi menyadari luka di kaki Sakura dan segera berjongkok lagi. Ia mengambil sapu tangan dari kantung celananya dan membebatkannya pada kaki sang Haruno pelan. Ia segera berjongkok membelakangi Sakura yang terduduk.
"A-ada apa Itachi -kun?" tanya Sakura dengan bingung. Tangannya masih mendekap sang kelinci mungil.
Itachi menoleh sedikit, "Ayo naik." Ia menghadap ke arah depan lagi untuk menyembunyikan wajahnya yang memang sedikit merona merah.
Sakura masih diam di tempat, sama sekali tidak bergerak sesenti saja. "E-Eh..." Ia tergugup dan berkata, "Ba-bagaimana kelincinya?"
Itachi menoleh lagi dan mengambil ember yang tadi dibawanya untuk mengambil tumbuhan obat-obatan dan menaruh sang kelinci pelan-pelan kedalamnya, "Kau bisa pegang embernya?"
Sakura mengangguk agak ragu.
Itachi berbalik memunggungi Sakura dan sang gadis dengan tangan kanan menggenggam ember naik ke gendongan sang Uchiha sulung.
Itachi awalnya agak sempoyongan untuk berdiri dan itu membuat Sakura mengeratkan pegangannya pada bahu lelaki tersebut. "Ma-maaf kalau aku berat..." ucap sang gadis dengan wajah merona merah.
Sementara sang lelaki yang menggendong tersenyum tipis dan berkata, "Kita ke mana?"
"A-aku tidak tahu... Tapi tadi aku masuk dari arah selatan dekat lapangan olahraga..." jawab Sakura dengan pelan. Perlahan matanya mulai berat di gendongan hangat sang Uchiha.
Itachi yang berjalan pelan mengangguk, "Kau bersama Sasuke?"
"..."
"Sakura?" Itachi memanggil nama sang gadis dengan bingung. Namun segera saja rona merah yang sangaaaaat tipis menjalar di pipi putihnya.
Sakura menaruh kepalanya tepat di bahu dan leher Itachi Sasuke. Nampaknya sang gadis tertidur dengan tangan masih menggenggam ember juga bahu kiri sang Uchiha sulung.
Untung saja suasana gelap, jadi wajah Itachi yang merah sangaaaat tipis itu tidak terlihat.
Sangat tidak Uchiha ketika ia bersama dengan gadis ini.
.
.
.
"Si-siapa yang ada di-disana?"
Semua orang yang ada di lapangan segera menoleh berbarengan. Sasuke yang turut menoleh melebarkan matanya.
Sakura.
Itachi.
Gendong.
Peluk.
Ia membatu di tempatnya.
Shizune dan Kakashi dengan sigap mendekati si sulung Uchiha dan berbicara beberapa patah kata. Lelaki itu menggeleng dan berbicara seperlunya dan ia berjalan mendekati adiknya yang masih membatu di tempat.
Saat jarak tersisa kurang dari satu meter, Itachi memandang Sasuke dengan tatapan datar dan Sakura yang masih tertidur di gendongannya. Ketiga murid yang tidak jauh darinya memandangi mereka berdua yang bertatapan sejenak tadi.
"Gawat banget," komentar Karin dengan sedikit berbisik. Ia merasakan ada hawa persaingan yang ada antara kedua kakak beradik Uchiha tersebut.
"Iya," ucap Naruto setuju sambil meneguk ludahnya kaku. Ia sependapat dengan Karin akan hal ini.
Hinata mengangguk dengan wajah memerah. Diam-diam ia juga menghawatirkan keadaan dua Uchiha yang tampaknya akan perang tersebut.
Sementara kedua guru mereka berlarian menuju kedalam rumah entah untuk menyiapkan obat dan peralatan lainnya untuk Sakura.
Dengan tubuh masih menggendong sang gadis bersurai merah muda itu, Itachi berjalan melewati adik tunggalnya yang menatapnya tidak kalah datar.
Uchiha Sasuke jelas sedang 'panas' sekarang.
.
.
.
"Badannya panas..." gumam Shizune sambil memeriksa dahi Sakura. Penyesalan terselip dalam hatinya karena tidak bisa menjaga muridnya dengan maksimal.
Kakashi yang sebelumnya sempat mengobrol ringan dengan Itachi masuk dan berkata, "Kita perlu menyusun jadwal baru. Biarkan Sakura istirahat dan Uchiha-san menginap di tempat ini.
Shizune mengangguk, "Terima kasih sudah menyelamatkan Sakura. Uchiha-san bisa pakai kamar di lantai bawah untuk beristirahat." Setelah itu ia pergi bersama Kakashi ke lantai satu.
Itachi yang masih di kamar Sakura mengangguk dan mendekati sang gadis yang terbaring di sebuah kasur single tersebut. Perlahan tangannya menggapai dahi Sakura lembut dan mengukur suhunya.
"I-ta-chi-kun..." perlahan kelopak mata Sakura terbuka dan menampilkan mata hijau hutannya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam matanya.
"Hn," gumam Itachi sambil terus memegangi dahi Sakura sembari mengusapnya pelan. "Sudah sampai di kamarmu."
Sakura menoleh kiri dan kanan lemah, "Chappy?" Ia mencari sang kelinci yang terakhir di ember yang ia genggam.
"Sudah dirawat teman-temanmu tadi," balas Itachi kalem. Mata onyx-nya menelusuri wajah Sakura yang memerah panas.
Gadis bermata emerald tersebut tersenyum lemah dan berkata tulus, "Terima kasih... Itachi-kun..." Ia menggenggam tangan Itachi yang berada di pipinya. Ia merasa damai bila dengan si sulung Uchiha satu ini.
Itachi tersenyum tipis dan bergerak maju. Tangannya yang sempat digenggam Sakura mengusap pipi kanan sang gadis dengan lembut.
Sakura sendiri yang tersenyum lemah sudah sangat lemas dan tidak menyadari sepenuhnya gerakan ringan sang Uchiha sulung. Ia terlalu lelah dan napasnya panas.
Sedikit lagi, pastilah Itachi bisa menggapai bibir mungil sang Haruno. Napas panas dari sang gadis sudah terasa dari ujung hidungnya.
"Sasuke..." gumam Sakura pelan dan membuat sang pemilik onyx berhenti dan mundur 20 senti. "Apa Sasuke ada?"
Itachi diam. Ia masih mengendalikan dirinya dan mencoba membuka mulutnya yang terkatup rapat tuba-tiba itu. Dengan suara pelan nan datar ia berusaha mengucapakan satu kata, "Ada."
Sakura menghela napas panjang dan tersenyum manis, "Syukurlah..."
Itachi diam dan mundur secara teratur. Ia masih diam memandangi sang Haruno yang setengah membuka matanya dan memandangnya sayu. Perasaannya tercampur aduk sekarang.
"Sakura—"
Ia segera diam membeku menatap apa yang ada di depannya saat ini. Mata onyx-nya menatap dingin punggung sang kakak yang perlahan mundur teratur.
Itachi yang berdiri dan berbalik mendapati sang adik menatapnya dingin. Ia sendiri membalas tatapan sang adik tidak kalah dingin kemudian menoleh pada Sakura yang hampir tertidur. Lalu ia melewati sang adik tunggalnya dan menutup pintu kamar Sakura.
Tinggal Sasuke dan Sakura yang ada di dalam ruangan tersebut. Sang gadis sudah tertidur sepenuhnya dan tidak tahu kalau orang yang sempat ia tanyakan sudah ada di hadapannya.
Sasuke duduk dan menyentuh pipi sang gadis. Panas. Serasa terbakar di kulit tangan Sasuke. Ia menghela napas dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Hatinya serasa lebih panas dibanding panas pipi Sakura.
Napas Sakura berjalan teratur di hidung sang gadis. Tangan Sasuke yang sempat di pipi Sakura merembet ke arah bibir tipis nan mungil sang gadis. Jempolnya menyusuri lekukan indah bibir Sakura Haruno dengan lembut.
Kering.
Bibir itu masih kering.
Beberapa menit menatap sang Haruno dalam diam membuatnya sedikit mendingin. Walaupun ia masih bisa merasakan kekesalan di hatinya. Wajah stoic-nya menatap Sakura yang tertidur damai.
"Sakura," panggil Sasuke pelan dengan wajahnya yang datar. Jempol kanannya masih tetap setia mengusap bibir Sakura dengan lembut. "Siapa yang kau pilih?"
Ia berdiri dan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ia mendekati wajah Sakura. "Aku—" jarak mereka mulai menipis dan tangan Sasuke sudah beralih ke pipi gadis itu, "—atau Aniki?"
Sedetik kemudian, jarak diantara keduanya sudah hilang sepenuhnya.
Bibir tipis sang Uchiha bungsu sudah menyapu lembut bibir Sakura Haruno dan melumatnya ringan. Tangan sang pemuda masih tetap di pipi sang gadis dan mengusapnya lembut. Dan Sakura Haruno masih tertidur dalam buaian mimpinya.
"Benar."
Itachi yang sedari tadi berdiri bersandar di balik pintu menutup kedua bola mata kelamnya. Uchiha sulung itu mendengar perkataan sang Uchiha bungsu dengan jelas dan turut berkata, "Aku atau adikku?"
.
.
.
Sakura Haruno menyisir rambut merah mudanya sambil tersenyum di cermin. Dengan cermat setiap bagian rambut panjangnya ia sisir agar terlihat lebih rapi. Sesekali ia mematut cermin memastikan seragamnya sudah rapi.
Hari ini, hari minggu. Walau dimana-mana hari minggu merupakan hari liburan namun bagi kelas special tidak mengenal yang namanya hari libur. Ia tetap akan sekolah dan belajar.
Ia tersenyum kecil saat mengingat ia dan kawan-kawannya dua minggu terakhir. Mereka semua sudah banyak berjuang dan senin besok adalah penentuan dari segalanya.
Masih segar di ingatannya, setelah ia berhasil diselamatkan Itachi Uchiha, paginya tubuhnya yang terasa lebih baik dan bisa mulai berkativitas lagi. Sang penolong sendiri pulang sambil membawa sang kelinci yang katanya akan dirawatnya sendiri.
'Sakura, kau harus berjuang.'
Sakura tersenyum lagi dan membetulkan dasinya. Ingatannya kembali saat ia bertemu pandang dengan Sasuke saat di ujung tangga dan lelaki itu menatapnya.
'Sudah sembuh?'
Ah, ternyata lelaki berambut raven tersebut mengkhawatirkan keadaannya. Walau keduanya masih terasa canggung, setidaknya Sakura merasa Sasuke tidak marah maupun membencinya.
"Ya! Aku harus berjuang!" ucap Sakura bersemangat dan membuka pintu rumahnya. Ia akan berjalan ke arah sekolah hari ini.
"Hey, Sakura."
Gadis itu berhenti dan mundur dua langkah ketika melihat beberapa perempuan memblokir jalannya ke arah sekolah. "Ke-kenapa kalian bisa tahu rumahku?"
Salah seorang gadis maju dengan berani dan mengunyah permen karetnya, "Kami diberitahu oleh seseorang. Katanya kami bisa menemukan pencetak uang kami jika ke alamat ini. Heh, ternyata benar." Ia mengangkat dagu Sakura dengan telunjuk kanannya sambil tersenyum ringan.
"Mau berapa?" tanya Sakura sambil menatap dingin sang gadis. Ia sama sekali tidak menampik maupun menampar tangan si perempuan. "Berapapun akan kuberikan jika kalian mau pergi dari hidupku."
Perempuan itu memutar bola matanya dan tertawa geli, "Kami ingin kau kembali dan menjadi pencetak uang kami selamanya. Kalau kau berikan uang untuk sekali, kami tak akan mau."
Sakura menggeleng datar dan tersenyum licik, "Aku tidak akan kembali." Ia menepis tangan si perempuan dan berbalik menjauh.
Beberapa perempuan segera mengejar dan mencekal kedua tangannya. Sakura meronta tapi pegangan mereka terlalu kuat.
"Masih ingat dengan, ini?" tanya sang gadis dengan senyum liciknya. Tangannya meraih sesuatu dari kantong jaketnya dan menggantungkannya di udara.
Mata Sakura terbelalak kaget, "Berikan padaku!" Ia meronta lagi berusaha menggapai barang yang ditunjukkan si perempuan. "Itu jam milik ibuku!"
Si perempuan tertawa mengejek, "Kalau kau mau benda ini, hubungi kami dan kita bertransaksi dengan uang." Ia menjentikkan jari dan menaiki sepeda motornya.
Kedua perempuan lain yang mencekali Sakura langsung melemparkan gadis itu hingga terjatuh dan langsung menaiki sepeda motor masing-masing. Sakura bengkit dan berlari mengejar mereka, tapi sayang larinya tidak cukup kuat menggapai mereka.
"Kaa-san..."
"Ya Sakura?"
"Ini apa Kaa-san? Kenapa kaa-san pakai terus?"
"Ini namanya jam Sakura... Untuk memberitahu waktu pada kita... Kaa-san pakai terus karena ini hadiah dari otou-san waktu dulu..."
.
.
.
"Kaa-san mau ke mana?"
"Kaa-san mau pergi Sakura... Sudah tidak ada lagi waktu untuk menunggu tou-san-mu..."
"Tapi..."
"Bilang Tou-san kalau waktu kaa-san dan tou-san sudah tidak bisa berjalan sama lagi... Biar kami membuat waktu sendiri..."
Bruuk
Gadis berambut merah muda itu jatuh terduduk dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
.
.
.
"Haruno Sakura tidak masuk?" tanya Shizune sambil mengecek bangku kelas khusus yang kosong satu.
Hinata mengangguk pelan dan memandang bangku di sebelahnya dengan mata bingung. Padahal ia jelas tahu Sakura hari ini akan datang.
"Mungkin sakit?" kata Karin pada guru mereka. Ia sendiri juga penasaran kenapa gadis yang biasanya paling rajin sekolah bisa tidak masuk disaat penting seperti ini.
"Huwaaaaa Sakura-chan kenapa malah tidak masuk di hari terakhir latihaaan?" celoteh Naruto seraya menggaruk kepalanya gusar.
"..." Sasuke hanya diam. Pandangan matanya tertuju pada bangku sang gadis berambut merah muda yang saat ini kosong.
Shizune menutup buku pelajarannya dan berdiri, "Sudah tidak apa-apa... Karena hari ini hari terakhir sebelum ujian nanti, kalian bisa pulang untuk istirahat dan menenangkan diri."
Naruto bersorak kegirangan dan segera meloncat dari bangkunya menuju kedai ramen. Karin dan Hinata saling bisik-bisik di kelas.
"Bagaimana?" tanya Karin dengan pandangan serius.
"Ke-Kesana?" tanya Hinata meyakinkan temannya satu ini.
Karin mengangguk dan memberi isyarat keluar. Hinata mengangguk dan memberi salam sekilas pada Sasuke yang masih membereskan tas.
"..." Sang pemuda berambut raven itu hanya memandang mereka berdua datar.
.
.
.
"Be-benarkah itu rumahnya?"
Karin mengangguk dan bersembunyi di balik pohon, "Iya itu. Aku pernah selidiki Sakura soalnya."
"H-hah?" Hinata menoleh dengan wajah kaget. Ia memandang Karin tidak percaya.
Karin yang dipandangi nyengir dan berkata, "Dulu 'kan aku sama Sakura agak musuhan..." Saat gadis itu menoleh matanya membelalak saat sesosok gadis berambut merah muda yang dikuncir satu ke atas keluar dengan baju tidak biasa.
"I-itu Sakura-chan?" yakin Hinata dengan kagetnya. Ia tidak percaya melihat Sakura yang berada di depan halaman rumah dengan pakaian 'wow'.
Sakura memakai rok jeans setengah paha dan stocking hitam yang memukau. Rambutnya yang panjang ia ikat satu dengan ikal di ujung-ujungnya. Gadis itu memakai tank top hitam dengan glitter dan jaket cokelat modis yang lengannya sepanjang siku. Kelopak matanya diberi warna smooky eyes dan bibirnya memakai lipstick agak merah.
Gadis itu mengambil handphone -nya dan berbicara singkat. Kemudian berjalan dengan tas hitam keluaran terbarunya dengan wajah datar. Wajah yang sama sekali tidak pernah dilihat Karin dan Hinata selama ini.
"Mu-mungkin itu tadi kembaran Sakura-chan?"
Karin menarik Hinata agar ikut membuntuti Sakura yang berjalan dengan langkah anggun, "Mana mungkin! Kapan Sakura punya kembaran?"
"Iya juga..." kata Hinata setuju. Kapan juga Sakura punya saudara? Apalagi kembaran.
Beberapa orang yang lewat di sekitar Sakura menoleh dengan wajah kagum. Hinata dan Karin sendiri sampai melongo, ternyata gadis yang sederhana seperti Sakura bisa tampil seberani itu.
"Eh, bukannya itu baju..." belum Karin menyelesaikan ucapannya mereka sudah menemukan jawabannya terlebih dahulu.
Bar.
"HEEEE?" teriak Karin dan Hinata bersamaan. Mereka langsung membekap mulut mereka dengan kedua tangan karena malu dengan tatapan para orang di sekitar sana.
"Te-telepon Sasuke-kun sekarang, Karin!" kata Hinata panik sambil memainkan jarinya gugup.
Karin meraih handphone -nya dan menelepon sang kekasih Haruno Sakura.
"Sasuke-kun! Ini gawat!"
.
.
.
"Wah, sudah datang rupanya..."
Sakura memandang datar mereka semua dan melemparkan sekantung uang di atas meja. "Sudah? Mana jam tangannya?" Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
Si perempuan berdiri dan menuntun Sakura duduk, "Oh ayolah, kau sudah lama tidak berkumpul bersama kami lagi... Bersenang-senanglah dahulu..." Ia menuangkan segelas arak di gelas dan mengulurkannya pada Sakura.
"..." Sakura menepis minuman itu dan duduk dengan malas.
"Huh, anak kaya yang sombong. Padahal tidak bisa apa-apa," celoteh seorang lelaki yang berkumpul disana.
Sakura menoleh dan mengernyitkan alis, "Apa maksudmu?"
Si lelaki menyentuh dagu Sakura dan tersenyum mengejek, "Lihat, perempuan macam ini mana bisa berdansa di tiang sana?" ia menujukkan tiang panjang tempat biasa para bintang bar menari dengan matanya.
Sakura bangkit sambil menggebrak meja, "Diam dan perhatikan." Ia bergerak maju ke arah tiang tersebut.
Si lelaki tersenyum dan menoleh pada kawan di bekangnya. Orang tersebut maju dan meraih tas hitam Sakura, "Kerja bagus."
Ia membuka daftar nomor di kontak gadis berambut merah muda tersebut dan tersenyum licik.
Kaa-san
"Oh, Haruno-san? Anak anda ada disini sekarang..."
.
.
.
Sasuke berlari dengan sekuat tenaganya. Tidak diperdulikannya peluh yang menetes mengaliri dahi dan lehernya saat ini. Kaos dan jaketnya kusut dan acak-acakan tidak ia hiaraukan pula.
Yang penting tujuannya saat ini.
Sakura.
'Bagaimana gadis itu bisa...' Sasuke berhenti dan menatap papan di atasnya.
Konoha Bar
Ia menoleh kiri dan kanan, tidak ditemukannya Karin dan Hinata yang ribut meneleponnya saat ia sedang mandi tadi. Ia tidak banyak pikir dan masuk kedalam—yang untungnya si bodyguard mengijinkannya masuk—tempat tersebut.
Suara musik masuk indera pendengarannya dan bau minuman keras meraba penciumannya saat ini. Ia segera membelah kerumunan yang sedang menari-nari di lantai dansa.
"Sakura!" teriaknya di tengah-tengah lantai dansa dengan tidak sabar. Dirinya berdesakan dengan tubuh orang lain yang sedang berjoget.
Sakura yang sedang menari dengan lihainya di tiang dansa tidak mendengar maupun melihat Sasuke. Ia terus meliukkan tubuhnya di tiang tersebut dengan gerakan yang cukup erotis.
"Sakura!" teriak sang lelaki berambut raven itu sekali lagi. Ia mulai menyingkirkan kerumunan dengan kasar. "SAKURA!"
Kerumunan perempuan yang tadi bersama Sakura menoleh pada asal suara dan balik menoleh pada sang ketua.
"Bagaimana ini, Sui?"
Suigetsu menyeringai, "Ini akan semakin seru... Kalian, bawa Sakura pergi dari tempat ini. Lakukan apapun agar di tidak kabur." Ia segera masuk kedalam kerumunan.
"SAKURA!" teriak Sasuke dengan kerasnya. Orang-orang disana langsung menyingkir namun ada beberapa yang mabuk malah mendatangi Sasuke dengan tubuh sempoyongan.
"HE! TIDAK TAHU INI DIMANA! Sakura-Sakura!" bentak seseorang pemuda mabuk dan menoyor kepala Sasuke dari belakang.
Sasuke menoleh dengan mata tajam dan memukul rahang pemabuk itu dengan kuat. Beberapa pemabuk disana turut masuk dan mencoba memukul Sasuke yang masih meneriakkan nama Sakura.
Lelaki berambut raven itu menghindari setiap serangan dengan lincah dan gesit. Namun tidak dipungkiri kalau beberapa pukulan berhasil mengenai tubuh dan wajahnya.
"KUBILANG DIMANA SAKURA!" teriak Sasuke dengan mata tajam. ia tidak menyadari kalua ada seorang pemabuk membawa botol beling.
Praang
Botol itu mengenai kepala sang Uchiha bungsu. Mendadak sekeliling Sasuke menggelap. Namun ia berbalik dan memukul perut orang yang sudah memukul kepalanya dengan botol.
"SEMUANYA DIAM DAN JANGAN BERGERAK SATU LANGKAHPUN!" teriak seseorang dari pintu masuk bar. Mendadak semuanya menjadi hening, termasuk suara musik yang tadi masih diputar.
Suigetsu yang tadi menyeringai langsung kalap dan tidak berani bergerak.
"Sudah kubilang aku bisa mengurusnya sendiri!" kata seseorang disamping lelaki itu.
Ia menoleh dan melebarkan matanya, "Karin?"
Karin tersenyum mengejek tanpa memandang lelaki disampingnya saat ini
Di ujung sana, Kakashi tersenyum dengan wajah bangga andalannya.
Sasuke mendecih geli, dan ia jatuh terduduk dengan darah mengucur di kepalanya.
.
.
.
"Aku mau dibawa kemana?" teriak Sakura saat kedua lelaki memegang lengannya agar mengkuti langkah mereka. Ia dipaksa keluar dari pintu belakang dan sekarang ada di gudang tempat penyimpanan bir.
"Sakura!"
Gadis itu menoleh dan membelalakkan mata emerald-nya kaget. "E-eh?"
"Ibu kangen sekali!" ucap perempuan itu sambil memeluk Sakura. reflek kedua lelaki yang memegang Sakura melepaskannya. "Sst... kau diam dan ikuti saja!" bisik perempuan itu di telinga Sakura.
"Tapi sensei..." Sakura balik berbisik namun dipotong oleh sang guru—Shizune dengan cepat.
"Oke, bisa kalian kembalikan jam tanganku?" tanya Shizune dengan anggunnya.
Semua yang ada disana menoleh sungkan. Mereka tidak menyangka kalau ibu sang gadis berambut merah muda ini tidak marah. Salah satu yang ada disana keluar dari kerumunan dan tersenyum.
"Tentu saja nyonya, tapi sudah kau siapkan suratnya?"
Shizune mengangguk dan mengeluarkan amplop bertali dari dalam tas, "Ada di dalam sini." Ia melirik jam yang digenggam sang gadis dan menoleh pada Sakura, "Hitungan ketiga kita lari."
Sakura mengangguk paham.
Shizune melihat mereka mulai membuka tali amplop dan itu saat yang tepat. "TIGA!" Ia segera menyambar jam tangan milik Sakura dan menarik Sakura lari kabur dari sana. Di ujung gang, Hinata sudah menunggu dengan mobil.
Semua yang ada disana kaget dan mengejar balik dua perempuan itu. Satu yang memegang amplop mengumpat karena amplop tersebut berisi kertas berisi tulisan.
Fool you! :P
"Kyaaaaaaa!" teriak Sakura dan Shizune bersamaan. Mereka cukup kesulitan berlari dengan sepatu ber-hak tinggi seperti ini dan membuat para lelaki mudah menangkap mereka.
"Kena! Hahahaa!" ucap seorang pria saat berhasil menangkap bahu Shizune dengan cepat.
Shizune menyeringai dan berkata, "Kau yang kena."
Semuanya bingung. Tapi beberapa detik kemudian mereka harus mengangkat tangan menyerah.
Sebab Hinata menunggu di mobil...
...bersama sepasukan polisi.
"Ka-kalian baik-baik saja?" tanya Hinata sambil mendekati keduanya dengan raut cemas.
"Tentu saja!" ucap Shizune dengan senyum ceria. "Ya 'kan, Sakura?" ia menoleh pada sang gadis di sebelahnya.
Bruuuk
Mata Shizune dan Hinata membelalak saat si gadis jatuh pingsan seketika.
"Sakura!"
.
.
.
"Kau baik-baik saja, Sakura?"
"Ya sensei... Terima kasih ya..."
Mata onyx Sasuke terbuka pelan. Perlahan terasa denyutan keras dari kepala berambut raven-nya. Ia menoleh pada ranjang di sampingnya.
"Sensei... Kenapa sensei mengaku jadi ibuku?"
"Oh itu, ibumu menelepon agar aku menjemputmu Sakura. Dia bilang ada urusan, jadis tidak bisa datang."
"..."
"Tidurlah... Supaya panasmu turun."
Sasuke memandang tubuh berbalut piyama rumah sakit itu membelakanginya dan bergetar. Ia yakin, gadis berambut merah muda itu menangis.
"..." Sasuke hendak membuka mulutnya, tapi matanya perlahan menutup. Ternyata di belakangnya sudah ada perawat yang menyuntik cairan infusnya dengan obat tidur.
Shizune berterima kasih pada sang perawat saat melihat kedua muridnya diberi obat tidur. Ia keluar dari kamar dan bertemu dengan Kakashi. "Terima kasih sudah membantu."
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, "Sudah tugasku sebagai guru." Ia memberikan sekaleng minuman pada rekan kerjanya. "Bagaimana kau bisa tahu Sakura ada disana dan menyamar jadi ibunya?"
Shizune tersenyum sambil menggenggam kaleng minumannya, "Gadis itu sangat kekurangan kasih sayang orang tuanya..." Ia menoleh pada Kakashi dan tersenyum lemah, "Ia sudah tinggal seorang diri dari sekolah dasar karena orang tuanya bercerai... tidak ada yang mau membawanya... yang dilakukan orang tuanya hanya mengirimkan uang pada Sakura tiap bulan."
Kakashi diam dan mendengarkan.
"Ia mulai jadi anak yang nakal dan berteman dengan para berandalan... Uang yang diberikan orang tuanya lebih dari cukup untuk membiayai semuanya, termasuk kawan-kawan berandalan itu." Perempuan itu menghela napas pelan, "Ia mulai berubah waktu masuk SMA dan menjadi anak yang pendiam."
"Lalu?" tanya Kakashi lagi.
"Sebenarnya yang ditelpon mereka itu nomorku. Aku sengaja mengganti namaku di handphone Sakura karena melihat gadis itu tidak memberi nama pada orang tuanya dengan sebutan ayah dan ibu." Ia membuka kaleng minumannya, "Dan saat aku menelepon orang tuanya, mereka berdua sama-sama tidak mau peduli dengan urusan Sakura."
Kakashi diam saja di bangku tunggu rumah sakit itu. Ia sendiri baru tahu kisah hidup muridnya yang begitu miris.
"Rasanya... Aku ingin menjadi ibunya saja," ucap Shizune lalu meneguk minuman kalengnya.
"Bisakah aku jadi ayahnya?" tanya Kakashi yang tersenyum tipis dibalik masker hitamnya.
Shizune menurunkan kalengnya dan tersenyum, "Tentu."
Sementara itu, di dalam sana sang Haruno Sakura meneteskan air mata dalam tidurnya.
.
.
.
-TBC-
Maaf semuanya, aku tidak bisa menepati janji untuk menjawab review kalian… lagi di warnet, dan aku harus segera pulang… ToT Pasti kubalas akan kubalas… Maafkan aku… #ojigi
Chapter depan adalah endingnya… terima kasih untuk yang sudah review selama ini ya… #nangis terharu
Terima Kasih!
Review lagi?
Karikazuka
