Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Inspirated (just chapter 9 and 10) from God of Study

(Insert song: Secret-Friends [ost God of Study])

Chapter 10

Happy reading!

.

.

.

Gadis berambut merah itu membuka mata emerald-nya perlahan. Terasa sakit di kepalanya dan seluruh tubuhnya kedinginan. Ia mengeratkan selimut—namun masih terasa menggigil. Tubuhnya begitu lemas.

"Sakura."

Gadis itu menoleh ke arah kanan, ada Sasuke Uchiha yang juga berbaring disana. Di tangannya tertancap selang infus seperti dirinya. "Sa-su-ke?"

Lelaki itu tidak banyak bicara dan langsung melepas sambungan infus pada pergelangan tangannya. Ia mendekat pada Sakura dan berbisik, "Ayo kita ke sekolah. Hari ini kita ujian."

Sakura mengernyitkan alis dan menjawab lemas, "Aku..." Sakura segera menggeleng dan menjawab, "Baiklah..." Gadis itu melepas selang infus dan mencoba berdiri. Terasa sangat lemas, namun ia mencoba tetap berjalan.

Sasuke cepat tanggap dan memapah Sakura agar sanggup berjalan. Ia membuka pintu dan membantu Sakura terus berjalan. "Kau bisa?" tanyanya pada Sakura begitu mereka sampai di jalan raya.

Sakura menggeleng lemah. Kepalanya sungguh pening dan ia terkantuk-kantuk. Ternyata pengaruh obat bius masih ada di dalam tubuhnya.

Sasuke langsung berjongkok dan menggendong Sakura di punggungnya. Gadis itu tidak bisa melawan dan hanya menunduk lemas di punggung Sasuke. Lelaki itu mencoba mencari taksi ataupun bis, namun tidak ada satupun kendaraan umum.

Ia melirik jam di tangannya. 15 menit lagi ujian akan dimulai, dan ia hanya punya waktu sebanyak itu untuk sampai sekolah. "Sakura..." panggilnya pada gadis yang berada di gendongannya.

Sakura mengangguk lemah.

"Pegangan," kata Sasuke dengan wajah datar. Ia mulai berjalan menggendong Sakura menuju sekolah. "Jangan tidur."

"Aku... akan berusaha..." jawab Sakura dengan suara serak. Tangannya menggelantung pada bahu Sasuke. Punggung lelaki ini sangat hangat. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di punggung sang Uchiha bungsu.

.

.

.

"Sensei, Sakura-chan dan Teme akan datang, kan?" tanya Naruto dengan wajah cemas. Ia mengetahui cerita semalam dari Hinata dan ia khawatir jika kedua temannya tidak bisa mengikuti ujian kali ini.

Hinata dan Karin duduk dengan cemas di bangkunya. Mereka juga sama khawatirnya dengan Naruto.

Shizune tersenyum dan menjawab, "Mereka akan datang..." Ia menatap Kakashi—meminta persetujuan. Ia sendiri menatap jam dinding di depan kelas.

Kakashi mengangguk, "Mereka akan datang kalau sudah baikan." Ia menatap balik Shizune dan tersenyum dibalik maskernya.

"Kalau tidak membaik bagaimana? Sasuke baru saja dipukul dan Sakura bahkan pingsan." tanya Karin was-was. Ia turut menatap jam dan begumam, '10 menit lagi.'

Shizune menarik napas dan menggebrak meja—membuat semua yang ada di sana berjengit kaget. "Mereka itu kuat, pasti datang!"

"Sakura-chan! Cepatlah dataaaaang!" teriak Naruto sambil menghapalkan rumus di buku pelajaran. Hari ini akan jadi penentu semuanya.

"Sakura-chan... Sasuke-kun..." bisik Hinata pelan. Mata lavender-nya menatap jendela besar di ujung kelas.

Semua...

.

.

.

"Sakura?" panggil Sasuke dengan wajah penuh keringat. Ia menyenggol pipi Sakura dengan bahu kirinya pelan.

"Sasuke... aku ngantuk..." jawab Sakura lemas. Suhu tubuhnya mulai membaik, tapi tubuhnya masih sangat lemas bahkan sekedar untuk berbicara.

"Bertahan!" Bentak Sasuke agar Sakura membuka matanya. Ia memantapkan gendongannya pada Sakura—tidak peduli pada orang di jalan yang melihati mereka dengan pakaian rumah sakit—dan mulai berlari.

Sakura mengangguk dan mencubiti tangannya agar tetap terjaga. Bagaimanapun ia tidak boleh tertidur. Sasuke sudah rela menggendongnya agar bisa ikut ujian, ia sendiri tidak boleh tidak berjuang.

"Sedi-kit la-gi," kata Sasuke dengan nada terputus-putus—kehabisan napas.

Sakura membuka mata emerald-nya. benar, ia mengenali tempat ini. "Sasuke..."

Sasuke terus saja berlari, ia tidak peduli dengan keringat maupun napasnya yang tidak beraturan. 1 menit lagi ujian akan dimulai dan ia tidak boleh kalah.

Sakura terus saja menyubiti tangannya. Ia kemudian beralih menyubiti pipinya agar tidak mengantuk.

"Se-di-kit..." napas Sasuke hampir habis. Mereka sudah beberapa ratus meter dari gedung sekolah. Lelaki berambut raven itu mulai menaiki tangga yang bukan main panjangnya. "La-gi..."

"Sasuke, aku mau jalan sendiri," kata Sakura. Kesadarannya mulai kembali dan ia merasa tubuhnya cukup sanggup berdiri. Ia tidak tega pada Sasuke yang menggendongnya.

Sasuke tidak menggubris perkataan Sakura dan terus berjalan menaiki tangga. Beberapa kali ia hampir saja terpeleset, namun ia sanggup menjaga keseimbangan. "Di-am sa-ja..." katanya pada Sakura.

.

.

.

"I-Itu mereka!" teriak Hinata kegirangan begitu melihat keduanya di ujung pintu. Sasuke dengan pakaian basah kuyup dan Sakura yang lemas di gendongan.

Naruto dan Karin langsung berdiri dan membantu mereka berdua.

Oh I love you my Friend

Nunbitman seuchyeodo ara

Himbedeulgo jichyeodo hangsang gyeote inneun nae chingu

Naruto membantu Sasuke memapah Sakura ke tempat duduk, Karin membawakan air minum yang entah dapat dari mana, Hinata membantu Sakura untuk duduk di bangku.

"Sakura, minum dulu," kata Karin seraya memberikan sebotol air mineral. Ia menoleh pada Sasuke yang terengah-engah dan berkata, "Ini."

Sasuke mengangguk. tubuhnya terasa lemas setelah begitu lamanya berjalan sambil menggendong Sakura.

"Sakura-chan baik-baik saja?" tanya Naruto di depan Sakura. Lelaki itu berjongkok di hadapan Sakura dan mensejajarkan tingginya dengan Sakura yang duduk.

Sakura mengangguk dan tersenyum tipis.

"S-syukurlah..." ujar Hinata terbata-bata. Tangannya membawa dua buah handuk dan ia berikan pada Sasuke dan Sakura.

Himdeulttaen naege gidae apeulttaen naege gidae

Neoui nunmureul naega kkok dakkajulge

Eonjedeun dallyeogalge neoege yaksokhalge

Kkok jabeun duson jeoldae nochima

"Terima kasih semuanya..." kata Sakura tulus. Ia menoleh pada semuanya yang mengerumuninya. Kemudian gadis itu menoleh ke belakang dan menatap Sasuke dengan senyum.

Sasuke diam saja.

"Tunggu sebentar lagi, mereka belum datang." Terdengar suara dari koridor dan beberapa derap langkah orang. "5 menit saja," tambahnya dengan suara memohon.

"Sensei! Mereka sudah dataaaang!" teriak Naruto dengan gembira.

Shizune yang sedari tadi membujuk pengawas ujian menoleh ke arah pintu kelas dan langsung berlari kedalam. Wajahnya yang pucat cemas tadi berangsur-angsur lega melihat Sasuke dan Sakura sudah duduk di tempatnya masing-masing.

"Oke, karena semua sudah datang, kita mulai ujiannya," kata Kakashi begitu ia menyusul Shizune yang sudah di depan duluan.

Sang pengawas ujian hanya mengangkat bahu dan membuka amplop ujian yang masih tersegel.

"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Shizune sedikit cemas melihat wajah pucat Sakura. Ia mengambil vitamin dari dalam saku dan memberikannya pada Sakura.

Sakura menerima vitamin tersebut dan berkata, "Terima kasih, sensei. Aku baik-baik saja." Ia menelan vitamin itu dengan cepat.

Shizune mengangguk dan mendekati Sasuke. "Kau sudah melakukan yang terbaik," pujinya pada Sasuke yang sedang mengeluarkan kotak pensil.

"Hn," balas Sasuke singkat. Terlihat biasa saja.

Shizune menarik napas lega. "Oke, kerjakan sebaik mungkin!" katanya bersemangat. Ia mengambil sebuah kursi yang tidak terpakai dan mengambil pekerjaannya.

Sakura menutup mata. Ia menarik napas dan meyakinkan dalam hati. Begitu soal ujian diletakkan di depan mejanya ia membuka mata dan mengambil pensil.

Semua sudah banyak berkorban demi dia, maka ia harus berhasil.

'Aku pasti bisa!'

Nan neoreul saranghae neoege gamsahae

Nan neoreul saranghae neoege

.

.

.

Inilah saatnya, ketika pengumuman ini keluar maka ia benar-benar pergi.

Sakura membuka kertas ditangannya dengan tangan bergetar. Antara rela dan tidak rela untuk mengetahui hasilnya.

Sakura Haruno = LULUS (8,25)

Sakura menggenggam kertas tersebut diantara para kerumunan siswa-siswi yang menunggu hasil ujian mereka. Gadis berambut merah muda itu tersenyum getir dan melanjutkan langkahnya.

"Sakura, kau benar-benar hebat," gumamnya pada dirinya sendiri. "Sekarang, kisahmu dengannya juga akan selesai..."

Setitik air mata terjatuh.

.

.

.

Rambut merah muda gadis itu berkibar walaupun ia telah menggunakan bando putih di kepalanya itu. Ia menggerutu pelan begitu rambut panjangnya berkibar menuju wajah depannya.

Ini, hari terakhirnya di SMA ini. Semua kenangan akan terus diingat oleh gadis merah muda ini. Sebentar lagi, masa SMA-nya akan berakhir.

Saat ia mulai merapikan rambutnya, tangan seseorang terjulur membantunya. Sakura mendongak menatap orang tersebut. Bagaimana orang itu bisa kemari?

Lelaki bermata onyx itu mengangguk samar. Entah karena apa, tangan lelaki itu membawa Sakura kedalam pelukannya. Memeluknya begitu protektif.

Gadis itu terhenyak—hendak menolak, tapi ia tak kuasa. Tangannya hanya ia gantungkan di samping tubuhnya. Berdiri kaku dalam pelukan pemuda Uchiha tersebut.

"Sakura," panggil lelaki itu.

"..."

"Jadilah wanitaku satu-satunya," ucap pemuda Uchiha tersebut di sebelah telinga kanan Sakura. Tangannya membelai rambut panjang gadis itu dan menghirup aroma wangi yang menguar disana.

Tidak tahan lagi—itu alasannya. Perasaan yang membuncah tidak dapat ditahannya lebih lama lagi. Mau tidak mau—sekaligus menyingkirkan harga diri Uchiha-nya—ia harus mengatakannya sekarang.

Sakura terbelalak. Dengan tubuh yang masih membatu ia berusaha berkata-kata, "A-aku tidak pantas untukmu." Ia sama sekali tidak berani bergerak se-inchi-pun dari pelukan sang Uchiha.

Lelaki itu mengeratkan pelukannya. "Tidak bisakah?" bisiknya lemah. Mata onyx-nya terpejam—meresapi pelukan mereka.

Tidak, lelaki ini tidak ingin melepaskannya sedikitpun.

Sakura menggeleng. "..." Gadis itu mengeluarkan air matanya perlahan dan berkata, "Aku menyayangimu, karena kau temanku..." Gadis itu mencengkram jas hitam di depannya erat.

Lelaki itu menarik napas diam-diam. Kemudian ia mengelus puncak rambut Sakura lagi dan memeluknya lebih dalam lagi. "Pikirkanlah," katanya dengan mata tertutup.

Sakura hanya diam dengan isak tangisnya.

Ia tidak tahu alasannya menangis. Air mata begitu saja keluar dan ia tidak bisa menahannya. Ia senang sekali mendengar permintaan lelaki ini, tapi ia tidak bisa.

Tidak seharusnya lelaki itu bersamanya. Ia tidak cukup pantas bersanding dengan seorang Uchiha. Selama ini, ia hanya bisa merepotkan dan itu tidak akan membantu.

Berjalan bersamanya tidak akan membawakan suatu hal yang baik. Ia tahu itu.

Apa yang bisa diharapkan pada perempuan sepertinya? Orang tuanya bahkan muak padanya dan tidak mau peduli tentangnya. Ia tidak bisa jamin Uchiha ini akan bahagia bersamanya.

"Sakura!" panggil Uchiha yang lain begitu mereka melepaskan pelukan dan saling berpandangan.

Sakura menoleh. Onyx yang lain menatapnya penuh arti.

"Jadilah gadisku untuk selamanya," ucapnya pelan. Lelaki itu maju dan menggenggam tangan kanan Sakura erat.

Sama dengan Uchiha sebelumnya—perasaan yang tidak tertahankan ia tuangkan pada gadis musim semi ini.

"Aku..."

Uchiha yang pertama hanya menatap mereka berdua datar. Kali ini ia bersama saudaranya merebutkan satu gadis—satu Sakura untuk bersanding bersama di hari nanti.

"Jadilah gadisku untuk selamanya," ucap Uchiha kedua sekali lagi.

Sakura menggeleng.

"Jadilah wanitaku satu-satunya," tawar Uchiha pertama sekali lagi.

Sakura menoleh, namun ia menggeleng lagi.

"Sakura!" beberapa suara memanggilnya secara bersamaan. Naruto, Hinata dan Karin.

Sakura menoleh lagi.

"Kau harus memilih, Sakura!" kata Karin meyakinkan sang gadis. Sakura menggeleng tapi gadis berambut merah itu mengangguk.

"Ayo Sakura-chan, pilih salah satu atau kau mempermainkan kedua perasaan mereka!" kali ini Naruto yang berteriak. Jas seragamnya ia lepaskan karena terlalu gerah dengan suasana yang ada di sini.

Sakura mulai bimbang. Namun sama seperti Karin, Naruto juga mengangguk meyakinkan gadis itu.

"Sa-sakura-chan, siapa dari mereka yang Sakura-chan cintai?" giliran Hinata bertanya sekaligus meyakinkan gadis berambut merah muda panjang yang tengah bimbang itu.

Sakura menatap semuanya bergantian. Dengan wajah merah ia membuka mulutnya dan menjawab, "Aku..."

.

.

.

Hinata duduk disebuah sofa ruang tamunya dengan wajah berseri-seri. Tangannya membawa sebuah surat berwarna putih dengan goresan pena emas. Ini pasti...

"Surat dari siapa, Hinata-chan?"

Hinata menoleh. Wajahnya seketika memerah layaknya kepiting rebus begitu melihat tunangannya yang ada dibelakangnya. "Su-surat dari Sakura-chan..."

Lelaki itu langsung membelalak dan melompat ke samping Hinata, "Benarkah? Ia bahkan hampir tiga tahun tidak mengirimkan surat pada kita!"

Hinata nyaris saja pingsan saat wajah tunangannya begitu dekat dengannya. Ia yang hanya memakai celana pendek setengah lutut membuat pahanya bersentuhan dengan tubuh lelaki itu.

"Kenapa wajahmu merah?" tanya lelaki itu. Tangannya meraih dahi tunangannya dan mengukur suhu disana.

"Te-terlalu de-dekat Naruto-kun..." ucap Hinata terbata. Wajahnya begitu panas.

Naruto tergelak. Bukannya menjauh, ia malah merangkul tubuh kecil Hinata dari belakang dan berkata riang, "Ayo bacakan, aku sudah tidak sabar!"

Hinata memilih menyerah saja dan mengangguk. Tangannya menyobek pinggiran amplopnya dan mengambil surat yang ada disana.

Keduanya mulai membaca.

Hai Hinata, hai Naruto! Apa kabar? Hehehe... Maaf aku tidak sempat hadir di pesta pertunangan kalian bulan lalu dan mengirim surat sekian lamanya. Aku yakin, tanpaku ada disana kalian pun akan tetap bahagia.

Naruto mendengus dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Dasar Sakura-chan!"

Hinata terkekeh geli. Keduanya melanjutkan membaca.

Aku begitu senang begitu mengetahui kalian memutuskan untuk bertunangan. Jangan tanya aku tahu dari mana, kalian sangat ramai di televisi! Tidak kusangka Naruto yang slebor dulu akan jadi artis papan atas. Bercanda Naruto, jangan marah!

Hinata juga sudah jadi perias artis yang profesional. Aku senang sekali mendengar kalian akhirnya memutuskan mengikat pertunangan setelah sekian lama memendam perasaan.

BLUSH

Wajah keduanya memerah saling berpandangan.

Ah, kabarnya kalian akan menikah lima bulan lagi? Aku tidak tahu pasti, tapi akan kuusahakan untuk datang. Aku ingin sekali menjadi pengiringnya... :D

Kalian jangan khawatir, aku baik-baik saja disini. Aku baru saja menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja di sebuah rumah sakit kecil di daerah sini. Jangan coba tanya, aku tidak akan beri tahu dimana aku! :P

Aku tahu kalian pasti terkejut dengan kejadian 3 tahun yang lalu. Aku tidak bisa memlih keduanya. Karena dua-duanya sangat berharga bagiku. Jika aku harus memilih mana yang kucinta, aku akan menyakiti yang satu lagi.

Jadi kuputuskan untuk menghilang dari mereka. Kurasa mereka akan menemukan pasangan mereka yang sebenarnya. Kalau aku kembali ke Konoha, aku tidak jamin hatiku akan tetap tegar.

Ini, kukirimkan foto teman-temanku disini. Mereka baik-baik lho... Namun kalian tetap yang terbaik. Aku akan selalu mengenang kalian dalam hatiku. Suatu saat, aku akan beranikan diri datang dan menemui Naruto, Karin dan Hinata lagi...

Salam sayang,

Sakura Haruno.

Keduanya menghela napas kecewa. Sakura tetap saja tidak mau menunjukkan tempat tinggalnya sekarang. Gadis itu mencoba bersembunyi dari dua Uchiha itu.

"Coba lihat alamat mengirimnya dari amplopnya Hinata," usul Naruto. Mata birunya menata seklai lagi surat kiriman Sakura.

Hinata meraih amplop tersebut kemudian menggeleng kecewa. "Alamat pengirimnya tidak ada..."

Naruto menggaruk rambutnya bingung. Tangannya meraih sebuah foto yang terselip disana. Hinata turut melihatnya.

Foto beberapa orang memakai jubah dokter dan seragam perawat sedang tersenyum. Sakura berdiri di tengah-tengah mereka sambil tersenyum ceria. Rambut gadis itu kini telah pendek—hanya mencapai lehernya.

Hinata meneliti selembar foto tersebut dengan seksama. Tangannya menunjuk bangunan yang menjadi background dari foto tersebut dengan semangat.

"Na-Naruto-kun! Aku tahu tempat ini!"

Naruto menoleh bersemangat. "Benarkah Hinata-chan?"

Hinata mengangguk. "A-aku pernah kemari sekali... tapi aku lupa tepatnya daerah mana..."

Naruto mengangguk-angguk paham. Berarti perlu petunjuk lagi untuk mengetahui letak keberadaan Sakura—sahabat mereka itu. Tangannya meraba-raba amplop dari Sakura dan memandanginya lama.

Hinata hanya menggigit bibirnya. Ia mencoba mengingat-ingat dimana letak rumah sakit itu. Seingatnya, waktu ia liburan ia pernah sakit dan dibawa ke sana.

"Hinata-chan! Stempel pos nyaaa!" teriak Naruto girang. Ia menunjuk-nunjuk stempel pos tersebut dengan penuh semangat seolah menemukan barang berharga.

Hyuuga itu mengernyit sesaat kemudian berkata riang, "Ah, aku ingat... Itu di Amegakure. Ya, stempelnya memang menunjukkan daerah Amegakure..." Hinata tersenyum bangga pada tunangannya, "Naruto-kun hebat sekali..."

Naruto nyengir dan mengelus puncak rambut Hinata. "Hinata-chan juga hebat..."

BLUSH

Wajah gadis itu bersemu merah lagi.

.

.

.

Suara cetikan pulpen memenuhi ruangan. Lagi-lagi lelaki itu memangku kepala pada kepalan tangannya dengan malas. Kebiasaan selama tiga tahun terakhir.

"Sasuke!"

Lelaki itu menatap dingin asistennya. Sang asisten nyengir malu dan berkata, "Maaf, kebiasaan lama."

"Hn," tanggap Sasuke datar. Tangannya kembali mencoret-coret kertas kosong dihadapannya tanpa arah.

"Ah ya, nanti siang akan ada rapat di Amegakure. Jam 2 siang," kata sang asisten—Karin seraya membuka buku jadwalnya.

Sasuke mengangguk paham. "Setelah itu?"

"Free time. Sampai hari minggu," kata Karin santai. Sebagai kawan lama, mereka sudah terbiasa bicara santai dan tidak formal, terkecuali di ruangan umum kantor.

"Hn," Sasuke mengangguk paham. Tangannya masih mencoret-coret kertas putih di hadapannya. Pikirannya melayang ke satu hal.

"Kau masih memikirkan Sakura?" tanya Karin tepat sasaran. Gadis itu membersihkan kacamatanya di depan meja sang kepala kantor cabang Konoha—tanpa takut dimarahi.

"..." Sasuke diam saja.

"Sudah kubilang, selama kau terus memburunya dan mencari tahu dimana dirinya—ia selalu bisa bersembunyi. Kau lihat Itachi-nii, ia bahkan akhirnya menyerah dan mau ditunangkan dengan gadis pilihan Tou-san."

Sasuke berdiri dengan handphone di sakunya. Handphone sejak tiga tahun lalu yang belum ia buang—walaupun telah punya banyak gantinya. Ia tetap menjaga handphone tersebut, seolah-olah berharap gadis itu akan menghubunginya.

Ia selalu berharap, mencari dan berusaha menemukan sang gadis. Namun tidaklah mudah. Gadis itu terlalu lihai bersembunyi sejak upacara kelulusan—waktu ia dan kakaknya meminta hati sang gadis secara terang-terangan.

Ia pernah mencoba untuk melupakan namun gagal. Tiap hari, tiap malam, tiap ia membuka mata, tiap detik selalu terbayang wajah Sakura. Tidak dihiraukannya berbagai macam gadis yang dikenalkan ibunya.

Ini aneh... dia tidak mengerti.

Sedalam itukah perasaannya?

Bermula dari sebuah kepura-puraan, berjalan sebagai kekasih palsu, menjalani hari-hari bersama, melihat suka-duka sang gadis...

...kini ia terperangkap masuk.

"Karin," panggil Sasuke pada asistennya. Karin berdiri dan mengangguk paham.

Kali ini, ia harus temukan—

—gadis satu-satunya dalam hidupnya.

.

.

.

Sakura mengelap dahinya yang berkeringat. Hari ini sangatlah panas dan ia merasakan itu di seluruh permukaan kulit putihnya. Ia mengikat rambut pendeknya agar lebih sejuk—namun gagal.

"Panasnya," katanya sambil mengipasi diri sendiri. Ia menyesali diri telah menolak ajakan teman-temannya makan es krim beberapa menit yang lalu.

Di tengah kesibukannya sebagai dokter junior, ia harus giat belajar dan berkerja di sini. Walau disana tidak ada yang mengekangnya untuk lebih baik lagi.

Ia membuka laci mejanya—mencari dompet untuk pergi beli makan siang. Ia membuka dompet dan memeriksa uangnya yang tersisa di sana. Tapi matanya malah tertumbuk pada kertas kecil yang diipat-lipat disana.

Dengan pelan, ia buka lagi kertas itu. Entah sudah berapa kali ia membukanya dan ia tidak pernah bosan. Sebuah kertas bon dan kertas hasil kelulusan.

Sebuah bon lama saat ia ke salon bersama dengan lelaki itu. Seharusnya sudah dibuang, tapi ia terus membawanya. Tiap ia melihat itu, ia akan terus mengingat tiap kebaikan sang lelaki.

Satu lagi sebuah kertas kecil berisi hasil ujian. Dituliskan daftar nama disana dan hasil nilai mereka. Deret pertama mengingatkannya lagi dengan kenanangan lama. Nama lelaki itu.

"Sasuke Uchiha," gumam Sakura seraya menutup matanya. Memori lama kembali berputar.

Dulu, ia hampir saja memilih—antara Sasuke dengan Itachi. Ia ingin sekali menyebutkan sebuah nama, tapi ia takut akan akan ada yang tersakiti karenannya setelah ini.

Perlahan air mata Sakura membendung dan mengalir turun di kedua belah pipinya.

Ia begitu menyayangi keduanya—tapi hanya satu yang ia cintai.

Dan ia tidak berani.

Ia terlalu pesimis untuk yang satu ini.

.

.

.

"Setelah ini mau pulang atau jalan-jalan?"

Sasuke melipat kemejanya sampai batas siku dan menjawab, "Entah." Panas hari ini membuatnya tidak mood untuk pulang maupun berjalan-jalan.

Karin menghela napas. Sulit untuk memahami Uchiha satu ini.

Drrrt Drrrt Drrrt

Tangannya menekan tombol hijau pada ponselnya dan menjawab, "Ya?"

Matanya terbelalak dan berubah menjadi semangat. "Oke, thanks Hinata!"

Sasuke mengaduk jus tomatnya seraya memandangi asistennya datar. Jelas asistennya sedang bicara dengan Hinata Hyuuga barusan.

"Sasuke tadi Hinata kasih kabar kalau—"

Ucapan Karin terputus karena Sasuke langsung berlari mengejar seseorang yang baru saja keluar dari restoran itu. Seorang gadis memakai kemeja krem dan rok cokelat dan rambutnya merah muda.

MERAH MUDA?

Karin langsung menaruh beberapa lembar uang dan mengejar keduanya.

.

.

.

Sakura baru saja akan memasuki restoran disebelah rumah sakit tempatnya bekerja untuk makan siang. Niatnya langsung batal ketika melihat dua sosok yang ia kenal.

Sasuke dan Karin.

Dengan cepat ia menutup pintu restoran tersebut dan mengambil langkah seribu. Dengan sepatu hak 5 sentinya, ia cukup percaya diri berjalan begitu cepat tanpa terjatuh.

'Semoga mereka tak lihat aku! tak lihat, tak lihat, tak lihat!' doanya dalam hati terus-menerus. Ia mencoba mengambil jalan memutar untuk kembali ke rumah sakit—entah apa alasannya.

Jantungnya berdegub kencang. Antara jalannya yang saat ini cepat, kaget akan kedatangan mereka ke Amegakure dan melihat wajah Sasuke setelah 3 tahun tidak bertemu.

GREB

'Gawat, ya Tuhan!' jerit Sakura dalam hati saat tangannya ditangkap seseorang. Ia menoleh dengan terpatah-patah dan wajah pucat.

-TBC-

#ditabokin reader

Ampuuuun, rencananya emang 10 chapter aja... tapi ternyata udah mencapai 5000 word lebih (dan itu belum termasuk tamatnya)... =="a

Aku takut kalian mabok bacanya, jadi aku penggal... a

Tapi aku yakin chapter depan akan selesai... bener-bener END deh! ^^v

Balasan Review chapter 7:

Lee sica: chap terakhir ada di chap 11... tetap tunggu ya..XD

Lucy Uchino: sebegitu mengecohkah fic ku? XD ehehehehe..

momijy-kun: udah banyak? Ehehhee... XD

kyuhyun cho: makasih tetap setia pada fic ini... ToT

nattually: maap, saya lupa tag.. XP #ditabok

Sindi 'Kucing Pink: Woooy..XD sori nggantung ya..XD SasuSaku udah ada toh di chap 8, 9, 10? :D

Aika Yuki-chan: Halo windy..XD oh, sudah banyak belum di chapter 8, 9 dan chap 10 ini? makasih banyak ya.. :D

Aiko Kirisawa: Wah, karin kunoichi favorit kamu? Wah, syukurlah kalau kamu suka... :D eh, Suigetsu itu atas kemauannya sendiri.. :D Film-nya, udah aku tulis di atas...XD

Lhylia Kiryu: Makasih banyak udah bilang bagus...XDaku senang kalau kau suka karyaku... :3

Balasan review chapter 8:

Sindi 'Kucing Pink: wakakakkakak..XD tau aja...XD

Aika Yuki-chan: saya juga... #lho?

Luthfiyyah Zahra: wkwkwkwkw.. LUMPIAAAAAAAA... Makasih, iya, gpp kok..XD

Aiko Kirisawa: wkwkwkwkwk... yang keluar itu suigetsu..XD ufufuufufuu... #plakk

Trancy Anafeloz: makasih trasi..XD #bingung mau ngomong apa lagi..XD

Aha: AHAAAA... Benar sekali..XD

Lhylia Kiryu: Oke deh..XD

Jihan D: ckckckckckc.. gimandong kau ini...XD wkwkwkwk... iya, Itachi..XD

Nattually: wkwkwkwkwkwk banyak pesan deh jadinya...XD Makasih udah di fave.. :3

Lucy Uchino: wkwkwkwkwkwkkw.. makasih pemberitahuannya, sudah ku edit, semoga gak ada typo lagi ya..XD

Hiruma akari: iya, itachi..XD

momijy-kun: ahahaha.. gpp, sekarang udah sembuh, kan? Yaaaha,, sayangnya gak gitu ceritanya... a ah, semoga kau suka hasilnya ya... ToT wkwkwkwkwk.. iya, saya tertarik sama ItaSaku...XD

Onica278: Mkasih sudah semangatin saya... XD tunggu chap End ya.. :D

Octaotak: makasih ya.. XD

Yuuki Aika UcHiHa: Pisang, oke deh..XD turunin pamor gimana coba? -..-

Balasan review chap 9:

Yuuki Aika UcHiHa: Salah perhitungan aku sang, ternyata chap depan.. Sorry yoaaa.. XP ckckckckc... beres deh, chap End juga udah siap publish aja kok..XD

Aika Yuki-chan: oke..XD

Jihan: maaf baru update dan ternyata masih bersambung ya... ToT ini diluar kemampuanku... maaksih banyak..XD

Sindi 'Kucing Pink: wkwkwkwkwk.. maap, saya salah perhitungan ToT kugharap engkau tetap mau menanti... #ceilah

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet: udah..XD

Onica278: Maafkan daku, aku salah hitung ending... XO mau nunggu lagi? #mata berkaca-kaca

Luthfiyyah Zahra: iya, lumpia... TwTb

Nattually: okeee...XD

Trancy: Parah banget ya? wkwkwkwkw... typo itu nempel aku terus, jadinya begitulah.. :P

Octaotak: ahahahahaha.. gpp kok, dan maaf kalau endingnya bukan di sini... ToT chapter depan dijamin ending... TwT

Yukachan: Iya... TwT

Hany-chan DHA E3: buset dah, namanya kayak formula susu..XD #plakk wkwkwkwkww... hanya kau yang menyadarinyaaaaaaa #peluk

Ria-Chan: maafkan daku, endingnya kupenggal jadi dua.. ToT #apaan

Lhylia Kiryu: wkwkwkwk... makasih..XD maaf, salah hitung... chap nya tinggal satu... #dibantai

Hiruma hikari: oke..XD

Deidei Rinnepero13: ah, terima kasih... :3 baca lanjutannya di chapter terakhir depan ya..XD

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: Mbak piiing..XD makasih udah mau review..XD wkwkwkwkwk.. iya..XD

Saito ayumu Uchiha: wkwkwkwkwkwk... gpp.. maaf juga, aku salah lagi... tamat chapter depan.. ToT

Nothing-Name: makasih udah mau lewat..XD

Park Min Hwa: oliiiip..XD nakal ya kamu, baca sembunyi-sembunyi... #slap maaf juga aku tak menutup cerita di chapter ini, aku janji chapter depan tamat! :D

Kahoko: itu inspirasiku... tapi endingnya akan jauh berbeda.. :D

SakuraBELONGtoSASUKE (4 kali): maaf kalau di chapter awal OOC ya... aku pasti update sampai akhir... maaf, ternyata masih ada satu chapter lagi... ToT

ChuND123(2 kali): aku akan update samapi akhir, di side story ada ceritanya..XD

Mey Hanazaki: Terus nantikaaaaaaaan ya...XD

(Maaf jika ada kesalahan nama dan ada yang tertinggal ya, marahi aku jika terjadi)

Punggungku sakit... ToT #dipukul rame-rame

Maafkan aku sekali lagi atas kesalahan ini... terima kasih masih mau membaca fic anehku ya... :'D

Review?

Karikazuka