GREB

'Gawat, ya Tuhan!' jerit Sakura dalam hati saat tangannya ditangkap seseorang. Ia menoleh dengan terpatah-patah dan wajah pucat.

Miss Pesimis?

Naruto Masashi Kishimoto

Miss Pesimis © Karikazuka

Last Chapter

Happy reading!

.

.

.

Setiap orang memiliki kelebihan, kesempatan dan cerita yang berbeda-beda.

.

.

Wajah Sakura nyaris memutih saking takutnya.

"Nona, anda menjatuhkan sesuatu," ucap seorang lelaki sambil tersenyum. Tangannya menyodorkan sebuah handphone kecil pada Sakura.

Ah, terlalu gugup membuatnya tidak sadar kalau tas yang dibawanya sedari tadi terbuka dan menjatuhkan beberapa isinya. Ia melirik beberapa peralatan medis yang kecil terjatuh di sekitarnya.

Wajah Sakura berangsur normal. Ia menghela napas lega dan menjawab, "Terima kasih." Ia segera mengambil handphone tersebut—juga beberapa peralatan yang terjatuh—dan memasukkannya dalam tas. Sekali lagi ia menoleh ke kiri dan ke kanan kemudian ambil langkah seribu lagi.

'Syukurlah!' batin Sakura lega. Setelah ini, ia akan mengambil waktu pulang lebih lama dan pulang malam hari.

Ia sungguh tidak menyangka, Sasuke dan Karin berada di sini.

'Apa... mereka jadi bertunangan lagi?'

.

.

.

Sasuke mendesah kecewa untuk kesekian kalinya. Kini, jas serta dasinya sudah terlempar entah ke mana. Yang pasti, ia sedang gusar.

Jadi, gadis itu ada di Amegakure selama ini?

Sekian banyak pertanyaan terngiang-ngiang di pikiran sang Uchiha bungsu. Ia harus menemukan sang gadis musim semi itu segera mungkin—sekarang kalau bisa. Sayangnya ia terlambat berlari dan mengejar gadis itu.

"Cih," decih Sasuke yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang birunya. Kediaman Uchiha di Amegakure yang biasanya dingin kini terasa sangatlah panas—entah karena kegusaran sang Uchiha atau yang lainnya.

Kali ini ia akan menemukannya. Bagaimanapun caranya.

Sasuke segera bangkit dan mencari sekertarisnya yang berambut merah legam untuk segera mengikuti dirinya. Ia meyakini, Sakura tidak jauh dari sini.

"Karin."

Sebuah suara berisik berkumandang di sebelah kamar di ujung barat. Sasuke segera bergerak santai dan berdiri di depan daun pintu jati yang tertutup rapat.

Ceklek

"Y-ya?" tanggap Karin sekaligus bertanya pada sang Uchiha. Ia masih memakai baju kerjanya dan rambut diikat ke atas. Tangannya mendekap sebuah i-phone berwarna merah tua.

"Bersihkan diri segera. 5 menit kemudian kutunggu di ruang tamu." Sasuke bertitah datar pada sekretarisnya tanpa mau ambil pusing.

"Kenapa tidak sekarang? Aku tahu kau akan membicarakan tentang Sakura." Karin membuka sepenuhnya pintu yang menghalangi tubuhnya. Tangannya mendekap erat i-phone merah tersebut—seolah takut ada yang mengintip isinya.

"..." Sasuke tidak bersuara lagi. Ia tidak menjawab apapun pertanyaan yang dilontarkan sekretaris sekaligus kawan sekolahnhya dan langsung menjauhi kamar itu.

"Uchiha." Karin hanya mendesah napas kesal dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.

.

.

.

.

'Perutku sakit sekali, rasanya aku tidak bisa ikut ...'

Sasuke mendengus kesal saat mendengar kalimat itu terucap dari mulut sekretarisnya. Sekarang untuk apa ia dibayar kalau bukan menjadi kaki tangan Sasuke?

Hei, itu namanya penyalahgunaan jabatan, Sasuke. Sekretaris hanya bertugas pada waktu kerja, bukan mencari orang hilang.

Lelaki itu tak lantas berhenti dari kekesalannya yang mendalam. Ia menyampirkan jaket hitamnya di kedua bahunya dan mulai berjalan.

Ia sengaja tidak menggunakan mobil, karena tidak akan berhasil jika ia menggunakan mobil untuk mencari Sakura. Gadis itu terlalu lihai bersembunyi—bagaikan tikus kecil.

Berjalan-jalan di sekitar Amegakure adalah suatu hal yang baru bagi seorang Uchiha Sasuke. Jujur, ia tidak pernah berjalan-jalan kemari jika bukan untuk urusan bisnis kolega perusahaannya.

"Sakura?"

Seorang gadis menoleh dengan wajah terkejut. Ia segera membuka tudung jaketnya dan tersenyum dengan wajah merah merona.

"Kamu ganteng bangeeeeeeeet!"

Sasuke mengerjap beberapa kali sebelum ia berkelit dari rangkulan tangan gadis itu. "Saya salah orang," ia berusaha berucap sopan dan hendak pergi menjauh.

Gadis yang ternyata bukan Sakura itu menahan tangan Sasuke dengan wajah memohon, "Eh, mau ke mana? Ayo kita jalan sama-sama!"

"..." Sasuke mulai kesal. Namun dengan sopan ia melepaskan tahanan gadis itu di tangannya.

"Kyaaaaaa! Lihat, dia ganteng bangeeeeeeeeeeeeeet!"

Beberapa gadis yang lewat menunjuk-nunjuk Sasuke dengan wajah histeris dan tidak percaya.

Sekarang gimana percaya, Sasuke sekarang berada di Mall Amegakure. Suatu tempat yang bahkan belum tentu satu tahun sekali Uchiha itu datangi. Alasannya ya ini.

Takut diserang para perempuan.

Sebelum bajunya compang-camping tidak berbentuk lagi, ia segera lari dari para gadis.

'Cih. Demi seorang perempuan aku harus berkorban macam ini," decihnya dalam hati.

Heloooo, walau gitu kau tetap suka dia bukan?

.

.

.

.

Hari kedua Sasuke tidak membuahkan hasil. Lelaki itu terduduk lemas di atas ranjangnya dengan tampang tidak berdaya. Kamarin ia dikejar-kejar para perempuan ganas dan hari ini hampir saja dirampok di tengah jalan.

Ia bisa saja menghajar preman-preman tadi, tapi ia seorang Uchiha. Jika ia mengahajr dan membuat keributan, kurang dari 24 jam beritanya akan tersebar luas hingga seluruh penjuru kota dan bisa saja sampai ke Konoha.

Gila, beginikah Amegakure?

Lalu bagaimana cara gadis itu hidup sendirian di tempat macam ini? bagaimana dan di mana ia tinggal? Apakah akan ada kejadian seperti yang ia alami hari ini? Ataukah banyak lelaki yang mengganggunya?

Atau jangan-jangan gadis itu telah memiliki orang yang dapat melindunginya dari semua itu?

Berbagai macam dugaan mucul dari kepala raven lelaki itu. Dan tidak ada yang bisa ia pastikan jawabannya.

Sebentar, lima menit saja. setelah itu ia akan mencari lagi.

TOK TOK

"Sasuke?" Karin membuka sedikit pintu kamar pribadi Sasuke. Sang pemuda Uchiha itu diam saja—membuatnya memberanikan diri masuk.

"Aa?" kata Sasuke tidak jelas. Ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk membicarakan sesuatu dengan Karin atau yang lainnya. Ia tidak punya banyak waktu dan harus segera mencari lagi.

Karin duduk di pinggiran ranjang Uchiha, tidak memperdulikan Sasuke yang sudah mendelik padanya. Bibirnya sedikit terangkat naik.

"Coba kau tebak..." Karin mendekat pada Sasuke dengan senyuman manisnya dan melanjutkan, "Aku punya suatu hadiah untukmu."

"Hn?" gumam Sasuke dengan wajah datar. Kelihatannya lelaki ini mulai tertarik dengan obrolan ini.

"Ini," kata Karin seraya menaruh sebuah benda persegi panjang pada tangan Sasuke. Ia tersenyum sangat cerah saat memberikannya.

Sasuke mengerjap beberapa saat dan berkata, "Aku tidak butuh."

Hei, untuk apa benda ini? Sasuke punya banyak benda seperti itu dan ia bisa mendapatkan banyak tanpa banyak pusing. Sekarang ia harus segera mencari, sebelum dugaan-dugaan itu muncul kembali di benaknya.

Lelaki itu bangkit dan meninggalkan Karin di kamarnya. Biarlah, nanti juga gadis itu akan kembali sendiri tanpa ia suruh.

"Yakin?" tanya Karin seraya menyeringai. "Kau tahu, ini akan mempertemukanmu dengan Sakura."

Sasuke mendelik.

.

.

.

Sakura menguap sekali lagi. Entah sudah berapa kali ia menguap dan berapa banyak permen sudah ia makan. Yang pasti sekarang ia sedang berusaha menahan rasa kantuknya.

Semua ini, ia lakukan sedemikian baiknya.

Dua hari ia pulang larut malam. Sebenarnya takut, melihat bagaimana kehidupan kota ini sekarang. Namun ada yang lebih ia takutkan dibandingkan itu.

Gadis itu menoleh pada jam dinding disebelah kirinya. Pukul 11.45 malam.

Gadis itu menguap sekali lagi dan bergumam, "Rasanya aku sudah bisa pulang..." Ia segera membereskan kertas-kertas yang berhamburan di meja kerjanya dan menatanya dalam satu amplop cokelat.

Ia akan pulang, jalan kaki tentunya. Taksi tidak akan muncul pada hari larut malam seperti ini. ia kana berjalan di bawah lampu yang terang dan sebisa mungkin dekat kerumunan orang.

Sebenarnya ia rindu akan lelaki itu. Namun ia takut bertemu. Hatinya tidaklah siap. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersembunyi, seperti ia pandai menyembunyikan hatinya.

Ia bangkit meraih tas berwarna merah muda miliknya dan menutup lampu ruangan. Matanya sedikit memerah—menyimpan rasa kantuk dan menimbun likuid bening di sana.

Selama ini ia harus tegar sendirian.

Gadis itu berjalan ke arah pintu dengan tubuh lunglai, namun sebelum menyentuh ganggang pintu, pintu tersebut telah terbuka.

Seketika cahaya lampu dari koridor rumah sakit menyergap mata emerald-nya. Gadis itu bisa mendengar suara deru napas yang sangat kencang. Ia mengangkat kepalanya dan berkata, "Ah, ada yang bi—"

GREP

Belum sempat sang Haruno menyelesaikan perkataannya, tubuhnya sudah dalam dekapan lengan kuat orang tersebut. Ia masih dengan napas memburu memeluk tubuh ramping Sakura seolah gadis itu akan pergi jika tidak dipeluk.

Sakura terkejut. Ia memberanikan diri menatap wajah yang berada di atas kepalanya saat ini. Kini jantungnya yang berdebar, makin berdebar dua kali lebih kencang.

Uchiha Sasuke sedang memeluknya erat.

Napas lelaki itu masih tersengal, dahi dan beberapa bagian tubuhnya basah oleh keringat. Mata onyx yang kelam itu menutup sesaat untuk mencoba mengambil napas teratur. Tangan lelaki itu kini berada di punggung dan pinggang Sakura.

Ah, rasanya jantung Sakura berdetak 3 kali lebih cepat atau bahkan sudah tidak karuan lagi detakannya.

"Ma-maaf Tuan t—"

"Sakura..."

Gadis itu menahan napasnya. Suara Sasuke membuatnya kembali ke masa lalu, memperlihatkan tiga tahun sebelumnya—membuka kenangan lama. Matanya terasa panas.

Gadis itu menunduk dalam pelukan sang Uchiha. Tangannya juga menggantung pada dada lelaki itu. Tidak memberikan perlawanan maupun penolakan.

Sasuke mendekap gadis itu makin erat. Koridor yang sepi, jam yang berdetak dan suara debaran jantung mereka saling beriringan. Lelaki berambut raven itu menaruh kepalanya di bahu Sakura dan berbisik kecil pada gadis itu.

"Sekarang, jadilah gadisku untuk selamanya."

Tidak akan ia lepaskan lagi satu-satunya gadis dalam hidupnya ini.

Pecahlah tangisan Sakura. Gadis berambut merah muda itu meremas depan kemeja Sasuke dengan erat—meninggalkan bekas kusut disana. Ia menangis sejadi-jadinya meluapkan segala perasaan yang dipendamnya selama tiga tahun ini.

Perasaan yang sebenarnya, yang ia tutup rapat-rapat kini mengalir keluar. Semua rasa kesalnya, rasa sedihnya, amarahnya, rindunya...

...dan cintanya.

Kini keluar tanpa batas.

Beberapa menit setelah itu, napas Sakura mulai teratur. Sasuke meregangkan pelukannya dan menatap dalam-dalam mata dan wajah gadis yang ia rindukan selama tiga tahun ini. Wajah yang selalu terngiang dalam pikirannya.

"Jadilah milikku, satu-satunya."

Sakura tidak menjawab, ia masih terisak—antara sesak dan bimbang.

Tangannya mencoba menghapus jejak air mata Sakura yang terus mengalir. Ia tidak ingin gadisnya menangis lebih lagi. Gadis ini terlalu banyak menangis karenanya. Kini gilirannya untuk membuat gadis ini bahagia.

Rasa rindu dan lesakan dari dalam hati yang sebelumnya terkunci rapat, membuatnya mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura—gadis itu tidak mengelak—dan meraih bibir gadis itu dengan sekali gerakan lembut.

Sakura yang masih menangis, menutup kedua matanya—menjatuhkan beberapa tetes air mata lebih banyak lagi. Ia tidak mengerti namun tubuh dan hatinya tidak sesuai dengan kata otaknya.

Dengan bergetar, tangannya ia pindahkan perlahan pada lengan atas lelaki itu dan mengikuti irama.

Satu dua tiga.

Sebuah ciuman yang lembut, manis dan dalam.

Keduanya mulai saling berpagutan satu sama lain—mengalirkan rasa yang sekian lama tertahan. Di depan pintu, di tengah koridor berlampu terang mereka berciuman. Tidak perduli lagi, walaupun ada yang bisa saja memergoki mereka.

Sebelah tangan Sasuke memegang pipi kiri sang gadis musim semi dan tangan kirinya mendekap punggung belakang sang gadis—memperdalamnya lebih lagi. Sementara bibirnya terus bergerak bersama bibir gadis itu.

Keduanya telah dimabukkan oleh perasaan hingga tidak menyadari seorang gadis berambut merah yang baru saja datang tersenyum menatap mereka.

"Kalian berdua, layak untuk berbahagia..."

.

.

.

"Kau tahu, ini akan mempertemukanmu dengan Sakura."

"Aku tadi melihatnya dan menyuruh orang untuk menukar handphone Sakura dengan milikku."

"..."

"Gunakan ini untuk mencari di mana letak handphone-ku yang dibawa Sakura. Gadis itu tidak sadar kalau yang dibawanya adalah handphone-ku."

"..."

"Cepatlah, sebelum ia sadar. Hanya ini kesempatan dan yang bisa kubalas untuk kalian."

"Karin—"

"?"

"—thanks."

.

.

.

Kini kedua tangan Sasuke masih setia melingkar pada pinggang Sakura dengan erat. Sakura yang duduk di pangkuannya hanya bisa menunduk malu dengan apa yang beberapa menit lalu ia lakukan dengan sang Uchiha bungsu.

Kedua tangannya sendiri ia remas pada ujung rok lipitnya hingga buku tangannya nampak sedikit merah. Namun wajahnya lebih merah lagi.

"S-Sasu..."

"Hn?" gumam Sasuke dengan wajah yang masih ia kubur di bahu sang Haruno—menghirup harum tubuh gadis itu.

"Le-lepaskan ya?" tawar Sakura seraya mencoba melepaskan pelukan Sasuke di pinggangnya. Pipinya memerah dan panas karena ulah si bungsu Uchiha.

"Tidak," jawab Sasuke egois. Tangannya bukan malah melonggar malah main mengerat dari sebelumnya. Ia malah mengatur agar Sakura menyandarkan diri pada tubuhnya.

Dalam keremangan, mereka berdua berpelukan erat. Sasuke yang duduk di kursi kerja Sakura yang besar dan Sakura yang berada di pangkuannya membuat hatinya nyaman.

Secara tidak langsung, keduanya telah mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih. Kali ini asli, bukan bohongan lagi. Ia tidak akan membuat status palsu seperti itu lagi.

Walau tanpa kata-kata, Sasuke yakin semua akan baik-baik saja. Gadis itu akan selalu jadi gadis yang satu-satunya berada di hidupnya.

Hingga pukul 5 pagi, dan keduanya masih terus dalam posisi tersebut. Sasuke masih belum mau melepaskan tangannya. Sementara Sakura sudah tertidur dalam pangkuannya—karena kelelahan.

Perlahan, sudut bibir Uchiha Sasuke terangkat sedikit. Sebelah tangannya menangkup pipi kanan Sakura dan mencium sudut bibir gadis itu dengan ringan.

Ah, rasanya sang Uchiha tidak akan pernah puas setelah ini.

"Sakura-san ada yang ingin—astaga ya Tuhan!"

Sasuke mengangkat kepalanya saat melihat sekilas seorang perempuan berpakaian perawat menutu pintu secepat kilat dengan wajah memerah.

Eh?

.

.

.

"Apakah anda menerima ia sebagai suami anda dalam suka ataupun duka, kaya ataupun miskin, sehat maupun sakit dan mencintainya hingga maut memisahkan kalian?"

Gadis itu mengeratkan tangannya yang berkeringat dibalik sarung tangan putih. "Y-ya, saya bersedia!"

Pendeta itu tersenyum dan berkata, "Silahkan anda mencium mempelai anda."

BLUSH

Semua yang ada disana bertepuk tangan meriah ketika pengantin baru yang disatukan tersebut saling berciuman. Wajah sang gadis memerah bak udang yang direbus matang sementara sang mempelai pria menyeringai dalam ciumannya.

"SUIT SUITT!"

"SELAMAT KALIAN BERDUA!"

"SEMOGA BAHAGIAA!"

Berbagai macam teriakan membahana ke seluruh ruangan gereja putih itu. Semua terlihat tertawa-tawa dan menggoda kedua mempelai.

Sakura tersenyum dengan wajah memerah. Hatinya menghangat ketika melihat kedua sahabatnya menikah. Masih teringat di bayangannya ketika mereka masih SMA dan itu membuatnya tertawa geli.

Hinata berlari mendekati Sakura dengan wajah berseri. Gadis yang memegang rangkaian bunga mawar putih dan merah muda yang lembut itu tersenyum begitu manis dan memeluk sahabatnya.

"Sakura-chan, akhirnya kau datang..." kata Hinata lembut. Ia lega ketika mendengar kabar Sakura sudah kembali bersama Sasuke lagi.

Sakura tersenyum dan menjawab, "Iya Hinata... Hehe... Selamat ya sudah menikah dengan Naruto..."

Hinata tersenyum malu-malu.

Sementara itu Sasuke dihampiri oleh Naruto yang memakai jas pengantin. Ia nampak gagah dan tampan dengan jas berwarna hitam dan kemeja warna putih itu.

Naruto nyengir pada Sasuke dan berkata ceria, "Kau berhasil menemukannya?"

Sasuke mengangguk saja.

Naruto menepuk bahu Sasuke dengan keras dan menasehati, "Cepat, kudengar Sakura-chan lagi dekat sama dokter bedah bernama... eh, namanya siapa ya?" Naruto mencoba mengingat-ingat.

Sasuke mendengus. Ia tidak akan mempercayai ucapan sahabatnya kali ini karena ia yakin Sakura tidak sedang dekat dengan siapapun kecuali dirinya.

"Ah ya, namanya Sabaku no Gaara!"

Sasuke menoleh dengan wajah datar. "Kaukira aku percaya?"

Naruto tersenyum meledek dan membalas, "Itu terserah kau, Teme." Ia melambaikan tangannya pada Sasuke dan berkata, "Aku akan menyalami yang lain! Baik-baik dengan Sakura-chan, ya!"

Sasuke terdiam dengan wajah datar. Sesaat ia mencari-cari keberadaan gadisnya.

Ah, Sakura sedang bersama kakaknya.

Eh? Kakaknya?

Sasuke segera berjalan menuju keduanya. Terlihat mereka saling tersenyum dan mengakhiri pembicaraan. Sakura tersenyum begitu manis dan Sasuke tidak suka kalau senyuman itu bukan untuknya.

Itachi menyadari kehadiran adiknya dari jauh dan melambai seraya menajuh pergi dengan seorang gadis berambut hitam yang digulung. Keduanya lalu menghilang tertelan kerumunan yang ada.

"Kau habis apa?"

Sakura menoleh dan tersenyum pada kekasihnya. "Berbicara dengan Itachi-kun. Kenapa?"

Sasuke melingkarkan lengannya pada pinggang Sakura yang berbalut gaun chiffon. Ia diam dengan wajah datarnya.

Sakura tersenyum geli dan mencubit kedua belah pipi Sasuke. "Sasuke-kun lucu kalau ngambek."

"Hn?" balas Sasuke dengan ekspresi aneh. Lucu? Itu tidak termasuk dalam ekspresi seoarang Uchiha.

"Itu punyaku!"

"Punyaku!"

"Kyaaaaa!"

Sakura menoleh dan tau-tau tangannya sudah memegang buket mawar pernikahan itu. Wajahnya melongo dan menatap kaget bunga yang berada di tangannya. Ternyata tanpa sadar ia menangkap bunga yang terlempar ke arahnya.

"Kyaaaaa! Selamat yaaaa!"

"Selamaaat!"

"Uwaaaaaa! Ternyata Sakura yang dapat!"

Suara para gadis bersahutan dan beberapa memeluk bahkan menyalami Sakura. Gadis berambut merah muda itu hanya dapat tersenyum kaku—belum menangkap semua kejadian yang barusan terjadi.

Sasuke hanya menatapnya dengan senyum samar.

.

.

.

Kini keduanya berjalan dengan pakaian resmi seperti saat upacara pernikahan sahabat mereka tadi. Sakura yang memakai hak tujuh senti terlihat berjalan santai tanpa beban.

Di tangan gadis itu kini memegang sebuah buket bunga milik Hinata tadi. Wajahnya terlihat senang sekali, bukan karena buket itu saja tapi juga apa yang terjadi hari ini.

"Kau sudah kembali ya, Sakura?"

"Itachi-kun..."

"Otouto-ku pasti senang sekali begitu menemukanmu."

"... Maaf."

"Kenapa harus minta maaf? Akulah yang bersalah hingga membuatmu harus pergi menghilang dari semuanya. Aku yang egois, Sakura."

"Lagi pula... Aku sudah menikah."

"Benarkah?"

"Jaga adikku ya, Sakura."

"Maksudmu?"

"Aku merelakanmu demi adikku..."

"Aku pun sudah mulai membuka hatiku untuk isteriku, jadi jangan khawatir."

"Itachi -kun... Terima kasih."

Sasuke yang berada di sampingnya berjalan menggandeng sebelah tangan Sakura. Gadis berambut merah muda itu terperanjat dari lamunannya dengan wajah yang merah.

Keduanya terus berjalan di tanah beraspal. Di samping kiri mereka terlihat danau besar berwarna biru kehijauan.

Sinar matahari mulai meredup dan tenggelam di ufuk barat. Keduanya sudah duduk di salah satu bangku yang menghadap arah danau besar itu.

"Tadi, bahagia sekali ya..." kata Sakura memulai percakapan. "Kau lihat, Hinata terlihat cantik sekali memakai gaun pengantin itu..."

Sasuke diam saja. Baginya yang tercantik bukanlah Hinata.

"Sasuke-kun..."

"Hn?"

"Masih ingat dulu?" tanya Sakura dengan senyum malu. Ia mulai salah tingkah di tempatnya. Tangannya membelai bunga pernikahan yang ia dapatkan tadi.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

Sakura terkikik lagi dan melanjutkan, "Lucu ya... Naruto dan Hinata yang dulu akhirnya menikah sekarang." Namun perlahan ia tersenyum sendu. "Kitapun dulu tak kalah konyol..."

Mata hijau Sakura menatap lurus danau yang membiaskan cahaya matahari sore. Tidak ada yang bisa dikatakannya lagi untuk saat ini. Suaranya tercekat.

Hening sesaat.

"Sakura." Kini giliran Sasuke yang memanggil.

Sakura menoleh dan langsung dibalas dengan tatapan dari mata onyx Sasuke. Keduanya berpandangan beberapa saat.

"Ayo menikah."

Sakura ternganga ditempat.

Sasuke membuang mukanya menatap pemandangan danau di hadapannya. Angin meliuk-liuk menerbangkan rambut raven-nya dan rambut merah muda Sakura.

"Ka-kau tidak akan ditunangkan dengan orang lain lagi, kan?"

Sasuke mengerutkan alis. Maksudnya?

"Ini bukan pura-pura lagi seperti dulu, kan?" yakin Sakura sekali lagi. Ia tidak mau mengulangi kejadian yang sama untuk kedua kalinya.

Sasuke menoleh dan berkata dengan mantap, "Bukan." Mata onyx lelaki itu memancarkan kesungguhan.

Gadis berambut merah muda itu mulai bisa mengatasi diri bertanya, "Ka-kalau begitu mana cincinnya?"

Lelaki itu memandang Sakura dengan wajah bingung.

Sakura mengerucutkan bibirnya sebal. "Me-melamar perempuan tanpa cincin, itu tidak sopan." Ia mulai pura-pura merajuk pada Sasuke.

Uchiha Sasuke menarik rambutnya kesal. Matanya menatap sebuah kaleng minuman di kaki bangku mereka kemudian tersenyum samar. Lelaki itu menarik ujung pembuka kaleng minuman itu dan memasangkannya pada jari manis Sakura.

"Hn."

Sakura lagi-lagi dibuat menganga.

"Nanti pulang akan kubelikan yang bagus," kata Sasuke seolah tahu isi hati kekasihnya. Wajahnya menatap langit yang berwarna oranye kekuningan dengan puas.

Air danau bergerak pelan, sinar senja memantul diantaranya. Suara kepakan sayap burung terbang, angin yang berhembus—tidak bisa mengalahkan detakan jantung keduanya.

Sakura meletakkan kepalanya di bahu Sasuke seraya menutup matanya dengan senyuman. "Kurasa, inipun baik adanya..."

Sasuke tersenyum samar dan balas memeluk erat Sakura.

.

.

Ketika cinta datang

Tidak seorangpun yang dapat mengelak

Ketika mereka bermain cinta

Mereka bisa saja terjebak di dalamnya

Ketika cinta harus memilih

Pilihlah yang terbaik dari lubuk hatimu

-The End-

Balasan review Chapter 10:

Sh6: Ini sudah updateeeeeee... sampai jumpa di fic selanjutnya yaaaaa... TwT/

Trancy Anafeloz: he-eh, iya... kemampuanku merosot gila.. ==" makasih ya ripiunya ya trassssssssssiiiii.. sampai jumpa di fic lainnya... :D

Aika Yuki-chan: Astaga, gausah pake dangdutan juga kali... XD Iya, ini udah full SasukSaku kan? Iya, aku juga sukaaaaa.. :"D Sampai jumpa di fic lain yaaaa.. :D

Ucuccubi: ini gak lama kan? Hayooo.. review lagi ya? Sampai jumpa di fic selanjutnyaaa.. :D

Kyuhyuncho: Udah kilat belum? :D makasih reviewnyaaa.. sampai jumpaaa.. :D

Cerry Hishikawa: wah, siapa itu yang nangkep ya? #plakk makasih banyak dan sampai jumpaaa.. :"D

Tsurugi De Lelouch: ehehehee. Ya gitu deh..XD Makasih udah mau nunggu... :D sampai jumpa lagiiii.. :D

: Udah kilat? Ehehehhee... arigatou dan sampai jumpaaaa.. :D

Aprilia Amaterasu bluepink: wkwkwkwkwkw.. iya, gantung ya? udah cepet? Makasih dan sampai jumpaaaaaaa.. :D

Yuuki Aika UcHiHa: Dasar pisang... =3=a nih, udah update... :D sampai jumpa di fic lainnya yaaaa...XD

iSakuraHaruno: maap gantung ya... a itu yang nangkep orang...XD #plakk gak lama kan? Makasih banyak dan samapi jumpa di fic lainnya... :D

Nattually: wkwkwkwkwkw... iya nih, udah kan? Makasih n sampai jumpaaaaa..XD

Michelle : wkwkwkwkwkwk... untung ya gak ketinggalan jauh... ini udah tamat, terima kasih n sampai jumpa yaaaa... :'D

Mey Hanazaki: wkwkwkwkwk.. yang nangkep orang..XD ini, endingnya udah ngajak nikah bukan? XD makasih yaaaa... sampai jumpaaaa..XD

Shiranui89: Makasih belalang..XD sampai jumpa di fic lainnya..XD

Lee sica: itu oraaaang..XD iya, makasih yaaaa.. sampai jumpa lagiiii.. XD

: wkwkwkwkwk... ooh, kamu tooh.. XD ini ada karin, dia baik lhooo XD makasih ya.. sampai jumpa di fic lainnyaaa.. :D

Miura Miharu: wkwkwkwk... makasih ya.. iya ini udah ending kan? Sampai jumpa lagiiii..XD

Park Min Hwa: wkwkwkwk.. untuk yang terakhir, review ya? makasih dan sampai jumpaaa.. :D

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: wkwkwkwkw.. gpp kan mbak, biar terkenal gituuu.. XD #plakk makasih yaaa.. sampai jumpa di fic lainnyaaa.. :D

Obsinyx Virderald: Halooo.. lama gak ketemu di kotak review..XD wah, nostalgia? XD makasih dan sampai jumpa lagi yaaa.. :D

SRZ: Sudah tamat niih.. XD makasih dan sampai jumpa yaaa.. :D

Soo Danna: k-kau fans ku? #terharu biru makasiiiiiiiiiiih banget yaaa.. sampai jumpa di chapter lainnya.. :'D

Hany-chan DHA E3: iya, kamu datang... :'D makasih yaaa... sampai jumpaaaaa.. :D

Guest: ini update dan tamat... makasih dan sampai jumpaaaa.. :D

[maaf jika ada kesalahan nama dan tertinggal, harap tegur aku kalau itu terjadi]

(Terima kasih banyak dan sampai jumpa! :D)

Akhirnyaaaa~ Aku bisa menulis The End pada fic multichap ku... TwT

Aku suka banget scene di atas ini... ToT kalian? Suka bagian mana dari fic miss pesimis? :D

Tidak terasa nyaris setahun aku membuatnya... senang sekali rasanya... :'D

Tanpa kalian, cerita ini tidak akan selesai... terima kasih banyak... :'D

Kata-kata Sakura yang, "Kurasa inipun baik adanya." Itu artinya "Ini aja udah baik/bagus..."

Ahahahahahaa... #dilempar sandal n panci

Ah, maafkan aku Gaara, kau hanya muncul namanya saja... #plakk

Kalian, isi kesan dan pesan untuk yang terakhir (di fic ini) ya? :3 Aku berharap banyak akan kesan pesannya. :D

Review?

Karikazuka