Hallooo, readers-deul. Saya baru aja menyelesaikan chapter 5, the most difficult chapter i've ever translated. Jadi, kalo ada bahasa yang nggak enak, atau agak membingungkan di chapter ini, saya minta maaf terhadap kalian semua, soalnya chapter ini agak rumit dan pembahasaannya pun begitu. Oh ya, banyak yang tanya di kotak review kemarin, untuk itu saya juga minta maaf, soalnya nggak bisa jawab, karena kalian pasti nemu jawabannya di chapter-chapter selanjutnya, kalau kalian ngikutin terus. Daripada banyak omongan, udahlah baca aja yah, Happy Reading~


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 5: Addicted

Warning: Contain typos, confusing and harsh words everywhere

Gerimis kecil berjatuhan dari langit malam bulan April.

Chanyeol menutup pintu penumpang dari mobil Mercedes hitam milik Kris dari luar. Ia memandang bangunan dari batu-bata yang sekarang terlihat familiar untuknya, suara musik dari dalam bangunan itu yang terdengar familiar untuknya juga, begitupun tanda berlabel EXOtic dengan warna neon pink dan dilapisi kaca berwarna hijau martini yang sekarang terlihat familiar untuknya. Perutnya melilit dan berputar-putar saat ia mempersiapkan mentalnya atas segala yang mungkin terjadi. Ia menutupkan hood dari sweatshirt ke kepalanya untuk menutupi dari gerimis yang dingin.

"Jadi, katakan padaku kenapa kita kembali kemari?" Kyungsoo bertanya kebingungan sambil menutup pintu mobil, lalu berdiri disamping Chanyeol dan mengarahkan matanya pada klub. Sehun dan Kris menutup pintu mobil secara bersamaan.

"Pangeran Tampan ingin menyelamatkan Cinderella." Kris menggoda sambil berjalan memutar, mengambil rokok yang berada di mulutnya lalu mengetuknya beberapa kali untuk menghilangkan debu yang menempel.

Chanyeol meninju lengan Kris. "Kalau kau berkata seperti itu, kau membuatku terlihat seperti seorang romantis tanpa harapan." Ia merampas rokok dari tangan Kris, menempatkan pada bibirnya dan menghirup tembakau itu hingga ke dalam paru-parunya, mencoba untuk menghilangkan kegelisahannya. "Baekhyun memintaku untuk membantunya, jadi itulah yang aku lakukan." Asap keluar dari bibirnya saat ia berbicara dan menghilang bercampur dengan udara.

"Kau bahkan tak tahu siapa pria ini. Mengapa harus repot-repot membantunya?" Kyungsoo bertanya.

Chanyeol bahkan tak yakin harus menjawab apa. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan Kyungsoo. Segala yang ia tahu hanyalah sesegera mungkin menghilangkan rasa sakit yang ada di dadanya.

"Mengapa ia tak berhenti saja?" Kyungsoo mengajukan pertanyaan lain ketika Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya yang pertama.

"Tao mengatakan itu susah dilakukan oleh para penari untuk berhenti dari EXOtic." Kris menjawab. "Dua orang sepupu pemilik klub tak akan mengijinkan para penari untuk berhenti dan mengancam untuk tetap bekerja disini , terutama jika kau terkenal diantara para pelanggan."

"Luhan pernah mengatakan sesuatu tentang itu," Sehun menambahkan. "Ia mengatakan bahwa pernah ada seorang pria yang menginginkan untuk berhenti dan pemilik klub ingin dia mengembalikan semua uang yang sudah ia kumpulkan. Kupikir setelah jam kerja mereka berakhir, para penari harus mengatakan pada pemilik klub berapa uang yang mereka kumpulkan lalu mereka mencatatnya."

"Aku juga mendengar dari para penjaga jika beberapa dari mereka banyak yang disiksa."

"Mengerikan." Kyungsoo menutup mulut dengan tangannya, terkejut oleh informasi yang begitu tiba-tiba.

"Apa kau sudah punya rencana, Chanyeol?" Kris bertanya.

Chanyeol menggenggam note Baekhyun di saku hoodie birunya. Menghisap rokok untuk yang terakhir kalinya, ia lalu menjatuhkan rokok itu ke tanah dan menginjaknya hingga hancur dengan kakinya. "Tidak sedikitpun." Ia mulai berjalan menuju pintu metal abu-abu dan terdapat penjaga yang sama seperti kemarin malam. Ia memajukan tangannya menuju gagang pintu tapi salah satu penjaga mencegahnya.

"Whoa, buddy," suara husky-nya menggema, menghentikan Chanyeol di tempatnya. "Kau tidak bisa masuk begitu saja. Kau punya ID-nya?"

"Jangan khawatir, man, mereka bersamaku." Kris tersenyum, berdiri dibelakangnya.

"Oh, Kris," sang penjaga menyingkir dari hadapan Chanyeol."Aku tidak melihatmu tadi." Ia lalu menjabat tangan Kris.

Chanyeol menatap mereka saat mereka melakukan handshake yang sama seperti yang mereka lakukan kemarin malam dan Kris menyelipkan benda yang terlihat sama seperti kemarin malam.

"Apa itu?" Kyungsoo berbisik pada Sehun sambil menunjuk pada benda itu.

"Kokain," Ia berbisik kepada Kyungsoo. "Dengan cara itulah Kris bisa memasukkan kita secara gratis. Aku tak tahu siapa yang memberikan padanya ataupun ia mendapatkannya darimana."

"Kalian bebas masuk." Sang penjaga memasukkan benda itu ke saku belakangnya.

Tanpa berpikir panjang, Chanyeol terburu-buru membuka pintunya. Suara musik yang kencang hampir menghancurkan gendang telinganya, tapi sekarang ia tak peduli. Ia harus segera menemukan Baekhyun. Ia mulai berjalan kedepan tapi sebuah tangan menggapai hood-nya dari belakang.

"Tunggu dulu, Romeo," Kris berbicara lalu menariknya kembali. "Kau butuh rencana sebelum menyelamatkan Juliette."

Keempat lelaki itu berdiri di pintu masuk, semua mata tertuju pada Chanyeol saat ia hanya berkata "Aku hanya harus menemukannya." Ia berkata dengan gelisah lebih dari yang ia bayangkan. "Aku akan mencari kalian secepatnya." Ia lalu melepaskan tangan Kris dari hood-nya dan pergi.

"Seseorang harus mengikutinya." Kyungsoo kepanikan.

"Entahlah dengan kalian, tapi aku pergi ke bar." Sebuah seringaian terlukis di wajah Kris saat matanya menemukan seseorang. "Temui aku setelah semua ini berakhir." Ia berjalan santai menuju bar dimana Tao menunggunya dengan tidak sabar.

Lelaki yang paling pendek menghela nafas. "Apakah dia benar-benar tidak peduli?"

"Chanyeol akan baik-baik saja," Sehun meyakinkan lelaki yang lebih tua darinya. "Karena kita sudah berada disini, kau hanya harus menunggu dan bersenang-senang seperti yang kau lakukan kemarin malam."

Kyungsoo memerah. "A…bukan karena itu A-"

Sehun tertawa dan menepuk punggungnya. "Aku akan mencari Luhan. Mengapa kau tidak mencari penari itu" Ia lalu meninggalkan Kyungsoo berdiri di pintu masuk.

Mata bulat Kyungsoo mengedar kesekeliling, tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Ia ingin pergi, tapi Kris sudah mengantarnya sampai kesini dan ia membawa serta kunci mobilnya. Matanya berhenti ketika ia menatap penari yang kulitnya sering tersentuh matahari itu tak sengaja menatapnya dan sedang berjalan menuju ke arahnya.

-The EXOtic Dancer-

Menaikkan tirai merah yang ia lalui kemarin malam ke atas kepalanya, Chanyeol menatap kesekelilingnya hingga tatapannya terjatuh pada sang penari. Sebuah perasaan marah membakar hatinya dan ia menatap Baekhyun dengan tatapan horror.

Sebuah kerumunan dari pria paruh baya yang sangat bernafsu berdiri mengelilingi panggung sedang bersorak dan bersiul. Sebuah kursi kayu terletak di tengah panggung dengan seorang bajingan duduk di atasnya, mengusap kedua tangan kotornya dan menatap Baekhyun dengan tatapan liar.

Baekhyun menggoda dengan menempatkan scarf berwarna-warni di leher pria bajingan itu, menariknya ke kanan dan kiri sambil menggigit bibir bawahnya. Ia membiarkan pria tua itu menempatkan tangan kotornya pada pinggangnya. Jari-jari gemuknya mencoba untuk masuk ke dalam kaus jaring-jaring yang ia kenakan untuk merasakan kulit halus seputih susunya. Baekhyun lalu membuang scarf itu entah kemana. Ia menempatkan tangan rampingnya pada lutut pria jelek yang sedang dilayaninya sambil menaik-turunkan tubuhnya. Ia membungkukkan badannya diantara kedua kaki pria itu sambil meraba-raba paha gendutnya. Jari-jarinya menari menuju ikat pinggang bajingan itu. Ia lalu membukanya dan menariknya dari pinggang pria itu dan duduk dipangkuannya sambil menggoyangkan pinggangnya. Uang berhamburan di udara dari penonton yang sedang bernafsu. Satu persatu, puluhan, bahkan dua puluhan berserakan dibawah kaki sang penari. Semua orang menikmati pertunjukannya, kecuali satu…

"BAEKHYUN!" Chanyeol berteriak, suaranya terdengar jelas diantara dentuman musik, menganggu penampilan tersebut.

Baekhyun mengalihkan kepalanya kepada sumber suara, matanya yang berhias eye-liner melebar dan kaget saat sosok Chanyeol diterangi oleh sinar dari lampu strobo."Cha-Chanyeol? Apa yang…?" Ia melonjak dari pangkuan pria itu.

Chanyeol mengeluarkan sebuah surat dari sakunya dan mengibaskannya di depan wajahnya dengan senyuman tipis. "Aku kemari untuk menyelamatkanmu."

Wajahnya memerah dan ia menggumam, "Kupikir kau tidak akan benar-benar kembali." Tanpa mengucap sepatah kata, Chanyeol tersenyum senang padanya sambil membuka kedua lengannya lebar-lebar. Mata Baekhyun berair saat kebahagiaan memenuhi dirinya. Ia spontan meloncat dari atas panggung ke dalam pelukan Chanyeol, kedua kakinya memeluk pinggang Chanyeol dan lengannya berada di sekitar leher Chanyeol. "Kau benar-benar datang untukku."

Chanyeol sedikit goyah saat ia menerima pelukan dari Baekhyun tapi ia berusaha untuk menjaga keseimbangannya dan menahan lelaki yang lebih kecil darinya untuk tetap berada dalam pelukannya. "Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu, kan?" ia tertawa.

"Hey," pria paruh baya itu berteriak dan berdiri dari kursinya. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" ia menunjuk Baekhyun saat ia berbicara. "Aku membayarmu untuk lap dance-tarian diatas pangkuan seseorang-. Sekarang letakkan pantatmu itu disini dan selesaikan apa yang sudah kau kerjakan!"

Baekhyun menurunkan kakinya ke lantai tapi ia tetap meletakkan tangannya di sekitar leher Chanyeol ketika pria itu berbicara kepadanya.

"Yo, bajingan, itu tidak perlu dilakukannya." Chanyeol menggertakkan tangannya dan memberinya tatapan yang mengerikan. "Ia sudah tidak ingin bermain denganmu, jadi kenapa kau tidak pergi saja dari sana."

"Ia benar, Chanyeol." Baekhyun menyahut dengan keras, menurunkan tangannya dari leher Chanyeol. "Aku harus menyelesaikan tariannya."

"Tidak, tidak perlu. Kau hanya perlu meninggalkan tempat ini sekarang denganku-"

"Aku tidak bisa. Ia membayar satu tarian penuh. Aku harus menyelesaikannya." Mata Baekhyun dipenuhi dengan penyesalan dan rasa malu tapi ia mencoba menunjukkan Chanyeol sebuah senyuman untuk meyakinkannya. Ia lalu berbalik dan berjalan menuju panggung.

"Kau berhutang ekstra padaku untuk ini, bitch." Pria itu menjilat bibir murahannya dan kembali duduk ke atas kursi, menarik Baekhyun diatas pangkuannya. "Goyangkan pantat itu untukku."

Chanyeol menatap penuh dengan kesedihan saat Baekhyun menggerakkan badannya main-main diatas pangkuan pria itu. Diluar panggung, ia terlihat seperti seorang anak kecil yang innocent. Diatas panggung, ia benar-benar orang yang berbeda. Semakin aku menatapnya, semakin aku menginginkannya. Aku memiliki keinginan yang besar untuk menyentuhnya, untuk memeluknya di lenganku dan tidak melepasnya pergi. Ia benar-benar candu. Aku seperti tidak bisa untuk menolaknya. Bagaimana bisa seseorang sepertinya memiliki efek yang sungguh besar kepadaku?

Musik telah berakhir sebelum musik lain dimainkan. Baekhyun berdiri dari pangkuan pria itu dengan cepat dan pergi ke belakang panggung secepat yang ia bisa saat tariannya sudah berakhir, ia bahkan tidak repot-repot untuk mengambil uang yang dihamburkan para penonton. Kepalanya tertunduk dalam saat ia menarik tangan Chanyeol. Kesunyian yang mencekam meliputi mereka berdua saat Baekhyun menuntun Chanyeol ke tempat sempit dengan berbagai pintu berwarna merah. Mereka sampai di depan pintu dengan nomor 48 terpahat diatasnya. Ia meletakkan tangannya pada gagang pintu berwarna hitam, lalu mendahului masuk kedalam.

Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang segera setelah menutup pintunya, mencoba menenangkan bahu yang bergetar di hadapannya. "Ada apa, Baek?"

Baekhyun menguburkan wajah di tangannya saat kristal-kristal bening berjatuhan dari matanya, berusaha keras untuk memperoleh ketenangannya kembali. "K-Kenapa kau melihatku? A-Aku ti-tidak ingin kau me-melihatnya."

Chanyeol memeluknya lebih erat. "Aku tidak bisa mengalihkan mataku darimu sekalipun aku ingin melakukannya." Bibirnya menuruni leher Baekhyun. "Biarkan aku menghapus sentuhan bajingan itu pada tubuhmu." Tangannya menggerayangi tubuh Baekhyun. "Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa menyentuhmu. Aku ingin tercandu olehmu." Ia tidak yakin apa yang ia katakan atau bahkan ia lakukan, tapi ia tidak peduli. Faktanya, ia malah menyukainya. Itu hanya pengaruh kecil yang Baekhyun berikan untuknya.

"Chanyeol…" Baekhyun menggeser tangannya. Beberapa butir airmata membekas di bola matanya, eye-liner juga berantakan disudut matanya, tapi ia menunjukkan pada Chanyeol sebuah senyuman penuh gairah. "Aku tahu kau tidak bisa menolakku."

"Aku tak bisa menolakmu sejak pertama kali melihatmu." Ia tertawa kecil dan mendekatkan bibirnya ke bibir Baekhyun. "Sekali aku menatapmu, aku tak bisa melakukan apapun selain menginginkanmu. Kau benar-benar menggoda." Ia lalu menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun dengan penuh nafsu.

Baekhyun menempel pada Chanyeol, mendesah pelan saat lidah mereka berdansa bersama. Terdapat semburat merah di pipinya saat bibir mereka berpisah. Baekhyun menguburkan wajahnya pada dada pria yang lebih tinggi darinya. "Aku tak ingin kau meninggalkanku."

"Aku tak akan meninggalkanmu. Tidak untuk sekarang."

To Be Continued

Gimana? Apakah udah pusing baca chapter ini? Saya juga pusing nerjemahinnya. Oh ya, kalau ada yang dibingungkan, boleh tanya-tanya kok. Sama yang kemaren nanya mau manggil saya pake apa, terserah kalian deh, mau kakak, chingu, Ryuu, author, boleh kok. Yang nanya saya shipper siapa, saya ini CHANBAEK-HARD SHIPPER /LOL/ Ada juga yang pengen lebih dekat sama saya, saya juga pengen lebih dekat sama kalian, termasuk yang nggak punya akun juga, saya juga pengen lebih dekat sama kalian semuanya~ Haha. Thank you guys~

Read the original story:

story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction. See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!

Byee~~