Hallo, readers-deul~
Long time no see, ya XD Saya minta maaf dulu soalnya udah nggak update this whole week, soalnya bener-bener nggak ada waktu. Tapi saya berusaha menyelesaikan fiksi ini di sela-sela waktu saya, walaupun a bit rush, saya harap ini nggak mengecewakan kalian semua, ya. Oh ya, tadinya saya udah post ini, tapi ternyata ada satu part dari chapter ini yang ke potong, jadi saya hapus terus saya post lagi deh, sorry XD Happy reading~


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 6: Sound The Alarm

Warning: Contain typos, confusing and harsh words everywhere

Chanyeol melepaskan tangannya dari tubuh Baekhyun. "Ayo. Kita harus segera pergi dari sini." Ia tersenyum cerah dan menempatkan tangannya pada gagang pintu berwarna hitam.

"Mengapa harus tergesa-gesa?"

Chanyeol memandang bingung pada Baekhyun. "Apa maksudmu? Kau yang meminta-" Ia tak sempat melanjutkan ucapannya ketika Baekhyun tiba-tiba mendorongnya ke arah pintu. Ia sangat heran terhadap tingkah Baekhyun. Jantungnya tiba-tiba berhenti ketika ia menyadari bahwa kelakuan Baekhyun kembali seperti pelacur menggairahkan yang ia temui kemarin malam.

"Kita punya waktu semalaman untuk melarikan diri." Bibir Baekhyun membentuk senyuman seksi lalu ia membenturkan badannya pada badan Chanyeol, tangannya menuruni jeans Chanyeol. Baekhyun bersandar pada lehernya, nafas hangatnya menggelitik kulit Chanyeol sebelum ia berkata dengan nada menggoda, "Let's have some fun first."

Chanyeol gemetar karena sentuhan Baekhyun. "B-Baek, kita tidak seharusnya-" nafasnya tersenggal ketika pria berambut brunette itu menggesekkan penis mereka berdua.

"Sesuatu yang lain mengatakan padaku sebaliknya." Ucap Baekhyun disela nafasnya sebelum menyatukan bibir mereka berdua. Tangannya bekerja pada jeans Chanyeol, membuka kancingnya dengan mudah tanpa memutuskan bibir mereka. Suara dari bibir yang saling bertemu dan suara dari resleting Chanyeol yang diturunkan memenuhi ruangan hingga Baekhyun menyudahi ciuman mereka dan berlutut di hadapan Chanyeol.

Chanyeol mengarahkan matanya ke bawah, melihat Baekhyun, menggigit bibir bawahnya sambil mengantisipasi. Pikirannya mulai berdebat apakah ini termasuk ide yang bagus atau bukan. Baekhyun adalah orang yang menyuruhnya kemari unuk menyelamatkannya, jadi mereka harus segera pergi…benar kan?

Baekhyun memandangnya dengan tatapan penuh gairah saat ia menarik jeans yang menutupinya dari hal yang paling ia inginkan.

Sialan. Chanyeol berbicara dengan dirinya sendiri. Aku tak bisa mengatakan tidak padanya. Ia menutup matanya dan meloloskan desahan pelan saat ia merasakan lidah Baekhyun meluncur dengan halus pada penisnya.

-The EXOtic Dancer-

Tao menjerit, mencoba untuk tidak tertawa terlalu kencang saat ia merasakan sebuah lidah menggelitik di dadanya, menjilati air asin yang menuruni dadanya.

Kris menyeruput tequila yang berlumuran di abs Tao yang berisi. Ia dengan cepat mendongakkan kepalanya untuk menangkap potongan lemon yang berada diantara bibir Tao.

Tao menggigit lemon tersebut untuk menahan berada di mulutnya lebih lama. Bibir mereka bertempur dengan seksi antara satu dengan yang lainnya saat mereka memperebutkan lemon tersebut. Tetapi, Kris jelas terlihat sebagai pemenang dalam hal memperebutkan lemon dari bibir Tao. Bar di penuhi dengan tawa dan teriakan saat acara body shot-minum di atas badan seseorang- selesai.

"Baiklah, berhenti bermain-main," Joonmyun, salah satu bartender, mengatakan hal tersebut pada rekan kerjanya. "Kembali bekerja."

"Apa yang kau bicarakan?" Tao meloncat turun dari counter dan memakai baju abu-abunya. "Aku sedang melakukan pekerjaanku. Tugas kita adalah menyajikan minuman, dan aku sedang menyajikan pada pelanggan minumannya."

"Yeah, Aku sangat puas dengan pelayanan disini." Kris menyeringai saat ia menyeka beberapa tetes tequila yang berceceran di dagunya. "Aku tidak keberatan untuk memesan minuman lain, jika kau tahu benar apa maksudku." Ia menatap Tao dari atas ke bawah dengan lapar dan tidak melewatkan untuk melihat rona merah yang muncul di wajahnya.

Joonmyun memutar bola mata cokelatnya pada pria blonde itu saat ia mengocok minuman di dalam sebuah botol shaker berwarna silver. "Fucking perv…" ia menggumam.

Tao melihat jam pada layar komputer. "Joonmyun, Aku ingin istirahat."

"Secepat ini?" Joonmyun bertanya. Ia melihat jam pada layar komputer di sebelah bar dengan wajah tidak percaya saat ia sedang menghias minumannya. "Sial, padahal kurasa kau baru saja datang."

"Aku akan kembali dalam satu setengah jam." Ia tersenyum pada Joonmyun. Ia menolehkan kepalanya pada Kris, memberi isyarat dengan jarinya pada Kris untuk mengikutinya, dan seperti anak yang baik, Kris mengikutinya. Tao menuntunnya menuju sebuah pintu di belakang bar. Mereka masuk menuju ruangan penyimpanan minuman keras yang luas. Tao menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Mereka berdua tahu mengapa mereka berada di sini. Tanpa mengucap sepatah kata, Tao menubrukkan tubuhnya pada tubuh Kris, dan meraih bibirnya. Ciuman panas itu membuat mereka berdua gila. Tangan mereka saling membelai kulit pasangan masing-masing seperti saat pertama kali mereka mengalami sensasi yang luar biasa dari lidah mereka yang bergulat saling mendominasi.

"Langsung pada intinya, huh?" Kris mengatakan dengan nada terhibur dan terengah-engah diantara ciumannya.

"Kita hanya punya satu setengah jam," Tao berbicara sama seperti dirinya, kehabisan nafas. "Aku sudah menginginkan untuk bercinta denganmu semalaman."

"Aku juga, baby." Kris mendorong Tao pada rak-rak yang penuh dengan minuman keras selagi Tao mengalungkan lengannya disekitar leher Kris dan kakinya terletak di pinggang Kris, bibir mereka saling bertabrakan. Mereka mendorong beberapa botol minuman keras ke lantai, botol-botol tersebut pecah sebab bertubrukan dengan lantai. Cairan berwarna cokelat, bening, dan biru berceceran di atas lantai.

Mereka berpindah ke atas lantai. Memastikan untuk menghindar dari gelas-gelas yang pecah, Tao berbaring pada tempat yang tidak terkena cairan maupun pecahan kaca. Ia dengan cepat melepas jeans-nya sendiri, begitupun dengan Kris. Tepat ketika jeans mereka berdua telah lepas, Tao meraih wajah Kris dan kembali menyatukan bibir mereka.

Kris memasukkan satu jarinya ke dalam Tao. "Seseorang sudah siap, ternyata." Ia menyeringai.

"Kau pasti tidak tahu..."

"Aku tak akan membuatmu menunggu lebih lama kalau begitu." Kris dengan cepat mempersiapkan dirinya, dan mendorong penisnya yang berdenyut-denyut ke dalam Tao.

Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi mengagetkan mereka dan sebuah lampu berwarna merah menyala.

"Are you fucking kidding me?" Kris mengerang, keinginan melakukan seks-nya hancur tiba-tiba.

Tao menutup mulut dengan tangannya sambil menatap pada Kris dengan terkejut. "Sepertinya temanmu tertangkap."

-The EXOtic Dancer-

Sehun berjalan ke sebuah tempat sempit menuju salah satu Champagne Room. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna merah dengan nomor 30 terukir disana. Ia mengangkat tangannya lalu mengetuk pintunya dua kali dengan buku jarinya. Terdengar sebuah hembusan nafas, suara dari sesuatu yang pecah, langkah kaki yang tergesa-gesa, dan sebuah suara 'tunggu sebentar' yang datang dari balik pintu.

Ia memiringkan kepalanya kebingungan dengan sebuah senyum terlukis di wajahnya. Ia mencoba untuk tidak tertawa saat melihat Luhan membuka pintu dengan wajah panik. Celana putih ketatnya tidak terkancing, ia juga tidak menggunakan atasan sama sekali, membuat Sehun sedikit 'bangun'. Rambutnya benar-benar berantakan, tidak terlihat halus seperti biasanya, tapi make up-nya terpasang dengan rapi.

"Oh, Sehun, ternyata kau," Luhan bernafas lega. Ia melihat jam yang tergantung di dinding belakangnya sebelum kembali menatap pada Sehun. "Jam kerjaku baru akan mulai satu setengah jam lagi…" ia berharap Sehun bisa memahami maksud dari kata-katanya.

"That's okay," Sehun tersenyum dan meraba sakunya. "Aku bahkan tidak membawa uang sepeserpun."

Luhan mengerutkan alisnya dan terlihat kebingungan. "Oh…lalu mengapa kau kemari?"

"Apakah kau mengijinkanku masuk?" Ia tersenyum.

Wajah khawatir Luhan terpenuhi dengan ketidakyakinan sekarang. "Um, kurasa, ya." Ia mundur beberapa langkah dan membuka pintu membiarkan pria yang lebih tinggi darinya masuk kedalam.

Sehun berjalan masuk ke dalam ruangan familiar yang ia kunjungi kemarin malam. Saat ia mengambil nafas, ia mencium aroma yang menyerupai strawberries dan sebelumnya tidak tercium olehnya. Ia melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari peralatan Luhan tercecer di sekitar kursi kulit berwarna hitam. Terdapat sebuah kaca dengan bingkai kayu berwarna cokelat di dinding tempat peralatan make-up Luhan.

Luhan menutup pintu dengan pelan. "Jadi…uh, ada apa?"

Sehun memutar badannya untuk menatap lelaki yang lebih pendek darinya. Ia menggapai lengannya dan menariknya ke dalam pelukan.

"Whoa," Luhan terjatuh dalam pelukan Sehun. Tangannya berada pada dada bidang Sehun, ia bisa merasakan detak jantung Sehun. Aroma parfumnya benar-benar kuat dan ia tidak bisa melakukan apapun selain merasa nyaman. Ia juga merasakan bahwa detak jantungnya sendiri menjadi lebih cepat. "S-Sehun…"

"Mungkin ini terlalu mendadak, tapi," ia mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Luhan. "Aku akan menyelamatkanmu dari kehidupan ini jika saja kau juga memintaku untuk melakukannya."

Pipi Luhan seperti tersiram cat berwarna merah muda yang merona, ia merasa malu. Luhan mencoba untuk menatap Sehun, tetapi kepalanya ditahan oleh Sehun agar tetap berada di dada bidangnya. "A-ap…Kenapa kau bicara begitu?"

"Salah satu temanku sedang berusaha menyelamatkan penari lain dari sini. Hal ini membuatku memikirkanmu." Sehun mengistirahatkan kepalanya di bahu Luhan. "Aku menyadari jika aku menginginkanmu lebih dari seorang stripper untuk kesenangan semalam."

Mata Luhan melembut dan tubuhnya memanas. "Sehun-"

Merasakan ketegangan yang dialami Luhan, Sehun mendorong Luhan menjauh darinya. "I-I'm sorry." Ia melihat ke arah lain, merasa malu. "Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya tak tahu apa yang kulakukan sebelum datang kemari. Lu-lupakan saja perkataanku." Ia berjalan melewati Luhan, menuju ke pintu.

"Sehun, tunggu!"

Ia berhenti saat ia sudah memegang gagang pintu berwarna hitam itu. Ia hanya berdiri memandang pintu.

Sang penari terdiam sejenak sebelum ia menemukan sedikit keberanian untuk berbicara. "Aku bergabung dengan pelayanan-seks tanpa perasaan apapun. Aku datang kemari hanya untuk mencari kesenangan." Ia menggenggam tangannya saat berbicara. "Aku selalu merasa senang ketika aku melihat wajahmu ditengah keramaian. Tubuhku menjadi semakin panas ketika aku mengetahui matamu memandangku."

Sehun menutup matanya sambil mencoba menenangkan dirinya dari perkatan Luhan yang didengarnya. Ia tidak ingin terpengaruh begitu saja.

"Aku kehilangan selera terhadap klien yang lain. Aku telah menyadari bahwa aku hanya melakukannya demi uang. Segalanya tidak membuatku bahagia kecuali saat aku tahu kau datang mengunjungiku. Aku tak lagi merasakan kesenangan seperti yang kurasakan dulu karena aku hanya merasa senang ketika bersamamu."

Sehun membalikkan badannya, terkejut. Ia menyadari betapa lemahnya Luhan tergambar jelas saat Luhan menggenggam kedua tangannya, gemetar. "Luhan,"

"Kita sudah diberitahu, oleh pemilik klub, untuk tidak pernah mengungkapkan nama asli kita pada para klien. Aku dipanggil dengan nama panggungku saat aku melakukan pelayanan dengan klien lain, tapi denganmu… Aku mempercayakan padamu nama asliku tanpa alasan apapun. Kau adalah satu-satunya klien yang mengetahui nama asliku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini, tapi," Ia memandang Sehun dengan mata doe-nya, poninya terlihat cukup berantakan. "Kupikir aku mungkin memiliki perasaan untukmu."

Sehun merasa jantungnya berhenti berdetak, nafasnya tertahan di dada. Ia tidak bisa percaya apa yang ia dengar.

"Oh man," Luhan meletakkan tangan di wajahnya, menyembunyikan rona merah yang tidak bisa berhenti. "Seharusnya aku tidak mengatakan itu." Ia membelakangi Sehun dan mengatakan sesuatu dengan posisi kedua tangan yang masih menutupi wajahnya dan tersamarkan oleh suara musik yang berdentum dari speakers.

Sehun berjalan ke arah Luhan dan memeluknya dari belakang. "Kau tidak tahu betapa senang aku mendengarnya." Ia mencium tengkuk Luhan yang halus. "Maukah kau membiarkan aku mengeluarkanmu dari sini?"

Luhan menganggukkan kepalanya, tangannya masih menutupi wajahnya.

"Tatap aku, Luhan."

Ia dengan perlahan menyingkirkan tangan dari wajahnya dan melihat Sehun melewati bahunya. Matanya terbelalak kaget saat Sehun mencium bibirnya. Ia mendesah halus ketika ciuman itu lebih dalam. Ia membiarkan matanya melihat pada jam di dinding kamarnya. Ia hanya punya delapan belas menit sebelum jam kerjanya mulai. Ia lalu mendorong Sehun, dan tersenyum, "Aku ingin melakukan quickie sebelum jam kerjaku mulai."

Bibir Sehun membentuk senyuman mengerikan. "Kau tidak perlu mengatakan padaku dua kali."

Tiba-tiba, suara alarm berdering diantara mereka dan lampu berwarna merah menyala.

Mata doe Luhan melebar ketika ia mendengar alarm tersebut. Ia menatap kaget pada Sehun.

"Apa itu?" Sehun bertanya tentang alarm itu.

"Seseorang mencoba untuk melarikan diri."

-The EXOtic Dancer-

"Kau datang lagi!" Bibir indah Jongin membentuk sebuah senyuman saat ia berjalan menuju Kyungsoo. "Kupikir aku mungkin menakutimu kemarin malam."

Pipi Kyungsoo memerah parah ketika ia merasakan aura seksi Jongin yang menuju padanya. Ia memainkan ujung kemejanya untuk menghindari eye contact dengan Jongin. "Aku, uh, Aku dibawa kemari oleh temanku lagi."

Jongin berhenti di depan lelaki yang lebih pendek darinya. "Well, kemana mereka semua?"

"Uh," Kyungsoo melihat ke sekeliling berharap menemukan jawaban. "M-mereka sedang bersenang-senang." Itu bukanlah kalimat tepat yang ia cari…

"Lalu kenapa kita tidak bersenang-senang untuk diri kita sendiri?" Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dan menariknya menjauh dari pintu masuk.

"J-Jongin-"

"Shhh…" Jongin meletakkan satu jarinya pada bibirnya sendiri sambil menoleh kebelakang, menatap Kyungsoo. "Ketika kita di dance floor kau harus memanggilku Kai. Itu nama panggungku."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya saat ia melewati tirai merah bersama Jongin. Terdapat sebuah panggung kosong dengan sebuah kursi kayu di atasnya. Sebuah kerumunan dari pria-pria yang bernafsu memenuhi ruangan saat lampu strobo menyala. Kerumunan itu berubah menjadi liar saat mereka melihat Kai memulai penampilannya.

Kai berjalan menaiki beberapa anak tangga di sisi panggung, dengan Kyungsoo yang masih berada di gandengannya, lalu mendudukkan Kyungsoo di kursi itu. Ia mengeluarkan sebuah borgol dari saku belakangnya, yang mungkin Kyungsoo tidak tahu dan tidak menyadari bahwa borgol itu sama seperti yang ia gunakan kemarin malam dan ia menunjukannya pada kerumunan pria dengan senyuman mengerikan terlukis di wajahnya. Kerumunan tersebut menjadi lebih liar dan gila, meneriakkan agar segera memborgol lelaki itu di kursinya. Kai melakukan seperti apa yang di perintahkan. Ia memborgol tangan Kyungsoo kebelakang kursi dengan cepat.

Kyungsoo bergerak-gerak di atas kursinya. Ia sedikit terkejut ketika Kai meletakkan tangan di atas celana jeans-nya. Ia menatap pada bola mata berwarna cokelat gelap menggoda yang berada di hadapannya. Ia merasa badannya memanas ketika Kai menjilat bibir selembut beludru-nya.

Kai duduk di atas Kyungsoo dan menggoyangkan pinggangnya. Ia menatap penonton sambil terus bergerak di atas Kyungsoo, menarik perhatian para penonton. Ia menyeringai dan menekankan pinggangnya pada Kyungsoo. Uang mulai berhamburan di atas panggung dalam jumlah besar. Dan Kai menyukainya.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya ke belakang saat kai menambah kecepatan gerakannya. Ia mencoba untuk tidak membiarkan dirinya sendiri tenggelam dalam perasaan aneh dari banyak mata yang menatapi dirinya dengan penuh nafsu. Ketika sang penari tiba-tiba berhenti, Kyungsoo kembali menegakkan kepalanya. Ia melihat Kai melepas kaus yang dipakainya lalu membuangnya ke sisi panggung tanpa peduli. Kyungsoo mengalihkan pandangannya, mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa ia terlalu bergairah melihat Kai tanpa busana lagi.

Kai menyeringai melihat tindakan Kyungsoo. Ia berjalan menuju Kyungsoo, memegang dagunya, membuat Kyungsooo berhadap-hadapan dengannya, dan berkata, "Ketika kau berkelakuan malu-malu seperti itu, kau membuatku lebih menginginkanmu."

Wajah Kyungsoo memerah. Ia tersentak ketika Kai tiba-tiba mendekat.

"Kau membuatku semakin menginginkanmu saja." Kai berbisik sebelum menghilangkan segala jarak diantara mereka.

Ciuman yang sangat menggairahkan membuat Kyungsoo hampir tak bisa bernafas. Ia mencoba untuk menghirup udara ketika bibir mereka terpisah beberapa detik. Ketika lidah Kai memasuki mulutnya, memperdalam ciumannya, semua itu terlalu berlebihan untuk Kyungsoo. Lidahnya menyerang balik lidah Kai dengan lemah saat Kai menguasainya. Sebuah benang saliva tipis menetes dari bibirnya ketika Kai memutus ciumannya. Ia menjadi panas dan kacau saat ia melihat ke arah lelaki dihadapannya.

Kai mengusap bibir bawahnya dengan punggung tangannya lalu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian seksi. "You ready for more?"

Nafas Kyungsoo perlahan menjadi normal kembali. Menatap langsung pada bola mata cokelat gelap sang penari, lalu ia menganggukkan kepalanya.

Tiba-tiba, suara alarm berdering diantara mereka dan lampu berwarna merah menyala.

Kai melihat ke arah alarm dengan tatapan kebingungan. Ia perlu beberapa menit untuk menyimpulkan apa yang sedang terjadi, tapi setelah ia menyadarinya, ia dengan cepat melepaskan borgol Kyungsoo.

"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Kyungsoo.

"Kurasa seseorang mencoba untuk melarikan diri." Ia lalu menggenggam tangan Kyungsoo. "Ayo kita lihat apa yang sedang terjadi."

-The EXOtic Dancer-

Chanyeol terengah-engah saat ia melihat wajah Baekhyun yang berlumuran sperm-nya. Sebuah senyum kepuasan terlukis di wajahnya. "Fuck, Baek, kau tidak perlu melakukan itu."

Baekhyun menelan dan menyeka sisa sperm Chanyeol yang berceceran dengan punggung tangannya. "Aku merasa seperti telah memberimu reward lebih awal." Ia berdiri tepat ketika Chanyeol merapikan celananya. "Ayo pergi."

Chanyeol menanggukkan kepalanya dengan pandangan kabur, masih mencoba untuk turun dari ketinggian yang didapatnya dari Baekhyun. Ia kesusahan untuk membuka pintunya.

Baekhyun tertawa pada pria yang lebih tinggi darinya. Ia menggenggam tangan besar Chanyeol dengan tangannya sendiri , sedangkan tangannya yang lain membuka pintu kayu berwarna merah. Ia menuntun Chanyeol untuk keluar dari tempat sempit itu, melewati beberapa pintu. Kemudian berbelok, mereka berjalan sedikit lebih jauh hingga mereka sampai di pintu metal berwarna abu-abu. Sebuah tanda tergantung diatasnya dengan warna merah bertuliskan 'EXIT'. "Ini adalah satu-satunya pintu keluar yang tidak terdapat kamera." Baekhyun berkata dengan cemas. "Pintu ini hampir selalu dikunci, tapi kadang-kadang, pemilik membiarkan pintu ini tidak terkunci untuk beberapa alasan."

"Kau siap?" Chanyeol bertanya meyakinkannya.

"Oh fuck yeah!" Baekhyun bernyanyi dengan gembira. Ia mendorong gagang pintu berwarna abu-abu dan berhasil terbuka dengan sebuah bunyi 'klik'.

Tiba-tiba, suara alarm berdering diantara mereka dan lampu berwarna merah menyala.

"Damn, itu keras sekali," Chanyeol menempatkan tangannya untuk menutupi kedua telinganya saat suara keras itu berdengung di telinganya. Ia tiba-tiba berbalik dan melihat dua pria yang lebih pendek darinya, sepertinya ia memiliki tinggi badan yang sama dengan Baekhyun dan mungkin juga seumuran dengannya, berdiri dalam jarak dekat di belakang mereka.

"Ah, ah, ah," sebuah suara berbunyi. "Kupikir itu bukanalah ide bagus, Baekhyun. Menjauh dari pintu."

Mata Baekhyun melebar ketika ia menyadari suara itu adalah suara pemilik klub. Ia membalikkan badannya dengan perlahan untuk menghadap dua orang pria pemilik klub. "Mr. Kim, tolong-"

"Dan kau," ia mendecak beberapa kali menunjukkan sikap tidak sukanya pada Chanyeol. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan dengan penariku?"

To Be Continued

Gimana? Chapter ini masih belum bisa kan jawab pertanyaan di kepala kalian? Saya jamin, chapter depan bakal ngejawab pertanyaan kalian semua. Visit my twitter: holadyho. Kaioppaya, saya udah follow kamu, but you still unfollowed me :(

Oh ya, maaf saya super telat update, soalnya saya super sibuk, begitu pas mau update, tiba-tiba denger berita dari Kris yang you-know-what-i-mean, tiba-tiba saya jadi ngedown, kalian juga pasti, kan? Gimanapun, Kris or WuFan still be my strongest, bravest, and badass leader! Saya nggak bisa ngebayangin gimana perasaan member EXO yang lain, terutama Tao, yang selama ini selalu bergantung sama WuFan, pasti mereka juga shock dan sedih. WuFan bikin keputusan seperti itu pasti punya alasan dan konflik internal yang dia nggak bisa bilang sama member lain dan kita. However, respect every decisions that he made is all we can do, if that's the one that makes him happy, even if it's hurts a lot, then we should let him go :) WuFan wouldn't leave his Galaxy Ocean, or even EXO. He is just leave SM. We A12e One, remember? So, be strong guys, don't let this matter sinking you down :)

Read the original story:

story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction. See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!