Hallo, readers-deul~
Long time no see, long time no see, haha. Maaf ya kalo ada yang nungguin sampe karatan XD saolnya saya udah nggak bisa update kilat lagi, many things to handle. Yang penasaran, cerita aslinya sampe 12 chapter, authornya juga janji bikinin epilog, terus, jangan khawatir disini OT12 kok, nggak ada yang dikurangin, setiap couple ada, OTP ya :) dan maaf buat readers yang rada nggak ngerti sama ceritanya, saya sudah berusaha jiwa dan raga membuat kalian semua mengerti dan paham sama ceritanya, jadi saya minta maaf banget kalo masih ada juga yang nggak ngerti /bow/ Chapter ini saya persembahkan untuk makhluk-makhluk di luar sana yang penasaran soal perasaan Chanyeol ke Baekhyun. Check this out~


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 7: Mine

Warning: Contain typos everywhere and confusing words

"Dan kau," ia mendecak beberapa kali menunjukkan sikap tidak sukanya pada Chanyeol. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan dengan penariku?" Salah satu pemilik klub yang memiliki wajah sedikit bulat daripada pemilik lainnya yang berbadan kurus, menekan tombol pada sebuah remote yang berada di tangannya. Menyebabkan suara dari alarm mati seketika.

"M-Mr. Kim, tolong, A-Ak-Aku hanya-" Baekhyun tergagap, mencoba mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. "Ka-ka-kami tidak mencoba melakukan apapun. Kami hanya, um…"

"Kau mencoba untuk lari dariku." Mr. Kim berkata mengacungkan jarinya ke arah Baekhyun, memberinya tatapan remeh saat ia mengetahui bahwa penarinya sedang berbohong.

"Kau tak punya bukti apapun untuk itu." Chanyeol menyahut. Ia mencoba untuk membuat alasan yang meyakinkan. "Just so you know, kami sedang bercinta disini dan punggungnya membentur pintu." Dari sudut matanya, ia melihat Baekhyun menganggukkan kepalanya, berakting dengan baik tentang kebohongannya.

Mr. Kim mengeluarkan suara tawa yang merdu. "Minseok, berikan padaku 'bukti'nya." Ia mengulurkan tangannya kepada Minseok.

Minseok mengambil sesuatu di dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas putih kecil. "Jangan terlalu keras padanya, Jongdae. Ini adalah pelanggaran pertamanya selama empat tahun."

Bibir Jongdae menggertak mendengar komentar Minseok. "Aku tidak bisa santai menghadapi orang yang tidak mematuhiku."

Sebuah kerumunan secara cepat terbentuk dibelakang sang pemilik klub di dalam tempat sempit itu karena rasa penasaran mereka tentang penyebab suara alarm. Strippers dan para tamu sama-sama ingin melihat adegan yang mulai menjelaskan rasa penasaran mereka. Kris, Tao, Sehun, Luhan, Kyungsoo, dan Jongin mencari tempat yang paling depan, mereka terlihat khawatir saat mereka menatap kedua teman mereka.

"Apakah ini terlihat familiar untuk kalian berdua?" Jongdae mengibaskan sebuah note di tengah kedua jarinya.

Chanyeol dan Baekhyun saling menatap. Sial, pikir Chanyeol. Sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya saat Baekhyun melompat ke pelukanku tadi.

"Salah satu pelanggan setiaku menemukan ini di lantai setelah penampilanmu, Baekhyun. Sangat aneh bahwa kertas ini berada di ruanganku tepat setelah aku mendapatkan laporan dari pelanggan tentang penampilanmu yang tidak memuaskan."

Baekhyun menundukkan kepalanya dalam, seperti seoarang anak yang sedang dimarahi oleh orang tuanya.

Jongdae memulai membuka note itu. "Aku tidak tahu bahwa selama ini kau begitu puitis. Maksudku, benarkah?" Ia mengamati note tersebut dan membacanya dengan nada yang menggelikan. "'Seharusnya aku mengabaikan perasaan yang tumbuh untukmu. Menghapusnya seperti air melunturkan pasir, tapi aku tak bisa. Aku merasakan segalanya ketika menatapmu. Aku telah lama menunggu seseorang sepertimu datang. Apakah aku bermimpi? Apakah kau nyata? Selamatkan aku.'" Ia lalu tertawa sekeras-kerasnya setelah ia selesai membaca. "Ini benar-benar menggelikan, aku hampir saja mual." Ia menyobek surat itu dengan tatapan tidak suka yang terdapat di wajah tirusnya.

Baekhyun menutup matanya saat ia sudah benar-benar malu. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, menahan air mata yang ingin sekali melarikan diri dari matanya. Mengapa?

"Fuck you, man." Chanyeol iritasi. "Kau pikir kau siapa?"

Jongdae menekuk salah satu kakinya, membiarkan berat tubuhnya ditahan oleh satu kaki, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, benar-benar tidak mengiraukan Chanyeol. "Katakan padaku, Minseok," ia menolehkan kepalanya ke arah partner-nya, tapi tatapan matanya terarah pada Baekhyun. "Apa yang harus kulakukan jika salah satu 'Malaikat' ku tidak lagi menghormatiku?"

Baekhyun merasakan keringat dingin mengaliri punggungnya dan tatapannya hanya mengarah ke lantai. Tubuhnya mulai gemetar ketika ia merasakan hangatnya air mata tumpah dari matanya. Seharusnya semuanya tidak berakhir seperti ini!

Minseok tersenyum sambil melihat ke arah partner-nya."Well, Aku percaya jika kau bisa menunjukkan 'Kuasa Tuhan', Jongdae."

Sudut bibir tipis Jongdae membentuk evil smile yang bahkan dapat membuat Chanyeol menjadi ketakutan. "Itu benar. " Ia menatap tangannya sendiri dengan sadis. "Sepertinya aku harus mengajarimu satu pelajaran." Ia mulai berjalan ke arah Baekhyun.

"Mr. Kim, tidak," Luhan berteriak dan hampir melangkah ke depan, tapi Sehun memegang tangannya lalu menahannya. "Jangan sakiti dia!"

Chanyeol menyadari Baekhyun yang gemetar. Ia menatap pada lelaki di sampingnya saat kata-kata Kris tadi menggema di kepalanya. "Aku juga mendengar dari para penjaga jika beberapa dari mereka banyak yang disiksa." Matanya melebar khawatir dan menatap Jongdae. Mengikuti nalurinya, Chanyeol memegang tangan Baekhyun. Ia mendorong pintu metal dibelakang mereka dan berlari keluar di tengah guyuran hujan.

"Sial!" Jongdae berlari mengejar mereka; Minseok berlari beberapa detik setelah Jongdae.

"CHANYEOL/BAEKHYUN!" Enam orang meneriakkan nama mereka bersamaan. Mereka semua berlari mengejar kedua teman mereka.

Hujan telah membuat Chanyeol dan Baekhyun basah kuyup dengan seketika. Menarik Baekhyun yang berada di belakangnya, Chanyeol berlari sambil menyelinap diantara mobil-mobil yang terparkir seperti kerumunan. Ia berlari menuju ke hutan di seberang jalan. Aku tak bisa...Aku tak bisa membiarkannya terluka.Ia berpikir sampil berlari secepat yang ia bisa untuk menyelamatkan Baekhyun. Ia tidak bisa berhenti berlari, ia merasa seperti kakinya bergerak sendiri. Kilat menyambar dan ia menghindari pepohonan yang sepertinya mencoba untuk mencegahnya untuk berlari.

"Chanyeol, pelan-pelan," Baekhyun berteriak diantara suara-suara guntur yang bergemuruh, "Kurasa kita telah membuatnya tersesat."

Chanyeol melihat melewati bahunya dan perlahan menurunkan kecepatannya. Ia berhenti dan melepaskan tangan Baekhyun ketika ia menyadari bahwa tiada orang lain yang mengikuti mereka. Ia mencoba untuk mengambil nafas dan meletakkan tangan di dada saat ia merasakan jantungnya berdetak sangat keras.

Baekhyun membungkukkan badannya, meletakkkan tangan di lututnya dan mencoba mengambil nafas. "K…Ku pikir kau tidak akan….berhenti." Ia terengah-engah.

Chanyeol tertawa saat ia menyeka air hujan yang membasahi wajahnya. "Aku juga tidak berpikir akan melakukannya."

Suara guntur bergemuruh. "…melakukan…untuk?"

"Huh?" Chanyeol menatap pada Baekhyun."Aku tidak mendengarnya karena suara guntur."

Baekhyun mendekatkan dirinya ke hadapan Chanyeol. Eyeliner-nya berantakan karena air hujan dan itu membuatnya terlihat seperti mempunyai dark circles di bawah matanya. Kausnya melekat pada tubuhnya, menjadi transparan karena basah oleh air hujan, memamerkan kulit seputih susu air berjatuhan dari poni cokelat terangnya ke rerumputan di bawah. Pipinya berwarna merah muda. Baekhyun menatap tepat di kedua mata Chanyeol dan bertanya dengan bibir bergetar. "Kenapa kau melakukannya untukku?"

Dibalik tatapan matanya, jantung Chanyeol berdetak kencang. Disaat ia berusaha keras mengambil nafas setelah berlari dengan sangat kencang, tampilan Baekhyun yang basah dan seksi semakin membuat segalanya kacau. Ia menutup bibirnya dan menggaruk leher belakangnya, melihat ke segala arah, apapun, kecuali sang penari. "Aku, uh, Aku tidak ingin kau terluka."

Mata Baekhyun sedikit melebar mendengar komentar Chanyeol, hampir saja tidak ingin percaya pada apa yang baru saja dikatakan Chanyeol. Cahaya kilat menyambar-nyambar diantara pepohonan, sedikit menerangi mereka dari gelapnya malam. Ia menggosok lengannya sendiri, mencoba untuk menghangatkan dirinya dari dinginnya hujan.

Chanyeol merasa seperti ia bisa mendengar detakan jantungnya di tengah suara guntur. "Penolong macam apa aku ini, jika aku membiarkanmu terluka?" Ia menutup matanya sebentar, menenangkan jantungnya yang berdetak kencang, lalu menatap Baekhyun. "Aku tak bisa hanya berdiri dan membiarkan sesuatu seperti itu terjadi. Aku akan terlihat seperti pengecut jika aku melakukannya. Lagipula, Mr. Kim sialan itu tak akan berani menyentuhkan tangannya padamu."

"Tapi kau tak perlu melakukan hal itu." sahut Baekhyun, menyeka eyeliner yang berantakan di bawah matanya saat ia berbicara.

"Apa maksudmu?" Chanyeol memiringkan kepalanya saat ia kebingungan "Kau yang memintaku menyelamatkanmu."

"Aku tahu, hanya saja," Baekhyun mengusap eyeliner yang berceceran dari jarinya, "Aku tidak ingin menjadi beban bagimu."

"Beban?" Chanyeol bertanya.

"Aku tidak bisa membiarkan keinginan egoisku membebanimu. Fakta bahwa kau sudah melakukan hal sebanyak ini padaku pasti membuatmu merasa terbebani. Kita bahkan tidak kenal satu sama lain secara personal." Ia menertawakan hidupnya, mengasihani diri sendiri. "Betapa bodoh diriku untuk memikirkan-"

"Kau ingin tinggal bersamaku?"

Baekhyun berhenti ditengah-tengah kalimat ketika Chanyeol menyelanya. Ia melihat sebuah senyuman yang cerah, dan seringaian bodoh terpampang di wajahnya. "Apa…?"

"Apakah kau ingin tinggal bersamaku?" Chanyeol mengulanginya.

Baekhyun menjadi bingung dan iritasi. "Seriously, apakah kau mengerti apa yang barusan ku katakan?"

"Aku mengerti," Chanyeol meneruskan senyumnya. "Tapi aku baru saja menyadari sesuatu; aku ingin bersama denganmu setelah hal ini."

Wajah Baekhyun berwarna merah dan terlihat kaget. "Ap...?"

"Biar ku jelaskan." Ia memulai, "Awalnya, ketika aku membaca note-mu pagi ini, aku tidak merasa aku punya hak untuk menolak permintaan bantuanmu. Kupikir itu sedikit menganggu, dan sejujurnya, aku tidak benar-benar menginginkan untuk melakukannya, tapi aku bukan tipe seseorang yang akan datang begitu saja jika ada orang lain membutuhkan bantuanku. Aku menghabiskan seharian memikirkan tentangmu." Senyumnya memudar, "Aku tidak bisa menyingkirkanmu dari kepalaku. Aku harus memastikan jika kau benar-benar membutuhkanku ketika aku sampai di klub. Ketika kau meloncat ke pelukanku, aku sadar bahwa kau benar-benar menginginkanku untuk menyelamatkanmu." lalu senyumnya menghilang.

Baekhyun melangkah menuju Chanyeol perlahan.

Matanya menatap Baekhyun dengan teliti saat ia melangkah menuju dirinya. "Ketika kau menampilkan lap dance-mu kepada sampah menjijikkan itu, aku sadar bahwa aku tidak ingin orang lain memilikimu, menyentuhmu. Aku sudah tahu bahwa aku tak akan pernah bisa meninggalkanmu dengan mudah. Aku harus memilikimu, tidak hanya tubuhmu tapi dirimu." Ia mengangkat kedua bahunya. "Kau benar, kita tidak saling kenal satu sama lain, tapi," ketika Baekhyun berdiri di hadapannya, Chanyeol menatap ke bawah. "Aku tahu aku tidak bisa melepaskanmu, Baekhyun."

"Chanyeol…"

Chanyeol tiba-tiba merubah tingkah lakunya. Merasa gugup, ia tertawa kikuk. "Berbicara soal egois. Sepertinya aku adalah satu-satunya yang paling egois disini." Ia meneruskan tawa kikuknya, mencoba untuk memecah suasana tegang yang tanpa sengaja ia ciptakan sendiri. "Hey, ayo pergi dari guyuran hujan ini." Ia menunjuk ke arah yang ia pikir mungkin klub. "Aku yakin jika kita kembali ke klub, teman-temanku-"

Baekhyun mengalungkan kedua lengannya disekitar bahu Chanyeol dan mengunci bibir mereka dalam ciuman yang menggairahkan.

Chanyeol tidak punya waktu untuk bereaksi. Matanya melebar karena ciuman tiba-tiba tetapi menggairahkan dan sangat singkat yang dilakukan Baekhyun padanya.

"Chanyeol, ini semua salahmu." Baekhyun mengistirahatkan wajahnya di bahu Chanyeol.

Hujan perlahan mulai mereda. Kata-kata Baekhyun menggantung berat di jantungnya. Ia melingkarkan lengannya pada tubuh ramping Baekhyun.

"Kau ingat apa yang kau katakan padaku kemarin malam? Kau bilang padaku bahwa aku adalah orang tercantik yang pernah kau lihat."

Chanyeol separuh hati menertawakan dirinya sendiri. "Ya, Aku mengingatnya."

"Apakah kau sungguh-sungguh mengatakannya?"

Tanpa berpikir panjang, Chanyeol menjawab, "Dengan seluruh hatiku."

"Itulah sebabnya ini semua salahmu."

"Huh?" Chanyeol tidak mengerti mengapa Baekhyun mengatakannya.

"Aku benci diriku yang sebenarnya." Baekhyun berkata lirih, "Aku tak pernah menyukai diriku sendiri. Aku selalu ingin bahagia tapi aku tak pernah berpikir aku berhak mendapatkannya. Itulah yang kurasakan, sampai kau datang." Ia merasa tangannya mulai gemetar karena gugup. "Kau membuatku merasa..."

"Spesial...?" dalam kegelapan itu, Chanyeol mencoba menebak kelanjutan ucapan Baekhyun.

"Karena itulah ini semua salahmu!" Ia berteriak.

Chanyeol menyadari handphone-nya bergetar di saku celananya. Berasumsi bahwa itu adalah Kris yang menncoba menghubunginya, ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan membiarkannya terus bergetar. Ia tersenyum dan memeluk lelaki itu lebih erat dalam pelukannya. "Jadi kau hanya merasa bermasalah karena aku telah membuat dirimu merasa lebih baik?"

Baekhyun merasa kedua pipinya memanas karena itu ia mengeratkan cengkeramannya pada hoodie Chanyeol yang sudah basah kuyup. "Kadang aku bisa saja lancang. Aku benci bangun pagi tapi aku mengharapkan sarapan sudah tersedia untukku ketika aku bangun. Aku suka bergulung di bawah selimut dan aku benci mengerjakan pekerjaan rumah, tapi aku suka mendekorasi. Aku menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk apapun yang akan kulakukan dan aku sangat tidak rapi dan tidak teratur. Oh dan aku punya obsesi aneh dengan seks." Ia menatap lelaki yang lebih tinggi darinya yang meilhat ke arahnya kebingungan. "Aku adalah roommate terburuk yang pernah ada."

Chanyeol tertawa pada pernyataan Baekhyun yang terdengar sangat serius. "Aku sudah punya roommate yang punya kebiasaan sama denganmu." Ia tersenyum pada lelaki pendek yang berada di pelukannya. "Apakah itu berarti kau mau tinggal bersamaku?"

"Selama kau tidak merasakannya sebagai sebuah beban," Baekhyun mengubah pandangannya menjadi menatap tanah.

Chanyeol membekap wajah ramping Baekhyun kedua tangan besarnya dan mengarahkan wajahnya ke atas. "Aku akan bertanggung jawab atas semua bebanmu." Menghapus jarak diantara bibir mereka, ia lalu berbisik, "Karena sekarang kau milikku, Baekhyun."

To Be Continued

Gimana readers-deul chapter ini? Apakah masih ada yang nggak dimengerti? Kalo masih nggak ngerti tanya-tanya juga boleh kok. Buat readers yang minta Kaisoo atau HunHan atau Kristao dibanyakin, atau NCnya dipanjangin, atau format FF ini dipisah antara Hunhan, Kaisoo, Kristao, ataupun Chanbaek, maaf, saya nggak bisa. Ini bukan FF saya, so that saya nggak bisa ngerubah seenak jidat. Saya ngikutin format FF aslinya, nggak ditambah ataupun dikurangin tiap chapternya. Oh ya, buat readers yang /mungkin/ udah follow twitter saya holadyho silahkan mention disana kalau mau di follback, and lets have a chit-chat there /jangan lupa intro dong/ haha XD

Thank you guys~

Read the original story:

story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.

See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!

Byee~~