Hallo, readers-deul~
Udah berapa bulan ya saya ngga update? Woow, udah lama banget pastinya, dan saya nggak yakin kalau kalian semua masih nungguin translate-an fiksi ini. Sebenernya udah mau update dari dulu, eh sibuk sama that-university-things, udah gitu mau update udah keburu bulan ramadhan, kan nggak nge-feel kalo baca pas bulan ramadhan XD. Yaudah, akhirnya baru bisa update sekarang. I really did sorry for the very-very late update. I'll try my best in the very next chapter. So, check it out!


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 8: Phone Calls

Warning: No re-read! Contain typos everywhere and confusing words

BrruuuuuuBrruuuuuuu

Kris duduk di kursi pengemudi dalam mobil Mercedes hitam miliknya di tempat parkir mobil, benar-benar merasa bingung dan kecewa.

BrruuuuuuBrruuuuuuu….'Tolong tinggalkan pesan.' Beep. " Ayowaddup? Ini Chanyeol,maaf aku-"

"Idiot," Kris menekan tombol 'END' berwarna merah di handphone-nya dengan iritasi. Ia menekan ulang tombol berwarna hijau bertuliskan 'Redial' dan menempatkan handphone itu di telinganya lagi.

BrruuuuuuBrruuuuuuu

"Dia tidak menjawabnya, iya kan?" Tao mengucapkannya dengan nada seperti sebuah fakta bukan seperti sedang bertanya. Duduk di sebelah Kris di kursi penumpang, ia mengamati hujan yang turun diluar mobil dengan santai sambil mencari-cari tanda dari Baekhyun atau Chanyeol yang mungkin saja secara ajaib muncul dari dalam hutan.

BrruuuuuuBrruuuuuuu….'Tolong tinggalkan pesan.' Beep. "Ayo waddup? Ini Chanyeol,maaf aku tidak bisa menjawab panggilan. Tinggalkan pesan."

Beep.

"ANGKAT TELEPONMU BODOH, DASAR BAJINGAN!" Kris berteriak pada orang yang dihubunginya dan menekan tombol berwarna merah bertuliskan 'END'. Ia lalu membanting handphone-nya ke kursi belakang dan menggumamkan beberapa kata-kata kasar ketika ternyata handphone-nya jatuh dan membentur ke dasar mobil. "God, bagaimana bisa dia begitu bodoh?! Memangnya orang macam apa yang mau saja pergi dan berlari-lari kehujanan di tengah tempat asing dengan pelacur yang baru saja kau temui, dan bahkan tidak repot-repot untuk mengangkat telepon bodohmu ketika semua orang kebingungan mencarimu?"

"Well, Kupikir itu sangat manis."

Kris menaikkan alis tebalnya dengan ekspresi penuh tanya sambil menatap Tao. "Kau pikir itu manis?"

"Yeah," tatapan Tao bertemu dengan Kris. "Fakta bahwa ia bisa melakukan sesuatu sampai sejauh itu untuk melindungi Baekhyun dari Mr. Kim telah membuktikan bahwa ia benar-benar peduli padanya." Ia menatap lagi ke arah jendela. "Aku hanya berharap bahwa yang lain dapat menemukan mereka, atau para pemilik klub tidak menemukan mereka."

Kris tidak mendengar apapun yang Tao ucapkan setelah ia menolehkan kepalanya kea rah jendela. Ketika Tao menolehkan kepalanya ke arah jendela, ia tanpa sengaja mengekspos hickey yang Kris ciptakan beberapa saat lalu di lehernya saat mereka berada di ruang penyimpanan minuman keras. Hickey lain yang Kris ciptakan kemarin malam bahkan masih terlihat jelas. Kris menatap hickeys karyanya lalu ter tersenyum puas. Ia mendekat ke arah Tao, menggapai tangan Tao yang mengenakan cincin berwarna hitam di jari tengahnya dan sebuah gelang hitam di pergelangan tangannya, mencoba untuk membuat Tao menoleh ke arahnya. "Tao,"

Tao tersentak kaget saat ia merasakan tangan Kris di wajahnya. Efek dari tangan Kris yang berada di pipinya membuatnya mengalihkan segala perhatiannya kea rah pria berambut blonde, dan secara tiba-tiba, bibirnya dikonsumsi oleh Kris dalam sebuah ciuman.

"Haruskah kita meneruskan apa yang telah tertunda?" ucap Kris menggoda diantara ciumannya.

Tao emeringkan kepalanya ke arah lain, mencoba untuk menghentikan si pria blonde mencuri ciuman dari bibirnya yang sudah memerah. "Seriously, sekarang kau memikirkan soal seks disaat temanmu mungkin sedang dalam keadaan bahaya?"

"Well, dia tidak mengangkat handphonenya dan aku butuh mengerjakan sesuatu untuk membunuh waktu," Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Tao dan berbisik, "Jadi aku berpikir untuk mengerjakanmu."

Tao terkekeh dan memutar matanya pada si horny blonde. "Kau terlalu susah untuk ditangani."

"Itulah yang mereka katakan."

"Knock it off." Tao pura-pura memukul lengan Kris dan tertawa pada sex joke mereka yang aneh.

Handphone Kris bordering dan bergetar di bawah kursi Tao. Ia menghela nafas gusar, lalu membungkuk dan mengambil benda berwarna putih itu. Sebuah foto Sehun yang sedang ber-aegyo—yang Kris ambil secara diam-diam ketika sang maknae sedang mabuk di sebuah pesta dan tidak memperhatikannya—tergambar di layar handphonenya. Ia menekan tombol berwarna hijau dengan tulisan 'Answer' dan tanda bergambar 'Speaker' jadi Tao dapat mendengarnya jugal. "Yo, Sehun, apa kau-"

"Kris, kita tak bisa menemukan mereka." Suara Sehun di telephone terdengar kelelahan dan menegang.

-The EXOtic Dancer-

Chanyeol membekap wajah kecil Baekhyun dengan tangannya yang besar dan mengangkat wajahnya keatas. "Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap segala bebanmu," mempersempit jarak diantara bibir mereka, ia lalu berbisik, "Karena sekarang kau milikku, Baekhyun." Ia menempatkan bibirnya di bibir Baekhyun. Ciumannya terasa lembut tapi kuat, nyaman tapi penuh paksaan, penuh cinta tapi juga penuh nafsu; segala emosi itu bercampur menjadi satu dalam sebuah ciuman. Chanyeol masuk lebih dalam ke mulut sang penari, lidahnya bermain dengan lidah Baekhyun. Tangan yang tadinya berada di pipi Baekhyun, berpindah ke pinggang kecil Baekhyun. Bagi Chanyeol, semua itu terasa sangat natural untuk memiliki Baekhyun dalam pelukannya.

Baekhyun meleleh oleh ciuman Chanyeol yang berapi-api. Perasaan heboh karena banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya; sebuah senssi yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia bisa merasakan kehangatan dari nafas Chanyeol berhembus di bibir dinginnya. Jantungnya berdetak tak karuan; menggema hingga ke telinganya, dan tangan dingin Chanyeol yang menyentuh kulitnya membuatnya tersenyum dalam ciumannya.

Merasakan bibir Baekhyun tersenyum dalam bibirnya, Chanyeol tak bisa untuk menahan dirinya tersenyum juga.

Saat ia melepaskan tautannya, Baekhyun mengeratkan lengannya disekitar leher Chanyeol dan berbisik dengan menggoda di telinganya, "Ayo pergi ke tempatmu. Aku ingin mematahkan ranjang tempatku beristirahat nanti."

Jantung Chanyeol berdegup dan bisikan Baekhyun membuat sesuatu diantara selangkangannya bernyawa karena pemikiran akan tidur bersama Baekhyun lagi. Kejadian pada malam sebelumnya berputar kembali diingatannya dan membuat gairahnya bangkit. Mencocokkan dengan ucapan kasar Baekhyun sebelumnya, suara baritonenya berbicara, "Aku berharap kau berada di ranjangku sekarang."

Baekhyun menyentuhkan jari-jarinya ke leher belakang Chanyeol dengan pelan dan perlahan menyentuh rambut basah di belakang kepalanya. Ia kegelian, sentuhan menggoda membuatnya merinding hingga ke tulang ekor. "Kalau begitu, tak perlu membuang-buang waktu lagi, hot stuff." Ia menjatuhkan tangannya melalui lengan semampai Chanyyeol dan menjalin jemari mereka. Baekhyun mulai berjalan melewati arah yang sama seperti ketika mereka masuk ke dalam hutan, menggandeng Chanyeol di belakangnya. "I knew you wanted to fuck me again."

"Kali ini aku tak perlu membayar, benar 'kan?" Chanyeol bercanda.

Baekhyun tertawa dengan cara yang Chanyeol pikir hanya bisa di deskripsikan sebagai kekanakan. Ia melihat Chanyeol melewati baunya; senyumannya bersinar cerah diantara kegelapan, hujan dimalam hari membuat bola matanya berbentuk seperti bulan sabit. "Tidak, kecuali kau sendiri yang menginginkannya."

Bersusah payah melewati semak-semak yang tinggi dan tebal dan dedaunan di tengah hutan, Chanyeol ingat bahwa handphone-nya dalam keadaan mati sejak awal. Tangannya meraih ke saku belakang jeans-nya, berharap jika handphone-nya tidak rusak terkena air hujan, ia lalu mengeluarkan smartphone-nya. Menggeser layar smartphone-nya, tanda pemberitahuannya menunjukkkan bahwa terdapat 21 Missed Calls. Chanyeol menjadi merasa gelisah ketika mendapati 12 missed calls berasal dari Kris, 6 missed calls berasal dari Sehun, dan 3 lainnya berasal dari juga menyadari bahwa terdapat sebuah voicemail dari Kris. Ia pikir mendengarkan voicemail dari Kris adalah sebuah ide buruk, akhirnya ia mencari nomer Kris di kontaknya dan mengetik namanya disana.

-The EXOtic Dancer-

"Apa maksudmu kau tidak bisa menemukan mereka?" Kris berteriak frustasi di telepon yang menyambung dengan Sehun, suaranya menggema dengan keras di dalam mobilnya yang tidak terlalu luas.

"Jangan marah padaku." SuaraSehun berteriak kembali kearah hyung-nya. "Luhan, Kyungsoo, penari laki-laki yang lain…Jongin, entahlah, dan Aku telah mencari-cari keberadaan mereka dan kami tidak bisa menemukannya."

"God dammit," Kris mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas jengkel.

"Apa kau sudah mencoba menghubunginya?" Tao bertanya.

"Sudah kulakukan, sekitar enam kali, tapi ia tidak pernah sekalipun mengangkatnya."

Tao menatap ke arah Kris. "Apakah kau pikir Mr. Kim sudah menangkap mereka?"

Terdengar suara berisik di telepon dan kemudian suara ceria Luhan muncul dari benda itu. "Taozi, kami tidak melihat ada tanda-tanda dari Mr. Kim. Aku bersumpah mereka pasti kembali ke dalam klub menunggu Baekhyun dan Chanyeol untuk muncul atau menunjukkan tandanya."

Bersamaan dengan Luhan mengucapkan kalimat terakhirnya, Tao mengetahui kedua manajer pemilik klub kembali kedalam klubnya. Minseok mencoba untuk menenangkan Jongdae yang sangat marah dan membiarkan pintu masuk klub terbuka lebar. "Yeah, mereka baru saja kembali ke dalam klub, tak ada tanda dari Baek bersama mereka."

"Baguslah." Luhan menghela nafas lega. "Aku akan menghubungi Jongin dan yang lainnya dan kami akan kembali ke klub dan mencari mereka di sana."

"Alright, see you soon, Lu." Tao tersenyum dan melambai pada telepon, sekalipun Luhan tak bisa melihatnya.

Kris menaikkan alisnya, tanda bertanya-tanya pada aksi Tao barusan saat memutus sambungan teleponnya.

"Apa? Aku menyukai Luhan." Tao menjawab dengan tak peduli.

Kris memutar bola matanya dan menekan tombol 'END' untuk menghentikan suara sambungan yang terputus. Ia baru saja akan meletakkan telopnnya ketika rigtone panggilan masuk kembali berbunyi. Kali ini, sebuah foto dari Chanyeol yang terenyum lebar mengerikan tampak di layar telepon. Dengan cepat menekan tombol berwarna hijau, Kris mengarahkan telepon ke telinganya. "Darimana saja kau, bajingan busuk?!"

"Darimana saja kau, bajingan busuk?!" Suara Kris terdengar sangat keras, dan penuh amarah mebuat telinga Chanyeol tersakiti.

"Dengar, sebelum kau bertambah marah padaku, Aku minta maaf tak mengangkat teleponmu. Itu, uh-" Chanyeol mencoba mengarang sebuah alasan yang masuk akal. "Kau tahu kan jika handphone-ku selalu dalam keadaan silent dan selagi berlari aku tidak merasakannya."

"Bullshit." Kris menjawab kasar atas alasannya yang menyedihkan. "Kau mungkin saja sedang sibuk meniduri pelacur itu di dalam hutan."

"Diamlah. Jangan menyebutnya seperti itu." Ia menggeram pada Kris.

Chanyeol bisa menebak Kris sedang menyalakan sebuah rokok di seberang jeda sebentar dalam percakapan mereka saat ia mengirup tembakau tersebut. Suara Tao terdengar takut-takut "Tao ingin tahu jika kau masih bersama Baekhyun."

"Ia bersamaku, dan, yeah, tentang itu…" Chanyeol terdiam dan hanya mampu menatap sang penari yang menuntunnya keluar dari dalam hutan. "Kris, apakah kau setuju jika ia tinggal bersama kita?"

Diam.

"Agaknya aku berjanji padanya jika dia bisa tinggal bersama kita di apartemen."

"Are you fucking serious?"

Sebuah keadaan yang dipenuhi rasa bersalah memenuhi CHanyeol, takut menyebabkan sahabatnya menjadi marah. "Maafkan aku, itu terjadi begitu saja."

Baekhyun tertawa sendiri dalam diam.

Terdapat jeda beberapa menit di percakapan mereka hingga Kris akhirnya menyerah. "Fine, tapi jika aku mendengar atau melihat kalian berdua bercinta dimanapun di dalam apartemen, kalian berdua berakhir di jalanan. Sekarang, cepat kembali ke klub atau aku akan meninggalkan kalian berdua."

Sebelum Chanyeol bisa mengatakan sesuatu, sambungan telepon mereka terputus. Klub menjadi semakin terlihat diantara pepohonan.

"Teman sekamarmu terdengar seperti bajingan." Baekhyun mengungkapakan secara langsung.

"Ada saatnya ia begitu, tapi kupikir kalian berdua akan cocok." Chanyeol tersenyum aneh.

Baekhyun berhenti sejenak sebelum keluar dari dalam hutan. Ia bisa melihat dengan jelas bangunan klub dan bisa merasakan getaran dari musik di dalam klub hingga ke ujung jari-jarinya. Tempat parkir hampir sepi karena klub juga sudah mendekati waktu tutupnya.

Chanyeol berdiri di belakang lelaki yang lebih pendek darinya. Melepaskan gandengan dari tangan Baekhyun, ia lalu memeluk Baekhyun dari belakang dan meletakkan dagunya di atas kepala Baekhyun. "Ada yang salah, Baek?"

"Apa kau yakin akan melakukan ini untukku?" Ia bertanya sambil menatap malas pada tempat parkir dan pemandangan dari bangunan klub. "Belum terlambat untuk mengatakan tidak. Aku akan mengerti jika kau tidak benar-benar ingin melakukannya."

"Tentu saja aku mau melakukannya, karena aku mencintai m-" Chanyeol tersentak oleh nafasnya sendiri di tengah-tengah kalimat.

Baekhyun dengan cepat berbalik mengahadap Chanyeol dan menatapnya dengan tatapan terkejut. "A-apa?"

To Be Continued

Gimana readers-deul chapter ini? Apakah masih ada yang nggak dimengerti? Kalo masih nggak ngerti tanya-tanya juga boleh kok. Oh ya, buat readers yang /mungkin/ udah follow twitter saya holadyho silahkan mention disana kalau mau di follback, and lets have a chit-chat there /jangan lupa intro dong/ haha XD. Ada yg main IG nggak? Saya baru bikin lho holadyho juga. Haha XD

Thank you guys~

Read the original story:

story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.

See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!

Byee~~