Yehet! Ngaku deh seneng saya update lagi hehe. Sebenernya udah saya selesaikan bareng dengan chapter 9 kemarin, tapi yah saya males banget double update. Maksudnya biar bikin penasaran gitu hehe. The longest chapter ever! Yasudah, happy read~


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 10: Promises

Warning: Contain typos and harsh word, mature content!

Kris menutup matanya dan merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur menimbulkan suara debuman yang cukup keras. Kepalanya sakit luar biasa dan pandangannya sudah mulai kabur. Ya, ia seharusnya tidak menyetir mobil dengan Chanyeol, Baekhyun, dan Tao sebagai penumpang dan mengajak mereka ke apartemennya dalam keadaan mabuk, tapi siapa peduli, ia lebih baik menahannya daripada orang lain yang mengemudikan Mercedes-nya. Merasa bagian sebelah ranjangnya bergerak, dan sebuah sentuhan hangat dari seseorang disekitar pahanya, Kris menatap ke wajah seseorang itu yang berada diatasnya.

"Kau baik-baik saja?" Tao bertanya penuh kekhawatiran tapi menutupinya dengan senyuman manis di wajahnya.

"Kau meracik minuman yang terlalu kuat." Ia mengatakannya sambil membalikkan tubuhnya. Kemudian merangkulkan lengannya ke pinggang Tao, dan menariknya berbaring keatas ranjang, lalu menutup matanya lagi.

Tao tertawa pelan saat tubuhnya jatuh bersentuhan dengan ranjang king size yang nyaman. "Jika begitu, bukankah aku melakukan tugasku dengan baik?"

"Sepertinya," Kris mengendikkan bahunya merespon pertanyaan Tao. Tiba-tiba kesunyian yang menenangkan mengelilingi mereka seiring dengan terhentinya percakapan. Ruangan itu sangat gelap, kecuali secuil cahaya yang terlihat di jendela saat matahari mulai terbit sebagai tanda hari baru sudah dimulai.

Tao menatap pada langit-langit yang berpetak-petak sambil mendengarkan nafas Kris yang teratur. Beberapa pertanyaan berputar-putar di pikirannya yang sangat ingin ia tanyakan kepada Kris. Seperti, apakah mereka exclusive[1] sekarang? Atau ia hanya sebagai pelarian ketika Kris butuh partner seks? Dimana mereka akan meneruskan aktivitas mereka yang tertunda di ruang penyimpanan sebelum alarm berbunyi? Apakah status mereka? Friends with benefits?[2]Apakah mereka bisa disebut teman? Kekasih mungkin? Sadar akan masa lalu Kris bersama banyak pria dan wanita lainnya, apakah ia hanya seseorang lainnya yang akan dibuang juga oleh Kris? Hanya singgah sementara hingga ia menemukan seseorang lain? Jika Baekhyun sudah mulai tinggal disini; bagaimana dengan dirinya? Akankah Kris mau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan Chanyeol terhadap Baekhyun? Apakah Kris memang memiliki perasaan yang konkrit terhadapnya? Apakah ia berarti segalanya untuk Kris?

Setelah beberapa menit sejak salah satu dari mereka mengucapkan kata-kata, jadi Tao berasumsi bahwa Kris sudah tertidur. Hanya meyakinkan dirinya saja, Tao berbisik, "Hey,"

"Hmm?" ia hanya menggumam pelan untuk merespon.

Merasa bahwa itu adalah saat yang tepat baginya untuk menanyakan salah satu dari banyak pertanyaan yang berkelebat di pikirannya, ia memiringkan badannya untuk menatap pria berambut blonde tersebut. "Bagaimana perasaanmu terhadapku?"

Kris membuka matanya terkejut atas apa yang baru saja ia dengar. "Apa?"

"Bagaimana perasaanmu terhadapku?" ia mengulangi pertanyaannya.

Kris mengerutkan alisnya tanda kebingungan dalam kegelapan ruangannya. "Apa maksudmu?"

"Entahlah…" Tao menjeda sebelum kemudian ia menemukan kalimat yang ingin ia ucapkan. "Aku rasa dengan banyaknya kejadian malam ini, aku…aku hanya ingin tahu apakah kau akan melakukan sesuatu seperti itu juga padaku?"

"Maksudmu kabur bersamamu ditengah-tengah hutan demi menyelamatkanmu dari bos-mu yang mengerikan tengah malam dan kehujanan?"

"Y-ya," ia sedikit meninggikan suaranya berharap adanya secercah harapan.

"Tidak," ia mati kutu.

Tao merasa kata itu menusuk pada jantungnya dan sakit yang luar biasa. Jadi benar ia tidak peduli padaku?

Kris merubah posisinya. Lengannya memeluk Tao yang berada dibawahnya dan menatapnya. "Karena aku tahu kau cukup pintar untuk tidak terjebak dalam situasi seperti itu."

"T-tapi, seandainya…maukah kau?"

Kris menyipitkan matanya, lelah akan pertanyaan yang berputar-putar dan berbelit-belit. "Apa sih sebenarnya maksudmu?"

"Aku…" pipinya memancarkan rona merah muda ditengah kegelapan. Tao dapat merasakan badannya mulai bergetar karena gugup. Mengapa tiba-tiba aku menjadi gugup? Batinnya. Apakah aku takut atas apa yang akan dia ucapkan? Ini mungkin adalah satu-satunya kesempatan yang bisa kugunakan untuk bertanya padanya"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku."

Terdapat jeda yang sedikit terasa canggung sebelum Kris menghela nafas dan menundukkan kepalanya perlahan. "Kukira kau lebih peka daripada ini."

"Huh?"

"Tao," Kris mengucapkan namanya penuh nafsu dan mulai menghapus jarak antara bibir mereka. "Kau tidak tahu apa yang mampu kau lakukan terhadapku."Ia mempersatukan kedua bibir mereka.

Tao menggerakkan bibirnya dibawah bibir Kris. Jarinya tanpa sadar mencengkeram rambut keemasan dan menekan bibir mereka lebih dalam lagi, jika itu mungkin. Ciuman panas itu membuat Tao melewati batasnya dan ia menyadari jika ia menginginkannya lebih. Ia membuka belahan bibirnya dan membiarkan lidah Kris menjelajahi mulutnya; merasakan sedikit sisa alkohol dan nafasnya yang hangat.

Kris adalah orang pertama yang melepas sambungan mereka, padangannya sedikit kabur dan nafasnya tidak teratur. "Aku sudah mengejarmu selama sebulan. Dan setelah semua itu, apakah kau masih berpikir bahwa aku akan melepaskanmu begitu saja setelah aku akhirnya mendapatkanmu?"

"Well," ucap Tao enteng. "Sejujurnya…yeah I did."

Ia membekap kedua pipi Tao dengan telapak tangannya, lalu berbicara dengan tulus, "Aku bukan orang yang bisa bertindak romantis. Aku tidak akan pergi membelikanmu bunga dan benda-benda lainnya tanpa alasan yang jelas, atau jalan-jalan kemanapun kau mau; jadi jika kau mencari seorang pria romantis , aku mengusulkanmu untuk pergi ke kamar Chanyeol dan mengetuk pintunya. Tapi, aku bisa janjikan padamu aku bisa membawamu kedalam perjalanan yang lebih menyenangkan."

Tao terkekeh dan menempatkan tangannya perlahan pada tangan Kris dipipinya. "Kau janji?"

"Berbohong sungguh bukan seleraku."

Tao menyeringai, mengalungkan lengannya di leher Kris, dan memberinya ciuman singkat di bibir. "Kupikir apalagi yang bisa kulakukan selain menuruti penawaranmu."

"Lagipula aku tidak berencana memberimu pilihan." Kris melarikan tangannya ke rambut hitam legam Tao, sebelum akhirnya bersandar. "Aku tak akan melepaskanmu sekalipun kau menolak penawaranku." Ia mencuri satu ciuman dari Tao, penuh nafsu.

Dari sisi lain disebelah ruangannya, Baekhyun melepaskan desahan penuh kenikmatan yang berhasil mengalihkan perhatian mereka.

Kris terlihat tidak senang dan merasa jijik pada dinding yang membatasi mereka tempat munculnya desahan itu ketika Tao meletakkan tangan diatas mulutnya untuk mencegah keluarnya tawa yang menggelegar. "You've gotta be kidding me."

"Apakah kau berpikir Baekhyun akan diam saja?" Tao mengatakannya sambil mencoba mengontrol tawanya. "Maksudku, seriously, ia adalah lelaki yang paling mesum yang pernah kutemui. Ia hidup untuk seks."

"Jika sekali saja aku terganggu hari ini…" ia mengalihkan tatapannya kepada Tao dibawahnya. Dengan berbagai pikiran di dalam kepalanya, Kris menunjukkan sedikit senyuman di wajahnya. "Ayo kita mulai perangnya."

"Ap-" Tapi sebelum Tao bisa mengatakan apapun, bibirnya kembali terjebak dalam ciuman penuh nafsu. Ia merasa tangan besar Kris mengelus pahanya dan melebarkan kedua kakinya, jarinya bergerak menggoda disekitar pinggangnya dan membuka kancing kemejanya. Tao mencengkeram bagian belakang kaus Kris saat ciumannya menjadi semakin dalam.

Kris memutus ciuman mereka hanya untuk menciumi kembali leher Tao yang sudah penuh dengan hickeys. Tangannya dengan mudah membuka kancing celana Tao dan ketika sudah terbuka, ia memasukkan tangannya kedalam. Ia menggenggam penis yang sudah menegang dengan tangannya dan berbisik seksi di telinganya, "Akan kubuat kau mendesah lebih dari yang Baekhyun bisa."

Tao menguburkan wajahnya di bahu Kris, mengeratkan cengkeramannya pada kaus Kris bersamaan dengan semakin cepatnya gesekan Kris dengan penisnya. "Kris…hah…" ia mendesah, membiarkan pikirannya mati rasa dipenuhi oleh kenikmatan.

[1]exclusive dalam kasus ini berarti hubungan dengan status yang pasti atau berlabel.

[2]friends with benefits berarti hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain dalam hal seks tanpa terlibat status apapun.

-The EXOtic Dancer-

"Tubuhku menjadi panas ketika aku tahu matamu menatapku. Aku tak lagi merasakan kesenangan seperti dulu karena aku hanya merasa senang ketika aku bersamamu."

Sekalipun tanpa adanya kejadian malam ini, Sehun sudah memutar kata-kata itu berkali-kali di kepalnya seperti kaset yang rusak.

"Aku tidak yakin bagaimana cara menjelaskan ini, tapi," Ia menatap Sehun dengan mata doe-nya, poninya terlihat cukup berantakan. "Kupikir mungkin aku memiliki perasaan padamu."

Sadar bahwa Chanyeol dan Baekhyun telah aman bersama Tao dan Kris, Luhan meminta Sehun jika ia ingin menghabiskan semalaman di apartemennya yang terdapat dipinggir jalan yang ia sewa bersama dengan seorang teman dari luar negeri.

Itu adalah permintaan yang menggelikan. Tentu saja Sehun mau. Ia ingin sekali mengetahui apapun tentang sang penari sejak pertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu di klub. Jadi, disinilah dia; berjalan berdampingan dan bergandengan tangan dengan penari berwajah malaikat yang seksi dan basah disekujur tubuhnya pada pukul lima pagi. Mungkin kata excited bisa jadi alasan. Penampilan Luhan setelah hujan-hujanan sudah lebih dari cukup membuat Sehun gila termakan nafsu.

Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di apartemen. Menaiki beberapa anak tangga, mereka berhenti tepat didepan pintu bernomor 402. Sehun dengan mudah mengenali bau marijuana yang datang dari balik pintu. .

Luhan memasukkan kunci berwarna emas kedalam lubang kunci dan membuka pintu kayunya. Apartemennya sangat gelap segelap malam, kecuali secuil cahaya yang bersinar di dalam ruangan paling ujung apartemennya. "Lewat sini," Luhan tersenyum dan membimbing Sehun masuk ke ruang tamu. Ia lalu mengetuk pintu agar kehadirannya diketahui, Luhan memanggil seorang pria yang berada didalam ruangan tersebut, "Yixing?"

"Yeah…?" Sebuah suara akhirnya terdengar juga.

Luhan membuka pintunya lebih lebar, terlihat tak nyaman dengan bau yang terlalu kuat, "Yixing, Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang." Lanjutnya dengan senang dan menarik lengan Sehun dan menggeretnya ke ruangan itu.

Yixing menolehkan kepalanya dari TV dan perlahan duduk diatas ranjangnya, sebungkus chips jatuh ke lantai. Ia tak mengenakan bajunya dan rambutnya benar-benar berantakan. Seorang pria terbaring disebelahnya, tubuhnya tengkurap diatas kasur dan wajahnya terkubur dalam bantal. "Siapa itu?" Yixing bertanya sambil menunjuk kepada pria yang lebih tinggi yang sudah Luhan katakan sebelumnya.

"Ini Sehun!" Luhan tersenyum. "Dia adalah orang yang sudah pernah kuceritakan padamu."

Pandangan mata Yixing menunjukkan tanda ia mengingat nama itu. "Itu Sehun?" ia menatap pada pria yang lebih tinggi dari atas ke bawah. "Ia memang benar-benar bukan tipe pria yang biasanya kau bawa pulang."

Sehun berdiri dengan canggung, tak yakin apa yang harus ia lakukan.

Luhan menganggukkan kepalanya penuh kebahagiaan. "Ya, dia…berbeda." Luhan mengeratkan genggamannya pada lengan Sehun, dan Sehun memperhatikannya dengan seksama. "Aku punya berton-ton hal yang harus kuceritakan padamu, tapi aku hanya ingin memperkenalkannya padamu dulu sebelum kau berpikir aku membawa sembarangan pria pulang."

Yixing tersenyum, memamerkan lesung pipi yang bahkan Sehun pikir sangat manis. "Senang rasanya bisa bertemu denganmu, Sehun. Aku Yixing, dan bajingan pemalas ini bernama Joonmyun." Ia menyenggol seonggok tubuh disebelahnya dengan sikunya saat mengucapkan namanya.

"Yah, Xing…" pria itu menggumam dan bergelung diatas ranjang, menolak untuk membuka matanya dengan keadaan ruangan yang sangat terang. "Tidak sekarang, Aku terlalu lelah untuk seks…"

Luhan terkikik dengan lucu menatap mereka dan Yixing hanya memutar bola matanya.

Sehun menganggukkan kepalanya. "Senang bertemu denganmu juga,"

"Kay, well, kita akhiri sekarang, kami pergi ke ranjang." Luhan mengedip nakal pada roommate-nya. "Aku akan berusaha untuk tidak membangunkanmu."

Yixing tertawa pelan, mengerti akan keinginan Luhan. "Jangan khawatir soal itu." Ia mengambil sebuah botol silinder berwarna-warni dan melambaikannya diantara kedua jarinya. "Aku punya sedikit sisa dan aku yakin kau pasti membutuhkannya."

Mereka berdua saling mengucapkan selamat malam lalu Luhan membawa Sehun menuju ruangannya disebelah ruang Yixing. Ia lalu menutup pintu kamarnya perlahan, Luhan menyandarkan punggungya disana. Ia menatap dengan puas Sehun yang berjalan menuju ranjangnya dan merasakan kain satin yang menutupi ranjangnya. Ketika Sehun menatapnya, ia memperlihatkannya sebuah senyuman kecil. "Jadi, soal yang tadi, apakah kau benar-benar serius dengan ucapanmu? Soal menyelamatkana aku, maksudku. Bahkan setelah kau melihat kejadian Baekhyun dan Mr. Kim?"

Sehun benar-benar mati kutu. Ia belum melupakan apa yang ia katakan, tapi gerak-gerik tubuh Luhan membuat ia mempertanyakan keinginannya. Ia dengan ragu duduk diatas ranjang. "Jika itu memang yang kau inginkan."

Luhan berjalan ke arah Sehun. "Jika itu memang keinginanku," Tangannya berlari-lari di dadanya menggoda, hingga ia meraih ujung kausnya. Ia menlepaskannya melewati kepalanya dan melemparkan ke Sehun. "Kalau begitu aku ingin kau tidak pernah pergi dari sisiku."

Menangkap kaus yang berada di pangkuannya, Sehun lalu tersenyum. Ia membuang kaus Luhan dilantai, berdiri dari duduknya, dan merangkulkan lengannya di pinggang Luhan. "Seperti ini?"

"Benar seperti itu." Luhan hampir tak bernafas. Ia menaikkan kaus Sehun melewati kepalanya dan membuangnya entah dimana. Ia melingkarkan lengannya di sekitar leher Sehun dan perlahan menempelkan bibirnya dengan bibir Sehun. Beberapa ciuman lembut yang kemudian berubah menjadi ciuman penuh gairah.

Sehun memisahkan tautan bibir mereka. "Apakah ada lagi yang kau inginkan?"

"Bertanggung jawab atas perasaan yang kau berikan padaku." Ia memaksa. "Berjanjilah padaku kau akan mencintaiku."

"Aku berjanji." Ucap Sehun lembut. Ia mengangkat Luhan dengan lengannya dan menjatuhkannya diatas ranjang. "Aku mencintaimu, Luhan."

Luhan tersipu dan jantungnya berdegup kencang. Sudah terlalu lama sejak ia mendengar tiga kata kecil itu diucapkan untuknya dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Ia lalu menatap tepat pada mata Sehun, dan mengulang tiga kata itu, "A-aku juga mencintaimu Sehun."

Sehun tersenyum. Ia mempertemukan bibir mereka dengan perlahan. Lalu ia mencium leher Luhan, meninggalkan sedikit bekas gigitan di kulitnya. Tangannya mulai melucuti jeans Luhan, menyebabkan pria itu menjadi panik.

"T-tapi aku seharusnya-"

"Tidak malam ini," ucap Sehun sambil menurunkan resleting jeans Luhan. "Malam ini, biarkan aku membuatmu merasa senang."

Pikiran Luhan tiba-tiba menjadi kosong ketika ia merasakan bibir Sehun menyelubungi penisnya. Ia mencengkeram seprei satinnya, punggungnya menekuk, dan mendesah."S-Sehun…mmm..."

-The EXOtic Dancer-

"Jadi…um, ini tempat tinggalku." Ucap Kyungsoo canggung, ia bergeser kesamping membiarkan sang penari masuk sambil menyalakan lampu. "Maaf jika terlihat sedikit kotor. Aku selalu marah pada Sehun untuk bersih-bersih atas perbuatannya sendiri."

Saat Jongin masuk kedalam apartemen dengan dua kamar itu, matanya yang berwarna kecoklatan mengobservasi seluruh daerah. Segalanya benar-benar tanpa cela. Apartemennya hampir saja seperti berkilau karena terlalu bersih. Sepertinya memang tak ada yang salah posisi. Ia bahkan tidak mau untuk menyentuh apapun karena takut akan membuatnya kotor.

"Ah, apa kau lapar?" Kyungsoo bertanya."Aku bisa membuatkanmu sesuatu jika kau mau mandi dulu." Ia dengan cepat menghilang ditengah dapur yang cukup kecil; dan membuka lemari makan, mencari sesuatu untuk dimasak. "Kau mau makan apa?" Tiba-tiba, Kyungsoo merasakan dua lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dari arah belakang.

"Kau."

Jantung Kyungsoo berdegup cepat.

"Kyungsoo," ucapnya pelan diceruk leher Kyungsoo. "Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?"

Mata burung hantunya melebar karena terkejut. "Aku, um, Aku tak bisa mengatakan jika aku percaya." Ia perlahan-lahan meletakkan tangannya pada counter dapur yang bermaterial batu granit itu.Memangnya pertanyaan macam apa itu?

"Well, Aku percaya," Jongin mengeratkan pelukannya disekitar pingganng kecil Kyungsoo. "Karena aku merasakannya bersamamu."

Kyungsoo terdiam sesaat. Ia memutar wajahnya kebelakang untuk melihat wajah sang penari. "Kau apa?"

Sebuah rona merah muda muncul disekitar kulit wajah kecoklatan Jongin. "Ketika aku menatapmu berjalan memasuki klub kemarin malam bersama dengan teman-temanmu, kau terlihat bersinar. Aku sudah melihat banyak orang masuk melalui pintu itu tapi aku tak pernah menemukan seseorang seindah dirimu." Ia meletakkan tangannya menutupi bibir indahnya saat mencoba menutupi rasa malunya. "Aku hanya…Aku tahu aku harus memilikimu."

"Kenapa kau tidak langsung menghampiri dan berbicara padaku?" ia bertanya.

"Kau terlihat ketakutan ketika kau memasuki klub. Dan lagi, kau bersama pria bernama Chanyeol itu. Aku tidak bisa begitu saja menghampirimu dan bercakap-cakap denganmu dalam klub strip." Ia menggaruk belakang kepalanya. "Satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah membuatmu sendirian bersamaku. Kurasa aku harus mendapatkan perhatianmu."

Rahang Kyungsoo menganga. "Kau pasti bercanda." Ia menatap Jongin dengan tatapan iritasi. "Apa kau benar-benar berpikir bahwa menarikku kedalam klub, memborgolku dan…dan…meniduriku akan membuatmu mendapatkan perhatianku?"

Rasa malu Jongin berubah menjadi ketertarikan saat seringaiannya terpampang diwajahnya. "Buktinya kau tidak terlihat keberatan."

Pipinya berubah warna menjadi merah cerah. "I-itu tidak benar!" Kyungsoo tergagap.

"Benarkah? Karena bagiku," sang penari meletakkan tangannya diatas counter dan menatap dalam mata bulat Kyungsoo. "Kau terlihat menyukai menjadi submissive[3]."

"T-tidak. Aku-"

Jongin menindihnya dalam keadaan membungkuk didepan counter. "Katakan padaku, Kyungsoo." Ucapnya ditelinga Kyungsoo menggoda. Lengan dinginnya memasiku kaus Kyungsoo, mengeksplor kulit putih pucatnya. "Kau milikku malam ini."

"J-Jongin," ia mendesah. Matanya bergetar dan menutup terpesona akan sentuhan Jongin. Tubuhnya bergetar saat tangan Jongin menejelajahi lehernya, disekitar rahangnya, dan merasakan sentuhan pelan jari-jari Jongin di bibirnya. Ia membuka matanya perlahan menatap pandangan Jongin yang menawan.

Jongin memerangkap bibir Kyungsoo dalam ciuman penuh nafsu. Tanpa memutus sambungan mereka, Jongin mengangkat Kyungsoo dan melingkarkan kakinya disekitar pinggangnya, lalu menubrukkan punggungnya di dinding.

Kyungsoo mengalungkan lengan dan kakinya diseluruh tubuh Jongin ketika ia merasa tubuhnya terangkat dari counter dapur, ia berusaha keras untuk bertahan tapi Jongin membuatnya terlena. Ia membuka bibirnya untuk menghirup udara, tapi Jongin malah membekap dengan bibirnya lagi dan berusaha memasukkan lidahnya kedalam mulutnya.

"T-tunggu sebentar," Kyungsoo menolehkan kepalanya dan sedikit mendorong Jongin agar ia bisa menurunkannya ke lantai. "Berjanjilah padaku kau akan lebih…gentle daripada malam kemarin."

Ia terlihat sedikit kecewa, tapi jika itu untuk Kyungsoo, Jongin akan bersedia untuk menahan dirinya agar tidak lepas kendali. "Baiklah, Aku janji, tapi dengan satu syarat."

Kyungsoo menatap penasaran padanya. "Apa syaratnya?"

"Aku ingin kau jadi milikku, Kyungsoo." Ia melarikan jari-jarinya ke rambut hitam Kyungsoo. "Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang membuatmu tersenyum setiap hari. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang membuatmu bahagia. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang berada dipikiranmu. Aku ingin kau jatuh cinta padaku seperti aku jatuh cinta padamu."

"Jongin…" mata Kyungsoo membesar.

Tangannya sedikit bergetar saat ia memegang tangan Kyungsoo. "Kita baru saja bertemu kemarin, tapi aku akan berhenti menari di klub sekarang juga jika kau memang menginginkan itu. Aku tahu aku masih anak-anak, dan aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu, tapi jika kau mengijinkanku, aku berjanji akan membuatmu bahagia."

Kyungsoo meletakkan satu jarinya di bibir Jongin yang bergetar untuk menghentikannya berbicara. "Aku tidak ingin kau berhenti menari karena aku."

"Tapi-"

"Tapi, jika kau berhenti menari atas keinginanmu sendiri, aku akan menerima hal itu." Ia menunjukkan sebuah senyuman yang membuat jantung Jongin berhenti berdetak. "Aku tak bisa mengatakan bahwa aku akan jatuh cinta padamu seperti kau jatuh cinta padaku, tapi aku bersedia untuk mencobanya."

Jongin memeluknya erat. "Kau tak akan menyesali ini."

"Kau berjanji?" ia menggoda.

"Yeah, Aku berjanji." Ia tersenyum lalu melancarkan ciuman mengambang disekitar leher Kyungsoo.

"Ah…Jongin…" Kyungsoo terkikik karena ciuman mengambang itu, tapi kemudian ia sudah menemukan dirinya tenggelam dalam kenikmatan.

-The EXOtic Dancer-

Chanyeol membuka matanya agak malas. Ia melirik pada jam yang berada diatas sebuah meja dan menyadari bahwa itu sudah tengah hari. Ia baru saja tertidur beberapa jam tapi ia tidak ingat ia ketiduran. Ia memutuskan untuk tidur kembali, lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke dinding dan melihat ia tertidur disana.

Wajah tertidur Baekhyun terlihat sangat damai. Tangannya terkulai di dekat wajahnya, jari-jari indahnya menekuk membentuk sebuah kepalan lemah, rambutnya yang masih seperti semalam terkulai diatas bantal, dan bibir tipisnya sedikit terbuka.

Chanyeol menyadari dirinya tersenyum saat ia mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut yang berantakan di dahi Baekhyun. Aku masih tidak mengerti bagaimana bisa kau begitu mempesona hingga kedalam hatiku, tapi satu hal yang aku tahu adalah aku tak akan membiarkanmu sendiri lagi. Kau lebih berarti daripada yang kukira selama ini. Aku akan memberikanmu hidup yang kau inginkan, Aku berjanji.

Ia menuntup bibirnya sendiri dan ia baru saja sadar. Sungguh, Aku cukup tergoda melihat wajahnya hingga aku tak bisa tidur. Ada apa dengan diriku?! Ia menertawakan dirinya sendiri, merangkulkan lengannya disekitar tubuh Baekhyun, dan menatapnya tidur hingga tubuhnya mengendalikannya untuk tertidur dengan sendirinya.

-To Be Continued-

Minggu depan nggak jadi update yaa, hehe. Saya ngurusin ospek jurusan sih. Nanti setelah kegiatan yang ribet itu berakhir saya akan update kok. Bye~