It's been a long time since the last time I saw you guys. I've been vacuum all this time. Maafin saya udah PHP banyak readers, katanya mau update cepet tapi gajadi-jadi. Yah, maafkan, namanya juga anak kuliahan tingkat akhir, lagi sibuk-sibuknya kan yaa LOL. Semoga chapter ini bisa mengobati rasa penasaran kalian yang udah lama ngga terpuaskan /eeaa/ Maafkan, saya lagi mabok Chanbaek deh soalnya OTP ngode mulu bikin lemah. Yaudah yaa, silahkan dinikmati.
THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9
DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION
The EXOtic Dancer
Chapter 12: Final Dance Part 1
Warning: Contain typos everywhere and a lots of confusing words
"Teman-teman… apa kalian berpikir Baekhyun akan baik-baik saja?"
Seluruh orang dalam ruangan kelihatan berpikir untuk menjawab pertanyaan orang yang paling tua, yang mana jawabannya adalah tidak diketahui. Sehun mengangkat tangannya lalu meletakkannya di bahu Luhan, mengelusnya perlahan; menenangkannya. "Chanyeol pasti sudah disana sekarang, jadi aku yakin ia akan baik-baik saja, Lihan. A-"
"Tapi kau tidak tahu watak kedua sepupu itu." Luhan menginterupsinya, mata doe-nya berkaca-kaca saat ia menatap Sehun. "Kau tidak tahu apa saja yang bisa mereka lakukan. Jongdaeia…ia melakukan sesuatu yang sangat mengerikan d-dan hal-hal kotor kepada o-o-rang-orang …" ia terisak, dan airmata yang ditahannya agar tidak mengalir itu jatuh juga menuruni matanya. Ia menguburkan wajahnya pada kedua telapak tangan lalu Sehun menariknya kedalam sebuah pelukan.
Suasana pada apartemen Kris benar-benar menegangkan. Hanya isakan Luhan yang bisa didengar diantara ke enam lelaki yang duduk di ruang tamu, berkutat pada situasi yang tak nyaman.
"Arrgh!" Tao tiba-tiba berdiri dengan kasar dari tempat duduknya di sofa di sebelah Kris, membuat semua mata memperhatikannya. "Aku tidak tahan dengan ini semua! Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku akan menghajar Jongdae jika saja ia menyentuhkan ujung jarinya pada wajah cantik Baekhyun."
"Tenangkan dirimu, panda," Kris memegang pergelangan tangan Tao dan menariknya duduk di pangkuannya. "Kau tidak bisa pergi begitu saja kesana tanpa merencanakan sebuah tindakan, seperti si bodoh Chanyeol." Ia menggumamkan bagian akhir.
"Tapi-"
"Lagipula, memangnya hal terburuk apa yang bisa dilakukan oleh Mr. Kim?" ia mengangkat kedua bahunya. "Maksudku, kami semua tahu bahwa kalian sudah mengatakan sebelumnya bahwa pemilik bar akan membuatmu membayar dua kali lipat atau kau dipukuli, tapi ia tak bisa melakukannya dengan legal."
"Tentu saja ia tidak bisa," Jongin menjawab sambil menempelkan dagunya di bahu kecil Kyungsoo, ia duduk dibelakangnya diatas lantai. "Tapi Jongdae itu seorang pebisnis yang tak mengenal belas kasihan. Ia akan melakukan apa saja yang ia pikir ia harus lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan jika ia harus melakukannya dengan cara menyingkirkan beberapa strippers yah..." ucapannya mengambang, tidak ingin menyelesaikan kalimatnya.
"Hal ini tidak diketahui oleh beberapa orang," Tao berkata dengan gugup, "tapi klub itu juga merupakan hotspot untuk penjualan illegal. Narkoba, hewan, orang-orang... kau bisa lihat jika para penari itu hanyalah alat untuk mengalihkan perhatian polisi. Segala yang dipikirkan pemilik klub hanyalah tentang diri mereka sendiri dan uang. Semakin banyak uang yang didapatkan oleh tangan kotor mereka, semakin senanglah mereka."
"Dan kau belum mengatakan pada polisi tentang itu?" tanya Kyungsoo.
"Mereka belum bisa menangkap basah pemilik klub untuk hal itu." Jongin merespon, "Sejak segalanya terbayarkan dengan uang, polisi tidak bisa mendapatkan satu jejakpun tentang mereka." Terdapat jeda pada perbincangan mereka meski segala informasi sudah terbuka dan mendukung mereka. Menit-menit penuh kesakitan berlalu saat salah satu diantara mereka angkat bicara.
"Apa yang tak kupahami adalah jika Baekhyun tahu kalian semua akan pergi bersama, lalu kenapa ia pergi sendiri?" Kyungsoo melemparkan pertanyaan menyelidik. "Ia pasti punya alasan tertentu, kan?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
"Lalu, apa yang bisa kita lakukan?" Sehun menatap semua orang di ruangan. "Chanyeol mungkin saja tidak bisa menolong Baekhyun dalam keadaan sendirian."
"You guys," Ukuran mata Luhan membesar dan rahangnya sedikit terbuka, menarik perhatian semua orang. "Aku punya sebuah ide."
Chanyeol menyetir hingga ke tempat parkir EXOtic, mematikan mesin Mercedes Benz Kris, dan melangkah keluar sambil membanting pintu mobil dibelakangnya. Alisnya berkerut bersama-sama ketika ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa, keberadaan mobil-mobil mewah di tempat parkir; Ferrari, Cadillac, Porsche, dan juga Mercedes Kris yang juga terlihat seperti salah satu golongan mobil-mobil itu. Tidak ada musik yang berdentum keras yang terdengar dari balik tumpukan dinding bata itu, gelas martini hijau yang biasanya bergerak-gerak, sekarang hanya terdiam, tidak ada lampu menyolok yang menyala, dan para penjaga tidak berjaga di depan pintu.
Ia perlahan-lahan berjalan menuju pintu dan menekan gaganya. Tidak terkunci ternyata. Ia menoleh kebelakang melalui bahunya, memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya masuk. Ia memutar gagang pintunya dengan pelan menimbulkan bunyi klik, ia berhati-hati membuka pintu besi itu dan masuk kedalam. Apa yang ia lihat selanjutnya adalah hal yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Terdapat banyak sekali pengusaha yang mengenakan setelan mahal berkeliling di dalam ruangan, saling mengobrol santai dengan cekikikan disana-sini.
Chanyeol harus melakukan dua kali pengecekan diluar, untuk memastikan bahwa ia sedang berada di klub strip yang biasanya diisi dengan pelacur yang menari-nari dan pria-pria mabuk di setiap sudutnya. Ia kemudian memutuskan bahwa ia sedang tidak berimajinasi, perlahan-lahan masuk ke dalam, merasa bahwa ia salah kostum dengan jeans dan kausnya.
What the hell is going on? Siapa orang-orang ini? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat berusaha untuk membersihkan pikirannya. Tidak, jangan pikirkan orang-orang ini, Chanyeol. Kau harus menemukan Baekhyun.
"Baekhyun," ia berbisik sambil melihat ke sekeliling mencari tanda keberadaan sang penari. Ia berjalan menuju Champagne Room milik Baekhyun, yang lalu ia tahu bahwa Baekhyun tidak ada disana. Ia menggaruk belakang kepalanya frustasi "Kemana sebenarnya dia pergi?" Ia berucap pada dirinya sendiri, lalu kembali berjalan menuju bagian depan klub.
Ia melihat para pengusaha berjalan dibelakang gorden merah yang sangat familiar bagi Chanyeol. Ia menatap sekilas beberapa meja bundar yang sudah didekorasi dengan rapi dibelakang saat gorden merah itu tersibak sedikit. Sesuatu mengatakan padanya bahwa ia harus berjalan ke belakang gorden itu. Perasaannya mengatakan ada yang aneh, tapi Chanyeol mempercayai instingnya.
"Welcome gentleman," sebuah suara yang sangat merdu menyambut para tamu-tamunya; sebuah suara yang dengan mudah dikenali oleh Chanyeol sebagai milik Jongdae. "Terima kasih karena sudah datang menanggapi pemberitahuan yang sangat singkat, tapi saya bisa yakinka kepada Anda semua, bahwa Anda tidak akan menyesal." Ia menjentikkan jarinya dan dua orang berbadan besar muncul dari gorden merah dibelakang mereka, menyeret seseorang yang tidak berdaya keatas panggung.
Baekhyun terjatuh dengan lutut menyentuh lantai dan pandangan menunduk kebawah. Ia dipakaikan baju kulit ketat dari ujung kepala keujung kaki. Ia mengenakan crop-tank jarring-jaring, celana kulit hitam, sebuah kalung yang mencekik lehernya dengan rantai menggantung ditengah-tengahnya, mata ber-eyeliner, dan rambutnya ditata rapi kesamping. Chanyeol tidak bisa menahan untuk berpikir bahwa Baekhyun terlihat sangat menggoda, tapi ia juga menyadari wajah Baekhyun tidak berekspresi.
Baekhyun…?
Aebuah seringaian kejam terpatri di bibir Jongdae bersamaan dengan penjaganya yang mencengkeram erat kedua lengan Baekhyun. Tubuhnya membungkuk, jemarinya mengangkat dagu Baekhyun menunjukkan wajahnya kepada seluruh tamu. "Tidakkah ia terlihat sangat menggairahkan mala mini? Hadiah dari kami malam ini adalah penari elok ini."
Chanyeol tak bisa mempercayai matanya. Ia melihat ke sekeliling ketika ia mendengar tawa bejat rendahan dari para pebisnis sialan itu; beberapa diantaranya menjilat bibirnya, beberapa yang lain menganggukkan kepalanya, dan beberapa diantaranya mengeluarkan dompet dari saku belakangnya.
Minseok, yang sudah berdiri di samping podium sejak tadi, akhirnya mengeluarkan suaranya ketika ia membaca selembar kertas. "Ini adalah Byun Baekhyun, umur dua puluh tiga tahun. Ia sudah bekerja di EXOtic selama empat tahun dan menjadi salah satu penari favorit kami. Belakangan, kami telah sedang mengalami masalah dengan para penari utama kami, dank arena situasi yang tidak memungkinkan, kami harus melepaskannya. Dengan tawaran Anda yang sangat dermawan, ia bisa membayar hutangnya kepada kami dan menjadi personal assistant Anda yang baru." ucapnya menggoda.
"Lihat saja pada kulitnya yang halus, lembut, dan seputih susu," Jongdae memulai, "dan posturnya adalah sesuatu yang tidak dapat anda temui setiap hari. Dia sudah tidak perawan, seperti yang beberapa diantara kalian suka. Tapi aku yakinkan pada kalian, Tuan-Tuan, pengalamannya akan sangat menjanjikan untuk anda. Siapapun yang membelinya, tentu saja bisa, menemukan keistimewaan itu untuk diri Anda sendiri."
Chanyeol mengepalkan tangannya disisi badan demi menahan kemarahan yang menguar. Tatapan yang mereka tujukan untuk Baekhyun dan cara Jongdae mendeskripsikannya seperti Baekhyun adalah suatu objek yang membuatnya muak.
"Taruhan dimulai dengan harga 40.000," ucap Minseok santai, dan dalam sekejap, angka-angka yang semakin meninggi nilainya bersahut-sahutan dari kerumunan.
Empat puluh lima ribu! Lima puluh ribu!
Apa yang harus aku lakukan? Chanyeol panik.
Enam puluh ribu! Enam puluh lima ribu! Tujuh puluh ribu! Delapan puluh ribu!
Jika aku tidak segera melakukan sesuatu, Baekhyun akan dijual kepada seorang bajingan mesum. Ia menatap Baekhyun iba.
Sembilan puluh ribu! Suara terakhir yang terdengar dan seluruh orang dikerumunan menjadi diam.
Minseok menunggu beberapa detik sebelum kemudian bertanya, "Ada lagi yang ingin menawar?"
Baekhyun…
"Sembilan puluh ribu satu… Sembilan puluh ribu dua…"
"Se-seratus ribu!"
Seluruh mata tertuju pada suara dibelakang kerumunan dan menatap pada seorang lelaki muda dengan lengan terangkat ke udara.
Jongdae langsung saja berdiri dan menunjuk padanya, mengenali Chanyeol sejak insiden seminggu lalu. "Kau… Bagaimana bisa kau masuk kemari? Ini khusus untuk para member!"
"Kembalikan Baekhyun kepadaku, you son of a bitch." Ia berteriak, berjalan kearah panggung.
"Mengembalikan ia padamu?" ia mengejek. "Ia tidak pernah menjadi milikmu sejak dulu. Baekhyun adalah milikku."
"Ia tidak pernah jadi kepunyaanmu." Chanyeol berlari ke atas panggung, mencengkeram kerah kemejanya, dan mendorongnya hingga membentur dinding. "Kau bahkan bukan pemiliknya, juga. Apa yang sedang kau lakukan menjualnya seperti sebuah barang?" Ia mendorong Jongdae lebih kencang membentur dinding, membiarkan kemarahan memenuhinya.
"Singkirkan tanganmu dariku," Jongdae memerintah dengan nada yang kelam, dan sebelum Chanyeol bisa merespon apapun, dua penjaga menyingkirkan Chanyeol dengan paksa. Jongdae membersihkan setelan mahalnya dari sentuhan Chanyeol sesaat setelah ia terlepas dari cengkeramannya. "Dan, sebagai permintaan maaf atas sikap kurang ajar dan keributan yang teah kau tunjukkan terang-terangan padaku, jangan harap kau bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat."
Chanyeol berusaha keras untuk lepas dari penjaga yang menahannya. Ia menatap penuh rasa takut saat penjaga lain dan Minseok dengan mudahnya membopong Baekhyun dan akan membawanya keluar dari area. "Baekhyun!"
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras mengalihkan perhatian semua orang dari atas panggung dan suara dari sirene polisi memenuhi klub. "Polisi! Semuanya, berhenti ditempat!" seorang polisi berteriak.
Para pebisnis itu berebut untuk sembunyi atau melarikan diri dari jumlah polisi yang sangat banyak mengelilingi mereka. Dua penjaga segera melepaskan Chanyeol, menjatuhkannya tanpa peduli diatas panggung, lalu berlari menuju Monseok dan Jongdae untuk melindungi mereka dari polisi, dan menghilang dari tempat itu.
Chanyeol terjatuh dengan lutut yang bersentuhan dengan lantai panggung, ia menggeram kesakitan ketika rasa sakit yang tajam menggigiti sekujur kakinya. "Shit…" ia menggumam. Ia mencari-cari Baekhyun yang menggelepar di lantai, tanya tertutup seperti sedang tertidur. Ia berusaha untuk berdiri, tapi rasa sakit di kakinya mencegahnya untuk bertindak cepat. Ia akhirnya bisa menggapai Sang Penari, memeluk tubuh Baekhyun di antara kedua lengannya. "Baekhyun, hey," Ia menggoyangkannya perlahan. "Sadarlah." Ketika ia tidak merespon, Chanyeol menjadi khawatir.
Ap… Apa yang sudah mereka lakukan padanya? Pikirnya. Apakah mereka membiusnya? Para pebisnis itu telah ditangkap satu-persatu saat Chanyeol melihat keadaan sekitar. Dengan lutut yang terluka saat ini, Aku tidak yakin Aku bisa membawanya keluar dari sini.
"Chanyeol!"
Ia menatap kearah suara yang meneriakkan namanya dan melihat seorang yang sangat dikenalnya dibalik tirai. "Kris?"
"Ayo cepat! Kita segera keluar dari sini."
-To Be Continued-
So, how is it guys? Maaf kalau masih kurang feel dan kurang mengerti atau banyak typos sana-sini, hehe. Chapter selanjutnya dan bakal jadi chapter terakhir akan di post segera setelah, setelah, setelah apa ya? Setelah saya puas baca komenan kalian wkwk. Yang jelas bakal very soon ya~ Janji kali ini gak PHP, serius!
Thank you guys~
Read the original story:
story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo
Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.
See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!
Byee~~
