Last chapter guys! It took me a year to finished this, hope you enjoy the last. Chapter ini sedih mampus! Yang berhati lemah harap meninggalkan halaman ini. Serius, I warn ya! Happy weekend and enjoy reading!
THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9
DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION
The EXOtic Dancer
Chapter 13: Final Dance Part 2
Warning: Contain typos everywhere and a lots of confusing words
"Chanyeol!"
Ia menatap kearah suara yang meneriakkan namanya dan melihat seorang yang sangat dikenalnya dibalik tirai. "Kris?"
"Ayo cepat! Kita segera keluar dari sini."
Kris melihat Chanyeol yang sedang berusaha untuk berdiri dengan Baekhyun yang pingsan di pelukannya. Ketika Chanyeol terjatuh dengan lutut mendarat di lantai panggung lagi, Kris berlari menujunya dan menempatkan Baekhyun di punggungnya yang menurutnya sangat mudah dilakukan karena Baekhyun jauh lebih ringan daripada yang ia pikirkan. "Kau bisa berdiri?"
"Y-yeah," ia terhuyung saat berdiri, harga dirinya terluka saat ia tidak mampu membawa Baekhyun bersamanya. Dengan lengan Kris sebagai penopang pinggangnya, mereka bertiga berjalan menuju belakang tirai lalu melihat Kai pada sisi sebelahnya.
"Lewat sini," ucap Kai, memimpin mereka menuju sebuah jalan dimana polisi tidak akan mencurigai mereka. Mereka berjalan dalam diam saat suara berisik di pintu masuk utama mulai tidak terdengar. Mereka sampai di ujung jalan dan kai membuka pintu besi hitam itu.
"Itu mereka!" Kyungsoo berteriak dari seberang jalan.
Mata Chanyeol melebar ketika ia melihat semua mobil polisi, lampu merah dan biru bergantian menerangi kegelapan, dan sekelompok anak-anak muda berjalan menujunya. Luhan adalah yang pertama sampai dihadapannya.
"Ya Tuhan, apa Baekhyun baik saja?" yang paling tua bertanya penuh kekhawatiran.
"A…Aku tak tahu," ucap Chanyeol lirih, karena sebenarnya ia memang tak tahu. Ia tidak tahu apa yang dilakukan pemilik klub terhadap Baekhyun. Di sudut matanya, ia melihat dua orang lelaki yang tidak diketahui siapa berjalan ke arahnya, dibelakang Sehun, dan satu yang berambut kecoklatan menuju ke arah Kris.
"Coba kuperiksa." Ucap lelaki itu.
Kris melakukan seperti apa yang sedang diperintahkan lelaki itu. Ia menurunkan Baekhyun dari punggungnya dan menggendongnya bridal style untuk diperiksa oleh lelaki yang masih belum diketahui siapa itu.
Chanyeol menjadi sangat-sangat tidak nyaman karena cara lelaki itu menatap dan menyentuh wajah Baekhyun yang kemerahan. Yang lain berusaha untuk tidak peduli dan percaya kepada lelaki itu jadi Chanyeol berpikir untuk menahan amarahnya. "Um,"
"Ia akan baik-baik saja," ucap lelaki itu lalu mengambil sesuatu di saku belakangnya, mengeluarkan sebuah pil berwarna putih. "Lu, bisa kau buka mulutnya untukku?"
Luhan segera melakukan hal yang diminta lelaki itu dan membuka mulut Baekhyun.
"Yah!" Chanyeol berteriak saat melihat lelaki itu memasukkan pil tersebut ke mulut Baekhyun. "What the fuck are you doing?"
"Chanyeol, it's okay," Kyungsoo mencoba untuk menenangkan amarah si raksasa yang bergejolak. "Ia tahu apa yang ia lakukan."
"I don't give a shit! Bagaimana jika-"
"Chanyeol," lelaki yang tidak diketahui siapa itu menyebutkan namanya dengan lembut, menyebabkan kepala Chanyeol memutar menatapnya. "Namaku Zhang Yixing dan aku adalah seorang ahli pengobatan. Aku berjanji apa yang baru saja kuberikan pada Baekhyun adalah tidak membahayakan." Ia menunjuk Baekhyun saat berbicara. "Seharusnya itu bisa melemahkan efek dari obat yang diberikan Kim kepadanya. Pil itu juga bisa membantunya untuk tidak menjadi kecanduan pada obat itu."
"Oh…" ia tidak bisa berkata apapun. Lelaki ini, sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk membantu mereka ketika Chanyeol bahkan menganggapnya akan melakukan hal buruk. Dalam hati ia menggeram; merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan, atas tingkah seperti bajingan yang ia tunjukkan kepadanya dan ingin sekali untuk meminta maaf.
"Pamanku juga seorang kepala polisi." ucap Yixing, mundur kebelakang dan melingkarkan lengannya disekitar lengan lelaki lain yang Chanyeol tidak mengenalinya. "Suho juga sudah memberikan bantuan yang luar biasa karena telah memata-matai Kim bersaudara dan membocorkan informasinya kepada pamanku untuk membongkar kejahatan ini. Benar begitu kan, Sayang?" ia tersenyum menyerukkan hidungnya di leher Suho dengan senyuman bahagia yang mengembang di bibirnya.
Luhan menggeram melihat mereka yang mengumbar kasih sayang sedangkan yang lainnya terlihat kebingungan.
"Anyway," Suho berdeham menjernihkan ternggorokannya dengan rona tipis di pipinya, "Aku benci mengakui hal ini, tapi tanpa Baekhyun, kita tidak akan bisa membongkar kejahatan mala mini. Ketika kita mendapatkan telepon dari Luhan yang menjelaskan apa yang sedang terjadi, kami berfikir bahwa ini adalah saat terbaik untuk menangkap mereka. Sayangnya, kami harus menjadikan Baekhyun sebagai korban."
"Well, apakah kalian berhasil menagkap mereka?" tanya Chanyeol. "Maksudku, pemilik klub."
Suho menggelengkan kepalanya. "Tidak, mereka sudah menghilang sebelum kami bisa menangkapnya."
Apa yang terjadi? Tubuhku…terasa panas.
"Jongdae, kau pasti bercanda."
"Aku benar-benar serius, dank au akan memanggilku Tuan Kim. Aku tahu kita belajar di sekolah menengah yang sama, tapi, mulai saat ini kau akan bekerja untukku."
Apa yang terjadi? Oh,ini adalah mimpi. Aku ingat hari ini…adalah hari pertama aku bekerja untuknya.
"Jongdae, A-aku tak bisa melakukan ini."
"Kenapa tidak? Kau tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal, tidak memiliki siapapun yang bisa menolongmu, jadi kenapa kau tidak bekerja untukku?"
"Aku tidak bisa begitu saja melepaskan satu persatu pakaianku dan menari-nari dihadapan priayang bahkan tidak kuketahui. Itu…tidak nyaman."
"Baekhyun, kau memang bodoh. Jangan khawatir soal hal-hal kecil seperti itu. Sekali kau menjerumuskan diri ke dunia ini, kau kan kehilangan seluruh moralmu dalam waktu singkat. Kau akan berakhir dengan menjual tubuhmu pada siapapun layaknya hal itu bukanlah apa-apa."
"Aku tidak ingin-"
"Stripping tidak memerlukan perasaan. Kau bisa menjual dirmu kepada siapapun yang kau inginkan tanpa cinta yang membuatmu gundah."
"Tapi, Aku tidak akan bisa menjalin sebuah hubungan jika Aku melakukan hal ini. Bagaimana jika aku menemukan seseorang yang benar-benar peduli padaku?"
"Baekhyun, tidak seorang pun yang menyayangimu. Tidak seorangpun yang akan benar-benar peduli padamu. Jika mantanmu saja tidak peduli, lalu siapa lagi yang akan memperdulikanmu?"
Ya, benar. Aku jatuh pada kebohongannya dan mulai bekerja untuknya. Malam pertamaku sungguh mengerikan…
"Kau sangat cantik. Aku menyukai itu."
"Thanks."
Tangannya bersantai pada bagian belakang tubuhku. Aku rasa itu adalah hal yang salah.
"Berapa hargamu? Aku sudah tidak sabar meletakkan tanganku pada kedua belah bokongmu."
Aku menggosok badanku dengan keras malam itu hingga berdarah. Tapi kegiatan it uterus kuulangi. Aku tidak punya pilihan lain.
Setiap orang adalah bajingan. Mereka hanya menginginkan aku atas tubuhku, seperti apa yang Jongdae pernah katakan. Jadi aku membangun tembok disekitar tubuhku, untuk melindungi rasa menghargai diri sendiri yang tersisa dariku. Aku kehilangan diriku sendiri, siapa aku sebenarnya, dan itu menyakitkan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menerobosnya, aku tidak bisa. Aku hanya bisa percaya kepada teman kerjaku karena aku tahu mereka juga merasakan hal yang sama denganku, tapi tetap saja, aku tidak aan membiarkan mereka masuk terlalu dalam.
Aku tidak menginginkan hal itu. Aku tidak menginginkan hidupku berubah menjadi seperti ini. Apa kesalahan yang sudah kuperbuat? Aku hanya…Aku hanya ingin seseorang untuk mencintaiku. Aku menginginkan seseorang yang baik hati, seseorang yang menginginkanku karena aku dan bukan karena tubuhku.
Stop.
Mengapa aku mengingat semua ini? Aku tidak ingin memikirkan hal ini lagi! Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan lagi. Aku takut. Seseorang, tolong, bantu aku!
"…Baek…"
Suara itu…
"Baekhyun."
Baekhyun membuka matanya perlahan. Cahaya lampu tepat diatasnya membutakan pandangannya beberapa saat hingga ia harus meletakkan lengannya diatas mata saat berusaha mengembalikan kesadarannya. Air mata; adalah hal pertama yang ia rasakan saat itu mengalir disudut matanya. Kelapanya mulai berdentum-dentum dengan keras, detakan jantungnya berlomba-lomba, ia merasa ingin muntah, dan tbuhnya terasa terbakar hingga peluh bercucuran dari dahinya. Ketika rasa ingin muntah itu kembali lagi, Baekhyun tanpa sadar meletakkan tangan untuk menutupi mulutnya, mencegah ssuatu keluar dari sana. Ia menggeram saat berusaha untuk duduk, tapi ia malah didorong untuk tetap tidur pada sesuatu yang lembut dan nyaman.
"Hey, cobalah untuk tidak bergerak terlalu banyak," ucap suara lembut kepadanya, "obatnya masih mempengaruhi sistem tubuhmu."
Ketika akhirnya ia sudah bisa untuk membuka mata sepenuhnya, Baekhyun menyadari dimana ia berada.
Kamar Chanyeol…ya benar, Aku-
Ia melihat Chanyeol duduk disebelahnya; lutut kirinya terbungkus oleh perban, terlihat mengkhawatirkan kesehatannya tapi tetap saja senyuman besar terpatri diwajahnya. "Ch..an-" suaranya menjadi parau dan tenggorokannya terasa sangat kering hingga ia harus terbatuk-batuk, memegangi dadanya yang luar biasa sakit.
"Ini, minumlah," Chanyeol mengarahkan sebuah gelas berisi air kepadanya. Ia melihat Baekhyun menghabiskan air itu lebih cepat dari yang ia pikirkan. Ketika ia sudah selesai, ia meletakkan gelas tersebut di nakas sebelah ranjangnya. "Merasa lebih baik?"
Ia menganggukkan kepalanya, dan dengan sedikit kekuatan yang ia punya, ia mencoba untuk duduk tapi Baekhyun masih juga tak mampu melakukannya jadi ia memilih untuk tetap dalam posisi tidur. "Chanyeol, apa yang terjadi? Hal terakhir yang aku ingat adalah…" ia mengelap keringat yang turun di alisnya, pandangannya sedikit memburam karena efek dari obat yang Chanyeol bicarakan beberapa menit yang lalu. "…adalah Minseok memegangi kepalaku dan Jongdae memaksaku untuk memakan sesuatu. Apakah mereka benar-benar meracuniku?"
"Yeah, mereka memberimu obat sejenis sedative." Pria berambut kecoklatan itu menjawab dengan perlahan, tangannya menyisir surai Baekhyun yang berjatuhan di dahinya. "Teman sekamar Luhan mengatakan bahwa butuh beberapa waktu hingga obat itu meninggalkan tubuhmu. Jika tidak karena dia, kita tidak akan bisa keluar dari sana."
"Hha…" Baekhyun mengeluarkan suara lirih ketika tangan Chanyeol yang hangat dan lembut bersentuhan dengan dahinya.
Aku benar-benar parah. Aku membuatnya menyelamatkanku…lagi.
Ia menatap Chanyeol, airmata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Perasaan bersalahnya, rasa sakit dari obat itu, dan alas an-alasan lain yang tidak bisa ia jelaskan membuat Baekhyun mengalungkan lengannya disekitar leher Chanyeol dan memaksanya untuk mendekat.
Gerakan Baekhyun yang tidak terduga membuat Chanyeol terkejut. "Bae-"
"A-Aku minta maaf! Maafkan Aku, Chanyeol! Tolong…jangan membenciku! A-Aku tak bisa-" Ia memeluk Chanyeol seakan-akan hidupnya bergantung pada Chanyeol. Ia kesusahan untuk bernafas, ia kehabisan udara, dan mungkin terdengar lebih menyedihkan dan mengenaskan daripada yang ia maksudkan, tapi segala yang ia tahu sekarang adalah ia tidak bisa membiarkan Chanyeol pergi. Ia mungkin saja tidak akan berada disini. Chanyeol bisa saja menghilang. "Maafkan Aku!"
"Baekhyun, tarik nafas, sudah, tidak apa." Ucapnya tenang, melepaskan pelukan Baekhyun di lehernya perlahan dan mendorongnya untuk merebahkan diri. "Aku tidak akan pergi kemanapun."
"Benarkah?"
Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang pucat, bekas airmata yang mengaliri pipinya membuat hainya sakit luar biasa hingga Chanyeol bisa saja menangis sekarang juga. Baekhyun terlihat seperti sedang dalam rasa sakit yang luar biasa. Apapun yang Yixing berikan padanya sebagai penawar obat pasti benar-benar memuat Baekhyun sangat kacau, pikirnya. "Tentu saja tidak, Aku akan selalu berada disini untukmu."
He membekap wajah Baekhyun yang tirus, merasakan kelembaban dari kulitnya yang pucat, lalu berkata, "Aku tidak pernah bisa membencimu. Semua ini terjadi bukan karena kesalahanmu."
"Memang kesalahanku!" sang penari berdalih, "Jika saja aku tidak pergi, jika saja aku mau bersabar menunggu bersama dengan yang lain seperti apa yang seharusnya kami rencanakan…"
"Tidak, Baekhyun, ini semua bukan salahmu. Hal-hal yang baru saja kau ucapkan, tindakan-tindakan yang kau ambil adalah semua karena kau. Kau tidak bertanggung jawab atas apapun, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku adalah satu-satunya yang membuatmu terjebak dalam situasi ini, jadi jika ada seseorang yang takut untuk dibenci…itu adalah aku." Tangannya menuruni wajah Baekhyun hingga berhenti di bahunya. "Benci saja aku jika itu membuatmu merasa lebih baik."
Baekhyun merasakan sebuah cairan hangat menurunu lehernya hingga tulang selangkanya. Ia tidak yakin entah itu air matanya, atau air mata Chanyeol. Ucapan Chanyeol menenangkannya, tapi pada saat yang bersamaan itu juga membuatnya merasa tidak berguna. "Aku…Aku juga tidak bisa membencimu, Chanyeol." Ucapnya berhati-hati, berusaha bertahan untuk tidak menangis. Tangannya terletak di punggung Chanyeol, merasakan kehangatan yang masih bisa ia rasakan. "Aku terlalu mencintaimu hingga tak bisa membencimu."
Chanyeol merasakan jantungnya berdegup-degup. Benarkah yang ia dengar barusan? Ia melepaskan pelukannya, berusaha untuk tperlahan agar tidak menyakiti Baekhyun, matanya membesar karena penasaran dan ketidakpercayaan. "Apa yang baru saja kau katakan?"
"Bahwa aku juga tidak bisa membencimu?" jawab Baekhyun kebingungan.
"Tidak tidak, setelahnya!"
"Bahwa…Aku terlalu mencintaimu hingga tidak bisa membencimu?"
"Ucapkan sekali lagi."
Baekhyun merasakan kehangatan di pipinya ketika ia menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia mengalihkan pandangannya, menatap apa saja asalkan bukan Chanyeol, dan terbata-bata, "Aku-Aku-Aku…mm…"
"Baekhyun, kau…kau jatuh cinta padaku?" Chanyeol merasakan tubuh Baekhyun menegang dan melihat ekspresi memalukan diwajahnya. Tenggelam dalam kebahagiaan murni, Chanyeol tertawa egirangan dan menarik Baekhyun untuk mendekat, hamper-hampir saja mencekiknya. "Aku juga mencintaimu." Ia tidak sanggup untuk tidak mengatakannya juga. "Aku mencintaimu, Baekhyun."
Orang ini…Chanyeol akan,tidak, ia sudah menghancurkan dinding pertahananku, termasuk tempurung yang kubangun untuk menutupi diriku sendiri. Ia sudah mengubah segalanya hanya dengan sentuhan tangannya, ketulusan senyumannya, dan kelembutan bibirnya, cinta dalam hatiya, segalanya, Chanyeol telah merubahku.
Ia menatap mata Chanyeol, kebahagiaan terpancar dari keduanya, dan Baekhyun tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum. Ia memajukan yubuhnya, menyentuhkan bibirnya dengan bibir Chanyeol penuh cinta. "Aku juga mencintaimu, Chanyeol."
Tapi itu bukan masalah.
Sekali aku menatap matanya, Aku tiba-tiba saja jatuh cinta.
-The End-
So, how is it guys? Maafkan kalau masih banyak kesalahan dan typos dimana-mana. Selama 13 chapter, saya harap kalian semua merasa senang dan terhibur sama cerita ini. Maaf sekali kalau terjemahan saya masih abal, ngga bisa dimengerti, bahasanya juga terlalu sederhana, tau apalah itu, nanti kalau saya pengen nerjemahin fiksi lagi pasti saya perbaiki. Pasti saya ucapkan terima kasih kalian buat sleeplessbeauty9 yang udah bikin awesome fiction ini kok. Terima kasih juga untuk semua readers yang semangat nunggu update-an hehe, semangat ngingetin saya buat update lewat PM, thank you so much, kalian semua moodbooster saya, dan buat silent readers, I watch ya! Oh ya, kemarin ada yang minta ID Line: dhillajune chat disana yuuk ChanBaek hard Shipper, feel free to chat!
Thank you guys~
Read the original story:
story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo
Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.
See ya in the next fanfiction and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!
Byee~~
