Fairy Tail dan semua karakternya itu asli milik Hiro Mashima!
Saya hanya meminjam beberapa karakternya, plot hasil pemikiran sendiri. Hanya untuk kesenangan semata!

WARNING!

Semi-Canon, Out of Character, Gajeness, Screw EYD, possible typo(s), seme!Natsu Dragneel x uke!Laxus Dreyar, etc …

Didedikasi untuk mengikuti #NulisRandom2015 pada tanggal 03 Juni 2015


Hari yang sangat biasa bagi seorang pengguna sihir Dragon Slayer tipe Api ini. Oh bahkan kini semuanya nampak sama di mata hitamnya, tidak ada yang beda dengan hari-hari sebelumnya. Dirinya pun juga demikian—kondisi tubuh lemas dengan keadaan para cacing yang sudah mendemo besar-besaran dari dalam perutnya.

Jika Lucy ada di sini, pasti gadis menyebalkan itu akan mengatakan— 'Hei, Natsu! Daripada kamu bermalas-malasan seperti itu, mending pergi ke papan permintaan dan lihat apa ada pekerjaan yang menantimu!'

Itu dia permasalahannya Natsu sekarang. Kini papan itu sama persis seperti isi kepalanya—kosong.

Ya, ia hanya tinggal menunggu ajalny—bukan, maksudnya menunggu keajaiban jatuh menimpanya.

"Evergreen-san!"

Penasaran. Natsu menoleh ke belakangnya, ia melihat Juvia sedang berbincang dengan Evergreen. Jika ingatannya bagus, ia langsung berasumsi bahwa Evergreen merupakan anggota Raijinshuu—kelompok kaki tangannya Laxus.

"Apa benar kalo Evergreen-san suka sama Elfman-san?"

Tu de poin sekali kau, Juvia.

Evergreen memanas, bahkan hidungnya Natsu dapat mengendus bau asap yang keluar dari tubuh Evergreen. "Akh—enggak kok! Itu fitnah!"

Ini perasaannya Natsu saja atau memang Elfman langsung pundung di pojokan aula guild. Oh yasudalah, tidak penting!

Juvia memasang wajah tanpa dosa setelah menanyakan masalah private itu. "Oh, Juvia kira Evergreen-san udah jadian sama Elfman-san—jadi Juvia mikirnya Evergreen-san udah nggak jomblo."

Tak ada angin, tak ada hujan. Erza dengan seenak udel datang tanpa diundang sembari berkata, "Kukira kau jones, Evergreen!"

"Aku tidak jones!"

Erza mengangguk tidak jelas. Mata cokelatnya menatap Natsu sesaat. "Kau sendiri juga jones, Natsu?"

Aduh, Erza. Kalo sedang berbicara dengan Natsu, gunakanlah bahasa yang dimengerti olehnya. Natsu mana ngerti dengan istilah-istilah aneh semacam itu.

"Jones itu apa?"

"Jones itu akronim dari 'Jomblo Ngenes', Natsu-san." Dengan berbaik hati Juvia pun menjelaskan.

Natsu mengangguk mengerti. Tak lama kemudian raut wajahnya mulai masam. "Kok rasanya kata 'jones' tadi menyakitiku ya? Padahal kan aku lagi pedekate sama Laxus-chan …"

Hening. Natsu sukses membuat sebulir keringat jatuh.

"Makanya kalo nggak mau disakitin cepat ubah statusmu yang tadinya lagi pedekate jadi pacaran. Soalnya untuk mengisi kekosongan ruang pada hati yang tersakiti diperlukan gaya listrik statis untuk menarik cinta yang arusnya sebanding dengan lamanya kesendirian." Erza kembali bertutur kata.

Hening berlanjut ke sesi dua.

Natsu mulai memicingkan kedua matanya ke arah Erza. "Oh, terus biarkan sekring yang menggerakkan hatiku, gitu?"

Hening sesi tiga.

Daripada ini berlanjut ke hal lain, Makarov memutuskan sambungan listrik yang beradu di antara Natsu dan Erza. "Natsu!"

Yang namanya dipanggil terkejut, segeralah ia menoleh ke arah Makarov. "Ada apa, Ji-chan?"

"Kamu ingin segera ganti status pedekatemu pada Laxus?"

Natsu mengangguk antusias.

"Aku beri satu saran." Dengan wajah yang dipenuhi makna lain, Makarov kembali berkata, "Coba kau gombal Laxus, siapa tahu berhasil …"

Evergreen menatap heran pada Makarov. "Memangnya cara kuno itu bisa meluluhkan Laxus?"

Senyuman terkembang manis di wajah keriput Makarov. "Seharusnya. Tapi dulu pas Laxus masih kecil, dia sering digombal sama Ivan—ayahnya sendiri, tapi selalu membuat Laxus tersipu malu, kok."

Semua pasang mata menatap tidak percaya pada Makarov dengan keadaan mulut yang terbuka hingga lebar maksimal. Lain halnya dengan Natsu, mata hitamnya sudah dipenuhi oleh kilauan aneh.

"Apa itu benar, Ji-chan?!"

Makarov mengangguk. "Coba saja. Siapa tahu kau berhasil menggodanya …"


Dengan santainya Laxus menyeruput kopi yang telah disediakan oleh Mirajane. Tidak ada hal yang mengganggunya di Rabu pagi yang sangat sejuk di luar, dan juga tidak ada Natsu si pengacau yang selalu mengganggu harinya.

"Laxus-chan~!"

Oke, Laxus segera mencoret kalimat yang ada di paragraf sebelumnya.

Natsu duduk di sebelah Laxus, bocah syialan itu merangkul Laxus—Natsu langsung bilang alhamdulilah dalam hatinya karena badannya Laxus nggak sebesar di animenya—ya sama seperti Laxus berumur sebelas tahun—tunggu, penulis lupa umurnya berapa.

"Daripada kau menggangguku, mending kau cari ribut lagi dengan Gray."

Natsu memasang wajah sedih. "Oh ayolah, Laxus-chan, Gray sedang ada pekerjaan di luar, dan kau selalu bertingkah sensitif padaku. Aku kan jadi syedih …"

emang gue sensitif sama elo, Natsu, batin Laxus OOC.

"Kalo kau mau bilang sesuatu yang tidak penting, aku akan pergi—"

"Bentar doang kok, aku cuma mau menggodamu doang. Lagian kata Ji-chan dulu pas kamu kecil, kamu sering digoda sama Ivan kan?"

Dasar kakek bangkotan! Kolot! Kakek durhaka sama cucunya sendiri! Aibnya yang Laxus kubur setelah menginjak umur delapanbelas kebongkar semuanya!

Belum sempat Laxus membalas, Natsu sudah kembali berkicau. "Kamu tahu nggak persamaan kamu dengan lukisan Monalisa?"

Laxus menghela napas. Ia memang punya banyak dosa, tapi dosa yang mana yang membuat dirinya harus terjebak dalam situasi gila seperti ini. Ia mulai lelah. "Nggak tahu, memangnya apaan?"

"Kalian sama-sama indah."

Kantung muntah mana? Laxus butuh untuk yang kali keduanya.
Lagian dari mananya coba? Gambar di lukisan itu kan mana punya alis, sementara Laxus punya (ya memang hubungannya nggak ada).

Natsu mulai merintikkan air matanya karena tak dapat rispek dari Laxus. "Laxus-chan tidak mendengarkanku ya? Padahal kan cinta kita mengalir seperti air PDAM yang dialirkan ke rumahku—"

"Memangnya kamu pake PDAM?"

Natsu menggeleng polos. Laxus menghela napas panjang. Makarov tertawa penuh bahagia sekaligus kemenangan entah dari mana asal suaranya.

Laxus mulai bangkit berdiri dengan membawa kopinya. Enak saja ada yang menggangu paginya. "Aku akan pergi mencari tempat lain."

Seketika seluruh dunia Natsu hancur menjadi butiran debu. Ia gagal lagi, ia gagal lagi menggoda Laxus.

Segera ia keluarkan catatan andalannya dengan air mata yang sudah tak bisa ditampung.

"Natsu ingin menggoda Laxus — Cara 2: Gombalin Laxus-chan (Ngikutin kata Ji-chan)" GAGAL!