Fairy Tail dan semua karakternya itu asli milik Hiro Mashima!
Saya hanya meminjam beberapa karakternya, plot hasil pemikiran sendiri. Hanya untuk kesenangan semata!

WARNING!

Semi-Canon, Out of Character, Gajeness, Screw EYD, possible typo(s), seme!Natsu Dragneel x uke!Laxus Dreyar, etc …

Didedikasi untuk mengikuti #NulisRandom2015 pada tanggal 06 Juni 2015


Siang ini merupakan hari tercerah yang pernah Natsu temui, sama halnya dengan suasana hatinya. Tentu saja sang pengguna sihir Dragon Slayer tipe api itu senang, karena beberapa menit lalu ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya bersama dengan orang yang sedang ia pedekatein.

Yup benar! Orang itu adalah sang cucu dari master Makarov—Laxus-chan-nya. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke guild.

Memang suasana hati Natsu kini bagaikan taman yang bermekaran bunga, namun ia mendapatkan keganjalan dalam hatinya—hasrat yang belum terpenuhi olehnya. Gimana tidak ada yang menganjel, toh semenjak tadi mereka berdua sama sekali tidak melakukan pembicaraan, lagian Laxusnya juga mengeluarkan suaranya ketika melakukan pekerjaannya—pikir Natsu.

Natsu kan jadinya galau …

Akhirnya Natsu mengeluarkan kekesalannya, tapi secara lembut—takutnya lawan bicaranya syedih (nah, Natsu mulai ngaco). "Laxus-chan! Kok dari tadi kamu nggak ngomong-ngomong sih?! Memangnya kamu betah nggak ngomong-ngomong seperti itu!"

Laxus menoleh, mata hijaunya mendapati Natsu sedang menatapnya dengan memamerkan kekuatan andalannya—puppy eyes.. Ingin rasanya Laxus muntah saat itu juga. "Memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu."

"Tentu saja itu jadi masalah untukku! Aku kan jadi syedih kalo kamu nggak ngomong sama aku—"

Belum apa-apa Laxus mulai lelah. Harus pakai cara apa agar Natsu tidak mengganggunya walau hanya sehari, setidaknya ia merasa bahagia sesaat.

Laxus tersentak. Ia menghentikan langkah kakinya, membuat Natsu ikut berhenti mengambil langkah. Spontan Natsu mendekati Laxus dan berniat untuk menghapus jarak bibir mereka, namunnya tindakan Natsu langsung dihentikan dengan tinju Laxus yang melayang ke perutnya Natsu—yang ditinju langsung meringis kesakitan.

Enak saja mau ambil kesempatan untuk menciumnya, Laxus kan anaknya Ivan dan cucunya Makarov yang baik, jadi ia tidak akan membiarkan seekor serangga pun yang berhasil mendapatkannya (kejam sekali, Natsu dianggap serangga olehnya).

Anyway, hal yang membuat Laxus berhenti berjalan adalah ia mendapatkan sebuah ide agar dirinya bisa bebas dari si anak naga api sialan itu, walau Laxus belum yakin dengan persentase keberhasilannya. Kalo belum dicoba, ya mana tahu hasilnya.

"Natsu, aku punya teka-teki untukmu. Kalo kamu berhasil menjawabnya dengan tepat—beserta barang yang dimaksud, aku akan bersedia untuk berkencan denganmu dan membiarkanmu untuk menciumku. Bagaimana?"

Natsu tergeming. Otaknya berusaha untuk mencerna semua kalimat yang dilontarkan oleh Laxus.

'… Aku akan bersedia untuk berkencan denganmu dan membiarkankanmu untuk menciumku …'

'… selamanya kita akan bersama, Natsu …'

Imajinasi Natsu meliar, padahal apa yang dipikirkannya barusan tidak diucapkan oleh Laxus tadi. Sejak kapan Natsu mengikuti jejak Juvia yang sedang mengejar cintanya Gray.

Gray dan Juvia bersin bersamaan.

Mata hitamnya Natsu mulai memancarkan sinar aneh. "Benarkah itu, Laxus-chan!?"

Segera Laxus merutuk kalimatnya tadi. Tapi demi terbebas dari Natsu, apa saja akan ia lakukan. "Iya. Tapi kalo kamu salah menjawabnya, maka kamu tidak boleh mendekatiku selama seminggu. Setuju?"

Tanpa pikir panjang Natsu langsung berteriak setuju. Itu membuat Laxus menyeringai penuh kemenangan.
Habislah kau, Nats!

Rasa penasaran melanda hati Natsu, dengan nada dibuat-buat ia bertanya pada lawan bicaranya. "Ngomong-ngomong, teka-tekinya apaan?"

Yang ditanya mulai memejamkan matanya tanpa melepaskan seringainya. "Teka-tekinya adalah: Barang ini sangat menyenangkan, barang ini juga sangat disenangi oleh orang di seluruh dunia. Apa itu?"

Teka-teki itu berhasil membuat pemuda berambut pink itu menyirit kebingungan. Pemuda berambut pirang itu mulai berjalan meninggalkan si pink, membiarkan bocah naga itu berpikir tentang jawaban dari teka-teki itu.

Laxus mulai berkomat-kamit baca mantra agar Natsu salah menjawab teka-tekinya.


Setiba di guild, kepala Natsu terus memikirkan jawaban dari teka-teki yang diberikan oleh Laxus. Demi mendapatkan ciuman itu, Natsu harus berhasil menjawabnya dengan tepat.

"Jawabannya apaan ya …" Natsu mulai bertompang dagu. "Kalo aku berhasil menjawabnya, maka bukan hanya kencan dan ciuman darinya, tapi bisa juga dengan hatinya." Ia mulai mengeluarkan tawa khasnya, namun seketika tawanya reda—tergantikan dengan wajah sedang berpikir.

Sebagai teman sekaligus rival yang baik, Gray bertanya pada Natsu yang sedang berpikir. "Apa yang kaupikirkan, Natsu? Tidak biasanya kau berpikir keras seperti itu …"

"Aku sedang memikirkan jawaban dari teka-tekinya Laxus."

Sukses sudah Gray dibuat penasaran. "Teka-teki apaan? Barangkali aku bisa bantu."

Tjieeeh yang mau bantuin temannya tjieeeh.

Sinar keceriaan terpancarkan dari wajah Natsu. "Apa itu benar!?" Gray mengangguk sebagai jawaban iya. "Kalo gitu, kau tahu jawabannya dari teka-teki ini: Barang ini sangat menyenangkan, barang ini juga sangat disenangi oleh orang di seluruh dunia?" Natsu kembali bertutur kata.

"Barang yang disenangi banyak orang …" beo Gray. Ia mulai menompang dagu. "Kalo barang yang kusenangi itu banyak, tapi tidak semua orang menyenanginya. Mungkin kau bisa bertanya pada Macao atau Wakaba, bertanya kepada yang lebih tua itu mungkin bisa jadi jawabannya."

"Ide bagus!" Natsu bangkit berdiri, keantusiasannya membuat Gray harus mengambil beberapa langkah mundur. "Terima kasih, Gray!" Si pink mulai berlari sekencang mungkin hingga membuat Gray jatuh.

Gray, yang menjadi korban dadakan itu menggaruk pelan kepalanya. "Anak itu selalu saja bersemangat …"

Mata Gray mendapati Natsu sedang berbincang dengan Wakaba dan Macao, sepertinya bocah naga itu mengikuti sarannya. Natsu mengangguk setelah Wakaba berbicara lebar, nampaknya dia mengerti apa yang diucapkan oleh Wakaba. Tak lama kemudian Natsu berlari meninggalkan Wakaba dan Macao—yang mendapatkan nasib yang sama seperti Gray.

Kepala Gray langsung pening mendadak. Pengguna sihir manipulasi es itu mulai duduk di bar, ia butuh istirahat sejenak. Kebetulan ada Laxus dan Freed sedang duduk di bar, mungkin ia bisa sedikit bertanya tentang teka-teki itu.

"Hei, teka-teki macam apa yang kauberikan pada Natsu sampai dia melakukan apa yang bukan dirinya?"

Tu de poin sekali kau, Gray—setidaknya itulah kesan pertama yang didapati Laxus. "Sebenarnya jawaban dari teka-teki itu mudah sekali, bahkan Freed tahu jawabannya."

Yang namanya disebut langsung mengangguk, mengiyakan pernyataan dari Laxus. Gray semakin merasa pening, entah tahu alasannya kenapa.

"Laxus-chan~"

Suara itu terlalu familiar di telinga Laxus, sampai ia ingin menaikkan volume musik di earphone yang selalu dikenakannya. Gray dan Freed menoleh ke belakang, mendapati Natsu dengan wajah sumringah sedang berlari ke arah mereka.

"Aku tahu jawabannya, Laxus-chan~!"

Si pirang menghela napas sejenak, kemudian dengan lemas ia menoleh pada Natsu. Wajahnya sudah mengisyaratkan pada Natsu untuk langsung menunjukkan barang yang dimaksud teka-tekinya sebagai jawaban.

Si pink memamerkan seringainya. "Aku yakin ini pasti jawabannya adalah benar!"

Dengan pedenya si pink menunjukkan barang yang dibawanya. Sukses sudah Natsu membuat ketiga orang itu melongo bukan main dengan barang itu. Gimana tidak melongo coba, yang dibawa oleh Natsu itu adalah sesuatu yang tidak boleh sembarangan diumbar-umbar pada publik.

Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang sedang melangkah cepat menuju Natsu, dan si pink sangat mengenali suara itu. Waktunya menyalakan alarm merah. Belum sempat Natsu kabur, ia berhasil ditendang oleh seorang gadis pirang dengan menggunakan tendangan andalannya.

Yup. Itu Lucy.

"Natsu bodoh! Apa yang kau lakukan dengan pakaian dalamku!?"

Nah, kan. Sudah dibilangin barang yang dibawa oleh Natsu itu tidak boleh sembarangan ditunjukkan pada publik.

Yang menjadi korban dari Lucy Kick menatap Lucy tanpa dosa sedikitpun. "Aku hanya menuruti saran Gray, yang katanya aku disuruh bertanya pada yang lebih tua—jadi aku bertanya pada Macao dan Wakaba. Lagian juga jawaban teka-teki Laxus menurut mereka berdua adalah pakaian dalam wanita."

Seketika Gray lemas, begitu juga dengan Laxus. Bagaimana bisa ada orang seperti Natsu yang langsung percaya dengan jawaban yang belum pasti kebenarannya.

"Aku memang menyarankanmu, tapi tidak seharusnya juga kau mengikuti jawaban mereka. Kau tidak berpikir panjang dulu …"

"Lagian juga fetish-ku bukan pakaian dalam wanita, aku nggak seperti Macao dan Wakaba—"

"Heeh!? Memangnya jawaban teka-tekinya apaan sih?" Natsu bertanya pada sang pelempar teka-teki, padahal si pink sudah sangat yakin dengan jawabannya tapi salah besar.

"Freed, tunjukkan barangnya!" Laxus mulai mengeluarkan perintah untuk Freed—yang langsung dibalas dengan anggukan. "Barang ini sangat menyenangkan, barang ini juga sangat disenangi oleh orang di seluruh dunia. Itulah keistimewaan dari—"

Natsu menatap tajam pada Laxus, rasa penasaran kembali terbendung dalam dirinya.

"… uang."

Si pink melongo bukan main saat Freed menunjukkan barang yang dimaksud dari teka-teki Laxus, pasalnya jawaban dari teka-teki itu terlalu mudah tapi ia tidak kepikiran sama sekali. Oh ini bukan keberuntunganmu, Nats.

Si pirang kembali memamerkan seringai kemenangan. "Karena kau salah menjawabnya, sesuai perjanjian kau tidak boleh mendekatiku selama seminggu."

Seketika Natsu drop drastis, pasalnya dirinya gagal untuk yang kali keempatnya untuk meluluhkan hati Laxus. Bahkan sampai ia membiarkan Laxus dan Freed pergi meninggalkan bar.

Dengan hati yang terpaksa, ia mengeluarkan catatan bersampul serupa dengan warna rambutnya.

"Natsu ingin menggoda Laxus — Cara 4: Jawab teka-teki Laxus-chan biar bisa meluluhkan hatinya" GAGAL!