Fairy Tail dan semua karakternya itu asli milik Hiro Mashima!
Saya hanya meminjam beberapa karakternya, plot hasil pemikiran sendiri. Hanya untuk kesenangan semata!
WARNING!
Semi-Canon, Out of Character, Gajeness, Screw EYD, possible typo(s), seme!Natsu Dragneel x uke!Laxus Dreyar, etc …
Didedikasi untuk mengikuti #NulisRandom2015 pada tanggal 07 Juni 2015
"Natsu, pekerjaan kita sudah selesai. Mari pulang!"
Natsu menggangguk kecil. Segera bocah api itu mengemasi semua barangnya dan mengejar Erza yang sudah berjalan lebih dulu.
Kali ini Natsu menyelesaikan pekerjaannya bersama dengan Erza, tidak bersama Lucy dan Gray—mereka ada pekerjaan lain. Jika mereka berdua ada maka Erza harus turun tangan agar si pengguna es dan si bocah api tidak bertengkar—diam-diam Erza bersyukur karena tidak perlu turun tangan.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan beberapa orang yang sangat mereka kenal, orang-orang itu berkumpul dalam satu guild yang pernah mendapat gelar guild terkuat nomor satu di Fiore.
"Sabertooth …!?"
"Yo! Sudah lama tidak bertemu, Natsu-san."
Natsu sangat mengenali suara itu. Seringai tipis terbentuk di wajahnya. "Kau tidak berubah sama sekali, Sting."
Erza mulai mengembangkan senyumannya, sudah lama gadis merah itu tidak melihat lawannya itu. "Lama tidak bertemu, Minerva."
Yang disebut namanya hanya berkacak pinggang. "Kau sama sekali tidak berubah ya, Titania."
Yup, mereka adalah Sting dan Minerva dari Sabertooth. Nampaknya mereka baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan sedang dalam perjalannan pulang. Natsu memberi usul pada Erza untuk istirahat sejenak dan mengobrol sebentar dengan kedua anggota Sabertooth, semuanya pun setuju.
Mereka berempat beristirahat di bawah pohon besar, di mana di depannya ada sebuah danau kecil, menambah kesan hangat dalam suasana di antara mereka. Canda tawa juga ikut menghiasi suasana.
Tidak sengaja mata biru gelap milik Sting menemukan sebuah buku kecil bersampul serupa dengan warna sakura, ia berasumsi bahwa buku itu milik si bocah api. Spontan ia membuka buku itu dan melihat tulisan dalam buku itu, lebih mirip seperti ceker ayam. Sebulir keringat jatuh dari pelipisnya ketika ia selesai membaca tiap untaian kata dalam buku itu—itu juga butuh perjuangan. "Err … Natsu-san?"
Natsu menoleh pada Sting, berdengung kecil sebagai tanda ia menyahuti panggilan dari Sting.
"Ano … Apa Natsu-san sedang dalam rangka mencoba untuk menggoda Laxus-san?"
Yang ditanya mengangguk dengan antusias. "Yup! Walau selalu gagal, tapi aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan hati Laxus-chan!"
"Itu bagus, Natsu!" Erza melipat kedua tangannya di depan dada sembari melemparkan seringai kecil. "Selagi masih muda, memang selayaknya untuk bersemangat dalam mengejar cintanya."
Minerva meminta pada Sting untuk memberikan catatan milik Natsu padanya—dan Sting pun menurut, segeralah gadis itu membaca isi catatan Natsu. Seringai mengejek terbentuk di wajahnya. "Pantas saja kau selalu gagal, bocah. Cara-cara seperti ini sudah kuno."
Sebelah alis Natsu terangkat. "Apa maksudmu?"
"Seharusnya kau gunakan cara yang langsung membuat dia menjadi milikmu, otomatis dia akan jatuh hati padamu."
Kalimat yang dilontarkan oleh Minerva berhasil membuat Natsu sedikit tegang. Kenapa ia tidak kepikiran cara seperti itu.
(Dan Arisa pun berteriak entah dari mana: Karena otakmu dongkol, Nats.)
Erza menatap Minerva dengan penuh penasaran. "Cara apa itu?"
Seringai semakin terkembang di wajah Minerva, gadis itu bangkit berdiri—sehingga harus membuat mereka bertiga sedikit mendongak ke atas. "Caranya adalah kau harus mengajaknya 'bermain' di ranjang, Natsu."
Seketika suasana menghening, semuanya bergeming di tempatnya. Mereka berusaha untuk mencerna kalimat dari Minerva.
Mengetahui maksud dari kalimat Minerva, mereka bertiga berteriak 'APAAA?!' secara bersamaan.
"Kalian baru mengerti maksud kalimatku setelah satu menit berlalu? Oh, hebat sekali kalian," gumam Minerva kecil tidak perlu. "Ya. Cara yang aneh tapi sudah teruji di IGT, dan cara itu manjur banget."
"IGT itu apa, Nona?" Sting kembali berkicau pada Minerva.
"IGT itu singkatan dari Institut Guild Sabertooth."
Sebulir keringat kembali jatuh di pelipis mereka saat mendengar jawabannya.
"Tentu saja cara itu sukses besar-besaran, toh buktinya Orga berhasil mendapatkan Rufus dengan cara itu—di dalam guild pula tuh. Kalo bukan saranku mereka berdua nggak akan bersatu dalam nama cinta."
Dari tadi semua kalimatnya Minerva membuat bulir keringat jatuh, bahkan semakin bertambah.
Tubuh Sting mulai bergetar hebat, seluruh tubuhnya sudah berwarna merah matang, bahkan sampai mengeluarkan asap. "J-j-jadi … suara yang kudengar minggu lalu di dalam guild saat tidak ada seorangpun itu a-a-adalah—"
"Ya kurang lebih sih Orga ngikutin saranku …"
Kedua mata milik Natsu mulai berkilat aneh, segera ia mendekatkan diri pada Minerva. "Apa cara itu bakal berhasil pada Laxus-chan!?" Si bocah api bertanya dengan penuh antusias sehingga air ludahnya muncrat pada Minerva.
"Kalo untuk seorang Rufus aja bisa luluh karena cara itu, mungkin dia juga akan luluh hatinya. Tapi bisa nggak ngomongnya nggak pake kuah?!" Kesabaran Minerva menipis, untungnya saja masih ada sisa kadar kesabarannya.
"Kalo gitu—Erza, ayo kita segera kembali agar aku bisa coba sarannya Minerva!" ujar Natsu semangat. Si bocah api itu dengan cepat merapikan semua bawaan miliknya beserta milik Erza, setelah itu ia berlari sekencang mungkin sembari menarik Erza—membuat yang ditarik histeris, meninggalkan Sting dan Minerva.
Minerva menatap Sting sesaat sembari merapikan barang bawaannya. "Sting, ayo kita ikutin mereka berdua. Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh bocah itu." Dengan tenang ia mulai berjalan, Sting pun mengikutinya dari belakang.
"Jadi ini tempat tinggalnya Natsu-san ya, Erza-san?"
Erza mengangguk kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Sting.
Seperti yang dikatakan Sting, kini mereka—beserta Minerva—telah berdiri di depan rumah Natsu, namun sang pemilik rumah belum ada dalam rumahnya. Mungkin ia sedang mempersiapkannya—pikir mereka.
Minerva merasakan ada keberadaan orang lain selain mereka bertiga, dan ia tahu siapa itu. "Alangkah baiknya kita sembunyi, sebentar lagi bocah itu akan datang."
Sting dan Erza mengangguk mengerti. Kemudian mereka bertiga bersembunyi sembari menunggu orang yang dimaksud Minerva—dan dia benar, kini Natsu sedang menyeret paksa Laxus menuju rumahnya dengan antusias. Bocah api itu selalu terlihat bersemangat.
Minerva memberikan isyarat pada yang lainnya untuk mendekat ke jendela rumah saat pemiliknya sudah berada di dalam rumahnya. Dengan kemampuan sihirnya gadis itu dengan mudah membuka jendela rumah Natsu tanpa ketahuan oleh sang pemiliknya. Kini mereka bertiga dapat melihat jelas apa yang dilakukan oleh bocah api itu.
Mereka melihat Natsu dan Laxus kini duduk di atas tempat tidurnya Natsu. Mereka berdua tergeming dalam diam sesaat. Bocah api itu melihat Laxus sedang mengipasi dirinya sendiri, sepertinya hawa dalam rumah itu panas (tentu saja panas, toh pemilik rumahnya penyihir pengguna api).
"Laxus-chan kalo gerah buka aja mantelnya." Dengan mengembangkan senyuman, Natsu mulai mendekat pada Laxus untuk melepaskan mantel yang dikenakan oleh penyihir pengguna listrik itu, jemarinya juga membukakan kancing kemeja Laxus namun tidak melepaskannya dari tubuh Laxus.
Mati-matian Erza dan Minerva meredam teriakannya saat melihat apa yang dilakukan Natsu pada Laxus. Sepertinya Sting mendapatkan nasib sial—dia berada di antara dua fujoshi, Sting mulai lelah. Semoga saja ia tidak ketiban sial yang lebih para.
Kemudiann Natsu membuka ikat pinggangnya agar ia bisa membuka beberapa kancing bajunya. Sekarang Sting harus berkomat-kamit pada dewa agar ia bisa selamat dari ancaman duo fujoshi itu yang semakin menggila, sampai mereka berdua menginjak kaki Sting yang tak berdosa.
"Ayo Laxus-chan, kita main!"
Laxus sama sekali tidak merespon kalimat Natsu, ia tetap memandang datar bocah api sialan itu yang kini sedang mencari sesuatu dalam sakunya.
Jika Sting tidak menyediakan ember, maka sudah terjadi banjir darah yang dibuat oleh duo fujoshi itu. Beneran kokoro -nya sudah sangat lelah. Bahkan ia sempat mendengar Minerva berkata 'Seandainya aja aku bawa kamera …' yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari Erza. Jika bisa bunuh ia sekarang.
Seketika para pengintip itu melongo, pasalnya apa yang mereka bayangkan kini tidak terjadi di depan mata mereka. Kini Natsu sudah mulai mengocok kartu dan membagikan tujuh kartu pada dirinya beserta Laxus. Beneran melenceng jauh dari apa yang dibayangkan.
"Sudah kuduga, Natsu-san tidak mengerti maksud dari saran Nona …"
Jadi intinya Natsu mengartikan saran Minerva 'bermain di atas ranjang' itu adalah bermain suatu permainan di atas tempat tidur. Sungguh anak bodoh—pikir mereka.
Permainan kartu antara Natsu dan Laxus berlangsung lama, sehingga Sting harus menjadi bantal dadakan untuk Minerva dan Erza yang tertidur. Tentunya pemuda itu merutuki kesialan yang menimpanya.
Setelah permainan mereka berdua selesai, Laxus pergi meninggalkan rumah Natsu tanpa berpamitan pada sang empunya rumah, membuat sang bocah api itu membatu sesaat. Tidak terjadi sesuatu yang dibayangkan olehnya. Sting segera membangunkan kedua gadis yang menjadikannya bantal itu, mereka bertiga pun menghampiri Natsu.
"Kau gagal lagi, Natsu."
Perempatan urat merah kecil muncul di pelipis Natsu saat mendengar pernyataan Erza. "Diam!"
Minerva melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Sepertinya kau salah mengartikan saranku, bocah."
Natsu semakin kesel, karena ini sudah lima kali berturut-turut ia gagal meluluhkan hati Laxus, mata hitamnya menatap tajam pada Sting. "Sting, catat hasilnya dalam buku catatanku!"
Mendapatkan tatapan tajam dari orang yang ia idolakan dulu, tubuh Sting sedikit gemetar. Maka dari itu ia menuruti perkataan dari si bocah api, tangannya mulai mengambil pena dan catatan milik Natsu.
"Natsu ingin menggoda Laxus — Cara 5: Bermain dengan Laxus di atas ranjang (Mengikuti saran dari Nona Minerva)" GAGAL!
