Fairy Tail dan semua karakternya itu asli milik Hiro Mashima!
Saya hanya meminjam beberapa karakternya, plot hasil pemikiran sendiri. Hanya untuk kesenangan semata!
WARNING!
Semi-Canon, Out of Character, Gajeness, Screw EYD, possible typo(s), seme!Natsu Dragneel x uke!Laxus Dreyar, etc …
Didedikasi untuk mengikuti #NulisRandom2015 pada tanggal 09 Juni 2015
Bagi seorang Gajeel saat melihat sang salamander sedang duduk termenung tanpa melakukan sesuatu yang selalu berujung kekacauan itu adalah suatu momen terlangka sepanjang sejarah ia mengenal sang salamander. Sebenarnya si Kurogane Gajeel bisa sedikit tenang karena tidak ada kekacauan yang dibuat oleh salamander, namun rasanya ada yang menganjel.
Gajeel sempat membuat beberapa asumsikan apa yang membuatnya duduk termenung. Apa dia gagal dalam Seleksi Bersama Mendapat Perjaka Terbaru Tanpa Nego—tidak, Natsu masih perjaka. Apa dia kalah saat menantang Erza untuk sekian kalinya—tidak, kalo Natsu menantang Erza lagi maka yang akan terjadi selanjutnya adalah Natsu akan masuk UGD karena telah berhasil merusak kue milik Erza, biasanya. Atau dia belum mendapatkan asupan untuk memenuhi nutrisinya—oke, ini ambigu.
Yeah … otaknya tidak mampu membuat asumsi lagi. Demi menjawab rasa penasaran yang sudah bergelora hebat dalam dirinya, dengan membuang harga dirinya Gajeel segera duduk di sebelah salamander.
"Hei, Salamander! Kalo kebanyakan melamun nanti kesambet lho …!"
"Aku sedang tidak melamun …" Bahkan suara Natsu sudah terdengar seperti orang yang telah kehilangan cahaya hidupnya.
"Kalo gitu kenapa dong? Ini nggak seperti Salamander yang selalu bikin onar di mana-mana."
Seketika air mata Natsu mengalir begitu deras. "Sudah lima kali aku gagal menggoda Laxus-chan. Hueeee~" Refleks ia menarik baju Gajeel dan menggunakannya sebagai tisu untuk mengeluarkan ingusnya—seketika Gajeel merasa mau mandi detik ini juga.
Sebulir keringat jatuh dari pelipis sang Kurogane, guratan hitam mulai memenuhi wajahnya. "… m-maaf karena sudah bertanya—"
Beneran Gajeel sangat menyesal bertanya pada bocah api itu, sekarang ia harus merasakan bajunya kotor karena lendir dari hidung Natsu. Entah apa yang merasuki pikirannya, ia berinisiatif untuk membuat Natsu menggunakan bajunya sebagai tisu.
"Oh ya, aku jadi inget pas Juvia ingin membuat Gray klepek-klepek sama dirinya Juvia berencana untuk memberikan ramuan aneh pada Gray, tapi yang kena ramuan itu malah kamu. Apa kamu inget, Salamander?"
Sesaat Natsu menghentikan acara bernangisrianya, ia sedikit menyiritkan keningnya—berusaha untuk mengingat kejadian-kejadian di masa lampau. "Inget dikit doang sih, memangnya kenapa dengan itu?"
"Coba tanya Juvia ramuan apa yang dia pake pas itu, siapa tahu ramuan itu bisa dipake ke Laxus."
Merasa namanya disebut, Juvia segera angkat suara—yang kebetulan ada di dekat mereka berdua. "Kenapa pake bawa-bawa nama Juvia segala, Gajeel-kun …"
Natsu hening sesaat, kepalanya berusaha untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Gajeel, yang kemudian dihubungkan dengan cerita di masa lalu yang si tukang besi itu maksud. Memang memakan waktu yang sangat lama bagi salamander untuk mencerma semua itu—bahkan sampai Gajeel tidur menunggu respon darinya, namun pada akhirnya sebuah lampu keluar dari kepalanya—tentunya Gajeel terbangun karena hal itu.
"Ide bagus! Tumben banget kok otak kamu encer …"
Urat perempatan merah kecil nangkring di pelipis Gajeel. Dirinya merasa sangat terhina mendengar kalimat Natsu sebelumnya, memangnya selama ini ia tidak bisa berpikir apah—pikirnya.
Tawa aneh yang dikeluarkan Natsu mulai mendominasi suasana. Otaknya mulai memikirkan sebab-sebab yang akan ditimbulkan jika mengikuti saran Gajeel dan kemungkinan besar akan berhasil. Balon imajinasi mulai keluar dari kepalanya.
"Natsu-kun~"
Laxus membuat suaranya dibuat manja. Dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka hingga membuat kulit putih terekspos dengan mudah, ia memasang wajah memelas dan terlihat guratan merah menghiasi wajahnya.
"Sudah lama sekali aku menunggumu, Natsu-kun. Aku ingin sekali kau memilikiku—tapi kenapa lama? Aku tak sanggup jika harus jauh darimu~" Kedua mata Laxus mulai berkaca-kaca, menunjukkan kesedihannya.
Natsu mulai menggenggam kedua tangan Laxus. "Maaf telah membuatmu menunggu lama, aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyampaikannya padamu, aku terlalu malu." Ia sedikit membuang wajahnya, tak lama kemudian kedua matanya menatap dalam sepasang mata hijau gelap milik orang di depannya. "Tapi karena rasa itu telah sirna, kini aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Jadi jangan bersedih seperti itu …"
Perlahan jemari milik Natsu menghapus jejak air mata yang menggenangi kedua mata orang yang dicintainya itu, hingga membuat guratan merah di wajah Laxus sedikit menambah.
"Natsu-kun …"
"Laxus-chan …"
Natsu mulai mengeliminasi jarak di antara mereka berdua, bibirnya berusaha untuk menyentuh bibir milik Laxus yang selama ini ia dambakan sejak ia pertama kali bertemu dnegan sang cucu dari master Makarov ini.
Gajeel dan Juvia hanya bisa menjatuhkan sebulir keringat saat melihat balon imajinasi milik Natsu yang nampaknya sudah harus dibawa ke tukang servis terdekat. Kalo keadaannya begitu, nanti judul cerita ini akan ganti haluan menjadi 'Laxus ingin menggoda Natsu'. Kasihan yang buatnya nanti—pikir mereka.
"Sejak kapan Salamander jadi kayak Juvia? Apa dia kebanyakan nonton Drama Korea dan sinetron-sinetron yang nggak jelas itu …"
"Kenapa Gajeel-kun bawa-bawa nama Juvia lagi …"
Kemudian Natsu mulai memecahkan balon imajinasi yang dibuat oleh dirinya sendiri, mata hitamnya mulai menatap pada Juvia. "Oi, apa kau masih punya ramuan aneh itu? Kalo masih ada, aku minta dikit dong!"
"Eh?" Juvia kan tidak tahu apa-apa, main disembur aja. Mata biru gelap tanpa pupil miliknya sesaat menatap pada Gajeel, meminta suatu penjelasan darinya.
"Itu lho ramuan yang mau kamu pake buat Gray tergila-gila padamu itu …"
Juvia mengangguk antusias. "Oh, yang itu. Juvia masih memilik banyak stok untuk ramuan itu, ya kalo Natsu-san mau sih … Juvia kasih deh."
Seketika Natsu loncat kegirangan, ia segera berjabat tangan dengan Juvia sebagai ucapan rasa terima kasihnya. Juvia hanya bisa berkunang-kunang karena Natsu menjabatnya dengan keras sehingga tubuhnya seperti diterpa oleh angin. Entah kenapa Gajeel merasa menyesal lagi karena telah memberikan saran itu.
"Natsu-san!"
Yang dipanggil namanya segera menoleh ke belakang, mata hitamnya menangkap Juvia sedang berlari ke arahnya sembari membawa sebuah botol aneh dalam genggamannya. "Oh, apa kamu bawain apa yang kuminta?"
Juvia berhenti berlari di depan Natsu, ia berusaha untuk mengumpulkan oksigen yang berkurang selama ia berlari. "Juvia berhasil membawa ramuannya," ucapnya dengan napas tersengal-sengal, tangannya memberikan botol itu pada Natsu.
Dengan sepenuh hati sang salamander menerima botol itu sembari memamerkan senyuman khasnya. "Terima kasih! Ngomong-ngomong, ramuan ini akan bekerja pada orang yang kita beri ramuan ini doang kan? Dan orang itu akan langsung klepek-klepek pada yang memberikan ramuan ini kan ya?"
Jujur saja Juvia gagal paham maksud pertanyaan Natsu yang bertele-tele, jadi ia hanya mengangguk untuk mengiyakan. Yosh! Dengan begini Natsu akan sukses dengan rencananya, tinggal hanya mencari Laxus dan rencananya akan menjadi perfekto.
"Apa kau melihat Laxus-chan, Juvia?"
Yang ditanya menggeleng pelan kepalanya. "Yang kudengar dari Wendy-san, Laxus-san sedang ditugaskan oleh Master untuk memberikan berkas penting pada Sabertooth. Mereka ada di taman—" Belum selesai sang penyihir pemanipulasi air itu menyelesaikan semua kalimatnya tapi Natsu sudah berlari meninggalkannya sendiri, sukses membuat dirinya melongo.
Seperti apa yang dikatakan Juvia sebelumnya, Natsu segera berlari menuju taman hanya untuk menemukan sosok yang dicarinya. Juvia benar—Laxus kini berada di tamandengan Sting, Rogue, dan Yukino bersamanya. Terlihat oleh matanya si pirang sedang memberikan amplop cokelat besar pada Sting—nampaknya itu berkas penting yang dimaksud oleh Juvia.
Elo nggak boleh buang-buang lagi kesempatan emas elo, Nats! Pokoknya elo kudu berhasil dapetin Laxus-chan!
Natsu mengepalkan tangannya dengan penuh semangat saat bisikan aneh itu lewat hingga terdengar oleh telinganya, entah dari mana asal suara itu. Waktunya menjalankan rencananya itu!
"Laxus-chan~"
Si bocah api itu berlari menuju Laxus beserta lainnya tanpa melihat sekelilingnya, sehingga membuatnya tidak sengaja menyandung sebuah batu, membuat secara tidak sengaja botol dalam genggamannya itu terlepas. Botol itu melayang tepat mengarah pada Sting dan Rogue, tentunya mereka berdua sedikit tersentak atas ketibaan botol aneh itu. Mereka berinisiatif untuk menangkap botol tersebut namun usaha mereka nihil sehingga botol itu pecah di hadapan mereka.
"Sting-sama! Rogue-sama!" Yukino tersentak saat melihat kedua rekannya terselimuti oleh asap aneh yang keluar dari botol itu, takut akan terjadi sesuatu kepada kedua rekannya itu.
Lain halnya dengan Natsu, rahang bawahnya sudah jatuh pada lebar maksimal saat melihat isi botol itu menguap, dan syialnya lagi Sting dan Rogue berada dalam radius asap itu lagi. Oh—sang salamander sudah memiliki wirasat buruk tentang ini.
Perlahan asap aneh itu menghilang, memperlihatkan Sting dan Rogue berdiri bergeming, membuat ketiga orang lainnya dilanda rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama kemudian Sting dan Rogue menatap Natsu penuh arti.
"Natsu-san~"
Nah, kan. Nah, kan. Nah, kan.
Wirasatnya Natsu sudah sangat benar, tepat dan akurat. Kini Sting dan Rogue sudah menempelkan tubuh mereka pada sisi Natsu sembari memeluk lengan milik sang salamander. Aura aneh mengelilingi mereka berdua sehingga berhasil membuat Natsu merinding. Kini mereka berdua layaknya seperti anak gadis sekolah yang sedang memperebutkan cowok terketjeh dalam sekolahnya.
Natsu kembali mengeluarkan air mata yang langsung mengalir deras. "Seharusnya kan yang seperti ini kan Laxus-chan~" gumamnya. Seketika ia merutuki kebodohannya.
Laxus yang melihat Natsu sedang digoda oleh Sting dan Rogue, segera ia membalikkan badannya dan segera meninggalkan lokasi insiden terbesar bagi Natsu. "Aku selesai melakukan tugas dari Jiji, sebaiknya aku balik ke guild."
Yukino sedikit mengangguk kecil untuk merespon kalimat dari Laxus, kemudian mata cokelatnya menatap kedua rekannya masih setia memeluk lengan Natsu. Gadis itu sedikit tercengang dengan tingkah laku kedua rekannya yang seketika langsung berubah tigaratus enampuluh derajat itu. Wajahnya mulai memerah. "N-Natsu … sama …?"
Mengerti maksud dari Yukino, segera Natsu membalas, "I-ini nggak seperti yang kamu bayangkan! I-ini melenceng jauh dari harapanku—!"
Sting dan Rogue semakin mengeratkan pelukan mereka, hingga membuat Natsu semakin histeris tak karuan. Dosa dia sudah terlalu banyak sehingga inilah karma untuknya.
Setelah ia bebas dari enemi mereka bedua, tolong ingatkan pada Natsu untuk menulis ini pada buku catatannya:
"Natsu ingin menggoda Laxus — Cara 6: Beri ramuan aneh dari Juvia untuk membuat Laxus-chan klepek-klepek" GAGAL!
