"Kali ini, anak ini saya bebaskan karena korban yang meminta." Pria itu berdiri, menyebabkan kursinya terdorong ke belakang sehingga menimbulkan suara berdecit karena gesekan antara kaki kursi dan lantai.

Chanyeol berdiri, ia berbalik lalu membungkuk dalam kepada seorang nenek di hadapannya. "Maaf, sekali lagi maaf," ia berhenti sejenak, melirik Baekhyun yang sedari tadi terdiam di sampingnya dengan wajah yang tertunduk. Sekali lagi ia berdehem namun Baekhyun masih bergeming, lalu telapak tangan kanan besarnya mendorong kepala Baekhyun dengan kasar hingga anak itu tertunduk.

Baekhyun berjengit, matanya menatap Chanyeol galak, tidak terima dengan perlakuan barusan namun ia hanya mendengus lalu mengusap hidungnya dengan punggung tangan kanan, sedikit meringis karena luka yang bergesek dengan kulit. Ia menggumamkan kata maaf sebelum berlari keluar dari kantor polisi, menyebabkan Chanyeol sekali lagi menunduk pada nenek tua yang terlihat kaget lalu mengejar anak itu dengan frustrasi.

Suara mesin kendaraan yang melaju cepat bersatu dengan hembusan angin, jalan raya yang lengang sesekali beberapa kendaraan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membuat beberapa pejalan kaki sedikit was-wa ketika melewati zebra cross.

Baekhyun memperlambat laju larinya, kemudian berjalan dengan sedikit tertatih karena tiba-tiba kakinya sakit, dengan emosi memuncak sesekali kakinya menendang kerikil yang menyapa ujung kakinya. Walau ia bisa mendengar samar-samar teriakan seseorang yang memanggil namanya, ia mengabaikan hal itu, sesekali meringis karena beberapa luka yang didapati terasa nyeri karena tubuhnya yang bergerak, apalagi tonjokkan di perutnya sangat terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Baekhyun," tepat saat ia mendengar panggilan itu dekat dengan telinganya, seseorang meraih bahunya, membuatnya berhenti dan berbalik. Tentu saja itu Park Chanyeol, tetangga yang mau repot-repot menangkapnya juga menjadi walinya saat di kantor polisi tadi.

"Apa lagi sekarang?" Chanyeol tak menjawab, ia malah berjongkok di depannya, menggulung celana panjang Baekhyun hingga lutut, membuat Baekhyun sedikit kaget hingga dirinya refleks menendang tangan Chanyeol lalu merutuk karenanya.

"Lain kali jangan mencuri. Lihatlah, kakimu terluka," Chanyeol berdiri, berhadapan dengan Baekhyun sementara yang lebih pendek menunduk dalam. Menyadari dirinya melakukan perbuatan yang salah. "Bayangkan kalau aku tidak ada? Kau akan dihabisi massa."

Empat puluh lima sentimeter. Jarak yang semakin dekat seiring mereka bertemu. Namun, tidak dengan hati mereka yang masih jauh. Takdir berkata lain.

"Tapi kau yang memukulku." Baekhyun membuang muka, lalu lanjut berjalan—dengan tertatih, sialnya karena Chanyeol yang menyadarkan kakinya terluka, kini rasa nyeri itu merambat ke seluruh tubuhnya.

"Kenapa mencuri?" Chanyeol mengikuti di belakang, sambil memperhatikan sosok Baekhyun yang terlihat rapuh ketika berjalan. Seolah di pundaknya bertengger beban besar yang siap menghancurkan setiap inci tubuhnya.

"Kenapa kau repot-repot mengurusiku?"

"Karena aku peduli."

Hening. Tidak lagi yang berucap. Jalan ini menuntun mereka ke apartemen, jaraknya masih lumayan jauh dan Baekhyun sudah merasa kakinya seolah akan hancur jika ia berjalan beberapa meter lagi. Jadi ketika sebuah taman sudah menyapa jarak penglihatannya, ia menghela nafas lega. Ia bisa beristirahat sejenak di sana.

"Jawab pertanyaanku yang tadi, hey." Chanyeol masih menunggu, masih mengekor di belakang Baekhyun. Sedikit menjaga jarak. "Kalau kau butuh uang, setidaknya carilah pekerjaan. Jangan seperti ini lagi. Memangnya orang tuamu mengajarimu mencuri? Kau di sekolahkan untuk apa?"

Baekhyun tetap diam tak menjawab. Ingin sekali ia berteriak pada orang di belakangnya, tetapi tenaganya sudah terlalu terkuras ditambah lagi nyeri yang melekat di seluruh tubuhnya.

"Kau hidup di lingkungan seperti apa sih? Sampai beraninya merampok wanita paruh baya yang bahkan sudah bau tanah. Apa kau tidak kasihan barang sedikit pun? Tidak punya hati?"

"Ya memang, aku tidak punya hati. Tidak punya perasaan dan rasa kasihan. Hal itu sudah ku lempar jauh-jauh dari diriku. Aku sepenuhnya mati." Akhirnya Baekhyun membalas, masih terus melangkah tanpa berbalik atau bahkan menoleh.

"Jangan lakukan hal itu la—"

"Oh, hey ayolah. Siapa dirimu? Kau bersikap seolah-olah aku ini anakmu sendiri. Memangnya kita punya hubungan apa? Hanya tetangga, tidak lebih. Jangan ikut campur urusanku." Kali ini dia berbalik, membuat Chanyeol menghentikan langkahnya, menyisakan jarak 1 meter di antara keduanya.

"Bibirmu mungkin memang berkata seperti itu. Tapi matamu mengelak semua yang kau katakan. Mata tidak bisa berbohong. Aku tahu kau menjerit meminta seseorang untuk menemanimu, sudah baik aku bersedia dan kau malah seperti ini."

"Aku tidak memintamu," Baekhyun mendengus, bibirnya mengulas sebuah senyum meremehkan.

"Aku hanya ingin membantu."

"Wow, terima kasih atas perhatianmu."

Satu detik kemudian, kerah t-shirt yang di kenakan Baekhyun sudah ada di tangan Chanyeol. 10 senti jarak antara hidung mereka, nafas yang memburu serta tatapan mata yang bertabrakan ditemani suasana hening yang tidak mengenakkan.

"Aku berusaha baik padamu, Byun."

"Aku tidak suka seseorang yang ikut campur dalam kehidupanku."

"Bagaimana bisa aku tidak ikut campur setelah melihatmu seperti ini? Kenapa? Kenapa wajah ini selalu di penuhi luka dan goresan?" Chanyeol mengusap pipi kanan Baekhyun yang tergores dan lebam dengan jari telunjuknya dengan perlahan, membuat si empunya meringis menahan sakit. "Kenapa wajah ini tidak pernah tersenyum sekalipun? Kenapa kau sangat acuh? Aku tahu kau sendirian, aku pun begitu." Cengkraman itu melonggar seiring helaan nafas panjang Chanyeol dilepaskan.

Baekhyun membuang wajahnya ke kanan, meludah lalu berbalik dan berjalan. Membuat Chanyeol menghela nafasnya untuk sekian kali, hanya diam melihat kaki-kaki itu berjalan menjauh. Seiring dengan angin malam yang berhembus, Chanyeol menengadah ke atas, melihat langit malam dengan kelipan bintang yang berseri. Tidak saat ia mendengar suara sesuatu terjatuh berbenturan dengan aspal, saat ia menolehkan kepalanya pada sumber suara, ia mendapati Baekhyun yang tergeletak di jalan. Lalu ia segera berlari menghampiri Baekhyun.


"Rasa rindu akan tawanya sangat menyakitkan."


"Kyungsoo, Kyungsoo..." alis Chanyeol berkerut, matanya menyipit untuk melihat tiap kata di layar ponselnya. Mencari kontak Kyungsoo.

Sungguh dirinya tidak tahan akan pertanyaan-pertanyaan yang terus menerus bermunculan di benaknya tentang Baekhyun.

Untuk apa kau repot-repot mengurusi orang lain?

Ia berhenti saat sudah mendapatkan kontak yang dimaksud, juga saat suara itu menggemakan sebaris kalimat di otaknya. Benar, untuk apa? Untuk apa ia mengurusi orang yang tidak punya sopan santun? Untuk apa repot-repot ikut campur masalah orang lain?

Chanyeol menggelengkan kepalanya, menepis semua itu dan memantapkan dirinya untuk hal ini karena dia sudah terlibat.

"Kyungsoo?"

"Ya, aku sendiri."

"Ini Park Chanyeol,"

"Oh, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak, aku hanya ingin bertanya. Bisakah kita bertemu?"

"Maaf, beberapa hari ke depan aku sangat sibuk. Sungguh. Tanyakan saja lewat telepon sekarang,"

Jadi, Chanyeol bertanya, terus berucap semua pertanyaan yang mendesak keluar dari benaknya. Dan, beberapa kali ekspresi Chanyeol berubah saat mendengar penuturan Kyungsoo di seberang telepon. Mengangguk-ngangguk saat sudah mengerti semua ini.

Baekhyun yang dulu jauh berbeda dari sekarang. Sungguh, penuturan Kyungsoo akan betapa menyenangkannya Baekhyun yang dulu membuatnya penasaran. Bahkan saat Kyungsoo tiba-tiba bercerita tentang perbuatan konyolnya bersama Baekhyun, ia ikut tertawa.

"Tawanya itu menular. Kau akan rindu dengan dirinya yang sedang tertawa lepas jika kau menjadi diriku."

Semakin Kyungsoo bercerita, ia semakin iba. Kesedihan itu seakan menular melalui gelombang telepon pada Chanyeol, membuat nafasnya sesak saat mendengar kisah tak menyenangkan tentang Baekhyun.

Dari itu, saat Kyungsoo memutus sambungan telepon. Chanyeol semakin ingin melihat Baekhyun tertawa atau setidaknya tersenyum. Anak itu hanya sedang mencari tempat untuk pulang, untuk melepaskan seluruh penat, untuk mengeringkan tiap air mata yang menganak sungai di pelupuknya, untuk melupakan rasa sakit karena di buang.

Chanyeol bersedia untuk menjadi tempatnya pulang.

Namun, apa Baekhyun menginginkannya?


Sekali lagi Baekhyun mengusap sudut bibirnya, meludah lalu kembali menyeringai. Manik almond berbingkai kelopak sempit itu menatap sengit kepada orang di hadapannya.

Ini yang dia inginkan. Rasa sakit yang candu. Membuatnya merasa hidup. Dia harus berterima kasih kepada tiga orang ini kemudian, saat urusan mereka selesai. Saat mereka bertiga tumbang atau lebih buruknya saat dirinya tumbang.

Dia suka hal ini, mencari masalah dengan berandal di sudut-sudut jalan lalu berkelahi. Sepuluh menit lalu ia sedang menendang vending machine untuk mendapatkan sekaleng soda, dan tiga menit berikutnya kaleng soda kosong miliknya sudah mendarat di salah satu kepala dari tiga berandal itu, membuat dua orang di kanan kirinya ikut berjalan ketika salah satu dari mereka mulai marah. Bukannya kabur, Baekhyun malah tertawa, tersenyum remeh, mengejek, menantang, sehingga membuatnya berada di perkelahian tak berguna ini.

Inilah dirinya sekarang, selama beberapa seminggu sejak ia pindah. Berkeliaran setelah selesai bekerja menjaga sebuah minimarket, entah itu sekedar berjalan-jalan atau mencari masalah seperti sekarang, yang jelas ia ingin merasa hidup.

Adalah saat pikirannya tiba-tiba terbesit sebuah ingatan, membuyarkan konsentrasinya dan sesaat kemudian sebuah bogem mentah mendarat di pipinya, membuat dirinya tumbang menghantam tanah. Belum sempat ia berdiri, tiga pasang kaki menendang tubuhnya secara bergantian, tangannya refleks membuat barikade untuknya walau itu percuma.

Baekhyun mengambil nafas perlahan, masih terbaring di tanah. Ketiga orang itu sudah pergi, dan tubuhnya masih terlalu sakit untuk sekedar berdiri. Ini sudah malam dan mana mungkin seseorang lewat tanah kosong yang terbengkalai ini. Hanya suara jangkrik serta lampu jalan yang berkedip, dinding besar dari beberapa pertokoan, hembusan angin yang menerbangkan tiap suasana kelabu.

Untuk saat ini, ia mendengar samar-samar suara seseorang meneriakkan namanya. Ia pikir itu hanya halusinasi otaknya saja, jadi Baekhyun mengabaikan hal itu. Namun saat ia melihat bayangan mendekat padanya, ia mulai siaga, segera bangkit untuk sekedar mendudukkan dirinya walau akibatnya ia harus merasakan sakit.

"Baekhyun?" suara berat, memanggil namanya dalam dekapan malam.

Baekhyun mengusap matanya, untuk benar-benar melihat siapa sosok yang barusan memanggil namanya. Orang itu, berdiri di hadapannya, tinggi, dan tegap, wajahnya terkena sinar lampu jalan sehingga ia bisa mengenali wajahnya.

Itu Chanyeol. Tetangganya.

"Kutebak pasti habis berkelahi," kali ini Chanyeol mengambil kesimpulan sepihak, berdasarkan fakta tentang Baekhyun yang selalu babak belur. "Aku bisa memapahmu, atau mungkin menggendongmu jika itu benar-benar sakit." Lanjutnya.

"Tidak perlu."

"Kenapa kau berkelahi?"

"Tidak ada."

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu,"

Chanyeol menghela nafas, masih menatap sosok Baekhyun yang masih terduduk di hadapannya. Bahu yang lebih sempit darinya itu terlihat rapuh di matanya, sosok yang berbalut baju yang lusuh dan kotor, wajah sendu yang tergores. Mungkin kalau anak ini mau terbuka olehnya, ia bisa membantu.

Chanyeol hanya ingin membantu.

"Apakah kau—"

"Aku tidak mencuri,"

Chanyeol tersenyum tipis. Ia tahu kalau yang dikatakan Baekhyun adalah kejujuran. Dia membantu Baekhyun untuk berdiri, walau awalnya Baekhyun bersikeras tidak mau, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong.

Jadilah Chanyeol memapah Baekhyun untuk berjalan. Sesekali melemparkan pertanyaan yang dijawab singkat. Malam yang semakin larut lamat-lamat membuat kantuk menyerang. Namun saat Chanyeol melewati kedai makanan, ia berhenti, karena kebetulan perutnya meronta minta di isi. Menawarkan Baekhyun untuk sekedar istirahat.

"Pesanlah, aku yang bayar." Chanyeol duduk di salah satu bangku, diikuti Baekhyun yang duduk di hadapannya.

"Aku bisa bayar sendiri, aku sudah bekerja."

"Baguslah kalau begitu."

Dua porsi samgyetang sudah tiba di meja mereka. Tanpa sepatah kata diucapkan karena sibuk mengisi perut. Chanyeol makan dengan tenang, berbeda dengan Baekhyun yang beberapa kali memegang lengan kanannya yang memar, terasa nyeri dan sakit saat di gerakkan. Chanyeol hanya melihatnya, tidak berniat membantu. Jadilah ia makan dengan perlahan sembari memperhatikan Baekhyun.

"Kau kesusahan," ucapnya sambil menaruh sumpit di samping mangkuk yang kosong.

"Diamlah, aku sedang berusaha,"

Chanyeol menopang dagunya dengan telapak tangan, mengamati Baekhyun di hadapannya. Sedikit iba bagaimana ekspresi kesakitan itu muncul di wajah Baekhyun saat ia menggerakkan tangan atau tanpa sengaja membentur meja.

"Kau tahu, kau tidak perlu memikul semua beban itu sendirian." Chanyeol meneguk air putih hingga setengah gelas.

"Iya, ayah." Ujar Baekhyun dengan nada ditekan saat menyebut 'Ayah' walau dirinya masih sibuk dengan porsi makanan yang tinggal sedikit.

"Hei, aku terlalu muda untuk menjadi seorang ayah."

"Kau terlihat seperti bapak-bapak, bagiku."

"Di luar sana masih banyak anak yang lebih tidak beruntung darimu,"

"Aku tahu." Baekhyun menggebrak meja dengan pelan, tidak suka arah pembicaraan ini.

"Kau tidak boleh seperti itu pada Kyungsoo, dia orang yang baik."

"Ya, memang."

Setelah itu tidak ada yang membalas ataupun berbicara. Baekhyun sudah selesai dengan makanannya, jadi mereka pergi untuk membayar. Tidak ingin berlama-lama di sini karena malam semakin larut dan waktu semakin berlalu.

Mereka berjalan beriringan dalam keheningan malam, di bawah langit dengan bintang-bintang yang berkelip. Kalau saja semua lampu di kota ini mati, pastilah langit penuh dengan hamparan bintang yang membentuk rasi-rasi.

Tampilan luar gedung apartemen mereka selalu terlihat seram, karena cat yang gelap serta gedung yang tua. Tapi, itu bukan masalah bagi Chanyeol, ia menyukainya, terutama pohon Tabebuya yang tertanam kokoh di halaman. Ranting berbunga putih yang selalu menyambutnya ketika membuka jendela, ia menyukai hal itu. Sayangnya lift di gedung ini sudah rusak, dan tak kunjung di reparasi. Jadi mereka harus berjalan menaiki tiap anak tangga untuk mencapai lantai atas.

"Kau kesusahan," ucap Baekhyun saat melihat Chanyeol yang dengan seluruh tenaga menaiki tangga sambil memapah dirinya.

"Katamu kau sudah bekerja? Apa bosmu tidak heran melihat karyawannya babak belur setiap hari?" Chanyeol malah bertanya, membuat Baekhyun memutar bola matanya.

"Tak apa, dia tidak setiap hari ada. Lagi pula aku hanya menjadi kasir sebuah minimarket. Dari jam sembilan pagi hingga delapan malam,"

"Wow, tidak bergantian shift kerja? Bagaimana kau mendapatkan pekerjaan itu? Apa pembeli tidak bertanya apapun?"

"Tidak, hanya aku yang bekerja. Aku hanya beruntung." Baekhyun melirik secarik kertas yang ditempel di dinding, bertuliskan angka 2. Tinggal tiga lantai lagi dan dia bisa istirahat.

"Aku selalu ingin pergi ke Hokkaido, kau tahu?"

"Ah, kau serius?"

"Ya, tentu. Aku ingin merayakan tahun baru di Paris,"

"Tadi kau bilang Hokkaido."

"Kalau kau bagaimana? Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" Chanyeol bertanya, tanpa henti, membuat Baekhyun meringis di dalam hati, karena sejujurnya ia terlalu lelah untuk menanggapi.

"Tahun baru, aku ingin melihat kembang api," jawab Baekhyun.

"Itu saja? Apa tidak a—ah, akhirnya lantai lima." Chanyeol menghela nafas. Kakinya terasa keram.

Tinggal beberapa meter lagi dan mereka bisa berbaring di kasur masing-masing. Chanyeol semakin mengeratkan tangannya pada pinggang Baekhyun, sementara tangan kiri Baekhyun masih setia merangkul bahunya.

"Nah, mana kuncimu?" mereka berhenti, di depan kamar nomor 058.

"Buka saja, tidak ku kunci." Baekhyun mengulurkan tangan kanannya, meraih kenop pintu lalu membukanya.

"Itu berbahaya." Chanyeol menjulurkan kaki kirinya, menendang pelan pintu kayu tersebut untuk membuka lebih lebar, lalu tangan kirinya meraba dinding untuk mencari tombol lampu.

Lampu menyala. Chanyeol menghela nafas dan menuntun Baekhyun untuk tidur di matras kecilnya.

"Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Aku lelah,"

"Aku tidak memintamu menemaniku,"

Chanyeol merenggangkan tubuhnya, menyunggingkan senyuman sebelum keluar dari apartemen Baekhyun. Namun sebelum dirinya benar-benar menghilang di balik pintu, dia berbalik dan berkata, "Hari Minggu, empat hari lagi, temani aku ke taman. Aku juga akan mengajak temanku, itu pun kalau dia mau. Tidak ada penolakan. Selamat malam."

"Terserah," Baekhyun membalasnya. Dia pun tak tahu kenapa.

Chanyeol mengulas senyum tipis, sekali lagi mengatakan selamat malam sebelum menutup pintu.

.

Hari Minggu. Yang berarti hari libur dan waktunya beristirahat merontokkan semua lelah yang menggantung. Hari beranjak sore dan saat Baekhyun hendak memasuki apartemennya, dia mendengar suara pintu dibuka, kamar sebelah. Lantas dia menolehkan kepalanya, tentu saja itu Chanyeol, dengan senyum mengembang dan wajah sumringah.

"Hei, kau sudah siap?"

Baekhyun menghela nafas, meniup rambutnya yang jatuh di dahi hingga tertiup ke atas. Dia mendengus, sungguh, orang ini seperti anak kecil yang senang bermain. Jadilah dia mengangguk, mengiyakan.

Jaraknya hanya beberapa blok dari sini. Chanyeol berinisiatif menggunakan sepeda, sayangnya dia tidak punya. Tapi dia tak habis akal, dia ingat kalau Luhan punya sepeda. Jadi dia mengetuk pintu Luhan sebelum pergi, disambut dengan senyuman dan sapaan yang terlewat ramah. Dia menghela nafas lega, Luhan benar-benar baik. Namun, hanya ada satu sepeda jadi salah satu dari mereka harus di bonceng. Tentu saja itu Baekhyun.

Angin yang berhembus, bertambah kencang saat Chanyeol mengendarai sepeda menembus udara. Baekhyun tertawa, dia suka saat adrenalinnya terpacu. Jadi jangan heran kalau mereka terjatuh, Baekhyun malah tertawa dan meminta lagi. Memang, aneh. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi, karena Chanyeol merupakan pengendara yang baik.

Banyak orang yang sedang bersantai, mengobrol, bersepeda, atau hanya sekedar duduk-duduk di rumput maupun bangku taman, diiringi suara tawa dari beberapa anak kecil yang sedang bermain. Chanyeol menyukai hal ini, dia sangat suka mendengar suara orang tertawa.

"Lalu sekarang apa?" suara Baekhyun membuyarkan lamunannya, Chanyeol berbalik dan menyunggingkan senyuman terbaiknya, membuat Baekhyun canggung, antara takut dan memaksakan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Terlihat aneh.

"Katanya dia sedang membeli sesuatu, tunggu saja."

"Dia?" Baekhyun menautkan alisnya bingung, kurang paham akan kata-kata yang diucapkan Chanyeol.

Namun, seiring Chanyeol yang meneriakkan nama seseorang lalu berbalik. Dia tahu, dan rasa bersalah itu muncul kembali. Saat seseorang yang lebih pendek darinya, membawa kantung plastik di tangannya, dengan mata doe yang membulat sempurna, berlari ke arah mereka. Lalu menghambur ke pelukan Baekhyun.

"Bagaimana kau—"

"Jangan lari dari aku lagi, Baek." Kyungsoo memotong kalimat Baekhyun. Kepala yang ditenggelamkan di bahu sahabatnya.

Chanyeol berdehem, membuat Kyungsoo sadar dan melepas pelukannya lalu beralih berterimakasih sambil membungkukkan badan berkali-kali pada Chanyeol. Begitu Baekhyun mengambil ancang-ancang untuk kabur, Chanyeol terlalu cepat memegang pergelangan tangannya sehingga rencananya gagal.

"Kau tidak boleh kabur dari ini. Kyungsoo jauh-jauh naik bus untuk sampai ke sini dan sikapmu seperti ini? Mana rasa terima kasihmu?" Baekhyun menunduk saat Chanyeol mengatakan itu. Jadilah mereka berjalan ke salah satu pohon rindang dan duduk di bawahnya.

"Kau masih suka berkelahi, Baekhyun? Kau tidak sayang dengan tubuhmu?" ucap Kyungsoo saat mendapati wajah Baekhyun yang masih saja terdapat goresan serta bekas luka, dia merogoh kantung plastik yang dibawanya, tiga kaleng soda dan ia membagikan itu.

"Berhenti membantuku dan ikut campur urusanku," Baekhyun menerima sekaleng soda itu, membuka tutupnya lalu meneguknya. "Kau tahu, kalau kau dekat-dekat denganku, nanti hal itu terjadi lagi,"

"Yang lalu biarlah berlalu," ucap Kyungsoo.

"Maaf menginterupsi, apa maksudnya hal itu." Chanyeol berucap, dengan ekspresi bingung terlukis di wajahnya.

Kyungsoo menatap Baekhyun, dia menggeleng namun Kyungsoo malah tersenyum. "Dia sudah membantuku bertemu denganmu, dia juga sudah membantumu bukan? Kurasa tidak apa-apa jika Chanyeol mengetahuinya," Kyungsoo melirik Chanyeol, dia mengangguk mantap.

"Well, terserah. Yang lalu biarlah berlalu," Baekhyun membuang wajahnya, mengulang perkataan Kyungsoo beberapa saat yang lalu.

"Sepertinya sudah mau musim gugur ya, agak dingin di sini." Kyungsoo menengadahkan kepalanya, menatap dedaunan hijau yang terkait pada ranting.

"Tentu saja, ini Agustus." Sahut Baekhyun.

Baekhyun sungguh tak menyangka, bagaimana bisa Chanyeol dan Kyungsoo bisa saling mengenal. Padahal seingatnya, Kyungsoo hanya menitipkan beberapa barang bukan?

Jadi, dia membiarkan bibir Kyungsoo berbicara. Bahwa Kyungsoo pernah sengaja terlibat dalam perkelahian Baekhyun dengan empat orang berandal, padahal Baekhyun sudah memperingatkan Kyungsoo, jangan pernah mencarinya. Dan, hal itu terjadi, saat salah satu orang tersebut mengacungkan pisau, mengenai Kyungsoo tepat di perutnya. Dia pingsan, terbangun di rumah sakit. Dan saat ia mencari, Baekhyun sudah tidak ada.

"Jadi, karena itu kau kabur?" potong Chanyeol.

"Tidak hanya itu," balas Baekhyun.

Kyungsoo menyenggol lengan Chanyeol yang berada di samping kirinya, berbisik tentang pembicaraan mereka beberapa Minggu lalu saat Chanyeol menelepon Kyungsoo untuk bertanya tentang Baekhyun. Chanyeol menepuk dahinya, dia sepenuhnya lupa akan hal itu.

"Apa yang kalian bicarakan?" Baekhyun menangkap sesuatu yang disembunyikan, dia angkat bicara dan memicingkan matanya pada Chanyeol dan Kyungsoo.

"Tidak ada,"

Baekhyun menghela nafas, mengurut dahinya yang tiba-tiba pening, "baiklah, Kyungsoo. Aku tahu kau sudah mengungkapkan semuanya pada si telinga besar ini."

Kyungsoo menunjukkan senyumannya, lalu menggumamkan kata maaf. Baekhyun menatap Kyungsoo maklum, lalu bergantian melempar pandang pada Chanyeol, yang dibalas dengan senyuman penuh deretan gigi, membuat Baekhyun ingin mencakar wajah Chanyeol yang malah terlihat creepy saat itu juga.

"Masa lalu adalah masa lalu, semua orang pasti punya kenangan yang ingin mereka hapus dari memori mereka." Chanyeol tersenyum simpul.

Baekhyun terdiam, merenungi kalimat yang diucapkan Chanyeol barusan. Kemudian dia menatap Kyungsoo sendu, menunduk dan menggumamkan kata maaf.

Kyungsoo tersenyum, memamerkan deretan giginya pada Baekhyun. Chanyeol pun mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan batang pohon, meluangkan space untuk kedua orang di kanan kirinya. Dengan itu, Baekhyun langsung menghambur ke pelukan Kyungsoo, menggumamkan kata maaf berkali-kali sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Kyungsoo.

Baekhyun melepaskan pelukannya, memamerkan deretan gigi-giginya. Bersamaan dengan itu, angin berhembus, menerbangkan helaian rambutnya. Ini layaknya terpenjara dalam waktu, saat hal-hal di sekitar seperti melambat. Chanyeol tersenyum, menikmati pandangan di hadapannya. Baru pertama kali ini dia melihat Baekhyun tersenyum, tanpa dipaksakan, walau di wajahnya terdapat beberapa bekas luka, hal itu tak mengganggu keindahan yang terpancar dari senyumnya.

Hal favoritnya bertambah satu. Senyuman tetangganya, Baekhyun.

"Jadi, aku sangat berharap bantuanmu, Chanyeol-ssi, atau Hyung?" Kyungsoo menoleh, menatap Chanyeol sementara yang di tatap hanya memasang wajah bingung.

"Ajusshi," Baekhyun menginterupsi, mendapatkan tatapan galak Chanyeol.

"Hyung, Hyung saja. Dan, bantuan apa?"

"Kalau anak ini berulah lagi, hubungi aku." Kyungsoo membuat gestur telepon dengan tangan kanannya.

"Kenapa tidak langsung dengan orangnya saja?"

"Baekhyun tidak punya ponsel," balas Kyungsoo, melemparkan pandangan pada Baekhyun begitu juga dengan Chanyeol.

"Uangku habis untuk membayar sewa apartemen," Baekhyun mengangkat bahunya acuh.

Pukul lima sore, pertemuan mereka berakhir. Kyungsoo yang merupakan mahasiswa baru, tentunya sibuk, apalagi besok hari senin. Jadi, dia pamit pulang.

Baekhyun senang, setidaknya dia tahu kalau Kyungsoo masih ada untuknya. Dan tentu saja, Park Chanyeol yang kini mengambil peran besar dalam kehidupannya. Menjadi seorang tetangga, berperan layaknya seseorang yang sangat didambakan olehnya, sebagai seorang Ayah. Ya, Ayah. Mengingat Ayah kandungnya sendiri tidak pernah sekalipun berperan sebagai seorang Ayah untuknya, apalagi setelah Ibunya meninggal. Rumah tempatnya pulang sudah berubah seutuhnya menjadi neraka.


"Kertas hitamnya lepas saja, apartemenmu gelap sekali jadinya."

"Burung kertas ini lebih baik di satukan pakai tali, lalu digantung di langit-langit."

"Kau makan apa?"

"Sayang tuh, wajahmu penuh luka seperti itu."

"Playermu ada lagu bagus tidak?"

Baekhyun merasa pening seketika merasuki kepalanya. Jadi, hal seperti inilah yang Kyungsoo rasakan dulu ketika ia banyak bicara. Ia mengerti kenapa Kyungsoo sering berteriak padanya dulu.

Chanyeol, dengan seenaknya membawa Jongin dan Luhan ke dalam apartemen Baekhyun. Lebih tepatnya memaksa Baekhyun yang awalnya tidak ingin ada seorang pun bertamu ke dalam apartemennya, jadi mau.

Salahkan Chanyeol yang kini sedang melipat-lipat kertas, mencoba membuat burung kertas seperti yang dibuat Baekhyun.

Akhir pekan yang lain, saat musim panas telah digantikan oleh musim gugur. Dedaunan yang hijau pun menguning. Baekhyun menghalau sinar yang menusuk matanya, saat kertas hitam yang ia tempel untuk menghalau cahaya dari jendela, dilepas begitu saja oleh Jongin.

"Tidak ada cahaya matahari itu tidak sehat,"

Sedikit risih, karena ini pertama kalinya ia bertemu Jongin dan Luhan. Namun ada sedikit perasaan senang yang mendesak keluar untuk di ekspresikan. Dia sangat merindukan saat-saat berisik dengan teman-temannya.

"Baekhyun, berapa umurmu?" Luhan bertanya, dengan mulut yang penuh keripik kentang.

"Dua puluh," jawab Baekhyun singkat.

"Ah, benarkah?"

"Aku dua tiga, kau harus memanggilku Hyung, okay?" itu Jongin, yang dengan bersahabatnya merangkul bahu Baekhyun.

Kehangatan menjalar dari hatinya menuju seluruh tubuh. Sangat damai pula menenangkan kala berbicara lepas seperti ini. Berbeda dengan tiga bulan yang lalu, saat Chanyeol mengajaknya berbicara. Kala itu, hatinya sedang dalam suasana buruk, jadi dia tidak banyak menjawab, bahkan membentak.

"Aku dua empat, tidak pantas jadi ayahmu." Chanyeol menghampiri Baekhyun, Jongin, dan Luhan. Membuat lingkaran sehingga sekarang mereka terlihat seperti anak remaja yang sedang bergosip.

"Tapi Chanyeol, suaramu seperti bapak-bapak." Ucap Luhan yang berujung dengan Chanyeol yang menampar punggungnya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, Luhan meringis, Jongin tertawa, Chanyeol menekuk wajahnya.

"Sebentar lagi aku berulang tahun, apa kalian sudah menyiapkan hadiah untukku? Dua tujuh November, aku ingatkan kalau kalian lupa." Jongin dan Luhan memutar bola mata bersamaan, melemparkan tatapan 'kau-terlalu-percaya-diri' pada Chanyeol.

"Masih Oktober," ucap Jongin.

"Daripada membeli hadiah untukmu, lebih baik aku membeli baju hangat." Tambah Luhan.

"Untukku?"

"Tentu saja untuk diriku, bukan kau." Luhan mendorong wajah Chanyeol yang terlalu dekat dengannya, sedikit kasar.

"Baekhyun, dari tadi kau terdiam? Ingin buang air?"

Sungguh, Baekhyun ingin sekali menggunting bibir Chanyeol yang seenaknya mengeluarkan kata-kata, walau di satu sisi dia juga terkekeh dengan kalimat bodoh yang Chanyeol lontarkan.

Begitulah hari mereka, dengan obrolan-obrolan tidak penting namun menyenangkan.

Hal ini yang Baekhyun rindukan, berbincang lepas dengan seorang atau beberapa orang teman. Lama sekali ia tidak merasakan hal itu. Dan sesaat ia ingat teman-temannya dulu, apa ia sudah benar-benar dilupakan? Apa hanya Kyungsoo yang ingat akan dirinya?

Ah, entahlah. Dia terlalu lelah untuk memikirkan hal itu. Tekadnya harus tetap kokoh, melupakan hal yang mengerikan dan memulai lembaran baru dalam suasana yang baru.


Musim gugur yang menenangkan saat kau melihat dedaunan lepas perlahan dari ranting, tertiup angin hingga berakhir di tanah, tertiup angin terus begitu hingga lelah. Hal yang indah adalah melihat warna kering dari daun, yang membentuk gradasi indah dari jenis pohon yang berbeda. Membingkai jalan di kanan dan kiri, menghujani orang-orang yang lewat di bawahnya dengan lembaran daun yang gugur.

Baekhyun meringis saat Chanyeol menempelkan kapas yang dibasahi alkohol ke luka di lengannya, yang ia dapatkan lagi-lagi saat berkelahi. Dia tidak bisa melepaskan hal yang sudah menjadi kebiasaan baginya, walau berkali-kali Chanyeol memarahinya. Toh, orang itu masih mau mengobati lukanya.

"Kau harus menjaga hal yang diberikan Tuhan dengan hati-hati, jangan kau rusak seperti ini." Chanyeol menaruh kapas lalu mengambil obat merah.

Baekhyun mendengus lalu berkata, "iya, ayah."

Sungguh dia sudah terbiasa dengan Chanyeol yang menasehatinya setiap kali ia memergoki Baekhyun pulang dengan luka-luka yang baru.

Chanyeol sudah seperti Kyungsoo. Tapi Kyungsoo saat dulu Baekhyun belum lari dari dirinya. Atau mungkin peran Chanyeol sudah lebih besar dari Kyungsoo, yang hanya beberapa kali berkunjung padanya tiap bulan. Dia mengerti, Kyungsoo itu seorang mahasiswa, dan lagi dia termasuk murid teladan yang tidak mungkin membolos mata kuliah, dan pasti hari atau pun jam kosongnya lebih baik ia habiskan dengan membaca buku.

"Nah, sudah selesai." Chanyeol membereskan peralatannya, namun matanya menangkap pada kantung plastik berukuran sedang di samping Baekhyun, yang sedari tadi terabaikan sejak Baekhyun meletakkannya dan ia mengobati luka-luka Baekhyun. "Apa itu?" tanyanya.

"Ah, ini." Baekhyun meraih kantung plastik di sampingnya, mengambil dua buah kotak yang rusak hampir tak berbentuk. Satu berwarna cokelat dan satu lagi abu-abu.

Chanyeol memasang wajah bingung, menunggu Baekhyun untuk berbicara lagi.

"Selamat ulang tahun," ucap Baekhyun saat membuka kotak berwarna cokelat, di dalamnya terdapat sebuah kue yang setengahnya hancur. "Tadi ada seseorang yang menabrakku, ini jatuh, lalu kupukul dia." Lanjutnya.

"Maaf,"

Chanyeol tersenyum simpul, "tak apa. Terima kasih, ku kira kau tidak tahu kapan ulang tahunku." Chanyeol menaruh telapak tangan kanannya di pucuk kepala Baekhyun, mengacak rambutnya gemas.

"Sekarang kau dua lima?" tanya Baekhyun, sementara tangannya merogoh saku jaket yang masih ia kenakan. Mengambil sebuah lilin dengan pematik apinya.

Baekhyun menanam lilin kecil berwarna merah itu di tengah-tengah kue, walau sudah hancur sebagian, dia tidak ingin usahanya sia-sia. Ia mematik api lalu menyalakan lilin, "tiup dan buatlah permintaan."

Untuk kedua kalinya Chanyeol mengusak rambut Baekhyun, tersenyum lebar pertanda ia senang. Lalu Chanyeol meniup api yang membakar pucuk lilin dengan mata yang terpejam. Setelah itu, dia bertepuk tangan.

Baekhyun tersenyum, matanya membentuk bulan sabit dan gigi-giginya dia pamerkan pada Chanyeol. Dia senang, usahanya menyisihkan sebagian hasil kerjanya menjaga sebuah minimarket tidak sia-sia. Terlebih lagi, dalam bentuk ini, dia mengungkapkan rasa terima kasihnya. Tak habis, dia meraih kotak yang lain, yang berwarna abu-abu lalu memberinya kepada Chanyeol. Yang diterima dengan mata membulat dan mulut menganga. Berlebihan. Memang.

Saat kristal-kristal kebahagiaan itu menguap dari hati kedua insan yang sedang berbahagia, daun-daun beterbangan tertiup angin, mengetuk jendela, dan angin itu membuat jendelanya terbuka. Menyebabkan dedaunan masuk dan beristirahat di lantai kamar Baekhyun.

Mereka membiarkan hal itu, malah memperhatikan tiap frame saat Chanyeol membuka kotak miliknya. Itu sebuah syal, berwarna merah, dengan rajutan yang rapi dan rapat. Aromanya harum seperti dibubuhi parfum.

"Karena sebentar lagi musim dingin, setidaknya untuk menghangatkanmu. Walau tidak terlalu spesial karena bukan rajutan sendiri," Baekhyun tersenyum lagi, mengacungkan kedua jadi jempolnya.

"Terima kasih!" Chanyeol segera melingkarkan syal itu di lehernya, menikmati tiap kehangatan yang dipancarkan dari tiap rajutannya. Menikmati perasaan yang terhantar dari sang pemberi.

Sekali lagi angin musim gugur berhembus masuk melalui jendela yang terbuka lebar, menghembuskan udara dingin pertanda musim dingin akan segera tiba. Baekhyun bersin dan mulai merasakan tiap belaian angin yang menguliti kulit wajahnya yang tak berbalut kain. Dia benci hal ini akan dirinya yang tidak tahan dengan udara dingin.

"Maaf, aku alergi dingin." Ucapnya, dan sekali lagi ia bersin.

Lantas, Chanyeol berdiri dan berjalan menuju jendela lalu menutupnya. Ia merogoh saku celananya saat ponsel miliknya berdering sambil menghampiri Baekhyun. Saat ia kembali duduk di hadapan Baekhyun dan menaruh ponselnya tepat di telinga, sebuah suara teriakkan bersuara di seberang sana, membuat Chanyeol seketika menjauhkan ponsel dan membuat Baekhyun tertawa geli.

"Aku sedang di apartemen Baekhyun, ke sini saja jika keperluan itu penting." Ujar Chanyeol.

Baekhyun menautkan alisnya bingung, namun saat bibir Chanyeol mengeluarkan kata 'Lu Han' tanpa suara, ia mengerti.

Dan benar saja, selang beberapa detik, ada yang mengetuk pintu. Pasti itu Luhan. Jadi Baekhyun beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu, sementara Chanyeol malah berjalan menuju dapur.

"Hai Baekhyun!"

"Luhan-hyung, masuklah, Chanyeol ada di dalam."

"Ah iya, temanmu," saat Luhan berkata, Kyungsoo muncul dari balik punggung Luhan.

Baekhyun tersenyum lebar lalu memeluk Kyungsoo, yang di peluk sedikit mendorong Baekhyun agar tidak terlalu erat memeluknya. Luhan hanya terkikik geli. Saat pelukan singkat itu selesai, Baekhyun mempersilakan Luhan dan Kyungsoo untuk masuk ke dalam apartemennya, saat itu juga Jongin tiba-tiba muncul dan ikut bergabung.

Di sana, Chanyeol duduk dengan sebuah piring kecil dan sepotong kue. Melahap dengan suasana hati yang baik. "Ah, Kyungsoo!"

Kyungsoo sedikit canggung karena ada dua orang asing yang kini sedang menatapnya, karena itu dia langsung memperkenalkan diri sebagai sahabat Baekhyun. Dan dia mengetahui siapa nama kedua orang asing yang mungkin kedepannya akan menjadi teman.

Yang bermata seperti rusa dengan wajah cantik dan rambut cokelat madu, itu Lu Han. Orang Cina yang sudah menetap di Korea. Mempunyai senyum yang indah dan terlihat kilauan di tiap tatapannya. Sementara yang lebih tinggi, bernama Kim Jongin. Dengan senyuman ramah, rambut hitam yang disisir ke belakang, serta garis rahang yang tegas.

Baekhyun akhirnya menemukan dunianya kembali. Suasana baru serta menyenangkan. Tempat bersandar yang nyaman, yang selalu mengusap lukanya, yang selalu menasehatinya. Dunia yang mengembalikan tawanya, yang berhasil melepaskan memori hitam dari goresan di ingatannya.

Bukanlah orang yang menambah luka di tubuhnya saat ia pulang dengan luka. Bukan yang membuang semua tawa itu jauh-jauh darinya. Bukan yang membuat air matanya kering.

Chanyeol merupakan tempatnya untuk pulang.