Uap-uap cokelat panas dari dua cangkir itu saling bertubrukan di udara. Menyebarkan aroma menenangkan ke sudut-sudut ruangan. Membungkus tiap insan dengan suasana hangat yang nyaman. Melawan hawa dingin yang masuk dari celah-celah ventilasi udara. Beberapa orang dengan senang hati menyambut musim dingin, beberapa orang juga tidak.
Chanyeol berlari menghampiri Baekhyun, dengan secepat kilat mengambil alih laptop dari tangan Baekhyun. Lantas Baekhyun kaget bukan kepalang, pasalnya Chanyeol seperti orang kerasukan.
"Kau membacanya?" tanya Chanyeol dengan nafas memburu, tangannya memeluk laptop yang masih menyala.
"Membaca a—oh, cerita itu? Iya." Balas Baekhyun santai.
"Tertawalah,"
"Kenapa? Ceritamu bagus, aku suka fantasi." Ucap Baekhyun, dia melipat tangannya.
"Ah, benarkah?"
"Sungguh, aku suka karakter utamanya. Dia bisa mengendalikan cahaya, juga nama-nama karakter itu, juga hal romantis yang kau selipkan. Kau jenius!" puji Baekhyun yang dibalas senyuman lebar Chanyeol, kaki-kakinya berjalan ke sudut ruangan, menghampiri sebuah gitar.
Lantas Chanyeol menghela nafas, menaruh kembali laptopnya lalu mengekori Baekhyun. "Itu matilda."
Baekhyun mengangguk mengerti, lalu ia menaruh tangannya di atas sebuah meja untuk bersandar. Tapi tangannya meraba sesuatu yang lain, di balik kain. Dia menyingkapnya dan itu adalah sebuah keyboard, juga lembaran lagu yang menutupi tuts.
"Mau memainkannya?" tawar Chanyeol.
"Tentu."
"Keyboard ini sudah lama tidak ku mainkan, entah masih berfungsi atau tidak." Ucap Chanyeol sambil membersihkan debu yang melapisi atas Keyboard.
"Coba saja dulu," Baekhyun menarik kursi dari sisi lain, jemarinya siap menari di atas tuts.
Dan harmonisasi itu melayang di udara, memenuhi ruangan ini dengan melodi. Tidak hanya menarikan jarinya di atas tuts, Baekhyun juga bernyanyi. Membuat Chanyeol tanpa sadar tersenyum hangat. Menikmati suara indah dengan melodi yang menyapa telinganya halus.
Kalau boleh egois, dia ingin Baekhyun bernyanyi untuknya, setiap ia akan tidur.
Ah, iya.
Setelah Baekhyun selesai bermain, Chanyeol bertepuk tangan, tak lupa bersorak layaknya orang yang habis menonton konser.
"Suaramu sangat indah!"
"Terima kasih, menyanyi adalah hobiku—err, dulu." Baekhyun tersenyum kikuk.
"Aku juga sedang membuat lagu—yah, sudah berhenti beberapa bulan lalu."
"Ah, benarkah? Kau bisa membuat lagu?"
"Tentu!"
"Sebuah kehormatan bagiku kalau kau lekas menyelesaikannya dan membiarkan aku bernyanyi dengan lagumu." Baekhyun mengambil selembar kertas yang tadi ia letakkan di nakas, menyapu tiap tinta yang tergores dengan manik almondnya, baris nada yang baru mengisi tidak sampai setengah dari kertas. "Kau tahu... aku lapar."
Chanyeol menepuk dahinya, ia lupa bahwa tujuannya menghampiri Baekhyun adalah untuk memberitahunya bahwa makan malam sudah siap. Sungguh sesuatu yang ia lakukan bersama Baekhyun membuat dirinya lupa.
Tetangga yang awalnya saling membentak satu sama lain, kini berbagi ruangan untuk makan malam, saling mengejek, berbagi cerita, juga tertawa bersama. Proses alami yang membuat keduanya dekat. Yang membuat Baekhyun perlahan kembali. Yang membuat diri Chanyeol seakan lengkap.
Hanya butuh satu orang untuk membuat hidupmu lengkap.
"Tidak akan ada waktu tersisa, aku ingin menghabiskannya bersamamu."
Bulan ke dua belas, sudah masuk musim dingin di beberapa negara, termasuk Korea. Membuat tiap orang mau tak mau memakai pakaian berlapis-lapis hanya untuk mendapatkan kehangatan. Satu dua cangkir cokelat panas maupun teh hangat di pagi atau malam hari, menjadi hal wajib bagi beberapa orang. Candu akan perasaan saat hangatnya teh menjalar ke tubuhmu dan saat uap-uap itu menerpa kulit wajahmu.
Beberapa jam lagi menjelang tahun baru. Melipat semua kenangan dalam buku dan menyimpannya apik. Orang-orang bersuka cita serta mengharapkan kebaikan datang pada tahun 2014 nanti.
Jam 10 pm.
Baekhyun melingkarkan syal rajut berwarna putih di lehernya, serta memakai sarung tangan juga penutup telinga. Dia tidak mau merusak malam ini hanya karena dirinya yang tidak tahan dingin, jadilah ia memakai jaket terhangat yang ia miliki.
Di sana, Chanyeol berdiri di bawah pohon Tabebuya yang di hiasi dengan lampu-lampu berbagai warna. Dengan senyum lebarnya, melambai pada Baekhyun.
"Kau memakainya," ucap Baekhyun pada Chanyeol, menunjuk pada syal merah yang melingkar apik pada leher Chanyeol.
"Tentu saja," balasnya, dengan senyum merekah. Tangannya merangkul bahu yang lebih pendek, agak risih namun Baekhyun menyukainya.
Malam tahun baru yang berjalan menyenangkan. Itulah hal yang dipikirkan Baekhyun. Bersama Chanyeol saling berbagi minuman hangat dan ddeobbokki. Taman yang biasanya ramai, malam ini sepi. Tentu saja, karena kebanyakan orang-orang pasti akan merayakan tahun baru di tempat yang lebih bagus, atau di rumah bersama keluarga mereka.
Tapi itu tidak dengan Baekhyun dan Chanyeol. Walau hanya menanti pergantian tahun di taman yang terbilang sepi karena hanya ada beberapa orang di sana, dia senang. Apalagi sungai yang membentang mendampingi, cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi memantul indah pada air yang mengalir tenang.
Bisa saja mereka menambah keributan dengan mengajak Jongin, Kyungsoo, atau Luhan. Tapi sayang, Jongin merayakannya bersama keluarganya, Kyungsoo pun begitu, dan Luhan sudah punya janji dengan rekan-rekan kerjanya.
"Beberapa menit lagi?" tanya Baekhyun, uap-uap dingin terlihat keluar dari mulutnya, membaur bersama udara malam.
"Sebelas dan empat puluh detik lagi," balas Chanyeol. "Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Lanjutnya sambil merogoh saku jaket dan mengeluarkan sebuah kotak dengan ukuran sedang.
"Hm?" Baekhyun memiringkan kepalanya, menjulurkan tangannya untuk meraih kotak itu. "Apa ini?" tanyanya dengan jari yang mengetuk-ngetuk kotak.
"Buka saja," balas Chanyeol.
Jari-jari yang dirangkul sarung tangan itu membuka tutup kotak dengan perlahan. Bola matanya membulat seiring dengan hal yang ia lihat saat tutup itu dibuka.
Sebuah ponsel, smartphone.
"Untukmu,"
"Untukku?"
"Iya, agar kita bisa berkomunikasi lebih sering." Chanyeol mengacungkan dua jempolnya, menyunggingkan sebuah senyuman lebar.
"Tapi Chanyeol, harganya mahal." Baekhyun menghela nafasnya, menatap Chanyeol.
"Maka dari itu kau harus memakainya. Aku bersikeras membelinya untukmu. Jadi terimalah dan jangan mengecewakan aku, okay?" tangannya terulur untuk mengusap rambut Baekhyun.
"Terima kasih, Chanyeol."
"Panggil aku Hyung,"
"Chanyeol-hyung," Baekhyun tersenyum, memamerkan matanya yang membentuk bulan sabit. Pipinya terangkat dan gigi-giginya terlihat.
Tak peduli dengan goresan luka yang masih membekas, dia masih terlihat indah bagi Chanyeol yang sangat menyukai senyuman itu.
Dirinya yang sedari kecil hidup di panti asuhan, yang awalnya selalu menangis dan menangis, kini menjadi seseorang yang tegar dan jarang menangis. Karena seseorang berkata padanya, saat ia berumur enam tahun, kalau kau menangis, maka orang-orang di sekitarmu akan menangis, maka tertawalah dan orang-orang di sekitarmu pasti akan ikut tertawa.
Kata-kata itu dia pegang. Dan dia sangat suka melihat orang tertawa. Bagaimana pipi-pipi mereka naik sehingga mata itu menyipit dan suara tawa yang berbeda dari setiap orang. Menurutnya menarik.
"Baiklah, mari kita hiasi ponsel barumu itu dengan fotoku." Chanyeol merebut benda persegi itu dari tangan Baekhyun, sementara Baekhyun mengumpat.
"Berdua." Tambah Baekhyun.
"Hah?"
"Ayo ambil foto kita berdua,"
"Memang itu yang ingin aku lakukan," sekali lagi Chanyeol menampakkan senyumannya, lalu ia menarik dan merangkul Baekhyun lebih dekat.
Beberapa foto pertama terlihat buram dan Baekhyun tidak tersenyum sama sekali. Chanyeol menarik kedua pipi Baekhyun agar anak itu tersenyum, namun yang ia dapatkan adalah sebuah pukulan brutal di lengannya. Tapi dia menghentikan Baekhyun dengan merangkul bahu itu sekali lagi. Baekhyun menghentikan kegiatannya dan merapat pada Chanyeol, membentuk peace dengan jari-jarinya, tersenyum lepas.
"Senyumanmu gigi semua, telingamu lebar sekali." Baekhyun menyentuh telinga Chanyeol yang memerah karena dingin, menurutnya itu sangat lucu. Sementara Chanyeol masih sibuk melihat beberapa foto yang mereka ambil.
"Aku kirim semua," Chanyeol mengeluarkan smartphonenya dari saku jaket.
"Ya, terserah."
Dan saat itu, beberapa kembang api di loloskan ke langit. Membuat langit yang hitam menjadi cerah dan indah. Ledakan nyaring yang mau tak mau membuat beberapa orang menutup telinganya. Mereka berdua teralihkan, berjalan bersama menuju pagar yang membatasi sungai.
Kembang api itu, memantul pada manik almond orang di sampingnya. Terlihat lebih indah dari langit saat ini. Chanyeol senang memandanginya, begitu indah sampai ingin rasanya ia berteriak pada orang-orang. Ingin rasanya ia menghilangkan goresan luka di pipi Baekhyun. Ingin rasanya setiap hari melihat senyuman itu.
Perlahan, kristal-kristal putih jatuh dari langit. Hinggap di pucuk kepala Baekhyun, membuat tangan Chanyeol refleks menyingkirkan benda itu dan membuat perhatian Baekhyun teralihkan.
"Salju," ucap Chanyeol.
Baekhyun menengadahkan kepalanya, dengan itu beberapa butir salju mendarat di kulit wajahnya. Dia pun tersenyum, "salju pertama!" serunya.
"Salju pertama bersamamu," koreksi Chanyeol.
Baekhyun tersenyum. Beberapa detik kemudian ia bersin, membuat Chanyeol waspada mengingat Baekhyun yang tidak tahan dingin.
Dan benar saja, darah keluar dari hidungnya. Chanyeol segera membuka sarung tangannya dan menyeka darah yang mengalir perlahan dengan jempol telanjangnya.
"Ayo pulang," ucapnya. "Akan semakin dingin."
"Baiklah," balas Baekhyun. Ia mendongakkan kepalanya, berusaha menahan darah agar tidak keluar dari hidung. Hal ini biasa saat musim dingin, jadi dia tidak terlalu khawatir pada diri sendiri. Berbeda dengan Chanyeol yang terlihat sangat khawatir. "Ini sudah biasa, Hyung."
Chanyeol meraih tangan Baekhyun, menuntunnya untuk pulang walau hal itu sebenarnya tidak diperlukan karena Baekhyun pun tahu arah jalan pulang.
Tapi, dia suka saat Baekhyun memanggilnya dengan 'Hyung'. Walau kata itu tidak sering, malah jarang keluar dari bibir tipis Baekhyun.
"Chanyeol, tunggu. Tali sepatuku," Baekhyun melepaskan tautan tangannya dengan Chanyeol, segera berjongkok dan menyimpul tali sepatunya yang kendur.
Tepat saat itu, saat seseorang berlari melewati mereka dan menabrak Chanyeol sehingga terjatuh. Juga suara teriakan seorang wanita yang meminta tolong. Baekhyun segera bangun dan mengejar orang itu, sementara Chanyeol bangkit dan bertanya pada wanita itu.
Saat wanita itu berkata bahwa seseorang mengambil tasnya yang berisi barang berharga, Chanyeol langsung melesat lari menyusul Baekhyun. Dan wanita berkisar kepala tiga itu, mengekor di belakangnya walau larinya tidak secepat Chanyeol.
Sampai mereka di sebuah gang, di mana perampok itu tersudutkan oleh Baekhyun di bawah dinding tinggi. Saling melayangkan tinju satu sama lain. Chanyeol sempat mengumpat karena ia terlalu lamban, namun ia langsung berdiri di samping Baekhyun, melindunginya saat perampok itu hendak melayangkan sebuah tendangan.
Dan saat tangan Chanyeol menahan kaki orang itu, Baekhyun menubruknya sehingga perampok itu tersungkur di tanah. Mengunci tangan dan kakinya sehingga tidak bisa bergerak. Lalu Chanyeol dengan cepat mengambil tas yang ada di tangan perampok tersebut. Namun beberapa saat setelah Chanyeol mengambil alih tas berwarna putih itu, kuncian Baekhyun pada tangan dan kaki perampok itu lepas sehingga ia kabur.
"Jangan, Chanyeol!" teriak Baekhyun saat Chanyeol hendak mengejar perampok itu lagi, dan Chanyeol berhenti.
Chanyeol menghela nafasnya.
"Kembalikan tas itu Yeol, wanita itu masih menunggu." Lanjut Baekhyun, sambil membersihkah debu-debu yang menempel di pakaiannya.
Malam yang semakin larut, suara kembang api masih terdengar walau samar-samar. Wanita itu berterima kasih pada Chanyeol, juga Baekhyun yang berjalan ke arah mereka. Berkali-kali membungkuk sebelum akhirnya pergi.
Mereka saling bertatapan, tiga puluh senti yang membentang. Ditemani salju yang terjatuh di pucuk kepala serta angin yang menghembuskan dingin yang menyayat.
"Kau tak apa?" tanya Baekhyun, memutari badan Chanyeol, saat dia mendapati lengan baju Chanyeol yang robek, dia memegang bagian itu. "Apa sakit? Terluka?"
"Tidak, sepertinya hanya jaketku yang robek. Ah—perampok tadi membawa pisau?"
"Sepertinya iya, pasti, dan pisau itu merobek jaketmu." Baekhyun mulai berjalan, diikuti Chanyeol yang menyamakan langkahnya.
"Tadi seperti di film, kau hebat sekali, Baekhyun."
"Tidak tanpa bantuanmu."
"Maksudku kau tidak lebih hebat dariku," Chanyeol mengejek, mendapatkan tendangan pada kakinya.
Chanyeol tertawa, dan seperti menular, perlahan Baekhyun tersenyum dan tertawa.
Namun, beberapa langkah kemudian, Baekhyun ambruk. Chanyeol segera menghentikan langkahnya dan berlutut di samping Baekhyun, wajahnya menampakkan ekspresi khawatir.
"Apa terlalu dingin? Baekhyun?" Chanyeol melepas syalnya, melingkarkannya pada leher Baekhyun. Darah mengalir perlahan dari hidung mungil Baekhyun. Dia yakin syal putih itu tipis dan pasti Baekhyun sangat kedinginan, jadi ia menambahkan syal miliknya untuk menghangatkan Baekhyun.
Namun dugaannya salah saat ia Baekhyun meringis dan memegang dadanya. Ia meraba daerah itu dan merasakan sesuatu yang janggal, basah dan bau anyir menyapa hidungnya. Jadi Chanyeol dengan cekatan membuka jaket tebal Baekhyun.
Kaus putih yang ternodai rembesan darah segar, kini merangkak pada telapak tangannya. Gemetar, takut, dan khawatir. Lukanya terlalu dekat dengan dada kiri, tepatnya jantung, sepertinya dalam dan darah masih terus mengalir.
Namun dia masih bisa berpikir, walau mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar, Chanyeol hendak menelepon ambulans. Tidak sebelum Baekhyun menggerakkan tangannya untuk menurunkan ponsel Chanyeol.
"Tidak akan ada waktu tersisa, aku ingin menghabiskannya bersamamu." Ucap Baekhyun. Wajahnya pucat dan dingin.
"Tapi kau—".
"Aku yakin walau ambulans itu datang, nafasku pasti sudah habis." Chanyeol bisa merasakan jemari Baekhyun yang terbungkus sarung tangan, menggenggam tangannya erat
"Baekhyun kau—"
"Hyung, gendong aku." Ucapnya memohon. Bibir tipis itu merengek dan warna ranum mulai memudar, matanya sayu pula redup cahayanya.
"Baekhyun tapi—"
"Chanyeol-hyung! Gendong aku dan habiskan waktuku bersamamu."
Dengan bentakkan itu, Chanyeol menurut dan menaruh smartphonenya kembali, melepas jaketnya untuk menyelimuti Baekhyun. Dengan perlahan membenahi syal merah pada leher Baekhyun lalu menuntun Baekhyun pada punggungnya. Hampir ia tidak bisa berdiri, namun hal itu ia paksakan.
Satu tujuannya, pulang.
"Chanyeolie bicaralah," sangat susah hanya untuk sekedar mengeluarkan kata, namun hal itu Baekhyun lawan untuk mendengar suara Chanyeol. Dia mengistirahatkan kepalanya pada bahu lebar Chanyeol. Menghirup dalam-dalam aroma khas yang sangat ia sukai, menghirup dan mengingat aroma itu untuk terakhir kalinya.
Chanyeolie.
Chanyeol suka panggilan itu.
Bersama salju yang kian turun semakin banyak, nafas Chanyeol semakin memburu dan tubuhnya menggigil seiring suhu yang semakin turun. Perlahan, salju menumpuk di punggung Baekhyun yang diselimuti jaket hitam milik Chanyeol, menumpuk pula di pucuk kepala keduanya.
"He—hei, Baekhyun. Pulang nanti, ayo gantung burung-burung kertas itu di kamarmu. Pasti indah. Kau baru buat berapa?" suaranya bergetar, seiring punggungnya yang basah karena rembesan darah.
Ingin rasanya ia membekukan waktu, merasakan detak jantung di punggungnya untuk selamanya.
"Enam ratus lima puluh," nafasnya terputus-putus seiring air mata yang mulai menganak sungai di pelupuk mata, yang akhirnya tumpah. "Aku sudah pulang. Kau lah tempatku pulang, Chanyeolie."
Nafas yang hangat, terasa di lehernya dan Chanyeol menginginkan itu untuk selamanya.
"Baek—aku membuat lagu, aku ingin kau menyanyikannya. Pulang nanti aku akan segera menyelesaikannya, jadi persiapkan suaramu ya!" Chanyeol menoleh ke punggungnya, mendapati Baekhyun yang mengangguk lemah, wajahnya sangat dekat namun Baekhyun semakin menjauh.
"Aku punya banyak kertas tak terpakai, sampai rumah nanti ayo buat burung kertas hingga seribu. Ah, sebaiknya kita bernyanyi, atau membuat burung kertas terlebih dahulu? Baekhyun? Jawab aku."
Hanya kekehan Baekhyun yang menjawabnya, Chanyeol tersenyum kala kedua tangan Baekhyun merangkul lehernya semakin erat dan ia bisa merasakan nafas yang masih terasa hangat itu di lehernya.
"Oh ya, bagaimana kalau kita mengunjungi Kyungsoo? Bicara tentang Kyungsoo, kau tahu? Jongin langsung bertanya padaku tentang Kyungsoo waktu itu, aneh bukan?"
"Ah, foto tadi. Akan kucetak dan ku bingkai! Pasti cantik. Ditambah senyummu itu. Kau tahu? Aku suka senyumanmu."
"Chanyeolie, terima kasih." Gummam Baekhyun sembari mengusak wajahnya pada ceruk leher Chanyeol, mencari posisi nyaman untuk beristirahat.
"Baekhyun, tahun depan mari rayakan ulang tahunmu di suatu tempat. Bagaimana? Kau bilang kau ingin ke Namsan Tower atau Tokyo Tower. Ah, Tokyo Tower saja ya!"
"Tokyo ya... aku ingat nenek Sachi jadinya. Makanan apa yang paling kau sukai dari semua hidangan yang disajikan nenek Sachi? Kalau aku paling suka sup rumput laut, juga shabu-shabu. Ah! Bagaimana sampai apartemen nanti, kita memasak? Kau pasti rindu masakanku kan? Akhir-akhir ini aku jarang mengantarkan makanan padamu."
"Baekhyun, pulang nanti ayo kita makan malam. Aku akan memasakkan semua menu yang kau sukai. Lalu kita akan berbagi cerita di tempat tidur. Ah! Kau mau membaca novel buatanku bukan? Kau akan jadi orang pertama yang membacanya. Hampir selesai."
"Hei, menurutmu mana yang harus aku selesaikan terlebih dahulu? Lagu atau novel?" semakin sakit kala kata-kata itu keluar dari bibirnya, juga karena air mata yang sedari tadi ia tahan.
Dan kesalahan terbesar Chanyeol adalah saat ia berhenti berbicara. Karena yang ada hanya hening dan nafasnya. Kesunyian tertiup angin dingin seiring butir salju yang melayang dan gugur. Meleleh pada bajunya yang sudah mulai basah. Tangannya pucat pula bibirnya yang terkatup, langkahnya semakin lambat karena kaki yang serasa membeku.
"Baekhyun, jawab aku." Air mata lolos begitu saja saat ia menyadari tidak ada lagi nafas hangat yang menyapa tengkuknya, juga detak jantung yang dirasakan punggungnya telah berhenti.
Nafas itu berhenti.
Chanyeol tidak mau mengambil kesimpulan, jadi ia terus bicara. Suaranya mulai sesak dan parau, pula air matanya yang mengalir dan membeku, namun dia tidak berhenti bicara, karena Baekhyun ingin mendengar suaranya. Tidak peduli Baekhyun di punggungnya menyahut atau tidak saat ia melontarkan lelucon. Tidak peduli puncak kepalanya yang tertumpuk oleh salju. Suhu dingin yang mengulitinya pun dia abaikan.
Saat mereka sudah sampai di depan gedung apartemen, Chanyeol berhenti berbicara dan menatap lampu-lampu yang berkelip menggantung di pohon Tabebuya yang dahan-dahannya tertutup salju.
"Baekhyun, kita pulang."
Lalu Chanyeol menurunkan Baekhyun, terus mendekapnya, menangis dan terus memanggil nama Baekhyun. Air matanya menembus rajutan rapat syal merah yang masih terlingkar di leher Baekhyun.
Merupakan sepuluh menit paling sulit di hidupnya.
Nol sentimeter jarak yang dihapus oleh Chanyeol. Bibirnya mengecup kelopak mata Baekhyun yang menutup damai, seperti bayi. Menghapus jejak air mata yang membeku di pipinya dengan jemarinya, membersihkan wajah itu dari tiap putih salju yang hinggap. Lalu memeluknya erat lagi.
"Aku menyayangimu, Baekhyun." Ia membisikkan kalimat itu di telinga Baekhyun, pula mengecup dengan bibirnya, "sangat." Lanjutnya.
Kemudian Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun yang terasa dingin saat menyentuh kulitnya. Sangat pas di kedua telapak tangannya, bak kepingan puzzle yang disatukan. Kemudian bibir yang mulai membiru itu mendarat pada pucuk hidung Baekhyun yang tak lagi mengeluarkan hembusan nafas, sebuah kecupan singkat yang kemudian mendarat pada bibir tipis yang dingin. Sangat dingin
Bibir tipis yang kerap kali mengeluarkan makian padanya, yang sangat ia sukai ketika tersenyum, kini terkatup rapat. Namun melukiskan sebuah senyuman tipis
Perasaan Chanyeol membeku bersama musim dingin, tertumpuk salju. Enggan rasanya ia melepaskan sosok dalam dekapan tangannya, yang sangat pas untuk ia peluk.
Menangis dan menangis hingga air matanya kering, hingga dirinya lelah dan tidur dengan Baekhyun masih di dekapannya. Bahkan ketika nenek Sachi menemukan mereka dan berusaha memisahkan Chanyeol yang mendekap Baekhyun erat, Chanyeol enggan. Walau bibirnya sudah membiru di lahap angin dingin serta salju yang menutupinya, kulitnya pun pucat dan dingin.
Bagaimanapun ia merupakan tempat Baekhyun untuk pulang, rumah bagi Baekhyun, dan akan terus begitu hingga rumah itu hancur.
Sangat singkat. Teramat singkat.
Andai saja tersisa waktu lebih lama untuk mereka bersama. Andai saja mereka lebih cepat bertaut.
Namun waktu tidak sebaik itu.
Tidak semua harapan setiap insan terwujud.
Dan tidak semua kisah berakhir bahagia.
-END-
A/N: Maaf karena melenceng satu minggu dari target publish._. Dan juga karena itu, saya langsung publish dua chapter biar langsung tamat. Cerita ini juga kalau bacanya putus-putus gitu gabakal kerasa-_- angst gagal. oke.
Cerita ini sebenernya penggalan-penggalan serta kilas balik. Kenapa masa lalu Baekhyun enggak di ceritain? Well, sebenernya pgn saya jadiin another story/bonus chapter gitu, juga kalau lagi pengen dan revienya banyak(?), saya mau nulis sekuelnya x)
Dan, puasa bulan ini saya pengen ngelanjutin El-Dorado yang udah dari kapantau :") berhubung bulan puasa gitu kan kalo ngabuburit baca cerita fantasy/adventure seru. xD. Jika berkenan, silahkan kunjungi cerita-cerita saya.
Special Thanks for: VampireDPS, ChanKai Love, kepitinggbesi, danisha, pooarie3.
Review, please?
Sangat diharapkan jangan jadi sider x]
