Tittle :: Truth Or Death

Cast :: Cho Kyuhyun, HaeHyuk, Sibum, Zhoury

Author :: Kang Rae Mi

Warning :: Typo(s), genderswitch

Annyeong.. ^^ ini fict mystery pertama Mi, mian kalau misalnya kurang nyeremin atau masih jelek. semua kritikan dan saran Mi terima. bagi yang nggak suka sama fict ini silahkan balik kanan dari sini :D yang paling penting, no bashing ^^ segitu aja deh. DON'T LIKE DON'T READ :)

HAPPY READING ^_^

.

.

TRUTH OR DEATH

LET'S THE GAME, BEGIN!

.

.

Author POV

Flashback

Seorang yeojya imut berdiri dihadapan namja tampan berambut brunet dengan perasaan gugup. Raut wajahnya seolah mengatakan ia meminta banyak penjelasan pada namja dihadapannya. Hanya saja ia terlalu sungkan untuk mengatakannya. Ia takut akan menyinggung perasaan namja dihadapannya. Bukan maksudnya ingin mencampuri urusan pribadi namja itu. Tapi bukankah ia berhak sedikit ikut campur karena ia adalah pacar namja dihadapannya.

"Do-Donghae-ya.." panggilnya.

"Hmm" hanya sebuah jawaban singkat yang ia dapat. Bahkan terlalu dingin.

"Do-Donghae-ya, aku ingin bertanya. Te-tentang kejadian dua hari lalu. Apa..."

"Kau ingin tahu kenapa aku memilih Hyukkie daripada dirimu?" potong namja itu tepat sasaran.

"Ne. Bisakah kau memberitahuku?"

"Pertama, aku minta maaf. Aku memang menyukai Hyukkie."

Sebuah jawaban singkat. Sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sebuah kenyataan yang sangat tidak ia ingin tahu, terpaksa harus ia ketahui dari orang yang ia cintai. Tapi itu lebih baik. Daripada orang lain yang mengatakannya. Akan lebih menyakitkan lagi rasanya.

"Maaf jika aku terlihat seperti memberi harapan palsu padamu. Hanya saja, saat kau mengakatan perasaanmu padaku, aku tidak tahu bagaimana harus menolaknya, aku takut kau akan sedih. Mianhae." Sambung namja itu.

Justru jika tidak kau katakan aku akan lebih sakit lagi.

Yeojya itu tersenyum. Walau terselip sebuah kekecewaan dan sakit hati di senyumannya. Sungguh, lebih baik ia merasakan sakit karena dipukuli sampai mati hadipada harus merasakan sakit yang seperti ini.

"Jadi, kita selesai sampai disini?" tanyanya.

"Ne, tentu saja."

Jawaban yang sudah pasti. Ia tidak bisa lebih memaksakan perasaan namja itu untuk mencintainya. Karena itu akan lebih menyakiti, tidak hanya dirinya tapi namja itu juga.

"Kalau begitu, boleh aku memelukmu? Untuk yang terakhir kali." Pintanya. Namja itu bergumam sebagai jawaban. Yeojya manis itu mendekat dan memeluk namja yang sangat ia sukai. Ditempelkannya wajahnya ke dada bidang sang namja. Ia mengeratkan pelukannya dan berharap mendapat balasan yang sama dari namja itu. Tapi nyatanya, tidak ada pergerakan yang berarti dari namja itu. dalam pelukannya, yeojya itu tersenyum miring dan melepas pelukannya.

Dengan berat hati ia mengucapkan salam perpisahan dan berlalu dari hadapan namja itu. Air matanya tidak bisa ia tahan. Setiap langkah yang dihasilkan oleh kakinya, membuat iarmatanya mengalir semakin deras.

Flashback END

.

.

Seoul 2012

Kyuhyun bangun saat mencium aroma wangi roti yang dibakar di toaster. Ia melirik jam weker di meja nakasnya. Jam lima enam pagi. Terlalu pagi untuknya bangun. Tapi harum roti yang dipanggang dan telur yang digoreng membangkitkan rasa lapar Kyuhyun. Ia bergegas bangun dan mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya. Setelah ia selesai mandi dan berpakaian, Kyuhyun keluar dari kamarnya dan melihat sekeliling. Masih sepi, ia menoleh ke kamar Siwon dan Kibum, masih belum terlihat tanda-tanda kehidupan. Kyuhyun beralih melihat lantai dua villanya yang dapat terlihat dari bawah. Masih sepi juga. Sepertinya belum ada yang bangun. Lalu siapa yang memasak di dapur? Kyuhyun mencoba masuk ke dapur.

"Hyukkie noona?" panggilnya ragu saat melihat sebuah siluet yeojya berdiri di depan kompor. Di meja sudah tersaji beberapa lembar roti yang baru saja dipanggang. Yeojya itu menoleh dan tersenyum pada Kyuhyun.

"Ne? Kau sudah bangun, Kyu?" tanya yeojya itu. Hyukkie, atau Eunhyuk, terlihat manis dengan apron merah kotak-kotak yang ia kenakan. "Mau makan sekarang atau nanti?"

"Nanti saja. Bersama yang lain." Jawab Kyuhyun. Ia menggeser kursi meja makan dan duduk memperhatikan Eunhyuk yang sedang memasak. Donghae beruntung bisa mendapatkan gadis seperti Eunhyuk. Manis, ramah, lucu, polos, sungguh gadis yang menyenangkan. Eunhyuk mematikan kompornya dan berbalik memandang Kyuhyun.

"Kyu, apa... kau masih sering mengunjunginya?" tanya Eunhyuk tiba-tiba. Kyuhyun tidak perlu bertanya lagi siapa yang dimaksud Eunhyuk. Karena ia sudah mengerti maksud Eunhyuk.

"Masih." Jawab Kyuhyun dengan sedikit senyuman. Eunhyuk sedikit kaku utnuk menjawab ucapan Kyuhyun. Sedikit banyak ia merasa bersalah atas kepergian orang yang dicintai Kyuhyun.

"Dia, yeojya yang cantik. Sangat cantik." Lanjut Kyuhyun. "Hanya saja nasibnya tidak secantik dirinya. Sungmin, dia harus mati di usia semuda itu. Dia bahkan belum merasakan menikah atau hamil seperti Kibum noona."

Eunhyuk sedikit bergetar mendengar penuturan Kyuhyun. Ia merasa seperti orang yang sedang di introgasi. Hanya berdua dengan Kyuhyun, dipagi buta, dengan topik pembicaraan yang sangat sensitif. Lee Sungmin, yeojya yang makamnya sering Kyuhyun kunjungi dulunya adalah kekasih diam-diam Lee Donghae, calon suami Eunhyuk. Sungmin memilih melakukan bunuh diri karena ia merasa sulit untuk melepaskan perasaannya pada Donghae. Tidak ada yang tahu sampai semua terungkap dari bibir Donghae tepat seminggu setelah kematian Sungmin. Sungguh mengejutkan. Setahun kemudian, Donghae menjalin hubungan dengan Eunhyuk hingga sekarang tinggal menunggu hari untuk mengikat cinta mereka.

Suara derap langkah seseorang yang menuruni tangga membuat perasaan gemetar di diri Eunhyuk mereda. Setidaknya ia tidak perlu berada di suasana canggung berdua dengan Kyuhyun. suara langkah itu semakin dekat dengan dapur. Eunhyuk sungguh berharap itu Donghae. Mungkin efek suasana canggunya dengan Kyuhyun, atau karena teringat Sungmin, Eunhyuk jadi ingin memeluk Donghae sekarang juga.

"Eh, Kyu? Hyuk eonnie? Kalian sudah bangun?" ternyata Henry.

"Ah, ne. Aku akan membangunkan yang lain." Eunhyuk melesat meninggalkan dapur. Kyuhyun tersenyum miring melihat Eunhyuk keluar dari dapur dengan wajah gugup.

Merasa bersalah, eoh?

.

.

Setelah membangunkan Siwon, Kibum dan Zhoumi, Eunhyuk beralih ke kamar Donghae yang ada di depan kamarnya. Eunhyuk sedikit gugup untuk mengetuk pintu kamar Donghae. Maka ia putuskan utnuk langsung masuk ke kamar Donghae. Untung pintu kamarnya tidak di kunci. Eunhyuk berjalan kearah jendela kamar dan membuka tirainya, membiarkan cahaya pagi membangunkan Donghae. Wajah Donghae yang terkena bias-bias sinar terlihat tampan. Eunhyuk duduk bersimpuh disamping ranjang Donghae, menggenggam tangan namja itu dan menangis disana.

Karena sayup-sayup mendengar orang menangis, kesadaran Donghae kembali terkumpul. Ia memandang kesamping ranjangnya dan terkejut melihat tubuh mungil Eunhyuk bergetar karena menangis. Donghae bangkat dan mengusap bahu Eunhyuk.

"Hyukkie? Gwaenchanayo?" tanyanya khawatir. Bukannya mendapat jawaban tubuh Donghae malah ditabrak tubuh mungil Eunhyuk. Yeojya itu langsung menyeruduk Donghae begitu mendengar suara Donghae. Tangis Eunhyuk semakin menjadi. Isakan kecil semakin banyak lolos dari bibirnya. Donghae mengusap punggung Eunhyuk dengan sayang mencoba untuk menenangkan Eunhyuk. Pelukan Eunhyuk semakin erat dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya di dada bidang Donghae.

"Wae? Kenapa mengangis, hmm? Apa ada yang membuatmu sedih?" tanya Donghae lembut. Sebuah gelengan dan pelukan yang mengerat. "Hyukkie?"

"A-aku, aku-aku-aku teringat Su-Sungmin." Lirih Eunhyuk. Jantung Donghae terasa seperti dipacu lebih kencang saat Eunhyuk menyebut nama Sungmin. Seharusnya Eunhyuk bisa merasakan debaran jantung Donghae. Hanya saja, karena ia sdang berada di pikirannya sendiri, ia tidak terlalu menyadari hal itu.

"Hyukkie.." panggil Donghae, tapi Eunhyuk hanya terisak. "Dengar, jangan kau pikirkan lagi hal itu. sudah kukatakan, bukan?"

"Ta-Tapi..."

"Dosaku, Hyukkie. Dosaku pada Sungmin, biar aku yang menanggungnya. Kau tidak perlu ikut menanggung dosa itu. Jadi lupakan itu." bisik Donghae.

"Mana bisa! Aku juga ikut dalam dosa ini! Sungmin mati juga karena aku!" Eunhyuk meraung dalam tangisannya.

"Sungmin mati karena aku! Salahku karena memberi harapan palsu untuk Sungmin. Sudahlah, angap saja semua ini tidak pernah terjadi. Atau paling tidak, jangan pikirkan hal ini. Arraseo?" gumam Donghae. Eunhyuk mengangguk dalam tangisannya.

Mianhaeyo.

.

.

Kyuhyun menyeringai diambang pintu kamar Donghae. Karena merasa Eunhyuk terlalu lama berada di atas, ia memilih untuk menyusul Eunhyuk. Dan ternyata, tidak sia-sia ia menyusul yeojya itu. ia dapat mendengar sebuah pernyataan bersalah yang membuatnya merasa senang. Ia terus menguping dan seringai kejamnya semakin tercetak jelas di wajahnya.

Tanggunglah dosa kalian bersama-sama.

.

.

Setelah sarapan dan saling membersihkan diri, Kyuhyun mengajak teman-temannya menuruni gunung dan berjalan-jalan di pasar dekat villa-nya. Pasar itu hanya sebuah pasar biasa yang tidak lumayan ramai oleh pengunjung, entah yang memang berasal dari daerah sekitar atau turis seperti Kyuhyun dan teman-temannya. Memang dasar wanita, melihat barang bagus sedikit, mereka sudah girang bukan main. Henry dan Eunhyuk terus terpekik senang saat melihat barang lucu. Berbeda dengan Kibum, karena tuntutan hamil, ia mengajak Siwon berburu berbagai perlengkapan bayi. Padahal ia baru mengandung dua bulan.

Henry menyeret Zhoumi pergi entah kemana. Kini tinggallah Donghae, Eunhyuk dan Kyuhyun. Mengingat kejadian sebelum sarapan tadi, seharusnya saat ini suasana menjadi canggung, bukan? Tapi mungkin karena Eunhyuk sedang sibuk mengamati bunga yang dijual di pinggr jalan, ia jadi tidak terlalu merasakannya. Berbeda dengan Donghae, ia lumayan merasakan sebuah suasana tidak nyaman yang tercipta karena –entahlah, ia juga tidak terlalu yakin– sedari tadi Kyuhyun seperti memperhatikan Eunhyuk dengan tatapan tajam.

Donghae menarik tangan Eunhyuk yang sedang berjongkok hingga membuat yeojya itu sedikit limbung. Tanpa menunggu lama ia menarik Eunhyuk berjalan menjauhi Kyuhyun. Ia merasa sedikti tidak nyaman kala suasana yang tercipta sangat tidak menyenangkan. Kyuhyun tersenyum miring melihat kelakuan Donghae.

"Mencoba lari, eoh? Kita lihat saja." Gumamnya.

.

.

Setelah selesai makan malam, Zhoumi membantu Henry mengembalikan peralatan makan dan masak ke dapur. Malam ini mereka tidak makan di dalam ruangan seperti biasanya. Mumpung berlibur, Kibum mengajak mereka mengadakan pesta kecil. Jadilah mereka memanggang daging di taman samping villa Kyuhyun. Sisa dari pesta tentu saja cucian piring yang menumpuk. Karena itulah Henry dan Zhoumi bolak-balik taman-dapur-taman-dapur untuk mengangkut cucian piring.

"Ini yang terakhir, Henry." Kata Zhoumi saat meletakkan beberapa gelas kotor di dekat bak cuci piring tempat Henry sedang mencuci.

"Ne, letakkan disana saja, Oppa." Balas Henry. Tanpa dikomando, Zhoumi menggulung lengan kaosnya dan membantu Henry mencuci. Ah, seperti pasangan di serial drama saja. Tanpa sengaja saat sedang membersihkan mata pisau yang kotor, jari tangan Henry tergores hingga ia terpekik.

"Henry! Gwaenchanayo?" tanya Zhoumi panik sambil membersihkan jari tangan Henry yang terluka. Henry meringis sambil menggingit bibir bawahnya saat merasakan dinginnya air mengenai lukanya. Setelah darah di luka Henry berhenti mengalir, Zhoumi mengambil tissue di meja makan dan mengeringkan jari Henry. Ia pandangi luka Henry dengan khawatir.

"Oppa.." panggil Henry.

"Lain kali berhati-hatilah, aku tidak ingin tubuhmu terluka seinchi pun. Arraseo?"

"Ne."

Zhoumi beralih mengambil plester di kotak P3K yang ada di samping kulkas. Beruntung Kyuhyun menempatkan sebuah P3K di setiap ruangan di villa-nya. Zhoumi kembali dan memplester jari Henry, mengecup pelan jari itu hingga membuat Henry tersipu merah.

"Kenapa Kyuhyun bisa memiliki pisau setajam itu, sih?" komentar Zhoumi.

"Mungkin ia baru membelinya." Jawab Henry. Zhoumi hanya mengedikkan bahu dan kembali mencuci piring bersama Henry.

Seseorang memperhatikan sepasang pengantin baru ini dari ambang pintu dengan seringai mengerikan seperti pembunuh berdarah dingin.

"Kita lihat, apa pisau itu bisa merobek kulitmu." Ujarnya dengan suara rendah yang bisa menggetarkan tulang karena begitu mengerikan.

.

.

Siwon terbangun karena tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Ia mengerjabkan matanya dan melirik jam dinding. Pukul dua malam. Ia mendesis sebentar dan melepaskan pelukan istrinya dengan perlahan, takut membangunkan sang istri. Siwon kemudian mulai menggeser tubuhnya kesamping, namun sayang, suara derit ranjang membangun Kibum.

"Ngh? Siwonnie..." panggil Kibum dengan suara parau yang pelan tapi tetap terdengar oleh Siwon.

"Ne?"

"Mau kemana?" tanya Kibum sambil menggeliat kecil.

"Aku haus. Aku mau mengambil minum sebentar." Jelas Siwon.

"Jangan lama-lama." Rengek Kibum.

"Iya, sayang. Kau tidurlah." Siwon mengecup dahi Kibum sayang sebelum melenggang ke dapur.

Dapur villa Kyuhyun terlihat sangat gelap. Maklum, sejak pukul sepuluh malam, semua lampu sudah dimatikan karena penghuninya mulai kembali ke peraduan mereka. Siwon masuk dan raba dinding mencari saklar lampu di dapur. Ia hanya menyalakan sebuah lampu saja, karena baginya satu lampu sudah cukup terang. Siwon membuka pintu kulkas. Cahaya lampu kulkas bercampur dengan cahaya lampu dapur. Siwon mengambil sebuah botol air mineral dan meneguknya.

TRAP! TRAP! TRAP!

Sayup-sayup Siwon mendengar sebuah suara derap kaki. Ia sedikit menyerngitkan alisnya. Suara itu semakin dekat. Siwon memberanikan diri berbalik dan...

DUAGH!

Tanpa Siwon duga, seseorang memukul leher sampingnya hingga ia terjatuh dan membentur sisi samping kulkas. Kepala Siwon terasa berdenyut kencang tapi kesadarannya belum hilang sepenuhnya walau pandangannya mulai mengabur. Ia mencoba menajamkan pandangan matanya dan memfokuskan pada orang yang di depannya.

"Masih sadar rupanya?" kata orang itu dengan mengejek.

"Ka-kau!" ujar Siwon terbata. Orang itu meninju perut Siwon dengan keras hingga kesadaran Siwon benar-benar hilang. Ia membopong tubuh kekar Siwon ke sebuah ruangan yang hanya ia tahu keberadaannya di villa itu. Orang itu mendudukkan tubuh Siwon di sebuah kursi kayu dan membuka piyama tidur Siwon dan mengikatnya dengan tambang yang tadi sudah ia siapkan. Orang itu menepuk pipi Siwon untuk membangunkannya. Siwon terbangun dan terkejut melihat seseorang dihadapannya dengan sebuah pisau yang berkilat di tangannya. Mata Siwon membesar karena ketakutan. Siwon berusaha berontak tapi tubuhnya terikat dengan kursi. Orang yang tadi menangkap Siwon tertawa hingga suaranya memantul di dinding-dinding ruangan itu menghasilkan sebuah aura mengerikan.

"Percuma kau beontak. Kau tidak akan bisa lepas." Ejeknya.

"Apa maumu? Untuk apa kau melakukan ini? Dimana istriku?" desis Siwon.

"Tenang saja, Kibum noona masih terlelap di kamar kalian." Jawab orang itu sambil memainkan pisau ditangannya. Sungguh, Siwon merasa ngeri melihat kelakuan seseorang didepannya.

"Jika kau berani menyentuh Kibum seujung rambut saja, kau akan berhadapan denganku!" ancam Siwon.

"Begitu?" ejek orang itu. ia sedikit merunduk ke arah Siwon. "Sebelum kau menghajarku, kau sudah habis ditanganku." Seringai terpampang di wajah orang itu.

"Ah, asal kau tahu, pisau ini sangat tajam, lho. Bahkan Henry sempat tergores karenanya. Hebat, kan?" pamer orang itu dengan nada santai sambil menjauhkan diri dari Siwon. Siwon hanya mampu berdoa agar pisau itu tidak mengenai tubuhnya.

"Apa mau mu?" desis Siwon lagi.

"Sederhana. Menghabisimu." Mata Siwon membulat. Ia ketakutan. Ia berharap ada seseorang yang menolongnya.

"Berharap akan ada yang menolongmu? Jangan hara. Hanya aku yang tahu ruangan ini. tidak ada yang tahu selain aku."

Sial! Umpat Siwon dalam hati.

"Tapi sebelum aku menghabisimu," orang itu meletakkan pisaunya di meja yang ada di dekat Siwon. "Aku ingin bermain denganmu dulu."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia mulai memukuli seluruh tubuh Siwon dari kepala sampai kaki, hingga meninggalkan memar dan darah mengucur dari hidung dan mulut Siwon. Pasrah? Tentu saja, ikatan orang itu sangat kuat, Siwon bahkan tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya. Ia hanya bisa mengharapkan pertolongan Tuhan saat ini.

.

.

Cahaya matahari mulai menembus tirai kamar Kibum. Yeojya cantik itu menggeliat kecil sambil memanggil nama suaminya. Tapi ia sama sekali tidak mendapat jawaban. Ia meraba sisi ranjangnya yang sering Siwon gunakan tidur. Kosong. Matanya melebar saat merasakan kekosongan.

"Siwonnie?" panggilnya panik sambil terbangun. Ia menjelajah seluaruh kamar, tapi Siwon tidak ia temukan. Ia bergegas keluar kamar, dan tetap tidak menemukan suaminya. Yang terlihat hanya kulkas yang terbuka dan dapur yang reman-remang. Perasaan cemas mulai memasuki rongga dadanya.

Kibum berlari keluar rumah dan memutari semua halaman. Berharap menemukan suaminya yang mungkin sedang berolah raga pagi. Tapi nihil, ia tidak menemukan apa-apa selain halaman yang kosong. Kibum kembali masuk ke dalam dan bergegas ke lantai dua. Ia gedor-gedor pintu kamar Zhoumi dengan brutal. Isakan mulai lolos dari bibirnya. Tak lama kemudian, Zhoumi dan Henry keluar dari kamar mereka. Wajah mereka berubah panik saat melihat wajah histeris Kibum.

"Kibummie, waeyo?" tanya Zhoumi sambil memegang bahu Kibum. Donghae dan Eunhyuk ikut keluar kamar dan menghampiri Kibum karena mendengar suara ribut-ribut. Donghae memandang Zhoumi penuh tanda tanya seperti meminta jawaban. Zhoumi hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Kibummie? Gwaenchanayo?" tanya Donghae.

"Oppa... Siwonnie... Siwonnie..." rengek Kibum sambil menarik-narik piyama tidur Zhoumi.

"Siwon kenapa, Kibum-ah?" tanya Eunhyuk.

"Dia hilang..." tangis Kibum pecah. Zhoumi, Donghae, Eunhyuk, dan Henry membulatkan mata kaget.

"Jangan bercanda. Dia pasti sedang olah raga." Kata Donghae.

Kibum menggeleng. "Tidak.. aku sudah mencarinya. Tapi tidak ketemu... hiks! Siwonnie..."

"Ayo kita turun, kita bangunkan Kyuhyun. dia yang lebih tahu daerah sini." Ajak Zhoumi. Henry dan Eunhyuk beralih membimbing Kibum yang masih terisak untuk duduk di ruang makan. Sedangkan Zhoumi dan Donghae membangunkan Kyuhyun di kamarnya.

Lama mereka mengetuk pintu kamar Kyuhyun, tidak ada sahutan. Donghae mencoba membuka kamar Kyuhyun, dan terbuka. Sedikit aneh memang. Donghae dan Zhoumi memasuki kamar Kyuhyun. tapi kamar itu kosong tanpa penghuni. Perasaan cemas mulai masuk ke dada mereka. Donghae dan Zhoumi bergegas menemui Kibum di dapur.

"Kibum-ah, jawab aku yang jujur. Apa kau melihat Kyuhyun pagi ini?" tanya Zhoumi lembut namun tegas. Kibum menggeleng sebagai jawaban.

"Kau yakin?" tanya Donghae lagi. Kibum mengangguk.

"Waeyo, Hae?" tanya Eunhyuk.

"Kalian tunggu disini. Jangan kemana-mana. Kalau ada yang mencurigakan, segera lari. Mengerti?" perintah Zhoumi.

"Oppa, sebenarnya ada apa?" tanya Henry.

"Apa kalian mengerti?" ulang Zhoumi dengan nada tegas. Ketiga yeojya itu mengangguk serempak. Zhoumi dan Donghae segera berlari keluar villa dan mencari Kyuhyun juga Siwon. Semua tempat sudah mereka datangi. Pasar di dekat villa, perkampungan sekitar, daerah sekitar villa, semua sudah mereka datangi. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan dua temen mereka. Orang-orang sekitar tak luput mereka tanyai, bahkan Zhoumi menunjukka foto Siwon dan Kyuhyun. tapi tetap tidak menemukan petunjuk apapun. Donghae mengajak Zhoumi kembali ke villa karena ia rasa sudah terlalu lama meninggalkan villa. Zhoumi setuju dan berjalan kembali di villa.

"Bagaimana?" tanya Eunhyuk saat Zhoumi dan Donghae kembali.

"Mereka belum kembali?" tanya Zhoumi.

"Belum." Jawab Henry lemas.

ZREEET... ZREEET...

Tiba-tiba TV di ruang tengah menyala sendiri. Semua orang yang ada di dapur segera beranjak dan menuju ke ruang tengah. TV plasma besar itu menampakkan sebuah garis-garis abu-abu yang saling bergerak liar. Seperti awalan jika kita melihat video. TV itu mulai menampakkan sebuah gambar. Awalnya tidak jelas. Tapi makin lama, makin jelas.

"SIWONNIE!" pekik Kibum histeris saat video itu memperlihatkan tubuh Siwon yang terikat di sebuah kursi dengan banyak luka memar dari wajah hinggasekujur tubuhnya. Bahkan dari pelipis, hidung, dan mulutnya mengeluarkan darah segar. Tangis histeris kembali terdengar dari Kibum. Tubuhnya meronta liar di dekapan Eunhyuk dan Henry yang membeku melihat tayangan ini. Begitu pula Donghae dan Zhoumi.

"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Donghae lirih.

"Annyeong!" seru seorang namja yang tiba-tiba keluar dari sisi samping. Wajah namja itu terlihat ceria, seolah tidak ada hal mengerikan yang ada di dekatnya. Tubuh Zhoumi dan Donghae semakin membeku saat melihat namja yang tiba-tiba keluar itu.

"Kau!" desis Zhoumi kaget.

Namja itu hanya tersenyum ceria dan melambai-lamabai ke arah kamera. Tapi, wajah ceria dan senyum bahagianya langsung berubah menjadi senyum setan dan wajah sadis.

"It's show time!" ujarnya.

TBC


RAEMI CURCOL AREA

ne, udah ada yang tau kan ini fict apa, udah tau kan ceritanya gimana?

Mi jawab reviewnya langsung aja aja..

Ini nama permainannya diganti ya?

Iya, emang sengaja diganti, nama aslinya kan TRUTH OR DARE, Mi ganti biar sesuai dengan genre :)

Sungmin kenapa bisa meninggal?

Sungmin meninggal karena bunuh diri. Sungmin ngerasa di khianati oleh Donghae. Sungmin itu pacar rahasianya Donghae.

Kenapa Kyuhyun balas dendam?

Dia balas dendam atas kematian Sungmin. Karena pada dasarnya Kyuhyun suka sama Sungmin. Dan dia ngga terima Sungmin meninggal karena Donghae.

Jawabannya memuaskan ngga? semoga memuaskan :)

Wanna review, now? :)