Tittle :: Truth Or Death

Cast :: Cho Kyuhyun, HaeHyuk, SiBum, ZhouRy (Slight :: Lee Sungmin)

Author :: Kang Rae Mi

Warning :: Genderswitch, editing gagal, typo(s)

Annyeong, Mi balik bawa update-an fict ^^ kemarin itu Mi nggak ngeh kalau ternyata Mi update pas malem jum'at alias hari kamis. pas baca review readers, Mi baru sadar kalau Mi posting pas malem jum'at :D rencananya chap ini juga mau post pas malem jum'at juga. tapi ternyata sebelum itu fict-nya udah jadi. daripada nunggu karatan di laptop, mending Mi post sekarang aja :D

Yang nggak suka cerita Mi, silahkan out, don't like don't read :D dilarang ngebash disini oke :)

HAPPY READING ^_^

.

TRUTH OR DEATH

THE VICTIMS

.

.

Author POV

Mata Kyuhyun memandang lurus ke arah kamera. Disampingnya, tubuh lemah Siwon sedang berusaha bernafas dengan susah payah. Tubuh kekar namja tampan itu kini penuh dengan luka memar yang mengerikan. Beberapa malah berwarna merah, sepertinya ada beberapa tempat yang mengalami pendarahan dalam. Dan apa Kyuhyun peduli? Tidak, ia justru senang melihat Siwon tidak berdaya begini. Dengan sengaja Kyuhyun meninju perut Siwon dengan keras hingga Siwon memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya dan sebuah pekikan dari Kibum. Hei, bukankah Kibum berada di ruangan yang berbeda dengan Kyuhyun. Lalu bagaimana Kyuhyun bisa mendengar pekikan Kibum? Jawabannya sederhana, Kyuhyun sudah meletakkan sebuah mic kecil di samping TV plasmanya yang ia hubungkan dengan speaker kecil di ruangannya sekarang agar ia bisa mendengar suara-suara di ruang tengahnya walau ia tidak bisa melihat apa yang terjadi. Sungguh jenius.

"Noona kaget, ya? Ah, mianhae. Aku mengagetkan Noona-ku yang cantik, tapi menjijikkan." Cibir Kyuhyun.

"Kau bisa mendengar suara Kibum? Bagaimana bisa?" tanya Zhoumi.

"CKckckck.. kalian ini sungguh bodoh. Hei, coba kalian lihat sisi samping TV plasma itu. Kalian akan menemukan sebuah titik lampu berwarna merah. Itu adalah mic kecil yang sengaja kuletakkan agar bisa mendengar suara jelek kalian." Jelas Kyuhyun.

Zhoumi mengumpat kecil. Walau pelan, tapi Kyuhyun bisa mendengarnya. "Jangan mengumpat, Hyung. Kau ini tidak sopan sekali."

"Tahu apa kau tentang sopan, hah?" bentak Zhoumi. Kyuhyun tertawa keras. baiklah, sekarang coba kita lihat keadaan ruang tengah vila mewah itu. Ah, nafas Zhoumi terlihat naik-turun tidak setabil. Tangannya menggenggam erat, matanya melotot, dan otot-ototnya tegang menahan marah. Henry maju dan menenangkan suaminya. Diusapnya lengan Zhoumi hingga tangan itu tidak terlalu tegang lagi.

"K-Kyu.." panggil Kibum lirih.

"Ne, Noona?" balas Kyuhyun riang.

"Khe-kenapa kau melakukan ini?"

"Noona, apa kau ingat Sungmin? Sahabatmu semasa sekolah dulu, yang mati sia-sia karena seorang namja brengsek yang sedang berada satu ruangan denganmu." Kibum terisak mendengar kaka-kata Kyuhyun yang begitu menyakitkan. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Kyuhyun.

"Ne..." suara Kibum bergetar. "Aku mengingatnya, Kyu."

"Apa kau ingat saat kau menyarankan Sungmin mengatakan perasaannya pada Donghae hyung?" tanya Kyuhyun dengan sinis. Kibum kembali menangis, tapi ia masih kuat berdiri. Hanya saja dadanya diliputi banyak perasaan sakit yang memaksa air matanya jatuh.

"Jawab aku!" bentak Kyuhyun.

"Hiks! Hiks! Mianhaeyo, Kyu. Mianhaeyo..." isak Kibum.

"Aku tidak butuh permintaan maafmu, manusia hina!"

CRASH!

"ARGH!"

"SIWON!"

Teriakan terdengar saat mereka melihat Kyuhyun menggoreskan pisaunya secara melintang di dada Siwon. Kini di tubuh Siwon terdapat luka goresan panjang yang melintang dari dada hingga perutnya. Luka itu mengeluarkan banyak darah. Hanya saja Siwon masih bisa bernafas walau kesusahan. Kibum jatuh terduduk melihat suaminya meregang nyawa disana sedangkan ia tidak bisa melakukan apa-apa.

"Bunuh saja aku, Kyu! Bunuh saja aku! Jangan sakiti Siwon... jebal..." mohon Kibum sambil menangis. "Aku yang bersalah, Kyu. Aku yang menyuruh Sungmin melakukan hal itu. Jadi bunuh saja aku..."

"Kibummie..." Eunhyuk ikut duduk dan mengusap punggung Kibum.

"Apa Noona pikir aku tidak sakit saat melihat Sungmin mati hanya karena namja brengsek bernama LEE DONGHAE, hah? Bahkan saat itu juga aku ingin membunuhnya!" sentak Kyuhyun.

"Kalau begitu, bunuh saja aku, dan lepaskan yang lainnya." Kata Donghae. Eunhyuk terkejut mendengar ucapan Donghae.

"Andwae! Bunuh saja aku! Karena ada aku, Donghae... ia.. bunuh saja aku, Kyu!" balas Eunhyuk.

"Hyukkie! Bicara apa kau! Tidak akan ada yang membunuhmu!" bentak Donghae.

"Tapi jika bukan karena aku, kau pasti tidak akan meninggalkan Sungmin." balas Eunhyuk.

"Kau pikir aku menyukaimu setelah aku menjalin hubungan dengan Sungmin? Jauh sebelum itu aku sudah menyukaimu! Ada atau tidak adanya Sungmin aku tetap akan menyukaimu. Karena itu takdirku!"

"DIAM ATAU KUPOTONG LIDAH KALIAN!" bentak Kyuhyun. Dua orang yang bertengkar itu segera diam. "Belum apa-apa kalian sudah bertengkar. Ini tidak akan seru. Kalian akan mati. Tunggu saja saatnya."

Tubuh Eunhyuk bergetar mendengar ucapan Kyuhyun. Ia juga akan mati, tidak hanya ia saja. Semuanya. Termasuk... ia tidak berani membayangkannya. Eunhyuk kembali duduk di samping Kibum. Pikirannya kalut. Ia tidak ingin mati dengan cara begini.

"Aku ingin kalian merasakan sakit yang juga kurasakan saat Sungmin mati."

CRASH!

"ANDWAE!"

Sekali lagi, sebuah pekikan histeris dari Kibum terdengar saat Kyuhyun menyayat sisi lain tubuh Siwon. Membuat sebuah goresan baru di tubuh Siwon. Kyuhyun menyeringai mendengar tangisan histeris Kibum yang memanggil-manggil suaminya yang sekarang benar-benar tinggal menunggu waktu untuk menemui ajalnya.

"Ki-bum-mie." Panggil Siwon perlahan.

"Eh? Masih bisa bicara ternyata? Baiklah, silahkan ucapkan kata-kata terakhirmu." Kata Kyuhyun.

"Ki-bum-mie, mi-an-hae tto sa-rang-hae. Jaga-anak-kita-baik-baik. Ka-takan pa-danya bah-wa ayah-nya sangat mencintainya." Ujar Siwon putus-putus. Sungguh sulit bagi Siwon berbicara dalam keadaannya yang sekarang. Kibum tidak membalas ucapan Siwon. Ia hanya terisak semakin dalam.

"Sudah? Baiklah. Kurasa sudah cukup. Kibum noona, aku tanya padamu, kapan terakhir Siwon hyung berhenti mengompol?"

Tangisan Kibum semakin keras. Ia tahu itu pertanyaannya saat mereka bermain truth or death.

"Truth or death, Noona?" ulang Kyuhyun.

"Tr-truth." Jawab Kibum.

"Jadi?"

"Ke-ke-kelas lima SD."

JREB!

"AKH!"

Berakhirlah hidup seorang Choi Siwon. Kyuhyun menancapkan pisaunya tepat ke dalam jantungnya. Darah segar keluar dari mulut dan dadanya Siwon. Mata Siwon melotot dan tubuhnya tergolek lemas kemudian. Kyuhyun mencabut pisaunya yang berlumuran darah dan tertawa kesetanan. Kibum dan semua orang di ruang tengah menangis melihat keadaan Siwon. Mereka tidak habis pikir hal seperti ini akan menimpa mereka.

"Jangan menangis Noona. Itu pilihanmu." Tutup Kyuhyun. setelah itu layar TV kembali berubah hitam. Tinggallah suara tangisan dari orang-orang yang baru saja menyaksikan pembunuhan terkejam yang pernah mereka lihat. Kibum tak henti-hentinya meraung memanggil nama suaminya. Tangan kirinya ia letakkan di perutnya yang sedang berisikan anak dari seorang Choi Siwon. Tragis. Disaat Kibum sedang mengandung anak yang ia dan Siwon nanti-nantikan, Siwon harus pergi meninggalkannya karena kekejaman Kyuhyun.

.

.

Setelah lelah menangis, Kibum tertidur di pangkuan Eunhyuk. Wajah Kibum sudah tidak sepucat tadi saat ia menyadari bahwa mulai hari itu statusnya sudah menjadi janda. Eunhyuk masih tetap menyisir rambut Kibum dengan jemarinya secara perlahan. Tatapan mata yeojya itu sedikit kosong. Henry terus bersandar di bahu bidang Zhoumi. Donghae bersandar di sandaran kursi memikirkan nasib mereka selanjutnya.

"Siwonnie..." panggil Kibum lirih menyentak keheningan di ruangan itu. Bahkan di dalam tidurnya, Kibum masih bisa mengigaukan nama suaminya yang baru saja mati. Panggilan Kibum mendatangkan perasaan miris ke dada semua orang di dekatnya, terutama Eunhyuk. Yeojya itu kembali merasakan matanya memanas.

"Ne, Kibummie?" jawabnya, seolah ia adalah Siwon.

"Jangan tinggalkan aku dan uri aegya, ne?"

Sungguh, demi semua yang ada di hidupnya, ini adalah hal yang paling miris di hidupnya. Kibum sendiri melihat bagaimana Kyuhyun menghabisi nyawa Siwon. Dan sekarang ia masih bisa memanggil bahkan berharap Siwon akan menemaninya juga anak mereka. Airmata Eunhyuk tak bisa ia bendung. Bulir kesedihan itu kembali turun membasahi pipinya. Tak hanya Eunhyuk, Henry bahkan terisak di dalam kebisuan. Dan Zhoumi membuang muka takut melihat hal menyedihkan ini. Eunhyuk menutup mulutnya dengan telapan tangannya agar isakannya tidak terdengar Kibum. Zhoumi menoleh memandang Kibum dengan pandangan lembut.

"Anhseubnida." Jawab Zhoumi tegas namun lembut. Henry memeluk suaminya. Berharap ia juga tidak akan ditinggalkan oleh Zhoumi.

"Berjanjilah itu juga berlaku untukku, Oppa." Gumam Henry dengan suara parau.

"Yaksog." Jawab Zhoumi.

"Sebaiknya kita mandi dulu. Kurasa dengan membersihkan tubuh kita, pikiran kita juga bisa lebih jernih." Saran Donghae. Zhoumi mengangguk setuju.

"Kita harus segera keluar dari tempat ini." kata Zhoumi.

"Ne, nanti malam kita kembali ke Seoul. Semakin cepat semakin baik. Tidak hanya untuk kita, tapi Kibum juga." Donghae melirik Kibum.

"Benar, setelah sampai di Seoul, aku akan segera meminta polisi kemari dan mengevakuasi mayat Siwon."

"Bagaimana dengan Kyuhyun?" tanya Eunhyuk.

"Kita belum punya bukti kuat untuk menangkap Kyuhyun. Video itu tentu ada di tangan Kyuhyun. Kita tidak tahu dimana Kyuhyun. jika kita mencari video itu, akan semakin lama kita keluar dari sini. Yang berarti, akan banyak korban yang jatuh." Jelas Zhoumi. Ya, untuk saat ini begitu memang lebih baik. Biarkan polisi yang bekerja.

"Kalau begitu kita harus selalu bersama. Jangan ada yang berjalan sendirian." Kata Donghae. Semua mengangguk setuju. Zhoumi mengantar Henry kembali ke kamar mereka untuk mandi.

"Hae, mianhae, tadi aku terbawa emosi." Ujar Eunhyuk.

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku juga terbawa emosi." Balas Donghae sambil tersenyum.

"Kau lapar? Aku bisa memasakkan sesuatu untuk kita." Tawar Eunhyuk.

"Begitu juga bagus. Bangunkan Kibum dulu. Kita ke dapur bersama."

Eunhyuk menepuk pipi Kibum pelan sambil memanggil nama Kibum. Yeojya itu menggeliat sebelum akhirnya ia tersadar. Kibum mengerjabkan matanya beberapa kali untuk membiasakan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Saat ia mulai menyadari ia tidak di kamarnya, ia mulai bangkit dari pangkuan Eunhyuk dan memandang ke sekeliling.

"Hyukkie?" panggil Kibum.

"Ne?" jawab Eunhyuk sedikit was-was.

"Siwonnie mana?" tanya Kibum. Eunhyuk memandang Donghae dengan pandangan sedih.

"Kibummie, Siwon, dia..."

"Siwon meninggalkanku?" tanya Kibum parau. Airmatanya kembali mengalir di wajah datarnya. Pandangan matanya sedikit kosong.

GREP!

"Kibummie, kumohon, jangan mengangis lagi." Eunhyuk memeluk Kibum erat. "Kumohon, relakan dia pergi."

"Aku, aku ingin menyusul Siwonnie!" Kibum melepas paksa pelukan Eunhyuk dan berlari ke dapur untuk mencari pisau. Tapi belum sempat ia mencapai dapur, Donghae sudah mendekapnya dari belakang untuk menahannya. Kibum berusaha berontak. Ia meronta dalam dekapan Donghae. Dengan gerakan cepat, Donghae membalik tubuh Kibum.

"Sadarlah! Siwon sudah pergi, Kibum! Sadarlah! Jangan melakukan hal bodoh! Teruslah hidup demi Siwon dan anak kalian!" bentak Donghae sambil mencengkram bahu mungil Kibum. Kibum diam. Ia kembali tenang, tapi air matanya masih mengalir.

.

.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sejak tadi pagi hingga sekarang, tidak ada tanda-tanda keberadaan Kyuhyun. Kibum mulai mencoba tegar. Sesekali ia memang masih menangis. Tapi tidak sehisteris tadi pagi. Sesuai rencana, malam ini mereka kembali ke Seoul. Donghae dan Zhoumi menuruni tangga lantai dua dengan koper di tangan kanan-kiri mereka. Sementara Henry dan Eunhyuk membantu Kibum mengemasi barang-barangnya.

"Semua sudah siap?" tanya Zhoumi saat mereka berkumpul di ruang tamu. "Kalau begitu kita berangkat sekarang."

Mereka segera menuju ke garasi dan memasukkan semua tas juga koper ke dalam mobil. Eunhyuk mencoba membuka pintu pagar villa, tapi tidak bisa. Ia mencoba untuk menarik, mendorong, bahkan menggeser, tapi pinru pagar itu tetap tidak terbuka. Eunhyuk segera berlari kembali ke garasi.

"Pagarnya tidak bisa dibuka!" serunya panik.

"Tunggu disini." Perintah Donghae. Ia dan Zhoumi bergegas mencoba membuka pintu pagar tapi gagal. Karena emosi, Donghae menendang pagar itu hingga menimbulkan bunyi debam yang keras.

Drrrrt! Drrrrt! Drrrrt!

Karena merasa [onselnya bergetar, Zhoumi mengambil ponselnya dan segera menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.

"Mencoba keluar, eoh? Tidak akan bisa."

DEGH!

Zhoumi mengenali suara ini. Suara Kyuhyun.

"Dimana kau, Brengsek?" geram Zhoumi.

"Ckckck... kasar sekali. Kau tidak perlu tahu dimana aku. Yang pasti, kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Kalian akan mati."

"Tidak akan ada lagi yang mati. Kau yang akan mati."

"Ssst! Jangan bicara yang tidak-tidak, Hyung. Kau mau, Mochi kecilmu dimakan serigala gunung?"

Mendengar nama Henry disebut-sebut, Zhoumi langsung menutup ponselnya dan berlari kembali ke garasi mobil di ikuti Donghae. Sampai di garasi, Zhoumi bisa bernafas lega. Henry, Kibum, dan Eunhyuk masih menunggu di dalam mobil.

"Zhou, ada apa?" tanya Donghae yang berhasil mengejar Zhoumi.

"Masuklah, ku ceritakan didalam."

Donghae dan Zhoumi masuk ke mobil bersamaan.

"Bagaimana? Bisa?" tanya Eunhyuk. Zhoumi menghadap belakang, di ikuti oleh Donghae.

"Ani, Kyuhyun tidak membiarkan kita keluar." Jawab Zhoumi pelan menghasilkan pandangan shock dari yang lainnya.

"Lalu bagaimana cara kita keluar dari sini? Kita, apa kita semua akan mati?" tanya Henry.

"Tidak. Tidak akan ada yang mati. Dengar, mungkin ini gila, tapi ini yang sebaiknya kita lakukan dulu. Cari video pembunuhan yang dilakukan Kyuhyun. Jika kita mendapatkan video itu, Kyuhyun bisa ditanggkap dan kita bisa mendapat keamanan." Jelas Zhoumi.

"Katakanlah, kita sudah mendapatkan video itu, bagaimana kita bisa memberikannya pada polisi jika kita sendiri tidak bisa keluar dari sini." Kata Donghae.

"Sembari kita mencari video itu, kita juga mencari kunci, cara atau apapun itu untuk bisa membuat kita keluar dari sini. Sekarang kembali ke dalam. Buat suasana sewajar mungkin." Zhoumi keluar di ikuti Henry dan Kibum.

"Kau tidak keluar?" tanya Donghae pada Eunhyuk yang masih terpaku di kursi belakang.

"Aku, aku merasa takut." Cicit Eunhyuk. Donghae tersenyum hangat dan mencoba meraih tangan Eunhyuk.

"Semua akan baik-baik saja." Ujarnya menenangkan Eunhyuk. "Kajja, kita keluar."

Donghae menggandeng tangan Eunhyuk saat keluar dari mobil.

.

.

Eunhyuk sibuk menata pakaiannya dan pakaian Kibum di lemari yang ada di kamar Donghae. Setelah mengadakan rapat sebentar di ruang tengah. Diputuskan, demi keamanan bersama, mereka akan tidur dikamar yang sama, yaitu kamar Donghae. Tidak boleh ada yang berjalan sendirian, terutama yeojya. Harus bersama dengan seseorang yang mendampingi. Saat mandi pun begitu, para yeojya harus mandi bersama, dan dijaga oleh para namja dari luar.

Donghae dan Zhoumi masuk membawa beberapa peralatan dapur, tongkat baseball, raket bulutangkis, garpu daging yang mereka gunakan saat memanggang daging tempo hari, beberapa obeng, dan sapu juga pel. Mungkin kalian bertanya, untuk apa alat-alat itu? Tentu untuk membela diri. Aneh? Mau bagaimana lagi. Apa yang bisa mereka temukan, mereka gunakan. Setidaknya mereka harus berhasil survive sampai mereka bisa kembali ke Seoul.

Donghae meletakkan alat-alat itu di samping meja nakas dan disamping ranjang. Tempat yang dirasanya mudah untuk dijangkau. Setelah meletakkan segala alat untuk membela diri, Donghae mulai membagi bagian tempat tidurnya. Henry, Kibum, dan Zhoumi tidur di ranjang atas. Sedangkan, ia dan Eunhyuk tidur di kasur lipat yang ia temukan terselip di bawah ranjang Eunhyuk. Donghae mengambil sebuah pemukul baseball dan raket bulutangkis dan meletakkannya di kamar mandi. Menurutnya, kamar mandi juga perlu diberi alat pelindung diri, alasannya, hanya untuk jaga-jaga.

Donghae dibantu Eunhyuk memindahkan beberapa bantal dari kamar Eunhyuk dan kamar Kibum. Tentu bantal di kamarnya tidak cukup untuk mereka berlima. Jam menunjukkanpukul sepuluh. Kelima orang itu mulai terhanyut dalam tidur malam mereka. Semua, kecuali Eunhyuk. Ia masih setia terjaga. Entah apa yang dipikirkannya.

"Kau belum tidur, Chagi? Tidurlah, kau pasti lelah." Donghae menarik selimut mereka hingga menutupi dada Eunhyuk dan memeluk yeojya manis itu.

"Hae," panggil Eunhyuk lirih, hampir mirip sebuah bisikan.

"Hmm?"

"Aku ingin pulang..." bisiknya lagi. Donghae memutar tubuh Eunhyuk agar menghadap kearahnya. Ia tatap mata Eunhyuk dengan tatapan hangat.

"Apa kau takut?" tanya Donghae. Eunhyuk mengangguk. Donghae menarik tubuh Eunhyuk hingga ia bisa mendekap tubuh ramping Eunhyuk seutuhnya. "Jangan takut, aku berjanji, ia tidak akan bisa menyentuhmu."

"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku." Bisik Eunhyuk.

"Aku janji." Jawab Donghae pasti, walau sedikit terselip sedikit ketidak pastian. Bagaimanapun, target utama Kyuhyun adalah dirinya. Jika dirinya tertangkap, ia bisa mati ditangan Kyuhyun, dan jika itu terjadi, maka sudah bisa dipastikan dirinya akan meninggalkan Eunhyuk. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya. Sekarang hal itu belum terjadi. Sebisa mungkin, ia harus bertahan dan mencari cara untuk bisa keluar. Setelah itu semua bisa hidup bahagia sesuai dengan keinginan masing-masing.

.

.

Esoknya, semua penghuni villa –minus Kyuhyun– sibuk berkeliaran di sekeliling villa untuk mencari dimana kira-kira Kyuhyun menyimpan video pembunuhannya. Henry mencoba mencari di belakang villa. Bagian belakang villa hanya berupa taman, kolam renang, sebuah gudang penyimpanan, dan beberapa bangku taman. Dengan keberanian yang dipaksakan, Henry mencoba membuka pintu gudang penyimpanan. Perkiraan awalnya adalah gudang itu terkunci. Tapi nyatanya dengan mudah ia bisa membukanya. Saat pintu terbuka, suasana pengap dan gelap, juga bau anyir langsung menyambutnya.

Henry berbatuk beberapa saat sebelum akhirnya ia bisa menyesuaikan keadaan. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah tangannya. Sedang tangan yang lain ia gunakan untuk meraba tembok untuk mencari saklar lampu.

CTEK!

Lampu menyala. Kegelapan yang awalnya menyambut Henry menghilang seiring dengan cahaya yang dihasilkan oleh lampu di tengah ruangan. Mata Henry membelalak, lidahnya kelu, tenggorokannya tiba-tiba kering, tubuhnya bergetar hebat. Hei, ada apa dengannya. Ternyata Henry melihat jasad –atau mungkin lebih tepatnya, bangkai– Siwon yang sengaja di geletakkan di lantai gudang dengan tubuh hancur, luka dimana-mana bercampur dengan genangan darah yang sudah mengering. Lebih parahnya, tubuh tanpa nyawa Siwon dikerumuni beberapa tikus gudang yang tertarik bau anyir darah Siwon.

"AAAAAAAA...!" jerit Henry seketika. Keras dan mengundang perhatian. Mereka yang sedang di dalam villa mendengar jeritan Henry segera menuju asal suara.

"Henry, gwaenchana?" tanya Zhoumi panik saat menemukan tubuh Henry yang bergetar ketakutan di depan pintu gudang yang terbuka. Tanpa bicara, Henry menunjuk ke arah jasad Siwon. Zhoumi dan yang lainnya menoleh ke tempat yang ditunjuk Henry. Mereka berjengit kaget saat melihat keadaan mengenaskan Siwon. Zhoumi segera meraup tubuh Henry agar tidak melihat pemandangan mengerikan itu lebih lama. Sedangkan Donghae meraup tubuh Eunhyuk dan Kibum.

"Si-won-nie..." isak Kibum di dekapan Donghae.

"Sebaiknya kalian masuk saja, biar Siwon aku dan Donghae yang urus." Kata Zhoumi.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kibum parau.

"Menguburkannya. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau kita kuburkan Siwon sekarang." Jawab Zhoumi dengan nada menyesal. "Tapi sebelumnya, kita bersihkan dulu tubuhnya."

Zhoumi dan Donghae masuk ke gudang. Semakin dekat mereka dengan tubuh Siwon, semakin terasa bau anyir bercampur busuk yang menguar dari jasad Siwon. Donghae mengusir tikus-tikus yang mendekat. Setelah tikus-tikus itu pergi, ia dan Zhoumi segera mengangkat tubuh Siwon dan membawanya masuk ke villa. Mereka memandikan tubuh Siwon di kamar mandi yang ada di lantai satu. Para yeojya mencari handuk dan pakaian yang bisa mereka kenakan pada Siwon.

"Mian, kami hanya menemukan kemeja dan celana jins biasa." Kata Henry sambil menyodorkan beberapa helai pakaian pada Donghae.

"Gwaenchana. Ini darurat. Apa lagi yang kita harapkan." Jawab Donghae. Dibantu Eunhyuk, Zhoumi dan Donghae mengenakan pakaian ke tubuh Siwon. Jasad Siwon kini terlihat lebih bersih walau penuh dengan luka. Donghae mengira beberapa tulang Siwon ada yang retak atau bahkan patah karena di siksa Kyuhyun. Zhoumi dan Donghae membawa jasad Siwon ke halaman belakang dan mulai menggali liang kubur untuk Siwon. Dirasa cukup, mereka segera meletakkan jasad Siwon di liang itu dan menimbunnya dengan tanah kembali. Sabagai nisan, mereka hanya menggunakan papan kayu sisa seadanya di gudang yang mereka tulisi nama Siwon dan menancapkannya di salah satu ujung makam Siwon. Mereka memberi penghormatan terakhir sebelum masuk ke villa lagi.

"Aku akan membersihkan kamar mandinya." Kata Donghae saat melihat kamar mandi yang baru mereka gunakan untuk membersihkan jasad Siwon.

"Aku akan membantumu." Usul Eunhyuk.

"Aku juga." Tambah Kibum. Donghae mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Kalau begitu aku kaan mandi di kamar mandi yang ada di kamarku." Kata Zhoumi.

"Aku ikut!" pekik Henry.

"Kajja." Zhoumi menggandeng tangan Henry menuju kamarnya dan Henry.

.

.

Zhoumi baru saja selesai mandi saat ia melihat Henry tengkurap di ranjang mereka sambil mengayunkan kakinya. Zhoumi sedikit tergoda melihat tubuh mulus istrinya. Jujur, ia belum melakukan malam pertama dengan Henry. Ia brniat melakukannya saat liburan ini –itupun sebelum ada tragedi ini. Zhoumi mulai meneguk ludahnya melihat Henry terus mengayunkan kakinya. Tiba-tiba Henry berbalik dan memandangnya polos.

"Baru selesai?" tanya Henry. Zhoumi tidak mengindahkan pertanyaan Henry, ia langsung menerjang Henry dan sedikit menindih tubuh mungil Henry. Henry memandang Zhoumi agak takut-takut.

"Kau cantik, Mochi." Puji Zhoumi dengan suara berat.

"Go-gomawo. Bisakah, Oppa menyingkir? Oppa berat." Cicit Henry pelan.

"Ani." Jawab Zhoumi singkat.

"M-mwo?"

"Mochi, aku menginginkanmu sekarang. Kau tahu, kita bahkan belum melewati malam pengantin kita." Rayu Zhoumi sambil menjilat telinga Henry pelan.

"Eungh... mak-maksud Oppa apa...?" tanya Henry sedikit mendesah kegelian.

"Kau tahu maksudku, Henry." Ucap Zhoumi kemudian melahap bibir Henry. Henry menutup matanya merasakan rangsangan dari suaminya.

Ketagihan dengan bibir Henry, Zhoumi semakin merendahkan badannya hingga menindih tubuh Henry. Ia ingin memperdalam ciumannya dengan Henry. Desahan yang diciptakan Henry semakin membangkitkan sisi buas dari Zhoumi. Zhoumi terus memperdalam ciumannya dan semakin menindih tubuh Henry. Henry merasa tubuhnya sekamin ditekan kearah ranjang. Hingga akhirnya...

JREEEB!

Lima buah tongkat besi tajam menusuk punggung Henry. Tidak cukup dalam untuk menembus tubuhnya, tapi cukup dalam untuk membuat Henry memuntahkan darah dari bibirnya dan mulai meregang nyawa.

Merasa ada sesuatu berasa amis masuk ke mulutnya, Zhoumi segera melepas ciumannya dan terkejut melihat wajah istrinya yang melotot ke arahnya dengan mulut mengeluarkan darah. Pandangan Zhoumi turun ke bawah, ia bisa melihat, kaos biru yang dikenakan Henry mebubah merah seiring darah yang keluar. Tidak perlu menyadari apa yang terjadi, Zhoumi langsung mengakat tubuh Henry. Disana, terdapat lima buah tongkat besi tajam dengan ujung diselimuti darah dan lubang di punggung Henry yang terus mengeluarkan darah.

"Zhou-mi, la-ri." Gumam Hnery putus-putus sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

"ANDWAE!" jeritan memilukan Zhoumi mengiringi kepergian Henry. Air matanya mulai mengalir menyadari kepergian istri yang baru saja ia nikahi dua hari lalu. Zhoumi menggoyang-goyangkan badan Henry mencoba membangunkannya.

"Andwae, andwae, andwae! HENRY!" jeritanya lagi.

Disebuah ruangan tersembunyi di villa mewah itu, Kyuhyun tersenyum mengerikan mendengar jeritan pilu Zhoumi.

"Truth, or DEATH?" Gumamnya sambil menyeringai.

Ah, lihatlah dia, namja ini benar-benar mirip psikopat. Hei, kalian berempat yang ada di villa, berhati-hatilah. Karena kematian sedang mengintai kalian.

TBC


RAEMI CURCOL AREA

Annyeong,, ^^ ne, ini fict republish karena dulu ikut ke hapus TT^TT

banyak yang udah tau jalan ceritanya kan? jadi ngga perlu banya di jelasin lagi :)

kalau mau lebih jelas, PM ke akun Mi aja :D

Aku jawab reviewnya langsung rombongan aja ya ^^

1. Kenapa Kyuhyun nyiksa Siwon? salah Siwon apa?

Jawabannya karena Kibum dulu nyaranin Sungmin buat nyatain cintanya ke Donghae. tapi pada akhirnya, Sungmin mati karena dicampakkan Donghae. Kyuhyun yang dendam, pingin bikin Kibum juga ngerasain kayak dia yang kehilangan orang yang disukainya. gitu :D

2. Apa Haehyuk bakal mati?

Ehm.. untuk itu rahasia dong :D pokoknya Kyuhyun itu pingin mereka yang dia ajak ke villa-nya itu ngerasain sakit yang dia rasain. gimana caranya, itu tergantung Kyuhyun :D #plak!

3. Kenapa balas dendamnya kesemua dan ngga cuma ke Haehyuk?

Jawabannya ada di setiap chap. nanti kalian tahu sendiri :)

Saran nih buat readers, ini kan ceritanya serem nih ya, kalau baca, jangan malem-malem banget, apalagi malem jum'at. nanti pada ngga bisa tidur lagi. hehehe.. ^^

Wanna review now? :)