The First (Stop Bus)

By: Dinoya

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, other.

Rated: T

Genre: romance, drama

a/n: that's second story from yoohxhun! That GS (genderswitch) for uke. Don't be plagiator and silent reader! Absurd dan typo's. RnR please! Biasakan Review sesudah membaca!

.

Inspired by BoA song 'Who Are You'

.

Let's check this!

.


Waenji buranhaejyeo nan
Neomu ppareun seontaegeun anin geolkka
Naega mulleonamyeon waenji neol
Nochil geotman gateunde
Eojjeona neol jabaya hana

.

Aku salah menilaimu dari apa yang aku lihat.

Bukan yang aku kenal dan bukan yang aku rasa.

Aku ingin berlari tetapi aku tidak ingin kehilanganmu.

Apa yang harus aku lakukan?

.

.


Pukul lima lebih lima menit tepat Baekhyun sampai dirumahnya. Ia tak bisa memungkiri kenapa ia sampai tergesa begini. Kenapa ia sepanik ini. Padahal perjalanan pulangnya ke rumah tidak tersesat dijalan—karena ia pindahan ke perumahan yang sekarang ia tinggali.

Jantungnya berpacu cepat. telapak tangan kanannya memegang dada yang berasa berdentum cepat. nafasnya terengah. Mungkin kalian masih bingung kenapa ia seperti ini. Mari kita mundur beberapa menit sebelum ia sampai dirumahnya.

Semenjak ia turun dari bus, ia merasakan hal yang tidak enak. Ia ragu untuk berbalik ke belakang karena yang ia rasa ada yang mengikutinya dibelakang. Tapi ia tidak nyaman seperti ini. Ia tetap jalan dengan menunduk tetapi cara jalannya cukup cepat. mungkin karena ia merasa terancam/?

Hampir setengah perjalanannya menuju rumahnya, ia masih merasa ada yang membuntutinya, dan itu terbukti karena ia melihat dari kaca jendela yang memantulkan bayangan orang yang mengikutinya itu. dan ia rasa orang itu menakutkan. Tentu Baekhyun semakin ketakutan.

Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya, menggunakan ransel hitam bertali biru, kepala yang menunduk dan ditutup tudung jaket hitamnya yang semakin membuat orang itu menakutkan. Baekhyun butuh seseorang untuk menyelamatkannya.

Lama-lama ia tidak tahan, Baekhyun berhenti lalu berbalik dan—

—tidak ada? Tidak ada siapapun dibelakangnya.

t-tapi ia yakin ia melihat orang yang mengikutinya itu ada! Ia melihatnya beberapa kali dijendela rumah dipinggir jalan! Tidak mungkin itu hanya ilusinya.

"ige mwoya?" desahnya lemas. Lalu ia berbalik lagi melanjutkan jalannya menuju rumahnya yang baru karena ia pindahan minggu lalu dan harus mengingat jalan yang harus ia lewati agar tidak tersesat.

Deg!

Mata sipit Baekhyun melebar lagi. Dibelokan didepannya tidak sengaja ia melihat sesuatu yang lewat berwarna hitam. Apa itu seseorang yang dibelakangnya tadi?

Ia kembali panic, secepat kilat ia berlari meninggalkan tempat. Berlari sesuka kakinya membawanya pergi. Dan ajaibnya ia cepat sampai dirumahnya tanpa tersesat! Ada untungnya juga keadaan seperti ini. Tapi ia tidak suka panic!

"eonni, kau kenapa?" seorang yeoja yang lebih muda darinya muncul dari pintu lain didalam rumahnya. Yeoja itu bingung kenapa Baekhyun terlihat tidak baik. Pelipis berkeringat, dan wajah pucat pasi.

"ah sudahlah aku lelah! Aku ingin istirahat." Baekhyun melengang melewati Luhan—adiknya yang membuat adiknya itu bingung.

Luhan mengendikkan bahunya. Mungkin kakaknya itu benar lelah. Baekhyun tidak ingin diganggu. Lalu ia mengikuti Baekhyun kedalam dan duduk disofa depan tv. Sedangkan Baekhyun naik ke lantai dua menuju kamarnya.

.


.

Pagi sempurna yang sejuk waktunya Baekhyun si gadis sipit bermarga Byun itu bangun untuk bersiap ke sekolah. Butuh perjuangan untuk membangunkan si mungil ini. Eomma-nya harus membangunkannya seperapat jam sebelum waktunya Baekhyun bangun. Ia tidak tidur larut, ia tidur pada waktunya. Yeah tapi sudah bawaan dari lahir dia tampak susah untuk bangun dari tidur. Eomma atau siapapun yang membangunkannya harus ekstra sabar menghadapi Baekhyun yang susah bangun tersebut.

Setelah siap dengan seragam dan tas yang ia gendong dipunggungnya, ia turun ke lantai dasar rumah barunya untuk sarapan bersama dengan Eomma dan adiknya.

Lima anak tangga baru ia pijak, ia dikejutkan dengan kehadiran Appa-nya yang sudah lima hari ini tidak bertemu. Sang appa duduk dikursi meja makan bersama Eomma dan Luhan. Sebagai seorang anak yang dekat dengan kedua orang tuanya Baekhyun pasti merindukan sang Appa. Appanya baru pulang tadi malam dari Kanada karena tuntutan pekerjaan.

Baekhyun menjerit girang dan berhambur memeluk sang Appa yang ia rindukan. Sang Appa membalasnya dengan lembut. Ia juga merindukan putri pertamanya.

"appa, kapan sampai? Aku tidak tau?" gadis mungil itu melepas peluknya.

"tadi malam. Kau sudah tidur, makanya Appa tidak mau membangunkanmu." Sang Appa mengelus surai panjang Baekhyun dengan lembut. Bukan tidak mau membangunkannya, lebih tepatnya Baekhyun susah dibangunkan jadi ia tidak mau membangunkannya karena pasti akan memakan waktu yang lama(?)

"sudah melepas rindunya? Sekarang waktunya sarapan." Timpal sang Eomma yang tengah menata makanan diatas meja.

Baekhyun mengangguk, ia duduk disamping Luhan lalu sarapan bersama dengan keluarganya.

Pagi ini Baekhyun dan adiknya berkesempatan diantar sekolah oleh ayahnya. Tetapi Baekhyun hanya sampai halte bus saja. Sedangkan Luhan diantar sampai sekolah. Karena Baekhyun sudah mandiri dan tidak mau diantar oleh ayahnya itu.

Sedikit lebih pagi dari kemarin. Yeah pagi ini ia tidak mendapat sial—tersesat dijalan—lagi karena ia diantar memakai mobil dengan ayahnya. Tetapi keadaan halte cukup ramai. Banyak orang yang menunggu kedatangan bus termasuk dirinya. Ia berdiri disisi kiri paling depan. Ia tidak mau berdesakan diantara banyaknya orang didalam halte.

Beberapa menit kemudian bus datang. Baekhyun segera menyerbu bus yang baru tiba didepannya itu. melesat masuk mencari kursi kosong. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun kursi kosong didalamnya. Terpaksa ia berdiri seperti kemarin. Berdesakan dengan orang-orang.

.

Tepat dipemberhentian ketiga. Baekhyun segera turun. Tetapi sepertinya agak sulit untuk keluar dari desakkan orang-orang.

Beberapa kali ia meringis meminta maaf dan permisi pada orang yang menghalangi jalan untuk keluar. Ia harus cepat keluar sebelum pintu otomatis bus ini kembali tertutup.

Hap!

Akhirnya ia bisa bernafas lega. Ia menghirup udara yang lebih segar dari sebelumnya. Tapi ia merasakan sesuatu. Tadi sebelum turun ia merasa ada yang mengait dibajunya. Tapi ia baik-baik saja. Setelah bergelut dengan pikirannya, ia melanjutkan jalannya menuju sekolahnya. Masih ada lima puluh meter lagi untuk sampai digerbang sekolahnya.

.


.

Baekhyun membereskan alat tulisnya dimeja. Sudah waktu istirahat, dan saatnya makan siang. Kebetulan perutnya terasa lapar..

"baek, kajja ke kantin!" ujar seorang yeoja dibelakang bangkunya. Baekhyun menoleh dan tersenyum.

"kajja." Ia bangkit dari duduk dan menggandeng lengan Kyungsoo, yeoja tadi.

Semenjak Baekhyun pindah ke sekolahnya yang sekarang, tepat lima bulan yang lalu, ia dekat dengan yeoja bermata bulat yang duduk dibelakang mejanya, Kyungsoo. Mereka mudah dekat. Sebenarnya Kyungsoo tidak terlalu mudah dekat dengan orang baru, bahkan teman sekelasnya yang sudah dua tahun satu kelas dengannya. Tapi ketika ia berkenalan dengan Baekhyun, ia rasa Baekhyun berbeda. Baekhyun yang ceria dan mudah bicara dengan orang baru. Apalagi Kyungsoo tidak punya teman dekat sedekat Baekhyun sebelumnya. Selain teman dekat, mereka menjadi parter untuk belajar bersama.

"kyung, kemarin aku merasakan hal yang buruk." Ujar Baekhyun yang berjalan berdampingan dengan Kyungsoo menuju kantin.

"maksudmu?" kyungsoo bertanya bingung.

Baekhyun menghela napasnya. Lalu ia menceritakan tentang kejadian pulang sekolah kemarin. Kyungsoo yang mendengarnya hanya termangut.

"oh, annyeong ssaem." Kyungsoo menghentikan langkahnya. Sontak baekhyun yang menggandeng lengannya ikut berhenti. Baekhyun juga menghentikan ocehannya dan ikut membungkuk seperti Kyungsoo pada Yoon songsaengnim yang kebetulan berpapasan.

Guru yang mengajar kesenian itu-pun menghentikan langkahnya. Ia tersenyum pada kedua muridnya itu. membalas sapaan Kyungsoo dan membungkuk.

"oh iya ssaem, tugas yang ssaem berikan hari jumat kemarin sudah aku kerjakan, apa boleh aku mengumpulkannya lebih cepat?"

Begitulah Kyungsoo. Dibalik gaya trendy dan gaul-nya, ia juga yeoja nerd. Yeah dalam artian dia pintar. Disetiap saat ia akan membicarakan tugas ketika Baekhyun berusaha menghilangkan stress tugasnya. Dan untungnya Kyungsoo mudah terbawa suasana dan mudah terbawa dalam pembicaraan.

"Aa begitukah? Bagus kalau begitu, tetapi sebaiknya kau kumpulkan tugasnya ketika saya mengajar saja. Eum, ohiya, kalian mau ke kantin?" Tanya Yoon songsaengnim pada Baekhyun dan Kyungsoo. Sontak mereka berdua mengangguk.

"apa kalian tau Tiffany? Aku sedang mencarinya tapi tidak ketemu."

"aku tau ssaem. Tiffany sunbae satu klub teater denganku. ssaem mencarinya?" ujar kyungsoo yang lebih tau karena Baekhyun tidak terlalu mengenal yang namanya Tiffany itu.

"ne. apa kau mau bantu ssaem untuk memanggilnya? Jika kalian bertemu dengannya tolong suruh dia temui aku diruang musik. Untuk menyusun jadwal baru klub teater. Arraseo?"

Kyungsoo mengangguk dan tersenyum. "ne songsaengnim." Baekhyun yang disebelahnya pun ikut mengangguk.

"baiklah terimakasih…" manik Yoon songsaengnim melirik name tag yang tersemat diblazer kyungsoo. "Do kyungsoo dan …" ia berpindah pada Baekhyun dan ia tidak menemukan name tag gadis itu.

"kemana name tag mu? Ssaem tidak bisa mengetahui namamu." Yoon ssaem menyernyit keheranan.

Baekhyun dan kyungsoo tak kalah bingung. Baekhyun sendiri tidak menyadarinya.

Kepala Baekhyun menunduk melihat dada kirinya. Benar, name tagnya tidak ada disana.

"baek kemana name tagmu?" kyungsoo bertanya kaget.

"name tagku?" baekhyun malah balik bertanya. Ia menggeleng bingung.

"eum sebaiknya kau cari ditempat yang sebelumnya kau duduki. Mungkin terjatuh atau mungkin ada dilokermu." Usul guru Yoon yang masih ada didepan kedua yeoja itu.

Kyungsoo membenarkan ucapan gurunya itu.

"nanti kucari." Gumam Baekhyun dengan raut wajah lesu.

"baiklah ssaem, nanti jika kita bertemu dengan Tiffany sunbae aku akan menyuruhnya untuk ke ruang musik. Terimakasih ssaem" kyungsoo membungkuk cepat lalu segera menarik Baekhyun menjauh dari tempat.

.


.

Dua hari kehilangan name tag sekolahnya, dan dua hari itu juga Baekhyun tidak menemukannya. Ia frustasi mencarinya. Masih untung ia tidak terkena teguran karena salah satu atribut seragamnya hilang. Karena ia selalu menutupi dada kirinya dengan rambut panjangnya.

Ia sadar ketika dibus dua hari yang lalu, yang mengait dengan bajunya itu name tagnya yang tersangkut dengan baju orang lain. Dan terlepas. Ketika itu ia tidak menyadarinya.

.

Pukul tujuh lewat dua puluh menit gadis berperawakan mungil itu masih didalam kamarnya. Sudah beberapa kali eomma-nya berteriak memanggilnya untuk cepat turun dan sarapan. Tetapi Baekhyun masih sibuk bersiap. Lagi-lagi ia kesiangan.

Dugh!

Dag!

Brukk!

"aw!"

Barusan itu suara benturan pantat Baekhyun dengan lantai keras. Ia meringis kesakitan sembari mengelus pantatnya yang malang.

"hati-hati baek! Kau sangat buru-buru! Dari tadi dikamar kau sedang apa?" eommanya mulai mengoceh berbuatan Baekhyun tadi. "cepat sarapan dulu. eomma tidak mau kau sakit perut disekolah."

"eomma aku sedang buru-buru. Aku langsung berangkat saja ne! bye!"

"t-tapi baekki! Ah hati-hati ne!" sang eomma hanya bisa pasrah ketika Baekhyun melesat keluar rumah dan berangkat sekolah. Adiknya—Luhan sudah berangkat lebih dahulu karena ada jemputan dari sekolahnya.

.

.

"Ya gidareyo! Hah.. hah.."

Percuma saja mau berteriak sekeras apapun bus yang sudah maju tidak bisa diberhentikan begitu saja. Sia-sia Baekhyun berteriak sampai tenggorokannya sakit. Belum lagi ia kelelahan karena berlari dari rumahnya. Salahkan dirinya sendiri ia tidur larut lagi dan paginya ia telat bangun.

Baekhyun berhenti didepan halte yang sudah sepi. Ia terengah-engah, kedua tangannya ditumpukan dilututnya. Lalu ia menegakkan kembali tubuhnya. Mulut mungilnya menggerutu kesal.

Dengan rasa kesal dan sebal ia duduk di bangku panjang yang ada dihalte tersebut. Ia menunduk dalam-dalam. Serasa hanya ada dirinya sendiri didunia. Padahal ada beberapa orang yang masih menunggu dihalte. Salah satunya namja disampingnya yang sama pelajar.

"kesiangan?" Tanya namja yang duduk Satu meter disebelah kanan Baekhyun.

Baekhyun mendongak dan menengok ke kanan. Menatap namja asing itu tanpa menjawab.

Namja itu tersenyum dan mengalihkan pandangannya. "masih ada sepuluh menit lagi." Ujarnya. Baekhyun bingung dengan apa yang namja itu katakan.

"apa semalaman kau mencari benda yang hilang sampai kau tidur larut, dan telat bangun pagi."

Baekhyun menyernyit heran. Apa yang sebenarnya ia katakan? Tapi jujur saja Baekhyun selama name tag nya hilang, ia tidak bisa tidur. Ia selalu tidur larut. Dan berujung telat bangun pagi. Ia pasti dimarahi eomma-nya karena kesiangan.

Namja itu mengulurkan tangannya pada Baekhyun. Tepatnya memberikan benda persegi panjang kecil dan ada namanya.

"name tag-ku?" ia kaget kenapa name tagnya bisa ditangan namja asing ini? Dengan cepat Baekhyun mengambil name tagnya yang berada ditangan lebar namja itu.

"dua hari yang lalu aku tidak sengaja menemukan benda itu dilantai bus. Tadinya aku akan langsung memberikannya padamu, tapi kau sudah terlanjur keluar dari bus. Jadi aku tidak bisa memberikannya. Untung saja dengan cepat aku ambil. Jika tidak, peniti yang menempel diname tag mu itu akan terinjak dan mengenai kaki. Itu mengerikan." Jelas namja itu panjang lebar.

Diam beberapa saat. Baekhyun tiba-tiba bungkam sendiri. Biasanya ia mudah berbaur dengan orang asing. Tetapi kali ini ia diam.

"jadi… Namamu Baekhyun?" Tanya namja itu. baekhyun menoleh dan mengangguk.

Baekhyun berdeham kecil. "maaf sebelumnya, aku diam saja. Aku bingung harus bagaimana. Tapi aku terimakasih padamu. Kau benar, semalaman aku frustasi mencari name tagku, sampai aku tidak bisa tidur. Paginya aku selalu dimarahi eomma karena bangun telat. Sekali lagi terima kasih." Ia tersenyum diakhir katanya.

Namja itu terkekeh pelan. Ia mengulurkan tangan panjangnya. "aku Chanyeol. Park Chanyeol." Ujar namja itu yang bernama Chanyeol.

Baekhyun menerimanya ia ikut tersenyum. "aku sudah tau namamu." Potong Chanyeol sebelum Baekhyun mengeluarkan suaranya. Lalu Baekhyun mengangguk.

"oh busnya sudah datang. Kajja." Chanyeol bangkit dari duduknya bersiap menyambut bus yang sebentar lagi berhenti.

Baekhyun hanya duduk dan kepalanya mendongak ketika Chanyeol berdiri. 'tinggi sekali' gumamnya dalam hati.

"kenapa masih diam? Kau tidak mau sekolah? Bukankah name tag mu sudah kau temukan?" chanyeol menghujani Baekhyun dengan pertanyaannya. Sedangkan yeoja mungil itu hanya menunduk. Membuat Chanyeol menyernyit heran.

"aku pasti telat. Tidak ada waktu lagi untuk ke sekolah." Ujarnya dengan lirih.

"apa sebelumnya kau pernah bolos tanpa alasan?" pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun mendongakkan kepalanya.

Yeoja mungil itu menggeleng pelan "belum".

"masih ada waktu sepuluh menit lagi. Jangan rusak reputasimu sebagai murid teladan hanya karena bolos tanpa alasan."

Chanyeol sok tau sekali. Tetapi mungkin jika begitu Baekhyun akan mengurungkan niatnya untuk bolos sekolah. Baekhyun sendiri bingung kenapa dirinya jadi takut ke sekolah hanya karena takut telat.

"baiklah kalau begitu." Ujarnya dengan suara pelan. Tapi masih bisa terdengar jelas oleh telinga Chanyeol. Membuat ia tersenyum seketika.

Akhirnya Baekhyun membatalkan bolosnya. Chanyeol tersenyum lega ia berhasil membujuk yeoja itu agar sekolah—meski tidak secara langsung.

Ia bangkit dari posisi duduknya lalu mereka berdua menaiki bus yang berhenti beberapa detik sebelumnya.

.


.

Entah apa yang dipikirannya, Baekhyun menyukai namja tinggi yang ia temui dan mengembalikan name tagnya secara sukarela ketika di halte. Ia suka cara bicaranya, ia suka cara membujuk dirinya untuk tidak bolos. Mungkin karena ia jarang sekali bicara pada namja asing—karena disekolahnya hanya ada siswa yeoja. Dan poin utama namja asing atau yang namja itu kenalkan dengan nama Chanyeol adalah wajahnya yang–yeah lumayan tampan. Tapi Baekhyun yakin ia bukan tertarik karena wajahnya yang rupawan. Melainkan ada sesuatu yang belum ia sadari. Ia rasa ia ingin bertemu dengan Chanyeol itu lagi. Berkenalan lebih dekat dan ingin berteman.

Aku.. Aku penasaran dengannya…

.

.

.

.

.

TBC or END ?

.

.

REVIEW JUSEYO^^