The First (Stop Bus)

By: Dinoya

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, other.

Rated: T

Genre: romance, drama

a/n: That GS (genderswitch) for uke. Don't be plagiator and silent reader! Absurd dan typo's. RnR please! Biasakan Review setelah membaca^^

.

Inspired by BoA song 'Who Are You'

.

Lets check this!


Rapp

nan jigeum jinjihae saraganeun ge
jogeum bappeun geotppun
geureonikka meomutmeomut ibangin bodeut
neomu geobuhaji ma naneun neoppun babe

.

Jangan lihat aku seperti orang asing

Kami sudah saling mengenal

Panggil namaku, bukankah kita teman?

.

Senyuman dibibirnya seakan tak mampu hilang sejak ia turun dari bus. Pagi ini ia mendapat vitaminnya. Ia tampak segar dan bahagia. Lihat saja langkahnya begitu riang. Seperti anak kecil yang mendapat hari pertama masuk sekolah taman kanak-kanak. Sampai suatu ketika langkahnya berhenti melihat kerumunan didepan parkiran. Ia mengangkat sebelah halisnya. Padahal sekarang bel hampir berbunyi. Kenapa masih banyak orang diparkiran.

Ia melangkah mendekati kerumunan itu. kebetulan ada Jongin dan Kris yang ikut berkumpul tetapi mereka paling belakang sehingga Chanyeol cepat mendekatinya.

"ada apa ini?" tanyanya sembari menepuk bahu Kris. Si empu menoleh lalu mengalihkan pandangannya lagi pada tengah-tengah kerumunan. Chanyeol mengikuti arah pandang kris yang lurus.

"pamer barang. Sudah tidak aneh lagi." Ujarnya datar.

"hyung lihatlah, apa kau tidak tertarik untuk pamer seperti itu? bukankah mobilmu terbengkalai digarasi rumahmu? Daripada membangkai, mungkin dipamerkan ide bagus." Usul Jongin dengan kekehannya. Ia bercanda dengan ucapannya.

Chanyeol mendelik tak suka melihat kekehan Jongin yang menurutnya seperti kakek-kakek terbatuk.

"benar, daripada kau selalu menumpang pulang dengan Kris hyung. Mungkin ada bagusnya juga." Ujar Sehun yang tiba-tiba muncul dari samping jongin.

Wajah datar Chanyeol tiba-tiba berubah berseri. Ia ingat kejadian beberapa hari ini dihalte bus. Mungin itu salah satu alasan kenapa ia tidak mau membawa mobil mewahnya ke sekolah.

"naik bus lebih menyenangkan menurutku." Ucapnya seperti orang kesambet. Sehun, Kris dan Jongin menatapnya horror. Tidak biasanya Chanyeol seperti itu.

Wajahnya masih berseri-seri. Tiba-tiba ia memeluk Kris tanpa alasan dengan senyum idiotnya. Kris membelalakkan matanya atas perlakuan Chanyeol padanya. Ia kaget setengah mati.

Kemudian Chanyeol melepas pelukannya dengan Kris lalu pergi meninggalkan ketiga temannya yang melongo kebingungan.

Jongin menahan tawanya. "hyung, kau jadi seme atau uke-nya? Hehe aku hanya bercanda." Ia cekikikan dengan cengiran bodohnya. Disusul Sehun yang tertawa.

"Ya apa yang dia lakukan?!" ia menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan kedua Hoobaenya yang masih tertawa.

.


.

Chanyeol membuka lokernya dengan malas. Dilihatnya banyak selipan surat—yang kebanyakan berwarna pink—ia yakin itu pasti dari pengagumnya. Ia sudah tidak aneh lagi akan hal ini. Ia seperti artis yang terkenal dikalangan yeoja disekolahnya.

Namja jangkung bertelinga lebar itu mengumpulkan surat-surat—yang tak akan pernah ia baca—merapikannya dan menyimpannya disebuah kotak didalam lokernya. Ia lupa tidak membawa kotak surat baru, itu sudah penuh dengan surat-surat yang lebih dulu. chanyeol mengambil earphone putihnya lalu memasukkannya kembali pada saku celana seragamnya. Kemudian ia menutup dan mengunci lokernya dan bergegas menuju parkiran. Bertemu dengan Lay yang sebelumnya sudah janji.

"hyung! Sudah menunggu lama?" tanyanya pada Lay yang bersandar pada kap mobilnya. Namja manis itu tersenyum dan menggeleng.

"ani, kajja." ia menegakkan badannya dan hendak masuk ke mobil metalnya. "ah iya yeol." Sedetik kemudian ia berbalik lagi menghadap Chanyeol yang kaget karena ia berbalik tiba-tiba.

"iya? kenapa hyung?"

"sebelum kita ke sana, aku harus mampir dulu menemui adikku disekolahnya. Tidak jauh dari sini, tak apa 'kan?" lay menatap Chanyeol ragu.

"tak apa. lagi pula aku hanya numpang padamu, jadi itu hak-mu kan hyung?"

Lay tersenyum pada namja jangkung didepannya itu. "baiklah, kaja."

Sekilas memberitahu, kalau Lay ini mempunyai adik kembar bernama Yixing. Tetapi mereka tidak bersekolah disekolah yang sama. Yixing disekolahkan khusus yeoja karena permintaan ibunya yang berdarah China. Dan mereka tidak mempermasalahkannya.

Tidak sampai sepuluh menit, mobil yang membawa Chanyeol dan Lay sudah sampai disekolah adik kembaran Lay. Kebetulan sekolah tersebut baru bubar siswa berhambur keluar dari gedung sekolah.

Lay segera memparkirkan mobilnya. Lalu ia melepas seatbelt-nya. "yeol kau tunggu disini ya. Aku akan keluar mencari Yixing."

"woah hyung kau yakin? Kau tidak malu, pasti kau akan dilirik yeoja yang diluar sana. Kau yang tertampan dari perempuan-perempuan diluar sana."

Lay hanya tersenyum "kalau aku tidak keluar, Yixing tidak akan menemukanku. Dia anak pelupa. Ia pasti lupa jika ia tidak diingatkan jika aku akan datang ke sekolahnya."

Chanyeol hanya termangut mendengarnya. Sementara Lay keluar dari mobilnya. Sesaat ketika Lay keluar dari mobil, siswi yeoja yang kebetulan lewat didepannya melihatnya dengan kagum. Ada yang berteriak histeris ketika melihat Lay yang berdiri disamping mobilnya bak seorang artis. Yeah ketampanan Lay sudah tidak bisa diragukan lagi. Teman dekat Chanyeol semuanya dikenal dikalangan yeoja sekolahnya termasuk dirinya. Mereka tampan. Tapi sayangnya mereka sama sekali tidak mempunyai kekasih.

Chanyeol yang melihatnya dari dalam mobil hanya tersenyum kecil. Lay hyung yang keluar saja sudah berteriak histeris begitu, apalagi aku ikut keluar. Mungkin mereka akan berguling-guling diatas tanah. Keke. Batin Chanyeol bermonolog asal. Ia jadi tertawa sendiri.

Tidak beberapa lama kemudian, Lay yang berdiri didepan mobil dihampiri beberapa yeoja. Salah satu dari mereka wajahnya mirip seperti Lay. Itu Yixing, adik kembar Lay. Gadis itu sangat cantik dan manis, rambut karamelnya yang bergelombang terurai dan sama-sama berdimple. Yeah itulah Lay dalam versi yeoja.

Chanyeol tiba-tiba membelalakkan matanya kaget. Yang semulanya ia duduk tenang berseder disandaran jok, ia terlonjak menegakkan punggungnya. Yeoja itu? yeoja yang bersama Yixing?

Itu Baekhyun?

Onyx tajam Chanyeol tak henti-hentinya menatap yeoja mungil diluar mobil yang bersama Lay-Yixing dan beberapa temannya. Jadi Baekhyun bersekolah disekolah yang sama dengan Yixing bahkan mereka berteman. Sungguh kebetulan yang tak terduga.

Chanyeol terus menatapnya dari balik kaca mobil—yang ia yakin pasti kaca film mobil Lay cukup tebal. Itu terbukti orang yang diluar mobil tidak ada yang melihatnya didalam.

Baekhyun, Yixing dan beberapa temannya mulai meninggalkan Lay. Lay masuk ke mobilnya.

"kau kenapa yeol? Kau mengenal teman Yixing?" Tanya Lay yang melihat Chanyeol yang tengah melihat gerombolan Yixing dan temannya sampai kebelakang. Sontak ia berbalik menghadap kedepan.

"aku? Ah tidak." Jawabnya dengan gelagapan. Lay hanya mengendikkan bahunya.

"baiklah langsung saja kita kesana."

.


.

Tuut… Tuut…

Chanyeol bergeming menunggu sambungan teleponnya diangkat seseorang. Ia semakin penasaran tentang Baekhyun, yeoja mungil yang beberapa hari ini terus memenuhi pikirannya.

"yeoboseo?"

Kecemasannya hilang ketika sambungan telponnya ada yang menyahut. Ia mendongakkan kepalanya.

"hyung, kau kah itu?"

"tentu yeol. Ada apa?"

Sebelum menjawab, Chanyeol diam beberapa saat. Ada rasa ragu dalam dirinya. Tapi ia tidak bisa seperti ini.

"itu… eum, kau tau teman yixing yang kemarin bersama yixing? Yang bertubuh kecil."

"kurasa ada dua orang yang seperti itu. yang bermata bulat atau sipit?"

Chanyeol tidak terlalu memperhatikan mata sih. Ia tidak tau mata baekhyun sipit atau bulat. Tapi ia rasa mungkin mata baekhyun sipit.

"aku tidak tau. Tapi, aku tau namanya. Namanya Baekhyun, kau tau? Apa Yixing berteman baik dengannya?"

"Aa, Baekhyun? Tentu saja. Dia adik kelas Yixing. Yeah satu tahun dibawah kita. Wae?"

"apa kau mengenal Baekhyun?" Tanya Lay diseberang sebelum Chanyeol menjawab pertanyaannya.

.

.

.

Lelaki tinggi bertelinga lebar itu merebahkan tubuh atletisnya dikursi lebar berbentuk persegi diatap rumahnya. Menatap langit dibalut hitamnya tinta gelap bertaburkan bintang yang carang. Ia menghela nafasnya berat. Memejamkan kedua mata bulatnya sejenak. Ia jadi terfikirkan yang diucapkan Lay tadi sore. Tentang Baekhyun.

'yang kurasakan selama mengenal dia, dia sangat periang. Tapi ia akan mudah mendapatkan suasana hati yang buruk. Bisa dikatakan moody.' Ucapan Lay seketika teringat dibenaknya. Ia jadi ingat ketika dihalte bus waktu ia memberikan name tag yeoja mungil itu. Baekhyun tidak mau berangkat ke sekolah. Mungkin ketika itu moodnya buruk. Tetapi setelah beberapa saat, ketika dibus bersama Chanyeol ia terlihat riang. Ia banyak bertanya pada Chanyeol. Chanyeol sediri senang akan hal itu.

Lay sudah dikatakan dekat dengan Baekhyun karena Yixing—saudari kembar Lay sering membawanya ke rumah bersama keempat teman Yixing yang lain. Baekhyun mudah dekat dengan Lay karena sifat Baekhyun yang supel, dan mau bertanya. Tetapi ia akan tertutup jika ia rasa orang lain tidak perlu tau tentangnya.

Yang ia pikirkan bagaimana ia mendekati Baekhyun. Berpengalaman berpacaran saja belum pernah. Chanyeol agak susah dekat dengan yeoja tertentu. Tapi mungkin jika sering bertemu dihalte pagi hari atau ketika pulang sekolah ia akan mudah dekat. Tetapi, cara itu tidak memungkinkan juga. Minggu ini saja ia hanya kebetulan bertemu dengan Baekhyun hanya dua kali, dan minggu lalu hanya sekali—yang pertama.

Chanyeol tidak tau Baekhyun memiliki kekasih atau sekedar suka pada seseorang. Ia tidak akan berani menanyakan tentang itu pada Lay. Yang ada ia akan ditanya macam-macam oleh namja yang lebih tua beberapa bulan darinya itu. ia belum mau berbagi cerita pada siapapun tentang ia suka—atau dikatakan cinta pada pandangan pertama pada Baekhyun. Ia akan bilang pada teman-temannya jika ia sudah dapatkan Baekhyun. Tetapi didalam dirinya masih memegang kuat jika ia berkemungkinan kecil memiliki gadis mungil itu. ia masih butuh pendekatan dengan gadis mungil itu. Chanyeol akan mendekati hingga Baekhyun jadi miliknya tanpa bantuan dari orang lain. Mungkin hanya beberapa hal kecil saja mungkin ia mencari tau tentangnya pada Lay atau Yixing.

Beginilah rasanya jatuh cinta? Melakukan apapun terasa hampa. Selalu ada rasa gelisah jika berjauhan dengan sang cinta pertama. Chanyeol awalnya bingung dan merasa aneh dengan perasaannya yang tengah melanda hatinya itu. makan saja ia rasa makanan yang ia suapkan ke mulutnya tidak masuk ke perutnya. Rasanya aneh sekali.

Chanyeol menegakkan tubuhnya lalu duduk. Ia bosan. Mungkin bersepeda disekitar kompleks bisa mengilangkan rasa bosannya. Ia segera bangkit dan menuju garasi bawah untuk mengeluarkan sepeda kesayangannya.

"kau mau kemana yeol?" Yoora sadar ketika Chanyeol membuka pintu depan dengan perlahan agar kakak perempuannya itu tidak menyadarinya jika ia akan keluar rumah.

Chanyeol berbalik. "aku bosan. Aku ingin bersepeda sebentar. Boleh kah?" ia menatap kakaknya itu yang duduk disofa depan tv.

Yoora segera menoleh sembari mengunyah cemilan dimulutnya. "jangan pulang terlalu malam. Meski besok libur, kau harus membantu eomma dikedai kopi barunya. Arra?"

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban. Ia melanjutkan membuka pintu dan menuju garasi mengambil sepedanya. Tidak lupa dengan jaket abu-abu-nya dan topi yang dibalikkan, ia meluncur dari gerbang rumahnya yang besar. Menusuri jalan-jalan diantara rumah-rumah besar. Sepi dan dingin.

Namja bertubuh tinggi itu akhirnya sampai ke lapangan basket didekat rumahnya. Hanya berselang beberapa blok saja dari rumahnya. Disamping lapangan basket tersebut ada sebuah taman bermain yang beralas pasir pantai agar anak-anak yang bermain disana aman. Ia memarkirkan sepeda kesayangannya disamping lapangan dekat bangku panjang. Kemudian ia mengambil bola oranye yang kebetulan sedang menganggur dibawah bangku panjang itu.

Chanyeol turun ketengah lapangan. Memainkan—mendrible bola oranye dan melemparnya ke ring—shoot! Bola oranye itu masuk dengan sempurna. Ia mengambil kembali bola basket itu, mendrible-nya cukup lama. Lalu menshootkan kembali dan masuk. Sekitar lima belas menit ia bergulat dengan bola oranye dan ring, ia berhenti dan duduk dibangku panjang disamping sepeda-nya. Keringat sudah cukup membuat kaus oblong dibalik jaketnya basah, dan sekarang ia haus.

Chanyeol menaiki sepedanya. Mengayuhnya menuju mesin minuman didekat belokan taman bermain. Sedikit menghilangkan rasa gerahnya karena hembusan angin malam yang menyejukkan suhu tubuhnya.

"YA!"

"AA!"

Ckiitt

Brukk!

"aww!" chanyeol meringis kesakitan ketika pantatnya mendarat mulus diaspal. Ia menjauh dari sepedanya yang juga terkapar diaspal.

"omo!" seorang gadis terpekik kaget melihat Chanyeol terjatuh dari sepedanya. Ia medekati Chanyeol dan terlihat khawatir. "gwenchana?" tanyanya penuh kekhawatiran. Sekarang ia berpikir Chanyeol jatuh karena-nya yang jalan tanpa melihat arah. Ia hampir saja ditabrak sepeda Chanyeol jika namja tinggi itu tidak mengerem mendadak.

"oh, Chanyeol oppa?" gadis itu terlihat seperti kaget ketika melihat wajah Chanyeol yang didongakkan.

Chanyeol sepertinya tak kalah kaget melihat gadis itu. "Baekhyun? Sedang apa kau disini?"

Gadis yang hampir saja Chanyeol tabrak tadi itu gelagapan sendiri "sepertinya itu tidak perlu dijawab sekarang. Apa Oppa tidak apa? Apa ada yang terluka?" mata sipitnya gencar mencari sesuatu yang tidak beres ditubuh Chanyeol. Sampai Chanyeol menghentikannya.

"a-aku, aku tidak apa-apa. Bantu aku berdiri." ucapnya dingin. Ia bersiap untuk berdiri—lalu dibantu Baekhyun yang membopong tangan Chanyeol untuk berdiri. ia agak sedikit kesusahan karena Chanyeol jauh lebih besar dan tinggi darinya.

chanyeol merasakan pantatnya masih sakit. Tapi ia masih ingin dengan tujuannya menaiki sepeda—membeli minuman. Sekarang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya karena sebelumnya ia memakai sepeda.

"bawa sepedaku kesana. Aku akan ke belokan. Tunggu disana." Nadanya terdengar dingin lagi. Oh Yeol kenapa bisa kau bicara dingin pada orang yang kau sukai? Apa Chanyeol waras, atau begini caranya untuk bicara pada orang yang disukainya? Aneh sekali.

Baekhyun mengangguk patuh. Lalu ia membawa sepeda Chanyeol ke taman bermain tanpa ia naiki karena sepeda Chanyeol terlalu tinggi untuknya. kakinya pendek untuk menjangkau tanah jika dari jok sepeda Chanyeol yang tinggi.

Chanyeol melihatnya sebentar. Kemudian ia berjalan—dengan meyeret kakinya—ke mesin minuman didekat belokan. Setelah didepan mesin minuman yang penuh cahaya diantara jalan yang gelap, ia menekan tombol minuman cola sebanyak dua. Tentu yang satu untuk Baekhyun. Kemudian setelah dua cola itu keluar ia mengambilnya dan kembali ke taman bermain—tempat Baekhyun duduk dan sepedanya terparkir.

"ini, untukmu." Ujarnya—yang lagi-lagi dingin.

Baekhyun mendongakkan kepalanya yang semula menunduk dalam. Sepertinya ia pundung karena ia sudah membuat Chanyeol jatuh dari sepedanya dan sekarang Chanyeol malah bicara dingin jauh dari sebelumnya.

Ia menggeleng kecil "gwenchana." Baekhyun kembali menundukkan kepalanya. Mengayunkan dirinya yang duduk diayunan. Kaki-kaki kecilnya memainkan pasir pantai dibawah kakinya.

Namja tinggi itu duduk diayunan disamping ayunan yang diduduki Baekhyun. Ia kembali menyodorkan cola-nya yang memang untuk Baekhyun. "aku sudah membelinya dua. Ini satu untukmu." Ujarnya sedikit memaksa.

Ia menoleh lagi. Perlahan mengangkat tangannya ragu menerima cola dari Chanyeol. "terimakasih." Gumamnya pelan. Kemudian ia membuka cola-nya dan menegaknya perlahan.

"kau marah padaku?" suara baritone-nya menggema telinga Baekhyun. Ia mendongak menatap onyx Chanyeol yang berkilau oleh cahaya lampu taman.

DEG

Tepat Baekhyun menatap matanya, jantungnya berdentum keras membuatnya kaget. Ada desiran yang ia rasakan ketika ia menatap mata Baekhyun. Chanyeol segera memalingkan wajahnya dari tatapan Baekhyun.

"n-ne?" ia menggeleng gelagapan. "kupikir Oppa yang marah padaku. Karena aku telah membuat Chanyeol oppa jatuh dari sepeda." Cicitnya yang menurut Chanyeol sangat menggemaskan.

'aku marah padamu karena kau telah membuatku jatuh cinta padamu' jawab Chanyeol lirih dalam hatinya.

"tidak juga. Seharusnya aku yang lebih hati-hati. Oh iya, kau sedang apa disini. Maksudku, malam-malam begini kenapa kau ada diluar rumah." Kini nadanya terdengar lebih tenang dari sebelumnya.

"aku bosan. Dirumah adikku menyebalkan sekali. Lebih baik aku keluar dari rumah sekalian mengingat-ingat jalan, kadang aku tersesat jika lewat kesini." Baekhyun kembali menegak colanya. "Oppa sendiri? Sedang apa malam-malam begini ada ditaman?"

Chanyeol agak geli dengan sebutan itu setiap ia mendengarnya…

"aku sama sepertimu. Bosan dirumah terus jadi aku putuskan untuk bersepeda dan berakhir dilapangan basket. Biasanya aku selalu ke lapangan dan bermain basket sendirian."

"Oppa suka basket? Aku juga!" serunya riang ketika mendengar kata basket dari mulut Chanyeol.

Sekelebat ada rasa bahagia juga didalam diri Chanyeol. Kebetulan sekali yeoja yang sudah memikat hatinya ini suka dengan olahraga kesukaannya itu. apakah ini yang dinamakan jodoh? Ohh jangan berharap terlalu tinggi dulu Park.

Chanyeol bertanya tak percaya lalu diangguki Baekhyun dengan semangat. Tanpa berpikir lagi Chanyeol mengajak yeoja mungil itu untuk bermain basket dilapangan. Tetapi seketika wajah ceria Baekhyun berubah ketika Chanyeol mengajaknya bermain basket.

"kenapa?" chanyeol keheranan dengan air muka Baekhyun yang tiba-tiba berubah.

"aku suka basket tapi aku tidak bisa memainkannya. Apalagi tubuhku yang pendek pasti bolanya tidak akan masuk ke ring." Jawabnya lirih. Kaki-kaki mungilnya memainkan pasir putih yang dibawah kakinya.

Chanyeol tersenyum kecil "tidak semua yang bertubuh pendek tidak bisa memasukkan bola ke dalam ring. Temanku yang satu klub basket disekolah bahkan tingginya hampir sama denganmu, ia bisa memasukkan bola oranye itu ke dalam ring bahkan dapat tripoint. Jika sering dilatih pasti bisa." Jelasnya panjang lebar.

"dulu, ketika diBusan, ada kakak sepupu-ku yang sering mengajak main basket, tapi aku sering diejek juga karena pendek dan tidak bisa memasukkan bola kedalam ring." Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. Chanyeol jadi gemas ingin menciumnya.

"kaja!" chanyeol malah menarik paksa Baekhyun untuk berdiri. ia menaiki sepedanya tak lupa mengajak Baekhyun naik ke sepedanya.

Baekhyun terdiam sejenak. Ia agak ragu untuk naik ke sepeda Chanyeol. "maaf kak, tapi aku punya trauma dengan sepeda. Lebih baik aku jalan kaki saja." Ia menggigit bawah bibirnya takut-takut. Chanyeol malah jengah mendengarnya. Tetapi setelahnya ia mengangguk mengerti.

"baiklah, aku akan jalan perlahan." Baekhyun mulai melangkahkan kaki. Sedangkan Chanyeol mengayuh sepedanya dengan perlahan. Menyamai langkah kecil Baekhyun.

"ayo kita berlomba siapa yang sampai terlebih dahulu ke lapangan dia menang!" baekhyun berlari meninggalkan Chanyeol yang masih mencerna ucapannya.

"Hei kau curang! Kau pasti kalah!" chanyeol ancang-ancang mengayuh sepedanya. Ia ketinggalan jauh dari Baekhyun. Tapi ia tau langkah Baekhyun lebih lambat dari sepedanya.

Baekhyun tertawa sembari berlari sekuat tenaganya. Ia merasa lucu ketika Chanyeol mengejarnya dan berpura-pura tertinggal jauh darinya. Dan pada akhirnya ia juga yang kalah diakhir. Chanyeol tiba-tiba mempercepat kayuhan sepedanya dan otomatis ia menang.

Gadis mungil itu membungkuk—tangannya bertumpu dilututnya. Ia terengah padahal ia lari tidak terlalu jauh. mungkin karena ia berlari sembari tertawa ia jadi lelah sendiri.

"hei Oppa curang! Seharusnya aku yang menang! Oppa curang karena memakai sepeda!" rajuknya mengerucutkan bibirnya lucu. Ia mengelap peluh yang hampir keluar dipelipisnya. Selanjutnya ia tertawa membuat pun Chanyeol ikut tertawa.

Chanyeol memarkirkan sepedanya disamping bangku panjang—tempat parkiran sepedanya sebelum ia bertemu Baekhyun. Ia berjalan ke tengah lapangan dimana ada bola oranye bekas ia bermain tadi dan mengambilnya. Dibelakang Baekhyun mengikutinya ke tengah lapangan. Chanyeol berbalik dengan bola basket ditangannya.

"mau kuajarkan dasar bermain basket?" chanyeol memantulkan bola ditangannya ke lapangan.

"oppa yakin?" Tanya Baekhyun ragu. Sesaatnya Chanyeol mengangguk sembari terus mendrible bola basket. "berikan bolanya!" gadis mungil itu mengangkat tangannya. Kedua telapak tangannya membuka-tutup seakan kedua telapak tangannya itu gemas ingin memegang bola yang ada pada Chanyeol.

"baiklah. Aku ingin lihat kau dulu. bisakah kau memasukkan bola ini ke dalam ring." Chanyeol melemparkan bolanya ke arah Baekhyun. Gadis mungil itu menerimanya agak terpengah. Chanyeol rasa bola basket itu lebih besar dari Baekhyun.

Baekhyun mendrible bolanya agak berantakan—terbukti ia memang tidak bisa basket. Ia mulai ancang-ancang melempar bola ke ring yang jauh lebih tinggi darinya. Dan shoot! Melenceng jauh~

"jangan tertawakan aku. Aku memang tidak bisa." Baekhyun merengut sebal padahal Chanyeol hanya tersenyum melihatnya. Kemudian lelaki jangkung itu mengambil bola yang menggelinding menjauh.

"caramu memegang bolanya salah. Coba kau pegang lagi bolanya." Chanyeol kembali menyerahkan bola oranye itu pada Baekhyun. Ia menerimanya. Baekhyun mencoba membenarkan caranya memegang bola tapi secara teknik dalam perbasketan caranya salah. Chanyeol membenarkan letak telapak baekhyun yang tanpa sadar ia setengah memeluk tubuh mungil Baekhyun. Seketika suasana menjadi canggung. Chanyeol segera menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun.

Tiba-tiba Baekhyun loncat melempar bola kedalam ring dan shoot! Bola oranye itu masuk dengan sempurna kedalam ring.

"omo! Oppa! Aku bisa melakukannya! Haha! Aku bisa!" girang Baekhyun tidak percaya. Sementara Chanyeol tersenyum maklum.

Gadis mungil itu mencobanya sekali lagi dan masuk lagi. Tetapi setelahnya lemparannya selalu meleset. Dan berujung candaan dengan Chanyeol. Mereka saling berebut bola oranye itu tetapi kadang juga mereka saling mengoper bola itu. sampai…

"oppa!"

Dugh!

"argh!" Naas, Chanyeol malah terkena tonjokkan—tidak sengaja—bola basket oleh Baekhyun.

"oppa, gwenchana?!" baekhyun segera berlari pada Chanyeol yang terduduk meringis kesakitan.

.

.

.

.

.

TBC or END ?

.

.

Hai hai dino bawa 'The First' chapt 3! Agak bingung sih yg fav/foll lumayan banyak menurut din, tapi yang ripiu seret banget u,u. apa ff dino ini kurang menarik? dino agak ragu buat lanjut soalnya yg ripiu sedikit.. Dino butuh kritik/saran/masukkan dari readers.. Jadi bagi readers yang sudah baca tolong isi review dibawah ya^^

Thanks untuk cuapcuapnya~ see you next chapter ~

.

.

Review juseyo^^