SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI! MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN…
Hahahahahaha! Saya update fic ini pas raya biar varokah :v *dor!*
Oke, langsung baca aja! ^^"
.
.
BoboyBoy © Animonsta
Circulation © Penjual Senjata Haram Pa Gogo
Genre : Friendship
Rated : K+
Warning(s) : Canon, semi-AR, OOC, typos, author's opinion, Indonesian, tak sesuai EYD, judul ga nyambung, dll
.
Don't like, don't read!
.
.
.
Chapter 2 : Bad Joke
Fang menatap Sang Surya yang perlahan mulai terlahap oleh garis horizon dengan tatapan judesnya yang biasa. Harusnya ini menjadi senja yang indah jika saja langit tak didominasi oleh awan tebal yang sepertinya makin berat saja. Warna orange yang disukainya (dalam arti senja) pun menyurut, tak seindah hari-hari sebelumnya.
Fang menghela nafas pendek. Lima hari di rumah sakit benar-benar membuatnya bosan, meski masih dihitung tiga hari sejak kesadarannya. Memang sih, BoboiBoy setiap hari datang untuk membawakan donat lobak merah dan salinan catatan untuknya. Ketiga temannya yang lain juga terkadang datang menjenguknya, termasuk beberapa fansnya. Jadi dia gak kesepian-kesepian amat di siang hari.
Saat tidak sakit pun Fang tetap merasakan kesendirian di malam hari lantaranya ia tinggal individu. Jadi baginya sama saja sih. Tapi tetap saja dia yang setiap hari menghabiskan waktu untuk belajar atau bermain basket pasti bosan juga menghabiskan sehariannya di atas ranjang.
Anak itu menyadari hari sudah semakin gelap. Ia pun menutup jendela dan menyalakan lampu. Semuanya menjadi lebih praktis, karena kamar itu memang didesain untuk pasien tanpa perawat, sehingga sang pasien bisa menjangkau segala fasilitas yang disediakan dengan mudah. Terkecuali toilet.
Fang pun mempernyaman posisinya, mengambil catatan yang diserahkan BoboiBoy tadi siang, dan mulai membacanya.
Ia sempat berpikir, ada yang aneh pada si pemilik catatan itu hari ini. Biasanya BoboiBoy memilih untuk tinggal sejenak di sana, menemaninya sebelum pulang untuk bantu-bantu di kedai. Tapi tadi BoboiBoy datang, menyerahkan 2 benda wajib itu, lalu bergegas pulang.
Katanya sih ada yang mau dilakukannya bersama Gopal, dan Fang iya-iya saja. Toh, dia tidak punya hak untuk memaksa BoboiBoy untuk tetap tinggal di sana, sekalipun ia sedikit tidak rela juga sih.
Fang membetulkan bantal yang ia letakkan di belakangnya, mempernyaman posisinya dan kembali membaca dengan tenang, hingga makan malamnya datang, hingga jam menunjukkan pukul 10 malam dan suster menyuruhnya untuk tidur.
Fang yang terkejut—tak menyadari waktu berlalu secepat itu hanya menurut. Dimatikannya lampu utama ruangan itu, lalu menyalakan lampu remang-remang, sebelum ia memasukkan dirinya ke dalam selimut. Ia tak suka tempat yang benar-benar gelap, dimana kekuatannya tak berfungsi dengan baik.
Ngomong-ngomong soal kekuatan jam tangannya sudah bagus seperti baru. Berterimakasihlah pada Ochobot yang mau memperbaikinya secara cuma-cuma. Bola robot hidup itu juga bilang kalau ia sudah memodifikasi jam itu, membuatnya lebih tahan banting, dan Fang sungguh bersyukur atas hal itu. Ia tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya.
Menyamankan posisi, Fang pun melepaskan kacamatanya dan meletakkan benda itu di atas meja. Ia mulai memejamkan mata, berusaha menenggelamkan diri kea lam mimpi.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
"Eng… Gak jadi deh Gopal. Aku jadi tidak tega…"
Di lorong redup itu nampak dua orang anak sekolah dasar tengah mengendap-endap, hingga mereka sampai di depan pintu salah satu kamar vip di rumah sakit itu.
"Heih, kita seharian mempersiapkannya tau!"
"Tapi gimana kalo Fang beneran takut sampe kena serangan jantung?" BoboiBoy mulai melebih-lebihkan.
Gopal mendesah capek. "Ish kau ini! Kita cuma mau nakut-nakutin dia. Lagipula aku ragu kalo dia takut sama yang gituan,"
"Bagaimana kalo dia takut beneran?"
Gopal memutar bola matanya. Dirinya yang jahil memang tidak cocok dengan BoboiBoy yang berhati mulia. Yah, setidaknya anak itu lebih baik dari Fang yang selalu saja mengeluarkan kata-kata kasar dan melakukan kekerasan fisik (?) padanya. Meski terkadang Fang juga asyik sih. Asyik diajak berbuat jahil kepada BoboiBoy, maksudnya.
"Ya emang itu tujuannya BoboiBoy, ini 'kan cuma boneka. Kita hanya mau bikin kaget dia aja, ingat?" Gopal memberi senyum terbaiknya.
BoboBoy mengerutkan alis. "Terus kerjamu apa?"
"Aku yang atur sound effectnya dari luar. Biar lebih dramatis gitu. Apalagi sekarang lagi hujan deras. Mantap banget!" Gopal lalu menyeringai. Ia kemudian memamerkan mini camera silvernya."Juga aku bakal ambil gambarnya kalo sempat,"
BoboiBoy yang awalnya ragu akhirnya setuju juga. Entah kenapa niat balas dendamya main surut aja. Toh, nasi sudah jadi bubur. Ia dan Gopal seharian bikin nih tiruan mayat cewek berlumuran darah buat menakut-nakuti Fang. Karena sudah capek bikinnyya, sebaiknya benda ini dipergunakan sebagaimana mestinya.
Pada akhirnya BoboiBoy hanya mengangguk pasti, tidak menyadari ketidakadilan dalam pembagian tugas mereka.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
Hujan deras mengguyur kota yang masih ramai meski malam sudah larut itu. Suara petir yang menggelegar seolah tak mau kalah dengan kebisingan kota. Orang-orang pun juga masih banyak yang berkeliaran di tengah guyuran hujan. Berterimakasihlah kepada orang yang menemukan payung pertama di dunia ini.
Dia pun juga sepertinya tak mau kalah dengan orang-orang di sana. Keluar menikmati malam, bersama dua orang paling dicintainya. Sebenarnya mereka sudah melakukannya, dan kini mereka tengah dalam perjalanan pulang.
Dia duduk di jok belakang, bersama seorang wanita China yang senantiasa memberinya senyuman penuh ketulusan. Sementara si pengemudi di depan—yang memiliki darah campuran Oriental-Pribumi itu terkadang mengajaknya beserta wanita tadi ngobrol, tak mempedulikan derasnya hujan yang mengguyur mobil mereka yang melesat dengan batas kecepatan normal itu. Sungguh keluarga bahagia yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi iri.
Hal yang terlalu indah, untuk dipertahankan.
CKIIIIIITTTT! BRAKKKKKK!
Terlalu bahagia untuk menjadi kenyataan.
Dia merasakan tubuhnya terguncang hebat. Dalam sepersekian detik yang lalu ia melihat si pria membanting setir dengan panik, hingga mobil itu menabrak pagar pembatas. Tidak hanya sampai di situ. Mobil sedan itu perlahan-laha mulai jatuh, tertarik oleh medan gravitasi serta bidang miring.
Tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh seseorang, hingga mobil mereka benar jatuh ke bawah.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
Fang merasa sesak, memaksanya untuk bangun. Suara hujan yang diiringi sambaran petir mengganggunya, membuatnya tak nyaman. Suhu dalam ruangan ini pun mendadak panas, membuatnya berkeringat. Nafasnya tidak normal. Fang harus berusaha untuk mengatur sistem pernafasannya, hingga ia bisa bernafas seperti biasa lagi.
Ia meraih seklar, menyalakan lampu utama. Diambilnya segelas air yang tergeletak di atas meja dan meminumnya beberapa tegukan.
Setelah merasa agak baikan, Fang pun mencoba untuk kembali tidur. Matanya silau dengan cahaya lampu yang terang, namun setidaknya ia tak merasa sesak dan kepanasan seperti tadi.
Pada akhirnya sama saja. Ia masih tak bisa tidur kembali.
Fang menggeram. Ia pun—
Clack
"—eh?" Fang terkejut saat ruangan yang tadinya menyilaukan itu mendadak gelap gulita. Meraba-raba, anak itu mencari kacamatanya, dan langsung memakainya setelah ia menemukannya.
Bagaimana mungkin rumah sakit besar seperti ini mengalami pemadaman listrik bergilir?
Dan entah hanya perasaannya, Fang mulai mendengar suara-suara aneh, meski tak terlalu kentara, termakan oleh suara hujan.
CTARRRR!
"H─hah!" Fang nyaris berteriak saat mendengar suara menggelegar, sangat keras. Mungkin menjadi yang terkeras dari semua yang pernah didengarnya selama 11 tahun terakhir. Bocah itu memegangi dadanya yang masih berdebar terkejut.
Suara hujan masih mendominasi indera pendengarannya.
Ckiiiitt…
Sampai pintu kamarnya terbuka dengan perlahan, dan Fang tersentak akan hal itu.
"Suster…?" ragu, ia mulai bertanya dan sayangnya tak memperoleh jawaban sepatah katapun. Tanpa sadar kedua tangannya meremas selimut yang menutupi kakinya.
Hingga akhirnya pintu itu terbuka sepenuhnya, dan betapa terkejutnya ia saat tak menemukan siapapun di sana.
'Cuma angin, cuma angin, cuma angiiin! Angin kencang banget malam ini,' Fang mencoba untuk optimis, menetralkan debaran jantungnya yang tak karuan.
Brakkk!
Seolah membaca isi pikirannya, angin pun berhembus makin kencang. Cukup kencang untuk membuka paksa jendela kamar itu, membuat air hujan melesak lolos masuk ke dalam.
Fang terdiam.
Suara petir kembali menggelegar, seolah meminta perhatian dari dunia. Angin pun tak ingin kalah, ikut berkumandang hingga menyeret benda-benda ringan seperti ranting pohon dan dedaunan.
Peluh kembali membasahi dahi Fang. Padahal sedang hujan, namun ia merasakan panas yang teramat sangat, saat darahnya terpompa lebih deras dari biasanya.
Saat itu juga tengah hujan deras…
Fang meneguk ludahnya. Ia memegangi dadanya, merasakan organ di dalam seolah memukul-mukul, memaksa untuk keluar. Nafasnya kembali sesak. Pakaiannya agak basah, terkena air hujan yang terbawa angin.
Ia memejamkan matanya sejenak, dan saat ia kembali membukanya—
"HWAAAAAAAA!"
—Wanita berbaju terusan putih, dengan rambut menjuntai panjang nyaris menutupi wajah, serta berlumuran darah tiba-tiba muncul di depannya. Bagian bawah wajah wanita itu nampak bersinar, seolah memang sengaja memperlihatkan rupanya yang mengerikan di suasana gelap itu.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
Dia merasakan sakit yang teramat sangat pada tubuhnya, membuatnya menangis. Memang terlalu sakit untuk ditanggung bocah 10 tahun sepertinya.
Namun rasa sakit itu menguap seketika, saat menyadari tubuhnya menindih orang yang lebih besar darinya. Iris karamelnya membelalak sempurna. Dengan cepat ia bangun, mengguncang-guncang tubuh wanita yang berlumuran darah itu.
"M─mama!"
Air matanya mengalir makin deras.
Bahkan gejolak api yang memakan sebuah mobil sedan, yang terletak beberapa meter darinya tak menarik perhatiannya. Sepertinya si wanita berusaha menjauhkan diri serta putranya dari mobil tersebut—entah beberapa menit yang lalu.
Masih berusaha membangunkan si wanita tak sadarkan itu, dia menangis sekeras-kerasnya, mengalahkan kerasnya guyuran rezeki yang jatuh ke bumi.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
BoboiBoy tak menyangka Fang akan berekasi lebih heboh dari yang ia perkirakan. Mau tak mau ia harus keluar dari tempat persembunyiannya, saat Fang tanpa disangka-sangka langsung turun dari ranjangnya, berlari ke arah pintu.
Tiang infuse yang terjatuh terdengar nyaring.
Dengan cepat ia menangkap anak itu, namun Fang berusaha melepaskan diri. Ia memberontak dengan keras, sekalipun BoboiBoy mencengkram kedua bahunya sangat erat.
"Kau kenapa Fang?" BoboiBoy mulai panik.
Apalagi saat Fang berhasil meloloskan diri, tanpa pikir panjang BoboiBoy segera menerjangnya, membuat mereka bedua tersungkur di atas lantai yang dingin dalam kondisi tengkurap, dengan Fang sebagai alas.
Fang segera bangkit. Nampaknya ia masih berusaha untuk melarikan diri. Anak itu masih 'mengamuk', dan BoboiBoy menahannya sekuat tenaga. Sepertinya ia sedang tidak dalam keadaan sadar, buktinya anak itu terus saja meronta-ronta, seolah sedang diikat, bukannya dipegang.
"Mama! Papa!"
Iris hazel BoboiBoy membelalak.
"Mamaaa!" pemberontakan Fang makin menjadi-jadi, membuat BoboiBoy kewalahan.
"Gopal! Lampunya!" tak punya pilihan lain, ia pun 'mengurung' Fang dalam dekapannya, memeluk tubuh kurus bocah yang lebih muda sebulan darinya itu dengan erat.
Dan BoboiBoy terkejut saat menyadari sepertinya caranya cukup berhasil. Fang terkunci penuh, membuatnya tak bisa kemana-mana. Sedikit demi sedikit ia mulai tenang, meski beberapa kali menyentakkan diri untuk lolos dari pelukan hangat itu.
Ia mulai mempernyaman duduknya, semakin menekan tubuh Fang padanya agar anak itu tak meloloskan diri jika ia lengah.
Tak lama kemudian cahaya putih pun merambat ke seluruh ruangan, membuatnya akhirnya bisa melihat dengan jelas.
Dan BoboiBoy harus menahan diri untuk tidak menjerit saat melihat aliran darah di punggung tangan anak dalam dekapannya, keluar melalui lubang bekas jarum infuse yang tercabut secara paksa itu.
"F─Fang! Tangamu—"
Dan betapa terkejutnya ia saat merasa kedua tangan Fang pun terangkat, membalas pelukannya tak kalah erat. Bocah China itu menanamkan wajahnya di bahu BoboiBoy, membuat sang pemilik membatu seketika.
Dipeluk seperti itu membuatnya…
…sesak
"F─Fang. Aku tidak bisa bernafash…"
BoboiBoy merusaha mendorong tubuh ringkih itu, namun Fang malah memeluknya semakin serat, seolah akan meremukkan tulang rusuknya kapan saja. Ia hanya bisa menggapai-gapai, mencoba meraup oksigen sebisa mungkin.
"Fang—"
"BoboiBoy gimana, berhasil tid—" Gopal tanpa disangka-sangka masuk ke ruangan itu, dan membeku seketika melihat 'adegan romantis' yang diperankan oleh dua sahabatnya itu.
"G─G─Gopal…" BoboiBoy seperti mau mati saja.
Jepret
BoboiBoy jawdrop seketika saat Gopal bukannya menolongnya, malah mengeluarkan kamera entah dari mana, mengambil gambarnya dan Fang. Bocah itu nampak puas dengan hasil tangkapannya, berharap gambar ini pasti akan langsung diserbu oleh penggemar dua bocah yang kini tengah dalam posisi mengenakkan itu.
"Ehe, maaf aku ngeganggu," si bocah India hanya menyengir, lalu memasukkan kembali mini-cameranya ke saku, hendak meninggalkan mereka berdua. Seharusnya ia main cabut saja, namun wajah BoboiBoy yang mulai membiru itu membatalkan niatnya untuk kabur.
Setelah memutar bola matanya, Gopal pun berjongkok di belakang BoboiBoy, mencoba untuk melonggarkan lilitan korban mereka malam ini. Rupanya hal itu cukup berhasil. BoboiBoy sudah bisa bernafas lega, meski Fang nampaknya belum melepas pelukannya.
"Ada apa ini?" Gopal meminta penjelasan.
BoboiBoy yang masih berusaha mendorong tubuh Fang menjauh darinya hanya menggeleng. "Aku juga gak tahu. Fang langsung lari gitu. Kayaknya dia ngigau deh,"
"Ngigau?" memang sih, aneh banget Fang mau meluk BoboiBoy begitu saja. Gopal berusaha mengangkat wajah Fang untuk melihat ekspresinya, namun anak itu tetap menunduk, makin menenggelamkan wajahnya di bahu BoboiBoy, membuat si empunya merasa geli.
BoboiBoy menghela nafas panjang. Rasa bersalah memenuhi rongga dadanya. Sepertinya ia telah membuka luka lama anak ini, saking terkejutnya hingga kehilangan kesadaran. Ia tak pernah melihat Fang seperti tadi. Kehilangan kontrol bagaikan robot rusak. Bahkan Fang meneriakkan orang tuanya, yang BoboiBoy tahu sudah meninggal dunia akibat kecelakaan.
Ia sudah keterlaluan.
"Fang, maafkan aku ya," BoboiBoy menyesal, meski ia tak yakin anak di depannya ini mendengarnya.
Gopal juga nampaknya merasa bersalah. Ia hanya berjongkok di sana, menatap sendu. Meski ia tak terlalu mengerti situasi di sini ia bisa memahami setelah melihat ekspresi BoboiBoy.
Tempat itu dikuasai oleh keheningan. BoboiBoy merasakan tangan Fang akhirnya terjatuh. Sepertinya bocah itu sudah kembali tenggelam ke alam mimpi, dan ia bersyukur atas hal itu.
"Ada apa ribut-ribut?"
Suster-suster pun berdatangan, setelah mendengar keributan yang sempat terjadi beberapa saat yang lalu.
.
.
Tbc
A/N :
Maaf atas keterlambatan update fic ini.
Sekali lagi saya motong chapter ini jadi dua bagiaaan! Dx Habisnya udah sampe 5000+ words sih! DX Lagipula alurnya terasa cepat banget, mangkanya ada beberapa scene yang mau ditambahin hehe.
Maaf kalo di sini Fang OOC level dewa! Yah, mau gimana lagi… tuntutan peran sih! Dx
Dan sekedar mengingatkan, fic ini murni dari pikiran saya. Jadi ga usah terlalu permasalahin masa lalunya Fang yah! X3 Anggap aja angin lalu~ Chapter selanjutnya akan saya update secepatnya! XD
Terima kasih atas review yang readers berikan! XD Saya benar-benar merasa disambut dengan baik di fandom iniii! X3
Yosh! Sekarang, bolehkah saya meminta review lagi…? Akhir kata, review please~ x3
