BoBoiBoy © Animonsta
Circulation © Penjual Senjata Haram Pa Gogo
Genre : Friendship
Rated : K+
Warning(s) : Canon, semi-AR, OOC, typos, author's opinion, Indonesian, tak sesuai EYD, judul ga nyambung, dll
A little sho-ai for this chapter
.
Don't like, don't read!
.
.
.
Chapter 3 : Apologize
"Adedededehh! Sakit Tok! Sakit!"
"Ampun! Ampunn! Ampun Tok Abah!"
Kedua bocah itu hanya bisa meringis saat telinga mereka dijewer oleh seorang pria tua yang kini wajahnya menampakkan emosi yang ditahan.
"Kalian ini! Tega sekali melakukan hal itu pada Fang!" Tok Aba makin mengeraskan jewerannya, membuat rintihan kedua bocah itu makin menjadi.
"BoboiBoy minta maaf Tok… BoboiBoy tidak akan melakukannya lagiii…" si pengendali elemen berusaha menunjukkan penyesalannya.
"Iya Tok! Ini semua rencana BoboiBoy—!"
"Ish kau ini!"
"Dasar! Tidak jerah juga," Tok Abah menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski sedang marah, ia tak tega juga menyakiti satu-satunya cucunya itu. Kalo Gopal ia sama sekali tidak peduli. Namun karena tak ingin dibilang pilih kasih, ia pun melepaskan kedua bocah itu, hingga mereka berdua langsung membungkuk di depannya.
"Maafkan BoboiBoy Tok…" cucunya memberikan tatapan memelas terbaiknya. Sementara Gopal hanya memegangi daun telinganya yang memerah.
"Kenapa minta maaf sama Atok? Cepat minta maaf ke si Fang tuh,"
"Tapi Tok, Fang ga mau ketemu sama kita…"
"Ini semua 'kan salah kalian! Wajarlah kalah Fang marah begitu,"
BoboiBoy mendesah panjang. Semalam ia sudah sangat merasa bersalah. Namun rasa bersalah itu semakin membesar, seolah akan menghancurkan dadanya, saat suster mengangkat baju Fang untuk memeriksanya, dan BoboiBoy melihat beberapa bekas lebam, serta luka bakar di sana.
Ia tak tahu pasti mengenai lebam itu, namun ia bisa memastikan bahwa luka bakar itu 100% karena serangannya saat ia bertukar menjadi BoboiBoy Api.
Bocah itu terluka parah karenanya.
Dan ia malah membuatnya makin parah, hanya karena perasaan 'kesal' akibat sikap Fang yang seperti sedang memanfaatkannya. Ia bahkan membuka trauma yang sudah lama dikubur anak itu, dan BoboiBoy tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan bocah itu.
Jika saja Fang mau bertemu dengannya.
Tadi saja sewaktu ia, ketiga temannya, dan Tok Aba beserta Ochobot datang untuk menjenguknya, Fang langsung saja memberinya serangan bayangan. Untungnya BoboiBoy yang berpengalaman diserang mendadak seperti itu dengan lihai menghindar.
Gopal mencoba untuk membela sahabatnya itu, dan tanpa sengaja (atau mungkin kebiasaan) malah kecoplosan mengatakan bahwa ia ikut serta dalam kejadian semalam, membuatnya ikut serta pula menjadi sasaran Fang.
Ying, Yaya, dan Ochobot mencoba untuk menenangkan anak itu, sementara Tok Aba menggiring BoboiBoy dan Gopal keluar, memberi mereka 'hukuman kecil'. Sebenarnya BoboiBoy sudah kena semalam. Saat ia pulang dan menjelaskan semuanya kepada Tok Aba, dan lelaki tua itu langsung saja memberinya hukuman yang tak akan pernah BoboBoy lupakan.
Ochobot bahkan marah padanya!
Rasanya ia ingin kabur dari bumi saja kalau begini.
"Bagaimana nih BoboiBoooyy… Habislah aku dihajar si Fang nantiii…. Uhuhuhuhuuu!" rengekan Gopal menyadarkannya dari lamunannya.
"Tenang Gopal. Nanti kita coba minta maaf baik-baik," BoboiBoy menepuk pelan bahu bocah gempal itu.
"Minta maaf apanya!? Sebelum bicara pasti dia keburu mengeluarkan kekuatannya!"
"Tenang. Pertama kita patungan, beli donat lobak merah yang banyak sebagai permintaan maaf,"
"Heh? Kalian ingin menyogoknya?" sewot Tok Aba.
"Cuman cara ini yang BoboiBoy bisa pikirkan Tok…" si cucu hanya menghela nafas. Sepertinya tabungannya akan benar-benar habis hari ini.
Tapi apalah arti uang itu jika rasa bersalah terus saja memenuhi rongga dadanya. BoboiBoy tidak akan menyerah sampai Fang mau memaafkannya.
"Hmmm… Terserah kalian lah. Tapi sebaiknya kalian memberinya malam saja. Biarkan saja di tenang dulu siang ini," Tok Aba memberi saran, dan kedua bocah itu mengangguk setuju.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
"Harimau bayang! Seraaangg!"
Kedua bocah itu dengan cepat menghindari sesosok hitam berbentuk harimau dengan mata merahnya yang galak. Gopal nyaris berteriak saat melihat bekas cakaran pada tembok yang bisa saja mengenainya jika ia lambat bereaksi. Sementara BoboiBoy membetulkan topinya yang miring.
"Tenanglah Fang. Kami hanya mau minta maaf,"
"Mau minta maaf apa lagi kalian, hah? Kalian ini memang mau dihajar!" si pasien bangkit dari ranjangnya. Bersyukurlah karena hari ini suster tidak memasang jarum infusnya lantaran luka yang ada pada punggung tangan Fang akibat kejadian kemarin malam. Awalnya suster itu menyarankan untuk menginfus Fang pada tangan yang sebelah, tapi dengan tegas ia menolak. Fang si pembersih itu tak mungkin 'kan, menggunakan tangan kanannya sehabis buang air untuk… membayangkannya sudah membuatnya merinding.
"Cakaran bayang!"
Tak memberi kesempatan kedua temannya itu untuk berbicara, Fang tetap melesatkan serangannya. Ruangan yang awalnya tenang itu kini berubah menjadi rusuh, korban atas kemarahannya. Ngomong-ngomong soal donat lobak merah, Gopal sudah menghabiskannya lebih dahulu, karena lelah menunggu sampai para penjenguk Fang (tepatnya penggemar) pulang semua. Mau tidak mau mereka berdua harus menghadapi si bocah Tionghoa dengan tangan kosong.
"Kau ini pemarah sekali Fang!" Gopal menggerutu. "Tukaraaan makanan!" dengan cepat ia menembakkan kekuatannya pada Harimau Bayang, dan mahluk itu menghindar dengan gesit.
Fang menggertakkan giginya. Ia lalu menangkupkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan, sehingga harimau jadi-jadian itu menghilang tanpa jejak. Ia lalu membentuk formasi lain, yang sukses membuat dua bocah nakal itu membelalak kaget.
"Elang ba—"
"Fang!"
"Hwaaaaa!" Gopal yang dikuasai oleh ketakutan langsung saja melesatkan diri keluar dari ruangan itu. BoboiBoy sendiri tidak percaya darimana bocah gempal itu mendapatkan kecepatan seperti itu. "Semoga beruntung BoboiBoy!"
BoboiBoy ditinggal sendiri.
Bocah itu menatap horror pada Fang yang sepertinya benar-benar serius. Ia tidak percaya anak itu akan benar-benar mengeluarkan jurus terkuatnya di rumah sakit seperti ini. BoboiBoy juga tidak bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa Fang hanya sekedar mengancam, lantaran hal itu akan membuatnya lengah.
Ia tak ada pilihan lain.
"BoboiBoy kuasa tiga!"
Fang terlonjak saat melihat rivalnya ikut mengeluarkan kekuatan terkuatnya. Bocah itu sudah menfokuskan pertahanan—
Click!
Sreettt…
"Apa—"
—Ruangan tersebut langsung gelap gulita. Kejadiannya berlalu begitu cepat. Saat BoboiBoy Taufan langsung saja menurunkan seklar lapmu, sementara BoboiBoy Halilintar dengan sigap langsung berlari melalui Fang, menutup korden kamar bocah itu, sehingga tak setitikpun cahaya yang nampak. BoboiBoy Gempa langsung saja mengambil inisiatif, menangkap tubuh Fang yang kini tengah meronta sekuat tenaga.
"Lepaskan aku!" Fang memberontak keras, membuat BoboiBoy versi Gempa kewalahan. Dengan sigap tangan bocah itu menyikut pelipis BoboiBoy, membuatnya oleng.
Fang memang tidak bisa diremehkan.
Bocah itu berlari menjauh, siap melayangkan serangan. Jika kekuatan bayangnya tidak bekerja, serangan fisik pun tak jadi masalah. Lagipula ia cukup bagus dalam hal kekuatan, meski tak yakin kekuatan fisiknya itu melebihi BoboiBoy.
Si Pahlawan Pulau Rintis hanya menghela nafas pendek, sambil memegangi pelipisnya yang sakit. Ia pun menyatukan tubuhnya kembali, membuatnya menjadi BoboiBoy yang biasa. Lagipula ia tak mau menggunakan kekuatannya pada rivalnya itu. BoboiBoy takut kejadian yang sama akan terulang, saat ia menyakiti ibu Adudu, membuat alien berkepala kotak itu kembali ke jalan sesat. Jangan sampai Fang juga 'kembali jahat' gara-gara dia.
Setidaknya ruangan ini sudah cukup gelap, membuat Fang tak bisa menggunakan kekuatan bayangnya.
Sayangnya si bocah berkacamata itu tak kenal menyerah. Tanpa aba-aba ia langsung melesatkan kakinya, menyerang BoboiBoy dengan tinjuannya, seolah ia bukanlah pasien di rumah sakit ini. BoboiBoy menghindari serangan itu dengan gesit, membiarkan Fang hanya meninju udara.
Bocah itu menjatuhkan dirinya ke lantai, dan saat BoboiBoy lengah, kakinya bergerak cepat, menendang kaki BoboiBoy, membuat si empunya harus merasakan dinginnya lantai dengan bokongnya.
BoboiBoy masih meringis meratapi nasib naas bokongnya, tak menyadari Fang yang sudah kembali menyerangnya.
Menjadi pahlawan yang melawan alien jahat tak menjadi omong kosong bagi BoboiBoy. Kekuatannya secara tidak sadar meningkat, begitu pula dengan refleksnya. Ia kembali menghindari serangan Fang meski di luar perintah otaknya. Tak hanya itu, dengan sigap BoboiBoy langsung menangkap pergelangan tangan Fang yang hendak menyerangnya, beserta pergelangan tangan satunya yang akan melancarkan serangan susulan.
Fang menggertakkan giginya, serangannya ditahan seperti itu. Ia masih berusaha mendorong kedua tangannya, sayangnya BoboiBoy menahannya dengan kuat.
Manik karamelnya lalu tertuju pada korden yang sedang mengganggur di atas. Sekali sentakan, ia melepaskan cengkraman BoboiBoy, berdiri, dan langsung menyingkap tirai kain tersebut.
"Kita bisa bicara baik-baik Fang," BoboiBoy pun ikut berdiri, mencoba untuk membujuk rivalnya yang sudah berancang-ancang hendak menyerangnya itu. Ia harus berupaya menahan kesabaran, untuk tidak membalas serangan yang dilancarkan padanya.
"Aaah! Tak ada!"
"Ayolah Fang. Nanti kubelikan donat lobak merah deh!"
Fang terdiam sejenak. Tanpa sadar, formasi tangannya yang siap membentuk harimau bayang sedikit melemah. Namun, ia segera menggelengkan kepala meski dirasanya air liurnya hendak menetes. "Mau sogok aku lagi, hah!?" ujarnya emosi dengan sedikit rona merah di kedua belah pipinya.
BoboiBoy tahu, Fang pasti sangat marah padanya (dan Gopal) atas kejadian kemarin itu. Ia tahu perbuatan bodohnya itu telah membuka luka lama bocah Oriental tersebut. Kenyataannya, dia telah melukai Fang baik secara fisik maupun psikologis, dan itu membuatnya merasa amat bersalah.
BoboiBoy menurunkan tangannya, mencoba untuk berbicara lebih lembut. "Aku hanya mau minta maaf Fang," ucapnya tulus.
"Seolah maafmu itu berdampak apa-apa," si bocah China berujar sinis, sebelum mendecih.
"Setidaknya… biarkan aku menyembuhkan lukamu dulu,"
Fang mengerutkan alisnya bingung. Bagaimana mungkin BoboiBoy bisa menyembuhkan luka dihati—
"Kau terluka parah karena serangan apiku 'kan?" menyadari sirat kebingungan dari bocah itu BoboiBoy melanjutkan kalimatnya.
Fang kembali terdiam. Namun kali ini ia menurunkan tangan, membatalkan serangannya. Ia tak pernah marah atas apa yang dilakukan bocah itu enam hari yang lalu. Lagipula BoboiBoy melakukannya dengan tidak sengaja. Namun jika membicarakan mengenai kejadian sehari yang lalu, tepatnya kemarin malam, itu lain ceritanya.
BoboiBoy yang ada di sana hanya bisa mendesah lega, sampai Fang melipat kedua tangannya, membuang muka.
"Cih, aku tidak butuh bantuanmu,"
"Kujamin sembuh deh. Masa kau mau absen dari sekolah lama banget?"
Fang menimbang-nimbang. Ia terluka karena BoboiBoy, itu berarti jika BoboiBoy menyembuhkannya, mereka impas. Dan beberapa hari yang lalu, ia mengakui bahwa dirinya sudah kelewatan mengerjai BoboiBoy yang dilema rasa bersalah itu, jadi wajar saja jika pemilik iris hazel itu merasa muak, dan memutuskan untuk membalasnya. Lagipula BoboiBoy tidak tahu apa-apa mengenai masa lalunya. Fang mencoba untuk menyingkirkan egonya.
Ia menghela nafas pendek.
"Kali ini kau kumaafkan," ucapnya cuek. Dia memutar bola matanya, menyesali apa yang baru saja dikatakannya.
Senyuman penuh binar mengembang di wajah si tersangka.
"Terbaik kau Fang!" ia pun setengah berlari, duduk di sisi ranjang dan memberi Fang isyarat untuk ikut melakukannya. Fang kembali memutar bola mata, namun ia menurut saja. Toh, ia juga sudah bosan di rumah sakit sepanjang hari. Ia mengambil tempat, membelakangi BoboiBoy.
"BoboiBoy Air!" dan bocah yang didominasi warna orange itu pun bertukar menjadi salah satu personanya, memakai baju hitam dengan rompi tebal biru muda, serta topi biru yang hampir meutupi seluruh wajahnya.
"Jangan lama-lama," Fang berujar pasrah, membuka pakaiannya. Ia tak ingin seorang pun melihatnya dalam keadaan seperti ini, bersama seorang bocah yang sudah menjadi saingannya sejak lama itu.
BoboiBoy sedikit terkejut saat Fang membuka bajunya. Ia bisa menangkap tubuh kurus itu yang terbalut perban, dengan beberapa lebam dan luka bakar yang sepertinya sudah mengering. Rasa bersalah kembali memenuhi relung dadanya. Ia bersumpah akan berusaha untuk mengawal kekuatannya sendiri, hingga ia tak akan menyakiti siapapun—lagi.
Dengan pelan, ia pun membuka lilitan perban putih itu, menampakkan beberapa bercak luka bakar di sana. Setelah lepas, ia pun meletakkannya di lantai.
"Mungkin agak perih, tahan yah,"
"Hmm,"
BoboiBoy menengadahkan tangannya, hingga sebuah bola air sebesar bola pimpong muncul, dan perlahan makin membesar. Dengan lembut, ditempelkannya bola itu pada punggung Fang, hingga air tersebut menyebar merata di area sana.
Fang meringis.
"Tahan sebentar,"
"Aku tahu, bodoh,"
BoboiBoy mendengus, namun tetap melanjutkan. Benda cair murni itu lalu bergerak, menyelimuti tangannya hingga ke pergelangan. Perlahan namun pasti, ia mulai menggerakkan telapak tangannya yang seolah terbalut sarung tangan dari air itu menelusuri punggung Fang, menyembuhkan luka yang ada di sana.
Beberapa kali Fang harus tersentak karena merasakan perih pada permukaan kulitnya, namun ia diam saja. Toh, ini juga demi kesembuhannya. BoboiBoy sendiri juga diam, menyembuhkan luka anak itu dengan tenang. Ia baru menyadari bahwa tubuh Fang lebih kurus darinya. Padahal pertumbuhan (tinggi) anak itu sudah sangat bagus, namun tubuhnya sudah seperti tulang berlapis kulit. Ah, itu berlebihan.
Mungkin gizi yang Fang makan selama ini lari ke tulang atau otaknya.
BoboiBoy pun menjauhkan tangannya, saat dirasanya bagian punggung sudah cukup. Ia agak gugup saat ia akan berpindah pada tubuh bagian depan, namun setelah menahan malunya, ia pun menyuruh Fang agar berbalik menghadap ke arahnya, dan langsung ditolak mentah-mentah.
"Gak mau! Geli tau!"
"Mau sembuh tau tidak?"
Fang menggerutukkan giginya. Ia hanya berharap tak akan ada yang melihat mereka sekarang. Dengan sangat terpaksa, ia pun membalikkan tubuh, menyadari jarak antara dirinya dan BoboiBoy tak genap setengah meter. Tentu saja. BoboiBoy harus melakukan kontak fisik pada pasiennya agar proses penyembuhan ini berjalan lancar.
Setidaknya Fang bersyukur karena BoboiBoy Air menurunkan topinya seperti itu, sehingga membuatnya seolah merasakan 'penghalang' antara mereka berdua. BoboiBoy tak akan bisa melihat ekspresinya, begitu pula sebaliknya.
Namun dalam jarak seperti ini keduanya bisa saling mendengar detak jantung masing-masing. Debaran yang begitu keras dan cepat, dan mereka tidak tahu kenapa.
Fang merasakan dingin sekaligus perih saat BoboiBoy menelusuri lukanya dengan air jernih itu.
Malam itu tengah terang bulan. Keduanya hanya diam, tak berniat untuk membuka obrolan.
Dua menit berlalu, BoboiBoy pun memundurkan tubuhnya bersama airnya, kembali mengubah benda cair itu menjadi uap hingga menghilang begitu saja. Tanpa basa-basi, ia pun kembali ke dirinya semula, bocah bertopi terbalik dengan warna jingga.
Senyuman puas merekah di wajah imutnya. Memang sih, tak sepenuhnya sembuh. Masih terdapat bercak kemerahan di tubuh kurus itu, namun setidaknya tidak akan terasa perih lagi.
Fang mau tak mau merasa cukup takjub dengan kekuatan BoboiBoy, namun ia lebih memilih mati daripada harus mengakuinya.
"Terima kasih," ucapnya akhirnya, meski dengan nada tidak ikhlas. Ia pun kembali mengenakan pakaian rumah sakitnya, lalu menurunkan kakinya dari ranjang.
"Hmm, anggap saja sebagai permintaan maafku," BoboiBoy mengikuti posisi Fang, hingga kini mereka berdua duduk berdampingan.
Keduanya terjebak dalam keheningan malam, sampai Fang memecah keheningan.
"BoboiBoy,"
"Ya?"
Ia bisa melihat wajah oriental itu nampak ragu-ragu, menunduk ke bawah sejenak, sebelum kembali mendongkak menatap wajah Pahlawan Pulau Rintis itu dengan tatapan menuntut.
"Apa yang terjadi kemarin malam?" tanyanya akhirnya.
BoboiBoy terdiam untuk beberapa saat, sampai sudut bibirnya terangkat, seolah tengah menahan tawa. Mau tidak mau Fang gemas juga. Siapa yang tidak kesal jika pertanyaannya tidak dijawab begitu?
"Apa sih?" Fang menuntut.
"Aku nakutin kau pake boneka hantu," jawab BoboiBoy enteng.
"Ya ya yaaa… aku ingat bagian itu…" Fang mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah, sebelum ia kembali menatap lawan bicaranya dengan serius. "Tapi setelah itu…?"
"Masa kamu nggak ingat?"
Kini Fang yang terdiam. Saat itu ia hanya mengingat—tepatnya bermimpi, dimana ia mengalami kecelakaan. Sebenarnya itu bukanlah mimpi biasa, melainkan memorinya. Kejadian nyata yang menimpanya hampir dua tahun yang lalu, dimana musibah itu menewaskan kedua orang tuanya.
Ia merasakan matanya memanas, dan segera memejamkannya agar benda cair di sana tak dapat lolos. Tangannya terangkat, menaikkan benda berbingkai ungu sebagai spekulasi belaka. Fang menghela nafas panjang, berharap BoboiBoy tak menyadari dirinya yang hampir menangis, saat bayang-bayang masa lalunya kembali menghantuinya.
"Fang…?" panggil BoboiBoy saat tak mendapat respon cepat seperti biasa.
"Aku nggak ingat," balas Fang langsung. Anak itu kembali menatap BoboiBoy, dengan pandangan yang lebih lembek dari sebelumnya. "Tapi aku tahu kalau aku tidak benar-benar pingsan saat itu, hanya saja aku tidak ingat,"
"Bukannya kau nggak ingat,," BoboiBoy mengoreksi dengan nada santai. "Tapi nggak sadar," senyuman jahil terukir jelas di wajah imutnya.
Fang mengerutkan alis, sebelum mencondongkan tubuhnya pada BoboiBoy dengan antusias. Ia sudah merasakan firasat buruk saat melihat ekspresi yang menyebalkan itu. "Memangnya aku ngapain?" tanyanya tidak sabar. "Ngigau, begitu?"
"Seperti itulah~"
"Aku bilang apa!?" BoboiBoy tak menyangka reaksi Fang akan berlebihan seperti itu. Dengan malas ia menepis jemari Fang yang tanpa sadar terkepal tepat di depan wajahnya.
"Kayaknya kau bakal nyesal kalau aku kasih tau,"
"Cepat kasih tau!"
"Yakin, gak nyesal…?"
Fang makin gemas saja dengan sikap BoboiBoy. Perempatan imaginer muncul di kepalanya, menandakan bahwa ia sudah berada di puncak emosinya. Namun ia berusaha mengontrol amarahnya, tak ingin menyebabkan keributan di rumah sakit yang tenang ini.
"Kasih tau aja,"
BoboiBoy tersenyum puas saat mendengarnya, membuat Fang mengernyit bingung. Ia berpikir sejenak, menyaring apa yang seharusnya dan tidak seharusnya ia katakan pada Fang. Bagaimana pun BoboiBoy tak mau membiarkan Fang kembali sakit hati lagi. Maka ia memutuskan untuk tak mengungkit soal anak itu yang meneriakkan kedua orang tuanya saat tengah hilang kendali.
Tapi tidak untuk—
"Kau memelukku,"
"Heh?"
Senyuman—tepatnya seringai makin mengembang di wajah BoboiBoy melihat ekspresi cengo Fang, seolah rahang anak itu bisa jatuh ke lantai kapan saja.
"Kau memelukku," dengan santai BoboiBoy mengulang kalimatnya. "Erat banget malah. Kau hampir membuatku kehabisan nafas, tau? Untung ada Gopal,"
Fang masih mencerna perkataan rivalnya yang satu ini. "G─Gopal…?"
"Iyaa, Gopal yang bantu aku lepasin pelukanmu, tapi gak bisa. Akhirnya kau tidur juga, baru lepas…"
"B─bohong. Gak lucu!"
BoboiBoy tersenyum puas saat mendapati rona merah di kedua belah pipi anak Mandarin di sampingnya ini, meski tak terlalu kentara karena gelapnya malam. "Terserah mau percaya atau tidak," ia tak tahan untuk tidak mengacak rambut biru gelap itu, sebelum turun dari ranjang. "Tapi aku janji ga bakal kasih tau ke siapapun kok,"
Fang masih dengan ekspresi terkejut bercampur kesalnya. Ia tahu betul kapan rivalnya ini serius, kapan bercanda. Dan sekali lihat saja ia sudah tahu kalau yang dikatakan BoboiBoy barusan benar adanya.
BoboiBoy memungut perban bekas Fang dan membuangnya ke tempat sampah. "Tapi aku ga yakin Gopal mau tutup mulut,"
Dan berbagai jenis mahluk bayangan jadi-jadian pun menyerang anak itu—entah karena apa.
.
.
Fin
A/N :
Hohohohooo~ Akhirnya selesai juga fic ini! XD Maaf kalo ceritanya ga memuaskan. Toh saya gak mood buat ngetik saat itu, begitu pula saat ngedit. Jadi cerita ini dipublish apa adanya…
Ngomong-ngomong saya ga nyangka kalo masa lalu Fang yang saya certain di chapter lalu akan direspon baik gitu. Padahal saya pikir ceritanya itu gaje banget. Ternyata sampe juga feelnya… :'D Makasih banyak semuaaa~
Maaf juga kalo kesan canonnya ga berasa, dan malah lari ke sho-ai… Habisnyaaa… saya ga tahan ama dua bocah gemessin yang satu ini! Mereka cocok banget sih! XD Kapan-kapan saya bikin canon lagi. Idenya sudah ada di kepala, tapi males narasiin. Habisnya saya ini ngetiknya berdasarkan mood aja~ Dx *jangan curcol*
Ohya, sebelum fic ini saya tutup, silahkan lanjutkan membacanya~
OMAKE
Sore yang indah di kedai Kokotiam, nampak lima orang anak, satu manula, dan sebuah robot tengah berkumpul di sana. Si kakek dan robot nampak sibuk bekerja, sementara kelima anak yang lain sedang belajar bersama, sambil menikmati minuman coklat buatan Tok Aba.
"Syukurlah, semuanya menjadi normal," Yaya berujar senang, melihat ketiga teman lelakinya sudah akur kembali.
"Bagus Fang, kau mau memaafkan BoboiBoy dan Gopal. Teman 'kan memang harus saling memaafkan," sambung Ying.
"Yah. 'Kan tidak baik kalau kita bertengkar terus," Fang dengan santai berkata, sebelum menyerupt es coklatnya penuh kenikmatan. Ia bisa menangkap sosok BoboiBoy yang melirik sinis padanya melalui sudut matanya.
"Tak baik, konon," Gopal hanya menggerutu kesal, kembali fokus pada buku catatannya, mengabaikan Fang yang tengah menahan seringai serta kedua teman perempuannya yang nampak heran. Sementara BoboiBoy hanya memutar matanya prihatin.
"Ada apa kau daritadi lesu banget Gopal?" Ying mengutarakan rasa herannya, saat melihat teman gemuknya menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini.
Gopal nampak menahan air mata.
"Heihh, kameranya rusak," akhirnya BoboiBoy angkat bicara, tak mau membiarkan sahabatnya ini tertekan atas pertanyaan kedua teman perempuannya.
"Lha? Kenapa bisa?"
"Jatuh dari lantai dua," saat menjawab, Gopal melirik sinis pada Fang yang kini menikmati ice choconya dengan wajah tanpa dosa. Sejenak, pandangan mereka bertemu, sebelum Fang meletakkan gelas itu di atas meja.
"Aduh… harusnya kau lebih hati-hati Gopal," Yaya memberi nasehat seperti biasa.
Anak gempal itu mendengus kesal, mengutuk anak berkacamata yang kini tersenyum puas.
.
~(^w^~) (~n_n)~
.
BoboiBoy berjalan menyusuri koridor sekolahnya dengan santai. Saat itu masih terlalu dini, membuat suasana sekolah masih sangat sepi. BoboiBoy sendiri juga belum melihat seorang manusia pun selama ia melangkahkan kakinya masuk ke sekolah.
BoboiBoy masih kepikiran soal kejadian naas yang menimpa sahabatnya kemarin, dimana dengan kejamnya Fang membuang (dengan wajah santai) kamera Gopal dari lantai dua. Sebenarnya itu juga salahnya Gopal. Fang sudah mencoba untuk memintanya dengan sabar. Katanya sih mau menghapus 'gambar laknat' yang ada di sana.
Gopal yang tak percaya tentu saja tak terima. Tanpa aba-aba ia langsung main kabur saja, dan Fang mau tidak mau menggunakan kekerasan dalam hal ini. Meski dalam kekuatan Gopal lebih unggul, namun bocah itu tertinggal jauh oleh Fang dalam hal kecepatan dan kelincahan. Dengan lihai Fang merebut kamera itu, mencoba untuk mencari-cari fotonya dan BoboiBoy yang tengah berpelukan di sana untuk segera dimusnahkan.
Dan alangkah kagetnya ia, begitu mendapati kamera itu nyaris penuh dengan fotonya. Fang sendiri bahkan tak ingat kapan foto-foto itu diambil. Ada saat ia sedang makan, saat melamun di kelas, saat tengah bertarung, bahkan saat bersin pun ada. Yang paling mengejutkannya ialah salah satu fotonya yang tengah merona merah, melipat kedua tangan di dada, memasang ekspresi malu yang jelas sengaja ditutup-tutupi, dan Fang ingin muntah melihat wajahnya seperti itu. Jika ia memiliki mesin waktu, dirinya pasti sudah kembali ke masa lalu, membunuh 'dirinya' yang itu.
Makin melihat foto-foto dalam kamera itu emosi Fang makin naik saja, hingga mencapai batasnya. Perempatan imaginer berkumpul satu demi satu di kepalanya, membuat emosinya memuncak, dan kamera itu pun sudah tidak diketahui kabarnya.
BoboiBoy menangkap pintu kelasnya yang sudah terbuka, membuatnya mengukir senyum. Untung sudah ada yang datang. Setidaknya ia tak perlu menghabiskan paginya sendirian.
Dan saat ia memasuki ruangan—
"!?"
BoboiBoy sempat menangkap sosok misterius yang melesat cepat ke arahnya, tanpa sempat ia antimidasi, sebelum semua pandangannya terhalang, lantaran wajahnya tertutupi oleh sesuatu yang bulat berwarna kuning yang agak lebih besar dari kepalanya.
BoboiBoy menatap benda itu horror. Seketika tubuhnya membeku, tak bergerak sama sekali. Utamanya saat benda itu makin didekatkan ke wajahnya, hingga menempel tempat di ujung hidungnya.
"F─Fang…" BoboiBoy tanpa sadar menggumamkan nama sosok tadi. "J─Jang—"
"Ini pembalasanku untukmu,"
Dan Fang pun mencengkram benda itu makin kuat, hingga tekanan udara yang ada di dalamnya kian membesar.
"H─hwaa—"
BAMMM!
"MELETUS! MELETUS! MELETUUUS!"
.
.
Fin (Part II)
A/N (Part II) :
Sebenarnya scene akhir BBB di omake itu ga perlu. Tapi sebagai author yang adil nan comel *jiah* ga boleh cuman Gopal yang rasain namanya pembalasan dendam seorang Fang~ *dihajar*
Saya mau mengucapkan banyak terima kasih atas abang-abang dan kakak-kakak yang sempat memberi review di dua chapter kemarin, serta yang nge-fave, dan nge-follow. Saya senang banget, sumpahh! Kalian ini memang terbaikk!
Big hug for Charlotte-chan, Kim Hyejin aka Jinnie, IMAgineAg sweet88, Chikita466, ArdhanaChan, Silver Celestia, Celestial Namika, Oranyellow-chan, Mahrani29, M4dG4rl, DesyNAP, KiraFumiko, FoinChu, Light Sakura Princess, Fudan-San 22, ayy, Aulya, & fayzaghoul
Makasih banyak! XD Review kalian penyemangat sayaaa! XD Silent reader juga saya hargai~ :3
Sekarang, bolehkah saya minta review buat chapter ini? Silahkan memberi kritik, saran dan pendapat kalian masing-masing~ XD
Well, sampai jumpa di fic saya yang lainnya~! *siapa juga yang mau baca*
Akhir kata, review please~ and thank you very much~ :3
