Tokoh saya pinjem dari animonsta dan cerita ini terinspirasi dari manga Nanatsu no Taizai. Tapi ide cerita murni dari saya.
Warning : abal, GaJe, OOC, powernya nggak sama kayak di cartoon, Typo(s) dan berbagai kesalahan lain yang bila dijabarkan akan menjadi buku super tebel.
.
.
.
Selamat membaca
.
.
.
Normal POV.
3. Aku tidak mengerti. Harus merasakannya ya?
"TOTOITOY.."
Teriakan itu terdengar. Tubuh penuh darah itu berdiri didepannya. Tubuh mungil itu berdiri membentangkan kedua tangannya untuk melindungi sang gadis. Sang gadis hanya bisa terbelalak, ketika melihatnya. Air mata mulai berjatuhan. Ia tak mengerti apa yang baru saja terjadi, dan bagaimana ToToiToy berdiri didepannya, mengorbankan tubuhnya untuk melindungi dirinya.
"Tidak..." Ucapnya dengan suara yang penuh isak. "Tidak." Ucapnya lagi.
Tubuh itu mulai terjatuh, namun sebelum tubuh mungil itu menghantam bumi. Gadis itu telah berdiri dan menangkap tubuhnya. Darah menetes dari luka besar didadanya. Nafasnya tersenggal senggal dan matanya sulit untuk terbuka.
"Aku uhuk ... berhasil." Ucap ToToiToy dengan diselingi muntah darah.
"Ja-jangan mengatakan apapun. Ki-kita harus mengobatimu." Ucap gadis itu sangat panik dan juga sedih. Ia ingin segera mengangkat tubuh adiknya dan membawanya ke desa untuk diobati.
"Itu mus ta hil, kak. A ku akan ma ti." Ucapnya tersenggal senggal.
"Apa yang kau katakan? Kau akan selamat. Kakak akan menyelamatkamu."
"Kalau itu mustahil. Bunuh saja dia sekarang agar dia tak merasakan sakit. Atau perlu kubantu?" Ucap Boboiboy dengan nada polos. Seluruh mata menatap padanya. Gadis itu terbelalak menatap BoBoiBoy. Fang yang mendengar ucapan BoBoiBoypun mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Apa ma- ." Teriak Fang yang menahan amarah. Namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya,BoBoiBoy telah jatuh tersungkur karena di pukul seseorang.
"Jangan karena kau masih bisa hidup, kau bisa bicara seenaknya BoBoiBoy." Geram seseorang didepannya yang ternyata adalah Ying. Gadis itu mengepalkan tangannya erat erat, siap untuk memukul wajah orang yang tersungkur didepannya.
BoBoiBoy yang terkena pukulan Ying kembali berdiri dan berbicaraseolah tidak terjadi apa apa.
"Aku tidak sembarangan. Aku mengatakan yang sebenarnya, dari pada dia kesakitan." Ucap BoBoiBoy biasa saja. Ying semakin geram, tangannya terkepal erat dan siap untuk memukul BoBoiBoy lebih keras lagi. Namun seseorang memeluknya dari belakang.
"Ying sudahlah. Aku juga marah, tapi kitaharus menolong anak itu sekarang." Ucap Fang lembut untuk menenangkan Ying. Ying yang tadi marah pun mengalihkan pandangannya pada ToToiToy yang sedang sekarat. Air matanya kembali mengalir dan kepalannya mengendur. Dia mengangguk pelan menyetujui ucapan Fang. Fang tersenyum kecil, dan melepaskan pelukannya pada Ying. BoBoiBoy hanya menatap tak mengerti.
"Cinta adalah sesuatu yang bisa menghilangkan rasa marah." Gumam BoBoiBoy melihat Fang dan Ying.
Fang dan Ying langsung mendatangi gadis yang memeluk ToToiToy erat dengan air mata yang masih mengalir dimatanya. Mulutnya tak henti mengatakan bahwa ToToiToy jangan mati. Namun ToToiToy tak lagi bergerak. ToToiToy telah pergi dipelukan gadis itu.
"ToToiToy. ToToiToy." Ucapnya berkali kali sembari menggoyangkan pelan, tubuh tanpa nyawa di pelukannya. Ying menutup mulutnya, dan menangis semakin keras. Fang memeluknya dan mengusap punggungnya lembut.
"Biarkan dia pergi." Ucap Fang menatap gadis itu iba. Gadis itu masih terus memanggili nama ToToiToy, dan tak lama kemudian gadis itu tak sadarkan diri.
OoooooO
Siang berganti malam, penduduk desa telah kembali normal setelah terkena pengaruh Zatras. Jasad ToToiToy telah dimakamkan di pemakaman desa. Gadis yang mereka ketahui bernama Yaya itu, masih belum sadarkan diri. Ying, Fang, dan BoBoiBoy berada di ruang tamu rumah kepala desa, mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Desa terasa hening karena banyak yang mati akibat kejadian tadi siang.
"Begitulah yang terjadi anak muda. Dia tiba tiba datang dengan meniup seruling. Dan kami tidak ingat lagi apa yang terjadi." Ucap Kepala desa itu mengakhiri ceritanya.
"Ahh... begitu. Kurasa tak heran jika kalian mudah terpengaruh seruling itu. BoBoiBoy apa kau menemukan seruling itu?" Tanya Ying pada BoBoiBoy.
"Tidak, kemungkinan 80%, seruling itu ikut hancur karena serangan kalian." Ucap BoBoiBoy.
"Ah... begitu ya. Tapi kurasa itu lebih baik." Gumam Ying lagi.
"Anak muda kalian mau pergi kemana?" Tanya kepala desa itu.
"Kami sedang mencari seorang penyembuh. Desa kami sedang dalam pengaruh penyakit." Ucap Fang menjawab pertanyaan kepala desa.
"Oh ... mungkin akan sulit untuk di terima Yaya saat ini. Tapi yang kami tahu, Yaya adalah penyembuh di desa ini. Kurasa dia bisa membantumu."
"Souka, kurasa Yaya adalah yang kami cari cari selama ini."
"Apa maksud kalian mencari cari ku?" Kata seseorang yang baru saja membuka pintu, yang ternyata adalah Yaya. Ying segera berdiri dan membantu Yaya berjalan. Yaya tersenyum kecil ketika mendapat perlakuan baik dari Ying. Ying membantu Yaya duduk di kursi dan kembali duduk di samping Fang.
"Mungkin ini sedikit mendadak tapi ... kami memerlukan kemampuanmu untuk menyelamatkan desa kami." Ucap Ying sedikit ragu. Yaya menatap Ying, Fang, dan BoBoiBoy secara bergantian. Lalu menatap kepala desa cukup lama. Ying, dan yang lain menatap mereka bingung. Namun tak lama kemudian kepala desa itu mengangguk. Kepala desa itu kembali menatap Ying dan yang lain.
"Kalian sudah sangat berbaik hati menolong desa kami." ucap kepala desa itu.
"Aku menerima permintaan kalian, dan aku akan membantu kalian menyelamatkan desa kalian. Seperti yang kalian lakukan pada desa kami." Ucap Yaya dengan senyum kecil, meski matanya masih memancarkan kesedihan yang amat sangat.
"Apa rasa sedihmu juga di sebut cinta?" Tanya BoBoiBoy secara tiba tiba. Fang, Ying, Yaya, dan kepala desa itu langsung menatap BoBoiBoy. Yaya yang di tanya itu sedikit kebingungan dalam menjawab.
"Umm... Bisa dibilang cinta juga. Apa kamu tidak mengerti tentang hal itu?" Tanya Yaya balik.
"Aku tak mengerti."
"Ah begitukah. Aku mengerti kenapa kamu berkata seperti tadi siang sekarang." Ucap Yaya dengan sedikit senyum.
"Anoo... Yaya. Ngomong ngomong tentang tadi siang. Maaf kami tidak bisa menyelamatkan adikmu. Dan maafkan BoBoiBoy yang berkata seperti tadi." Ucap Ying merasa bersalah.
"Ummm... tak apa. Kalian sudah mau menolong desa ini. Oh iya, aku belum tahu nama kalian. Dan jika kalian sudah tahu namaku, pasti ayah sudah menceritakan semuanya." Ucap Yaya dengan senyum lembut.
"Oh... maafkan saya tidak memperkenalkan diri. Aku Ying, yang ini Fang. Dan yang menggunakan topi itu BoBoiBoy. Ya kepala desa telah menceritakan semuanya." Ucap Ying sembari menunjuk Fang dan BoBoiBoy secara bergantian.
"Salam kenal." Ucap Fang sembari membenarkan kaca matanya.
"Ya.. aku BoBoiBoy, salam kenal." Ucap BoBoiBoy sembari menatap Yaya.
"Salam kenal juga. Kalian sudah tahu namaku, tapi lebih sopan jika aku menyebutkan namaku. Namaku Yaya." Ucap Yaya sembari tersenyum ramah.
"Baiklah semuanya. Sekarang kalian harus ber istirahat. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian. BoBoiBoy dan Fang tidur di kamar kanan, dan Ying kamu tidak keberatan kan tidur dengan Yaya?" Ucap kepala desa itu sembari menunjuk Yaya, yang tersenyum ramah kearah mereka.
"Tentu saja." Ucap Ying.
Mereka pun beranjak dan masuk kekamar masing masing. Dan mengistirahatkan tubuh mereka, hingga pagi menjelang.
OooooO
Ayam kembali berkokok. Matahari telah sedikit muncul dari peristirahatannya, namun langit masih sedikit gelap. BoBoiBoy terbangun dari tidurnya, dan menatap Fang yang masih bergelut di alam mimpi. Ia mengusap matanya pelan, dan emilih beranjak dari tempat tidur. Ia pergi keluar kamar, setelah ia mengambil topi kesayangannya.
Rumah itu terasa sepi, karena hari masih sangat pagi. BoBoiBoy memilih untuk pergi ke belakang rumah untuk berkeliling. Ia membuka pintu belakang rumah, dan melihat Yaya yang duduk sendirian di tepi kolam ikan.
"Selamat pagi, Yaya." sapa BoBoiBoy yang langsung mendatangi Yaya.
"Ahh... Selamat pagi juga, BoBoiBoy." Ucap Yaya yang sedikit tersentak kaget.
"Aku mengagetkanmu ya?" Tanya BoBoiBoy yang langsung duduk di batu sebelah Yaya.
"Tidak kok. Kau sudah bangun? Sepagi ini?" Tanya Yaya.
"Aku sudah bangun. Kurasa aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku yang paling akhir bangunnya."
"Oh.. begitu ya."
"Kalau kau sendiri? Sedang apa pagi pagi berada disini?"
"Aku hanya entahlah ..." desah Yaya bingung.
"Kau baru saja menangis. Apa itu juga cinta?" Tanya BoBoiBoy lagi.
Yaya tersenyum dan tertawa kecil mendengar pertanyaan polos dari BoBoiBoy.
"Kamu lucu. Apakah kamu sepolos itu sampai tak mengerti apa itu cinta?" Tanya Yaya. Tanganyya menutupi mulutnya yang sedang tertawa kecil.
"Aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan apa itu cinta, padaku?" Tanya BoBoiBoy.
Mendengar hal itu Yaya berhenti tertawa dan tersentak kaget. Ia menatap BoBoiBoy dari atas sampai bawah dan kembali menatap mata BoBoiBoy dalam.
"Apa itu cinta ya? Sejujurnya aku tak terlalu mengerti apa itu cinta. Cinta bisa membuat kita sedih, tertawa, senang, bahagia, menangis, dan masih banyak lagi." Jelas Yaya sembari menatap arah matahari terbit.
"Aku membaca itu lebih dari 3 buku. Isinya sama. Dan aku tidak mengerti, kenapa cinta membuat ku sedih, senang, bahagia, dan yang lainnya." Ucap BoBoiBoy sembari menatap mata Yaya.
Yaya mengalihkan pandangannya dan kembali menatap BoBoiBoy.
"Heee... kau benar benar mempelajari tentang teori cinta ya? Kata orang cinta tidak bisa dipelajari, cinta hanya bisa dirasakan. Meski di pelajari bagaimanapun, kau takkan mengerti apa itu cinta. Dan cinta itu bukan hanya untuk sepasang kekasih. Cinta memiliki makna yang lebih besar." Jelas Yaya yang tersenyum lembut pada BoBoiBoy.
"Jadi begitu. Bagaimana caranya agar aku merasakan cinta?" tanya BoBoiBoy lagi.
"Cinta itu datang dari hatimu, kau tak bisa memaksakan cinta."
"Begitu ya." Ucap BoBoiBoy sedikit kecewa.
Ia menatap air yang ada di kolam, sedikit melamun. Ia bergelut dengan kata kata Yaya yang baru saja ia dengar. Cukup lama mereka terdiam, dalam pikiran mereka masing masing. Namun BoBoiBoy melihat Air itu bergerak pelan. Ia pun menatap arah pergerakan air. Yang ternyata Yaya kembali menangis.
"Kau menangis Yaya." Ucap BoBoiBoy dengan menatap Yaya.
"Ah... maafkan aku. Aku menangis ya?" Ucap Yaya yang langsung mengusap air mata di pipinya.
BoBoiBoy menghela nafas ketika melihat Yaya menyembunyikan kesedihannya. Dia pun berbalik dan memegang kedua tangan Yaya.
"Aku akan menghilangkan kesedihanmu Yaya. Aku akan menhilangkan ingatan yang membuatmu sedih." Ucapnya pelan. Yaya tersentak mendengarnya, namun sekitarnya telah bersinar putih karena kekuatan dari BoBoiBoy. Lalu matanya kehilangan fokus, begitu pula ia kembali kehilangan kesadaran. Cahaya menghilang, dan BoBoiBoy mengangkat tubuh Yaya dan membawanya kembali kedalam rumah.
To Be Continued
Chapter 3 selesei. Meski kuyakin ini berantakan -,-
Memang kapan tulisanku tidak berantakan :v
Kebanyakan dialog kayaknya. Dan seperti aku nggak bisa menggambarkan suasana '-'
Sekarang pendek dulu ya '-'
Otakku nge blank '-' #dilemparmeja
Semoga chapter 4 cepat selesai '-'
Terimakasih banyak telah membaca, mereview, memfollow cerita ini. ^_^
Oh iya maaf chapter kemarin, sebenernya di tulis 31 april eh malah ketulis 30 april. Itu bercandaan loh... :v #dibakarmassa
Minna san. Mind to Repiew
