Hohoho… chapter 2 update! :D tapi masih stay Namikaze's family dan insyaallah di sini fanfic-ku agak bagusan dikit hehe. Saya sebenarnya sedang buntu ide, soalnya udah telat banget nih! -,- Chapter kali ini berdasarkan pengalaman saya pada saat sahur, tapi saya lebih-lebihkan… yaah, saya memang berlebihan.
Naruto © Mbah gaje bernama Masashi Kishimoto *ditonjok Masashi pake kuas*
Ramadhan gaje at Konoha © Delfiana Days yang gak kalah gaje ini
Rate? T-laaah! Trus apa lagi?! Mau M!? Mau!? Mau!? Yaudah, saya masih terlalu hijau untuk rate itu -,-
Genre? Humor insyaallah (soalnya di chapter ini humornya agak berkurang, authornya lagi gak mood ngehumor)
Warning : OOC, typo (insyaallah udh gk terlalu banyak), gaje, gak nyambung, garing abizz, humor gak kerasa (yang mau ketawa dipersilahkan), bahasa stay campur-campur, ceritanya berlebihan (yg gak suka, silahkan tekan tombol panah ke arah kiri di sudut kiri layar laptop anda)
Chapter 2 : Sahur yang gaje abizz…
Normal POV
"SAHUUUUUUR! SAHUUUUURRR! SAHUUUURR! SAHUUURR! AYO SEMUANYA SAHUUUUURR!" teriak para pemuda yang terdiri dari para pemuda Konoha yang penuh semangat masa muda membangunkan pemuda-pemuda yang tak punya jiwa dan raga (?) masa muda yang masih terlelap dalam kantuknya.
"Eng… udah sahur, ya?" gumam wanita cantik berambut merah panjang mencoba bangun dari kasur empuknya sambil mengucek mata kanannya pelan.
Dilihatnya ke samping, sang suami masih tertidur lelap dengan gumpalan yang biasa kita sebut 'iler' di bantalnya. Kushina agak sweatdrop namun segera melaksanakan aksinya, yaitu menggoncang-goncangkan tubuh sang suami yang sekarang masih berada di alam bawah sadarnya itu.
"Minato, bangun dong! Banguun! Sahur!" ujar Kushina pelan.
"Hoaahhhmm" Minato menguap, lalu membuka sebelah matanya dengan susah payah. Kemudian menoleh ke arah Kushina.
"Bangun dong," pinta Kushina dengan wajah yang dimonyongkan. Err… maksudnya bibir yang dikerucutkan dan pipi yang digembungkan.
"Hmm," ujar Minato lalu langsung menutup matanya kembali, membalikkan tubuhnya membelakangi Kushina dan tidur kembali.
"Minatooooooo! Bangun dooooooong!" ujar Kushina kembali menggoncang-goncangkan tubuh sang suami.
"Eng?" Minato kembali membuka sebelah matanya dan berusaha untuk bangun.
"Nah, gitu dong! Ayo kita ke da-"
PLUKKK!
Seketika, kepala duren Minato jatuh dan kembali menubruk bantalnya yang penuh iler itu.
Kushina diam. Rambut-rambutnya mulai terangkat dan membentuk dekorasi ekor Sembilan.
"MIIIIINAAAAATOOOOOOOOOOO" seketika, rambut dan wajah Kushina langsung berapi-api.
"Duh, panas! Nyalain kipas angin napa, sih?" igau Minato sambil mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajah.
Minato pun memutuskan untuk menyalakan kipas angin. Namun saat ia berbalik, ia melihat Kushina denga mode aktif 'The Habanero Bloody' siap menyerang. Namun bukan itu permasaalahannya kini. Wajah Kushina tak bisa ia lihat dengan sempurna. Seperti ada yang menutupinya. Tapi memang begitulah kenyataannya, karena mereka tak menyalakan lampu kamar mereka.
"Kushina?" cek Minato.
"GRRR…" Kushina tak menjawab.
"Err…" Minato terlihat sedikit sungkan.
"…" Kushina diam. Mode 'The Habanero Bloody'-nya langsung off kembali.
"…" Minato juga ikut diam.
"Umm…" Minato bergumam.
"…" Kushina tetap diam.
"Hmm…" Minato melanjutkan bergumam.
"…" Kushina stay diam.
"Well…" Minato membuka pembicaraan
"Hm?" Kushina tak mengerti.
"…" Minato diam.
"…" Kushina ikut diam.
"Krik, krik, krik," akhirnya jangkriknya Shino membuka percakapan baru.
"SHIIIITTTTTTT!" teriak Minato dan Kushina sambil menaruh jari telunjuknya di atas bibir dan menghadap ke arah si jangkrik. Si jangkrik pun salah tingkah dan segera kabur.
"Umm, Kushina?" lanjut Minato.
"Ya?" jawab Kushina sambil menoleh ke arah Minato.
"BWAHAHAHAHAHAHAHAHA!" tawa Minato meledak lagi kali ini.
"Huh!" Kushina membuang muka.
"Elu agus lagi, ya? BWAHAHAHAHAHAHAHA!" ujar Minato sambil cekikikan dan glundung-glundungan di kasur. Ingin tahu kenapa wajah Kushina hangus? Tanyakan kepada rumput yang bergoyang! *plakk* err… lihatlah ke atas kalau tetap penasaran.
"JANGAN KETAWA! GRR…" bentak Kushina mengaktifkan kembali mode andalannya.
"I-iya-iya! Nyok kita sahur!" ujar Minato lalu turun dari ranjang dan melangkah ke arah pintu, namun Kushina menahan tangannya.
"Minatoooo…" rayu Kushina dengan puppy eyes.
"Hn, kenapa?" Tanya Minato dengan gaya yang –sok- dingin.
"Tungguin akuuuu…" ujar Kushina dengan gaya merayu –lagi-.
"Jangan manja, udah bulan Ramadhan!" ujar Minato lalu menepis tangan Kushina dengan dinginnya. Brr…
"Ah! Minato! Kyaaaa!"
BRUKKK, ZRUUKKK!
Sungguh malang nasib Kushina, jatuh dari ranjang dengan wajah duluan menghantam lantai.
"Kubilang juga apa," ujar Minato lalu membantu Kushina untuk berdiri.
"Aww! Sakit! Kakiku lecet, Minato duluan aja," ujar Kushina dengan mengibas-ngibaskan tangannya bermaksud untuk mengusir ayam.
"Beneran gak papa, nih?" Tanya Minato memastikan.
"Iya, beneran, kok! Udah, kamu bangunin Naruto aja! Dia pasti susah dibangunin!" ujar Kushina.
"Hm, tapi…" Minato memperlihatkan sedikit keraguan di wajahnya.
"Udah, gak papa! Sana, pergi-pergi! Lagian…" Kushina tak melanjutkan kata-katanya dan memandang ke arah jam dinding di kamar itu.
"Lagian?" Tanya Minato memandang sekilas ke arah Kushina, lalu ikut memandang ke arah jam.
1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 menit, 5 menit…
"WHAAAAATTTTT?" teriak Minato setelah melihat jam telah menunjukkan pukul 03.30.
"Udah! Makanya cepet bagunin Naruto!" ujar Kushina masih belum bangkit dari posisinya sedari tadi (yaitu duduk seperti suster ngesot).
"Baiklah!" ujar Minato lalu langsung berlari menuju pintu, lalu menuju kamar Naruto.
"Haah… gimana, nih? Apa sebaiknya aku ngesot saja, ya?" gumam Kushina.
"Krik krik krik…" jangkriknya Shino kembali ikut campur.
"Iya aja deh. Iya kan, jangkrik?" ujar Kushina kepada sang jangkrik.
"…" sang jangkrik diam seribu krik-krikan. Kushina langsung memulai aksi ngesotnya.
"Kalau jatuh dengan posisi gak elit (seperti tadi), ngesot pun gak jadi masalah" gumam Kushina membuat pepatah baru.
Sementara itu, di kamar Naruto…
"Naru-chan, ayo bangun," ujar Minato mengguncang-guncangkan tubuh Naruto.
"Engghhh…" Naruto menggeliat sedikit dan melanjutkan tidurnya dengan posisi yang tidak elit sama sekali. Yaitu dengan kedua kaki yang terbuka lebar dan mulut yang menganga, memperjelas sang 'iler' yang senantiasa meluncur di dagunya.
"Naru-chan, ayo bangun!" ujar Minato agak kecang.
"Hahaha…" tiba-tiba Naruto tertawa.
Minato sweatdrop.
"Hihihihihihi…" sekarang Naruto tertawa layaknya seekor Kuntilanak (Kuntilanak langsung ke rumah author dan meyakinkan author bahwa ia tak punya buntut)
"Aduh, aku nggak professional bangunin orang, nih!" gumam Minato.
KURURURUUUKK…
Sekali lagi, Minato sweatdrop. Perutnya sudah mendendangkan lagu-lagu lawas yang paling dibencinya.
"Hahahahaha… Hihihihi…" tawa Naruto semakin gaje.
"A-aduh… Na-naru…" Minato tak mampu melanjutkan kata-katanya.
KURURURUUUK…
"Hohoho…" Naruto tambah gaje dan tertawa mirip Santa Claus.
"A-aduh, gi-gimana, nih!? Toilet, mana toilet!? Ah, ke toilet Naruto aja ah…" ujar Minato entah kepada siapa dan bergegas menuju toilet yang berada di dalam kamarnya Naruto. Kamar mandi pribadi gitu!
Belum juga satu langkah…
PRUUUUUUT…
Oh pemirsa, anda pasti tak ingin mendengarnya! Ini adalah kentutnya Minato, pemirsa!
"Ah, leganya… walaupun cuma kentut, tapi gak papa… mulesnya juga udah agak reda," ujar Minato sambil mengelus-elus perutnya, menanti calon bayinya akan lahir (?) *buaghhh* (author ditinju Minato asli).
"Khukhukhu… hahaha… hihihi… hoho-uhuk! Uhuk! Uhuk! Gas beracun! Tidaaaaak! Aku akan matiiiiiiiiii!" teriak Naruto lalu bergegas bangkit dan menenangkan diri di ranjangnya.
"Eh, anjrit! Anjrit! Eh anjrit! Monyong! Monyong! Eh monyong! Kempret, eh kempret…" latah Naruto.
Minato yang posisinya masih dalam posisi mau melangkah dengan kaki kanan yang diangkat, seketika menjadi patung dan jaws drop.
"Fuuuh… cuma mimpi," ujar Naruto bernapas lega sambil mengelus dadanya.
"He? Ayah, ngapain di sini?" Tanya Naruto bingung.
"E-eh… ma-mau… mau… mau… err… mau apa, ya?" Minato salah tingkah dan jadi tak tahu apa maksud dan tujuannya datang ke situ.
"Eh, ngomong-ngomong, Ayah nyium bau aneh, gak?" Tanya Naruto sambil mengendus-ngendus.
"GLEK! Eh, e-enggak, mu-mungkin Na-naru-chan salah cium, kali," Minato tak bisa berkutik dan menjadikan 'salah cium' sebagai alasannya. Ckckckck… semua orang juga pada tahu, gak ada yang namanya salah cium.
"Tapi… baunya penuh semangat masa muda!" ujar Naruto mengcopas gaya 'si kembar berambut bob'.
'Hah!? Masa muda katanya!? Tu-tunggu dulu… tengah malam aku makan apa, ya?' gumam Minato mengingat-ngingat kembali apa yang ia makan tengah malam setelah semuanya tidur.
'Hum… waktu kulkasnya kubuka, yang ada cuma itu doang, yasudah, aku makan aja tuh makanan' gumam Minato sekali lagi.
"Menurut Ayah, ini bau apa, ya?" Tanya Naruto membuyarkan lamunan Ayahnya.
"Umm… mu-mungkin gas alami yang keluar dari pan… ups!" ujar Minato langsung membekap mulutnya sendiri.
"Hah? Maksud Ayah apaan, sih?" Tanya Naruto tak mengerti dengan ucapan Ayahnya barusan.
"KENTUT, BODOOOOH!" teriak Minato blak-blakan sehingga para pemuda yang dipenuhi dengan semangat masa muda (yang sedang istirahat sekrang) melayang beberapa detik di udara dan langsung membenarkan kuping mereka yang hampir melorot.
"Ke-kentut? Ja-jadi A-ayah kentut? Kentut? Kentut? BWAHAHAHAHAHAHA" seketika, Naruto langsung tertawa blak-blakan.
"U-udah! Ayo ke meja makan! Kita sahur bareng Kaa-san!" ujar Minato dengan wajah yang merah karena iritasi ringan.
"Umm… tapi kentut Ayah mantap buanget! Makan apa, sih?" Tanya Naruto dengan mata berbinar-binar.
GEDUBRAKK!
Minato pingsan dengan posisi yang masih seperti ia jadi patung yang mau melangkah tadi. Kaki kanan diangkat dan Jawsdrop.
"He? Ditanyain malah pingsan! Aku ke meja makan aja, dah!" ujar Naruto kemudian beranjak meninggalkan Minato yang sekarang sedang berkutat denga gerakan patah-patahnya.
"Tunggu Ayah dulu, naaaaaak," ujar Minato sambil mewek-mewek gaje.
"Hn, jawab dulu pertanyaanku!" ujar Naruto sambil bersandar di kusen pintu.
"Iya-iya… A-ayah tadi makan…" Minato tak mau kegajeannya diumbar di depan umum.
"Makan?" ulang Naruto.
"Ma-makan… makan…" Minato bangkit lalu berdiri sambil menunduk.
"Hn, cepatlah! Kalau nggak bakal kubongkar rahasia Ayah yang sering dance-dance gaje dengan lagu Bacchikoi!" ancam Naruto. (Itu sih rahasianya author! -,-)
"Udah kau bocorkan, bodoh! Iya-iyaaa… Ayah ngaku ayah makan…" Minato tak mau melanjutkan kata-katanya.
"Makan apa!? Ayah bikin jantungan, dattebayoooooo!" ujar Naruto dengan asap yang keluar dari kedua lubang hidungnya.
"Jengkol…" ujar Minato berbisik.
"Hah? Apa? Tongkol?" Tanya Naruto memastikan.
"Jengkol…" ulang Minato dengan nada yang agak keras namun tetap berbisik.
"Hah? Dongkol?" Tanya Naruto –lagi-
"Jengkol…" ujar Minato kembali menaikkan volume suaranya.
"Hah? Dodol!?" ujar Naruto tak percaya.
"DASAR BUDEG! JENGKOOOOOOOOOOLLLL!" teriak Minato dan sekali lagi membuat para pemuda yang tadi langsung memegang telinganya kembali. Takut telinga mereka menjadi telinga kurcaci (lha? Apa hubungannya?)
"Ooh, jengkol, ya?" ujar Naruto santai dan langsung melenggang pergi.
GEDUBRAKK
Sekali lagi Minato jatuh mencium lantai karena… err… terpeleset! Saat dia menengok ke sandal yang dia pakai, ternyata dia memakai sandal tidur dengan telinga kelinci, pemirsa!
"Naruto! Tunggu Ayah!" ujar Minato berusaha menggapai Naruto.
Saat lewat di depan kamarnya Kushina, Minato berhenti.
"He?" Minato sedikit keheranan.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Kushina tetap melanjutkan ngesotnya.
"Tinggal satu ngesotan lagi sampai ke pintu kamar. Semangat, Kushina!" ujar Kushina menyemangati dirinya sendiri.
"Wah! Pintunya lupa ditutup! Kushina pasti udah di meja makan!" ujar Minato yang tiba-tiba muncul di depan pintu dan langsung membanting pintunya keras-keras.
JDUAKKKHH…
BUAAAAGGGHHH…
BUKK!
Kushina pun pingsan dengan tidak elitnya, yaitu dengan bola mata yang berbentuk spiral dan benjol segede bola meriam di kepalanya.
Nguing, nguing, nguing…
Muncul tiga ekor Ramboo di atas kepalanya. Lalu ketiga Ramboo itu menari tarian hula-hula dan berputar-putar dengan gajenya.
Sesampainya di meja makan…
"Lho? Kaa-san mana?" Tanya Naruto bingung.
"He? Nggak tau! Bukannya tadi dia udah kesini?" Minato ikut bingung.
"KEPALA DUREEEEEEEEEEEEN!" Kushina tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan mode aktif 'The Habanero Bloody'. Mulai lagi! Emang ya, si Kushina itu demen banget pake itu mode!
BUAGHH! BUGGHH! BUAAAKKKHH! BUUKKKKHHH! PRAANNGG! MEOONGG! KRIIKK KRIKK! EMBEEEKK! GUK GUK! MOOOO! WAADAAAAAAAAW!
Akhirnya perang antara 'The Habanero Bloody' vs 'Yelowflash Konoha' dan err… 'Hokage Oranye' tak bisa dihindari. Sebenarnya bukan perang juga sih, tepatnya 'penyiksaan kepada dua kepala duren' itu. (gua gk tau julukan buat si naruto, tapi pas chapter 498 katanya 'Hokage Oranye' gak papa deh, dipakai aja)
Akhirnya, dengan wajah yang benjol-benjol, mereka tetap memaksakan diri untuk melahap si Ramboo goreng. Mereka makan dalam kurung waktu yang sangat cepat! Lah wong mereka baru sahur pukul 03.45. Bentar lagi kan, imsak!
Naruto mengambil paha ayam yang paling gede, trus langsung diemut dengan suka cita.
1 detik, 2 detik, 3 detik…
Hup, Naruto mengeluarkan tulang paha ayam yang diemutnya sedari tadi. Rekor, pemirsa! Orang aneh yang menghabiskan paha ayam berukuran jumbo segede telapak kakinya dalam waktu 3 detik! Prok, prok, prok… #applause.
Minato tak ingin kalah begitu saja dari anaknya. Ia mengambil mangkok nasi terbesar dan langsung melahapnya.
1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik…
Agak lama pemirsa, tapi Minato bisa menghabiskan 5 mangkok nasi segede kotoran kebo raksasa! Ckckckckck… jadi 1 mangkok dihabiskan 1 detik? Prok, prok, prok, prok… #applause.
Kushina tak mau kalah. Dia mengambil ceker ayam yang telah direbusnya lalu langsung melahapnya dengan mode aktif 'The Habanero Bloody'. Agak menakutkan memang… karena saat ini, Kushina lebih mirip Kuntilanak daripada seorang Kushina yang cantik.
1 detik, 2 detik…
Dan dalam 2 detik, Kushina berhasil melahap kedua ceker ayam rebus itu. Hiiy… dua kepala duren langsung berpelukan karena ketakutan melihat Kushina sekarang sedang cekikikan layaknya sehelai (?) Kuntilanak.
"Na-naru-chan, a-ada penampakan!" ujar Minato menggigil sambil memeluk Naruto.
"I-i-iya… Tou-san, a-aku ta-takut, nih! Huaaa…" Naruto mengeratkan pelukannya.
"Hihihihihihihihihihihihihi…" Kushina tertawa semakin gaje.
"A-a-a-a-a-a-a… Tou-san, co-coba Tou-san pa-pastikan ka-kalau itu ma-mami, bukan," ujar Naruto terbata-bata.
"Ng-nggak mau, ah! Na-naru-chan a-aja!" ujar Minato.
"Ba-baik deh…" Naruto pasrah.
"Ka-kaa-san?" Tanya Naruto memastikan yang di hadapannya sekarang adalah Kushina atau malah Kuntilanak yang berubah dengan Henge no Jutsu.
"Hihihihihihihihihihi… Ada apa… anakku? Hihihihihihihi…" Kushina semakin gaje saja.
"A-ayah! Naru-chan takuuuut…" ujar Naruto akhirnya.
"Ka-kalau begitu, ki-kita suruh authornya sa-saja! A-atau telepon bala bantuan terdekat!" ujar Minato mengacungkan jari telunjuknya.
"Ok-oke, ta-tapi ba-bala bantuan te-terdekat ya si a-author! Gimana?" Tanya Naruto.
"O-okelah ka-kalau be-begitu," ujar Minato mengcopas gayanya si Kiwil tapi dengan Hinata version.
HUPPLAAA…
Author tiba-tiba muncul di TKP, Tanah Konde Pretkempret *plakk* maaf, maksudnya Tempat Kejadian Perkara. Author muncul memakai baju yang sangat aneh, yaitu baju ala Baby Sitter yang compang sana compang sini, memakai topi sombrero yang terbalik, anting-anting yang kegedean (lebih gede dari wajahnya), kalung berbahan benang wol yang berumbai-rumbai, sepatu khas aladin yang melengkung di ujungnya, tak lupa kacamata hitam khas orang buta dibalik kacamata Hello Kitty super besar yang dipakainya berlapis-lapis
Minato dan Naruto yang masih berpelukan langsung sweatdrop melihat kedatangan author yang gajenya minta ampun itu.
"Ada apa manggil aku?" Tanya si author.
"I-itu…" tunjuk Minato ke arah Kushina yang masih cekikikan gaje.
"Ooh, itu sih gampang!" ujar Author lalu mengeluarkan buku kecil dari sakunya. Sepertinya, itu buku mantra.
"Mantra yang bisa ngebaca pikiran orang ala mas Pretkempret, hum… paripto, paripto, pito'o! Lho? Kok mantranya aneh gini, ya? Lebih baik aku cari mantra ala Sasuke! Hum… kummel-kumel, dogel togel, elu gembel! Eh? Apaan nih? Lebih aneh pula! Ala mbah Kishi, compang sana, compang sini, compang camping, ngurusin kucing! Lha? Kok semuanya pada ngeres? Pakai punyanya kak Rhyme, hum… Alayers lebayness, lalala trilili, wuahahaha wihihihihi, ayo kita lebay hari ini! Hohoho… *sweatdrop* Pakai punyaku aja, ah! Gajealus gajealos, aku gaje, kamu gaje, kita semua gaje!" ujar Author sambil mengayunkan kemoceng sihirnya ke arah Kushina.
"Eh?" Kushina langsung sadar dan heran.
"Fuuh… Alhamdulillah…" ujar Minato dan Naruto kompak sambil mengelus dada.
"Eh? Kamu siapa!?" Kushina kaget dan lagsung pasang ancang-ancang menyerang si author.
"E-e-e-e-e! Tunggu! Ini saya, author! Saya datang atas panggilan anda… saya si putriii, si putri sinden panggung, datang kemari menurut panggilan anda… YO, SEMUANYA GOYANG YOOO…" ujar sang Author sambil mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi dan langsung mulai aksi 'goyang linggis'nya.
"Ma-maaf! Kami gak punya uang receh!" ujar Kushina.
Naruto dan Minato sweatdrop parah.
"Lha? Author katanya bisa nebak pikirannya Kushina?" Tanya Minato.
"Eh? Iya-iya! Tapi gini tutorialnya!" ujar sang Author lalu lanjut mengibas-ngibaskan rambutnya seperti gaya Trio kwek kwek. Oh, salah… maksudnya Trio Harimau, eh, Trio Cheetah? Atau Trio Hyeena?
Minato, Naruto dan Kushina Sweatdrop. Sedangkan Authornya sekarang lebih stress, dia menari hula-hula dan langsung break dance di saat bersamaan.
"Udaaaaaaaaahh!" teriak authornya girang.
"Nah? Apa pikirannya tadi?" Tanya Minato tak sabar.
"Oh, itu! Kushinanya seneng aja, hari ini dia bisa ngalahin si Kuntilanak makan ceker ayam. Lah Kuntilanaknya ngambek, langsung nyantap ee'nya kebo," ujar si author santai.
Kushina, Minato, dan Naruto langsung sweatdrop.
"Waaah! Terimakasih, yaa!" ujar Kushina, Minato, dan Naruto bersamaan dan langsung meluk si Author.
"He? Kok bau terasi, ya?" Tanya Naruto heran.
"Ehehe… tadi aku abis makan ayam penyet, tapi cuma kebagian terasinya doang," ujar Author blak-blakan membuat adiknya yang sedang sahur ayam penyet di rumah langsung tersedak.
"Ckckckck… kasihan amat! Sebagai rasa terimakasih, kamu minta apa dari kami bertiga?" ujar Minato sembari bertanya.
"A-aku mau… ramen bikinan bibi Kushina, pelukan dari paman Minato, dan cipika-cipiki dari Naruto!" ujar Author mengacungkan jari telunjuknya dengan wajah yang agak memerah.
Kushina pun segera mengandalkan kemampuan rahasianya, yaitu membuat ramen dalam waktu 1 menit.
"Ini ramennya. Semoga kau suka!" ujar Kushina ramah sambil tersenyum manis dan menyerahkan ramennya.
"Arigatooooou…" ujar Author sambil bungkuk-bungkuk.
"Pelukan sama cipika-cipikinya nanti udah mau pamit aja, ya?" ujar Minato.
"Iya deh. Ini aku udah mau pamit," ujar Author sambil mencari-cari sesuatu dari jubah Baby Sitter compang-campingnya.
"Apa yang kau cari?" Tanya Naruto penasaran.
"Itu, tuh, transportasiku!" ujar Author tetap serius merogoh jubahnya anehnya.
"Emang transportasimu ke sini apaan?" Tanya Naruto lagi.
"Pel terbang," ujar Author singkat.
Naruto sweatdrop.
"Ketemuuuuu… nah, sekarang pelukan sama cipika-cipikinya!" ujar Author lalu menggantungkan bungkusan berisi ramennya ke tongkat pel terbangnya.
"Umm… baiklah!" Naruto memutuskan dan mendekati Author. Minato pun melakukan hal yang sama,
"Kami… akan merindukanmu," ujar Naruto pelan. Saat hendak memeluk Author, tiba-tiba…
"IMSAK! IMSAK! IMSAAAAAAAAAAK! IMSAK! IMSAK! IMSAAAAAAAAKK! YOOOOO! IMSAK YOOOOO!" sang ustad yang diketahui namanya adalah 'Hidan' teriak-teriak dari microphone mesjid, bermaksud agar seluruh penduduk Konoha mendengar suaranya yang cempreng itu. Tapi tak disangka, suaranya yang gaje malah membuat beberapa spesies ayam, kambing, dan kebo mati seketika.
"KUKURUYUUUUUK! KU-KU-KUKURUYUUUUK!" diputarlah rekaman ayam berkokok di pagi hari, namun sepertinya rekamannya udah agak rusak. Dilihat dari ayamnya yang mulai gagap.
"IMSAAAAKKK!?" teriak Author tak setuju. Ia belum mendapatkan pelukan dan cipika-cipiki dari Naruto dan Minato. Tapi bukan itu alasannya berteriak. Tapi karena IA BELUM SAHUR DARI RUMAH!
"Eh? Jadi mau langsung pamit, nih? Kapan-kapan mampir, yaa…" ujar Kushina melambai-lambaikan tangannya ke arah Author yang terbang menembus lotengnya. Bukan menembus, sih, tapi menubruk dan mendobrak.
"Eh? Apa dia memang udah gak bisa sahur lagi?" Tanya Naruto.
"Iya, kan udah Imsak!" ujar Ayahnya sambil merangkul pundak Naruto dan Kushina.
"GAK APA-APAAA! TENGKYU FOR RAMENNYAAA! AKU KAN DI GORONTALO, JADI MASIH 1 JAM LAGI, MUNGKIIIIIN! WASSALAMUALAIKUUUUUM…" teriak Author dari jauh tapi masih bisa kedengaran oleh Namikaze's family.
"Err… enak juga, si Author! Imsaknya masih satu jam lagi!" ujar Naruto.
" Tapi yaaa… tergantung," ujar Minato.
"Tergantung?" Tanya Naruto.
"Iya. Tergantung berapa lamanya perjalanannya ke Gorontalo! Siapa tahu makan waktu 1 jam! Hahaha…" ujar Minato sambil tertawa.
"Iya juga, ya! Hahahaha…" ujar Naruto dan Kaa-sannya bersamaan sambil tertawa.
Sementara itu, di tempatnya Author yang lagi terbang bersama pel-pel terbangnya…
"Haduh, gimana, nih? Perjalanannya masih satu jam lagi! Aku sahur pakai ramen aja, ah!" ujar Author sambil membuka kantong plastic berisi ramennya.
"Lho, kok habis?" Tanya Author membolak balik kantong plastic berisi ramen itu.
Sementara itu, di rumah Namikaze's family…
"Mami, perasaan mami gak bikin ramen, deh!" ujar Minato membuka percakapan.
"Hum… gak tau, cuma bikin pakai minyak katak dari Myobokuzan, oleh-oleh dari Naruto sepulang latihan! Makanya bikinnya cepat!" ujar Kushina innocent.
Naruto yang mendengarnya, langsung memasang tampang horror kepada Kaa-sannya.
"Kata kakek katak, kalau minyak itu dibiarkan di udara terbuka yang suhunya selain suhu Myobokuzan dan suhu Kulkas pemberian nenek katak…" Naruto memberi jeda di antara kalimatnya.
"GLEK!" Kushina, Minato, dan Author yang kelaparan menelan ludah.
"AKAN MENGUAP!" sambung Naruto.
"EHH!?" Kushina dan Minato kaget minta ampun.
Sedangkan Author hanya bisa pasrah meratapi nasibnya yang nggak sempat sahur itu…
~TBC~
Hohoho… Minna-san, aku balik lagi niiiih… :D ini adalah bentuk ungkapan kesalku nggak dibangunin Mama pas sahur. Mama bilang, "Bangun sendiri, dong! Belajar mandiri!" trus aku udah bela-belain masang alarm lagu 'Afterlife – Avenged Sevenfold' ampe volume paling tinggi, tetep aja gak bangun-bangun -,-
Hohoho… Minna-san, gimana tanggapannya? Di chapter kali ini humornya mungkin agak garing, ya! Err… penyakit 'malas' saya kambuh, lho! Jadinya publishnya lama banget kyk gini aku minta maaf ya, Minna-san! Gomennasai! *bungkuk-bungkuk* kak Cintya : arigatou udah ngingetin encoknya! Tapi aku gak bakalan encok, kok! Tenag aja, Delfiana Days-chan sedia salonpas selalu. Mau, nih? *nyodorin satu dus salonpas*
Sampai di sini dulu bacotanku, yaaaaa… aku minta REVIEW donkk… :D plis plis plis…
Walaupun gak punya akun! Harus REVIEW! Gak REVIEW dosa, lho… (readers : lha? Apa hubungannya?) kalian udah bikin Days-chan yang imut ini nangis-nangis gaje nan mewek-mewek kalo kalian gak REVIEW!
Pokoknya REVIEW!
