Shi : Itachi genit? Jangan ditanya lagi itu mah, sudah mendarah daging. Hihi, sengaja si Kyuubi dibikin genit sama aku biar suasana nya jadi gereget-gereget gimana gitu.

Sei : Susah punya uke (di dumay) kayak begini. Jahil mulu pikirannya.

Shi : Ahaha, penasaran ya sama cara mereka ketemu sampe nikah. Kebetulan kita udah bikin kok jadi tinggal tunggu aja update-an nya.

Sei : Hah? Aku gak direspon? Hm, ya betul apa kata dia. Ceritanya komplit dari awal banget sampai nikah dan seterusnya. Dengan berbagai macam kejadian yang mungkin sudah bisa dibayangkan. Mungkin.

Shi : Gkgk. Kalau urusan hamil-hamilan mah itu urusan babang Itachi. Biar dia yang berusaha bikin Kyuubi hamil. *tawa nista* Iya kan, Onee? *smirk*

Sei : Kenapa malah tanya aku?

Shi : Hayo, jangan mikir yang iya iya loh ya karena rate nya masih bertahan dan akan terus bertahan di T. Hm, kira-kira ini fic bakal m-preg gak ya, Onee? Hihi.

Sei : Dicuekin lagi tapi bagian beginian tanya aku lagi. M-preg? Hm, itu belum diputuskan. He, bohong. RP kami udah selesai jadi semuanya udah ditentukan. Di chap ini sedikit disinggung mengenai itu mungkin kalian bisa tebak sendiri.

Shi : Tuh kan bener chap yang kemaren kadar sweet nya bertambah. Kira-kira kali ini bakalan bertambah gak ya? Selamat membaca.

Sei : Beneran gak direspon sampai akhir. Junior kurang ajar. Ya sudah, selamat membaca semuanya. Cuekan saja aku. Oh ya, kali ini ceritanya lebih pendek dari yang sebelumnya tapi selamat menikmati.


Sei sebagai Itachi.

Shi-chan sebagai Kyuubi.

Timeline : 17 bulan menikah


"Oi, keriput. Selama tiga hari ke depan aku akan pergi ke Osaka. Ayah ingin aku mengurusi perusahaan yang disana. Karena Naru sedang hamil maka tugas itu dilimpahkan padaku," Kyuubi berkata santai sambil menyesap kopi pahitnya.

Itachi yang juga sedang santai membaca koran hari ini menjawab tanpa melihat orang yang mengajaknya bicara. "Hm."

Kyuubi menatap Itachi bingung. "Kau..mengizikanku pergi?"

"Sudah tugas, kan? Memang apa yang bisa kulakukan? Pergi saja," Itachi masih sambil membaca mengatakannya dengan nada datar khas Uchiha-nya.

Kyuubi meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Dia menjadi semakin bingung "Ha? Apa aku tak salah dengar? Bukankah kau selalu menghalangiku?"

"Lalu apa aku harus memaksa Naruto yang sedang mengandung keponakanku untuk pergi menggantikanmu? Sasuke akan mengamuk."

"Ya aku tahu itu. Si pantat ayam itu sangat protektif pada Naru, apalagi sekarang dia sedang hamil. Hanya saja, kenapa baru sekarang kau mengizinkanku pergi? Kenapa minggu kemarin kau malah melarangku? Bahkan sampai mengurungku di rumah."

Itachi masih bicara dengan tenang menjawab, "Tidak perlu mengungkit masa lalu. Kemarin ya kemarin, sekarang adalah sekarang. Apa kau lebih senang aku melarangmu?"

Kyuubi terdiam. Dia memang sedikit berharap begitu karena sudah biasa diperlakukan seperti itu juga. "Y-ya, hanya saja kau seperti bukan keriput yang kukenal. Ya sudahlah, lupakan." Kyuubi beranjak pergi ke kamar.

Itachi menurunkan koran yang dibacanya dan menatap punggung Kyuubi yang menjauh sambil menyeringai. Dia melipat lalu meletakkan lembaran informasi itu dan berjalan santai ke dapur untuk membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri. "Tiga hari ya?" Setelah kopinya selesai Itachi membawanya lalu pergi ke kamar menyusul Kyuubi.

Begitu masuk kamar tadi Kyuubi segera membuka lemari dan mulai packing. "Apa-apaan si keriput itu? Dasar labil! Kemarin saja sewaktu pergi ke Tokyo tidak boleh, sekarang ke Osaka yang tempatnya lebih jauh malah diizinkan. Apa sih maunya?!"

"Hm, sedang packing rupanya."

"Hm." Tanpa perlu melihat pun Kyuubi tahu Itachi sedang berdiri di ambang pintu sambil membawa secangkir kopi panas, dia bisa menciumnya.

"Jangan sampai ada yang tertinggal. Osaka itu jauh." Itachi berjalan ke kasur lalu duduk santai disana sampil menyesap kopi buatannya.

Kyuubi hanya melirik sebentar kepada suaminya lalu segera kembali ke kesibukannya. "Hm."

Hape Itachi tiba-tiba berdering. Dia meletakkan cangkir kopinya untuk menerima panggilan tersebut. "Ya? Oh kau. Hm. Iya, semua sudah beres. Besok sudah bisa. Hm."

Kyuubi mendengarkan pembicaraan tersebut dan mau tidak mau penasaran karena terdengar cukup serius. "Siapa?" Kyuubi mengatakannya dengan sangat pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Dia berharap Itachi tidak mendengarnya karena pemuda itu memang masih berbicara di telepon.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Ya." Itachi menutup teleponnya lalu melirik Kyuubi. "Apanya?" Meski pelan tapi dia mendengar apa yang Kyuubi katakan tadi.

Kyuubi tidak menyangka Itachi akan merespon dan sedikit terkejut tapi lalu menjawabnya dengan ringan. "Ya siapa yang menelepon?" Matanya masih tidak melirik Itachi.

"Sasori."

"Oh."

"Kenapa? Penasaran?"

Tangannya menutup koper yang sudah rapi sebelum menjawab. "Ha? Tidak, biasa saja." Dia menarik kopernya ke sudut kamar.

"Hm. Sudah beres ya? Kalau begitu aku tidur lebih dulu. Besok harus berangkat pagi." Kopinya tadi dia habiskan dalam satu tegukan lalu menyimpannya di meja kecil di samping tempat tidurnya.

Kyuubi melirik jam tangan dan merenggut. "Oi keriput, apa kau bercanda jam segini mau tidur? Ini bukan kebiasaanmu tahu!" Ini baru jam delapan malam. Itachi sudah biasa tidur jam sepuluh malam atau malah terkadang lebih larut lagi. Tentu saja Kyuubi bingung.

"Sudah kubilang besok aku harus berangkat pagi. Jam tiga aku harus berangkat." Itachi sudah naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut.

"Hah? Kau gila?! Jam tiga? Mau apa?"

"Jangan berteriak. Sudah, aku mau tidur. Kau akan tahu nanti." Itachi membaringkan diri dan segera menutup mata.

Kyuubi tidak percaya Itachi mengacuhkan pertanyaannya begitu saja. "Argh, dasar keriput! Terserah lah!." Kyuubi yang kesal segera pergi keluar kamar menuju ruang TV, meninggalkan Itachi yang tersenyum dalam tidurnya.

~Jam 2.30 pagi~

"Kyuu, aku mau berangkat." Itachi membangunkan Kyuubi pelan.

Pemuda yang dibangunkan hanya menggeliat sedikit lalu menarik selimutnya lagi. "Hm. Mau kemana, keriput? Masih malam tahu." Kyuubi sempat melihat angka di jam dinding dan ini belum saatnya bagi siapapun untuk bangun, apalagi pergi.

Itachi tersenyum melihatnya. Padahal dia sudah mengatakan akan pergi dini hari. "Aku hanya mau pamit." Itachi mengecup kening Kyuubi. Dia mendekatkan bibirnya di telinga Kyuubi dan berbisik, "Sampai bertemu di Osaka." Setelah itu dia segera pergi dan menutup pintu di belakangnya.

"Hm." Kyuubi hanya bergumam, tapi setelah beberapa menit dia akhirnya sadar apa yang tadi dikatakan Itachi. Rasa kantuknya hilang total dan tubuhnya seketika bangun. "Ha? Osaka? Oi keriput! Apa maksudmu?!" Itachi hanya tersenyum mendengar teriakan Kyuubi dari jauh.