Shi : Yup si Keriput overprotektif banget! Jadi jangan main-main sama dia hahaha. Uh, yah sekali-kali doang dia dibikin agak lemot kan gak apa. Untuk chap ini biar si Onee yang mendeskripsikannya ya! Hihihi *tunjuk Seika* Selamat membaca reader!
Sei : Hhh, kebiasaan kalau soal jelas-menjelaskan pasti nunjuk ane. Di chap ini kita mulai flashback, dimulai dari awal mereka ketemu. Mari kita liat Itachi dan Kyuubi kecil :D
Sei sebagai Itachi.
Shi-chan sebagai Kyuubi.
Timeline : semasa SD
Itachi sedang bermain pasir di kotak pasir. "Bikin kastil Uchiha Yang besar." Dia sibuk sendiri sedangkan anak yang lain terlihat bermain dan berlarian bersama tapi dia tidak peduli sedikit pun.
Kyuubi membeli es krim tidak jauh dari tempat Itachi sedang bermain sendiri. Saat memakan es krimnya dia melihat sosok Itachi dan menghampirinya. Kyuubi berdiri di depan kotak pasir sambil memperhatikan Itachi. Merasa ada yang memperhatikan Itachi mendongak untuk melihat siapa yang datang namun segera kembali sibuk membuat kastilnya.
"Hei, kamu lagi apa?" Kyuubi jongkok sambil makan es krim. Kedua matanya masih menatap antusias pada Itachi.
"Siapa kamu? Kamu rakyat biasa, ya?" Jari telunjuknya menunjuk tidak sopan.
Kyuubi bengong. Telunjuk kiri menunjuk diri sendiri. "Aku? Aku Kyuubi," jawabnya polos.
"Kyuubi?" Dahi Itachi berkerut. Nama yang unik menurutnya. "Kalau gitu mulai hari ini kamu jadi bawahan aku."
"Bawahan?" Kyuubi menatap polos masih menjilati es krim. "Bawahan apa? Kamu siapa?"
Itachi berdiri dengan angkuh menatap Kyuubi. "Panggil aku Tuan Muda Itachi. Aku pemilik kastil ini. Kamu jadi bawahan aku."
"Tuan.. Muda.. I-Itachi? Hm," Kyuubi mencoba memanggil lalu mengangguk-ngangguk. "Apa Tuan Muda mau es krim?" Menawari es krim yang sudah setengahnya. Wajah belepotan karena cara makan yang berantakan.
"Kau memberikan aku makanan yang sudah kau makan?" Itachi menjawab dengan nada sombong.
Kyuubi menatap Itachi lama lalu beralih pada es krim dan menatap Itachi lagi dan balik lagi ke es krim dan ke Itachi lagi. "Tapi Kyuu ga punya uang." Dengan sedih Kyuubi menatap es krimnya.
Itachi merogoh sakunya dan mengambil uang lalu memberikannya pada Kyuubi. "Nih. Beli saja dua."
Kyuubi menerima uang tersebut dan mengangguk antusias. Es krim yang ada di tangannya tadi dibuangnya begitu saja dan segera pergi membeli es krim yang diinginkan Itachi. Selama menunggu Itachi membetulkan kastil pasirnya. Tak lama Kyuubi kembali sambil berlari menghampir Ita. "Tachi-sama, ini es krimnya." Kyuubi tersenyum senang sambil memberikan kedua es krimnya.
Sebelum mengambil es krim dari Kyuubi, Itachi membersihkan tangan dari pasir dengan menggunakan celananya yang memang sudah terlanjur kotor. "Karena kau sudah menuruti perintah Itachi-sama, es yang satu lagi untukmu saja." Itachi menyodorkan salah satu es ke Kyuubi.
Dengan senang hati Kyuubi menerimanya dan tersenyum lebar pada Itachi. "Terimakasih."
"Hm." Itachi hanya mengangguk. Mereka berdua makan es krim bersama. Sesekali Itachi melirik Kyuubi yang makan es krim di sampingnya. Anak itu memakan es krimnya sambil belepotan tapi terlihat cuek. Itachi yang risih melihat cara makan Kyuu segera menghabiskan es-nya lalu mengambil sapu tangan dari sakunya. "Kau ini. Kalau ingin bersama Tuan Muda tidak boleh belepotan." Dengan sapu tangan tersebut dia melap wajah Kyuubi pelan-pelan.
Kyuubi menatap Itachi yang berada di hadapannya lalu menunduk bersalah ketika Itachi sudah selesai. "Maafin Kyuu."
"Ya sudah. Kali ini aku maafkan. Jangan sampai Tuan Muda harus membersihkan wajahmu lagi," Jawab Itachi sambil melipat tangan di dada.
Mendengarnya Kyuubi mengangkat kepala menatap Itachi sambil tersenyum cerah. "Kyuu janji!"
Itachi mengangguk setuju. "Bagus." Dia berjongkok lagi di kotak pasir meneruskan kegiatannya tadi. "Sekarang bantu aku memperkuat kastil ini."
"Kyuu harus ngapain sekarang?" Kyuubi ikut berjongkok memperhatikan kastil yang hampir jadi.
"Kau buat saja tembok luarnya. Bagian dalam biar aku yang buat." Kyuubi mengangguk paham dan mulai membuat tembok. Itachi mengerjakan bagiannya dengan serius sambil sebentar-sebentar mengecek pekerjaan Kyuubi. Kyuubi melihat hasil bangunan sendiri, mengangguk tak jelas dan mulai membangun lagi. Setelah menyelesaikan bagiannya Itachi berdiri dan melihat Kyuubi. "Hei, kau! Sudah selesai belum?"
"Yup sudah!" jawab Kyuubi sambil berdiri dengan semangat. Tangannya berkacak pinggang sembari melihat hasil kerjanya dengan bangga.
Menilai hasil kerja Kyuubi yang menurutnya berantakan tapi Itachi tetap memujinya. "Kerja bagus. Tapi lain kali perbaiki bentuknya," tambahnya dengan gaya bicara orang tinggi.
"Ok!" Kyuubi menjawab dengan semangat 45. Tapi tiba-tiba menunduk lesu. "Ne Tachi-sama, sepertinya Kyuu harus pulang." Wajahnya terlihat sedih.
Itachi sendiri ikut kesal. Dia mendengus sambil berkaca pinggang. "Apa boleh buat. Sekarang kamu boleh pulang. Besok kamu harus datang lagi kemari. Kalau tidak, Itachi-sama tidak akan membelikanmu es krim lagi."
"Ta-tapi, Kyuu gak tau jalan pulang." Kepalanya menunduk lagi.
Kali ini Itachi menghela napas. "Kamu ini. Kamu bener-bener ga inget? Ya udah, aku anter pulang." Itachi menarik tangan Kyuubi dan Kyuubi menurut saja.
"Ya habis Kyuu akan baru pindah dua hari yang lalu."
"Pantas aja aku ga pernah liat kamu." Itachi celingak-celinguk melihat jalanan yang mulai sepi. "Kamu tau nama tempatnya ga? Inget dari mana kamu datang?"
"Tadi aku dateng dari sana." Kyuubi menunjuk ke sebelah kanan jalan. "Pokoknya nanti itu ada danau besaaar banget. Nah rumah aku tuh yang warna oranye peger, item di sampingnya ada rumah warna putih pager item juga."
Kedua alis Itachi naik mendengar penjelasan tersebut. "Oke." Masih bergandengan tangan Itachi memimpin jalan mengikuti arahan Kyuubi. "Kamu inget baik-baik ya sekarang."
"Kalau rumah Tachi-sama dimana?"
"Kalau kamu mau tau rumah Itachi-sama, kamu harus jadi bawahan yang hebat dulu."
"Hm, gitu ya. Baiklah, Kyuu pasti jadi bawahan yang baik kok." Saat bertemu persimpangan Kyuubi berhenti tiba-tiba membuat Itachi mau tidak mau ikut berhenti. "Ne Tachi-sama, kita kemana lagi? Kyuu lupa jalannya."
"Udah ikuti aku aja. Dekat danau kan? Pokoknya hapalkan saja. Aku tidak mau mengantarmu setiap hari," Itachi menjawab dengan nada pura-pura ketus.
"Hum." Kyuubi menunduk merasa bersalah dan kali ini mengikuti Itachi kemana pun ia pergi tanpa bertanya.
Mereka berdua berjalan terus sekitar sepuluh menit sampai mereka sampai ke danau yang sempat Kyuubi sebutkan. "Kamu sekolah? Kelas berapa?"
"Kyuu masih kelas 2. Mulai besok Kyuu masuk ke Konoha Elementary School. Tachi-sama?"
"Hm, aku juga sekolah disana. Kelas 3." Tidak lama akhirnya mereka sampai depan rumah Kyuubi. Tangan yang selama ini bergandengan pun terlepas. "Ini rumahnya, kan? Jangan lupa besok datang lagi ke taman ya."
Wajah Kyuubi menunjukkan keterkejutan. "Eh, kok Tachi-sama tau rumah Kyuu?" Mata merahnya menatap Itachi polos.
Lama kelamaan Itachi menjadi gereget dengan kelakuan anak yang baru dikenalnya ini. "Kamu ini ya." Dia mencubit pipi Kyuubi gemas. "Kan tadi kamu yang kasih tau. Udah, sana masuk."
"Hm." Kyuubi cemberut sambil memegang pipi yang bekas dicubit. "Iya deh, Kyuu pulang ya. Dadah, Tachi-sama." Dia melambaikan tangan lalu memutar membuka pagar dan akhirnya menghilang masuk ke dalam rumah.
"Dah, Kyuu." Itachi pun berbalik dan berjalan pulang.
Itachi memasuki bangunan bercat putih dengan pagar hitam. Mikoto sang Ibu sedang menyiapkan bahan makanan untuk memasak makan malam saat mendengar pintu depan terbuka. Itachi masuk dan menyapa ibunya lalu segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tubuhnya dipenuhi oleh pasir seperti biasanya karena hampir setiap pulang sekolah Itachi selalu bermain di kotak pasir yang berada di taman itu sendirian. Selesai mandi Itachi pergi ke dapur dan duduk di kursi meja makan sambil melihat ibunya memasak.
"Itachi, tumben sekali jam segini sudah pulang. Biasanya kau main sampai agak sore."
Itachi menggoyang-goyangkan kakinya yang tidak menyentuh lantai. "Karena si Kyuu minta pulang."
Tangan Mikoto yang sedang memotong sayuran terhenti mendengar sebuah nama yang keluar dari mulut putranya. "Kyuu?" Ini pertama kalinya Itachi menyebutkan nama seseorang dalam percakapannya. "Apa dia teman barumu?"
"Dia bawahan baruku."
"Bawahan?"
"Besok kami berjanji bertemu lagi."
Mikoto tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran anak-anak jaman sekarang, tapi dia senang akhirnya mendengar putranya menyebut nama seseorang dalam percakapan mereka. Dia sempat khawatir jika Itachi tidak akan pernah memiliki teman karena selalu main sendiri. "Bawahan, ya? Ada-ada saja."
