Run
"Tangkap anak itu! Cepat!"
Haah
Haah
Haah
Deru napas anak lelaki itu semakin bergemuruh karena asupan oksigennya untuk bernapas semakin menipis, ia berlari secepat mungkin untuk menghindar dari para penduduk desa yang mengejarnya.
'Aku tak sanggup berlari lagi'
Pikirnya sambil masih mengerahkan kekuatan ditubuhnya yang tersisa untuk berlari ditengah hutan rimbun ini.
Cahaya kemerahan dari obor semakin membuat namja ini panik, benar-benar panik dibuatnya. Wajah penuh amarah dari para penduduk desa kembali teringat dipikirannya, ia sangat takut. Tak dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila menangkapnya.
Hah..
Haah..
Ia berhenti ditengah hutan untuk melihat sekeliling, mencari jalan keluar yang tiada berujung dari hutan gelap gulita ini. Suara penduduk desa terus berteriak memanggil.
Namja ini berlari, sama sekali tidak memperdulikan kakinya yang tak beralaskan kaki sudah terluka, bahkan bengkak karena menginjak batu-batu tajam atau semak belukar berduri. Keringat sudah bercucuran dikeningnya. Kakinya terasa kaku, yang harus ia lakukan sekarang hanyalah berlari.
'Aku tidak akan mati.'
Bruuk
Namja itu terpeleset, salah menginjak jalan yang benar.
Terpeleset hingga membuatnya terguling masuk kedalam lubang yang dipenuhi rerumputan belukar, ia berusaha bangun untuk berlari lagi tetapi percuma kakinya terasa kaku sama sekali tak bisa digerakkan.
Menangis. Tentu saja, menangis ketakutan. Ia memejamkan matanya berdoa.
Suara ramai mulai terdengar kembali semakin dekat menghampirinya.
"Tangkap anak itu cepat!"
"Bunuh dia!"
"Apa kalian melihatnya?"
Sesaat suasanya berubah menjadi hening, hanya terdengar deru napas namja ini yang berusaha ia kendalikan agar tidak terdengar oleh para penduduk desa yang mengejarnya.
"Sepertinya dia berhasil kabur" ucap salah seorang dari penduduk desa itu.
Entah kenapa kata terakhir yang ia dengar membuatnya benar-benar lega, suara ribut dari penduduk desa yang saling berargumenpun terdengar sekarang. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali, meninggalkan anak lelaki itu pergi walau dengan berat hati.
"Ayo kita kembali, anak itu sudah kabur"
Perasaan lega tiba-tiba saja muncul lagi, tak kuasa namja ini menahan senyumnya. Penduduk desa telah pergi dari tempat itu, suara mereka perlahan menghilang didalam hutan yang gelap.
Perlahan ia menggerakan kakinya yang sudah terkilir, rasa sakit langsung mengerubungi terasa seperti terkena sengatan listrik sesaat.
"Arghh.."
Ia meringis kesakitan, dengan pasrah kembali menidurkan dirinya dilubang yang dipenuhi semak belukar itu. Menatap langit malam, langit malam terlihat cukup pekat sekarang dan hanya diisi oleh beberapa bintang yang berkilauan.
"Aku selamat.."
Pagi yang cukup cerah, matahari bersinar tanpa ragu menyinari setiap sudut rumah yang berada dipinggiran desa ini. Suara ketukan palu terdingar dihalaman rumah kecil itu, orang yang tinggal di rumah tersebut telah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing kecuali satu namja yang masih membaringkan dirinya ditempat tidur gantung sambil mendengkur cukup keras.
Ia tertidur cukup lelap hingga membuatnya tak memperdulikan keadaan sekeliling rumahnya sekarang yang telah sibuk.
Wangi soup menyeruak dipenciumannya, tanpa sadar ia berjalan masih memejamkan matanya. Berjalan menuju dapur tempat wangi itu berasal. Wangi yang menurutnya seperti wangi makanan dari surga.
Sesampainya didapur ia membuka matanya, lalu melihat sepanci soup ayam diatas kompor karena masih dipanaskan. Ia tersenyum sambil menghampiri panci soup ayam, tak lupa mengambil mangkuk kecil untuk menyicipi makanan dari surga-nya. Namja ini sap untuk menyendok kuah soup ayam itu.
"Kim Jongin. Tak ada makanan kalau kau tidak berkerja."
Ucap nuna namja itu dengan memanggil nama aslinya membuat Kai terperanjat kaget dan segera membalikan badannya untuk melihat sosok kakak perempuannya yang sekarang sibuk merapihkan meja makan rumah mereka.
"Nuna.. Jebal... Ijinkan aku untuk menicipinya sedikit", Kai sedikit memohon sambil memperlihatkan tatapan memohonnya yang dulu berhasil membuat kakak perempuannya itu selalu luluh dan mengijinkan namja itu melakukan apa saja. Tetapi tentu saja hal itu takkan berhasil lagi sekarang.
"Tidak boleh, sebaiknya kau pergi kehutan untuk mencari kayu bakar"
Kai menghela napasnya pelan, lalu mengangguk pasrah. Ia tak akan membiarkan soup ayamnya begitu saja. Dengan malas namja ini berjalan keluar rumah sambil membawa tas tali yang biasa ia gunakan untuk mencari kayu bakar dihutan.
Ia berjalan melewati pamannya yang tengah sibuk dengan meja baru yang dibuatnya.
"Hai paman", sapa Kai tak bertenaga sedikitpun.
"Kai, kau mau kemana?", tanya Paman Injeon menghentikan kegiatannya sesaat untuk menatap namja yang berdiri dengan berat hati didepannya.
"Nuna menyuruhku mencari kayu bakar, jangan habiskan soup ayamku paman" ingat Kai dengan nada yang masih terdengar malas. Paman Injeon hanya terkekeh pelan.
"Ne, Kai-ya.. Sifatmu itu sama seperti Ayahmu ketika kecewa.."
Ucapan Paman Injeon membuat Kai menatap namja paruh baya itu, pikiran itu tiba-tiba saja memasuki otaknya. Kai membayangkan rupa Ayahnya pada Injeon, mungkin kalau sekarang ia bisa bertemu dengan Ayahnya rupa Ayahnya tak terlalu jauh dengan Injeon walau sekarang pria paruh baya itu masih terlihat sangat sehat dan awet muda.
Kai mulai berpikir kenapa Injeon sangat mengabdi kepada Ayahnya, hingga membuatnya memberanikan diri untuk bertanya kepada pria itu.
"Paman.. Kenapa kau mengabdi pada Ayahku?"
Hening sesaat. Injeon terdiam. Senyumannya menghilang sesaat. Saat Kai mulai terlihat bertanya-tanya kenapa dengan reaksi pria itu, Injeon tesenyum kembali.
"Ayahmu adalah Raja yang sangat hebat Kai.."
Sekarang Kai tersenyum dengan jawaban dari Injeon. Ia sangat merasa bangga dengan Ayahnya, karena Kai sendiri begitu menghormati Ayahnya sebagai Orangtua maupun Raja kerajaan EXO.
"Ya, benar Paman. Ayah memanglah hebat, Raja yang sangat hebat"
Injeon melihat ekspresi Kai yang menunjukkan kebanggan begitu besar, pria ini menghela napasnya pelan. Ia berpikir bahwa Kai pasti sangat merindukan Ayahnya begitupula dengan Ibunya.
"Aku hanya berharap mereka baik-baik saja.. Semoga kami dapat bertemu kembali sebagai keluarga.." gumam Kai pelan, namja itu menatap langit biru berawan yang terlihat bersih.
"Pasti kalian akan bertemu.." Injeon tersenyum pada Kai, Kai yang sekarang ia juga sudah anggap sebagai anaknya sendiri.
"Baiklah paman, aku harus kehutan. Nanti soup ayamku menunggu lebih lama lagi" Kai tersenyum dan berlari menuju hutan tempat ia biasa mencari kayu bakar.
Namja itu menghilang didalam hutan, Injeon sekarang menatap langit biru diatasnya. Berbagai pikiran mulai kembali memasuki otaknya, tentang semua kejadian yang harus ia sembunyikan dari Kai.
"Paman"
Panggil Jooeun, Injeon segera mengalihkan pandangannya pada yeoja itu.
"Mereka mengirimi kita pesan ini.. Seluruh orang yang mempunyai kekuatan dibunuh oleh penduduk desa-nya atas perintah Raja EXO yang baru. Dan mereka meminta kita untuk berhati-hati karena Jongin sekarang menjadi buruan diseluruh kerajaan.."
"Sepertinya kita harus mencari tempat baru lagi paman.."
Cahaya matahari masuk melalui sela-sela pepohonan, namja ini terus mengerang kesakitan karena ia tak berhasil bagun dari tempatnya duduk didalam lubang ini.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin berjalan mendekat kearah lubang itu. Refleks namja itu langsung waspada menatap keluar lubang, menantikan siapa yang datang untuk menghampirinya.
Srak Srak Srak
Suara itu terus mendekat hingga berhenti didekat lubang tempat namja ini terjatuh.
"Sedang apa kau disana?" tanya namja bersurai silver itu pada namja ini.
Namja ini-pun menghela napas dengan lega, karena sepertinya orang ini bukanlah salah satu penduduk desa yang dari tadi malam terus mengejarnya.
"Aku terjebak dilubang ini, bisakah kau membantuku?"
Namja bersurai silver itu terdiam sesaat. Mereka saling bertukar pandangan satu-sama lain, entah mengapa namja itu terlihat agak bingung. Lalu detik selanjutnya ia telah mengulurkan tangannya untuk membantu orang yang terperangkap didalam lubang ini.
"Argh.."
Ringis orang yang terperangkap dilubang itu, ia mencoba untuk berdiri tetapi percuma saja kakinya sudah bengkak karena terkilir semalam dan itu semakin membuat ia tak mungkin untuk berjalan.
"Kau terluka ya? Akan kuajak kau kerumahku.. Nunaku bisa mengobatimu" ucap namja bersurai coklat itu santai, ia kembali membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya dari dalam hutan tadi.
"Siapa namamu?", tanyanya santai sambil membantu orang yang terluka itu berdiri.
"Luhan.. Xi Luhan"
Namja bersurai silver ini hanya mengangguk dan segera membopong Luhan, membantunya agar bisa berjalan kerumahnya.
"Namaku Kai"
Jelas Kai, Luhan hanya tersenyum pada namja itu. Kai-pun membawa Luhan menuju rumahnya untuk segera diobati lebih lanjut. Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari hutan pinggiran desa itu.
Dari kejauhan terlihat kakak perempuan Kai yang sedang menunggu adik laki-lakinya itu untuk segera pulang tetapi melihat Kai membopong seorang namja lain yang terluka Jooeun segera menghampiri mereka khawatir.
"Kai, siapa dia? Temanmu?"
Kai menggeleng pelan, "Aku menemukannya terluka ditengah hutan nuna"
Jooeun ikut membopong namja itu menuju ruang tengah rumah sederhana mereka.
Luhan telah terbaring disofa sementara Jooeun dan Kai sekarang sibuk mencari obat untuk namja yang kesakitan itu. Jooeun dengan sigap mengambil beberapa perlengkapan pengobatan. Kakak perempuan Kai itu memang cukup pandai dalam masalah medis.
Mereka kembali berkumpul diruang tengah, Jooeun telah duduk didepan Luhan untuk mengobati kakinya yang terluka cukup parah, ditambah memar memar disekitar kakinya membuat Kai meringis sendiri melihat Luhan merasa kesakitan saat kakaknya membersikan setiap luka dikaki namja itu.
Selama pengobatan Kai hanya memperhatikan mereka, tak sengaja ia memperhatikan Luhan. Bajunya sangat kotor, ditambah robekkan dibajunya membuat namja itu terlihat lusuh. Kai mulai bertanya kenapa namja itu berada ditengah hutan tadi?
Jooeun selesai mengobati kaki Luhan, yeoja itu membersihkan peralatan pengobatannya lalu menatap Luhan kasihan.
"Kau bisa beristirahat dulu disini, sepertinya kau tersesat ya?"
Luhan mengangguk pelan, disudut bibirnya masih terlihat darah segar yang mengering. Hal itu membuat Kai semakin penasaran siapa namja itu.
"Kai, carikan beberapa bajumu untuknya, dan ajaklah makan bersama"
Ucapan kakak perempuan Kai membuat Luhan mengangguk berterimakasih, sementara Jooeun hanya tersenyum tak terlalu mempermasalahkan lalu beranjak kedapur. Kai segera berdiri dari tempatnya duduk.
"Tadi itu kakakku Kim Jooeun" Kai mengenalkan nuna-nya pada Luhan. Namja itu tersenyum mengangguk.
"Terimakasih telah mengobatiku" ucap Luhan merasa sangat berterimakasih, Kai sekarang tersenyum pada Luhan.
"Tak masalah, ayo segeralah ganti bajumu dan makan bersama kami"
Ajak Kai, ia tengah membantu Luhan untuk berdiri dari tempatnya duduk. Luhan dan Kai berjalan bersamaan menuju dapur untuk menyantap makan malam yang sudah tersedia dengan manis diatas menja makan.
Mereka bertiga duduk bersama diruang makan, Paman Injeon hari ini tak bisa ikut makan bersama mereka karena ada keperluan di kota dan Kai sudah terbiasa dengan hal itu.
Luhan terlihat cukup nyaman berada dirumah ini walaupun terlihat masih malu dan canggung, tetapi Kai dan Jooeun tetap menyambut kedatangan namja itu seperti tamu untuk rumah ini.
"Jadi... Darimana kau berasal?"
Pertanyaan Jooeun membuat Kai ikut menatap Luhan, menantikan jawaban namja itu karena ya, Kai sangat penasaran dengan Luhan.
"Hmm.. Aku berasal dari desa sebelah.. Desa Fire, dan tiba-tiba saja aku tersesat kehutan tadi.. Aku sedang berkelana kesetiap desa", jawab Luhan dengan cukup meyakinkan, ia bercerita sambil tersenyum. Hal itu membuat kedua kakak-beradik ini cukup percaya pada cerita namja Luhan.
"Sudah sejauh mana kau berkelana?"
Sekarang pertanyaan dari Kai terdengar, Luhan terdiam sesaat seperti berpikir lalu ia kembali mengeluarkan aura polosnya dan menjawab pertanyaan dari Kai dengan sangat mudah.
"Aku baru memulainya dari desa Fire tetapi sebelum itu aku pernah pergi menuju desa Light. Kau tau kan jarak kedua desa itu tak begitu jauh? Dan dua desa itu memang terdengar sangat akrab dalam hubungan perdagangan"
Kai mengangguk setuju dengan pernyataan Luhan, ia pernah kedesa Fire walau hanya sekali dan itu-pun tanpa pengawasan seperti Pangeran Kerajaan. Kai kesana karena ikut dengan Pengawal Injeon untuk memesan kebutuhan bangunan kerajaan.
Senyuman Luhan tak pernah hilang dari sudut bibirnya, karena hal ini semua orang yang bertemu dengannya selalu berpikir bahwa namja ini sangatlah polos dan ramah terhadap orang lain. Membuat banyak orang yang percaya padanya sebelum akhirnya mengejar namja ini karena ia sebenarnya adalah incaran.
Luhan menunduk menatap makan malamnya yang telah habis diatas meja, Jooeun segera bangkit dari tempatnya duduk untuk merapihkan piring kotor makan malam mereka. Kakak Jongin itu pergi kembali kedapur hingga menyisakan kedua namja ini diruang makan.
"Kau punya keluarga?"
Pertanyaan itu membuat Luhan mengangkat wajahnya untuk melihat Kai, namja yang bertanya malah sibuk menatap keluar jendela. Menatap dengan tatapan yang terlihat kosong dan hampa.
Sebagai jawaban Luhan menggeleng.
"Aku tak mempunyai keluarga, aku bahkan tidak mengetahui keluargaku dimana"
Jawaban Luhan membuat Kai menatapnya sekarang, tentu saja menatap tak percaya. Nasib namja didepannya itu sama sepertinya 'tak memiliki orangtua lagi' walau Kai percaya bahwa ia bisa bertemu dengan kedua orangtuanya terkadang pikiran itu muncul dan seakan memberitahunya.
'Orangtua-mu tak mungkin selamat dari kobaran api'
"Setidaknya kau mempunyai nuna-mu disini.. Kau masih mempunyai keluarga" gumam Luhan pelan.
Saat mereka berdua sedang sibuk dengan pembicaraan mereka Paman Injeon telah kembali pulang kerumah. Kai memperhatikan setiap gerakkan Injeon yang mulai terlihat cemas diruang utama gubuk mereka.
Karena penasaran Kai segera menghampiri pamannya tanpa ragu.
"Paman ada apa? Sesuatu terjadi?"
Injeon mennatap Kai dengan tatapan yang tak terbaca, ia menghela napasnya berat lalu memberikan selebaran yang tadi didapatkannya dikota.
Namja yang lebih mudah darinya itu langsung membaca selebaran kertas dari Injeon. Tulisan besar yang tertera diselebaran kertas itu langsung menarik perhatiannya.
WANTED
SELURUH ANAK YANG MEMPUNYAI KEKUATAN DARI SETIAP DESA HARUS DISERAHKAN KEPADA KERAJAAN, APABILA KALIAN MENEMUKANNYA KAMI AKAN MENUKAR ANAK ITU DENGAN IMBALAN SESUAI DENGAN PERMINTAAN KALIAN. DAN BILA ANAK ITU MELAWAN KALIAN BOLEH MEMBUNUHNYA DITEMPAT, IMBALAN AKAN LEBIH BESAR KALAU KALIAN MEMBAWA TUBUH TAK BERNYAWA MEREKA.
Sontak namja ini terdiam ditempatnya, tangannya mulai bergetar. Kai menatap Injeon tak percaya dengan pengumunan Kerajaan yang baru saja dibacanya. Wajahnya tentu saja kaget dan terlihat sangat panik, anak yang mempunyai kekuatan? Apakah mungkin mereka mencari dirinya? Tapi kenapa.. Dimana Ayah dan Ibunya.. Dan siapa yang mempimpin kerajaan sekarang?
"Paman.. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Kai meremas kertas itu erat dan terjatuh sambil terduduk diantai kayu gubuk mereka.
"Kita harus pergi.. Mereka lebih serius sekarang mecari anak yang mempunyai kekuatan sepertimu" jelas Injeon dengan nada yang tetap terdengar tenang.
"MEREKA MENCARIKU PAMAN?!"
Teriakkan Kai membuat Jooeun segera menghentikan kegiatan mencuci piringnya, begitupula Luhan yang dari tadi masih menunggu diruang makan. Mereka berdua beranjak keruang tengah untuk memastikan apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Jooeun menatap Injeon dan Kai secara bergantian.
Mereka terdiam tidak menjawab. Lembaran kertas ditangan Kai-pun terlihat oleh Jooeun, yeoja ini segera membacanya dengan cepat.
Sontak ia langsung menatap Kai. Wajahnya menampilkan ekspresi yang sama dengan Kai juga tadi. Luhan yang tidak terlalu mengerti apa yang terjadi melirik sedikit kertas yang Jooeun pegang.
'ANAK YANG MEMPUNYAI KEKUATAN'
Kata itu yang berhasil Luhan baca, ia juga ikut menatap Kai. Kenapa mereka semua sepanik itu... Tunggu, jadi karena selebaran ini para penduduk desa itu lebih ganas menggejarnya. Badan Luhan terasa sangat lemas saat itu juga, ia berpegangan pada tembok kayu gubuk ini.
"Kai, cepat kemasi barang-barangmu kita harus pergi dari sini secepatnya" ucap Injeon akhirnya memecahkan keheningan diantara keempat orang disana.
Terlihat Kai mengangguk kecil, berdiri dari tempatnya duduk tadi. Namja itu berjalan dengan tidak bertenaga. Tentu saja mereka melupakan kehadiran Luhan disana.
Luhan sekarang yang bertanya-tanya.
'Apa yang sedang terjadi?'
'Kenapa mereka sepanik itu?'
'Apa Kai mempunya kekuatan sepertiku hingga mereka sepanik itu?'
'Apa yang akan terjadi pada kami?'
Tatapan mata namja ini sudah tak terbaca lagi. Tatapan yang cukup kosong. Ia benci untuk mengakuinya tetapi Luhan juga salah satu dari anak yang memiliki kekuatan itu.
Tok. Tok. Tok
Pandangan Luhan dan Jooeun teralih pada pintu utama rumah yang diketuk. Suasana terasa hening sampai suara dari orang yang berada dibalik pintu itu terdengar.
"Sepertinya aku mendapatkan dua sekaligus disini.."
To be Continued
Jwesonghamnidaaaaaaaa baru bisa post lagi yang chap 2nya setelah berbulan-bulan T-T kemarin agak buntu mau lanjut cerita ini tapi udah kembali ke main ceritanya kok/? Jwesonghamnidaaaaa~ *deep bow*
Semoga masih bisa ngikutin ceritanya yaaaaaa, next chap will be update asap okay!
Thanks for reading my story, please enjoy it. Yehey~
-Deerskin94
