DESTINY
Cast: Ryeowook, Yesung, Siwon, Kibum
Pairing: Yewook slight Sibum, Siwook.
Genre: Romance
Rate: General
Disclaimer: I own nothing except the story.
Warn: GS, OOC, typos dll
::
Destiny
2nd Story
By
Kim Seo Jin
:
:
Destiny First Story
"Sungie, kenapa kau bisa menemukanku waktu itu? Kau membuntutiku?"
"Ani.. Aku mencarimu."
"Mencariku? Untuk apa?"
"Kau lupa Wookie? Bukankah kau yang memintaku berjanji untuk mencarimu jika aku kembali."
"Mwo? Kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja. Apa kau sudah lupa?"
"A-ani.. hanya saja, itukan lama sekali. Ku kira kau tak akan kembali kesini… Apa ini keajaiban?"
"Tentu saja. Keajaiban itu bagian dari takdir… Jadi… bolehkah aku menjadi bagian dari takdirmu?"
"Hmmm… t-tentu saja."
::
Destiny
2nd Story
::
:
Suara deru ombak yang begesekan dengan pasir serta angin senja yang bertiup menambah kesan indah pada siluet seorang yeoja yang tengah bertelanjang kaki seraya bermain air. Matamu terpaku pada sosok gadis itu. Dengan senyum lembut yang terpatri di wajah tampanmu, sosok indah yang sedang riang bermain itu benar- benar menghangatkan hatimu.
12 tahun
Bukan sebuah jangka waktu yang pendek untuk dilewati. Bukan suatu masa peralihan antara siang dan malam saja, tapi seluruhnya. Seluruhnya yang mampu berubah dalam jangka waktu 12 tahun lamanya. Tapi tidak dengan hatimu. Hatimu tak berubah sama sekali sejak 12 tahun lalu atau lebih dari itu. Entahlah, kau tak pernah tahu takdir apa yang sedang mengikatmu sekarang. Yang kau tahu hanyalah kau yang tak ingin takdir itu terlepas begitu saja.
Korea Selatan dan Inggris
Bukan sebuah jarak yang mampu ditempuh dengan beberapa langkah saja. Bukan juga dua buah tempat bertetangga yang tak berjarak. Merupakan dua belah dunia berbeda ras dan perputaran waktu. Tapi bukan juga merupakan tempat yang tak bisa dijangkau dengan mudah oleh alat transportasi canggih masa kini. Namun, sepertinya ada sebuah penghambat yang membuat perjuangan itu perlu dilakukan. Penghambat yang membuatmu sadar, seberapa jauh jarakmu dan gadis mu. Lagi- lagi takdir yang mengikatmu membuatmu tak mau lepas begitu saja. Tuhan telah mempermudah jalanmu.
:
:
:
"Sungie."
Seruan lembut dari gadis itu membangunkan lamumanmu. Kau tersenyum padanya, sangat lembut tanpa kau sadar bahwa gadis itu berdesir halus. Tapi kau sadar satu hal, gadis itu merona. Matamu masih awas untuk tidak meluputkan satu ekspresipun yang keluar dari wajah gadis-mu.
Gadis-mu?
Bolehkah kau menyebutnya begitu?
:
:
:
"Waeyo?" tanyamu lembut.
"A-ayo pulang. Mataharinya sudah tenggelam."
Kau masih tetap tersenyum. Tanganmu lalu meraih pergelangan kecik gadis itu. Menautkan jemari- jemari lentik itu pada kuncian jemarimu. Membawa perlahan gadis itu menjauh dari bibir pantai.
Pantai tampat dimana sebagian kenanganmu tercipta disana.
:
:
:
Gadis kecil itu terus berlari bertelanjang kaki. Tak dihiraukannya seruan yang kau keluarkan sedari tadi. Gadis kecil itu hanya tahu bahwa dia bahagia sekarang.
"Wookie, berhentilah. Apa tidak lelah?" tanyamu dengan sedikit berteriak.
Gadis kecil itu –gadis- mu – menghentikan larinya kemudian berbalik menatapmu dengan bola matanya yang berbinar cerah.
"aniyo," jawabnya singkat lalu kembali melanjutkan aktivitasnya bermain dengan lelaki kecil seusianya.
:
:
:
"Kita akan benar- benar pulang?" tanya gadis yang kau panggil Wookie itu padamu yang masih setia menggenggam jemarinya.
Kau berhenti, memutar balik tubuhmu, menghadap ke gadis-mu yang tengah memasang wajah memelas. Alismu bertaut.
Ada apa lagi dengan gadis yang selama dua minggu ini selalu bersamamu?
"Waeyo? Tadi ingin pulang?" tanyamu lembut.
"Aku lapar," ucap gadis mu dengan bibir yang dikerucutkan.
Kau terkekeh kecil, tanpa sadar sebelah tanganmu yang bebas terangkat, menepuk lembut kepala gadis mu.
"Arra, kita makan sekarang."
:
:
:
"Ya! Siwonnie, Yesungie, kenapa kalian merusak istana pasirku?" tanya gadis mu dengan bibir yang mengerucut tanda kesal.
"Ani, bukan aku Wookie. Sungie hyung yang melakukannya," elak seorang lelaki kecil yang seusia dengan gadis mu.
Gadis mu menatap tajam padamu yang tetap tenang menggali pasir di pinggir pantai. Bibir gadis itu semakin mengerucut lucu ketika sama sekali kau tidak memberikan respon atas tatapan yang dianggapnya mampu mengintimidasimu.
"sungie!" seru gadis mu seraya melempar ember kecil tempat meletakkan pasir yang dia gali kearah lenganmu, membuatmu spontan menjerit kesakitan.
"Aww, appo Wookie-ah."
Gadismu dan lelaki yang seumuran dengannya tertawa bahagia melihatmu meringis kesakitan. Tanpa sadar kedua ujung bibirmu tertarik membentuk sebuah senyuman yang akhirnya berujung pada tawa yang renyah.
:
:
:
:
Suasana café yang kau kunjungi tampak sedikit ramai. Wajar saja jam sudah menunjukan pukul 7 malam dan tambahan pula bahwa hari ini adalah akhir pekan. Kau masih menggenggam tangan gadis mu sampai akhirnya empat buah kursi yang dipisahkan oleh sebuah meja membuatmu harus rela melepas genggamanmu.
Seorang pelayan datang menghampiri kalian, menanyakan pesanan, mencatatnya disebuah note kecil kemudian beranjak dengan memberikan senyum ramah serta sedikit wejangan untuk menunggu.
Matamu kini memandang mengitari seisi café, mencoba melihat para pengunjung yang mungkin saja kau kenal. Suara denting pintu terbuka mengalihkan pandanganmu dan gadis mu. Terlihat disana dua orang masing- masing namja dan yeoja yang salah satunya kau kenal dengan baik.
"Yesung hyung," panggil sang namja seraya berjalan kearahmu diikuti sang yeoja cantik dibelakangnya. Kau belum membalas, matamu kini beralih pada gadis di depanmu yang ternyata lebih memilih untuk melihat jalanan luar dari pada melihat pemandangan yang kau tahu pasti masih menyakiti hatinya.
"Siwonie," balasmu seraya tersenyum ramah.
"Boleh kami bergabung?" tanya namja itu –Siwon – yang hanya bisa kau balas dengan anggukan seraya melihat kikuk kearah gadis yang belum jua mengalihkan pandangannya dari luar.
"Wookie," panggil Siwon yang membuat gadis mu mau tidak mau mengalihkan dunianya. Pandanganya datar dan hanya senyum kaku yang dia berikan.
"annyeong Wookie eonnie, Yesung oppa," sapa yeoja dibelakang Siwon yang kau tahu bernama Kibum.
Kau dan lagi- lagi gadis mu hanya bisa tersenyum. Lalu pandangan kalian mengikuti pergerakan Siwon yang mendudukan Kibum disebelah gadis mu dan dirinya sendiri disebelahmu.
Lagi- lagi pandanganmu tak bisa lari dari gadis dihadapanmu yang kini kau tahu menyembunyikan rasa sakit. Apa sebegitu sulitnya untuk gadis mu melihatmu lagi?
Apa dia lupa pada janji kecil yang mereka buat dulu?
Hanya sebuah janji kecil, namun membekas selama 12 tahun ini di relung hatimu.
:
:
:
Suasana taman belakang komplek rumahmu terlihat ramai saat itu. Ada beberapa anak seusiamu dan lebih muda darimu bermain dengan riang.
Dibawah sebuah pohon maple, kau menyandarkan punggung kecilmu diikuti pergerakan gadis kecil disebelahmu.
"sungie, apa benar kau akan pindah?" tanya gadis kecil tersebut.
"Ne, waeyo?"tanyamu balik.
"Ani," jawabnya singkat. Keheningan tercipta beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu kembali buka suara, "Apa kau percaya pada takdir?"
"Nde, aku percaya."
"Bagaimana dengan kebetulan?"
"Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, semua itu adalah takdir. Seperih apapun itu, semua adalah takdir. Jangan pernah sesali takdir yang sudah terjadi, ubahlah takdir yang kau anggap sakit itu. Itu yang eommaku bilang."
Gadis itu terdiam, entah apa yang dipikirkannya sampai sebuah pertanyaan membuatmu sebagai anak berusia 10 tahun saat itu mengeryit bingung.
"Mau kah kau berjanji padaku? Jika kau kembali nanti, carilah aku dan penuhilah takdirku ne?"
"Takdir seperti apa itu?"
"Molla… aku hanya ingin kau yang menjadi takdir ku. Otte?
"Baiklah, aku janji."
Sebuah janji kecil yang bahkan tak tertangkap maksudnya oleh anak lelaki yang berusia 10 tahun yang dilontarkan anak perempuan yang berusia 2 tahun lebih muda –yang tidak pernah mau memanggimu 'oppa' – namun benar- benar mengikat dan tak jua hendak lepas.
:
:
:
Suasana malam makin terasa yang ditandai dengan gemerlap bintang dan juga semilir angin yang menyapa kulit yang tak terlindungi. Setelah makan malam tadi selesai, gadis mu malah mengajakmu untuk singgah ke taman di belakang komplek rumah mu sewaktu dulu. Kau hanya mengikuti, tak berniat mencegah karena kau tahu gadis mu mencoba menenangkan dirinya dan sepertinya kau juga butuh sedikit penenang.
Entahlah. Kau tak tahu alasan apa yang membuat gadismu memilih ke taman ini?
Apa dia ingat tentang janji mereka?
Kau tak terlalu berharap banyak. Karena kau sadar, salahmu lah yang tak pernah memintanya menunggu.
Salahmu yang tak pernah memberi barang sebait kabar untuknya.
Salamu juga yang tak pernah bisa selalu berada disampingnya sampai sebuah perasaan lain tumbuh dihati gadis mu, tumbuh karena sebuah kebiasaan yang saling membutuhkan.
Sepanjang 12 tahun yang dihabiskan gadis itu tanpa dirimu atau bahkan bayanganmu.
"sungie," panggil gadis mu membuat mu menghentikan aktivitas melihat langit dan menolehkan pandanganmu pada sosok indah disampingmu.
"waeyo?" tanyamu balik dengan senyum lembut diwajah tampanmu. Gadis mu menoleh, tersenyum manis yang membuat hatimu bergetar.
"Sungie, kenapa kau bisa menemukanku waktu itu? Kau membuntutiku?" tanyanya kini dengan pandangan mengintimidasi yang sangat menggemaskan.
"Ani.. Aku mencarimu," jawabmu mencoba tenang. Dan kau tidak bohong tentang itu. Kau benar- benar mencarinya.
"Mencariku? Untuk apa?" tanya gadis mu tak percaya.
"Kau lupa Wookie? Bukankah kau yang memintaku berjanji untuk mencarimu jika aku kembali," ucapmu lagi- lagi jujur.
"Mwo? Kau masih mengingatnya?" tanyanya dengan nada tak percaya yang semakin kentara.
"Tentu saja. Apa kau sudah lupa?" tanyamua balik dengan menyipitkan matamu dan mencondongkan sedikit tubuhmu yang sukses membuat gadis mu gugup.
"A-ani.. hanya saja, itukan lama sekali. Ku kira kau tak akan kembali kesini… Apa ini keajaiban?"
"Tentu saja. Keajaiban itu bagian dari takdir… Jadi… bolehkah aku menjadi bagian dari takdirmu?" tanya mu yakin.
"Memangnya kau tahu takdir apa yang ku minta saat itu?" tanya gadis mu balik.
"Tidak," jawab mu singkat membuat gadis mu mendengus kesal. "Apa aku boleh tahu?" tanyamu balik.
"Aku juga tidak tahu," jawabnya seraya menggendikkan bahu.
"Bagaimana kalau kita memulai dari awal? Melengkapi semua takdir yang tidak kita lewati bersama. Bagaimana?" tawarmu.
"Apa bisa begitu?" tanyanya lagi.
"Tentu saja bisa. Jadi apa kau mau?"
"Hmmm… t-tentu saja."
:
:
:
3 years later
Waktu berlalu begitu cepat ketika setiap detiknya merupakan sebuah kebahagiaan. Kini kau berdiri di depan altar dengan gagahnya. Hari ini kau tetapkan bahwa kebahagiaanmu berakhir dan kebahagiaan baru akan kau mulai.
Di ujung sana gadis mu dengan balutan gaun putih yang melekat pas ditubuh mungilnya berjalan menuju kearahmu.
Senyummu semakin terkembang ketika menyambut uluran tangan gadismu. Rasa gugup saat mengucapkan ikrar yang mengikatmu pada sebuah takdir panjang di depan Tuhan. Rasa lega ketika tersematnya pengikat lain dimasing- masing jemari mu dan gadis mu. Sebuah rasa bahagia yang tak bisa diutarakan ketika sebuah kecupan hangat kau singgahkan di dahi gadis yang telah resmi menjadi pendampingmu.
Kau bahagia, begitu juga dengan pendamping mu kini.
Sebuah permainan takdir yang kalian lewati satu per satu berbuah manis.
Sebuah pertemuan, perpisahan, pertemuan kembali seperti sebuah reinkarnasi serta yang pada akhirnya kalian sadar ada saat perpisahan itu datang lagi.
Seperti apapun perpisahan itu, semuanya tetaplah sebuah kebahagiaan. Kebagiaan yang diberikan Tuhan dalam cara yang berbeda. Dan kau kali ini sungguh bersyukur takdirmu ada pada gadis yang kini tersipu malu ketika dengan frontal kau mengatakan, "dia istriku."
Dan dialah takdir yang ditetapkan Tuhan untukmu.
:
:
::END::
a/n: annyeong yeoreobun..
otte? Masih ada yang penasaran?
Haha, saya sebenernya buat FF yang 1st Destiny hanya berdasarkan keisengan semata. FF itu sendiri sebenarnya FF Remake yang sedikit saya revisi yang awalnya pake cast B2st x OC.. gak da 2nd storynya.
Tapi berhubung kurang panjang dan karena ada comment yang minta sequel jadi saya buat deh.
akh, saya bingung mau ngasi judul apa, jadi Destiny 2nd Story aja..
yang ini dari sisi si abang Yesungnya.
Jadi?
Masih ada yang menggantung?
Okeh, Review lagi ne ^^
Balasan review:
Rara19Park: tega bener dah chingu.. hehe.. saya lagi GALAU, makanya Wook saya siksa #plak.. gomawoyo.. Review lagi ^^
Nam Mina: haha, iya.. endingnya nyangkut di jemuran Yeppa =_=".. ada lanjutannya kok *tunjuk atas.. gomawo review lagi ne ^^
ViiaRyeosom: itu namanya perasaan.. salahin tuh si bg Yeye main pergi aja..#plak..
akh, semoga yg menggantung terjawab ya..
yaudh deh, bg Ryeong takdirmu *sodorinWook*, Yeye untuk aku *karungin*.. ini review terpanjang.. horee..*tebar uang*… gomawo.. review lagi yah..^^
JeaMiYewooky: sweet? Apanya Chingu? Saya? Wah,, makasi #plak.. gomawoyo.. review lagi ^^
Dhia bintang: sequel? Ada tuh *tunjuk atas… wook ma yeye bsa saling kenal? Saya yang ngenali *tunjuk diri…yeye kembali dari mana ya? Dari kubur kyk nya #plak..hehe.. gomawoyo.. review lagi ^^
Haha ajha: kok menurut kamu aja sih? Menurut aku juga lho #eh,, yeye bsa knal ma wook karena saya yg ngenali… hehe.. tuh, yeye pan emang suka muncul tiba- tiba..=_=" gomawoyo.. review lagi ^^
Oke, pai- pai~
Tadarusan nyok….
