Author : seishuuhara

Cast : Park Chanyeol,Byun Baekhyun,dsb

NB : Baru, Kritik dan Sarang sangat diperlukan.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2


Keesokan harinya

"Hai, bro!". Teriak Kai sok swag.

"Berhentilah sok swag seperti itu, aku risih melihatnya". Ucap Sehun dan Chanyeol bersamaan.

"Mwo? itulah cara agar cewek-cewek mendekat. Cewek-cewek itu suka sama anak gaul kayak aku gini". Ucap Kai dengan pedenya.

"Cih". Chanyeol meludah ditempat, Sehun muntah ditempat.

"Yap. sekarang hari yang kita tunggu guys, hari dimana nona Byun akan mengumumkan hasil peras otak kita 4 hari yang lalu". Ucap Sehun sambil meminum air mineral. Kan dia habis muntah gara-gara Kai, Dia dehidrasi.

"Hmm, benar juga. Okey, kita akan segera tahu siapa yang akan mendapat niali bagus dan mendapat hukuman dari Byun Seosangnim. Park Chanyeol, bersiaplah menemui ajalmu". Ucap Kai sambil Sehun dibelakangnya.

"Cih, sialan. Berani-beraninya mereka benar juga, aku akan menemui ajalku. Aku tidak bisa metematika. Jebal. Tuhan, eotteohkae?". Chanyeol tertunduk.

5 minutes later

"BYUN SEOSANGNIM". Teriak salah satu murid di dekat pintu. Murid murid kalang kabut mencari tempat duduk. Tapi terlambat, Baekhyun sudah masuk dan berdiri ditengah kelas.

"YAK, KALIAN MAU JADI APA JIKA KALIAN TIDAK DISIPLIN SEPERTI INI? CEPAT DUDUK DI BANGKU MASING-MASING!". Teriak Baekhyun. Semua murid kalang kabut untuk mencari tempat duduknya.

"Be-berdiri". Teria ketua kelas. Semua muris berdiri.

"Beri salam pada Byung Seosangnim!". Teriaknya lagi.

"Annyeonghaseo, Byun seosangnim". Teriak seluruh murid. Baekhyun hanya menganggukkan kepala sambil mengeratkan ikatan rambutnya.

"Hari ini, aku akan mengumumkan hasil ujian matematika yang kemarin baru saja membuat otak kalian serasa mau keluar, benarkan?". Ucap Baekhyun sinis. Murid-murid hanya menunduk.

"Untuk kali ini, aku salut dengan perkembangan Sehun dan Kai. Sehun dan Kai menembus angka 9, padahal dulunya kalian selalu aku hukum bersama Tuan Park yang ada dibelakang sana.". Ucap Baekhyun sambil menunjuk Chanyeol.

"Sialan, dasar setan tua". Umpat Chanyeol. Sehun dan Kai melirik ke arah Chanyeol. Kai menunjukkan kepalan tangannya dan Sehun menggerakkan kakinya tanda ingin segera mengahantam bokong seksinya.

"Semua murid mendapat nilai bagus. Kecuali 1 anak". Ucap Baekhyun ketus.

"Sudah pasti aku". Ucap Chanyeol pasrah.

"Tuan Park Chanyeol, sampai kapan nialimu akan jelek terus? kau ini sekolah belajar atau bermain? Masa sudah 3 kali pertemuan kau masih saja tidak mengerti? Apa kau tidak pernah belajar?". Teriak Baekhyun marah.

"Nanti saat 30 menit sebelum pulang, temui aku di lapangan basket.". Ucap Baekhyun.


Bel pulang berdering

Chanyeol berjalan malas keluar kelas.

"Hei, park Chanyeol, kau belum menerima hukuman kami". Ucap Sehun lantang.

"Cepat kemari". Teriak Kai.

Chanyeol berjalan malas kearah namja tersebut. Sehun sudah bersiap di belakang tubuh jangkung Chanyeol. Sehun melakukan pemanasan pada kakinya.

Dan

BUUKKH.

"Rasakan tendangan kaki ayam 3 jari ala Sehun.". Ucap Sehun sambil menggerakkan kakinya yang panjang. Chanyeol kini sudah tersungkur di bawah sambil mengusap bokong seksinya.

"Yak, dasar tidak sopan. Aku ini lebih tua dari mu, Sehun. Jika kau melakukannya lagi aku akan mengadu ke ibumu dan mengganti semua seragammu menjadi rok". Teriak Chanyeol. Yap, Chanyeol selalu mengancam Sehun dengan kalimat di atas. Sehun merupakan satu-satunya murid perempuan yang menggunakan celana, bukan rok seperti yang lain. Ia mengikuti smua tren anak cowok. Mengingat Sehun tomboi dan dingin. Jadi,setiap beli seragam, ia akan mengelak jika disuruh ukur rok. Dia hanya mau celana yang sama dengan siswa laki-laki.

"Biar saja, siapa yang peduli. Meskipun kau setua nona Byun, kau tetap aku tendang dan itu rasanya pasti sakit di tonjok gorila gila". Jelas Sehun sambil memainkan rambutnya yang dikuncir seperti ekor kuda.

"Eh, Kai ,kau tidak memberiku hukumanmu?". Tanya Sehun pada Kai.

"Tidak, nanti saja saat di ruang basket, saat Chanyeol di hukum oleh iblis ber-eyeliner itu". Ucap Kai sambil berjalan keluar kelas.

At basketball room

"Hadapi dia,Park Yeolli". Bisik Sehun. Sehun menepuk 2 kali pundak Chanyeol. Chanyeol berjalan menuju Baekhyun yang sudah berdiri layaknya jendral di samping ring basket. Sehun dan Kai membututi di belakang Chanyeol.

"Sehun, Kai, kalian juga ikut. Kalian sangat berperan disini. Kalian harus membopong Chanyeol jika dia pingsan karena hukumanku. Lalu lempar dia ke tempat tidur dan kunci ruang uks nya. Oh ya jangan lupa bawakan dia buku rumus matematika di ruanganku dan lemparkan itu juga". ucap Baekhyun sambil tersenyum. Sehun dan Kai mengacungkan jempol.

"Mwo? kalian tega sekali". Ucap Chanyeol sambil menatap melas temannya.

"Sudah jangan memelas, wajah memelasmu tidak bisa meluluhkan hati kami". Ucap Kai sambil tersenyum sinis. Sehun menjulurkan lidahnya.

"Kami akan menunggumu pingsan di tribun penonton". Ucap Sehun sambil berjalan ke tribun bersama Kai.

"Apa yang kalian lakukan disana? tunggu aku disini saja". Ucap Chanyeol memelas.

"Apa yang kami lakukan? mentertawakanmu". Ucap Kai sambil tertawa lepas. Baru saja Chanyeol ingin nyolot, Baekhyun sudah meniupkan peluit di samping telinga Chanyeol.

"Cepat lepas almamatermu. Lepas sepatumu. Letakkan tasmu.". Perintah Baekhyun. Chanyeol masih diam menatap sinis ke arah Baekhyun.

PRIIT

"CEPATTT". Teriak Baekhyun. Chanyeol tersentak dan langsung melaksanakan semua perintah.

"Kau harus mengelilingi lapangan ini sebanyak 5 kali dengan jalan jongkok dan menghafal rumus luas bangun datar dan volume bangun ruang". Ucap Baekhyun ketus.

Chanyeol tersentak. Itu kan pelajaran anak SD , batin Chanyeol.

PRIIT

Chanyeol mulai berjalan jongkok.

"Luas segitiga?". Teriak Baekhyun.

"Alas kali tinggi bagi dua"

"Luas jajar genjang?"

"Alas kali tinggi bagi dua"

"Tidak pakai dibagi dua, Park Chanyeol. Hanya Alas kali tinggi saja". Baekhyun menjitak kepala Chanyeol.

"BWAHAHHAHAHA, pelajaran anak SD saja kau Tidak tahu.". Tawa Sehun dan Kai meledak.

"Sialan kau, Kai, Sehun". Umpat Chanyeol.

"Akar 169?"

Chanyeol diam

"CEPAT JAWAAAB"

"14"

"SALAH"

"13, Pabo"Teriak Sehun sambil tertawa.

Sudah 5 putaran. Baekhyun masih belum puas. Chanyeol harus melempar bola basket kearah ring sebanyak kelipatan 5. Baekhyun memang guru yang kejam.


"Aku pulang,". Ucap Chanyeol lirih. Tidak ada sautan. Mungkin ibu, ayah dan noonanya sedang pergi. Ia berpikir bisa istirahat setelah dihukum oleh setan gila tak tahu diri barusan.

BLAAM..

Chanyeol mengahantam pintu dengan keras. Semua anggota keluarga sedang berkumpul di kamar Chanyeol.

"Sedang apa kalian disini?". Tanya Chanyeol risih.

"Kami menunggu hasil ulanganmu, dongasengku yang manis". Goda noona Chanyeol.

"Kalian tahu jika sekarang pengumuman nilai?"

"Tentu saja". Ucap Ibu Chanyeol sambil menjentikkan jarinya.

"Sehun dan Kai bilang nilaimu jelek". Ucap Ayah Chanyeol penuh tanda tanya.

"Eh?". Chanyeol tersentak.

"Awas kan menghabisi kalian"

"Eung..bisa jadi". Jawab Chanyeol sambil menggaruk tengkuknya.

"Lihat!". Teriak Noona Chanyeol suram. Noona Chanyeol mengangkat tinggi kertas ujian Chanyeol yang lusuh.

"Nilai 6?". Tanya Ibu dan Ayah Canyeol serempak. Chanyeol mengangguk.

"Pantas saja, kita sudah mengundang 3 guru dari yang berpengalaman, amatir, ramah, pemarah, dingin tapi tidak ada hasilnya. Percuma saja kan". Ucap Ibu Chanyeol.

"Yup, benar. Semua guru yang ibu undang itu semua minta dipecat, minta keluar. Karena mereka frustasi denganmu, Park Chanyeol. Mengapa kau tidak bisa matematika? Noonamu ini malu jika mendengar dongsaengnya mendapat nilai jelek setiap ujian matematika. Mengapa kau tidak bisa matematika? Berusahalah seperti noonamu. Jika kau terus saja tidak mau berusaha, kau mau jadi apa?". Noona Chanyeol marah. Tangisnya meledak seketika. Ibu dan Ayah Chanyeol kasihan dengan Chanyeol. Ia juga tidak mau mendesak Chanyeol dengan gencetan les dimana-mana.

Noona Chanyeol menyeret Chanyeol kekamarnya.

"Apa kau tidak mau seperti aku? Mendapat nilai bagus. Apa kau tidak mau diberi apa yang kau mau? Belajarlah, dongsaengku. Aku sudah berdoa pada Tuhan. Agar kau mau belajar. Tapi sepertinya nihil. Kau tetap saja tidak bisa". Tangis Noona Chanyeol. Chanyeol juga ikut menangis. Ia tahu jika noonanya kena ejekan karena Dia tidak bisa matematika. Noona Chaneyol dan Chanyeol memang satu yayasan sekolah. Ia di Universitas Namsan yang 1 atap dengan SMA Namsan dan SMP Namsan. Ya, Chanyeol adalah murid SMA Namsan. Noonanya dan Baekhyun berteman baik, Baekhyun adalah senior noona Chanyeol. Jadi otomatis dia tahu bagaimana perkembangan adiknya. Karena dia sudah akrab dengan Baekhyun dan selalu menanyakan perkembangan adiknya.

"Noona tidak mengerti. Noona tidak bisa merasakan menjadi aku yang tidak bisa apa-apa. NOONA TIDAK MENGERTI. Aku merasakan semua. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku tidak bisa mengerjakan ujian. Jika noona jadi aku, apa yang akan noona lakukan? noona tidak bisa apa-apa pasti saat itu. Merasa terpojokkan. Terhina. Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku selalu dihukum. Aku sudah berusaha untuk belajar tapi aku tidak bisa. Tolong mengertilah". Tangis Chanyeol semakin menjadi. Ia tidak mau diperlakukan seperti orang lemah oleh kakanya sendiri.

Noona Chanyeol terdiam sebentar. Lalu memeluk dongsaengnya.

"Mianhae, aku tahu kau terdesak. Maafkan aku, aku tidak mengerti apa yang kau rasakan. tapi aku sadar, aku tahu kau mampu. Aku akan mendoakanmu.". Ucap Noonanya lirih. Chanyeol hanya tersenyum kecil.

At dining room

Makan malam terasa hening di keluarga Park. Semuanya terdiam. Chanyeol merasa bersalah. Ia pernah berjanji akan membanggakan keluarganya tapi ternyataa ia tidak bisa.


At Byun seosangnim's room

"Pak, mohon untuk memotivasi Chanyeol. Dia sedikit tertinggal saat pelajaran. Nialinya juga sering anjlok. Saya tidak tega menghukumnya tapi apa boleh buat, itu agar dia termotivasi.". Ucap Baekhyun memulai percakapan.

"Ne, Terima kasih sudah mendidik anak saya. Saya tahu, Chanyeol memang agak kurang jika di matematika"

"Sudah berupaya untuk me-leskan Chanyeol?"

"Sudah, tapi semua guru tidak bsia mengubah anak saya menjadi pintar matematika"

"Mungkin asupan gizinya juga diperlukan, asupam gizinya harus diperahankan". Usul Baekhyun. Ayah Chanyeol hanya mengangguk

"Kamsahamnida, Byun Seosangnim. Saya senang Anak saya diajar oleh anda. Apakah anda membuka tempat les"

"n-ne. Saya membuka private matematika. Waeyo?"

"Bolehkah saya menempatkan anak saya di tempat les anda?"

"Eh?"

"Ayolah, demi anak saya. Saya tidak mau dia terus terpuruk seperti ini"

"Baiklah, waktunya kapan?"

"Anda mengajar matematika di kelas anak saya setiap hari apa?"

"Senin, Rabu, Jumat,"

"Baiklah, nanti hari selasa, kamis, sabtu dan minggu, datanglah ke rumah saya"

"Ne, arasseo"

"Ini alamatnya"

"Ne, kamsamnida"


Tuesday

18:56

Chanyeol baru saja pulang dari rutinitas sekolahnya yang melelahkan.

"Ibu, ayah, aku pulang"

Tidak ada sautan. Chanyeol berjingkrak riang. Dia bisa bermain PSP semaunya. Ia berlari ke kamarnya.

Dan

BLAMM...

"Yak, Byun seosangnim, sedang apa kau dikamarku?" Chanyeol Tersentak.

"Cepat keluarkan buku, alat tulis dan PRku yang baru saja aku berikan. CEPAAT". Baekhyun menggebrak meja.

Dan datanglah Ayah, ibu dan noona Chanyeol.

"Selamat belajar ,Anakku semoga nialimu membaik". Ucap Ibu Chanyeol sambil melambaikan tangan.

"Semoga nialimu bagus". Ucap ayah Chanyeol sambil melambai juga. Ibu dan Ayah Chanyeol keluar kamar.

"Rasakan itu, Dongsaengku yang bodoh". Ucap noona Chanyeol sambil keluar kamar. Sebelum menutup pintu, Noona Chanyeol menjulurkan lidahnya dan mengedipkan satu matanya tanda mengejek.

"Yak sialan". Umpat Chanyeol.

"Yak, anak ini. CEPAT KERJAKAN". Teriak Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan tidak suka. Baekhyun melotot kearah Chanyeol.

"Habislah aku, setiap hari harus bertemu dengan iblis kalap ini."


T to the B to the C

DELETE ATAU LANJUT?