Waktu berlalu cukup singkat dan kini Sehun sudah berumur 17 tahun.
Cukup senang dengan hasil kuliah semester ke duanya. Ia mendapat nilai tertinggi dalam setiap mata kuliahnya.
"Umma, aku mendapat beasiswa, kuliah gratis di Jerman" Sehun memberikan surat pemberitahuan pada Kai.
"Astaga.. Hunnie~ kau adalah karunia terindah yang pernah kumiliki" Kai segera memeluk anaknya erat. Tak pernah Kai kira di umur 17 tahunnya Sehun, ia menjadi lebih pendek dari anaknya itu.
Kai yang memiliki tinggi 183 cm itu harus lebih pendek karena anaknya kini tingginya 187cm.
"Hehe, aku senang jika umma bahagia" Sehun tersenyum senang.
"Kajja, kita sarapan, appa sudah menunggu" Kai segera menarik tangan anaknya itu.
Sehun merasakannya.. tangan Kai amat halus, pas sekali jika digenggam dengan tangannya.
Di ruang makan..
"Kris, lihat, Sehun kali ini mendapat beasiswa kuliah gratis di Jerman" Kai berkata dengan riang. Memperlihatkan sebuah lampiran khusus dari universitas finance itu.
"Hm" Kris hanya berujar datar. Masih sibuk dengan berkasnya.
Kai hanya mengangguk mengerti jika dirinya mengganggu Kris.
Kai menyimpan surat itu di meja nakas samping lalu mengambil masakan yang sudah ia buat untuk dihidangkan.
Seperti biasa Kai mengambilkan porsi untuk suami dan anak laki-lakinya itu.
"Kai, aku akan mengadakan perjalanan bisnis cukup lama, dan menetap di Cina tiga bulan setelahnya untuk mengurus cabang perusahaan, maaf harus meninggalkanmu dirumah bersama Sehun" Kris angkat bicara setelah memasukkan naskah berkasnya.
"Ne" Kai hanya mampu mengangguk ringan. Senyuman segera pudar dari wajahnya.
"Umma, senyum dong?" Sehun menarik pipi Kai.
Dan Kai hanya mampu memberikan senyuman palsunya. -lagi-
-SKIP-
08.23 pm..
"Umma, hari ini appa pulang?" Sehun sedang tiduran di kasurnya ditemani Kai yang duduk menyandar di kasur Sehun.
"Ne, apa kau amat merindukan appa?" Kai bertanya antusias.
"Ani, aku tidak suka appa" Sehun berujar lancar. Membuat Kai sedikit berdesir sakit. Ia ingin Sehun menjadi anak baik dan bahagia. Ia ingin Sehun menjadi anak yang menyukai kedua orang tuanya.
"K-Kenapa? Anak umma tidak boleh begitu.. harusnya Hunnie merindukan appa" Kai merebahkan tubuhnya untuk tiduran sejajar dengan Sehun.
"Umma, kesini sedikit, biar satu bantal denganku" Sehun mengesampingkan tubuhnya dan menepuk sebagian bantal yang ia sisakan untuk Kai.
Kai menurut lalu mendekatkan dirinya pada Sehun.
"Kenapa hm?" Kai bertanya lagi sambil memandang mata Sehun. Tajam.. sama seperti mata appanya.
"Appa tersenyum pada paman Zitao, tapi tidak pernah sama sekali pada umma" Sehun menatap Kai juga.
"O-oh.. hm, appa tersenyum pada umma juga kok.." Kai menjawab lirih. Ia berbohong.
GREP!
Sehun membalik paksa tubuh Kai sehingga mereka berhadapan.
"Umma jangan bohong! Aku tahu jika umma berbohong" Sehun menatap tajam pada Kai.
"Mian.. hiks-hiks" Kai memejamkan matanya takut anaknya mengetahui jika air mata sudah menggenangi sudut matanya, namun isakannya tak bisa diredam.
"Umma.." Sehun langsung memeluk tubuh Kai yang terisak.
"Maafkan umma.. hiks.. appa dan umma tak bisa menjadi orang tua yang baik dimatamu.. hiks.." Kai sesenggukan dalam rengkuhan Sehun.
"Sehun bahagia kok jika ada umma disamping Sehun" Sehun mengecup pipi Kai lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping ummanya yang terasa pas dalam pelukannya.
"Mianhae.." Kai meminta maaf berulang kali.
"Uljima.." Sehun mengusap rambut halus Kai berulang kali hingga terdengar dengkuran halus dari ummanya.
"Jaljayo umma, mimpikan aku ne" Sehun mengecup sudut bibir Kai lalu ikut memejamkan matanya dan perlahan tertidur juga.
-SKIP-
"Oh, Kai, apa kau menunggu suamimu lagi?" suara seseorang terdengar dari belakang.
Kai segera menolehkan kepalanya dan terlihatlah seorang namja berpakaian rapi dengan setelan jas hitam, kacamata hitam serta rambut hitam cepaknya. Wajahnya tampan meski dengan pakaian cukup tebal sebagai penyamaran.
"Chanyeol sunbae!" Kai segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju namja jakung itu.
"Peluk aku, honey" Chanyeol merentangkan tangannya.
HUG!
"Aku merindukanmu, kau habis dari mana hyung?" Kai melepas pelukannya segera.
"Aku lebih merindukanmu Kai. Aku barusaja pulang syuting di LA. Kenapa kau tiba-tiba berhenti dari dunia modeling? Padahal kau sedang bersinar, namun tahun lalu kau tiba-tiba bilang berhenti" Chanyeol melepas kacamatanya dan terlihatlah wajah yang rupawan itu.
"Kau tahu sendiri kan, waktu itu Sehun sudah masuk SHS, aku harus merawatnya dan mendidiknya lebih, dia kesayanganku, hyung. Dan sekarang ia mampu kuliah di usianya yang ke 17, aku merasa makin dibutuhkan olehnya" Kai tersenyum manis.
"Tapi bukan berarti kau harus berhenti total, kau masih bisa mengurangi jadwalmu" Chanyeol mengajak Kai untuk duduk kembali di ruang tunggu khusus bandara. Disini tidak ada paparazzi yang dapat masuk sehingga orang terkenal seperti Kai dan Chanyeol memiliki ruang disini.
"Aku akan melakukan apapun demi Sehun" Kai duduk disamping Chanyeol.
"Kau bahkan berhenti tanpa persetujuanku, kau tiba-tiba menghilang, padahal aku senang sekali saat managerku mengatakan dramaku kali itu akan berpasangan denganmu.. tapi karena kau berhenti di dunia entertain, Baekhyun yang menggantikanmu" Chanyeol bicara panjang dengan raut sendu yang lucu.
"Ahaha.. jangan berwajah begitu Chanyeol hyung, sangat tidak cocok" Kai tertawa riang. Chanyeol akhirnya tersenyum melihat tawa alami seorang Jongin yang sudah 5 tahun hilang.
"Ayo kembalilah Kai. Aku tidak bisa mendapatkan feel yang baik sejak penggarapan drama itu" Chanyeol merajuk.
"Tapi drama itu mendapat peringkat teratas, hyung sangat cocok dengan Baekhyun hyung" Kai tersenyum manis.
"Aku hanya cocok denganmu, Jonginnie~" Chanyeol mencubit gemas pipi Kai.
"Appo hyung," Kai melepas tangan Chanyeol dari pipinya.
"Hehe, kau manis sekali" Chanyeol memuji dan Kai hanya bisa menunduk malu menutupi wajah bersemunya.
"Hyung jangan berlatih acting denganku, jelas aku tak bisa menandingi acting mu yang sungguh natural itu" Kai berkata lirih.
"Aku jujur tahu" Chanyeol sedikit sewot. Beginilah nasibnya jadi seorang actor. Semua tingkah lakunya dianggap acting. Semua orang menganggap dirinya munafik.
"Oh. Mian" Kai menunduk maaf tapi setelahnya mereka bercanda ria lagi.
"Chanyeol, cepat. Ada pemotretan setengah jam lagi" manager Chanyeol datang tergesa-gesa.
"Oh, Jongin. Kau masih menunggu suamimu yang tak peka itu lagi?" manager menggeleng tak habis pikir.
"Maksudmu?" Chanyeol bertanya tak paham apa yang ditanyakan managernya.
"Setiap kau pulang dari LA aku menunggumu di sini setengah jam sebelum pesawat landing" manager berkata dan hanya diangguki oleh Chanyeol yang meminta penjelasan lebih.
"Kau tak tahu? Setiap aku menunggumu pulang dari syuting di LA aku selalu bertemu Jongin disini menunggu suaminya" manager duduk disamping Chanyeol.
"Jadi maksudmu.." Chanyeol sedikit berpikir.
"Jongin menunggu suaminya dari pagi tadi hingga tengah malam nanti, ah- mungkin sampai esok harinya" manager melihat jam ditangannya yang kini sudah pukul 10 malam.
"MWO?!" Chanyeol tak percaya.
"Jangan berteriak heboh begitu hyung" Kai tidak enak dilihati oleh penunggu lain. Bahkan sedikit menjadi pembicaraan karena melihat Chanyeol yang actor unggulan dan dirinya yang tiba-tiba menghilang.
"Sudah sana pergi" Kai bercanda mengusir Chanyeol dan manager sendiri juga menyeret Chanyeol karena tempat pemotretan agak jauh dan memakan waktu lama di perjalanan.
"Kai.." Chanyeol menghentakkan tangan manager yang menyeretnya. Wajahnya menjadi serius dan bertambah tampan. Kai heran, ekspresi tampan itu tak pernah Chanyeol munculkan dalam actingnya. Padahal, jika Chanyeol menggunakan raut itu, sudah dipastikan Chanyeol adalah actor unggulan dunia.
"Ku katakana untuk kesekian kalinya.. lupakan Kris, hiduplah bersamaku. Kita akan bahagia, dan aku akan menjadi ayah idaman Sehun" Chanyeol mendekat lalu mencium kening Kai cukup lama. Namun setelahnya Kai hanya diam.
"Kami pergi dulu, bye Kai" Manager menyeret Chanyeol yang masih menatap Kai iba karena kini pandangan Kai menjadi kosong.
Sekarang sudah pukul 02.34 am
Sehun bergerak gelisah. Ia tahu ummanya masih di bandara. Selalu begitu. Appanya akan pulang kerumah bersama paman Zitao dan Sehun selalu menelpon ummanya untuk segera pulang dan mengabarkan bahwa appanya tiba-tiba sudah ada dirumah.
"Kali ini apa alasan yang kau gunakan untuk membohongiku, Jonginnie?" Sehun menatap layar handphonenya, wallpapernya merupakan foto terbaru yang diam-diam ia ambil. Malam dimana Kai dan dirinya tidur bersama dan mencuri ciuman di sudut bibir Kai ketika Kai sudah terlelap.
Sehun tidak bodoh. Ia bahkan mampu menjadi anak SHS di usianya yang masih 13 tahun. Kini di usianya yang ke 17 tahun, Ia cukup cerdas untuk menyimpulkan segala alasan yang ibunya berikan ketika ayahnya pulang sendiri di hari berikutnya padahal hari sebelumnya ibunya bergegas pergi ke bandara untuk menjemput ayahnya.
Kai selalu memberi alasan 'belanja, tertidur di ruang tunggu, tersesat, diajak teman ke rumah, mengunjungi kakek-nenek' dan alasan lain yang berulang kali sama.
"Aku tak bisa diam. Malam ini terlalu dingin untuknya menunggu di ruangan itu lagi" Sehun beranjak dari tidurnya dan mengambil jaketnya.
Ia menaiki taksi yang membawanya ke bandara. Setelah membayar ia segera berlari masuk kedalam ruang tunggu.
Tap tap tap..
"Mau sampai kapan disini" Sehun berbisik di telinga Kai setelah mendudukkan tubuhnya di samping Kai.
"heumh?" Kai membuka perlahan matanya dan merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Eh! Sehun!? kenapa disini?" Kai terkejut melihat anaknya yang kini lebih tinggi darinya itu, tiba-tiba duduk disampingnya dan menatapnya lekat.
"Umma jangan membohongiku lagi, aku tahu dari dulu" Sehun mempersempit jarak mereka dan merengkuh tubuh Kai.
"Kau harusnya belajar Hun, tidak perlu menyusul umma" Kai mengelus surai pirang Sehun.
"Bagaimana aku bisa belajar jika tahu appa sudah pulang kemarin pagi dan menginap di rumah paman Zitao hingga malam ini tidak pulang juga. Sedangkan umma menunggu lama disini sedari pagi?" Sehun memberikan pertanyaan retorisnya dengan amarah yang meluap. Sungguh ia merasa amat marah pada appanya.
"Umma juga tahu kan kalau jam 9 pagi tadi adalah jadwal kedatangan pesawat cina terakhir minggu ini" Sehun membimbing kepala Kai untuk bersandar di pundak tegapnya.
"Maafkan umma.." Kai berujar lirih lalu menangis di pundak Sehun.
"Uljima.." Sehun mengeratkan pelukannya sambil mengecupi leher Kai secara lembut.
Beberapa menit kemudian Kai tertidur juga dalam pelukan Sehun.
Sehun segera menggendong bidal Kai menuju parkiran.
Dibukanya pintu mobil lalu menaruh Kai di kursi samping kemudi yang dudah ia rebahkan sandarannya sehingga Kai bisa tertidur nyaman. Lalu memasangkan sabuk pengamannya.
Sehun duduk di kursi kemudi dan mengendarai mobil Ferrari merah Kai kembali ke rumah.
-SKIP-
03.34 am
Sehun masih terjaga. Ia memandang wajah Kai yang terlihat lelah.
Sehun tidak menidurkan Kai di kamar Kai dan Kris, tapi di kamarnya sendiri. Kini Sehun memeluk erat tubuh Kai dan mengelus rambut halus Kai. Sehun menggunakan lengannya sebagai bantal Kai. Dilihatnya wajah cantik Kai dari dekat.
"Kai, aku berfikir keras.. apa yang appa lakukan padamu? Hingga kau melahirkanku dan kini aku berumur 17 tahun sedang kau masih berumur 25 tahun?" Sehun bertanya pada Kai yang bahkan tertidur pulas.
"Kenapa Kris harus menjadi suamimu? Kenapa dia harus menjadi appa biologisku?" nada Sehun makin lirih penuh emosi.
"Kenapa dia yang menjadi pertama bagimu?" Sehun meremat seprai itu hingga hampir robek.
"Kenapa dia yang menjadi cinta sejati dihatimu?" Sehun benar-benar merobek seprai kasurnya.
"Kenapa Tuhan tak membiarkanku memilikimu..?" Sehun menutup matanya. Emosinya sudah meluap. Ia benci takdirnya menjadi anak dari namja yang dicintainya.
Perlahan kantuk menderanya dan membawanya kedalam mimpi.
-SKIP-
06.45pm..
BRAK!
Pintu utama mansion itu dibuka kasar.
"Kris, biar aku bukakan dasimu" suara namja terdengar menggoda itu kini sedang bergelayut manja di leher Kris.
"Lakukan saja, chagi" Kris menunggu namja didepannya itu untuk membuka dasinya.
Dasi Kris telah terlepas dan dibuangnya asal. Jemarinya malah lanjut untuk membuka semua kancing kemeja Kris lalu melepasnya hingga half naked.
Jemari itu menyentuh dan memeluk pinggang Kris.
"Di kamar saja Zitao.." Kris berbisik seduktif di telinga Tao.
"Kau tidak sabaran" Tao mengecup kilas bibir Kris.
"Jangan menggodaku, manis" Kris segera meraih tengkuk Tao dan melumat bibir Tao ganas.
"Eungh~" lenguhan terdengar dari Tao.
Ciuman keduanya makin intim dengan lidah Kris yang bermain dalam rongga mulut Tao.
CKLEK..
"Kris! kau sudah pul-" Kai menghentikan teriakan senangnya. Tadinya ia ingin bersorak bahagia karena saat pulang belanja ia melihat mobil Kris terparkir rapih di garasi.
Tapi pemandangan yang ia lihat lebih perih dari kenyataannya.
"Cih! Pengganggu!" Kris menatap tajam Kai lalu menyeret Tao untuk masuk kedalam kamar.
Tentu itu kamar Kris dan Kai.
Meninggalkan Kai yang terisak di pintu masuk mansion mewah itu.
))TBC((
Disini.. em.. semua udah mulai tahu kan.. sulitnya jadi uri Jonginnie..
Disini Sehun.. ya dari chap awal sih, Sehun memulai debaran cinta, (bahasa apa nih.. -_-)
Tapi yang ngenes itu waktu Kris NC an di depan Kai! Oh no!
Review ya
