Hy, our HunKai FF update! Yey!


And thanks for review:

Vioolyt: Akhirnya Kai bebas dari rumah, yey.. mkasih udah menanti

Keepbeef Chiken Cubu: Terong busuk, hhe

Taohun: Bikin Kris nyesel? Oke!

Mizukami Sakura-chan: ini udah lanjut

Afranabilah19: NCan gak ya? Hhe

Putrifibrianti96: Jongin kalo jadi tante girang gimana ya? Hhe

Banzaianime80: Thanks too

SooBabyBee: ChanKai nya ditambahin? Nanti FF nya malah gak jadi END dunk

Little Dark Wolf 99: Incest! Kasian kalo dbuang ke hutan, hhe

Ichigo song: Ya, kita akan memperebutkan Kai

Sayangsemuamembersuju: hhe

Jongin48: ini udah lanjut

FriederichOfficial: em, maksudmu hubungan HunKai kan? Kalo bisa disini pairnya HunKai, bukan KaiHun..

Askasufa: Chanyeol cocok jadi appanya Sehun? oke! Hhe Thanks for support

Kim In Soo: Kita akan mempersatukan Hunkai

Urikaihun: ayo bakar rame-rame, hhehe

Xxchancimit: Jongin sama Chanyeol aja? Oke!

Glamcy: ini dia yang ditunggu.. ch5! Yey

Adilia. taruni. 7: Kai sama Chanyeol aja? Oke! Buat Kris menyesal juga? Sip! Hhe

Adehl: ini udah lanjut :D

Kamong Jjong: Sayangnya Kai udah terlanjur cinta mati sama Kris T_T


.

/

Sesuai pengamatanku melalui review, aku akan menghilangkan

Bagian absurd terong-terongan (hhe)

.

.

And this is..

.

.


My Love Never Wrong For You


"Sehun kenapa kita ada didepan hotel?" Kai mengrenyitkan alisnya bingung. Sehun mengendarai mobilnya ke sebuah hotel mewah.

"Aku ingin umma rileks dan melupakan kehidupan rumah, kita bebaskan pikiran kita disini, nanti malam kita ke indoor town game" Sehun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus lalu menarik Kai menuju resepsionis.

Setelah mendapatkan kunci, Sehun segera menarik Kai menuju kamar sesuai kunci tersebut. Kamar 198.

Sreet..

Pintu lift terbuka ketika sudah sampai di lantai 6. Sehun segera menggenggam tangan Kai dan menariknya menuju kamar nomor 198.

"Sehun, kau belum menjawab pertanyaan umma. Kenapa kita ke hotel?" Kai melepas paksa genggaman anaknya begitu mereka sudah masuk kamar dan pintu terkunci secara otomatis.

"Duduklah dulu, aku ambilkan air minum" Sehun malah berlalu.


Kai mau tidak mau harus menunggu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

Sejauh pengamatan Kai, ini bukan hotel yang menyediakan kamar. Ini seperti apatermen sewaan yang mewah. Ruangan ini terlalu kecil untuk disebut kamar. Terdapat dapur dan meja makan. Di pojok ruangan itu terdapat pintu yang Kai yakin berisi kasur satu-satunya di ruangan ini. Jelas sekali ini apatermen.

Dengan design dan perabotan berkelas, Kai rasa apatermen ini terlalu mahal, mungkin 5 juta untuk satu malam. Sungguh, Sehun terlalu berlebihan. Kai jadi ingin segera menarik anak nakalnya itu pulang dan membatalkan menginap di tempat mahal ini.

"Umma, minumlah" Sehun memberikan segelas teh melati yang dingin.

"Sehun, ayo pulang. Jangan jadi anak nakal yang suka menghabiskan uang untuk sekedar bermalam disini" Kai berdiri dan menarik lengan kanan jas almamater universitas yang masih Sehun kenakan. Benar-benar seperti yeojachingu yang sedang menarik paksa namjachingunya yang ketahuan selingkuh.

"Tidak apa-apa umma, tenanglah. Rilekslah disini" Sehun masih berdiri tak bergeser sedikitpun. Kenyataannya, Kai tak kuat menarik anaknya sendiri untuk bergeser semilipun.

"Kalau kau tak mau pulang, biar umma yang pulang sendiri" Kai menatap sengit Sehun lalu berjalan menuju pintu.

Sehun hanya tersenyum menatap tingkah imut ummanya itu. Sungguh cute sekali. Bukankah Kai masih pantas bertingkah seperti itu di usianya yang kini masih 25 tahun?

Padahal Kai bisa dibilang baru lulus kuliah S2 jika masih single dan tidak memiliki nasib seperti ini. Dan banyak teman seangkatan Sehun (S1) yang berpacaran maupun menikah dengan sunbaenya di S2 yang cute, meski Kai lebih cute sih tentunya..

"Sehun, apa password pintunya? Cepat beritahu umma!" Kai berteriak setelah sampai di pintu apatermen.

Benar kan? Ummanya itu sangat menggemaskan. Sudah tahu kalau ini apatermen mewah, pasti pintunya menggunakan password angka. Kenapa tidak tanya dari tadi saja, malah gegabah berjalan ke pintu.


"passwordnya 9848!" Sehun berteriak malas lalu mendudukkan tubuhnya di sofa itu. Meletakkan gelas yang masih penuh itu di meja nakas depannya.

Beberapa menit berlalu dan bibir Sehun masih menyunggingkan senyuman tipis.

Telinganya masih mendengar suara pintu otomatis itu berbunyi 'wrong password'. Tak lama setelahnya suara langkah yang dihentak-hentakkan datang menghampirinya.

"Wu Sehun" suara lirih namun terdengar mengancam itu mengalun ditelinga Sehun.

"Ne? ada apa umma ku yang cantik?" Sehun makin melebarkan senyumannya. Tak kuat menahan tawanya ketika mengerjai ummanya yang cantik itu.

Yang Sehun tahu, sejak ia lahir, Kai selalu percaya padanya tanpa berpikir sekalipun.

"Anak evil! Beri tahu umma password yang sebenarnya!" Kai memarahi anak kesayangannya itu.

"Aw! Umma appo~ aish-aish iya! Passwordnya 9488!" Sehun akhirnya mengalah ketika Kai menjewernya.

"Yasudah" Kai pergi lagi berjalan dengan santai menuju pintu apatermen. Benar kan? Ummanya itu seperti tidak pernah berpikir dan asal 'iya' atau 'percaya' dengan semua perkataannya.

Tak lama setelahnya terdengar suara kaki lagi yang kini seperti berlari kencang menghampirinya.

Sehun tersenyum lagi lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu dengan santai.


"Sehun! Kenapa passwordnya itu? Kenapa angka kesayanganmu ada didepan sedang angka kesayangan umma ada dibelakang? Umma tidak setuju!" Kai melipat kedua tangannya didepan dadanya dan memasang wajah angkuh.

"Karena aku yang sewa" Sehun menjawab dengan mata yang masih terpejam.

"Tapi aku ummamu!" Kai menjongkokkan tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah anaknya itu dengan tajam.

"Kau uke" Sehun membuka matanya dan Sehun tahu, jarak wajah mereka bahkan kurang dari satu kilan.

"Memangnya kenapa? Kalau aku uke lalu kau apa hm?" Kai mengerutkan alisnya kesal. Sehun menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya membuat wajah mereka makin dekat.

"Kalau kau ukenya, maka aku semenya" Sehun mengecup ujung bibir Kai. Membuat Kai tertegun sejenak. Membeku untuk 5 detik dan tersadar ketika bibir Sehun bergerak hendak melumat bibir penuh menggoda itu.

PLAK!

Kai tidak menampar pipi Sehun. Kai adalah umma idaman setiap anak, jadi Kai hanya memukul pelan kaki kiri Sehun.

"auch.. tidak takiiit~" Sehun berlagak seperti anak kecil dengan cedal 's'-nya. Jelas sekali sebenarnya ia tidak kesakitan sama sekali.

"Anak nakal! Kemari biar umma jewer kupingnya lagi!" Kai amat gemas dengan anak tampannya itu.

Sehun segera beranjak dan berlari kecil-kecil karena dikejar Kai. Sehun tertawa kecil bahagia. Ia suka sekali mengerjai Kai, karena Kai sangat cute saat marah.

"Wu Sehun kemari!" Kai hampirsaja bisa meraih blazer Sehun namun anak tampannya itu langsung berbelok masuk kedalam kamar satu-satunya di hotel mewah itu.

"Kejar aku jika umma bisa-" perkataan Sehun tergenti.


DUK!

Sehun yang terlalu sibuk melihat Kai dibelakangnya tidak memperhatikan jika ia berlari menyandung kaki ranjang king size di kamar itu. Tapi untungsaja Sehun bisa menjaga keseimbangannya.

"Kya! Sehun" Kai yang berada tepat dibelakang Sehun juga tidak bisa menghentikan laju larinya.

"Umma!" Sehun segera berbalik dan mendekap Kai dalam rengkuhannya namun gaya gravitasi seolah menginginkan lain sehingga..

Brugh..

Sehun jatuh diatas kasur dengan Kai yang ada diatasnya meringkuk dalam dekapan eratnya.

"Gwenchana?" Sehun dengan panic meraba seluruh tubuh Kai mengecek apakah ada luka ditubuh Kai.

Entah, padahal disini orang tuanya adalah Kai, harusnya sebagai ibu Kai sigap menanyai keadaan anaknya yang jatuh, terlebih tertimpa dirinya. Tapi, Sehun selalu mendahuluinya.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik sa-euuungghh~~" perkataan Kai terhenti dan digantikan dengan desahan ketika kedua tangan Sehun meremat sensual buttnya yang lebih indah dari butt yeoja.

"Apa honey?" Sehun berbisik rendah ditelinga Kai.

"Su-sudah.. emngh~ lepasshh~" kedua tangan Kai meremat erat kemeja putih yang Sehun kenakan. Buttnya naik dan pinggangnya melenting indah. Membuat mata Sehun bahkan enggan berkedip sedetikpun.

"Memohonlah dengan wajah menggodamu chagiya" Sehun meremat butt Kai makin keras membuat desahan Kai makin keras.

"Eungh~ Stop~ ah! ahh~" Kai menggeliat diatas tubuh Sehun. Matanya menjadi sayu menggoda dan bibir penuh Kai mengalunkan desahan itu dengan sempurna membuat jantung Sehun berdetak lebih cepat.

"Cium pipiku" Sehun makin merendahkan suaranya dan menggigit telinga Kai sekilas.


Chuu~

"Emh, Sehuun~ hmph.. angh~" setelah mencium pipi Sehun, Kai malah meremat rambut blonde Sehun dan mencium dagu tegas Sehun dengan sensual. Jemari lentik Kai kemudian turun mengikuti lekuk wajah Sehun.

"Sssh.. kau membuatku tak sabar menghajar holemu lagi, ermh" Sehun makin konsisten meremas butt Kai.

"Sudah~ aah.. ungh!" Kai menjerit nikmat ketika jari telunjuk tangan kanan Sehun memijat holenya.

"Sebut namaku lagi, baby" Sehun mencium ujung bibir Kai lagi.

"Aaangh.. Se-Sehunnie~" Kai memanggil nama Sehun ditengah desahannya dan seketika gerakan Sehun terhenti. Suara Kai tadi benar-benar indah. Andai Kai menjadi miliknya…

Mata Kai menerawang jauh kesudut hatinya yang terluka.. perih..

Sehun teringat akan apa yang Kai katakan saat itu..


Flashback..

"Sehun, jadilah lelaki yang setia" Kai tersenyum melihat Sehun yang berusia 15 tahun sedang menaiki sepeda dengan Kai yang duduk di boncengannya.

"Tentu, aku akan setia" Sehun ikut terseyum 'padamu-Kim Jong In..' lanjut Sehun dalam hati.

"Kau tahu, appamu sangat tampan" Kai memeluk pinggang Sehun makin erat. Mendengar itu emosi Sehun kembali naik.

"Apa yang baik darinya?" Sehun bertanya dengan nada dinginnya.

"Aku tak memandang apapun darinya Hun, aku.. Mencintainya.." Kai berkata dengan segenap perasaan penuhnya.

Sehun hanya mampu memejamkan matanya perih merasakan hatinya. Desiran angin sore dimana mereka kini duduk di pinggir taman kota, tak bisa membawa sakit hati Sehun menguap.

"Tapi.." Sehun berusaha menutupi suaranya yang bergetar parau.

"Sehunna, Aku rasa.. aku cinta mati pada appamu.. Aku cinta mati pada Kris" senyum merekah terpatri indah pada wajah manis Kai yang menatap matahari terbenam. Indah.. dan Sehun tak dapat memiliki itu.

FlashbackOff..


Hosh.. Hosh..

Pundak Kai naik turun mencoba mengembalikan ritme nafasnya yang tadi susah payah karena desahannya. Kai sedikit terkejut ia melakukan hal ini bersama Sehun.

"Se-Sehun?" Kai jadi panic begitu melihat Sehun menatap kosong udara.

"Sehun, kamu kenapa?" Kai mengusak pelan rambut silver Sehun dengan sayang. Ditepuknya pelan pipi anaknya yang tampan itu.

"Ish ini anak blank atau ada 'mau'-nya sih" Kai mencubit pipi kiri Sehun dengan gemas lalu tersenyum manis sekali melihat anaknya yang masih diam kaku begitu.

"Sini-sini anakku yang paling manis" Kai mendekatkan wajahnya pada wajah kaku Sehun dan..

CHU~~

Kai mencium ujung bibir Sehun cukup lama hingga..

'Umma, hatiku sakit! Berikan aku cinta yang lebih.. disini sakit sekali.. berikan cintamu lebih.. bukan sebagai umma, sebagai Kim Jong In untuk Wu Sehun! Bukan untuk Wu Kris..'

Hati Sehun menjerit merasakan bibir lembut nan manis itu menyentuh bibir tipisnya.


GREP!

"Umma!" Sehun kembali menjadi polos seperti anak umur 5 tahun.

"Ahaha, umma sayang Sehun" Kai mengelus sayang rambut Sehun perlahan.

Yah, Kai tak pernah ambil pusing tentang semua perilaku Sehun. Bagi Kai, Sehun tetaplah anaknya yang polos dan mungkin tadi hanyalah kecelakaan. Kai sadar, Sehun sudah berumur 17 tahun sekarang. Mungkin ini pertama kalinya Sehun merasakan yang namanya ketertarikan pada orang lain.

"Sehun" Kai memanggil nama anaknya yang kini masih setia dibawahnya dan memeluknya erat. Mau tak mau Kai harus merebahkan kepalanya di dada bidang Sehun.

"Ne?" Sehun malah mengusakkan kepalanya pada rambut halus wangi Kai.

"Kenapa kau menggunakan blazer universitas? Hari ini ada acara apa?" Kai memainkan nametag Sehun yang tersemat di blazer universitas terbaik di korea itu. Kai bangga pada Sehun.

"Hari ini Sehun berangkat ke Jerman" Sehun berkata enteng.

"Mwo? Beasiswa waktu itu ya?" Kai kaget dan menumpukan kedua sikunya di dada Sehun untuk menatap lurus anaknya.

"Ne" Sehun memainkan rambut halus ummanya.

"Kenapa kau ada disini! Bagaimana dengan beasiswa itu? Umma bersalah tidak mengingat harinya" Kai berwajah sendu. Semua orang tua ingin sekali punya anak tampan dan pintar seperti Sehun, dan Kai merasa buruk karena tidak mengingat hari penting dimana anaknya akan belajar dinegeri orang dan membawa nama besar Korea Selatan.

"Gwenchana umma, Sehun bisa menyusul besok" Sehun mengusak rambut Kai.

"Jinjayo? Lalu dengan siapa kau kesana? Apa masih ada mahasiswa lain yang tidak bisa berangkat hari ini sepertimu?" Kai bertanya dengan antusias.

"Ani. Yang diberi beasiswa hanya peringkat pertama" Sehun kembali memainkan rambut Kai.

"Oh.. eh! Jadi beasiswanya hanya untukmu? Kau anak umma yang hebat sekali" Kai makin bangga dengan anaknya itu.

"Kalau begitu, Sehun minta hadiah" Sehun menyentuh bibir indah Kai perlahan, seolah itu amat rapuh.

"Hadiahnya apa, hm?" Kai menatap lembut anaknya.

"Sehun minta bibir umma" jari telunjuk Sehun mengikuti bentuk bibir kissable itu.

"Tidak boleh" Kai meraih jari telunjuk Sehun dan menciumnya sekilas. Membuat Sehun berfantasi hal lain.

"Kenapa?" Sehun terlihat polos seperti iklan biskuat(?)

"Ya tidak boleh saja" Kai memainkan jemari tangan Sehun yang lebih besar dari jemarinya.


"Kalau begitu Sehun akan mencium setiap wanita cantik yang Sehun lihat dan menidurinya" Sehun menjawab dengan wajah pokernya.

"Andwae!" Kai menggenggam erat tangan Sehun.

Brugh!

Sehun membalik posisi mereka. Kai ada dibawah Sehun.

"Kalau begitu umma yang pilih, Cium aku atau aku melakukan one night stand pada semua yeoja yang kutemui" Sehun memberikan pilihan yang sulit.

"Umma memilih.." Kai bingung dan enggan menatap Sehun.

"Tatap aku Wu Jongin" Sehun mencium dagu Kai kilas.

"aku.." Kai masih bingung.

"Baiklah, aku pergi" Sehun beranjak dari atas Kai.


Grep!

Kai menahan tangan kanan Sehun.

"Sehun!" Kai kemudian memeluk Sehun yang masih duduk dikasur empuk itu.

"Katakan" Sehun masih diam dalam posisinya. Memunggungi Kai.

"K-Kiss me!" Kai menjawab ragu pada Sehun.

"…" Sehun membalik tubuhnya hingga mereka kini berhadapan. Kedua tangan Kai masih memeluk leher Sehun.

"J-just kiss me" Kai menatap Sehun dengan ragu.

"…" Sehun masih diam.

"Sehun! Kiss me!" Kai memejamkan kedua matanya setelah ia memiliki cukup banyak keberanian untuk berteriak.

Sehun menatap Kai makin dalam, kedua tangan putihnya memeluk erat pinggang ramping Kai, membawa tubuh yang lebih kecil darinya itu untuk berlindung dalam dekapannya.

"As you wish, my mine" Sehun langsung merengkuh Kai. Menjatuhkan tubuh Kai ke kasur, memeluknya erat lalu mulai mencium bibir penuh yang selalu ia impikan itu.


=TBC=


Disini konflik HunKai mulai muncul loh..

Aku bingung mau bilang apa lagi, yeah just review okey.. thanks all!