Author : seishuuhara
Cast : Park Chanyeol,Byun Baekhyun,dsb
NB : Baru, kritikdan saran diperlukan sangat.
.
.
.
.
.
.
Chapter 9
"Siapa?". Tanya Tao lirih.
"Dia, dia dekat denganku. Dan jelas dia...dia sepupu Kris, ya muridku sendiri.". Jawab baekhyun sambil mengangkat sudut bibirnya. Tao terperanjat.
Deg
Deg
Deg
"Arrgh..". Chanyeol merintih. Ia memegangi dada kirinya. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari pintu keluar. dan dia menemukannya. Dia berlari dan turun ke lantai bawah secepat mungkin. Chanyeol berhenti di anak tangga ke-3 dari bawah. Ia duduk di anak tangga tsb, menundukkan kepalanya. ia meremas seragamnya sendiri.
"rasa ini begitu kuat dari biasanya.". Ucap Chanyeol lirih.
Tiba-tiba...
"Chanyeol, sedang apa kau disini?". Tanya seseorang yang sepertinya tidak asing.
Deg
"Eh, eh...Byun saenim. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin refreshing sebentar."
"Kamu sakit? kok berkeringat? Kamu juga tampak lemas. Ayo kembali kekelas.". Ucap Baekhyun sambil berjalan mendahului Chanyeol.
"Ya, anak-anak silahkan kembali kekelas. Pelajaran di akhiri segini aja. Kamsahamnida.". Ucap Baekhyun sambil mengangkat buku-buku yang tadi ia bawa an menjinjin tas laptop lalu keluar ruangan.
"Ayo baliiik...". Teriak Sehun kepada Chanyeol yang sedang duduk malas di bangku belakang.
"aku baru duduk Sehun..". ucap Chanyeol tanpa menoleh.
"Tapi setelah ini pelajaran tambahan.". Ucap Sehun sambil menyepakkan sepatunya di kaki meja Chanyeol.
"Aku bolos pelajaran tambahan saja.". Ucap Chaneyol sambil bangkit dari duduknya dan berjalan kearah atap sekolah.
"yaaah..balik lagi deh sifatnya.". Keluh Kai kesal.
At Rooftop
Chanyeol membuka pintu menuju atap. Ia tersentak saat mendapati Tao masih berdiri di seberang sana. Rambutnya yang panjang berkibar (?) diterpa angin. Chanyeol ingin menghampiri tetapi ia mengurungkan niatnya itu setelah tau Baekhyun menghampiri Tao.
"Kau mau apa lagi? Apa kau tidak akan pergi dari sini sampai aku memaafkanmu?". Ucap Baekhyun sambil membenarkan poninya yang berantakan karena angin dan menutupi wajahnya.
"Aku hanya ingin mengajakmu curhat saja. Seperti yang kita lakukan dulu saat kuliah. Aku ingin merasakannya lagi. dan mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya kita begini.". Jawab Tao sambil tersenyum ke arah baekhyun. Baekhyun membalas senyuman Tao. Chanyeol mengerenyitkan dahi dan tetap bersembunyi di balik tembok.
"Aku mau tanya. Seberapa istimewakah Park Chanyeol itu?". Tanya Tao memulai pembicaraan.
"Dia sangat istimewa. Dia bagaikan malaikat. Yang selalu membantuku. Dia selalu ada jika aku membutuhkan dia. Aku bangga mempunyai murid yang baik seperti dia. Meskipun dia agak keras kepala dan pemalas. Dia juga lucu. Aku suka dia.". Jelas Baekhyun sambil tersenyum kearah Tao.
Deg
Deg
Chanyeol memegangi dada kirinya. Wajahnya kini sudah merona hebat.
"Aku senang kau dapat menemukan orang spesial seperti dia.". ucap Tao sambil tersenyum balik.
"Bagaimana dengan Kris? Tanya Baekhyun agak gugup.
"Dia, seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Mungkin dia sedikit manja kepadaku. Dia selalu merengaek sepeti bayi. Oya, Dia juga selalu datang ke apartemenku pagi-pagi dan membangunkanku. Lalu mengajakku sarapan bersama dan lalu jalan-jalan ke taman.". Ucap Tao sambil menatap kumpulan awan putih di angkasa.
"Se-seperti itukah dia?". Tanya Baekhyun gugup.
"Hmm, ne...".
Baekhyun menundukkan kepalanya. Teringat masa-masa indah dirinya dan Kris.
"Aku senang kau mendapatkan Kris.". Ucap Baekhyun lirih. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Eh?". Tao terperanjat.
Baekhyun berdiri, Tao juga berdiri.
"Aku ikhlas. Ambil saja Kris. Aku sudah bisa melepaskannya sekarang. Tolong jaga Kris untukku, ne.". Ucap Baekhyun sambil menatap Tao. Tao menyeka airmatanya.
"Ne, go-gomawo Baekhyunnie, aku akan menjaganya untukmu, aku berjanji.". Ucap Tao sambil memeluk Baehyun. Baekhyun hanya tersenyum. Tao melepaskan pelukannya.
"Aku pulang dulu, ne. Mungkin Chanyeol sudah menunggu.". Ucap Baekhyun sambil memegang pundak Tao.
"Ne, aku juga mau pulang. Mungkin Kris sudah menungguku.". Ucap Tao sambil tersenyum.
Baekhyun dan Tao berjalan beriringan. Chanyeol gelagapan takut jika Baekhyun tau jika ia menguping. Chanyeol melompati anak tangga dan meluncur di pegangan tangga dan sampailah di lantai bawah depan ruang bahasa.
"Chanyeol, kau disini?". Tanya Baekhyun.
"Ah, saem. Kau darimana? Ne, aku baru saja sampai disini. Kajja,pulang.". Ucap Chanyeol sambil menunjukkan kunci mobilnya. Mereka pulang.
Chanyeol sibuk merapikan meja belajarnya. Biasa, setelah belajar. Baekhyun duduk di pinggir ranjang Chanyeol sambil menunduk. Chanyeol menghampiri Baekhyun.
"Seosangnim kenapa?". Tanya Chanyeol sambil memegang pundak Baekhyun. Baekhyun mendongak.
"Tak terasa 2 hari lagi kau akan ujian kelulusan. Dan saat wisuda nanti, aku ingin kau dipanggil ke atas panggung dengan gelar siswa berprestasi, Yeollie. Aku berharap sekali padamu.". Ucap Baekhyun sambil tersenyum manis ke arah Chanyeol.
"Ah? Eh? siswa berprestasi? Baiklah aku akan berusaha demi saenim kesayanganku. Aku akan membuktikan jika aku bisa. Aku pasti bisa.". Ucap Chanyeol sambil memeluk Baekhyun.
"Ne, fighting, Yeollie.". Ucap Baekhyun. Chanyeol terperanjat.
"Yeollie?". Bisik Chanyeol dalam hati. Chanyeol tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Saenim jangan pergi ya. Aku butuh saenim untuk menyemangatiku. Oya, untuk sehari ini, maukah kau mengabulkan satu permintaanku?". Tanya Chanyeol sambil menaikkan alisnya kebawah dan keatas.
"Apa?". Tanya Baekhyun balik.
"Aku mau kau mengijinkan aku main game untuk sehari ini saja. Jebal!"
"Eh? main game? masih sempatnya saja kau bermain game!". Teriak Baekhyun.
"Ayolah, sehari ini saja, aku berjanji sebelum aku menjadi siswa berprestasi, aku takkan menyentuh kaset gameku". Ucap Chanyeol sambil mengangkat tangannya dan meletakkan tangan satunya di dadanya,tanda berjanji.
"Janji?"
"Iya deh saem, aku janji"
"Baiklah"
Chanyeol berteriak girang. Ia mengobrak abrik kardus kaset yang berhasil ia selamatkan dari ibunya. Ia memilih-milih dan mengambil 3 kaset sekaligus.
"Aha, stick PS ku dimana ya?". Ucap Chanyeol smabil mengobrak abrik kardusnya itu. Chanyeol mendongakkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ini dia, disini kau rupanya.". Ucap Chanyeol sambil menarik kabel stick PS dari bawah ranjangnya. Baekhyun melongo.
"Kalo main aja semangat.". Cibir Baekhyun. Chanyeol duduk di ranjangnya dan menyuruh Baekhyun duduk di sampingnya.
"Saem sudah pernah main ini?". Tanya Chanyeol sambil menyodorkan kaset permainan FBI.
"pernahlah, dulu saat aku masih kuliah dan saat itu kakakku masih belum pindah, aku selalu battle dengan kakakku.". Ucap Bakhyun sambil melirik remeh kaset yang dipegang Chanyeol.
"Woah, jinjja? Baiklah ayo kita battle, kalo aku menang, saem harus belikan aku 3 mangkuk mie ramyun.". Tantang Chanyeol sambil memakai kacamatnya.
"Okey, aku terima tantanganmu. But, jika aku yang menang. Buatkan aku 3 piring kimbab, atau belikan aku 3 kotak kimbab.". Tantang baekhyun sambil mengambil stick PS didepannya.
"Okey, siapa takut. Ini mudah saja, aku pasti menang. Aku kan sudah menamatkan game ini 3 kali berturut turut.". Ucap Chanyeol sambil melirik remeh Baekhyun.
"Okey, kita mulai.". Ucap Baekhyun tajam. Chanyeol memasukkan kaset gamenya dan menyalakan tv nya.
"Eh jangan dikamar mending."Ucap Baekhyun.
"Kenapa?"
"Nggak seru aja, gimana kalo di ruang tv.". Ucap Baekhyun sambil mengangkat telunjuknya tinggi.
"Baiklah."
Merka sudah sampai di Ruang tv. Chanyeol memasukkan kastenya dan menyalakan tvnya.
"Oke,siap?". Tanya Chanyeol.
"Aku selalu siap jika game murahan ini.". Jawab Baekhyun remeh.
"Baiklah, mulai."Teriak Chanyeol girang.
Baekhyun dan Chanyeol serius bermain. Terkadang Chanyeol juga muak dengan game itu dan menghentakkan kakinya saking muaknya. Chanyeol terkejut.
"Hah? rekanku tinggal sepuluh?". Tanya Chanyeol bingung. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun. Baekhyun ikut menoleh dengan seringai yang sangat tampak menjerumuskan.
"Lihat, agen FBI ku saja masih 20, kamu yang rekannya 40 aja udah tinggal 10."Ucap Baekhyun remeh.
"Aha! mati kau, makanya jangan suka bunuh orang, yah...mati lagi ,mati lagi, ahaha..habis kau Chanyeol. Yak mati kamu. Yap, mati!". Teriak Baekhyun sambil menghentakkan kakinya. Ia menatap serius layar tvnya. Jarinya dengan sigap memencet stiap kode yang tersedia di stick PS.
"Hahaha...aku menang, FBI berjaya!". Ucap Baekhyun sambil mengangkat kedua tangannya. Chanyeol hanya melongo.
At Dinning room
Chanyeol melongo melihat cara makan Baekhyun yang bisa di bilang 'rakus'.
"Buset, aku saja hanya bisa menghabiskan 1 kotak kimbab, tapi dia bisa menghabiskan 4 kotak.". Ucap Chanyeol. Baekhyun sudah mengahabiskan 4 Kotak kimbab dan sekarang masuk ke kotak kelima. Chanyeol lama-lama merasa lucu saja melihat tingkah Baekhyun. Chanyeol memandangi Baekhyun sambil senyum-senyum. Baekhyun yang merasa di perhatikan mendongak.
"Mwo?". Ucap Baekhyun datar dan cuek.
"Ah, anni, lanjutkan saja makannya.". Ucap Chanyeol gelagapan. Baekhyun melanjutkan makannya.
Baekhyun menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memegangi perutnya. Chanyeol menghampiri Baekhyun sambil berkacak pinggang.
"Bagaimana? puas? kau sudah menguras tabunganku yang akan kubuat beli kaset game terbaru yang akan keluar bulan depan.". Keluh Chanyeol.
"Kau tidak ikhlas? kau mau uangmu kembali? Sini, aku muntah kan kembali kimbabnya lalu jual lagi.". Ucap Baekhyun sambil membungkuk siap muntah.
"Eh, jijik. Baiklah aku ikhlas. Jangan muntah disini. Euh, jijik.". Ucap Chanyeol begidik.
"makanya, uang itu ditabung buat yang bermanfaatkan. Kaset game itu gak bakal buat otak kamu pinter tau, kalo game edukasi ya gapapa.". Jelas baekhyun.
"Ne, Ne..arraseo..Udah, aku ngantuk. Aku mau tidur.. "Ucap Chanyeol sambil berjalan kearah tangga lantai 2.
"Eh, eh..kamu mau kemana? Bantu aku jalan. Aku gak bisa jalan. Kekenyangan.". Ucap Baekhyun sambil memegangi perutnya. Ya, tampak seperti ibu hamil. Chanyeol mendesah kasar. Chanyeol menghampiri Baekhyun dan memapah Baekhyun.
"Sudah sampai, selamat malam, Saem. Semoga mimpimu indah. Mimpiin aku juga ya.". Ucap Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, Mimpiin kamu? Demi apa coba. Tapi pemintaan bisa diterima. Aku bakal mimpiin kamu."Ucap Baekhyun sambil mencubit pipi Chanyeol.
"Ya udah, selamat malam.". Ucap Chanyeol sambil masuk kekamarnya.
"Ne,selamat malam." Balas Baekhyun sambil masuk kekamarnya.
Monday,
Hari ini adalah hari pertama Chanyeol dalam mengikuti ujian kelulusan. Mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Chanyeol tampak serius dan mungkin terlihat lebih baik dari try out sebelumnya. Ia selalu gelisah saat mengerjakan tetapi sekarang dia mengerjakannya dengan tenang.
Baekhyun keluar dari ruang guru dengan membawa kardus berisi barang-barangnya. Saat melewai kelas Chanyeol, ia menyempatkan diri untuk mengintip keadaan di kelas Chanyeol lewat cendela. Fokus utama yang ia lihat adalah Chanyeol. Ia melihat Chanyeol mengerjakan dengan lancar. Baekhyun tersenyum. Ia menitihkan airmata. Baekhyun melanjutkan perjalannya.
"Sayangnya kita tidak akan bertemu lagi. Padahal, aku sudah terlanjur mencintaimu. Aku ingin terus bersamamu, tapi kenyataannya begini. Sayang sekali.". Ucap Baekhyun sambil terus berjalan dan berkali-kali menyeka airmatanya dengan telapak tangannya.
At home
Chanyeol berjalan girang kearah kamar Baekhyun. Tapi, saat ia buka, Ia tidak menemukan keberadaan saenimnya. Ia mencari ke penjuru rumah tapi hasilnya nihil. Ia kembali ke kamar Baekhyun. Ia melihat kamarnya sudah rapi. Ia membuka lemari bajunya. Baju Baekhyun sudah tidak ada. Chanyeol mengerenyitkan dahinya.
"Kemana dia pergi? Ah, mungkin dia pulang sebentar atau jalan-jalan. Inikan belum 2 minggu, aku juga besok masih ujian. Pasti dia akan kembali.
Tapi pada kenyataannya...
T to the B to the C
