OH MY TEACHER

Author : seishuuhara

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, dsb

NB : Baru, kritik dan saran diperlukan

.

.

.

.

.

.

Chapter 17

3 hari setelah pesta tahun baru.

Baekhyun kembali ke rumah Chanyeol, setelah menginap 3 hari di rumah sepupunya. Hari ini Baekhyun ingin mengajak Chanyeol menonton film baru di Bioskop. Dengan 2 tiket di tangannya, ia pulang ke rumah Chanyeol.

Sesampainya di rumah Chanyeol, Baekhyun memencet bel. Dan keluarlah ibu Chanyeol. Ibu Chanyeol tersenyum tipis. Tak seperti biasanya. Ibu Chanyeol mempersilahkan Baekhyun untuk masuk. Kebetulan Chanyeol tidak ada dirumahnya sekarang. Baekhyun hendak pergi ke kamarnya tetapi di cegah oleh ibu Chanyeol. Baekhyun semakin bingung. Perilaku Ibu Chanyeol berubah drastis.

"ehmm..ommoni...Ada apa sebenarnya?" Baekhyun akhirnya memberanikan diri untuk menanyakannya. Ibu Chanyeol menunduk. Baekhyun makin bingung.

"Nak...sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tetapi...pernikahanmu dengan Chanyeol dibatalkan, karena beberapa bulan lagi Chanyeol akan menikah dengan Namjoo. Kami sudah memenuhi semua kontrak dan surat-suratnya. Aku tidak ingin melakukannya, tetapi..ini juga demi perusahaan kami." Ucap Ibu Chanyeol lirih. Baekhyun membelalakkan matanya saking terkejutnya. Ia meremas tiket yang di pegangnya. Tangannya semakin lemas dan tiket itu pun terjatuh. Ia terduduk di sofa sambil menundukkan kepalanya. Ia mulai menitihkan air matanya.

"Kami akan segera mencarikanmu tiket penerbangan kembali ke Amerika. Atau jika kau mau tinggal di korea, kami akan secepatnya menyewakanmu rumah. Kau tidak bisa tinggal disini lagi." Ucap Ibu Chanyeol dengan penuh penyesalan. Baekhyun mengangguk sambil menyeka air matanya. Ia bangkit dari duduknya dan naik ke lantai dua untuk mengemasi barang-barangnya.

"Biarkan aku membantumu, nak.." Ucap Ibu Chanyeol sambil memegang pundak Baekhyun. Baekhyun menggeleng sambil melepaskan tangan Ibu Chanyeol dari pundaknya.

"Tidak ommoni, aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Baekhyun dengan bercucuran air mata. Wajahnya memerah. Ibu Chanyeol mengangguk sedikit.

Setelah Baekhyun selesai mengemas, ia turun dengan koper dan backpacknya. Ia berhenti di depan Ibu Chanyeol yang sedang berdiri di depan pintu dan membungkuk 90o.. Ibu chanyeol mengantarkan Baekhyun sampai depan rumah.

"jaga dirimu baik-baik. Tolong maafkan kami. Jika bukan karena tuntutan perusahaan, kami tidak akan melakukan ini. Aku tahu ini pasti sangat berat bagimu." Ibu Chanyeol mengusap-usap pundak Baekhyun. Baekhyun mencoba untuk tersenyum. Ia membungkuk untuk terakhir kalinya lalu pergi dari rumah Chanyeol. Kali ini Baekhyun akan kembali ke rumah sepupunya. Ia masih tidak mood untuk kembali ke Amerika.

.

.

.

Malam hari. Baekhyun sedang membaca buku di kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tetapi Baekhyun malah me-rejectnya. Sudah berkali-kali ponselnya berdering karena ada panggilan masuk. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Ya karena itu dari Chanyeol. Ia ingin secepatnya melupakan Chanyeol. Karena untuk apa mengaharapkan cinta dari orang yang sudah berkeluarga. Tetapi usaha Chanyeol tak berhenti sampai situ saja. Chanyeol mengirimkan pesan. Dan akhirnya Baekhyun pun meresponnya.

"Kita harus bicara. Temui aku di Sungai han." Begitulah isinya.

Baekhyun menghela nafas. Ia menutup bukunya dan mengganti bajunya. Ia pun berangkat ke Sungai Han sesuai perintah Chanyeol.

Dan sampailah Baekhyun di sungai Han. Ia berjalan lemas sambil menyeret kakinya. Terlihat mobil Chanyeol sedang terparkir. Dengan Chanyeol yang duduk di kap mobilnya. Chanyeol menoleh saat mendengar derap kaki yang di seret. Wajahnya begitu kacau. Begitu pula Baekhyun. Penampilannya seperti orang terdampar di pulau terpencil bertahun-tahun. Chanyeol turun ari kap mobilnya dan menghampiri Baekhyun.

"Kita harus bicara." Ucap Chanyeol serius. Baekhyun membuang muka.

"Aku sudah dengar semua dari Ibumu. Sebaiknya kita berhenti untuk saling menghubungi." Ucap Baekhyun dingin. Chanyeol memasang wajah melasnya. Ia memeluk Baekhyun erat.

"Nuna, A-aku ...maafkan aku. Tak seharusnya hal ini terjadi. Ini semua begitu cepat terjadi. Entah mengapa keluarga Namjoo memaksakan pernikahan ini." Chanyeol mulai bicara. Baekhyun menitihkan air mata. Baekhyun hanya bisa diam sambil mengangis.

"A-aku..aku tidak ingin pergi meninggalkanmu. A-aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.". Chanyeol mulai menitihkan air mata. Tangis Baekhyun semakin keras. Baekhyun tak bisa menerima semua hal pahit tentang pernikahan Chanyeol dan Namjoo.

"A-aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Mungkin ini bukan takdir kita." Ucap Baekhyun sambil melepaskan pelukan Chanyeol. Baekhyun menangis sejadi-jadinya.

"Kumohon jangan tinggalkan aku, Chagi." Chanyeol menggenggam erat tangan Baekhyun. Baekhyun menggeleng.

"Aku bukan siapa-siapamu lagi sekarang. Semoga kau bahagia bersama Namjoo." Ucap Baekhyun sambil melepaskan genggaman tangan Chanyeol. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari Chanyeol. Tetapi Chanyeol mengejarnya dan menariknya mendekat. Chanyeol langsung mencium Baekhyun. Chanyeol menangis, begitu pula Baekhyun. Air mata cinta terus menetes. Baekhyun mengusap pipi Chanyeol. Air mata menetes deras dari mata sipitnya. Mereka berhanti berciuman. Dengan wajah yang masih sangat dekat, Chanyeol mengatakan kata-kata terakhirnya.

"Mungkin Ini ciuman terakhir kita. Aku sangat mencintaimu, Baekhyun nuna."

Baekhyun memejamkan matanya dan tersenyum.

"Aku juga mencintaimu, park Chanyeol." Baekhyun mundur menjauh dari Chanyeol. Ia menunduk lalu berjalan pergi dari Chanyeol. Chanyeol tidak rela melepasnya, tetapi apa daya. Baekhyun pun pulang. Ia mengabaikan sepupunya yang bertanya khawatir. Baekhyun terus menggelengkan kepalanya jika sepupunya itu bertanya tentang keadaanya. Jelas ia sekarang merasa hancur. Seperti kertas bekas yang di bakar dan abunya terbang menjauh.

.

.

.

Sudah berjari-hari Baekhyun berhenti makan. Ia hanya diam dikamarnya sambil mengamati kotak eyeliner yang di berikan Chanyeol untuk hadiah natalnya. Sepupu Baekhyun semakin khawatir. Ia selalu meletakkan nampan berisi bubur kesukaan Baekhyun tetapi selalu utuh tak tersentuh pada akhirnya. Tetapi jika ditanya tentang keadannya, Baekhyun selalu menjawab "Aku tidak apa-apa". Sepupu Baekhyun bingung harus apa.

"baek..mungkin kau harus pergi ke Amerika secepatnya, disana kau bisa melupakannya meskipun tidak semuanya." Usul Sepupu baekhyun. Baekhyun menggeleng.

"Aku masih ingin tinggal di Korea lebih lama lagi." Baekhyun menatap kosong ke arah jendela yang tertutup. Sepupu Baekhyun hanya mengangguk.

"Aku mendapat info jika pernikahan Park Chanyeol dengan Kim Namjoo tinggal sebulan lagi. Heuuh.. Baek..aku tidak tahu jika selama ini memendam rasa sakit yang mendalam. Aku turut sedih." Sepupu Baekhyun menepuk punggung Baekhyun lalu keluar dari kamar Baekhyun.

-Sementara di tempat Namjoo-

Namjoo terlihat senang sekali, disampingnya ada Luhan dengan gelas berisi winenya. Namjoo Dan luhan bersulang untuk kemenangan sementara mereka.

"Lulu deer, lihat...sekarang kita adalah rajanya. Keluarga Chanyeol tunduk pada perusahaan kita. Mereka akan memenuhi setiap keinginan kita hahahahahahaha." Namjoo tertawa bangga. Luhan tersenyum sambil menyesap winenya.

"Aku pikir...bagaimana jika kita memajukan jadwal pernikahannya? Agar tidak ada gangguan lagi. Semakin cepat semakin baik bukan?" Usul Luhan. Namjoo menggoyang-goyangkan gelasnya sehingga winenya teraduk-aduk. Ia berpikir sebentar.

"bagus juga idemu. Dengan begitu Baekhyun tidak akan sempat berbuat apapun pada Chanyeol. Okey kita majukan menjadi 2 minggu. Berarti tanggal 17 Januari, kita adakan acara pernikahannya." Ucap namjoo sambil mengusap pipi Luhan. /dasar wanita penggoda/. Luhan mengeluarkan smirknya.

Namjoo mengeluarkan ponselnya. Ia terlihat memencet tombol-tombol. Lalu ia dekatkan ponselnya ke telinganya. Tampaknya ia sedang menghubungi seseorang.

"Yeoboseyo...Hai...ini aku, Namjoo. Kau tahu kan jika pernikahanku dan Chanyeol sudah dekat. Kuharap kau segera melupakan Chanyeol. Berhenti berhubungan dan lain-lain. Jika kau melanggarnya, aku jamin kau tidak akan bertemu dengannya, selamanya. Bahkan keluarganya tidak akan sudi menerimamu. Apapun."

-dirumah Chanyeol—

"Mworago? Tanggal 17 Januari? Itukan 2 minggu lagi...Namjoo apa kau sudah gila?" teriak Chanyeol. Terdengar suara terkiki dari ponsel Chanyeol.

"Semakin cepat kan semakin baik. Agar tidak ada GANGGUAN (penegasan di kata 'gangguan')"

Chanyeol memijit tulang hidungnya. Ia mondar mandir di kamarnya. Dan masuklah Ibu Chanyeol.

"Yeol..ada apa? Mengapa teriak teriak begitu?" Ibu Chanyeol bertanya. Chanyeol menoleh. Chanyeol memutus panggilannya dan menghampiri ibunya.

"Keluarga namjoo memajukan pernikahannya menjadi 2 minggu lagi. Astaga..." Chanyeol memijit pelipisnya. Ibu Chanyeol memasang wajah khawatirnya.

"Nanti biar appamu yang mengurusnya. Sekarang kita makan malam dulu. Chanyeol mengangguk.

.

.

.

Sepupu Baekhyun masuk ke kamar Baekhyun. Setelah beberapa hari mogok makan, akhirnya Baekhyun sudah hampir kembali ke keadaan normalnya lagi. Hari demi hari Ia sudah mulai melakukan beberapa aktivitas dan makan dengan normal. Sepupu Baekhyun memberika 2 tiket menonton film di bioskop. Baekhyun tersenyum.

"Untuk menjernihkan pikiran, setidaknya kita bisa mencoba cara ini" Ucap Sepupu Baekhyun. Baekhyun menatap tiket itu. Tertear Judul film yang ingin ia tonton bersama Chanyeol beberapa waktu yang lalu, tetapi akhirnya tidak jadi. Baekhyun memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.

"Terima kasih, Eonnie..." Baekhyun memasang senyum. Sepupu Baekhyun menyuruh Baekhyun untuk ganti baju. Baekhyun mengangguk. Setelah bersiap-siap, Akhirnya mereka berangkat.

Film akan dimulai beberapa menit lagi. Para pngunjung termasuk Baekhyun sudah menempati tempatnya masing-masing. Dan Film pun di mulai. Semua orang termasuk Baekhyun menimati Film tersebut. Tetapi, Baekhyun sedikit merasa terganggu oleh namja di sebelahnya. Namja itu terus saja menatapnya. Baekhyun tidak menoleh kepada namja itu atau pun memberi respon. Ia sekarang hanya ingin menonton film dengan tenang. Tenang dan menghayati Film. Hingga Baekhyun menitihkan air mata saking menghayatinya. Bukan hanya karena cerita Film yang mengharukan, tetapi juga pasal Chanyeol.

Menit berganti jam. Akhirnya Film telah usai. Semua orang keluar dari studio. Sekarang baekhyun dan Sepupunya akan menuju Food Court untuk mengganjal perut. Sementara sepepu Baekhyun memesankan makanan, Baekhyun pun pergi ke wastafel untuk mencuci tangan. Saat ia sedang mencuci tangan, datanglah seorang namja. Namja itu mencuci tangan di wastafek sebelahnya. Namja itu terus memandangi Baekhyun. Baekhyun merasa dia adalah orang yang sama dengan orang yang ada di bioskop.

"apa benar...Kau byun Baekhyun?" Tanya Namja itu. Baekhyun menoleh. Namja itu tersenyum.

"ternyata ini benar kau, nuna. Ini Chanyeolmu..." Namja itu tersenyum lebar. Baekhyun memasang wajah datar tanpa respon. Namja bernama Chanyeol itu kebingungan.

"Apa..kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Baekhyun dengan wajah datarnya. Chanyeol memasang wajah kecewa.

"Chanyeollie...cepat...makanannya sudah datang." Teriak seorang yeoja yang ternyata adalah Namjoo. Baekhyun menoleh ke arah Namjoo lalu kembali menatap Chanyeol.

"Mungkin anda salah orang." Ucap Baekhyun sambil setengah membungkuk. Ia pergi ke mejanya. Chanyeol memandangi tubuh Baekhyun yang perlahan hilang dibalik kerumunan orang. Chanyeol merasakan sakit luar biasa. Baekhyun berusaha melupakannya. Chanyeol tak bisa menerima ini semua.

.

.

.

Pagi hari, Baekhyun sedang berjalan di taman sekarang. Taman yang sangat ia impikan bisa berjalan bersama anak masa depannya dan Chanyeol. Taman yang lumayan tenang dengan sebuah air mancur di berbantuk bunga besar ditengahnya. Tak banyak orang yang berlari pagi. Baekhyun duduk di sebuah bangku taman. Melihat pasangan suami istri berserta anak didepannya, baekhyun jadi membayangkan masa-masa indah bersama Chanyeol dan anak masa depannya.

-Bayangan Baekhyun-

Baekhyun sedang duduk bersama Chanyeol sambil makan es krim. Memandangi air mancur yang indah. Mereka saling bercakap-cakap, bersenda gurau. Dan datanglah anak laki-laki. Ia tiba-tiba duduk di pangkuan Chanyeol.

"Appa, aku ingin itu" ucap anak itu sambil menunjuk es krim yang di pegang Chanyeol. Chanyeol tersenyum.

"Chanhyun, kau tadi sudah makan es krim, jangan makan lagi. Nanti sakit." Ucap Baekhyun sambil mengusap kepala anak laki laki bernama Chanhyun itu. Chanhyun cemberut. Chanyeol dan Baekhyun tertawa bersama.

-end—

Baekhyun menitihkan air mata. Bayangan itu takkan pernah terjadi.

"Park Chanhyun..nama yang sudah kita rencanakan sejak dulu. Sungguh nama manis." Baekhyun menunduk sambil menyepak-nyepakkan kakinya. Ia bangkit dari duduknya dan kembali berjalan mengelilingi taman. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Baekhyun. Baekhyun menoleh. Tidak ada siapapun. Saat ia kembali ke posisinya, ada seorang namja berpakaian serba tertutup. Salah satu namja langsung menutup mulut dan hidung Baekhyun. Sekarang Baekhyun merasakan berat dikepalanya. Tubuhnya melemas. Matanya perlahan menutup. Dan ia pun tak sadarkan diri.

.

,

Baekhyun membuka matanya. Pandangannya masih kabur. Nafasnya juga sedikit tak beraturan.

"Dimana aku?"

TBC

Hai...haaah..entah mengapa nangis sendiri bacanya. Semoga kalian suka. Astaga Cuma 1K words aduh jangan salahin Hara maaf...ini buru-buru banget.

Kritik dan saran diperlukan sangat. Bisa kirim di twitterku : keukimyongra atau follow juga akun tsb, mention for follback.

Nantikan kelanjutannya :^)