OH MY TEACHER

Author : seishuuhara

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, dsb

NB : Baru, kritik dan saran diperlukan

.

.

.

.

.

.

Chapter 18

Hari ini Chanyeol berada di Bridal Shop bersama Namjoo. Mereka akan mencoba beberapa baju untuk pernikahan mereka. Tinggal beberapa hari lagi dan acara pernikahan mereka akan di gelar secara megah-megahan, karena menyangkut dua perusahaan yang sama-sama berjayanya. Sedari tadi Namjoo berpindah lemari untuk mencari gaun yang pas. Hampir semua gaun yang dipakai oleh Namjoo dinilai tak pantas oleh Chanyeol.

"Bagaimana jika yang ini? Lihat? Mutiaranya menjuntai panjang, aku suka sekali." Tanya Namjoo sambil berputar-putar di depan Chanyeol. Chanyeol menopang dagu. Ia tampak malas sekali. Ia menggeleng. Namjoo menghentakkan kakinya kesal.

"Yang ini kau tidak suka, yang itu juga tidak suka. Yang murah tidak suka, yang mahal pun juga. Lalu yang mana?" Tanya Namjoo kesal. Chanyeol mendongakkan kepalanya.

"Yang pantas menggunakan itu dan yang pantas mendampingiku saat di altar adalah Byun Baekhyun, bukan kau." Ucap Chanyeol tajam sambil berlalu. Namjoo memasang wajah kesal.

"Baekhyun lagi Baekhyun lagi. Tak bisa kah kau melupakannya?" teriak Namjoo kesal. Namjoo buru-buru berganti baju lalu pulang.

.

.

.

Chanyeol melamun dalam mobilnya. Bagaimana bisa Baekhyun tak mengenalinya. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Ia sudah menyangka pasti ini semua adalah tipu muslihat Namjoo. Chanyeol memukul setir mobilnya kesal. Ia langsung memacu mobilnya kencang dan pulang.

Chanyeol sampai di rumah. Ia lekas memarkirkan mobilnya di garasi. Chanyeol masuk ke rumah. Di ruang tamu sudah ada kedua orang tua Chanyeol. Chanyeol lewat di depan mereka tanpa menghiraukan mereka. Tiba-tiba kedua orang tua Chanyeol berdiri.

"Park Chanyeol!" Panggil ibu Chanyeol. Chanyeol menoleh. Chanyeol langusng menghampiri ibunya.

"Ada apa?" Tanya Chanyeo dengan wajah tak berdosa. Ibu Chanyeol menyilangkan tangan di depan dada.

"Berhenti memikirkann Byun Baekhyun dan pikirkanlah pernikahanmu dengan namjoo." Ucap Ibunya marah. Chanyeol bertambah bingung.

"Kau akan menikah dengan Namjoo beberapa hari lagi. Kau seharusnya segera melupakan Baekhyun dan mulailah kehidupan barumu dengan Namjoo. Berhentilah beranggapan jika semua hal di dunia ini hanya pantas untuk Baekhyun. Kau dan Baekhyun tidak ada apa-apa lagi." Ucap Ibu Chanyeol marah. Chanyeol membuang muka.

"sejak awala aku memang tidak ingin bersama Namjoo. Hanya Baekhyun nuna yang kupunya dan dia merenggutnya dariku, lalu membuangnya jauh-jauh agarntak pernah bertemu denganku. Aku mencintai Baekhyun nuna tulus dari hati. Aku tidak akan pernah mau mencintai wanita selain baekhyun nuna, meskipun hanya berpura-pura aku tak akan sudi." Jelas Chanyeol kesal. Ibu Chanyeol melotot pada Chanyeol.

"Chanyeol! Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Sekarang kau fokuslah apda masa depanmu. Mengharapkan Baekhyun sepanjang hari tidak akan bermakna." Teriak ibu Chanyeol marah. Ayah chanyeol menenangkan Chanyeol.

"Chanyeol, mulai besok kau tidak boleh keluar rumah tanpa seijin appa dan eomma, dan kami akan segera membuang segala macam tentang Baekhyun, kontakmu dengan Baekhyun. Intinya segalanya tentang Baekhyun." Ucap appa chanyeol tegas. Jika appanya yang sudah berkata, ia tidak bisa mengelak. Chanyeol menganga tak percaya. Ia langsung ke kamarnya dan mengunci diri.

.

.

.

Chanyeol benar-benar dikurung oleh orang tuanya. Setiap hari ia hanya bermain dikamarnya dan menonton televisi. Pernikahan menjelang 3 hari. Selama itu pula Chanyeol selalu dipaksa mengurus pernikahannya. Sehun dan Kai pun hanya boleh sesekali datang berkunjung kerumah Chanyeol. Sungguh tertekan.

Hari ini Chanyeol kembali ketoko Gaun pernikahan untuk mengantarkan Namjoo. Kali ini Ibu Chanyeol turut serta. Chanyeol berjalan dengan malas. Ia menatap gaun-gaun yang berjajar rapih. Namjoo berhenti di sebuah rak dan mengambil satu gaun.

"Chanyeollie...bagaimana pendapatmu? Bagus bukan?" Ucap Namjoo sambil meletakkan gaunnya di depan tubuhnya. Chanyeol tak menyauti. Dia hanya duduk sambil menatap sekitarnya. Namjoo memasang wajah sedikit kecewa. Ibu Chanyeol inisiatif mencairkan suasana.

"Oh pantas sekali...coba yang ini...mutiaranya terlihat seimbang dengan kristalnya." Ucap Ibu Chanyeol sambil memberikan gaun yang dimaksus kepada namjoo. Namjoo tersenyum dan membawanya ke ruang ganti. Ibu Chanyeol menyeret Chanyeol ke tempat yang lebih sepi. Chanyeol memasang wajah kesal. Ia teris memalingkan wajahnya.

"Chanyeol, mau sampai kapan kau akan bertindak kekanak-kanakan seperti ini?" tanya Ibunya kasar. Chanyeol tak menjawab. Hanya melihat kearah jendela yang menampilkan lalu lalang kendaraan.

"Park Chanyeol!" Ibunya berteriak karena merasa di asingkan. Chanyeol akhirnya memberikan perhatiannya kepada ibunya.

"eomma, bisakah kau mengerti suasuanaku sekarang? Eomma tak tahu apa yang aku inginkan. Eomma berniat menjualku ke perusahaan Namjoo dengan pernikahan tidak jelas ini? Heih? Pernikahan tanpa dasar cinta. Eomma, pernikahan hanya sekali dalam hidup. Dan sekarang Eomma menghancurkan hal langka ini dengan menjualku demi kepentingan perusahaan. Aku tahu setelah ini aku yanga kan mewariskan tahta. Iya aku paham. Tetapi setidaknya tidak bersama Namjoo. Eomma tahu? Selama ini Eomma telah di perbudak oleh Namjoo. Di tipu oleh Namjoo. Dan eomma masih tidak bangun dari keadaan ini?" Teriak Chanyeol kesal. Ibunya membelalakkan matanya.

"Kau...tak kusangka kau berubah seperti pikir kau tetap anakku yang selalu menuruti perintah ibunya. Patuh dan memiliki sopan santun." Ibunya menangis. Chanyeol sebenarnya merasa tidak enak dengan ibunya.

"Chanyeol, tolonglah ibu. Ini juga demi kepentinganmu juga. Baiklah, ini adalah permintaan ibu yang terakhir dalam hidup ibu. Setelah itu kau boleh melakukan semuanya seenaknya. Tolong menikahlah dngan Namjoo. Hanya itu." Ucap ibunya dengan wajah memelas. Chanyeol paling tidak tahan jika ibunye memelas seperti ini. Baru sekali ini ibunya memohon sampai menangis. Chanyeol menundukkan kepalanya.

"Setelah ini pergi lah memilih cincin bersama Namjoo. Ibu sdah memesankan tokonya. Ibu pulang dulu." Ibunya mengusap pundak Chanyeol lalu pergi. Chanyeol kembali menuju ruang ganti Namjoo.

.

Setelah memilih gaun yang pas, seperti perintah ibunya, Chanyeol akan mengajak Namjoo memilih cincin. Sesampainya disana, mereka langsung menuju rak.

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap sang pegawai sambil memakai sarung tangan putih. Chanyeol tersenyum.
"Aku ingin melihat beberapa cincin pernikahan yang kau punya. Bisa tolong dikeluarkan?" Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Berbeda dengan saat di rumah gaun. Namjoo merasakan perbedaan besar dalam diri Chanyeol. Sang pegawai tersenyum lalu mengambil 4 kotak berisi sepasang cincin masing-masingnya.

"Dua pasang ini terbuat dari emas kuning. Dan yang ini emas putih. Desainnya sama. Hanya saja yang emas putih hanya memiliki satu berlian di tengahnya. Jika saya sarankan, emas kuning sangat cocok dengan anda dan pasangan anda. Karena motifnya cocok dengan pasangan muda seperti anda." Jelas sang pegawai. Namjoo tersenyum girang.

"yang kuning ya?" Pinta Namjoo. Chanyeol memasang wajah datarnya. Tanpa menoleh Chanyeol menjawab.

"Putih saja."

Namjoo menghapus senyumnya setelah mendengar jawaban Chanyeol. Tenyata perubahan besar itu hanya berjalan semenit. Namjoo menyembunyikan kekecewaannya dengan mengulur senyum.

"Jika saya sarankan lagi. Kita membuka jasa untuk cincin couple. Mungkin jika anda ingin mengukir nama anda dan pasangan anda di cincin. Kami menyanggupinya." Ucap sang pegawai sambil sedikit membungkukkan badannya. Namjoo tersenyum.

"Bagaimana?" Tanya Namjoo.

"Tidak usah. Hemm..okey aku pesan yang emas putih. Tetapi pilihkan motif yang pas."Ucap Chanyeol sambil menyerahkan kartu kreditnya kepada sang pegawai.

"Dimengerti. Mohon tunggu sebentar." Ucap pegawai itu sambil mengambil kartu kredit Chanyeol. Terukir kekecewaan di wajah Namjoo. Tetapi ia senang. Chanyeol mengetuk-ketukan kunci mobilnya di kaca rak. Namjoo bermain dengan sepatunya.

"Namjoo, kau tunggu lah di mobil, ya?" Suruh Chanyeol. Namjoo mendongakkan kepalanya. Chanyeol memberikan isyarat ke pintu keluar. Namjoo mengangguk lalu keluar dari toko. Tak lama kemudian sang pegawai datang dengan satu bungkusan dan kartu kreditnya.

"Apa masih ada yang dibutuhkan?" Tanya pegawai sopan. Chanyeol mengangguk.

"Tolong bungkus juga yang emas kuning."

"Baik.."

Luhan memacu mobilnya ada Namjoo yang sedang memeriksa ponselnya. Mereka akan ke gudang tempat menyandera Baekhyun. 1 jam perjalanan mereka lalui dan akhirnya sampai lah di gudang. Luhan dan Namjoo kelaur dari mobil dan langsung masuk kedalam gudang yang berukuran cukup besar itu. Didalam ada Bakehyun yang mulai setengah sadar dan para pengawal Namjoo. Namjoo memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk pergi. Para pengawal pun pergi. Namjoo menepukkan tangannya disamping kepala Baehyun. Dan Baekhyun pun sadar sepenuhnya. Ia mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Namjoo dan Luhan. Ia memberontak. Ia tak bsia berbocara karena Mulutnya ditutup lakban. Ia juga diikat di kursi.

"Sssshh..tenang-tenang." Ucap Luhan sambil mengusap pipi Baekhyun lembut.

'Tak kusangka kau licik seperti ini' Batin Baekhyun. Luhan mengeluarkan smiknya.

"Licik katamu? Hahahahaha". Luhan tertawa. Bakehyun terkejut. Ya, Luhan memiliki kemampuan telepati yang kuat.

"Kau baru tahu jika luhan punya telepati, ya? Hahahah...kau sekarang sadarkan jika kau setiap hari aku awasi. Bagaiman aku bisa tahu segalanya? Hahahah tentu saja karena Luhan. Pertemuanmu dengan Luhan di lorong dan diperpustakaan adalah umpan agar kau bisa lebih dekat dengan Luhan. Sehingga luhan bisa menyadap beberapa isi otakmu. Lalu ia memberitakannya kepadaku. Hahahaha...kerja bagus, Lu." Namjoo menepuk pundak Luhan. Bakehyun mengerutkan dahinya marah. Namjoo menjentikkan jarinya. Luhan memberikan ponsel Baekhyun.

"Kau pasti bertanya-tanyakan mengapa ponsel ini sudah ada ditanganku kan? Sekali lagi (Menunjuk kepalanya sendiri) Otakku." Namjoo tersenyum. Namjoo memencet sebuah tombol.

"Kim Young Hwi" Namjoo mengucapkan satu nama. Ya, sepupu Baekhyun yang memberikan tumpangan rumah pada Baekhyun. Namjoo menyalin nomor itu kedalam ponselnya. Baekhyun menggeleng. Namjoo melempar ponsel baekhyun kesembarang arah dan menepelkan ponselnya ketelinga.

"Halo, aah..apa benar ini sepupu Baekhyun yang benama Kim Young hwi? Ahhh..iya, saya teman baekhyun. Saya disuruh Baekhyun untuk meberitahukan ini kepada anda, karena ponsel baekhyun amti. Kemarin Baekhyun minum denganku. Tapi karena mabuk ia tak bisa pulang. Jadi sekarang ia menginap di sampai lusa...hahaha tidak merepotkan kook tenang saja...jangan khawatir...iya sama-sama, aku tutup ya." Namjoo menekan satu tombol lalu menyimpan lagi ponselnya. Baaekhyun tertunduk lemas.

"Tidak ada yang akan mencarimu." Ucap Namjoo sinis. Ia berjalan menuju pintu keluar.

"Oh ya. Jangan sampai kau memanggil polisi, memanggil ambulans, memanggil ibumu, apalagi berteriak, jangan memberontak dan jangan melawan pengawalku. Jangan berusaha kabur dari gudang ini, Jika kau ingin hidup sampai tua." Ancam Namjoo.

'Sebenarnya apa maumu?'

Luhan yang menangkap sinyal aneh membisikkan sesuatu pada Namjoo. Namjoo menghentikan langkahnya. Ia kembali berbalik.

"Kau tahu kan jika aku dan Chanyeol akan menikah besok. Dan aku tak mau ada gangguan. Aku tahu Chanyeol pasti sudah mengirim undangan lewat SMS atau sejenisnya. Tak mungkin lewat kartu undangan. Tetapi no no no. Kau tetap tidak boleh pergi. Karena kau hanya akan menghancurkannya saja. Okey..paham? Sebaiknya kau jangan mengusik Luhan dengan batinan yang ada di pikiranmu itu." Jelas Namjoo smabil mengibaskan rambutnya yang tidak diikat lalu pergi. Baekhyun menghela nafas.

"Pengawal, belikan saja dia paket ayam dan nasi. Begini aku masih punya rasa kasihan. Tetapi jangan sampai ada yang tahu pasal gudang ini." Ucap Namjoo sambil melempar beberapa lembar uang uang kepada pengawalnya. Pengawalnya mengangguk dan menutup pintu gudang sehinggga menimbulkan efek gelak karena kurangnya ventilasi. Baekhyun menyepakkan kakinya kesal. Ia berpikir ratusan cara untuk menyelamatkan diri. Ia berpikir. Dan jackpot! Ia menemukan satu cara yang mungkin sudah sering dipraktekkan dalam berbagai film. Baekhyun menghentakkan kakinya. Sang pengawal menoleh dan menghampiri Baekhyun.

"Apa?" tanya sang pengawal.

Baekhyun mempraktekkan orang yang kebelet buang air. Mukanya memerah. Ia menyilangkan kakinya. Sang pengawal tampak tak curiga. Ia melepaskan tali Baekhyun dan mengawalnya ke toilet terdekat. Baekhyun masuk kedalamnya. Ia mencari celah untuk keluar. Dan, ia menemukan sebuah jendela berukuran sedang yang ditutupi kardus tipis. Sebagian kardus sudah lubang. Baekhyun tersenyum. Ia naik ke atas WC dan meraih jendela itu. Ia merobek kardunya dan menaikkan satu kakinya. Bersiap untuk menghirup udara segar dan pulang. Tetapi, saat ia hendak menaikkan kakinya yang lain, Ia terpeleset. Sehingga shower kecil yang disampingnya lepas dan jatuh menimbulkan bunyi yang berisik. Sang pengawal menggedor pintu tapi ia tak menjawab. Baekhyun terus berusaha menaikkan badannya. Sang pengawal pun mendorbark pintu dan menemuka Baekhyun yang badannya setengak keluar. Hendak meloncat, tetapi mantel baekhyun ditarik oleh pengawal. Ia terjatuh kebelakang. Rencana kaburnya, GAGAL. Ia diseret paksa oleh pengawal. Kali ini dia diikat di tiang besi dalam keadaan duduk. Masih untung daripada berdiri. Pengawal menyepakkan kotak berwarna merah kedepan Baekhyun. Baekhyun dapat mencium aroma Ayam goreng.

"Makan itu." Ucap pengwal ketus. Baekhyun memutar bola matanya.

"hmmmm..hmmmmm..hem hem mmmhemmmm..hemmhmmmm mmmm? (kau ini bodoh atau apa? Tanganku terikat kebelakang, bagaimana bisa aku makan?)". baekhyun berusaha menjelaskan dengan guamaman dan beberapa gerakan tubuh. Sang pengawal tampaknya masih mencerna isyarat Baekhyun.

'dasar bodoh!' Baekhyun memutar bola matanya kesal. Ia menjelaskan sekali lagi. Pengawal meliriknya tajam lalu melepas ikatan Baekhyun. Tetapi sebagai gantinya, Pengawal mengikat perutnya ke tiang, agar tidak kabur. Baekhyun semakin tersiksa. Serasa menjadi tawanan sekelompok bajak laut. Ia makan dengan tenang. Setelah makan ia tertidur.

-Sementara di tempat lain—

Chanyeol mondar mandir sambil menempelkan ponselnya di telinga. Namjoo keluar dari kamar dan menuju calon suaminya yang mondar-mandir di balkon.

"Ada apa?" tanya Namjoo polos. Chanyeol menoleh sedikit lalu menelpaskan ponselnya.

"Aku berusaha menelpon Baekhyun nuna, tetapi tak di angkat. Padahal pernikahanku besok. Dia harus datang." Ucap Chanyeol sambil terus memencet nomor yang sama. Namjoo meremas saku kardigannya. Ponsel Baekhyun disana. Ia memalingkan wajah sedikit.

"Mungkin dia sedang sibuk." Ucap Namjoo. Chanyeol menoleh penasaran. Menghindari hal yang tak diingainkan, namjoo kembali masuk ke kamar. Chanyeol kembali menatap keluar sambil terus mencoba menghubungi Baekhyun.

Baekhyun nuna...

Tolong...

Jawab...

Telponku...

Sekarang...

TBC

Ayayay halamannya nanggung bighit. Hay Hara balik huwa huwa. Maaf publishnya lama. Karena bandar publishnya lagi hiatus. Kata si bandar publish aplikasi buat buka internet positifnya hilang. Kehapus katanya. Yasudah yang sabar saja. Saran dan kritik masih dibutuhkan, saya pemula. Kalo review aku ga bisa baca, pm juga ga bisa bales. So kalo mau di bales silahkan ke twitterku : keukimyongra

Terus pantengin ff ku yesh! Gomawo!