Chapter 631 in Progress

Bagian ke-2

Aku berjalan dengan menatap ke tanah, melamun? Atau merenung? Lupakan! Entah kenapa rompi hijau ini terasa sangat panas untukku siang ini. Terbayang lagi cara Naruto menggenggam tangan Hinata-san. yah! Mereka memang tampak serasi, tak heran lah… banyak fans yang meng-couple-kan mereka. hah! Dan lagi… Heh? Kenapa aku malah jadi ngelantur gini sih bicaranya! Aku tidak peduli!

Eh? Sebuah kaleng soda yang waktu itu diminum Naruto, tepat berada di depan kakiku. S-Soda ya? Saat aku mengatakan "Entah kenapa… tapi aku benci ngeliat laki-laki yang minum pakai sedotan…" dan dia langsung membuang sedotan yang menggelikan itu. aku sempat berfikir dia 'mungkin' tak ingin ku benci atau lebih tepatnya dia ingin kusukai? apa dia suka padaku? E-eh? Ke-kenapa aku malah jadi menghayal tak jelas begini! Aku mengacak rambutku, kesal pada diriku sendiri.

Ah! Masa bodoh dengan perasaan Naruto! Aku jadi haus! Kulihat sekeliling dan ada! Mesin soda! Segera aku mendekat, memasukkan koin, memilih soda yang kuinginkan lalu menikmatinya sambil berusaha melupakan apa yang sedari tadi kupikirkan.

.

Seteguk-demi-seteguk aku coba menghayati gelembung-gelembung soda yang menggelitik lidahku ini. sebenarnya sih, untuk melupakan si Bakayaro no Naruto… eh? Kusso! Jadi keinget lagi kan! Kuletakkan kaleng soda yang isinya kira-kira masih 1/3 itu di kananku, lalu kembali melamun tanpa tujuan.

"Sedang istirahat?" suara itu lagi! Pengen rasanya aku mementalkannya seperti karakter Sakura di animanga Ori, sayang itu hanya efek yang dibuat para staf, boro-boro memukul seorang pria hingga terpental ratusan meter, pernah aku nyoba memecahkan sebuah, aku tekankan sekali lagi sebuah, hanya satu buah genting plastic tipis yang sebenarnya milik rumah Kishimoto-jiisan yang saking ringannya ketiup angin sampai jatuh ke halaman belakang rumahku saja, aku tak bisa... Payah bener ya aku ini? Lupakan!

"…." Aku tak menjawab, aku tahu kalau itu suara Naruto. entah kenapa aku sedang tidak ingin melihat tampangnya sekarang. sialnya, dia malah duduk di kananku, kusso! Kusso! Kusso! Entah sudah berapa kali aku mengeluh 'Kusso!' hari ini, dan semuanya 'hanya' gara-gara pemuda yang duduk di sebelahku ini.

Hening sejenak…

Kenapa dia nggak lekas pergi coba?! Gerah banget aku duduk berduaan di tempat yang jauh dari lokasi syuting ini. kuarahkan tanganku untuk mengambil minumanku yang tadi kuletakkan di kananku tanpa mengalihkan pandanganku. eh? Kok nggak ada? Aku salah perkiraan ya? Dan saat kutengok, ternyata memang tidak ada! perlahan kualihkan pandanganku pada Naruto, benar saja! Dia megang minumanku itu… apa-apaan dia? Ujarku dalam hati dengan tampang malas kualihkan pandanganku disertai dengan menghela napas pendek yang terkesan bilang "Kusso!" (lagi?)

"Ternyata… memang lebih manis miliknya Sakura, ya?" dia bergumam sambil meletakkan kaleng soda itu kembali ketempatnya... lebih manis? Apanya? Sial! Wajahku terasa panas, pasti memerah.

"Hoooi~ Naruto… Ayo! Istirahatnya selesai!" seseorang berteriak, aku tahu suara itu. itu suaranya Obito-san. yah, memang sih… keduanya sangat akrab, beda banget kan sama manganya.

"Wakattebayo!" teriak Naruto dari sebelahku, hah! Jarang-jarang dia menggunakan suffix-ttebayo saat tidak syuting, tapi kalau dipandang dari suara baritone (yang kata penggemarnya) sexy itu, dia memang lebih keliatan keren make suffix-ttebayo… Nahloh! Kusso! Aku jadi mikirin dia lagi kan?!

"Jaa, Sakura-chan!" ujarnya padaku sesaat sebelum berlari mendekati Obito-san yang lalu merangkulnya menuju lokasi syuting, haha… lagi-lagi, menggunakan suffix-chan padaku saat tidak syuting. Menggelikan! Tak sadarkah dia jikalau aku sedang kesal padanya?!

Eh? Kesal? Bodo ah! Kuarahkan tanganku untuk mengambil kaleng soda yang sudah diletakkannya tadi dengan alis sedikit berkerut pertanda "Menyebalkan!"… tanpa pikir panjang aku menempelkan bagian atas kaleng soda itu ke mulutku, hare? Kok nggak keluar isinya? reflek, ku kocok pelan kaleng soda itu. tak ada suara? Habis kah? Sepertinya tadi masih sekitar 1/3. Eh? J-jangan-jangan…

Aku membungkam mulutku sendiri… "Ternyata… memang lebih manis miliknya Sakura, ya?" terbayang gumaman Naruto beberapa detik yang lalu di kepalaku. I-itu be-berarti… C-cium-ciuman t-tidak langsung? Sepertinya seluruh wajahku memerah lagi… dalam inner aku berteriak "HUAAAAA~ APA-APAAN DIA ITU~"

Dengan masih mengenakan rompi khas Konoha aku berlari pulang ke rumahku yang memang tak jauh dari medan pertempuran (lokasi syuting) itu… dengan inner yang terus saja berteriak "KUSSO! KUSSO! KUSSOOO!" plus kedua tangan yang masih setia di depan bibirku

.

.

.

Sebelum sampai kerumah, aku melewati rumah Kishimoto jii-san. dan terpikirkan hal bodoh yang mungkin akan terlihat menggelikan jika aku melihat diriku sendiri… Lupakan!

DOK DOK DOK! Aku menggedor-nggedor pintu depan rumah Kishimoto-jiisan dengan brutal, berharap dia segera keluar… jujur! Selama 17th aku menjadi tetangganya, aku belum pernah sekalipun melihat wajahnya secara langsung. kalau nggak dari album bokap yang dulunya se-sekolah dengan Kishimoto-jiisan, paling juga dari internet yang kagak ada gayanya itu.

"Hoi! Kishimoto-jiisama…" teriakku tetap dengan menggedor-nggedor pintunya. tetep saja sunyi sepi—tak ada yang menjawab. hmm… sepertinya harus dengan cara licik ya? Aku mengambil posisi berpikirku sambil menatap halaman luas milik Kishimoto-jiisama yang sangat rapi itu. untuk seorang pria yang tinggal sendiri seperti ini, tidak mungkin kan memiliki halaman yang sangat rapi begini? apalagi dia belum pernah keluar rumah sebelumnya, apa mungkin pacarnya yang menatakannya? Memang dia punya pacar? Ha! tapi kalau dipikir lagi, sebagai orang yang seumuran dengan ayahku, sangat tidak mungkin dia belum mempunyai pacar—eh? Jangan-jangan… Payah! Aku malah mikir apaan sih?! eh, tapi… hehe, aku jadi dapat ide!

Dengan senyum mengerikan yang menghiasi wajahku, aku mengangkat sebuah tanaman bunga besar yang diletakkan di tengah-tengah halaman luas itu, lalu siap-siap ambil posisi melempar kearah pintu Kishimoto-jiisan… yah, sebenarnya nggak mungkin juga sih aku benar-benar melemparnya… haha, semoga dia terpancing!

"Matte!" terdengar suara dari dalam, walau pintunya tidak dibuka sih… yah, paling tidak dia mau bicara lah! Dengan senyum kemenangan yang menghiasi wajahku, kuletakkan pot bunga itu masih di depan pintu.

"Mau apa kau!?" tanyanya to the point, sepertinya berharap agar aku segera pergi… bodo! Yang pasti aku bisa complain sekarang!

"Jiisama… a-aku kan main chara, kenapa aku akhir-akhir ini jarang muncul?" protesku langsung to the point juga, ehm! Kenapa aku deg-degan gini sih? Kurasa bukan hal ini yang ingin kutanyakan… terbayang lagi tangan Naruto yang sedang menggenggam tangan Hinata-san… haha, serasi sekali mereka itu. DEG! Dadaku panas! Eh? huaaaa~ kenapa denganku ini?! -/-'

Aku mendongak menatap pintu Kishimoto-jiisan yang masih tertutup rapat… Tik tok tik tok, sial! Aku diabaikan!

"Hoy!" teriakku sekali lagi setelah berhasil menata perasaanku lagi.

"Hey! Jangan bilang kau kesal karena aku buat Naruto dan Hinata scene chapter minggu kemarin?!" diluar dugaanku, dia banyak omong juga ternyata… eh? Ke-kesal? Huh!? "Ternyata… memang lebih manis miliknya Sakura, ya?" Kusso! Aku jadi keinget dia lagi, kan?! -/-'

"N-Nani?! Aku Tanya kenapa aku jarang muncul! Aku tidak peduli sama jalan manganya! Yang penting minggu depan dan seterusnya aku mau tampil lebih banyak dan pastinya aku harus tampak lebih kuat! Kalau perlu, endingnya nanti aku yang jadi hokage!" teriakku yang sepertinya harus kuakui dengan wajah merah ada dua hal yang membuatku merona : 1. Aku dibilang cemburu sama Naruto dan Hinata-san, padahal nyatanya kan enggak! 2. Aku terkesan seperti ingin mengacaukan jalan manga yang mungkin sudah disusun secara apik sama nih om-om lajang—err mungkin

"Ya ya ya… puas? pergi sana!" timpalnya singkat disertai suara langkah kaki yang menjauh dari pintu.

"Hei! Aku belum selesai, jiisama!" teriakan mubazir! Tak ada jawaban! Kusso! Dengan kesal kutendang pot yang akan kulemparkan tadi hingga tanahnya berantakkan didepan pintu Kishimoto-jiisan, lalu segera melanjutkn perjalananku pulang ke rumah yang jaraknya tak lebih dari 10 meter dari rumah Kishimoto-jiisan

.

.

Hmm… aku melamun lagi di balkon kamarku, kulihat mbah gugel sedang menyapu halamannya yang luas itu. yah, tentu saja seluas koneksinya yang sudah ada sebelum masa prasejarah, terkadang aku heran gimana dia bisa tahu zaman-zamannya bumi tercipta… trus, dia dulu itu tinggalnya dimana coba?

Hah? Lupakan yang tadi itu?!

"Oi! Mbah gugel!" panggilku sekeras mungkin, takutnya dianya kagak denger

"Iya, cu! Wot hepen wit yu?" dia hentikan kegiatan menyapunya… teriakannya ternyata nggak kalah kencang dari aku, dasar mbah-mbah sarap!

"Aku minta… semua searching atas namaku didelete ya!" ujarku to the point, suaraku sudah hampir habis Cuma buat teriak-teriakan sama nih mbah-mbah

"Sori, cu! Iku kui mau jenenge Melanggar hak cipta, aku ndak berani…" he-eh? Suara hampir habis gini, malah dibalas begituan!

"Kok ngono?" teriakku untuk terakhir kalinya ngikut-ngikut makai basa jawa.

"Anoo… melanggar hak cipta itu hukumannya berat, cu! dendanya juga gede! menurut undang-unda—" tauk ah! Lupakan saja! Kututup jendelaku dan segera tidur, entar bangun tidur, terus tidur lagi, bangun tidur, tidur lagi… huahahahaha Ai lop yu pul! Muah muach! *kedip kedip #jijjay!

TAMAT

.

.

Eh? Nggak jadi, ding!

.

Detik berganti menit, Menit berganti jam, Jam berganti hari, Hari berganti Minggu, dan terakhir… Minggu berganti bulan…

Okei! Sepertinya Kishimoto-jiisan mendengarkan keluhanku, aku banyak muncul di chapter selanjutnya. yah! Dan setiap hari harus bertemu pemuda yang telah menghancurkan ke-fokusan-ku akhir-akhir ini. Jangan salah paham! Ini tidak mungkin bisa dibilang suka! Dan aku beradu acting bersama Sasuke dan Naruto menjadi legenda sannin berikutnya… yayaya, dan ada satu chapter yang aku mengatakan "Aku ingin jadi hokage selanjutnya" tidak salah lagi, Kishimoto-jiisan pasti dapat ide saat aku complain dengannya… Wkwkwk! Kepedean banget aku ni ya?! Lupakan!

Tapi sejauh ini, tak ada yang istimewa mengenai scene-scene Naruto bersamaku, Sakura, yang biasanya disebar Kishimoto-jiisan seenak jidatnya… Hh! Aku menghela napas pendek, sambil mengeratkan genggamanku pada sekaleng soda ditangan kananku dengan menatap Naruto yang sedang diberi instruksi oleh Jiraiya-jiisama dari kejauhan… Hh!

"Hey! Jangan bilang kau kesal karena aku buat Naruto dan Hinata scene chapter minggu kemarin?!" eh? Kenapa aku malah keinget kata-kata Kishimoto-jiisan waktu itu? Apa aku ini, bisa dibilang… cemburu? "Sejak kapan? aku mulai menyukainya?" aku bergumam pelan lalu mengingat saat-saat Naruto yang memang selama ini dengan mudahnya selalu menuruti kata-kataku, daripada kata-kata Jiraiya-sama selaku si sutradara… hey! Kurasa aku terlalu berharap pada Naruto! Kenapa aku jadi ingin Naruto menyukaiku? Jadi benar aku s-su-suka padanya? Grrrr~ Aku bingung dengan perasaanku sendiri! -/-'

"Menyukai… siapa?" su-suara ini… Kusso! Gumamanku terlalu keras ya? Dengan gerakan patah-patah ditambah efek slow motion yang nggak banget aku menengok kearah sumber suara yang tepat berada di samping kananku, staf sialan yang kerap di-couple-kan dengan Naruto. tunggu dulu! Kenapa aku harus mengumpat untuk Hinata-san? Dia menatapku dengan pandangan menggoda… Sial!

"E-etto.. etto…" kusso! Aku harus jawab apa coba?! Hua~ kenapa aku begitu bodoooh!

"Narutokah?" Hinata-san memotong kata-kataku, dan lagi… tetap dengan pandangan menggoda.

"Tidak! Eh-e-e-e-e-tto…." Hua~ aku kehabisan ideee! tadi pasti kedengaran jelas sekali saat aku bilang "Sejak kapan… aku mulai menyukainya?" Aku menggenggam erat kaleng sodaku dengan dua tangan

"Haha! Sakura… kau itu terlihat seperti sangat berharap bisa dapat scene yang lebih WAW dari scene Naruto dan aku di chapter 615 yang lalu itu." Hinata-san tersenyum ramah dengan tawa yang terkesan kawaii. e-eh? N-nani?! "berharap bisa dapat scene yang lebih WAW"?

"… tenang saja, tak usah khawatir gitu lah!" lanjutnya lalu memberikan beberapa lembar kertas atau lebih gampangnya skrip ku, dan segera berlalu menuju ke tempat Sasuke-san yang tampak sedang istirahat seorang diri tak jauh dari tempatku duduk, oh iya… aku lupa satu hal penting! Hinata-san itu… sudah mempunyai si cakep yang selalu jadi pangerannya Konoha, Uchiha Sasuke-san! dia tidak mungkin benar-benar menyukai Naruto yang memiliki paras standar-standar itu… Huh! Aku bernapas lega… e-eh? Le-lega?

Masa bodoh! Untuk mengalihkan perhatianku dari pikiran nggak pentingku barusan, aku segera membaca kertas skrip yang tertulis besar tulisan CHAPTER 631 : TEAM 7 sebagai judulnya… Cih! Judul yang mainstream…

.

.

Tulisan di kertas : PS : Dialog & Scene yang di Bold, **innerku : Gue udah tau!

(Minato telah tiba)

Sakura : Siapa dia? (Sakura bingung dengan orang yang tiba-tiba datang memindahkan Bijuudama dari Juubi)

Minato : Aku Namikaze Minato, bersiap-siaplah untuk sebuah ledakan! (Sakura masih bingung, lalu mendengar suara ledakan)

Sakura : Tadi itu apa? (Tetap dengan wajah bingung)

Minato : Aku memindahkan serangan Juubi ke laut (Sakura masih bingung) **innerku yang lagi setelah baca dialog satu ini : Gile! Kebanyakan scene aku jadi orang bingung-an! Kishimoto-jiisan! Awas lu ya?!

Sakura : (menatap mata edo tensei Minato dengan tatapan waspada) E-do tensei? Ka-kau adalah…

Minato : Tidak apa-apa… Aku berada dipihakmu… terima kasih telah memulihkan Naruto… Apa kau pacarnya?

Heeeeeeeeeh? A-apa-apaan ini?! Kenapa ada dialog 'nggak berguna' macam ini disituasi perang?! Apa… ini filler? Kalau dipikir-pikir… apa mungkin? Kishimoto-jiisan buat dialog beginian?! Jujur! Aku benar-benar nggak yakin! Tapi, ini cukup menarik… entah kenapa aku jadi tidak bisa berhenti tersenyum bahagi. jangan berburuk sangka! Aku senang karena para fans Narusaku mungkin akan senang dengan chapter ini, setelah mungkin patah hati atas chapter 615 kemarin… Inget ya, aku hanya ingin para penggemar Narusaku senang! Sudah! 'hanya' itu! *Modus*

Sudahlah! Ayo lanjutkan bacanya dulu!

Naruto : Uuuuuhmmm… hmmm… ya! Kurang lebihnya begitu…

Sakura : (terbelalak kesal lalu menghajar Naruto) Urusai! Simpan tenagamu!

Naruto : AAAWWW!

Sakura : Bukannya aku menyembuhkanmu! Malah kau membuat dirimu sendiri kesakitan! Aku akan menambah kecepatan memulihkanmu! (dengan nada kesal pada Naruto)

Minato : (melihat Sakura) [Gadis ini mengingatkanku … pada Kushina] Jagalah anakku baik-baik…

Yaks! Kenapa juga si Naruto harus menjawabnya? Kishimoto-sialan! Apa aku bisa melakukan scene ini dengan baik dan benar? DEG! Secara nggak langsung, scene beginian kan… Ugh! Aku mikir apa sih? Aku kan nggak benar-benar suka pada Naruto! kenapa juga harus khawatir sama scene beginian! Orang waktu aku dapat scene 'meluk Naruto' di episode 175 dan digendong(?) bridal-style sama Naruto di episode 214 aku biasa aja… haha! Scene beginian mah nggak ada apa-apanya dibandingkan yang itu-itu tadi… DEG! Oh my! Kenapa juga sih aku masih gelisah aja?! Firasatku buruk sepertinya… he?

Huft! Positive thinking-lah, Sakura! Abaikan yang ini! Aku harus menghafal dialog-ku yang selanjutnya! Kembali ku fokuskan pikiranku pada lembaran-lembaran skrip chapter 631 yang tak begitu penting untuk kutuliskan disini…

.

.

.

.

Di lokasi…

ACTION!

"Siapa dia?" aku berakting bingung dengan orang yang tiba-tiba datang memindahkan Bijuudama dari Juubi

"Aku Namikaze Minato, bersiap-siaplah untuk sebuah ledakan!" ujar Minato-jiisan, sementara aku masih berakting bingung dan terdengarlah suara ledakan

"Tadi itu apa?" aku berujar Tetap dengan wajah bingung

"Aku memindahkan serangan Juubi ke laut" jawab Minato-jiisan dengan tatapan meyakinkan, sementara aku masih harus terlihat seperti orang kebingungan

"E-do tensei? Ka-kau adalah…" ucapku sambil menatap mata edo tensei Minato-jiisan dengan tatapan waspada

"Tidak apa-apa. Aku berada dipihakmu, terima kasih telah memulihkan Naruto. Apa kau pacarnya?" pertanyaan yang paling tidak kudengar akhirnya sampai juga, kusso! DEG! Aku tampak gelisah sepertinya… aduh! Mulai nggak focus! Ayolah, Sakura! Fokuslah!

"Uuuuuhmmm… hmmm… ya! Kurang lebihnya begitu…" Naruto menjawabnya dengan santai, dia ini! benar-benar tak bisa baca suasana! Huuua~ Aku sudah tidak tahan lagi! Shannarooo~~~

"Urusai!" reflek aku menghajar Naruto dengan sekuat tenaga hingga dia benar-benar terjatuh hingga mencium tanah dibawahnya, e-eh? A-apa yang kulakukan?!

"Sakura?" Naruto menatapku bingung sambil memegang kepalanya yang habis kena hantam tanganku yang tak kusangka hampir-hampir mirip dengan Sakura-ori manga… Tsk! Dia ini… benar-benar menyebalkan sekali sih! Batinku sambil menatapnya dengan alis yang bertautan.

"CUT!"

Aku mendengar Jiraiya-jiisama meng-cut anime ini… reflek beberapa pemain mendekat ke Naruto dan kulihat Sasuke-san membantunya berdiri, ya tentu saja… walau dia itu tampak selalu sehat wal afiat setelah dihantam Sakura-ori manga, kenyataannya dia itu hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit dan perlu kalian tahu, itu semua hanya acting! Aku sebelumnya belum pernah menghajarnya, itu hanya efek dramatis yang terkesan lebay dari para staf…

Semuanya tampak mendekat padaku dan Naruto, termasuk nyokap Naruto yang entah kapan datangnya kini berdiri di dekat Minato-jiisan… DEG! Kusso! Aku harus bilang apa nih coba?!

Tik tok tik tok, suasana jadi canggung… mereka menatapku seolah minta penjelasan atas apa yang kulakukan.

"Hh! Kau ini… benar-benar ingin scene ini diulang dan terus diulang, ya?" suara ini? Hinata-san? Sejak kapan dia di kananku? Dan apa tadi katanya? Scene ini… diulang-ulang?

"Kau suka kan… dibilang pacarnya Naruto?" dia menatapku dengan pandangan menggoda, dan para pemain dan staf lainnya tampak mengangguk-angguk mengerti, kecuali Sasuke-san dan Minato-san yang tampak geleng-geleng dengan senyum calm khas masing-masing

"E-etto… Bu-bukan itu. I-i-itu tadi, hanya reflek saja kok, aku tadi tiba-tiba keingat sesuatu yang menyebalkan… yah! Sesuatu yang sangat menyebalkan…" hehe, ayolah! Semoga dia tertipu

"Dan… apa itu?" Kusso! Dia susah banget sih ditipunya! e-etto… sesuatu yang menyebalkan itu, aku coba mengingat-ingat 'sesuatu' itu… "Sedang menunggu giliran?""Sakura-chan…""Ternyata… memang lebih manis miliknya Sakura, ya?""Wakattebayo!""Jaa, Sakura-chan!"Kusso! Kenapa malah wajah itu lagi yang muncul di kepalaku.

"E-etto…" a-aduh… tatapan Hinata-san membuatku semakin sulit berpikir. DEG! Dadaku sesak, wajahku terasa panas… pasti sekarang wajahku sudah sangat merah. Aku coba memejamkan mata agar bisa berpikir lebih jernih.

TEP! Sret, sret! Sesuatu yang lembut dan hangat mengusap pipiku, reflek aku membuka mataku, dan yang terlihat adalah… jreng jreng! Siapa lagi kalau bukan Orochimaru-jiichan… tet toot! Salah! Itu adalah Naruto, Uzumaki Naruto terlihat seperti membersihkan pipiku dengan sapu tangan yang sangat mirip dengan milik ibunya, ditambah lagi dia menatapku hangat yang persis juga dengan tatapan ibunya tempo hari.

"Hh! Kukira efek darah yang tak sengaja kau usapkan di wajahmu… ternyata, wajahmu memang sedang memerah ya? Kau demam?" dia tetap saja berusaha mengusap wajahku yang mungkin memang sedang merona… Grr~ laki-laki ini… memang, sangat menyebalkan! Dia ini benar-benar tak bisa baca situasi ya? Kulihat para pemain yang lain serta para kru menatap kegiatan orang yang menyebalkan ini dengan heran… malah beberapa gadis (Ino, tenten, temari) tampak memerah juga wajahnya.

He? Aku kembali menatap orang yang menyebalkan ini yang masih saja mengusap wajahku ini… dan dia tersenyum lebar sampai-sampai kedua matanya tertutup. DEG! Reflek tangan kananku berayun kembali tepat ke pipinya.

"Naruto-no-baka! Yang sangat menyebalkan itu kamu, tahu!" teriakku saat dia terpental dari hadapanku dan kulihat Obito-san berhasil menangkapnya, dan kurasa… wajahku sudah benar-benar merah sekarang. Kami-sama! bantu aku, aku janji nggak bakal tsundere lagi kalau anda membantuku sekarang ini.

"Ehm! Jadi…" Jiraiya-jiisama berdehem dan memutuskan kata-katanya sendiri

"Istirahat dulu lah, jiisan!" timpal Hinata-san cepat dan langsung deh, bubar semua kerumunan itu… termasuk Obito-san yang dibantu Sasuke-san dan Kakashi-san segera membawa Naruto ke tim medis yang asli.

"Sudah kubilang Tak usah khawatir, kan?" Hinata-san tersenyum padaku sekilas lalu berlari menyusul kekasihnya Sasuke-san berlum terlalu jauh sedang memapah Naruto bersama Obito-san

Kusso! Aku selamat! Tapi, aku nyesel akan apa yang kujanjikan beberapa detik yang lalu, saat situasi sangat tidak mendukung : "Aku janji nggak bakal tsundere lagi kalau anda membantuku sekarang ini…" Kusso! Kusso! Kusso!

.

.

.

Syuting berlanjut, aku semakin canggung jika sedang didekat Naruto… Menyedihkan!

.

.

.

.

.

.

.

OWARI (?)

OMAKE

Di suatu waktu, saat pulang syuting… yah, chapter akhir-akhir ini hanya menceritakan kisah perjuangan trio legenda sannin new generation plus keempat ex-hokage versus Obito & Madara Uchiha… ya ya ya, tak ada hal-hal berbau romance seperti yang dulu-dulu. hmmm… pasti fangirls animanga NARUTO mulai bosan sama perang-perangan itu, yah! Insting cewek : suka hal berbau romance… Tapi, apamaudikata? Memang aku bisa apa?

Saat melewati rumah Kishimoto-jiisan… terpikir suatu hal. Hmmm… aku tersenyum bahagia.

Dengan mengendap-ngendap yang bisa dibilang memalukan, berasa mau maling nih aku. Niatnya sih, aku ingin mengagetkan tuh mangaka yang berhasil membuat hidupku berantakan… tapi suatu percakapan menghentikan langkahku, dan dengan tidak elitnya… aku menguping pembicaraan mereka.

"Yayaya… chapter yang bagus, jiisan…" itu! itukan suaranya Naruto!

"Yah, aku tau… aku ini memang genius!" itu suara Kishimoto-jiisan

"Sakuranya… Ugh! Cantik sekali deh!" timpalan Naruto membuat wajahku memanas.

"… Ayo buat yang lebih sexy lagi, jiisan!" ujar suara baritone itu lagi

Segera kututup telingaku lalu berjalan kembali menuju rumahku sambil senyum-senyum gaje dengan wajah merah yang sudah mulai menjadi kebiasaan untukku.

.

.

Hari berikutnya…

"Capek ya, syuting terus?" ujarku retoris pada Naruto yang tampak sedang istirahat sambil minum soda yang bermerk c*c* c*l* tanpa sedotan seperti apa yang kubilang dua hari yang lalu dan entah kenapa itu membuatku senang

"Yosh!" jawabnya semangat sambil menurunkan kaleng soda itu dari mulutnya, dan reflek aku merebut kaleng soda itu lalu meminumnya tanpa permisi lalu memberikan sisanya lagi pada Naruto yang menatapku heran… Hari ini, aku sudah ciuman dengannya sekali… Yes!

"Jaa… Naruto-kun!" ujarku kemudian segera berlalu seperti yang dilakukannya sebulan yang lalu… Naruto, aku suka padamu! Teriakku dalam hati sambil mengintip Naruto yang minum minuman sisaku tadi dengan santainya… Kyaaa~~ seneng banget deh!

OMAKE part II (Author said)

Ehm! Adakah yang penasaran akan percakapan Naruto dan Kishimoto-sensei? Kira-kira beginilah dialog mereka :

Naruto : [menunjuk gambar doujinshi Cardcaptor Sakura yang di-parody-kan Kishimoto-senpai dengan body Tsunade] Yayaya… chapter yang bagus, jiisan…

Sensei : Yah, aku tau… aku ini memang genius! [memuji doujinshi sendiri]

Naruto : Sakuranya… Ugh! Cantik sekali deh… Ayo buat yang lebih sexy lagi, jiisan!

Intinya, mereka sedang tidak membicarakan Haruno Sakura, sering nggak kalian para cewek merasa seperti diperhatikan cowok hanya karena mereka terlihat seperti melototin kalian, padahal nyatanya mereka sedang ngelamunin apalah gitu? Hayo ngaku! **berdasarkan pengalaman pribadi** Jadi, kira-kira begitulah apa yang dirasakan Sakura.

OMAKE part III

Kesalahpahaman Sakura ternyata lama-lama terdeteksi juga oleh Naruto… Naruto kemudian mulai menyukainya… dan mereka hidup bahagia selamanya… TAMAT

OMAKE part IV

Ending yang memaksa!

Kehabisan Ide! Gommenne… Jaa-ne!

#Ngacir

Oya?! #Balik lagi

butuh Sequel nggak nih? *ngarep

Bye bye! ^0^

RnR