–PROLOGUE–
Udara malam ini terasa sangat dingin dan menusuk. Ayudia mengencangkan syal putih yang ia baru saja ia kalungkan dilehernya. Sejujurnya agak berat ia pergi meninggalkan Ayah dan kakaknya sendiri di rumah, tapi mau bagaimana lagi, Ayudia sudah memutuskan bahwa ia akan tinggal bersama Henrick. Lelaki mapan keturunan Belanda itu berhasil membuat Ayudia jatuh hati. Walau usia mereka terpaut sepuluh tahun, tapi itu tidak membuat gadis itu mundur. Padahal usianya yang baru menginjak lima belas tahun itu masih terlalu muda untuk sebuah ikatan yang disebut dengan pernikahan.
"Ayudia, kau benar-benar yakin dengan keputusanmu itu?" Henrick menaikan sebelah aslinya, menatap gadis muda itu skeptis. "Aku tidak memaksamu untuk ikut ke Belanda dan ..–"
Ayudia mendengus kesal lalu memotong ucapan Henrick. "Sudah kukatakan berkali-kali. Aku serius, yakin banget malah."
"Bagaimana dengan kakakmu, Wigantara dan ayahmu?"
"Ah, jangan sebut nama kakakku yang menyebalkan itu! Sudahlah, kau tidak mau tiket pesawat ini terbuang percuma, 'kan?" Henrick mendesah pelan. "Sebentar lagi kita berangkat, jadi lupakan saja semua yang berhubungan dengan yang ada di sini."
"Baiklah, baiklah. Tapi jangan merengek minta pulang lagi nanti."
"Enggak akan deh."
Gadis itu memeluk tangan kekasihnya dengan wajah berseri-seri. Hatinya tidak sabar untuk segera pergi meninggalkan tempat yang indah nan permai –setidaknya begitu sebelum jadi menyebalkan saat kakaknya membuatnya 'hancur'–. Salahkan saja kakaknya yang super overprotective terhadapnya, sampai-sampai menjalani hubungan dengan pemuda Belanda itu dilarang. Katanya sih Ayudia belum cukup dewasa untuk membina hubungan. Aku membencimu, Kak, ucap Ayudia dalam hati.
Hetalia: Axis Power – Hidekaz Himaruya
–Netherlands, Indonesia and Parallel Nations–
Warning; Out of Character, Out of Topic, Typo(s), Alternative Universe, Multiple Chapter, Collab Fict with Kuroneko Lind
–Don't like, don't read–
Pagi harinya..
"Ayah~," suara Wigantara terdengar sangat keras sampai ke rumah tetangga sebelah. "Ayudia hilang~!"
"Apaahh~! Anak gue ilang!"
Pemuda itu cuma bisa geleng-geleng mendengar komentar ayahnya. Sungguh demi apapun itu, kenapa ayahnya belum bisa menerima kenyataan sih kalau beliau itu sudah hampir kepala empat, tapi bahasa yang digunakan seperti bahasa remaja tanggung pada umumnya. Memang tampil muda itu tidak dilarang tapi kalau memaksakan seperti ini malah terlihat aneh.
"Dia ninggalin memo ini." Pemuda itu menunjukan secarik kertas pada ayahnya. "Dia minggat tuh bareng si Belanda sialan itu!"
"Oh ya udah deh gak apa-apa?"
"What damn hell! Masa' Ayah biarin gitu ajah Ayudia sama itu Meneer!"
"Eh, panggil gue Daddy, 'key. Satu hal lagi, Ayudia itu udah cinta mati sama siapa itu namanya Jangkrik, eh siapa sih?"
"Henrick, Ayah."
"Nah, itu dia, Henrick van Derrheign. Dia pasti bahagia."
Rasanya Wigantara ingin menjambak ayahnya itu layaknya ibu-ibu arisan yang suka berantem. Mana ada seorang ayah yang melepaskan putrinya dengan orang yang tidak jelas seperti itu. "Tapi aku gak rela. Dia itu masih sekolah, Ayah. Seminggu lagi dia masuk SMA gimana soal pendidikannya?"
"Lu gantiin dia ajah sementara."
"Apa? Aku ini cowok masa' harus nyamar jadi cewek. Cewek SMA lagi!"
"Loh, ini demi adek lu. Masa gak mau nolongin, sih?"
"Tapi aku ini anak kuliahan , Ayah."
"Halah, ambil ajah kelas malem paginya sekolah. Ribet amat sih."
"Argh~!" teriak Wigantara frustasi. Ia berjalan keluar dari kamar adiknya, Ayudia, sambil membanting pintu. Dalam hati pemuda itu terus saja merutuk kesal.
"Woi, Wigan, udah lu nyamar ajah tar gue usahain –kalau niat itu juga– bujuk Ayudia balik ke rumah!" seru ayahnya dengan santai.
"Ogah~!"
–Ooo0ooO–
Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan 'penderitaan' Wigantara saat ini. Dia harus merelakan bulu kakinya untuk dipangkas alias dicukur habis agar tidak terlihat jika nanti memakai rok. Padahal reputasinya sebagai mahasiswa terganteng di kampus lumayan membuatnya bangga, tapi naas dia harus menggantikan adiknya sebagai siswi SMA. Usianya hanya beda empat tahun dari adiknya dan dari segi wajah tidak terlihat begitu tua.
Awas lu Henrick, gue susul ke Belanda dan bawa balik adek tersayang gue, ujar Wigantara dalam hati dengan panas. Tidak lupa juga sebuah kutukan yang ia harap sampai kepada yang dituju.
Bagaimakah kisah selanjutnya seorang Wigantara Hermawandara menggantikan adiknya, Ayudia Hermawulandari , sebagai siswi SMA? Juga, bagaimanakah kehidupan Ayudia bersama Henrick di Belanda?
Tunggu lanjutannya.
–A/N–
First Collab Fict. Konsepnya dari Kuroneko Lind cerita saya yang buat. Repot juga saling kirim pendapat lewat e-mail. Semoga Lind-san gak kapok ya collab sama saya. Saran, kritik silakan tuangkan dalam kotak review.
Please.
