Wigantara terduduk lemas di kursinya. Untunglah mata kuliah hari ini tidak begitu berat dan ia bisa sedikit mengistirahatkan matanya –alias tidur di kelas. Entah kenapa rasanya hidupnya berubah menjadi semakin buruk sejak adiknya menjalin hubungan dengan seorang pengusaha –sukses– asal Belanda. Saat itu adiknya, Ayudia, baru menginjak bangku SMP tahun ketiga dan akan menghadapi ujian. Bukannya pusing memikirkan soal ujian negara, gadis itu malah sibuk memikirkan soal pernikahan. Ayolah, adiknya baru lima belas tahun masak harus menikah di usia yang semuda itu. Untunglah Ayudia berhasil lulus SMP dan Wigantara menyuruhnya untuk melanjutkan sekolah ke SMA, tapi Ayudia malah menolak.
Sejak kecil mereka berdua memang susah akur. Bahkan sampai sekarang pun mereka masih sering bertengkar atau berselisih paham hanya karena masalah kecil. Bukan karena apa-apa, Wigantara hanya tak ingin adiknya tak salah memilih jalan. Sayang rasa sayangnya malah di anggap sebagai sikap yang mengekang bagi Ayudia. Apa salahnya, sih, dengan kasih sayang seorang kakak?
"Hei, Wigan? Molor lu, ya?" tanya Gilbert sambil menggoyang-goyangkan tubuh pemuda itu. "Wigan?"
"Ngh~." Desahan Wigantara yang sukses membuat Francis mimisan di tempat.
Buset, ini bocah kenapa jadi berasa seksi gini, batin Gilbert, Antonio dan Francis.
"Wi-Wigan?" kali ini Antonio yang coba membangunankannya.
Tubuh Wigantara menggeliat kecil di kursinya dan mengangkat wajahnya malas. Wah, dia punya kantung mata di dalam kantung mata (?) juga hitam. Ketiga temannya melihat Wigantara dengan tatapan heran. Sementara yang bersangkutan masih berusaha mengumpulkan nyawa.
"Abis begadang lu, Wig?" tanya Francis.
"Wig, Wig, apaan sih nyingkat-nyingkat nama gue segala. Gue lagi banyak pikiran, nih." Omel Wigantara yang jarang-jarang si tampan ini mengomel tanpa mengatakan alasannya lebih rinci.
"Banyak pikiran gimana? UAS 'kan masih bulan depan."
"Bukan soal UAS, Gil. Adek gue minggat dan bokap gue lagi kena masa puber kedua."
"Adek lu yang semok plus caem itu minggat?" Francis histeris dan entah kenapa ucapannya itu terdengar tidak perlu penting untuk diucapkan.
Wigantara memutar kedua matanya. "Dan gue disuruh gantiin dia buat sementara waktu sampe bokap gue bisa bawa balik tuh bocah."
"Jadi lu mau nyamar jadi adek lu?" tanya Antonio yang lebih bersifat pertanyaan retorik.
Wigantara hanya mengangguk sementara ketiga temannya mulai tersenyum. Senyum mereka bervariasi, Gilbert yang tersenyum karena bisa membayangkan seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang terkenal ganteng sefakultas Sastra memakai seragam SMA untuk perempuan. Kalau gini, sih, gak ada lagi yang bisa menyaingi ke-awesome-an-nya lagi. Francis yang sudalah tak usah diketik, kalian pasti sudah bisa membayangkan apa yang ada di pikiran si mesum itu, 'kan. Lalu, Antonio yang setidaknya lumayan 'agak' normal pemikirannya. Ia hanya membayangkan betapa manisnya Wigantara bergaya ala anak SMA yang masih polos dan imut. Maklum saja dia tipe yanga penyayang pada anak-anak dan remaja.
"Lu bertiga kenapa senyum-senyum gak jelas gitu?" tanya Wigantara curiga.
"Enggak kok." jawab ketiganya hampir bersamaan.
Hetalia: Axis Power– Hidekaz Himaruya
–Netherlands, Indonesia and Parallel Nations–
Warning;Out of Character, Out of Topic, Typo(s), Alternative Universe, MultipleChapter, Collab Fict with Kuroneko Lind
–Don't like, don't read–
Iris coklat Ayudia tampak sedikit meredup. Ia memang sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Jauh dari kakaknya yang overprotective dan bisa bersama Henrick, kekasihnya saat ini. Tapi entah kenapa rasanya baru beberapa hari jauh dari keluarganya membuat hatinya terasa kosong. Ada yang hilang dan terlalu sepi.
"Ayu." Kedua tangan Henrick memeluk tubuh mungil Ayudia dari belakang. Tangannya membelai perut gadis itu dan meletakan kepalanya di atas kepala Ayudia. "Kau rindu keluargamu, yah?"
"Enggak kok. Cuma rasanya di sini suasananya agak beda gak kayak di rumah."
"Jelaslah, di sini tidak ada kakakmu yang selalu cerewet kalau kita sedang berduaan. Tidak ada bakiak atau sendal jepit yang melayang nyaris mengenai wajahku yang ganteng ini, 'kan."
Ayudia tersenyum kecil. "Ganteng? Kata siapa kamu ganteng?"
"Kalau aku gak ganteng kamu pasti enggak akan mau tuh." Henrick menyentil hidung Ayudia pelan. "Eh, kamu tau gak bedanya Monas sama kamu itu apa?"
"Hmm, apa?"
"Kalau Monas itu milik negara, kalau kamu cuma milikku seorang."
"Aih, gombal, deh."
Tawa riang menghias wajah manis Ayudia. Wajah sendu yang tadi ia tampakan kini sudah hilang terganti dengan wajah cerianya seperti biasa. Sedikit lupa ia dengan rasa rindu dengan rumah, tapi mulai sekarang ia harus terbiasa dengan lingkungannya yang baru. Bagaimanapun, ia akan segera menjadi istri Henrick. Tidak boleh bersikap kekanakan lagi, ia harus bisa bersikap dewasa.
– Sreth!
Suara tarikan lakban hitam terdengar sangat menakutkan di telinga Wigantara. Bagaimana tidak, lakban hitam itu nantinya akan ditempelkan di kakinya dan mengeksekusi alias mencabut bulu kakinya. Ayahnya hanya cengengesan gak jelas di sampinya, sementara yang akan menjalankan misi mencabut bulu kaki itu Francis. Gilbert mengikat ke dua tangan Wigantara dan Antonio mengikat ke dua kaki pemuda itu di atas ranjang. Wigantara yang kini yang hanya memakai kaos dan celana boxer doang dengan susah payah menelan ludahnya. Segala macam mantera ia rapal bahkan sampai ayat kursi pun ia baca. Mulutnya terus berkomat-kamit berharap ini cepat berakhir.
"Siap. Satu.., dua.., tiga!" dengan sekali tarikan bulu-bulu kaki itu langsung tercabut secara paksa. Sedang si korban –Wigantara– hanya menelungkupkan kepalanya di atas bantal menahan rasa sakit yang luar biasa. "Wigan, lu gak apa-apa, 'kan?"
"Sinting lu Francis, apanya yang gak apa-apa?"
Entah apa yang ada di pikiran Francis. Melihat wajah memerah Wigantara yang menahan sakit itu membuatnya berlari ke wastafel karena hidungnya mengeluarkan darah karena mimisan –lagi. Ayah Wigantara masih tetap cengengesan.
"Giliran guge, giliran gue~!" teriak Gilbert yang sepertinya senang akan mencabuti –atau lebih tepatnya menyiksa– temannya itu.
"What the damn hell? Kenapa elu-elu pada malah pada seneng nunggu giliran nyabutin bulu kaki gue?" Protes Wigantara.
"Si Francis tuh 'kan udah tadi pertama, sekarang giliran gue."
"Jangan, woi, Gil. Aduh, please dong."
– Sreth!
"Cabut!" suara Gilbert terdengar sangat puas dan senang.
"Gyaaaa~! Suck it tau gak, sih!" Wigantara mulai mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Tadi dia bilang apaan? Sakit apa suck it?" tanya Antonio mencoba meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.
"Meneketehe. Sekarang giliran lu, Antonio." Ujar Gilbert sambil menyerahkan lakban hitam pada Antonio.
Sedikit tidak tega Antonio melakukan hal ini. Ia jadi ingat anak tetangganya yang bernama Lovino. Sekarang Antonio terkena dilema antara menjalankan tugas dengan kesenangan yang tidak mungkin datang dua kali. Angel Side-nya menyuruh Antonio untuk jangan melakukannya, tapi Devil Side-nya menyuruh untuk melakukannya.
"Gil, gue gak tega. Dia 'kan sohib kita."
"Ah, elu mah malah ngomong gitu. Ini tuh demi kebaikan adeknya si Wigan. Bener gak, Om?"
Ayah Wigantara cuma angguk-angguk tanda setuju. "Tar Om juga mau coba, yah?"
"What? Ayah, ngapain ikutan, sih?"
"Soalnya kayaknya tuh asyik banget."
Anjrit! Ini semua bener-bener gara tuh kepala tulip! Dia udah bawa kabur adek kesayangan gue dan buat gue jadi menderita gini. Awas ajah kalau sampe ketemu, gue tabok pake sendal jepit keramat gue, batin Wigantara penuh dendam.
-Ooo0ooO-
Setelah bulu kaki Wigantara tercabut habis semua, ia hanya bisa berbaring lemas di atas ranjang. Wajahnya pucat dan ke tiga temannya malah asyik main X-BOX miliknya sambil makan kacang tak memahami keadaannya saat ini, mereka malah bersenang-senang di atas penderitaan dirinya. Ini baru pengorbanan awal yang harus dilakukan Wigantara dan walhasil, tubuhnya langsung panas-dingin. Beberapa jam setelahnya ia terkena demam.
Ia melirik jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya. Sudah pukul empat sore waktunya ia mandi, tapi dengan keadaan demam seperti ini bagaimana dia bisa mandi. Ke tiga orang temannya yang sedari tadi sibuk bermain X-BOX kini sudah berpindah bermain PS 2. Benar-benar merepotkan.
– Trrrt trrt
Ponselnya bergetar tanda sebuah panggilan baru masuk. Dilihatnya layar ponsel untuk mengetahui nama si penelepon. Matanya membesar ketika melihat nama yang muncul itu ternyata kekasihnya sendiri. Wigantara lupa kalau hari ini ia ada kencan dengan kekasihnya yang keturunan Malaysia itu. Perasaannya campur aduk dan tanpa disadari tangannya malah melempar ponselnya ke dinding.
"Argh~!" teriak Wigantara frustasi.
To be continued..
– A/N –
Uwah maaf, kita update-nya lama. Ada banyak yang menghambat kita buat lanjutin fict ini, yah, tapi yang terpenting akhirnya fict ini bisa berlanjut. Makasih sebelumnya yang udah mau review. Terakhir kritik dan saran?
