– Trrrt trrt
Ponselnya bergetar tanda sebuah panggilan baru masuk. Dilihatnya layar ponsel untuk mengetahui nama si penelepon. Matanya membesar ketika melihat nama yang muncul itu ternyata kekasihnya sendiri. Wigantara lupa kalau hari ini ia ada kencan sekaligus harus menjemput kekasihnya yang keturunan Malaysia di bandara. Perasaannya campur aduk dan tanpa disadari tangannya malah melempar ponselnya ke dinding.
"Argh~!" teriak Wigantara frustasi.
Ke tiga temannya langsung terdiam –sekaligus berpelukan – karena saking kagetnya. Wigantara bangkit dari atas ranjang. Wajahnya yang memerah karena marah juga demam membuatnya seperti banteng peliharaan Antonio yang jarang dikasih makan.
"Elu bertiga anterin gue jemput Anisia ke bandara." Ujar Wigantara dengan tarikan napas yang tidak teratur.
"A-Anisia pacar lu yang dari Malaysia itu?" tanya Gilbert.
– Death glare!
"Iya, iya kita paham~!"
Trio kurang kerjaan itu langsung berdiri dan mengambil sikap siap siaga sedang yang bersangkutan cuma bisa ngos-ngosan. Gila, masa cuma gara-gara dicabutin bulu kakinya doang bisa sampe demam gini. Wigantara mengambil jaketnya dan mengalungkan syal di leher jenjangnya itu.
Dengan tertatih-tatih Wigantara menuruni tangga. Entah kenapa jadi berasa udah aki-aki gini. Sebenarnya, sih, Wigantara malas banget harus menjemput Anisia. Tapi mau gimana lagi dia udah terlanjur cinta, walau di hadapan yang bersangkutan enggak bisa bersikap romantis.
"Ayah, aku pergi ke bandara dulu." Ujarnya sambil membenarkan syal.
"Udah berapa kali dibilangin panggil gue Daddy, Wigan."
Wigantara memutar ke dua bola matanya. "Iyalah tar ajah kalau inget."
"Loh, katanya lu sakit? Kok pergi?"
"Mau jemput Anisia, bisa ngomel-ngomel nanti dia kalau gak dijemput."
Ayahnya terdiam sejenak. "Hati-hati."
Untuk beberapa saat ini membuat Wigantara bengong di tempat. Tumben banget ayahnya bisa ngomong bener gitu. Kesambet apaan tuh?
"Iya." Jawab Wigantara singkat sambil menutup pintu dan berjalan keluar menuju mobil Francis.
Selama perjalan menuju bandara yang ada di pikiran Wigantara masih soal adiknya. Tiga hari sudah berlalu dan ia belum melakukan apapun untuk bisa membawa pulang adiknya. Ia mendesah pelan. Sesampainya di bandara, bukan salam hangat tanda cinta atau rindu melainkan keluhan dan kata-kata penuh kemarahan yang Wigantara terima. Jelas ini membuat pemuda itu jadi semakin pusing dibuatnya.
"Bagus banget, yah, telat setengah jam, Wigan!" Anisia mulai berkicau.
"Tadi macet."
"Terus kenapa HP kamu gak bisa dihubungin? Di sms gak bales, ditelepon gak aktif. Apa susahnya, sih, ngomong?"
Wigantara mendesah malas. "HP aku rusak..."
Salah sendiri tadi pake acara dibanting segala, batin tiga temannya
"Kenapa gak beli yang baru?"
"Kalau beli yang baru nanti makin telat ke sininya. Nanti kamu marah-marah lagi, capek aku dengernya."
"Oh, gitu?" Anisia mendelik tajam. "Jadi kamu udah bosen sama aku? Ya udah kita udahan ajah!"
"Ya udah kalau itu mau kamu. Kita putus."
"Ok, fine!"
–Jleb!
Untuk sesaat otak Wigantara memutar ulang kata-katanya dan Anisia yang terakhir. Putus. Kita Putus. What the hell, kenapa bisa ia mengeluarkan kata-kata yang malah memancing berakhirnya hubungannya dengan gadis itu. Wigantara masih cinta sama Anisia dan dengan bodohnya mengatakan bahwa hubungan mereka berakhir. Sungguh demi apapun itu, ini hal yang sangat ceroboh.
"Nis, kita putus?" tanya Wigantara sedikit mengecilkan suaranya di bagian akhir kalimatnya
"Iya! Ini semua 'kan karena kamu tadi yang bilang. Aku mau pulang lagi ke Malaysia."
"Nis, jangan dong. Aku tadi gak sengaja." Dengan nada sedikit memohon pemuda itu memegang salah satu tangan kekasihnya. "Nisia tolong ngertiin aku dong."
"Lepasin!"
Antonio, Gilbert dan Francis saling berpandangan satu sama lain. Rasanya apa yang mereka lihat itu sangat familiar. Ya, sangat familiar. Sinetron. Satu kata itu langsung terlintas di pikiran mereka bertiga. Hanya karena hal sepele tapi bisa menjadi besar karena dilebih-lebihkan. Wow, sekali kejadian yang saat ini sedang mereka lihat –lebih tepatnya ditonton secara live.
"Err, gue mau nelepon cewek gue bentar, yah." Antonio mundur beberapa langkah sambil melambaikan ponselnya.
"Buruan, yah, udah mulai bosen liat si Wigan sama ceweknya berantem enggak jelas gini." Gilbert mengingatkan.
"Iya, iya."
Antonio mengeluarkan jurus mengetik cepat dan segera menghubungi kekasihnya, Bella. Gadis cantik dan ceria yang berasal dari Belgia. "Fusoso, halo sayang."
"Halo juga Anto. Tumben nelepon ada apa, nih?" jawab Bella yang jauh di sana.
"Duh, jangan panggil Anto dong, kalau kata si Gilbert, sih, gak awesome banget."
"Iya, deh, iya. Ada apa Antonio sayang?"
"Temenin aku ngobrol dong. Bosen nih masa harus liat temen yang lagi berantem sama ceweknya."
"Loh, emang mereka kenapa?"
"Biasa, yang cewek marah-marah gara-gara cowoknya dateng telat. Berantemnya di depan umum lagi, enggak tau sikon banget."
"Wah, parah banget tuh."
Antonio mengangguk tanda setuju. "Iya, parah banget deh. Udah gitu kasian banget tuh cowok, udah adeknya kabur sama pacarnya, berantem sama ceweknya yang tadi gak sengaja diputusin, terus dia harus nyamar jadi adeknya yang sekarang harusnya masuk SMA."
"Oh em gee... Itu sih namanya udah jatoh ketimpa tangga, keserempet angkot sama ketabrak becak. Sialnya beruntun banget." Ujar Bella miris.
"Betul, betul, betul."
"Eh, Antonio, tau gak kayaknya si abang mau nikahin anak ABG deh."
"Serius? Loh, abang kamu pedobear ternyata."
"Iya, serius. Mana itu anak harusnya sekarang masuk SMA tapi karena kebelet pengen kawin sama si Abang akhirnya dia ninggalin gitu ajah bangku sekolah." Bella memberi jeda untuk mengambil napas. "Terus parahnya itu cewek ABG kabur dari rumahnya dong dan ninggalin Abangnya sama bapaknya di rumah."
"Idih, parah amat itu cewek. Gak bener tuh, harusnya itu abangnya cegah adeknya dong biar gak sembarangan nikah muda."
"Tau deh. Eh, nanti disambung lagi, yah. Abang Henrick manggil-manggil dari tadi."
"Ah, ganggu ajah kita lagi asyik. Ya udah, sampe nanti Bella sayang."
"Ok, sampe nanti Anto."
Pemuda itu menutup sambungan teleponnya lalu terdiam. Rasanya ada yang aneh pada obrolannya dengan Bella tadi. Entah apa itu Antonio tak paham, ya, sudahlah nanti juga tahu sendiri. Ia melangkahkan kakinya dan berjalan menuju tempat teman-temannya tadi. Dilihatnya dua sejoli itu masih bertengkar dengan saling adu mulut. Lama juga pertengkaran mereka berdua. Wajah dua teman lainnya juga semakin terlihat bosan.
Antonio melirik jam tangannya. Bagus, pertengkaran Wigantara dan Anisia sudah membunuh waktu selama empat puluh lima menit. Benar-benar membuang waktu. Ke tiganya menghela napas panjang bersamaan. Saatnya mengambil tindakan.
"Ma cherie~, udah jangan marah-marah lagi, dong." Francis coba melerai.
"Gak usah ikut campur!" Anisia masih bersikukuh.
"Wigan, harusnya lu tadi jangan gegabah gitu, dong."
"Apaan sih lu Gilbert jangan ikut campur!"
Orang-orang di bandara jadi semakin banyak yang melihat pertengakaran mereka berdua. Jujur, ini membuat tiga sekawan itu jadi malu. Ada kalanya hal kecil yang tak patut diperdebatkan di muka umum harus ditunjukan secara sengaja atau tidak sengaja, kan. Seperti anak kecil saja.
"Anisia..."
– Bruk!
"Wigan!" seru mereka berempat hampir bersamaan.
Hetalia: Axis Power– Hidekaz Himaruya
–Netherlands, Indonesia and Parallel Nations–
Warning;Out of Character, Out of Topic, Typo(s),Alternative Universe,MultipleChapter, Collab Fict with Kuroneko Lind
–Don't like, don't read–
Ayudia mengelap peluh yang ada di dahinya. Senyum penuh bangga terkembang jelas di wajah belianya. Ia melepas celemek yang melekat di tubuhnya dan menyimpannya di balik pintu. Gadis itu baru selesai memasak makan malam untuk kekasihnya, Henrick, dan juga untuk calon adik iparnya nanti, Bella. Walau terkesan sederhana namun rasanya pasti luar biasa.
"Wah, calon istriku baru selesai masak. Harum masakannya sampai ke ruangan depan, loh." Puji Henrick sambil melemparkan senyuman mautnya.
Semburat merah terlihat di pipi Ayudia. "Henrick bisa ajah. Makan yuk!"
"Kamu emang bener deh kayak virus polio."
"Loh, kok gitu, sih?"
"Soalnya kamu udah melumpuhkan setiap keraguanku terhadapmu, Ayudia."
"Henrick jangan ngegombal, ah."
"Tapi emang bener, kok. Terus kadang-kadang aku itu ngerasa kamu kayak ingus."
Ayudia mengerucutkan bibirnya sedikit kesal. "Jorok banget, Henrick. Masa aku disamain sama ingus, huh."
"Dengerin dulu, soalnya kalau gak ditarik lagi ke dalam nanti keburu jatuh ke tangan orang lain."
"Ngegombal terus." Ujar Bella yang baru masuk ke dalam ruang makan dan membuat ke duanya terdiam karena malu sekaligus kaget. "Udah, ah, makan ajah. Perut enggak akan kenyang dengan gombalan-gombalan doang."
Henrick menarik kursi untuk Ayudia duduk lalu ia pun duduk di kursinya sendiri. Mereka bertiga pun menikmati makan malam itu dengan suasana yang bisa dibilang hanya ada suara desiran angin dan suara jangkrik. Sepi. Karena jika Henrick bicara lagi pasti akan keluar kata-kata gombal lagi.
-Ooo0ooO-
Perlahan Wigantara membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya. Otaknya masih belum terkoneksi benar dengan kesadarannya sekarang. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Seingatnya tadi ia dan ke tiga temannya berada di bandara lalu, kenapa sekarang ia bisa ada di kamarnya sendiri?
"Uwoh!?" seru pemuda itu tiba-tiba dan langsung bangkit dari tempatnya tidur. Kain pengompres jatuh dari dahinya. "Anisia!"
"Wigan." Anisia memeluk kekasihnya hangat. "Syukur kamu udah sadar. Jangan buat aku khawatir dong."
"Eh, memangnya aku kenapa?"
"Tadi lu pingsan di bandara dan karena khawatir jadi kita bawa pulang." Jawab Gilbert
"Wigan kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit? Kamu 'kan gak harus jemput aku." Keluh Anisia
"Udah, aku udah gak apa-apa kok sekarang. Maaf soal tadi, aku gak niat buat mutusin kamu."
"Kamu gak harus minta maaf, Wigan. Harusnya aku yang minta maaf karena gak ngerti keadaan kamu."
Wigantara tersenyum hangat. "Udahlah, kamu gak salah kok."
Anisia kembali memeluk Wigantara. Tangan kanan pemuda itu mengelus lembut rambut panjang kekasihnya. "Aku udah tau soal adik kamu dari Francis dan itu buat kamu jadi uring-uringan 'kan akhir-akhir ini? Aku bakal bantu kamu."
"Eh?"
"Aku bakal bantu kamu, Wigan. Waktu kita cuma tinggal empat jari 'kan sebelum MOS, dan selama waktu itu yang kita punya aku bakal buat kamu jadi 'cewek tulen' buat gantiin Ayudia."
"Tu-tunggu..."
"Siapin diri kamu buat besok. Mereka bertiga juga bakal bantu kamu." Anisia menunjuk Trio yang sudah berhasil memangkas habis bulu kakinya. Ke tiganya melambaikan tangan mereka dengan wajah tanpa dosa.
Perasaan gue gak enak, nih, batin Wigantara.
To be continued..
– A/N –
Tadinya di chapter ini mau ditambahin juga soal rencana Anisia tapi gak seru kalau semuanya harus terungkap di sini. Spolier buat chapter depan; Rencana 'Cantik' Anisia. Arthur Kirkland dibuat kagum dan gak berdaya sama Wigantara yang nyamar jadi Ayudia. Trio Gilbert, Antonio dan Francis buat heboh di MOS SMA pas hari pertama. Makasih buat yang udah review, sampai ketemu di chapter selanjutanya.
