Chapter 2 : The Last Member

Summary : Kyuhyun dan Sungmin terpisah ketika mereka kecil. Berbekal kenangan pahit masa lalunya, Sungmin akan menemukan Kyuhyun yang dulu dikenalnya sebagai Kui Xian. Bisakah ia?

-KyuMin Fanfiction-

YAOI

Tittle : Memories

Pair : KyuMin /slight Super Junior couple

Other Cast :

(akan bertambah sewaktu-waktu)

Genre : Yaoi, Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Warning : typo(s), bad language, don't like don't read

Disclaimer : Super Junior milik kita, KyuMin milik kita dan FF ini milik saya. Okeh?

DON'T JUDGE ANYTHING ABOUT ALL THE CHARACTERS IN THIS FICTION! IF YOU WANT, JUDGE ME! DEAL ..

Memories

"Apa kau berbicara mengenai member kita?" tanya Sungmin dengan kening berkerut. Sekali lagi Eunhyuk mengangguk.

Sambil menghembuskan nafas berat, Eunhyuk membawa kedua tangannya kebelakang untuk menyangga kepalanya. "Jujur saja, aku tidak setuju dengan hal ini. Maksudku, untuk apa menambah personil? Bukankah kita sudah sempurna dengan ber-12?" ungkapnya.

Yah, kalau boleh jujur pun Sungmin akan mengatakan hal yang sama dengan Eunhyuk. Baginya Super Junior itu 12—sejak awal dan sampai nanti. Memang, semua member telah mendapat pemberitahuan sebelumnya dari manager mereka mengenai 'Last Member' itu. Tapi bukan berarti semua member langsung menyetujui.

Mungkin diantara mereka, hanya Ryeowook lah yang paling antusias saat berita itu sampai ketelinga mereka. Tapi yah.. faktanya adalah semua member tak memiliki hak apapun untuk menolak kehadiran sang 'Last Member'. Dia akan segera berada ditengah mereka—cepat atau lambat.

"Kalau si nomor 13 itu memang dia, kau sudah membocorkannya Hyuk. Kalau begini aku jadi tidak penasaran lagi." Kata Sungmin pura-pura merajuk.

Eunhyuk tertawa, "Itu pun belum pasti Sungminnie~ aku hanya menebak saja, hehe.."

"Aiish—kau ini,"

.

.

.

~Knock Out

Bunmyonghangod hana objiman Kuthkaji sawo nan reason is I'm Alive~

Mereka melakukan formasi penutup tanda berakhirnya lagu tersebut—dan juga latihan hari ini.

"Sudah cukup.. kita istirahat sebentar." Kata Leeteuk mengintruksi. Semua tampak setuju dan kembali duduk di lantai lalu mengusap peluh keringat yang terus mengalir melalui pori-pori kulit.

"Hyung~ lapar~~" rengek Shindong pada Leeteuk. Sontak semua mata tertuju padanya. Eunhyuk, Donghae, Yesung, dan KangIn mengangguk setuju, sisanya hanya mencibir. Benar-benar tukang makan.

Leeteuk memanyunkan bibirnya malas sebelum alih-alih menuruti rengakan Shindong. Yah, mungkin ini memang sudah masuk waktu makan siang. Tidak ada salahnya 'kan?

"Geurae.. kita kembali ke dorm, aku akan memesan—"

"Chakkaman Teuki hyung! Aku saja yang memasak untuk kalian." Sahut Ryeowook dengan mata berbinar seorang koki. Member satu ini memang suka sekali menggeluti hal-hal yang berbau dapur. Ia seorang koki hebat di Super Junior.

Yesung yang duduk disebelahnya segera mencubit pipi Ryeowook karena gemas, "Kau yang terbaik Wookie~" pujinya. Ryeowook tersenyum malu-malu sampai menimbulkan guratan merah di sekitar pipi tirusnya.

"Kalau begitu, ayo!"

Semua member mengangguk setuju lalu beranjak dari tempat itu. Untuk kembali ke dorm, tentu saja mereka akan melewati ruang latihan para trainee disana. Beberapa seperti tidak peduli dengan ruangan itu. Tapi tidak untuk Sungmin.

Ia melengos kecewa saat mengintip didalam sana sudah tidak ada orang. Tepatnya pemuda bernama Kyuhyun itu. Sebut saja Sungmin tercandu untuk mendengarkan suara indah dari bibir pemuda itu.

Setelah membuka pintu dorm dengan sandi kombinasi, mereka melesat masuk lalu berpencar mencari tempat nyaman untuk merebahkan tubuh. Mungkin hanya Ryeowook yang langsung sibuk berkutat di dapur—hei, jangan lupakan Yesung. Namja yang diklaim sebagai main vocal itu turut membantu Ryeowook mengerjakan pekerjaannya.

"Wookie.."

Ryeowook tidak menolehkan kepala saat Yesung memanggilnya. Namja manis itu masih sibuk memotong sayuran.

"Ya?"

Ryeowook tidak tahu kalau airmuka Yesung berubah kusut saat ini. "Kau menawarkan memasak bukan untuk kita saja 'kan?" tanyanya dengan bibir mengerucut. Kali ini Ryeowook menoleh dengan kening mengerut bingung. Ia mendapati Yesung tengah cemberut sambil tangannya terus bekerja mencuci buah-buahan.

"Maksud hyung? Tentu saja aku memasak untuk kita semua." Kata Ryeowook berganti memotong daging sekarang.

"Ada yang lain? Katakan saja Wookie.. kau pasti juga menyisakan sedikit untuk orang itu," Yesung menunjukkan sisi posesifnya sekarang. Mungkin ia tidak rela Ryeowook-nya lebih memperhatikan 'orang itu'.

"Eh?" rasanya Ryeowook mulai menangkap arti arah pembicaraan Yesung. Mungkin namja berkepala besar itu cemburu? Bukannya merasa bersalah, Ryeowook malah tersenyum penuh arti.

"Yesungi~ dia 'kan juga bagian dari kita setelah ini.."

"Belum! Dia bahkan belum menginjakkan kakinya disini. Jadi kau tidak perlu memasakkan makanan untuknya sekarang. Lihat saja, nanti jatahnya akan kumakan!" sanggah Yesung geram. Matanya berapi-api menandakan ia begitu kesal saat ini. Enak saja 'orang itu'! Belum bergabung saja sudah mampu mencuri perhatian Ryeowook. Sedangkan dia? Butuh berbulan-bulan baginya untuk bisa berdekatan dengan Ryeowook. Sebut saja Yesung berlebihan—tapi dia tidak peduli akan hal itu.

Ryeowook tersenyum lagi, seperti memaklumi kekesalan Yesung. Adalah sama seperti member lain. Yah, belum ada yang bisa menerima kehadiran si nomor 13 seperti dia.

"Kata manager hari ini juga dia sudah pindah ke dorm hyung, dan tidak ada yang tahu jam berapa tepatnya. Kupikir tidak ada salahnya kita menjamunya dengan makanan sederhana. Ayolah hyung~" kata Ryeowook penuh pengertian. Ia menatap sendu pada Yesung, berharap namja ini akan sedikit luluh.

Tepat! Ryeowook memang pakar dalam meluluhkan kerasnya hati Yesung. Terbukti namja kepala besar itu mendesah pasrah setelahnya.

"Terserahmu saja Wookie.." Ryeowook segara menghadiahi Yesung dengan sebuah pelukan hangat.

"Terimakasih hyung.. aku menyayangimu.."

.

.

.

"Makanan siaaaap~"

Mendengar teriakan Ryeowook, member lain yang sedang bersantai menghentikan aktivitas mereka dan langsung menuju meja makan. Seperti para semut yang langsung berkumpul ketika sang induk membawa makanan untuk mereka.

Tak lama 12 kursi itu telah berpenghuni seluruhnya. Meja kosong itu bak disihir hingga penuh makanan disana. Jangan lupakan jasa Yesung, dan tentu saja Ryeowook sang koki. Mereka berdua yang menyiapkan semua ini. Sedangkan member lain tinggal menunggu sambil duduk manis menunggu hidangan.

Setelah semua persiapan selesai, seperti biasa Leeteuk akan memberi intruksi. "Selamat makaaan~" dengan itu serempak semua member hampir menyantap makanan mereka. Garis bawah, HAMPIR. Karena tiba-tiba bel dorm berbunyi. Mereka memutuskan menunda acara makan dan membiarkan KangIn sebagai perwakilan untuk membukakan pintu.

Cklek

"Oh, manager.. kukira siapa," ujar KangIn setelah melihat ternyata sang manager yang membunyikan bel tersebut. Ia memberi jalan sang manager untuk masuk.

Dari ruang makan, member lain dapat melihat manager disana bersama KangIn. Mereka berpikir, pasti ada sesuatu kalau manager sudah berkunjung ke dorm. Leeteuk mengintruksi semuanya untuk menuju ke ruang tamu tempat sang manager dan KangIn berada.

Manager duduk ditengah sofa disusul oleh semua member Super Junior yang duduk di samping kiri dan kanannya. Terimakasih kepada kapasitas sofa yang mampu menampung 12 orang plus manager disana.

Sang manager berdeham sejenak, "Kalian tahu maksud kunjunganku disini?" tanyanya. Yah, bohong sekali kalau mereka bilang tidak tahu. Karena sebenarnya mereka memang sudah tahu. Apalagi kalau bukan membahas si nomor 13..

"Si nomor 13 'kan?" celetuk Donghae malas. Bosan mungkin. Sudah ratusan kali mereka membahas orang yang tak kunjung menampakkan diri itu.

Manager mengangguk sambil tersenyum. "Pintar sekali Donghae-ssi. Kali ini kita tidak akan membahasnya lagi."

"Dia menyerah lalu mengundurkan diri?" tanya Sungmin memastikan. Ada dua kemungkinan di sini. Pertama seperti yang dikatakannya, yaitu si nomor 13 menyerah, atau malah si nomor 13 ada disini sekarang. Semua minus Ryeowook mungkin lebih setuju kemungkinan pertama.

Manager menggeleng, "Tentu saja tidak seperti itu Sungmin-ssi. Justru aku akan mulai memperkenalkan dia pada kalian."

"WHAT?"

Siwon, Kibum, Sungmin, Hangeng dan Heechul melotot dengan bibir terbuka tanda mereka sangat terkejut. Eunhyuk, Donghae, KangIn dan Shindong langsung terkapar dilantai. Berbeda dengan Leeteuk, Yesung dan Ryeowook yang sudah mengetahui hal ini. Mereka bertiga memasang ekspresi datar meski Ryeowook terlihat sedikit antusias.

Sang manager hanya tertawa melihat reaksi anak-anaknya. Laki-laki itu malah semakin bersemangat untuk membawa 'dia' kehadapan semua member saat ini juga.

"Kyuhyun-ssi, masuklah."

'Kyuhyun?'

Batin Sungmin bergejolak. Akankah yang dikatakan Eunhyuk tadi pagi adalah benar? Kyuhyun—Cho Kyuhyun? Pemuda tampan bersuara indah itu? Entah mengapa Sungmin seperti berharap 'iya'

Perlahan tubuh tinggi pemuda bernama Kyuhyun itu mulai terlihat dari balik pintu. Ia menundukkan kepalanya membuat semua orang tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya itu. Dengan langkah pelan, Kyuhyun membawa tubuhnya untuk berdiri di depan member Super Junior juga sang manager.

Kyuhyun membungkukkan badannya sekedar memberi salam pada semua member yang akan segera menjadi hyung-nya. Sesekali mata obsidiannya mencuri pandang kearah depan, dan nyalinya semakin mengecil saat semua member memberikan tatapan tak bersahabat padanya. Tapi Cho Kyuhyun telah bersumpah akan menerima sambutan seperti apapun dari Super Junior. Bukan hal yang yang aneh jika semua member tak menyukainya, tapi ia berjanji ini adalah awalnya saja. Dia akan membuat Super Junior mau menerimanya suatu saat nanti.

Hening.

Suasana dorm ini begitu hening dan canggung. Masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Pikiran yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dari sosok bernama Kyuhyun ini.

"Annyeonghaseyo hyung-deul. Cho Kyuhyun imnida." Akhirnya Kyuhyun memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap bergantian mereka semua. Tatapan polosnya membuat semua pikiran buruk dari semua member mendadak lenyap. Mata obsidian itu seolah sedang meminta dukungan dari mereka.

Mungkin benar kata Ryeowook. Tidak seharusnya mereka menolak Kyuhyun. Mungkin namja ini memang takdir Super Junior. Satu member yang akan menjadi pelengkap dan yang akan berjuang bersama mereka untuk membawa nama Super Junior semakin dikenal dunia.

Dengan kesadaran masing-masing, satu persatu member berdiri lalu di awali dengan Leeteuk yang memperkenalkan dirinya juga.

"Annyeonghaseyo Kyuhyun-ssi.. Park Jungsoo imnida, aku leader Super Junior. Kami sepakat memanggilku Leeteuk. Selamat datang dan mari kita berjuang bersama." Leeteuk tersenyum tulus. Merasa tidak memiliki alasan untuk membenci namja itu. Setelahnya member lainpun melakukan hal yang sama.

Kyuhyun tidak menyangka akan seperti ini. Ia terharu dan nyaris menangis. Super Junior sangat hangat. Walau di awal mereka tampak dingin. Ia membungkukkan badannya berkali-kali.

"Terimakasih hyung-deul.. aku akan bekerja keras. Mohon bantuannya." Katanya dengan mata berkaca-kaca.

Super Junior tersenyum melihat Kyuhyun. Kali ini mereka menghampiri Kyuhyun lalu memberikan pelukan hangat untuknya. Tentu saja Kyuhyun membalasnya dengan senang hati. Ini jauh lebih baik dari perkiraannya..

.

.

.

"Kyuhyun-ssi, ayo makan bersama.. aku sudah memasak banyak untuk kita semua." seru Ryeowook riang. Dia terlalu bersemangat sampai-sampai melupakan tatapan menusuk dari Yesung. Perhatian Ryeowook pada Kyuhyun cukup membuat Yesung cemburu. Padahal namja cantik itu sama sekali tidak ada maksud lain. Dia hanya ingin Kyuhyun merasa nyaman di Super Junior.

Masing-masing menempati tempat duduk mereka. Tapi Kyuhyun belum beranjak dari tempatnya. Kyuhyun masih diam sebelum suara Sungmin mengintruksinya. "Duduk disini Kyu, kebetulan aku tidak lapar."

"EH?"

Baik Kyuhyun atau member lain, semua terhenyak. Beberapa dari mereka merutuki kebodohannya karena tidak sadar bahwa kursi disini hanya ada 12 sedangkan sekarang jumlah mereka sudah bertambah. Sungmin bisa menyadari hal ini hanya dengan sikap Kyuhyun yang masih diam ditempatnya.

"Tuhanku.. aku lupa! Oh kalau begitu kita pindah keruang tamu saja, bagaimana?" kata Leeteuk menawari. Sungmin cepat-cepat menggeleng tidak setuju.

"Jangan hyung.. masa makan diruang tamu? Lagipula aku memang tidak sedang lapar. Biar Kyuhyun duduk disini. Aku ingin tidur saja." Sungmin mengayunkan tangannya mengisyaratkan Kyuhyun untuk duduk dikursinya. Keadaan mulai canggung.

"Kau sakit Minnie?" tanya Leeteuk cemas. Sungmin menggeleng lagi sambil tersenyum manis.

"Tidak kok hyung.. aku ke kamar dulu ya,"

Tanpa ada yang bertanya lagi Sungmin segera melangkahkan kakinya ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Lagi-lagi Sungmin merasa pusing. Perasaan apa yang baru saja dirasakannya tadi?

Saat tahu Kyuhyun lah si nomor 13 itu, saat memeluknya, saat menyentuh kulit putih pucatnya yang sangat hangat itu, saat tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.. Dia merasa ada yang tidak beres disini. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ini gila!

Bukan, Sungmin bukan membencinya.. dia hanya merasa tidak sanggup terus menatap mata obsidian itu. Mata itu seolah menarik Sungmin untuk terus dan terus menatapnya. Ia takut tertangkap basah oleh sang pemilik saat sedang menatapnya intens.

"Kui Xian~"

Tiba-tiba Sungmin menggumam nama Kui Xian. Matanya terpejam. Menikmati saat-saat dimana jantungnya sudah mulai berdetak normal kembali.

"Kenapa aku jadi sangat merindukanmu seperti ini? Biasanya kalau aku sedang merindukanmu, kau akan datang lalu menggenggam tanganku—eh?" mata foxy Sungmin masih terpejam saat ia merasakan sesuatu menumpu punggung tangannya. Kalau boleh jujur, saat ini seperti ada tangan lain yang menyentuh punggung tangannya.

'Kau kah itu, Xian? Kau benar-benar datang dan ingin menggenggam tanganku?'

Terlalu bahagia dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri, Sungmin malah membawa tangan

itu dan tangannya saling bertautan. Jika ini hanya halusinasinya saja, biarkan Sungmin merasakan tangan Kui Xian menggenggam tangannya lagi. Sekali ini saja..

'Xian, aku merasa dekat denganmu.. Jangan pergi lagi..'

Tanpa disadarinya, bulir airmata mengalir di sudut mata foxynya yang terpejam. Sungmin sangat bahagia hingga tanpa sadar ia menangis. Tangan itu masih ada dalam genggamannya. Ia tersenyum lega..

"Sungmin hyung.."

"Iya Kui—"

'Tunggu! Suara itu..'

Sungmin membuka matanya cepat-cepat. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Kyuhyun tengah duduk di pinggiran kasur tempatnya berbaring dengan.. dengan tangan mereka yang saling bertautan! Oh God, jadi tangan itu nyata? Bukan Kui Xian, tapi Kyuhyun!

Sungmin menepis tangan Kyuhyun dari tangannya. Ia buru-buru bangkit lalu mengusap airmatanya. Sungmin mundur beberapa centi—jarak mereka terbilang cukup dekat.

"A-apa yang kau lakukan disini?"

Kenapa Kyuhyun? Kenapa harus Kyuhyun yang membuat Sungmin tenang saat memikirkan Kui Xian? Kenapa harus Kyuhyun yang membuat Sungmin terasa seperti berada didekat Kui Xian? Sungmin marah.. ia marah karena tak dapat membedakan mana Kui Xian dan bukan.

"A-aku mengantarkan makanan untukmu, tadi kau belum makan 'kan, jadi—"

"Sudah kubilang aku tidak lapar. Kau saja yang makan." Potong Sungmin ketus. Ia baru saja akan beranjak pergi dari tempat itu kalau saja tangan Kyuhyun tidak menahan lengannya.

"Kumohon.. err—hanya beberapa suap saja," ujar Kyuhyun dengan suara lirih. Kyuhyun mengambil nampan yang diletakkannya di meja lalu mengarahkannya pada Sungmin, berharap namja manis itu menerimanya.

DEG

DEG
DEG

Sungmin memegang dadanya yang kembali berdetak cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Pemuda jangkung itu sedang menatapnya. Sungmin membenci ini. Kenapa hanya dengan mendengar ucapannya saja mampu membuat jantungnya berdebar seperti ini? Dan yang lebih sial adalah, seolah terhipnotis Sungmin menerima nampan berisi sepiring makanan dan segelas susu itu dan meletakkannya di paha.

Kyuhyun yang menerima respon itu pun tersenyum lembut. Ia masih duduk disebelah Sungmin sambil memandangi wajah hyung-nya yang pelan-pelan mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya.

Acara makan itu berlangsung lama dengan keheningan yang mengisi. Sesekali Sungmin akan melirik kearah Kyuhyun, begitupun sebaliknya. Tak jarang kedua pasang mata itu bertemu—saat itu terjadi Sungmin akan dengan segera mengalihkan pandangannya, dan Kyuhyun yang hanya tersenyum manis.

Tanpa sepengetahuan mereka, dari balik pintu kamar yang terbuka Leeteuk dan Donghae mengintai dari luar. Mereka ber-high five sambil tersenyum puas.

"Hebat juga si Kyuhyun.." kata Donghae. Leeteuk mengangguk setuju.

"Sepertinya mereka bisa berinteraksi dengan cepat. Jadi bagaimana Hae?"

"Aku sih setuju aja hyung. Lagipula warna pink yang mendominasi kamar kami membuatku tidak tahan. Sepertinya Kyuhyun tidak keberatan dengan itu.."

"Ne, kau benar. Yasudah, kita bicarakan ini pada mereka besok."

Setelah itu Leeteuk dan Donghae memutuskan pergi dari tempat itu sebelum yang didalam tahu mereka mengintip. Dengan hati-hati mereka menjauhi ruangan itu dan membiarkan Kyuhyun dan Sungmin menyelesaikan kegiatan mereka.

-TBC-

Taraaaaa~ chap 2 update!

Iya saya tau, pasti membosankan kan? #pundung di pojokan

Makasih banyak buat yang udah review ^^

Ngga nyangka banget FF abalku dapet respon. Ini pertama kalinya aku nyoba publish di SP, dan makasih banget reviewnya *terharu*

Dan buat yang nanya KyuMin itu saudara kandung apa bukan, jawabannya bukan ya .. nanti seiring cerita bakal dijelasin.

Ini nick FB saya Laras Evilkyu Elfsapphireblue

Special Thanks To :

KyuMinimin, KyuLoveMin, Syubidubidu, Ryeosomnia90, WidiwMin, black devil, hyuknie, Choi sila, Han Sung Young, adhis, winecoup94

Last, review?