Chapter 2 of 2
CHASING YOU
Naruto punya Masashi Kishimoto.
Saya pakai tokohnya suka-suka.
Selain kepuasan batin, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fic ini.
Story by Kianichi
Main Pair: Sasusaku
Warning: AU, OOC, DLDR, typo (maybe)
Enjoy
Merah cerah, menarik setiap mata untuk melihat mobil yang baru saja berhenti di depan rumah Sakura. Pemiliknya dengan senang hati mengantarkan Sakura pulang hampir setiap harinya. Sakura sebenarnya merasa tidak enak hati, tapi Gaara bilang akan kecewa jika Sakura menolak niat baiknya, dan Sakura pun tak punya pilihan.
"Kau mau keluar denganku besok?" Ini adalah ajakan kencan Gaara yang sebenarnya ingin Gaara ucapkan sejak beberapa hari yang lalu, namun baru hari ini Gaara mampu mengucapkannya. Gaara tahu Sakura masih belum bisa tidak berfikir tentang Sasuke, meskipun hanya untuk sekedar kencan.
Ya, tiga minggu sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana Sasuke meninggalkan Sakura setelah mengatakan keinginannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Berita putusnya Sasuke dan Sakura pun telah menyebar entah siapa yang memulai. Sakura berselingkuh dengan Gaara si murid baru, Sasuke kecewa dan memutuskannya, begitulah kira-kira berita yang terdengar. Ino sangat geram dengan ulah penyebar gosip yang tidak bertanggung jawab, ya meskipun tidak ada penggosip yang mau bertanggung jawab, tapi dalam kasus Sakura ini bahkan tidak diketahui dengan jelas identitas si penggosip. Sakura tidak mau memperbesar masalah ini, Naruto dan Sai selalu mendukung dan menghiburnya.
Sakura selalu berusaha menghubungi Sasuke, lewat pesan, telepon maupun bertemu secara langsung. Sakura masih tidak mengerti dan masih belum menerima keputusan Sasuke. Sakura bertekad akan menjadi pacar yang lebih baik jika Sasuke memberinya kesempatan kedua dan menjelaskan semuanya. Tapi selama itu pula Sasuke tidak menanggapi Sakura, tidak membalas pesan, tidak mengangkat telepon dan selalu menghindari Sakura. Sakura hanya bisa memandang Sasuke dari kejauhan. Sementara Gaara selalu setia berada di sisi Sakura.
Sakura tidak terlalu terkejut dengan ajakan kencan ini, karena Sakura tahu pasti akan seperti ini jika membiarkan Gaara mengantarnya hampir setiap hari, "Jadi, kau meminta upahmu?" Ujar Sakura.
"Lupakan kalau kau memang tidak bisa." Ungkap Gaara sedikit tersinggung dengan jawaban Sakura, "Aku tidak ingin memaksamu untuk hal-hal seperti ini."
Sakura tersenyum, "Kita akan kemana?"
Gaara segera menoleh pada Sakura, "Kau yakin?"
"Sebenarnya aku ingin melihat konser Kurama besok, tapi aku tidak yakin bisa bertahan di sana atau tidak." Ya, Sakura dengar dari Ino bahwa Kurama akan mengadakan konser besok. Jika saja Sakura masih berhubungan dengan Sasuke meski hanya sekedar berteman, sudah pasti Sakura akan menyiapkan staminanya untuk berhimpitan dengan fans Sasuke, meskipun perasaan Sakura lebih dari itu. Sakura hanya ingin melihat Sasuke, lebih sering lebih baik.
Gaara tersenyum, "Jadi ini masih tentang Sasuke?"
Sakura merasa tidak enak hati, tapi bagaimana pun juga ini adalah perasaan Sakura yang sebenarnya, "Maaf.."
"Tidak masalah. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke konser itu besok, bukan untuk melihat Kurama, tapi melihatku. " Jelas Gaara. Ini benar-benar suatu kebetulan.
"Jadi kau dan Kurama akan konser di acara dan panggung yang sama, benarkah?" Emerald Sakura berbinar mendengar penjelasan Gaara. Gaara mengangguk, Sakura tersenyum, "Baiklah kalau begitu, kita pergi bersama, sampai ketemu besok, Gaara."
Sakura turun dari mobil Gaara, melambaikan tangan pada Gaara. "Aku akan menghitungnya sebagai kencan pertama kita, Sakura." Ucap Gaara sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan Sakura yang tersenyum canggung.
Sakura masih berdiri di sana, di depan rumahnya, memperhatikan mobil Gaara hingga tidak terlihat lagi di ujung jalan, senyumnya perlahan memudar. Gaara baik, bahkan sangat baik, selalu berterus terang dan memperhatikan dirinya. Ini sangat berbeda dengan perkenalannya dengan Sasuke dulu yang sampai harus menipunya. Lalu jika sekarang Sasuke justru meninggalkannya, memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas, dan tidak lagi menghiraukannya, bukankah sangat wajar jika kemudian Sakura berpaling pada Gaara? Tapi berpaling pun ternyata tidak semudah itu. Entah paku apa yang dulu Sakura gunakan untuk menancapkan nama Uchiha Sasuke di jantungnya sendiri hingga sulit sekali melepaskannya. Sakura mengepalkan tangan kirinya tepat di atas dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri, 'Sasuke-kun, apa kita benar-benar sudah berakhir?' batin Sakura.
Jadilah sore ini, Sakura tengah berada di mobil Gaara. Sesuai rencana, mereka akan langsung menuju Dome Konoha, tempat dimana Kurama dan Gaara akan menunjukkan kepiawaian mereka di bidang musik. Mereka sedang bergurau saat Gaara mencari-cari sesuatu. Sakura mengerutkan dahinya memperhatikan Gaara, "Ada apa?"
"Kau tidak keberatan kan kalau mampir sebentar ke apartemenku? Sepertinya ponselku ketinggalan." Jelas Gaara masih sambil meraba-raba saku jaketnya.
"Ah, iya. Tidak masalah." Kata Sakura.
Mereka sedang melintasi jalur satu arah saat lampu merah menyala. Gaara menghentikan mobilnya di belakang garis seberang dan mesin mobilnya masih menyala, orang-orang mulai menyeberang di depan mereka. Sambil bercerita tentang pengalaman pertamanya dalam bermusik, Gaara tidak berhenti menatap Sakura. Sakura tidak bisa menghentikan tawanya saat Gaara menceritakan beberapa kejadian konyol di panggung, hingga suara cempreng mengalihkan perhatian mereka. "Hoi, Sakura-chan!"
Sakura menoleh ke arah sumber suara di sebelah kanannya, jantungnya bergemuruh mendapati Sasuke ada di dalam mobil di sebelah mobil Gaara. Sasuke tidak bergeming, kedua tangannya di kemudi mobil, menatap ke arah depan, menunggu sepinya deretan orang menyeberang jalan. Sementara Naruto di sebelah Sasuke, membungkukkan bahunya agar dapat melihat Sakura dengan jelas, "Ah, dengan Gaara ya?" tambah Naruto saat melihat Gaara di bagian kemudi mobil yang Sakura naiki. Sakura panik, tidak bisa berkata apapun, tubuhnya terasa tegang, tidak seharusnya Sasuke melihatnya bersama Gaara seperti ini.
"Kalian sedang kencan?" Pertanyaan Naruto seperti memperkeruh suasana hati Sakura.
"Ya, wajar saja sih, kalian sering pulang bersama akhir-akhir ini." Ayolah Naruto, tidak bisakah kau membaca atmosfir saat ini? Mohon Sakura dalam hati.
Sementara Gaara hanya tersenyum menanggapi ocehan Naruto.
"Semoga semuanya lancar ya, Gaara, Sakura-chan!"
Lampu kuning, penyeberang jalan mempercepat langkah kaki mereka. Sasuke menoleh ke arah Sakura beberapa saat, onyxnya bertemu dengan emerald sebelum akhirnya Sasuke melajukan mobilnya. Sakura tidak mengerti arti tatapan itu.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Gaara mengkhawatirkan Sakura yang tiba-tiba pucat.
Bagaimana kalau Sasuke salah paham? Itulah yang sebenarnya ada dalam pikiran Sakura. Tapi tidak mungkin Sakura mengatakannya pada Gaara. Lagipula bukankah Gaara sendiri yang bilang bahwa bagi Gaara ini adalah kencan, "Ya, um, a..aku tidak apa-apa." Sakura mengambil air mineral dari dalam tasnya kemudian meminumnya beberapa teguk untuk menghilangkan kegugupannya. Gaara melajukan mobilnya.
Sementara di mobil yang sudah melesat terlebih dahulu, kepala Naruto hampir saja keluar dari mobil karena didorong dan ditahan dengan tangan kanan Sasuke. "Oi Teme, sudah! Hentikan! Aku masih ingin hidup!"
-0-
Sakura dan Gaara keluar dari lift, Meski Sakura berjalan di samping Gaara mengikuti arah jalan yang ditunjukkan Gaara untuk sampai ke apartmennya, tapi pikiran Sakura masih dipenuhi dengan kejadian di traffic lamp tadi. Apa yang mungkin Sasuke pikirkan? Bagaimana jika Sasuke berpikir Sakura sudah melupakannya? Sakura tidak berharap itu terjadi. Sakura ikut menghentikan langkahnya saat Gaara tiba-tiba berhenti, Sakura mengikuti arah pandang Gaara. Sakura membelalakkan matanya, tanpa Sakura sadari pipinya merona. Di sana, sekitar delapan meter di depan mereka, tampak Shikamaru yang sedang menyandarkan punggungnya di dinding dengan kedua tangannya yang merangkul pinggul Temari, sementara kedua tangan Temari bergelayut di sekitar pundak Shikamaru, dan tentu saja dengan kedua bibir mereka yang saling bertautan dengan kedua mata sama-sama terpejam penuh gairah.
Gaara kembali melanjutkan langkahnya seakan pemandangan di depan mereka adalah hal yang sudah biasa. Sakura dengan ragu mengikutinya dengan langkah pelan. Temari lah yang pertama kali menyadari keberadaan Gaara dan Sakura, Temari melepaskan diri dari Shikamaru, melirik sebentar ke arah Sakura, lalu sambil merapikan dirinya sendiri berkata pada Gaara, "Kau tahu berapa kali aku menghubungimu?"
Gaara hanya menjawab singkat, "Ponselku tertinggal, aku baru akan mengambilnya." sambil menekan beberapa digit nomor sebagai kode masuk ke apartmennya. Setelah pintu terbuka, Gaara menoleh pada Sakura.
"Ayo, Sakura!" Ajak Gaara.
Sebelum masuk, sejenak Sakura menoleh pada Temari.
"Hai, Sakura! Lama tidak bertemu." Sapa Temari.
"Hai, Temari-san, Shikamaru." Sakura hanya bisa tersenyum, canggung.
Sakura kemudian mengikuti Gaara masuk ke dalam apartemen. Cukup luas, bersih dan rapi, itu kesan pertama yang Sakura dapat dari apartemen Gaara. Temari menyusul masuk diikuti Shikamaru di belakangnya. Sakura memang jarang bertemu dengan Temari, tapi sejujurnya, Temari sudah punya tempat tersendiri di hati Sakura sejak hari dimana Temari dan teman-temannya yang lain menjemput Sakura pada Festival Musik sekitar enam bulan lalu.
"Tunggulah sebentar, aku akan mencari ponselku, mungkin aku juga akan menghubungi manajerku dulu." Ucap Gaara pada Sakura lalu meninggalkan ketiga orang itu.
Sakura duduk di sofa pendek, sementara Temari di sofa panjang dan Shikamaru di sebelah Temari.
"Sudah lama sekali ya Sakura kita tidak bertemu," Ucap Temari membuka pembicaraan, "Bahkan kalau dipikir-pikir kita ini hanya bertemu jika Kurama tampil saja."
"Apa boleh buat, Temari-san sepertinya mahasiswi yang sangat sibuk." Tanggap Sakura sambil melirik ke arah Shikamaru, "Lagi pula Temari-san juga tidak tinggal di Konoha, kan?"
"Iya, kau benar." Kata Temari sambil juga sesekali melirik Shikamaru, "Kalau aku tinggal di Konoha mungkin aku akan sering repot."
"Apa maksudmu?" Ceplos Shikamaru tiba-tiba membuat dua gadis yang duduk di sana tertawa terkikik.
Lalu terdengar nada pesan dari ponsel Shikamaru, Shikamaru membacanya kemudian berdecak, menoleh pada Temari, "Dia melakukannya lagi, benar-benar merepotkan." Kata Shikamaru sambil berjalan keluar dengan ponsel sudah menempel di telinga kanannya.
Sakura jelas tidak tahu apa yang terjadi sampai penjelasan Temari membuat hati Sakura kembali nyeri, "Itu tadi Sasuke." Jelas Temari, "Akhir-akhir ini dia sering memaksa Shikamaru bertukar posisi, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Sasuke sampai membayangkan sesuatu untuk dipukul." Tambahnya dengan senyuman.
Ingin sekali Sakura bertanya kenapa Sasuke bisa seperti itu? Tapi jujur mengatakan bahwa dirinya mengkhawatirkan Sasuke pada kakak dari orang yang mengajaknya kencan bukanlah ide yang bagus menurut Sakura. "Ohya? Aku tidak tahu itu." Ucap Sakura akhirnya.
"Maaf karena membicarakan Sasuke, padahal kalian sudah putus." Kata Temari, tapi Sakura merasa Temari tidak benar-benar minta maaf.
Sakura menggeleng dan tersenyum lemah, "Tidak apa-apa Temari-san."
"Jadi kalian benar-benar sudah putus?" Pertanyaan Temari memang mudah, namun sulit dijawab oleh Sakura. Sakura ragu untuk mengatakan bahwa ia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Sasuke, karena itu benar-benar melukai dirinya sendiri.
"Sasuke-kun bilang ingin begitu." Jawab Sakura.
"Kau sendiri, bagaimana?" Tanya Temari lagi. Sakura merasa seperti diinterogasi, apa mungkin ini berhubungan dengan Gaara? "Kau masih menyukainya, kan?"
Baiklah, kalau begini caranya, sepertinya Sakura harus mengatakan apa yang sudah direnungkannya. Sakura mengusap-usap lengannya sendiri. "Hubungan seperti kau dan Shikamaru, melibatkan perasaan dua orang. Jika hanya salah satunya yang bertahan, bagaimana mungkin hubungan itu bisa dipertahankan? Jika dipaksakan, bukankah salah satunya tidak akan bahagia? Kurasa, seperti itulah keadaanku dengan Sasuke-kun sekarang."
"Kau yakin Sasuke sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu?"
"Entahlah, Temari-san. Dia tidak memberikan penjelasan lebih."
Temari menghela nafas kemudian tersenyum seakan mengatakan 'dasar bodoh' namun tidak Sakura pahami. "Rasanya aku tidak percaya kalian benar-benar putus mengingat bagaimana kalian bersama di Festival Musik itu."
Sakura tersenyum getir, "Aku sendiri juga tidak percaya, tapi itulah kenyataannya."
"Dan ada kenyataan lain yang tidak kau ketahui, Sakura." Ucap Temari membuat Sakura tertegun.
"Apa maksudmu, Temari-san?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi kurasa ada yang Uchiha itu sembunyikan darimu. Kalau tidak, mestinya dia baik-baik saja dengan gitarnya, kan?" Jelas Temari dengan senyuman optimis, "Kau harus mencaritahu Sakura, meskipun aku juga tidak tahu dengan cara apa."
Temari benar, itulah yang sebenarnya Sakura pikirkan, hanya saja Sasuke selalu menghindarinya, lalu apa yang harus Sakura lakukan? Tapi, tunggu dulu. Kenapa sepertinya Temari sangat mendukung hubungannya dengan Sasuke, apa Temari sama sekali tidak suka jika Gaara berkencan dengannya? Sakura tiba-tiba menatap Temari dengan tatapan aneh.
"Maaf, Sakura. Bukannya aku tidak menyukaimu, atau tidak suka jika Gaara berkencan denganmu." Dan Temari seperti tahu apa yang Sakura pikirkan, "Tapi, kalau kau masih menyukai Sasuke, sebaiknya kau tidak memberi harapan pada Gaara."
Ya, Sakura mengerti, seperti yang dipikirkannya, ini memang ada hubungannya dengan Gaara.
"Bisa kau bayangkan jika kau memulai hubungan dengan Gaara, lalu Sasuke menyesal dan memintamu kembali, dan karena kau belum sepenuhnya melupakannya lalu kau menerimanya lagi, bukankah Gaara yang akan terluka?" Lanjut Temari.
"Aku tidak keberatan." Suara Gaara yang baru muncul mengagetkan Temari dan Sakura. Gaara mendekat ke sisi Sakura, "Aku tidak keberatan meskipun awalnya aku adalah pelarian. Karena jika Sakura memberiku kesempatan, aku akan menggunakannya dengan baik hingga Sakura tidak akan pergi dariku." Gaara mengucapkannya sembari menatap emerald Sakura lekat-lekat. Pipi Sakura memanas mendengar pengakuan lantang Gaara di depan kakaknya sendiri, Temari.
Temari hendak membalas ucapan Gaara tapi ternyata Gaara belum selesai dengan ucapannya, "Lagi pula, aku percaya bahwa bukan cinta yang membuat sebuah hubungan bisa terjalin dengan baik, tapi kesetiaan dan kepercayaan." Gaara menatap Temari, lalu tatapannya beraliha ke arah pintu masuk, "Benar kan, Shikamaru?"
"Apa?" Tanya Shikamaru dengan wajah polosnya.
-0-
Sepanjang perjalanan menuju Dome Konoha, Sakura jarang berbicara. Tersenyum, mengangguk dan menggeleng adalah respon yang sering diberikannya saat Gaara mengajaknya berbicara. Mereka berpisah dengan Shikamaru dan Temari di area parkir apartemen Gaara. Temari yang malam nanti sudah dipastikan menemani Shikamaru merasa ada baiknya jika mampir melihat keadaan Gaara dengan apartemen barunya. Temari cukup lega melihat keadaan Gaara yang baik-baik saja, meskipun sedikit ada pertentangan antara Kakak dan Adik, dan itu adalah tentang Sakura. Apa yang diucapkan Gaara pada Temari tadi benar-benar membuatnya canggung, sangat jujur hingga membuat Sakura takut, apalagi kekhawatiran Temari juga ada benarnya. Jika Sakura belum sepenuhnya melupakan Sasuke, ada baiknya dia tidak memberi harapan pada Gaara. Tapi Sakura sama sekali tidak berniat demikian, apalagi memanfaatkan Gaara agar Sasuke kembali padanya. Sakura hanya tidak enak hati jika menolak niat Gaara yang baik padanya, seperti mengantarnya pulang, menemaninya di perpustakaan dan kegiatan lain di sekolah. Lagipula, tidak masalah mereka jadi teman, kan? Bahkan Sasuke saja tidak keberatan. Ah, iya Sasuke. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?
"Aku serius, Sakura." Ucap Gara tiba-tiba setelah beberapa lama Sakura tak bersuara dan hanya memandang jalanan di sisi jendela mobil. Sakura menoleh pada Gaara, dan tahu apa yang dibicarakan Gaara adalah apa yang sedang dipikirkan Sakura sebelumnya.
"Maaf.." Gumam Sakura.
"Aku sebenarnya tidak ingin membicarakan ini, tapi aku takut ucapan Temari-ni membuatmu goyah." Sakura mengerutkan dahi mendengar ungkapan Gaara, "Maksudku, jika saja hatimu sudah memberi sedikit kesempatan untukku…"
"Tidak, tidak, bukan seperti itu Gaara." Kali ini Gaara yang mengerutkan dahinya, "Maaf jika membuatmu merasa seperti itu, tapi sejujurnya sejak awal aku tidak bermaksud memberimu harapan…yang…yang lebih dari berteman."
"Kenapa?" Tanya Gaara, "Kenapa hanya berteman?"
Sakura menggelengkan kepalanya dan menunduk, "Entahlah.." Sakura memantapkan hatinya dan menatap jade Gaara "Aku merasa tidak bisa jika tidak dengan Sasuke-kun."
"Kenapa harus Sasuke? Kau terobsesi padanya, Sakura." Ucap Gaara tegas.
"Apa?"
"Apa kau masih akan berpikir seperti itu jika Sasuke memutuskanmu karena gadis lain?"
"Sasuke-kun tidak seperti itu!" Bahkan dengan para fans-nya saja Sasuke sering menghindar, tambah Sakura dalam hati.
"Kenapa kau yakin sekali, Sakura?"
Karena Sasuke tidak baik-baik saja dengan gitarnya, kata-kata Temari terulang dalam otak Sakura. Benar, Sakura ingat enam bulan yang lalu menurut cerita dari teman-temannya, Sasuke menggila dengan drum saat Sakura tahu Sasuke menipunya. Dan kelakuan itu seakan menjadi tanda bahwa Sasuke tidak baik-baik saja. Jika memang Sasuke sudah menemukan gadis lain, meskipun memutuskan hubungan dengan Sakura tanpa memberi alasan yang jelas, Sasuke pasti akan baik-baik saja. Tapi kenapa tidak seperti itu? Ada yang Sasuke sembunyikan darinya. Tapi apa? Sakura mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ah, Temari dan Shikamaru, tiba-tiba Sakura teringat mereka berdua dan apa yang mereka lakukan di depan apartemen Gaara tadi. "Karena kau tidak mengenal Sasuke-kun seperti aku mengenalnya, Gaara." Jawab Sakura
"Atau karena aku tidak menyukai Sasuke seperti kau menyukainya?"
"Benar, seperti itu." Kata Sakura tegas.
Gaara sedikit heran, ekspresi Sakura berubah seperti telah berhasil menemukan sesuatu. "Sakura, kau…"
"Gaara, tolong hentikan mobilnya." Pinta Sakura.
"Apa? Tapi Sakura…"
"Kumohon, Gaara!"
Gaara menepi dan menghentikan mobilnya, "Ada apa?"
Sakura menghela nafas panjang, "Aku ingin bertemu Sasuke-kun, ada yang harus kupastikan padanya!"
Sakura membuka pintu mobil Gaara, namun Gaara berhasil menahan satu sisi tangannya, "Gaara, kumohon.."
"Kau mau kemana, Sakura? Kita akan bertemu Sasuke di sana!" Ucap Gaara berusaha menahan Sasuke.
"Tidak, Gaara. Tidak seperti itu, kau tidak mengerti. Seharusnya aku melakukan ini sejak awal."
"Kalau begitu buat aku mengerti!"
Sakura menutup kembali pintu mobil Gaara dan mulai menceritakan apa yang akan dilakukannya sekarang.
-0-
"Ayolah Sasuke, sudah beberapa hari ini kau selalu memainkan drum. Sekarang kembalikan stick drum itu pada Shikamaru!" Tutur Neji membujuk Sasuke, "Shikamaru hampir gila tanpa drumnya!"
"Aku tidak gila." Sanggah Shikamaru.
Saat ini semua anggota Kurama dan pacar-pacar mereka kecuali Sai dan Ino telah berkumpul di Dome Konoha, tepatnya di ruang yang telah ditentukan sebagai ruang persiapan, dan sebentar lagi mereka sudah harus naik ke atas panggung. Tapi sang gitaris mereka yang sedang tidak masuk akal, mengatakan kalau hari ini dia bertekad akan memainkan drum. Shikamaru sendiri sebenarnya tidak keberatan kalau Sasuke memang mau bertukar posisi, tapi masalahnya Shikamaru tidak begitu mahir bermain gitar. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kualitas musik yang Kurama mainkan jika dipaksakan bermain tidak seperti formasi aslinya.
"Jangan hanya karena kau melihat Sakura-chan dan Gaara kencan tadi siang, kau jadi semakin tidak karuan begini, Teme!" Ucapan Naruto dihadiahi deathglare dari anggota Kurama yang lain. Si Vokalis pirang yang bodoh itu sengaja membuat hati Sasuke semakin panas dan merasa lucu melihat ekspresi cemburu sahabat onyx-nya tanpa disadarinya membuat Sasuke ingin memukul drum lebih kencang.
"Kalau kau tidak terima begitu, kenapa kau memutuskan Sakura." Kata Tenten yang duduk di sebelah Neji.
Lalu entah apa tujuan Temari membeberkan pertemuannya dengan Sakura tadi siang, "Oh, dengan Gaara ya? Tadi aku dan Shikamaru bertemu dengan Sakura di apartemen Gaara." Temari melirik jahil sekilas pada Shikamaru, "Iya kan, Shika?"
Shikamaru hanya melirik gadis lebih dewasa yang sangat disukainya itu, "Merepotkan."
Sasuke segera menoleh pada Temari, dan Temari melanjutkan "Sepertinya mereka akan datang ke sini bersama-sama." Dan Temari tahu Sasuke semakin menengang.
"Oh, itu Gaara!" Kata Naruto, pandangannya ke arah Gaara yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka, sendirian. Sasuke sama sekali tidak berniat melihat ke arah Gaara datang, tidak ingin melihat Sakura-nya bersama rivalnya, sampai terdengar suara Hinata yang disetujui teman-temannya yang lain.
"Tapi, dimana Sakura-chan?" Tanya Hinata heran.
Sasuke segera menoleh ke arah Gaara datang, dan benar, Sakura tidak bersamanya. Sasuke merasa lega, tapi juga khawatir. Dimana Sakura-nya?
Temari lah yang terlebih dahulu menyambut Gaara, "Kau sudah sampai?"
"Um, yo semua!" Sapa Gaara pada yang ada di sana, dan jade-nya menatap onyx gelap Sasuke yang seakan bertanya 'dimana Sakura'. "Sakura bilang tidak enak badan, jadi aku mengantarnya pulang." Jelas Gaara tanpa ditanya, "Baiklah kalau begitu, sepertinya sudah saatnya aku naik." Gaara berlalu sambil melambakan tangan kanannya meningglakan anggota Kurama.
Sasuke tampak lebih rileks, merasa tenang Sakura tidak bersama Gaara, terlihat dengan tiba-tiba saja dua stick drum yang sejak tadi dipegangnya erat-erat disodorkannya pada Shikamaru tanpa berkata apa-apa. Shikamaru menerima stick drum kesayangannya diiringi senyuman dari teman-teman yang lain.
"Baiklah, sebentar lagi giliran kita. Ayo kita guncang Dome Konoha!" Ajak Naruto penuh semangat sebelum menyadari salah satu anggota mereka belum muncul, "Tunggu dulu, dimana Sai?"
Di balik dinding gelap dan sunyi, Ino sedang menahan desahannya cumbuan Sai di lehernya. "Sai…ah.."
Lalu getaran ponsel dari Saku Ino menginterupsi kegiatan mereka, awalnya Ino berencana mengabaikan panggilan itu demi melanjutkan kegiatan favoritnya dengan Sai, tapi sepertinya panggilan itu cukup penting karena nadanya tidak segera berakhir.
Ino mendorong Sai pelan, "Ada telepon." katanya sambil berusaha meraih ponsel di saku belakangnya. Ino melihat caller ID 'Saku jidat' di sana, tanpa basa-basi lagi Ino segera menerima panggilan itu, "Halo, Jidat? Ada apa?"
-0-
Malam ini sangat melelahkan bagi Sasuke. Setelah acara di Dome Konoha selesai tadi, Sasuke menolak ajakan teman-temannya untuk nongkrong di tempat mereka biasa nongkrong. Sasuke tidak perlu mempersiapkan alasan apapun pada mereka, cukup bilang lelah dan teman-temannya tidak akan ada yang memaksanya, karena mereka tahu akhir-akhir ini emosi Sasuke sering tidak stabil, dan itu karena gadis emerald itu. Sasuke tidak pernah melupakannya.
Sekitar pukul delapan malam, Sasuke menghentikan mobilnya di garasi rumahnya, masih malas bergerak, Sasuke menyandarkan kepalanya di kursi kemudi, memejamkan mata, dan menghela nafas panjang. Tangannya meraih ponsel dari sakunya, jemarinya mencari-cari nomor kontak dari orang yang selalu dipikirkannya, ingin sekali menghubunginya untuk mengetahui keadaannya. Sebelumnya selama masa putus, Sasuke selalu mencaritahu keadaan gadis bersurai pink itu dari sahabat pirang bodohnya, Naruto. Tapi kali ini Naruto sedang keluar dengan anggota Kurama yang lain dan pasti tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang.
Lama Sasuke menatap nomor itu, sekali tekan saja Sasuke pasti bisa mendengar suaranya, suara yang sangat dirindukannya. Tapi diurungkannya niat itu dengan meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya tidak akan tergoda, ini semua demi tujuannya, tujuan di balik rencananya memutuskan hubungan mereka, tujuannya meninggalkan Sakura. Sasuke memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, sambil turun dari mobil Sasuke berkata dalam hati, 'Kau pasti baik-baik saja, kan?'
Sasuke membuka pintu utama rumahnya yang sepi. Ayah dan Kakaknya sudah pasti belum pulang, mobil mereka juga tidak terlihat di garasi, dan ibunya biasanya sudah tidur di jam sekarang. Sasuke menaiki tangga menuju ke ruang pribadinya, lalu suara Ibunya menyapanya, "Kau baru pulang?"
Sasuke hanya menjawab, "Hn" sambil terus melanjutkan langkahnya.
"Kalau kau belum makan malam, Ibu akan persiapkan.."
"Tidak perlu, Ibu. Aku lelah, ingin segera tidur."
"Sa.." Mikoto mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi, dan hanya memperhatikan bahu Sasuke hingga tidak terlihat lagi di belokan tangga. Mikoto menghela nafas, tersenyumsambil menaikkan bahunya sebentar lalu kembali masuk ke kamar utama.
Sasuke sampai di depan kamarnya, namun sebelum membuka pintu kamarnya Sasuke menyadari ada yang tak biasa, lampu kamarnya menyala, padahal sejak siang tadi dia tidak di rumah. Ibunya tidak mungkin masuk ke kamar pribadinya tanpa ijin Sasuke, begitu juga dengan Ayahnya. Kalaupun benar mereka melakukan itu, pasti sebisa mungkin tidak akan meninggalkan jejak, seperti itulah orangtua. Sasuke mendengus, hanya satu orang yang akan melakukan kekonyolan ini, aniki bodohnya, satu-satunya orang yang sejak dulu seenaknya keluar masuk kamar pribadinya dan keluar masuk rumah. 'Benar-benar agen federal' pikir Sasuke. Tapi Sasuke tahu dia salah besar sesaat setelah membuka pintu kamarnya, onyx-nya membulat.
Dia ada di sana, berdiri di area kosong dalam kamarnya, tangan kirinya mempermainkan ibu jari tangan kanannya, menandakan kegugupannya.
"Sakura?" Ucap Sasuke meyakinkan dirinya sendiri.
"Sasuke-kun. Maaf aku masuk tanpa izin." Ucap Sakura ragu, "Aku sudah bilang pada Bibi Mikoto kalau.."
"Tidak apa-apa." Sahut Sasuke sembari menutup pintu kamarnya, Sasuke melepas jaketnya, dan berusaha mengatur emosinya saat meletakkan jaketnya di gantungan. Bagaimanapun juga dia tidak boleh terlihat senang saat ini, tekadnya. Sasuke memasang ekspresi datarnya, berjalan menuju tepian ranjangnya dan duduk di sana, "Ada perlu apa?" Tanya Sasuke kemudian.
Masih tetap berdiri, Sakura memutar badannya agar bisa leluasa berbicara dengan Sasuke, Sakura menggigit bibir bawahnya mengingat-ingat kata demi kata yang sudah dipersiapkannya untuk disampaikan saat ini, "Aku…maaf mengganggumu saat kau lelah seperti ini, aku..selama beberapa hari ini sudah berusaha menemuimu tapi kau sangat sibuk…"
Sakura menghentikan ucapannya saat Sasuke tiba-tiba menatapnya, "Ada apa kau berusaha menemuiku?"
Sakura menunduk, menatap pola-pola karpet di bawahnya, menarik nafas panjang lalu memberanikan diri membalas tatapan onyx di depannya, "Aku hanya ingin tahu, kenapa kita harus putus?"
"Kenapa kita tidak boleh putus?" Sasuke balik bertanya.
Sakura sudah berusaha menahan agar tidak menangis, tapi cairan bening itu sudah mengalir begitu saja, "Karena aku masih menyukaimu, masih setia padamu, aku tidak mau kita berakhir seperti ini. Setidaknya beri aku alasan, kau harus menjelaskan alasanmu padaku, meskipun menyakitkan aku akan mencoba mengerti. Dan kalau kau bersedia memberiku kesempatan lagi, aku akan berusaha menjadi lebih baik. Kumohon Sasuke-kun.."
Sasuke berdiri, perlahan menghampiri Sakura yang semakin terisak.
"Beri aku alasan.." Sakura mengakhiri kalimatnya dilanjutkan yang coba ia tahan, menunggu apa yang akan dikatakan Sasuke.
"Kudengar kau tidak enak badan, ini sudah malam, sebaiknya kau beristirahat di rumah.."
Apa-apan ini? Kenapa Sasuke seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa yang Sakura bicarakan? Pekik Sakura dalam hati. "Jangan bersikap konyol Sasuke-kun! Aku tidak datang ke sini agar kau menyuruhku pulang. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengarkan semua penjelasanmu. Jadi jangan coba menghindar lagi, katakan padaku ada apa sebenarnya?"
Sasuke mengulurkan kedua tangannya meraih kedua bahu Sakura, "Sakura, dengar. Aku hanya ingin kita putus."
"Tidak tanpa alasan yang jelas." Sergah Sakura.
Sasuke menarik diri menjauh dari Sakura, "Pulanglah, Sakura."
Sakura menatap pundak Sasuke yang berjalan menuju arah jendela dan berhenti di sana, memperhatikan entah apa di luar sana, Sakura mendengar Sasuke menghela nafas kemudian berkata, "Aku tidak ingin menyakitimu."
"Kau sudah menyakitiku." Ucap Sakura lirih.
"Maaf." Balas Sasuke masih tetap melihat arah luar.
Sakura tidak bergeming, pandangannya kembali tertunduk, menggigit bibir bawahnya lagi untuk yang ke sekian kali. Ingatannya kembali pada pembicaraannya dengan Ino sekitar satu jam yang lalu, Ino dan Sai, Shikamaru dan Temari, Neji dan Tenten, bahkan di bodoh Naruto dengan Hinata. Bagaimana mereka bisa bertahan tanpa ada kata putus. Tekad Sakura benar-benar sudah bulat, jika Sasuke tidak memberi penjelasan apapun, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah kesimpulan bodoh yang dipikirkannya saat ini.
Sementara Sasuke, masih berusaha menahan senyumnya. Meski awalnya sempat khawatir, tapi apa yang diharapkannya benar-benar terjadi. Sasuke yang awalnya ragu, kini yakin dengan apa yang telah dilakukannya. Sasuke akan mengejar Sakura dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi jika nanti Sakura benar-benar memilih untuk pergi malam ini. Tapi sejak ucapan terakhirnya tadi, Sasuke tidak mendengar apapun lagi dari Sakura, tidak juga bunyi pintu yang terbuka dan tertutup. Karena penasaran, Sasuke menoleh ke belakang, dan segera membelalakkan onyx-nya dengan wajah merona melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sasuke segera menarik selimut tidurnya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Sakura yang hampir telanjang. Sasuke mendudukkan Sakura di ranjangnya sementara dia sendiri duduk berlutut di depan Sakura, kedua tangan Sasuke di kedua sisi Sakura "Apa yang kau lakukan, bodoh?"
"Aku berusaha menahanmu, Brengsek!"
Sasuke mengerutkan dahinya, "Apa?"
Dengan air mata berurai, Sakura mulai mengucapkan apapun yang ada dalam pikirannya "Katakan kalau kau memang sudah tidak menyukaiku, aku tidak apa-apa, tidak masalah jika perasaanku bertepuk sebelah tangan, yang terpenting adalah perasaanmu. Katakan kalau kau bosan padaku, bahwa aku tidak sesuai harapanmu, aku akan berusaha menjadi lebih baik seperti yang kau harapkan asalkan kita tetap bersama. Katakan kalau sudah ada gadis lain di hatimu, meskipun.."
Cup, bibir hangat Sasuke menempel padanya, membungkam ucapan Sakura dalam diam. Sakura menahan nafas dengan iris klorofilnya yang mengecil. Sasuke menciumnya, dan ini adalah salah satu hal yang paling dirindukan Sakura. Sakura merasa tidak rela saat perlahan Sasuke menarik, onyx-nya dan emerald Sakura bertemu, saling menatap dalam rindu. "Sasuke-kun…?"
"Apa maksudmu dengan menahanku?" Tanya Sasuke dengan tatapan lembut, dan Sakura benci ini karena membuatnya merasa seperti kembali diperhatikan, dicintai. Sakura menunduk, mengingat hal konyol baru saja dilakukannya, hal konyol yang sudah sangat dipikirkannya masak-masak dan membuatnya tampak mesum. Ino pasti akan tertawa jika Sakura menceritakannya tentang hal ini, dan Ino adalah orang terakhir yang Sakura ajak berbicara sebelum ini. Sakura memegangi selimut yang menutupi tubuhnya dari dalam. "Ino dan Sai, Shikamaru dan Temari, juga yang lainnya. Aku pikir, mungkin sama seperti mereka, sebenarnya kau ingin melakukan 'itu' tapi kau khawatir akan menyakitiku, dan khawatir jika aku akan menolak..." Sakura menggigit bibir bawahnya.
"Melakukan…'itu'? Maksudmu?"
"Jangan berpura-pura bodoh. Kau tahu apa maksudku dengan 'itu'."
Sasuke tiba-tiba tersenyum, senyum seakan melihat hal bodoh dan konyol, kemudian senyum itu berubah menjadi tawa yang tertahan, dan Sakura mengerutkan dahinya tidak mengerti, namun juga lega karena bisa melihat Sasuke tertawa lagi.
"Aku lega mendengarnya." Ucap Sasuke kemudian setelah menenangkan diri.
"Jadi kau benar-benar ingin kita melakukan 'itu'?
"Tidak, bukan seperti itu." Sasuke meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Sakura, "Aku lega karena kau berfikir sejauh itu untuk menahanku, untuk mengejarku."
"Maksud Sasuke-kun…?"
Dari bahu Sakura, tangan kanan Sasuke bergerak membelai pipi Sakura, menghapus jejak air mata di sana dengan ibu jarinya, "Maaf, membuatmu menangis. Aku janji ini yang terakhir aku mengatakan hal bodoh tentang putus." Sasuke tersenyum, "Terima kasih sudah mengejarku."
Sakura masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi belaian tangan Sasuke di pipinya seakan meyakinkannya bahwa mereka tidak benar-benar berakhir, bahwa Sasuke tidak sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya hari itu, dan itulah yang diharapkan Sakura. Emerald Sakura memperhatikan Sasuke lekat-lekat, menatap onyx gelap di depannya, mengajukan pertanyaan tak terucap yang secara ajaib dimengerti oleh Sasuke, "Maaf, aku mengujimu, aku ingin tahu sebesar apa kau menginginkanku di sisimu." Ungkap Sasuke,
"Jadi, Sasuke-kun tidak percaya padaku?" Tanya Sakura ragu-ragu.
"Daripada tidak percaya, mungkin lebih tepatnya aku berusaha meyakinkan perasaan kita masing-masing." Sasuke menarik nafas panjang, "Aku, sepertinya tidak bisa jika tidak denganmu, karena itulah aku ingin tahu apa kau juga merasa seperti itu. Aku mungkin akan benar-benar meninggalkanmu jika kau tidak berusaha seperti ini, tapi jauh di dalam hatiku aku berharap kau melakukan sesuatu untuk menahanku." Sasuke tersenyum, "Dan kau benar-benar seperti yang aku harapkan, Sakura. Aku sangat senang."
"Apa jadi brengsek saja tidak cukup untukmu? Kenapa harus menyebalkan juga?" Lagi, cairan bening mulai membasai pipi Sakura, Sasuke merengkuhnya dalam pelukan, dan membenamkan kepalanya di perpotongan leher dan bahu Sakura. "Jangan lakukan ini lagi, aku juga tidak bisa jika tidak dengan Sasuke-kun."
"Maaf." Ucap Sasuke membelai punggung Sakura, "Lalu tentang Gaara…" Sasuke memberi jeda pada kalimatnya.
"Aku sama sekali tidak ada hubungan spesial dengannya.."
"Aku tahu." Sasuke melepaskan pelukannya, menatap emerald Sakura, "Aku tidak pernah dengan sengaja memanfaatkannya, tapi kedatangannya memang sangat kebetulan." Sasuke melanjutkan ucapannya saat Sakura mengerutkan kening, "Kurasa dia datang di saat yang tepat untuk menyakinkan perasaanmu padaku."
Sakura mengangguk setuju, jika dipikir-pikir kehadiran Gaara dengan segala kebaikannya bisa saja merubah perasaan Sakura. Tapi kenyataannya tak sedikit pun perasaan Sakura pada Sasuke goyah. Benarkah Sakura terobsesi pada Sasuke? Jika pun iya bukankah itu tidak masalah karena Sasuke pun hanya menginginkan Sakura.
"Ada apa? Apa Gaara melakukan sesuatu padamu?" Tanya Sasuke khawatir, bukan, Sasuke curiga, tidak rela, lebih tepatnya cemburu. Sakura senang memikirkan kemungkinan itu hingga muncul ide menjahili Sasuke, "Tidak, Gaara tidak melakukan apa-apa. Gaara kan bukan brengsek." Dan Sakura senang mendapati ekspresi Sasuke seperti yang diharapkannya, ekspresi Sasuke yang seakan mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena memang itu kenyataanya dan itu membuatnya cemburu. Seperti mendapat petuah, Sakura menyadari perasaan ini, perasaan senang yang hanya diperolehnya saat bersama Sasuke, ya, hanya dengan Sasuke.
Sakura tersenyum, lalu entah bagaimana bibirnya sudah ia tempelkan pada bibir Sasuke hingga beberapa detik. Setelah mengakhiri kecupannya Sakura berkata, "Aku tidak tahu bagaimana dengan Sasuke-kun, kenapa harus aku? Awalnya aku juga tidak tahu harus menjawab apa saat Gaara bertanya kenapa harus Sasuke-kun. Tapi sekarang aku tahu."
Tangan kiri Sakura keluar melalui celah selimut yang menutupi tubuhnya, meraih tangan Sasuke dan menempelkannya di atas dadanya. Sasuke berniat menarik tangannya tapi Sakura menahannya agar Sasuke juga merasakannya, "Karena hanya dengan Sasuke-kun jantungku akan berdetak tidak karuan seperti ini."
Sasuke termangu dengan pengakuan Sakura, benar, dirasakannya detak jantung Sakura berdetak lebih cepat. Sasuke menggerakkan tangan kirinya ke dadanya sendiri, dan Sasuke juga merasakan hal yang sama. Detak jantungnya seirama dengan detak jantung Sakura, dan sama-sama tidak karuan, sangat cepat. Sasuke tersenyum, kemudian dirasakannya kening Sakura menempel padanya, "Sakura…?" Gumam Sasuke lirih.
"Aku menyukai Sasuke-kun, pastinya sejak kapan aku tidak tahu, selama itu hingga sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa atau setelahnya, tapi aku selalu berharap aku merasakan hal ini hanya pada Sasuke-kun sampai kapan pun. Aku ingin Sasuke-kun satu-satunya untukku."
Tanpa bisa ditahan lagi, Sasuke segera meraih bibir Sakura-nya, meraih tengkuk Sakura agar dapat menciumnya lebih dalam. Sakura dengan senang hati merespon Sasuke, bibir mereka saling mengecup. "Aku mencintaimu, Sakura" Gumam Sasuke di sela-sela ciuman mereka.
"Apa?" Tanya Sakura yang hanya dijawab Sasuke dengan senyuman ciuman yang lebih dalam.
Mebuki memperhatikan putri tunggalnya yang sangat ceria pagi ini, mondar-mandir mempersiapkan bekal sambil terus bersenandung, padahal beberapa minggu ini Sakura tampak murung. Mebuki tahu kemarin Sakura pergi dengan teman rambut merah yang beberapa hari ini mengantarnya pulang, dan baru kembali tadi malam, kemudian jadilah pagi ini Sakura bertingkah seperti itu. Tentu saja Mebuki senang jika Sakura senang, hanya saja Mebuki penasaran, apakah putri semata wayangnya itu sudah tidak bersama Sasuke lagi? Anak laki-laki yang Mebuki ketahui sebagai pacar Sakura yang dulu. Apakah sekarang Sakura sudah punya pengganti Sasuke?
Mebuki menghampiri Sakura, "Sakura, Ibu perhatikan kau sangat senang. Apa ada hal baik yang sedang terjadi?" tanyanya.
Sambil terus mengemas bekalnya dengan wajah bahagia Sakura mengangguk, "Aku sangat senang ini Sasuke-kun akan menjemputku." Jawabnya.
"Sasuke-kun?" Tanya Mebuki meyakinkan pendengarannya, "Oh, Ibu jarang melihatnya akhir-akhir ini. Apa kalian baik-baik saja?"
"Iya, kami baik-baik saja, semalam Sasuke-kun mengantarku pulang." Jawab Sakura, "Kenapa Ibu bertanya begitu?"
Mebuki tersenyum simpul, "Ibu senang mendengarnya. Beberapa minggu ini kau terlihat murung, jadi Ibu pikir kau mungkin ada masalah dengannya." Mebuki berpikir sejenak lalu melanjutkan ucapannya, "Selain itu, akhir-akhir ini kau sering bersama anak laki-laki berambut merah dengan mobil merah…"
"Maksud Ibu, Gaara?"Sakura bertanya.
"Oh, jadi namanya Gaara?"
Sakura mengangguk, memasukkan bekal ke dalam tasnya, "Gaara memang sangat baik, tapi kami hanya beteman, tidak lebih." Jelas Sakura sebelum didengarnya suara mobil berhenti di depan rumahnya."Ah, itu Sasuke-kun. Sakura berangkat ya, Ibu." Pamit Sakura segera keluar menuju beranda rumahnya.
Tapi Sakura kecewa ketika bukan Sasuke yang dijumpainya, melainkan Gaara yang baru saja keluar dari mobilnya, "Hai, Sakura." Sapa Gaara.
Sakura melangkah dengan gontai, "Hai, Gaara."Apa yang Gaara lakukan di sini? Kenapa Sasuke belum datang? Bagaimana kalau nanti Sasuke salah paham? Pikir Sakura khawatir. Sakura menghentikan langkahnya sekitar dua meter dari Gaara, "Ada apa?"
Gaara tersnyum,"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Sakura mengangguk,"Um, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Gara mengangguk-anggukan kepalanya, dan suasana tiba-tiba jadi sepi."Jadi, kalian sudah berbaikan?" Tanya Gaara akhirnya.
Sakura mengangguk lagi,"Um, ini juga karena bantuanmu semalam, terima kasih."
Gaara tersenyum pahit, "Kau terlalu banyak mengucapkan terima kasih Sakura. Lalu setelah itu kau mengucapkan maaf karena tidak bisamembalas perasaanku."
Gaara benar, Sakura memang berniat melakukan itu, tapi meskipun Gaara sudah tahu, Sakura tetap akan melakukannya, "Maaf, Gaara."
Dengan ini Sakura berharap Gaara tahu bahwa sebaiknya Gaara menjaga jarak dengannya, tentu saja Sasuke juga berfikir seperti itu. Gaara pun juga menyadari posisinya, sekarang Sakura sedang memberinya kode agar dia tidak melakukan sesuatu yang merugikan hubungan Sakura dan Sasuke. Gaara mundur, entah hanya untuk sementara atau hingga perasaannya pada Sakura berubah.
"Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Gaara.
Sakura tersenyum, mengangguk. Ini adalah keputusan terbaik dan yang diinginkannya.
Gaara membalikkan badannya, memasuki mobilnya dan melesat meninggalkan rumah Sakura. Sakura menghela nafas sesaat sebelum sebuah mobil yang sangat diharapkannya berhenti di dekatnya. Sasuke keluar dari mobil, hari ini Sasuke membawa mobil sendiri tanpa supir. Sakura segera menghampiri pujaan hatinya itu, "Sasuke-kun, ohaiyou.." Sapa Sakura.
"Hn, sudah lama menunggu?" Balas Sasuke.
"Tidak." Sakura menggelengkan kepala.
"Apa yang dilakukan kepala merah itu?." Tanya Sasuke.
Sakura tersenyum, "Ayolah, jangan cemburu pagi-pagi begini. Dia hanya menanyakan keadaanku."
"Benarkah? Dan kau pasti senang dia mengkhawatirkanmu, iya kan?" Tanya Sasuke dengan tatapan menyelidik.
Sakura tidak habis pikir Sasuke bisa jadi begini posesif setelah pembicaraan mereka semalam. Sakura berpura-pura cemberut, "Tentu saja aku senang kalau ada orang yang memperhatikanku?"
"Apa?" Sasuke menulikan telinganya, sembari maju satu langkah lebih dekat pada Sakura, "Katakan lagi." Goda Sasuke menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Sakura.
"Tapi aku lebih senang jika Sasuke-kun yang memperhatikanku." Jawab Sakura gugup.
Sasuke menyeringai, "Benarkah?" Wajahnya semakin dekat pada Sakura, onyx-nya menatap bibir pink nan menggoda milik Sakura.
"Hu'um", Sakura semakin gugup, ingatannya kembali pada ciuman menggebu mereka semalam, hingga tanpa disadari Sakura menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Sakura…" Panggil Sasuke lirih, kali ini menatap iris klorofil Sakura.
"Ya?" Jawab Sakura menggumam.
"Kau ingin aku yang melakukannya?"
"Apa?"
"Menggigit bibirmu."
Pipi Sakura memanas mendengar ucapan Sasuke.
"Daripada kau menggingitnya sendiri, kupikir lebih baik.."
Cup. Belum selesai Sasuke dengan ucapannya, Sakura memberinya ciuman singkat, sepersekian detik.
"Ap…" Belum selesai Sasuke dengan protesnya, Sakura sudah mencubit hidung Sasuke.
"Mesum!" Ucap Sakura yang kemudian segera berlari ke sisi mobil lainnya, menyembunyikan rona merah pipinyadipagi hari dalam mobil Sasuke. "Ayo, kita bisa terlambat, Sasuke-kun!" Teriak Sakura dari dalam mobil.
Sementara Sasuke hanya tersenyum tidak jelas, tidak percaya jika Sakura sepertinya sudah lebih agresif. Sasuke masuk di bagian kemudi mobilnya, lalu sebelum mulai mengemudikan mobilnya Sasuke berkata, "Kau lebih dariku, Sakura."
"Apa?"
Mobil sport biru itu mulai melesat.
Sasuke masih ingin menggoda Sakura, "Kau tidak ingat apa yang kau lakukan semalam? Kau membuka.."
"Hentikan, aku tidak ingin membahasnya, dasar menyebalkan."
"Kenapa? Aku hanya menyampaikan bukti kau lebih mesum dariku."
"Setidaknya aku tidak brengsek."
"Ah, jadi kau nona mesum yang bodoh?"
"…."
"…."
Dan pagi itu adalah awal dari kisah mereka dengan perasaan yang lebih dalam, lebih percaya dan lebih mendebarkan.
- End -
Hohohoho, akhirnya selesai juga.
Terima kasih sudah membaca :)
