KIDNAPPED
Kamichama NekoChi
Disclaimer : Naruto absolutely belongs to Masashi Kishimoto
WARNING :OOC, Gaje, bit Western, Typo(s)
2ND CHAPTER: CHANCE TO BREATH
Terakhir kali Hinata dilirik seorang pria adalah tujuh tahun yang lalu, waktu Hinata berumur delapan belas tahun akhir dan memasuki tahun kedua kuliahnya di Todai, jurusan Hubungan Internasional. Saat itu Hinata pertama kali mengenal Sabaku Gaara, berada di fakultas yang sama dengannya, dengan jurusan Hukum Internasional, yang kemudian menjadi kekasihnya di tahun kedua mereka berkenalan, saat usia Hinata 20 tahun. Hinata sangat mencintai Gaara, begitu pula sebaliknya.
Namun, saat itu ayah Hinata mulai sakit-sakitan. Sedangkan Hinata sudah lulus pada umur 20 setelah tiga tahun kuliah—beberapa saat setelah ia jadian dengan Gaara— karena prestasinya yang luar biasa. Lalu ia kembali ke Konoha, dan Gaara bekerja di Tokyo. Hubungan mereka menjadi lebih renggang, meskipun Hinata masih merasa sangat mencintai Gaara. Kehidupan Hinata saat itu hanya sekitar bekerja dan merawat ayahnya, berhubungan dengan Gaara hanya sepuluh persen dari prioritasnya.
Hingga akhirnya Hinata melepaskan Gaara, Hinata membiarkannya bebas menjalani hidupnya, Hinata tidak bisa mengekang Gaara dan melibatkannya dalam kehidupannya.
Masa lalu itu membuat Hinata perih, tapi ia tetap kukuh, ia tidak akan menangis. Semuanya bisa ia tahan selamanya.
Hinata mendesah, bahkan cermin venezia yang berukir indah itu tak bisa membuat tampilan dirinya tampak lebih baik.
Ia lalu mendekati meja tempat baki makanan diletakkan, ada tiga tudung, kemungkinan besar dejéuner—makan siang ala Perancis— dan jus cranberry, jus kesukaan Hinata dan ayahnya. Hinata terkejut, apalagi kejutan yang akan diberikan Sasuke nanti? Penculikan dan semua sebelum ini saja sudah membuat Hinata syok, apalagi nanti? Sesaat Hinata merasa seperti diperhatikan, sudah lama sekali sejak ia diperhatikan seseorang. Tapi Hinata segera menghapus pikiran itu, mungkin ia bukannya diperhatikan, tapi diawasi selama ini. Pemikiran itu membuat Hinata semakin geram pada Uchiha Sasuke. Tapi, tak ada ekspresi itu dalam wajahnya. Sekali lagi, ia hanya harus menahannya.
Hinata memakan makanan pembuka, roti lapis berisi ham dan keju leleh yang rasanya luar biasa. Dan meskipun tidak dihidangkan oleh pelayan professional, rasanya sudah seperti berada di restoran perancis betulan.
Awalnya Hinata menyangka makanan-makanan itu hanya akan terasa seperti karton di tenggorokannya, tapi ternyata tidak, Hinata memang lapar, lapar sekali, dan sudah lama sekali sejak ia bisa makan dengan layak. Selama lima tahun ini, Hinata hanya makan makanan yang juga menjadi makanan ayahnya, makanan yang hampir tidak memiliki nilai di bagian rasa, karena pantangan ayahnya, dan Hinata tidak tega ayahnya makan makanan seperti itu sendiri sementara ia asyik dengan makanan normal.
Jadi ia menghabiskan semua makan siangnya.
Hinata merasa kekenyangan, sepertinya sudah beberapa tahun sejak Hinata pernah sekenyang ini dan menikmati makanannya, dan tidak lupa berdoa agar ayahnya yang berrada di surga bisa makan makanan yang lebih enak daripada yang baru saja dimakan Hinata.
Hinata merasa bosan, setelah ayahnya meninggal, biasanya setelah jam makan siang begini ia akan pergi ke perpustakaan sambil bekerja. Tapi sekarang, laptopnya bahkan tidak ada. Sasuke kembali jam lima sore, sekarang masih jam satu siang dan Hinata dikurung di kamar ini, menunggu kesempatan untuk kabur akan terasa lama sekali. Sesaat Hinata merasa seperti Rapunzel, dikurung dalam kastil. Tapi Hinata menarik kembali ucapannya, ia tidak seperti Rapunzel, ia bahkan tidak punya rambut indah, dan kamar ini ada di lantai satu, bukannya menara, dan tidak ada pangeran yang akan menyelamatkannya. Tidak akan ada.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, meminta izin apakah Hinata siap pintu ruangan itu dibuka. Hinata menjawab, "Silakan masuk" singkat untuk memberi tanda bahwa ruangan itu boleh dimasuki. Hinata berpikir, inilah saatnya mengambil kesempatan untuk kabur.
Seorang pelayan muda masuk, tersenyum pada Hinata, jadi Hinata balas tersenyum padanya. Ini saatnya, pikir Hinata, karena pintu terbuka lebar dan yang datang kesitu hanya seorang pelayan berbadan kecil.
Tanpa diduga, pelayan itu memperkenalkan diri pada Hinata, "Perkenalkan, Hinata-sama, nama saya Ayame, saya ditugaskan Sasuke-sama untuk melayani anda. Jika butuh sesuatu, tinggal tekan bel di meja ini." Pelayan itu membungkuk sopan. Hinata tidak buang waktu, saat Ayame keluar, ia segera mengikutinya ke pintu. "Terimakasih Ayame, panggil aku Hinata saja." Kali ini Hinata tulus, bukan untuk berbasa-basi, tetapi mengikuti Ayame ke pintu adalah taktiknya untuk kabur.
Ternyata Ayame tidak sendirian, ada dua penjaga lain menunggu di depan pintu, berbadan besar dan bertampang seram, sepertinya sengaja dipekerjakan Sasuke untuk menjaga Hinata agar tidak kabur. Hinata mendesah kecewa, seharusnya Hinata tahu Sasuke tidak sebodoh itu. Berarti kemungkinan ia bisa keluar semakin kecil.
Pintunya kembali ditutup dan dikunci setelah Ayame meminta izin dan keluar dari ruangan itu. Hinata sendiri lagi, dan waktunya kali ini dihabiskan untuk menelusuri ruangan itu. Ada beberapa foto berpigura kecil di laci rak TV. Itu foto Sasuke, Naruto dan Sakura di sebuah sekolah bergedung kuno. Hinata tahu, itu pasti di sekolah asrama mereka. Mereka bertiga ada di sekolah yang sama, sebuah sekolah asrama di Amerika Serikat, Spencer kalau Hinata tidak salah. Mereka bertiga berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya. Meskipun Hinata tahu keluarga Naruto cukup keras, Naruto harus merangkak dari posisi yang pantas bagi lulusan lain seperti Naruto di perusahaannya sendiri, tapi Naruto menjalaninya dengan sabar dan semangat, semangat Naruto selalu membuat Hinata senang dan tersenyum, membuat Hinata beruntung mengenal Naruto sejak kecil. Hinata juga cukup akrab dengan Sakura, pacar Naruto, dari sekolah asrama sampai kuliah, yang selalu bersama Naruto, keduanya berkuliah di Princeton University, Sakura di kedokteran, dan Naruto ekonomi. Menurut cerita Sakura, Sasuke juga berkuliah di Ivy, tapi karena tingkat kepintarannya lebih tinggi dari Sakura dan Naruto, Sasuke masuk Harvard.
Hinata juga pernah bermimpi mendapatkan beasiswa dan berkuliah di Ivy, tapi ayahnya tidak rela dan Hinata berkuliah di Tokyo, itupun dengan pertimbangan berat dari ayahnya.
Hinata mengambil foto lain, itu foto Sasuke, sedang berada diatas panggung, sepertinya sedang menyanyi solo. Hinata tidak menyangka, orang berwajah begitu tenyata bisa menyanyi. Hinata terkikik sendiri membayangkan hal itu, tetapi kemudian ia sadar dan merutuki kekonyolannya, menolak dirinya sendiri untuk bersimpati kepada Sasuke.
Hanya ada dua foto itu dari lacinya. Hinata kemudian membuka koleksi DVD, ada film klasik Samurai, kebanyakan action, dan beberapa romance. Ada anime, juga sebagian besar action dan detektif. Ada juga album-album musik, sepertinya tidak ada yang menarik jadi Hinata mengembalikannya seperti semula.
Ia lalu beringsut menuju jendela, jendelanya berukuran raksasa dan mewah sekali, lagi-lagi mewah, memang hanya kata itu yang dapat mendeskripsikan seisi ruangan ini. Yang dilihat Hinata melalui jendela sekarang adalah taman disamping rumah itu, begitu hijau dan indah, karena ini awal musim semi dan semuanya merekah.
Pandangan Hinata tertuju pada pohon pinus kecil yang disusun berjejer didekat pagar pembatas itu. Sepertinya dekorasi baru. Pinus-pinus kecil itu nanti akan tumbuh besar dan lebih hijau lagi, lebih indah. Sungguh aneh saat Hinata membayangkan masa depan pinus itu, sedangkan selama ini ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Ayahnya selalu berharap Hinata cepat menikah, supaya ia bisa melihat cucu yang manis sebelum ia mati. Tapi Hinata tak memikirkan hal itu, yang harus ia pikirkan adalah sekarang, sekarang ayahnya harus sembuh, sekarang ia harus berusaha demi ayahnya. Satu-satunya harapan masa depan Hinata adalah melihat ayahnya sembuh.
Tapi sekarang, ia tidak punya harapan untuk masa depan. Ayahnya sudah meninggal. Kini tak ada masa depan lagi baginya. Tanpa ayahnya, Hinata tidak memiliki tujuan. Jadi, satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan adalah hari ini dan besok pagi. Tidak lebih.
Bukannya Hinata tidak pernah memilki harapan tentang masa depan. Ia pernah memilikinya, dan menulisanya di buku hariannya, masa depannya dengan Gaara dan ayahnya. Hinata ingin sekali tinggal dengan kedua lelaki yang sangat dicintainya. Tapi semua itu terbakar begitu saja, pertama sejak ia melepas Gaara, dan sekarang setelah ayahnya—satu-satunya kekuatannya—pergi.
Hinata terlepas dari lamunannya, ia bingung harus berbuat apa sekarang. Akhirnya Hinata menghidupkan TV dan memegang remote controlnya, memencetnya setiap waktu, tidak ada acara yang bagus. Ayahnya selalu bilang, ia tidak akan bisa cocok dengan TV, ia lebih baik membaca atau menonton film, karena semua orang akan berurat melihat perbuatan Hinata pada TV itu.
Saking jenuhnya, Hinata tertidur. Hinata tertidur diatas karpet didepan TV, bukan di atas sofanya. Karena dirumahnya bahkan tidak ada sofa untuk menonton TV dan Hinata tidak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya. Hinata hanya tertidur begitu saja, tanpa persiapan sama sekali.
Jam klasik di dekat lemari sudah menunjukkan pukul 05.30 sore. Artinya, Sasuke seharusnya sudah pulang. Sasuke memang sudah pulang, ia membuka pintu kamar yang ditempati Hinata, mendapati wanita itu sedang bergelung dengan nyaman di karpet. Sasuke menyeringai, ia seperti melihat peri kecil sedang tidur, wajahnya damai dan tenang, tidak menampilkan beban berat yang dipikulnya selama ini. Sasuke terenyak sejenak memandang wajah Hinata, namun setelah beberapa detik ia kembali sadar dari kepolosan wajah Hinata.
Karena sudah terlihat sangat kedinginan, Sasuke membopong Hinata. Badan Hinata bukan apa-apanya dibanding lengan kekar Sasuke, Hinata seperti burung kecil, kelewat ringan bagi Sasuke. Sasuke lalu menidurkan Hinata di kasur empuk kamar itu. Sejenak sebelum keluar, ia memandangi wajah Hinata sekali lagi, "Aku ingin ketulusan, Hinata. Bukan hutang budi." Sasuke menarik bibirnya sedikit, lalu mengunci pintu itu kembali.
~0~
Hinata sudah terbangun dan mandi, walaupun ini masih jam 06.00 dan walaupun ia bangun dengan kebingungan, seseorang sudah memindahkannya dari karpet ke kasur. Bangun pagi adalah kebiasaan Hinata sejak dulu, mengingat pekerjaan rumah Hinata dan kewajibannya untuk mengurus ayahnya. Kali ini Hinata sudah tampak lebih segar dari kemarin, karena ia tidur dengan nyenyak sepanjang sore dan malam. Kantung matanya berangsur menghilang dan warna rambutnya kembali merekah, Hinata merasa sedikit… Cantik.
Hinata mengnakan pakaian terbaiknya, sundress berwarna pink yang sesuai dengan suasana musim semi. Hinata sudah memutuskan, jika ia tidak bisa kabur, maka ia akan menggunakan cara diplomasi, sedikit berunding sopan dengan Uchiha Sasuke, dan menanyakan alasannya menculik Hinata, lalu ia akan mendesak Sasuke untuk melepaskannya. Dengan begitu mungkin ia akan bebas.
Tak lama kemudian, Sasuke masuk ke kamarnya, sedikit terkejut melihat Hinata sudah rapi dan sedikit berdandan, "Kau tahu ini hari sabtu rupanya." Sasuke memandang puas pada Hinata. Bukan pandangan puas seperti seorang sutradara yang akting aktrisnya berjalan lancar, pandangan puas Sasuke hanyalah pandangan biasa, datar, tapi tepat pada sasaran dan menggunakan kalimat yang mengena, kata-katanya cerdas dan singkat. Membuat Hinata sempat terpesona beberapa kali.
Hinata sama sekali tidak menyangka kalimat Sasuke, sebetulnya, bukan itu yang ia harapkan. Orang ini benar-benar sulit ditebak. Tapi, mau tak mau, Hinata memerah, secara tidak langsung Sasuke memujinya, dan, mau tak mau juga, Hinata lebih suka pujian seperti ini daripada rayuan secara gamblang. Tapi ia segera mengusir perasaannya dan menunduk untuk menutupi rona merahnya, tetapi mencoba bicara "Uchiha-sama, ada yang harus saya bicarakan sebenarnya."
"Sebaiknya kau simpan dulu, Hinata. Oh ya cukup panggil aku Sasuke." Sasuke memandang tidak sabar pada Hinata, sedikit terganggu pada Hinata yang menuntut jawaban darinya.
"Sa..sasuke-san, saya… i…i…ingin pulang." Hinata menunduk dan menelan ludah, takut jika ia salah bicara, jangan-jangan ia malah akan dipindahkan ke gudang atau semacam ruang bawah tanah mengerikan.
"Pulang?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, menganggap Hinata sudah gila dengan permintaannya.
Hinata menunduk, bagaimana ia bisa pulang kalau ia tidak punya tempat untuk dijadikan sebagai tempat pulang? Ia tidak punya rumah, hanya flat kecil dan reyot, dan mungkin sekarang sudah ditempati orang lain karena Hinata menghilang. Sasuke benar, Hinata tidak bisa pulang, "Kalau begitu biarkan aku keluar dari sini!" Hinata sedikit meninggikan suaranya, berharap kali ini Sasuke mau sedikit berbaik hati padanya.
"Baiklah, kau kuizinkan keluar dari sini. Sarapan siap jam tujuh. Kau boleh keluar dari kamar ini, tapi tidak dari rumah ini." Sasuke keluar dari ruangan itu tanpa menguncinya. Tapi diluar kamar Hinata masih ada dua penjaga bertampang seram.
Kali ini Hinata sudah benar-benar muak dengan permainan Uchiha Sasuke, semua cara yang ia lakukan sia-sia. Kesabaran Hinata sekarang sudah habis, ia tidak akan menahan kemarahan dan kebenciannya lagi pada Sasuke. Dan ini adalah pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya setelah bertahun-tahun mengunci semuany rapat-rapat dalam tubuhnya.
Hinata menjatuhkan dirinya ke kasur, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Tak tahukah Sasuke itu bahwa ia juga ingin hidup bebas? Tak tahukah Sasuke bahwa ia bahkan tidak memberikan alasan yang jelas untuk menculik Hinata? Sasuke memang bodoh, jahat, kejam, sombong, dan aneh. Rasanya Hinata ingin sekali berteriak, tapi seorang Hyuuga Hinata tidak akan pernah berteriak, ia bisa menahan teriakannnya. Hanya saja, ia tidak bisa menahan kemarahannya kepada Uchiha Sasuke sekarang.
Hinata pergi ke ruang makan yang dimaksud Sasuke pada pukul tujuh tepat, sesuai dengan komando si bossy Sasuke. Ia berjalan cepat-cepat dengan tangan terkepal, tidak suka diikuti oleh dua penjaga yang bertampang seram itu. Tapi sayangnya, kelihatannya mereka akan mengikuti Hinata kemanapun.
Ternyata Sasuke sudah menunggu, menunggu kedatangan Hinata dan menunggunya untuk sarapan—jika bisa dikatakan—bersama.
Ruang makan itu sama mewahnya dengan kamar Hinata, masih dengan gaya victoria, dengan tiga old christal chandelier yang disusun rapi diatasnya. Mejanya panjang, ada sekitar sepuluh kursi perbaris ditambah dua kursi utama, satu disetiap sisi. Sasuke duduk di salah satu kursi utama, sendiri di meja superbesar itu, tapi tetap terlihat mendominasi dan menawan. Kali ini Sasuke mengenakan baju santai, kaus tanpa lengan yang pas di badan seksinya dan celana army selutut. Sasuke terlihat hot, dan Hinata yakin, Sasuke adalah tipe seorang playboy kelas kakap yang bisa berganti wanita tiap jam.
Tanpa mengalihkan pandangan dari majalah otomotifnya, Sasuke memberikan tanda pada Hinata untuk duduk di kursi utama yang tersisa dengan memajukan sedikit dagunya. Hinata menurut, lalu duduk ditempat yang ditunjuk Sasuke. Tidak seperti Sasuke yang terlihat mendominasi di meja ini, Hinata terlihat semakin kecil dan menciut, suasana seperti ini menurutnya tidak cocok baginya.
Cukup sudah, Hinata ingin semuanya jelas sekarang, ia sudah tidak bisa menahan suaranya lagi, "Sasuke-san, sebenarnya apa tujuan anda membawa saya kesini? Saya sudah tidak tahan lagi di dalam sini dan saya juga punya punya kehidupan diluar sana, kalau ini masalah penolakan saya terhadap Uchiha Enterprises beberapa tahun yang lalu, saya benar-benar minta maaf dan jika anda tahu keadaan saya saat itu, saya harap anda bisa mengerti."
Sasuke memerhatikan Hinata bicara, diluar dugaan, Sasuke memiliki tata krama yang baik. "Tidak, bukan, bukan masalah penolakan itu. Aku hanya ingin kau disini, itu saja. Seharusnya kan kau berterimakasih padaku karena memberikan tempat padamu secara gratis."
Hinata hampir saja memuntahkan supnya, sesaat ia pikir Sasuke orang yang manis, tetapi ternyata dia malah bicara dengan kalimat sinis seperti itu. Sesungguhnya bukan jawaban egois begitu yang diharapkan Hinata, tetapi ternyata Uchiha ini lebih licin dan sulit ditebak daripada yang ia duga. Bahkan ia tidak bisa tahu kenapa Sasuke menculiknya dan segala hal tentangnya. Hinata sekali lagi hanya bisa menahan kemarahannya, tanpa bisa membalas apapun perkataan Sasuke, walaupun menyedihkan tapi semuanya benar.
"Baiklah, sarapan selesai." Sasuke selesai dengan sarapannya, kemudian pergi dari ruang makan, kini hanya ada Hinata dan beberapa pelayan saja di ruangan itu. Sarapannya Hinata jadi terasa hambar, tapi Hinata tidak diajarkan untuk membuang makanan, jadi ia tetap menghabiskan telur dadar dan tempuranya.
"ah… Nona Hinata sudah selesai? Mari saya antarkan ke kamar. Atau anda mau pergi berkeliling rumah ini?" Ayame menghampiri Hinata, membungkuk sopan disampinya. Hinata sedikit kikuk, pasalnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini dimanapun.
"Eh… kalau boleh, Ayame, aku ingin ke taman saja." Hinata sedang ingin duduk dan menikmati pagi itu saja, karena jelas tak ada yang bisa dibereskan disini, tak ada yang bisa dimasak, tak ada yang bisa disapu ataupun dibersihkan, jadi Hinata tidak punya pilihan selain duduk.
Selama bersantai di taman belakang rumah—atau mansion— Sasuke, Hinata mendengar banyak cerita tentang Sasuke. Ayah dan Ibu Sasuke ternyata masih hidup, tapi mereka sudah pensiun dari pekerjaan mereka dan Uchiha Enterprises diwariskan kepada putra semata wayang mereka, Sasuke. Sekarang, orang tua Sasuke berada di Selandia Baru, tinggal di villa pegunungan dan menikmati hari tua, tapi terkadang datang kemari. Dari Ayame juga, Hinata tahu, Sasuke ternyata berumur 27 tahun, dua tahun lebih tua darinya, dan lebih muda setahun dari teman seangkatan Sasuke, Naruto yang sekarang berumur 28 tahun, walau awalnya Hinata kira mereka seumuran. Dan Ayame juga jarang sekali melihat Sasuke membawa gadis-gadis untuk berkencan, karena Sasuke sedikit tertutup.
Menurut Ayame, hari sabtu dan minggu adalah hari bebas tuannya, jadi biasanya ia akan pergi main golf dengan para pejabat, atau mengurusi mobil-mobilnya, atau berenang. Hinata jadi mengira-ngira, mengingat foto Sasuke yang sedang menyanyi kemarin, apakah mungkin ia akan mengurung diri dan bernyanyi sambil bermain gitar? Ah, ya. Kata Ayame, Sasuke suka bermain gitar dan piano, kadang drum, atau bass. Dan suara Sasuke indah, Ayame memberikan itu sebagai poin penting bagi Hinata.
Hinata bahkan tidak menyangka Sasuke sesempurna itu. Ayame juga sangat terpesona dengannya, ia bercerita tentang Sasuke terus menerus, dan Hinata tidak punya kesempatan untuk menghentikannya. Tapi sayang, satu kelemahan Sasuke adalah sifatnya yang dingin dan angkuh, meskipun di mata beberapa—atau banyak— gadis hal itu adalah sebuah kelebihan.
Tiba-tiba Ayame bangkit dari duduknya, "Ahhh… sudah hampir jam sembilan Hinata-sama. Sasuke-sama pasti sudah menunggu anda didepan."
Hinata bingung, "Memangnya kenapa?"
"Oh ya, saya belum bilang, Sasuke-sama mengajak anda liburan. Beruntungnya anda." Ayame meminta Hinata berdiri dan mendorong punggungnya dengan lembut.
"Tapi kan…"
"Baju dan semua kebutuhan anda sudah disiapkan Hinata-sama, sudah ada di dalam mobil semuanya."
Hinata semakin bingung, "Kemana?"
"Ke Okinawa, Pantai dan pantai." Ayame berjalan lebih dahulu, mau tak mau Hinata mengikutinya juga.
"Okinawa? Dia pasti sudah gila. Oh kami-sama," Hinata menghentikan langkahnya, ia syok dan gemetar, apalagi sih yang direncanakan Uchiha itu?
TBC
Yey, Chapter 2 done! Masih banyak intronya ini. Latar belakang Hinata emang banyak banget untuk diceritain… Reviewers tercinta banyak yang minta rated M, tapi susah nih, bener-bener gamau bikin efek cowok brengsek ke Sasuke. Kan dia unyu-unyu. :p
And last, makasih yang udah support aku diawal, bener-bener terharu ada yang mau review. Titik dua ceprik buat readers. :*
