KIDNAPPED

Kamichama NekoChi (has no copyright but I believe you all respect me)

Disclaimer: Naruto absolutely belongs to Masashi Kishimoto

WARNING: OOC, Gaje, bit Western, Typo(s)

3rd Chapter: "Unpredictable Sweet Cupid"

Impian Hinata dan ayahnya pergi ke pantai sangatlah besar, bila digambarkan, mungkin seperti impian Carl dan Ellie pergi ke paradise falls dalam film Up, jika kalian pernah menontonnya. Hinata sangat menyukai pantai, tapi ia tidak pernah benar-benar pergi kesana, ia hanya melihat gambar-gambar pantai yang indah, dan mendengar cerita tentang pantai dari ayah dan ibunya. Mereka berdua pernah kesana, jauh sebelum Hinata lahir bahkan sebelum mereka menikah. Ibunya selalu bilang pantai itu sangat indah, pasirnya lembut, dan jika kau pergi ke tempat yang tepat, kau dapat menemukan beberapa ikan lucu, kerang, bintang laut dan makhluk lain yang sangat memesona. Hinata juga ingin melihat matahari terbit atau terbenam dari pantai, warna nilanya yang indah, dan lautnya yang bahkan ikut tenggelam oleh matahari saat sore.

Ayah dan Ibu Hinata selalu berjanji akan membawa Hinata ke pantai, tapi tak pernah mendapatkan cukup uang untuk itu. Pantai jauh sekali dari Konoha, perjalanan jauh dan biaya menginap tentu tidak sedikit.

Sampai Ibunya meninggal, Hinata tidak pernah pergi ke pantai. Tapi ia dan ayahnya percaya, mereka akan pergi kesana suatu saat, dan tetap membawa ibunya kesana dalam hati mereka masing-masing, dan percaya, mereka masih bertiga.

Hinata memenuhi kamarnya dengan gambar pantai hasil tangannya sendiri, menggambari atapnya dengan bintang laut dan kerang, jadi ia bisa merasa di pantai setiap saat.

Hinata dan ayahnya menjaga impian itu. Sampai ayahnya sakit, Hinata tahu, impian itu takkan pernah terwujud. Hinata tak ingin pergi ke pantai lagi, tidak tanpa ayahnya bersamanya. Bahkan ia tak mau pergi dengan Gaara, ia hanya mau ayahnya.

Sekarang Hinata berada di Audi SUV Sasuke, duduk di kursi penumpang disamping Sasuke, dan masih tidak percaya tujuan mereka. Hal terakhir yang diinginkan Hinata adalah pergi ke pantai, dan ia tidak pernah memikirkan pantai sudah sejak lama sekali.

Hinata sedikit membayangkan bagaimana pantainya nanti, di Okinawa banyak sekali pantai yang indah dan saat ini musimnya sedang mendukung.

Kenapa Sasuke selalu membuka halaman dihatinya yang sudah lama sekali ia sendiri lupakan? Pertama, walaupun Hinata tidak benar-benar mengakuinya, adalah merasa diperhatikan, dan rasa kenyang yang walaupun bagi sebagian orang konyol dan sederhana, Hinata merasakan efek yang sangat besar karenanya, kemudian rasa marah, pertama kali Hinata merasa semarah itu dan Sasuke yang sepertinya memang sengaja memancing kemarahannya keluar. Segala perasaan dalam hatinya seperti ingin menyeruak keluar.

Hinata jadi semakin penasaran, sebenarnya apa tujuan Sasuke menculiknya? Tapi Hinata hanya menahan pertannyaan itu dalam hatinya, ia tahu ia takkan pernah mendapatkan jawabannya. Tapi mungkin ia hanya harus menunggu saat yang tepat, dan ia akan mendapatkan kebebasannya kembali.

Hinata terus menerus melihat kearah luar, jendela disampingnya dibuka karena cuacanya sangat mendukung, dan tidak ada refleksi Sasuke di jendela, jadi ia bisa tenang, karena kalau Hinata melihat ke depan, akan sangat sulit baginya untuk tidak melihat Sasuke. Pria itu benar-benar tidak bisa tidak menarik perhatian. Mulai dari bentuk fisik sampai auranya seperti mengikat Hinata kedalamnya. Hinata terkadang menduga-duga, apa yang akan dilakukan gadis lain yang tidak bisa menahan dirinya akan pesona Sasuke? Mungkin mereka tetap akan melakukan piruette di dalam mobil ini saking senangnya. Sayangnya, Hinata bukan orang yang tidak bisa menahan diri.

Sepertinya sakura-sakura di Tokyo sudah siap untuk berbunga lagi. Hinata tidak pernah menyangka Sasuke membawanya sejauh ini. Ia kira ia masih berada di Konoha.

Dan Tokyo, memberinya kenangan tersendiri. Dari kejauhan terlihat gedung tunggal Tokyo University yang masih berdiri dan bangunannya sama seperti terkhir kali Hinata meninggalkannya. Hinata menghela napas berat, terlalu banyak kenangan dalam universitas itu. Tak jauh dari situ, sebuah apartemen berdiri dengan gagah, salah satu ruang di apartemen itu milik Gaara, mungkin sudah ditinggalkan pemiliknya. Mungkin Gaara sudah bekerja di suatu negara, atau mungkin sudah menjadi politikus terkenal dan pindah. Tahun-tahun sudah berlalu dan yang Hinata tahu tentang Gaara sedikit sekali, itupun bukan hal yang bagus, seperti yang dikatakan Tenten, dua tahun yang lalu, bahwa Gaara masih melanjutkan hidupnya, dan mengganti gadis yang tidur dikasurnya setiap saat.

Hinata memejamkan matanya, perih memang mengingat semua itu, Hinata tidak pernah benar-benar melupakan cintanya kepada Gaara, tapi Hinata harus melepaskannya. Pikiran Hinata melayang menuju peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat itu ulang tahun Gaara yang ke-23. Hinata dan Gaara terpisah ratusan kilometer jauhnya, karena Hinata pulang ke Konoha untuk merawat Ayahnya, tetapi hubungannya dengan Gaara masih berlangsung.

Hinata ingin mengejutkan Gaara saat itu, membawakan keik ulang tahun cantik yang dibuatnya sendiri, pagi-pagi buta. Lalu langsung pergi ke Tokyo jam sembilan pagi dan sampai jam lima sore, melewati berbagai stasiun dan ribuan pemberhentian kereta, dengan berat hati meninggalkan Ayahnya dirumah dan berjalan tujuh kilometer dari stasiun sampai rumah Gaara bukanlah halangan yang berarti saat itu. Langkah kecil bahagianya tidak sabar menanti Gaara untuk menyambutnya dengan hangat seperti biasa.

Bukan Gaara yang membukakan pintunya, seorang pria setengah mabuk mempersilakan Hinata masuk, menginformasikan kepadanya bahwa orang yang dicari Hinata berada di kamarnya. Apartemen itu dipenuhi orang, sebagian kecil Hinata mengenalnya. Hinata sempat melihat profiterole di tengah ruangan, dan saat itu Hinata merasa ingin membuang keiknya, tapi hati kecilnya meyakinkan, mungkin saja Gaara mau mencolek keik buatannya sedikit saja untuk sekedar menyenangkannya, seperti yang telah berhasil dilakukannya selama ini.

Dan yang berada di kamar itu bukan hanya Gaara sendiri, tapi Gaara bersama seorang gadis setengah telanjang, dan Gaara sepertinya siap melahap dada gadis itu. Kurang dari sedetik kemudian, Hinata menyadarkan dirinya dan pergi dari ruangan itu. Dan tiba-tiba Hinata sudah berada di rumah, jam dua dini hari.

Sore harinya Gaara menyusul Hinata, berlutut di depan rumahnya, tanpa kata-kata, tanpa gerakan yang berarti, hingga Hinata keluar dan kemudian bilang bahwa Gaara boleh pergi. Hinata tahu, alasan Gaara meniduri gadis lain sangat masuk akal, Hinata takkan bisa melakukannya untuk Gaara, memikirkannya saja belum pernah.

Jadi Hinata melepaskan Gaara.

Hinata membuka matanya, ia tertidur, tertidur dan bermimpi buruk, mimpi masa lalu yang menyakitkan. Sesaat Hinata melayangkan pandangannya ke Sasuke, yang balas dipandang Sasuke dengan wajah datar, takut ekspresi sakitnya terbaca, Hinata lalu mengalihkan lagi pandangan spontannya tadi ke jalan, ia baru tidur sekitar tiga menit, jika dihitung dari jarak yang telah mereka tempuh.

Sepanjang perjalanan, Hinata dan Sasuke hanya diam. Hinata tidak mungkin mengajak bicara penculiknya sendiri, dan rasa benci yang membuncah menambah seleranya untuk tidak mengajaknya berbicara.

Ponsel Sasuke bergetar, yang dengan cekatan langsung diraihnya dari kantong celana pendek army-nya. Hinata mendengar lamat-lamat pembicaraan Sasuke di ponsel, sepertinya seorang gadis bernama Alex sedang sakit. Hanya itu yang dapat didengar Hinata, lalu Sasuke memutar, "Kita pulang." Sasuke terlihat gelisah. Dan Hinata sedikit tercengang, ternyata orang minim ekspresi seperti Sasuke bisa terlihat begitu gelisah.

Mungkin Alex adalah pacar Sasuke. Hinata membayangkan gadis cantik berambut coklat, bermata hijau dan berkulit sewarna madu yang bekerja sebagai model-dokter gigi dan pantas memakai bikini kemanapun. Hinata maklum, pria seperti Sasuke pasti pacarnya seperti itu. Jika dibandingkan dengan Hinata, pasti bukan apa-apanya.

Perjalanan pulang lebih singkat. Pintu penumpang Hinata langsung dibuka oleh salah seorang penjaga yang menjaga Hinata sebelumnya. Tetapi Sasuke tanpa menunggu pintunya dibukakan, langsung berjalan keluar mobil dengan sedikit tergesa, melangkah begitu lebar dan berjalan cepat-cepat.

Tak berselang lama kemudian, Ayame keluar dengan tergopoh-gopoh menghampiri Hinata, wajahnya juga terlihat gelisah. Bagus, karena Hinata sudah tidak tahan berdiri disini dengan dua orang penjaga menyebalkan. Tapi sebenarnya ada apa sih? Apa pacar Sasuke itu begitu berarti bagi semua orang? Sebersit rasa yang aneh menghampiri Hinata. Cemburu? Iri karena Hinata jadi tidak diperhatikan? Ah, tapi mungkin karena tadi Hinata teringat Gaara, mungkin tidak ada hubungannya dengan si raven.

"ahh… Hinata-sama, ayo masuk. Anda pasti sudah capai menunggu disini." Ayame membungkuk sopan, dan dibalas dengan gerakan serupa oleh Hinata. Ayame membawanya masuk, dan berhenti didepan sebuah ruangan, lalu menunggu sesuatu dengan gelisah, bersama dengan empat pelayan lain yang sama-sama berseragam seperti perawat, tetapi berwarna biru gelap beraksen garis putih pada setiap ujungnya, bergambar kipas di punggung dan dengan name tag di setiap dada kiri mereka.

"Se-sebenarnya ada apa sih?" Hinata sudah tidak dapat menahan suaranya lagi dan berbisik kepada Ayame dengan takut-takut, ikut berbaris didepan pintu, bahkan kedua penjaga Hinata yang tadi juga ikut berbaris disebelahnya. Semuanya membingungkan bagi Hinata, dan terjebak dalam kebingungan rasanya sangat tidak enak.

"Ahh… Alex sakit nona, sebelah wajahnya membengkak. Kasihan sekali." Sebenarnya Hinata tidak ingin rincian tentang penyakit, tapi siapa Alex sebenarnya.

"Dan Alex adalah…"

"Alex, ohhh… ahahaha… tentu saja Hinata-sama tidak tahu siapa Alex." Ayame menepuk jidatnya sendiri, menganggap bahwa yang dirinya telah melakukan sesuatu yang bodoh.

Sebelum Ayame sempat menjelaskan, pintu kamar besar didepan mereka terbuka. Ayame langsung menunduk, begitu juga enam orang yang lain termasuk Hinata—karena bingung harus berbuat apa—sebagai isyarat hormat kepada si pembuka pintu. Sasuke keluar dengan terburu-buru, membawa sesuatu yang dibungkus dengan selimut. Eongan lemah terdengar sesaat dari buntelan yang dibawa Sasuke, Hinata melihat sebuah kepala mungil menyeruak dari dalam selimut, sempat bertatapan dengan Hinata selama kurang dari sedetik.

Ternyata Alex adalah seekor kucing, Hinata benar tentang warnanya, berwarna madu, tetapi bermata biru. Salahkan orang yang memberinya nama, Alex terlalu manusia, harusnya kucing itu diberi nama yang lebih masuk akal bagi seekor kucing, seperti Kitty, Cream Puff, Pancake, Snowbell, Maru, Momo, Nekochi atau apapun yang sering terdengar. Bukannya Alex. Tapi Hinata sempat kagum dengan kecantikan kucing itu, pasti harganya selangit dan, sepertinya Abyssinian murni, keturunan kucing pertama yang dipelihara manusia, keanggunannya benar-benar orisinil, cukup untuk menggambarkan seorang ratu Mesir.

Hinata cukup ahli kalau soal kucing. Ia termasuk fanatik kucing sejak kecil, mengetahui ras-ras kucing, menyimpan banyak sekali foto kucing di laptopnya. Tapi itu bukan berarti ia punya satu dirumah. Ayahnya dan kucing bukanlah pasangan serasi, ayahnya selalu protes dengan orang-orang di televisi yang memanjakan kucing terlalu berlebihan , memberi mereka makanan dan perhiasan yang bahkan tidak bisa dibeli kebanyakan orang.

Ayahnya juga selalu memiliki prasangka negatif terhadap kucing, mulai dari kebiasaan kaum mereka buang kotoran sembarangan, menghancurkan perabot, bulu yang membuat alergi, dan penyakit-penyakit yang konon berinang di tubuh makhluk ini.

Untuk hal kucing, Hinata dan ayahnya bukanlah tim yang baik. Satu-satunya kejahatan yang dilakukan Hinata dan mendiang ibunya kepada ayahnya adalah mencintai kucing-kucing. Hinata berusaha mati-matian mencari referensi yang membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan kejam ayahnya kepada binatang manis ini hanyalah bualan pecinta anjing semata. Hinata mencintai kucing-kucing ini, berpetualang ke berbagai tempat sepulang sekolah dan memakai uang sakunya untuk memberi makan anak-anak kucing yang terbuang, menghabiskan waktu berjam-jam demi mengelus seekor kucing kurus di taman, bahkan menangis saat melihat seekor kucing kecil yang terlindas truk.

Hinata selalu ingin menjadi seperti kucing, tetap berjalan dengan anggun tanpa menampilkan rasa sakit walaupun tubuhnya terluka parah, tetap menjaga kehormatan mereka. Dan mereka tidak memiliki rasa dendam, seberapapun mereka disakiti oleh manusia, pada akhirnya mereka tetap memaafkan manusia dan membiarkan manusia mengelusnya lagi, selalu memberikan kesempatan yang tak terbatas. Hinata sungguh ingin memiliki sifat itu, menghilangkan rasa bencinya pada Uchiha Sasuke karena merebut kebebasan dan kesempatannya, dan mencoba berterimakasih karena telah memungutnya dari jalan. Tapi sayang Hinata bukan kucing, dan tidak memiliki sifat itu—atau belum— tapi setidaknya ia berharap diberi kesempatan untuk belajar, walaupun bukan sekarang.

Tetapi sepertinya beberapa sifat kucing ini lebih mirip Sasuke ketimbang Hinata, pembawaannya yang tenang dan keangkuhannya, serta jalan pikirannya yang tidak bisa ditembus melalui mata kelamnya benar-benar merepresentasikan seekor kucing. Kucing tidak pernah merayu, mereka memerintah kepada manusia. Tetapi kucing menggunakan cara-cara yang lembut, bukan seperti Sasuke yang semena-mena.

Hinata menghabiskan hari itu bersama Ayame, meskipun sudah menunjukkan tanda-tanda ketidaksukaannya kepada dua pengawal pribadinya, mereka tetap tidak pergi dan mengikuti Hinata kemanapun. Setidaknya Hinata bersyukur, Sasuke tidak jadi mengajaknya ke pantai, karena pantai hanya akan membuat perasaannya semakin perih. Dan terlebih lagi, sepertinya Sasuke bakal lama, karena sepertinya Sasuke benar-benar menunggui Alex.

"Kami semua menyayangi Alex," Ayame mengatakan nama Alex dengan lembut, sorot matanya berubah seirama dengan intonasi suaranya.

Dan Hinata—karena ini soal kucing—bersedia membuka telinganya lebar-lebar tanpa melewatkan satu kata pun. Paling tidak Hinata bisa melupakan Sasuke dan semua ritual menyebalkannya yang mengerikan dan membuat Hinata harus menguras perasaannya.

"Kata pelayan yang sudah bekerja disini lama sekali, Sasuke-sama menemukannya waktu berumur dua belas tahun."

Menemukannya? Apa Hinata tidak salah dengar? Kucing secantik itu dan Sasuke hanya menemukannya?

"Awalnya Alex tidak cantik sama sekali. Tapi setelah sedikit tumbuh ia menjadi cantik, dan kelihatan sangat Abyssinian. Tapi Alex tetap nakal, ia terus menggores tirai dan memecahkan vas-vas kecil. Walaupun begitu, ia memiliki indra yang tajam, selalu membuat orang yang sedang sedih dirumah ini menjadi ceria kembali. Dan, Anda harus percaya Hinata-sama, Sasuke-sama adalah ayah yang benar benar benar baik. Well, belum ada wanita yang pernah tidur di kamar Sasuke-sama selain Alex."

Hati Hinata terasa hangat dan menyesakkan, ah, sejak kapan ya Hinata tidak merasakan perasaan ini. Mungkin sejak ayahnya meninggal. Saat ini tanda-tanda kehidupan di perasaan Hinata mulai terasa, walaupun tidak bisa dibilang banyak karena kesedihan dan kebencian masih mendominasi hatinya. Tapi kehangatan disini membuat Hinata bingung, entah karena sifat Alex yang menggetarkan, atau sifat Sasuke yang… ah, Hinata tidak ingin begitu mengakuinya. Tidak karena Sasuke sudah menghancurkan kebebasannya.

~0~

Matahari kali ini sepertinya enggan berdiam diri dan bersembunyi, keangkuhannya terasa sekali di luar rumah, musim semi kali ini bahkan awan tak datang, padahal seharusnya ada hujan rintik-rintik yang menyejukkan dikala musim semi. Mungkin awan sedang malas menghadapi hari, dan ingin tetap berada jauh dari matahari tanpa nyali untuk menutupi sang surya.

Hinata kembali ke kamarnya, atau lebih tepatnya kamar Sasuke yang dipinjamkannya kepadanya. Hinata berniat untuk tidur siang, karena Ayame harus melakukan beberapa pekerjaan dan Hinata yakin keberadaannya hanya akan mengganggu gadis belia itu. Selain itu udara panas seperti ini tidak mendukung keinginan setiap orang untuk beraktivitas.

Baru saja Hinata merebahkan tubuhnya kekasur, tiba-tiba suara eongan kecil yang bernada menuntut terdengar dari bawah pintu kamar itu. Hinata mengecek, kemudian suara itu disusul dengan cakar kecil yang menggapai-gapai melalui celah dibawah pintu.

Kucing itu ingin masuk, tanpa menunggu lama, Hinata membukakan pintunya. Syukurlah, karena Sasuke sudah tidak sekejam hari kemarin dan mengizinkan Hinata keluar dari kamarnya.

Hinata tersenyum melihat kucing itu, keadaannya jauh lebih baik dari tadi pagi dan wajahnya tidak membengkak lagi, ia kelihatan bersemangat. Well, jauh berbeda dengan Hinata yang mengkerut tanpa keinginan hidup.

Hinata memandang pada dua orang penjaga yang memerhatikannya, takut akan wajah mereka yang tergolong sangar. Hinata kemudian cepat-cepat menutup pintu kamar itu setelah Alex menerobos masuk.

Hinata menyusul Alex yang sudah memosisikan dirinya dengan nyaman di karpet Kashmir dan memainkan cakar kecilnya di bulu-bulu kambing yang malang itu.

Hinata mengelusnya pelan, benar kata Ayame, kucing ini tahu bagaimana cara memerlakukan manusia dengan baik. Hinata tersenyum tipis, sedangkan bulu lembut di tangannya sudah mendengkur nyaman menikmati setiap sentuhan Hinata. Hinata lalu menidurkan dirinya disamping Alex, tetapi ia mulai rasa kantuknya menyerang. Hinata tidak mau tidur dulu, waktunya dengan Alex begitu berharga dan Hinata tidak akan melewatkannya. Akhirnya Hinata mencari DVD di rak televisi, menemukan Les Mis—favoritnya, lalu menyetelnya di DVD Player.

~0~

Sasuke tersadar, gumpalan bulu lembut yang bersandar tenang di pahanya tadi sudah hilang. Ini masih jam satu siang dan Alex sudah berkeliaran, biasanya dengan perut penuh sehabis makan siang weekend seperti ini Alex akan tertidur di dekat Sasuke. Kali ini Sasuke khawatir, apalagi kesehatan Alex akhir-akhir ini menurun. Alex memang kucing tua berumur lima belas tahun yang membutuhkan perhatian ekstra.

Sasuke meletakkan buku yang dibacanya tadi kedalam rak perpustakaan keluarga sesuai urutannya semula, lalu keluar dari perpustakaan itu, bermaksud untuk mencari kucingnya yang hilang.

Firasat Sasuke mengatakan ada sesuatu di kamar yang ditempati Hinata.

Dan benar saja, Alex berada didalam kamar Hinata. Tidur di dekat leher Hinata sambil memutar video Les Mis di atas karpet Kashmir kamar itu. Keduanya benar-benar pasangan kontras, madu dan indigo, tapi tampak serasi dan benar-benar indah. Terlebih karena wajah Hinata yang biasanya hanya menerawang kosong, kali ini melembut dan penuh kasih sayang. Tepat seperti yang dilihat Sasuke sebelum ayah Hinata meninggal.

Sasuke menunjukkan eksistensi dirinya kepada Hinata dengan batuk palsu tunggal, membuat Hinata terburu-buru mencari remote control televisi dan mematikannya, lalu berdiri dengan cepat dan tanpa sengaja menyentak Alex yang tertidur pulas dan membuat kucing itu terbangun dengan kaget. Membuat Hinata kaget juga karena tiba-tiba makhluk berbulu itu sudah menancapkan kuku tajamnya ke betis mulus Hinata. "Ma-maaf Alex, aku kaget." Hinata lalu mengangkat kucing itu dan mendekapnya di dadanya, tapi tanpa melupakan rasa paniknya atas kedatangan Sasuke yang tiba-tiba, lalu menunduk malu.

Alih-alih merasa kasihan karena luka Hinata, kali ini Sasuke malah merasa harus benar-benar menahan tawanya melihat betapa lemotnya Hinata. Entah karena tidak terasa sakit atau tidak sadar dicakar atau memang Hinata terlalu baik.

"Sepertinya itu harus diobati dan dibersihkan," Sasuke bersuara dengan intonasi super rendah, menjaga agar tidak ada nada tawa dalam kalimatnya. Lagipula Sasuke tahu apa yang dilakukan Alex dengan kukunya. Bangkai tikus dibawah tempat tidurnya sudah membuktikan banyak hal minggu lalu.

"e…eh?"

Tanpa melepaskan gendongan Hinata pada kucingnya, Sasuke menarik Hinata ke kamar mandi dan mendudukannya dengan paksa diatas kloset. Hinata bahkan belum sempat protes ketika Sasuke berlutut dibawahnya untuk menempelkan kapas yang sudah ditetesi dengan alkohol 70%.

"Ahh…" Hinata mengerang dan menarik kakinya menjauh dari jangkauan Sasuke. Membuat Sasuke berdecak sebal. Belajar dari pengalaman, kali ini Sasuke memegangi kaki Hinata dengan kuat agar tidak meronta lagi. Mau tak mau Hinata harus merasakan perihnya dan hanya bisa meredamnya dengan menggigit bibir.

"Diamlah, kalau kau diam akan lebih cepat." Sasuke benar-benar seperti mengobati anak umur enam tahun yang sulit diobati.

"Sasuke-san sa-sakit…" Hinata sedikit merengek, berharap dengan begitu Sasuke mempercepat prosesnya. Sementara gumpalan bulu di pangkuan Hinata hanya diam memerhatikan sejak tadi, tanpa rasa bersalah diwajah mungilnya dan malah menatap bangga pada hasil cakarannya.

"Aku hanya mau mengambil Alex," Kata Sasuke setelah mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan Hinata yang mendapatkan plester baru di kakinya.

Dengan berat hati Hinata menyerahkan kucing itu kepada Sasuke. Sebenarnya, kedatangan Alex ke kamar Hinata adalah sesuatu yang sangat menyenangkan baginya, kedatangan kucing manja nan manis kekamar itu membuat Hinata tidak merasa kesepian lagi. Dan Sasuke malah datang untuk mengambilnya, walaupun itu kucingnya kan tetap saja binatang itu memilih Hinata untuk menemaninya. Hinata menunduk dalam-dalam, ia ingin ingin ingin sekali kucing itu tetap bersamanya, tadi rasa gengsi dan takut dan bencinya memaksanya tetap diam dan menunduk.

Baru dua langkah Sasuke berbalik untuk berjalan keluar, Alex meronta-ronta dari dekapan Sasuke lalu meloncat turun. Seperti atlit lompat galah tanpa galah dengan per di kakinya, kucing itu dengan mudah memantulkan tubuh rampingnya kemudian mendarat di dada Hinata, sukses membuat Hinata tersungkur dan jatuh ke lantai marmer dengan suara berdebam yang cukup keras.

Lalu hening…

Dua detik kemudian, Hinata tergelak, menganggap kejadian barusan lucu, bukannya menyakitkan, "Pfftttt… Sasuke-san, tadi itu seperti film kartun… Hihihihi..."

Sasuke menatap Hinata dengan intens, inilah yang ditunggu-tunggu si pemuda raven, senyum di wajah manis si gadis indigo. Bahkan ini bukan sekedar senyuman, tapi gelak tawa, melebihi target Sasuke. Terlebih, Hinata menyatakan perasaannya kepadanya. Kali ini Sasuke harus berterimakasih pada Alex, berjanji memberikan porsi ayam panggang lebih banyak pada kucing itu minggu depan.

Menyadari tatapan datar Sasuke yang tak terbaca pada dirinya, Hinata segera menutup mulutnya dan menunduk dengan wajah semerah tomat, merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan diri. Tapi hatinya terasa hangat, rasa yang sudah lama tidak ia rasanya, merasa dibutuhkan dan rasanya seperti berada dalam keluarga.

Hinata merasa bulir-bulir lembut dari matanya menetes, melewati pipi, dagu dan menetes di bulu lembut dalam dekapannya. "Sasuke-san, aku, aku…"

TBC

Yak, itulah chap 3 yang rada gaje. Hehehe… kelamaan yah updatenya.

Pasti pada mikir kan, yakannnn? Kenapa kucing? Kenapa? Karena si author baka ini bingung mau kasih mak comblang biar Sasuke bisa masuk-masuk kamar gituu… masalahnya kan si Sasu sok-sok gengsi gitu. Kebetulan lagi baca buku autobio-nya Cleo, sama Dewey, itu deh pokoknya kucing artis (?). Jadi kepingin nulis kucing juga. Tapi perannya ga bakal terlalu banyak kedepan. Si kucing ini jadi bikin Hinata sama Sasu kayak Ayah-Ibu yah...

Kayaknya saya bikin Sasu OOC banget dweh, terlalu sempurna, malah jadi mirip Christian Grey FSoG #plak. Tapi Sasuke ntar juga bakal punya beberapa kekurangan, terutama dari psychological side. Tapi nanti: p

Pada akhirnya, saya tetap menuntut Review, hohoho… Flames, critics, advices, compliments, all accepted.

Goes on, or stops? Depends on you.

And sorry for the super-slow update. :( Hope I can find more time to write.

Kamichama NekoChi

Thanks for supporting me at first: