KIDNAPPED
Kamichama NekoChi (has no copyright but I believe you all respect me)
Disclaimer: Naruto absolutely belongs to Masashi Kishimoto
WARNING: OOC, Gaje, bit Western, Typo(s)
4th Chapter: "Look for ur Healer"
"Aku—"
Sasuke menunggu.
Hinata terdiam sesaat, ia benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi Hinata tidak bisa menghentikannya, ini seperti kutukan, Sasuke mengutuknya untuk mengatakan semuanya.
"Aku ingin keluar dari sini,"
Kali ini Hinata yang menunggu, kepalanya menunduk dalam-dalam. Ini mungkin malah akan membuat Sasuke marah, dan akibatnya bisa fatal bagi Hinata, terlebih ia tidak tahu siapa Sasuke.
Tapi Hinata tidak akan berhenti, sudah cukup ia diam saja selama ini. Paling tidak Hinata sudah mencoba, dan bagaimanapun hasilnya, itulah keberanian.
Sasuke mencengkram pundak Hinata, memintanya berdiri dengan paksa. Gadis mungil ini hanya meringis, tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.
"Kau tidak akan kemana-mana, Hinata. Kau akan membusuk disini." Sasuke berkata dingin. Hinata benar-benar merasakan perbedaan atmosfer antara saat ini dan lima menit yang lalu. Saat ini aura Sasuke benar-benar merah, Hinata bahkan bisa melihat kilatan bola mata Sasuke yang seperti berubah warna menjadi merah.
Sasuke menghempaskan Hinata kasar, tapi tidak sampai menjatuhkan gadis itu, lalu keluar kamar setelah mengambil Alex dan benar-benar menghilang.
Hinata merosot, terduduk di lantai yang dingin. Kenapa jadi begini? Bukannya Sasuke sendiri yang menuntun Hinata untuk mengeluarkan perasaannya? Tapi Hinata tidak kecewa akan apa yang telah dikatakannya tadi. Bukankah itu keberanian yang besar? Setidaknya Hinata benar-benar sudah mengambil langkah yang besar, dengan begini kekuatannya akan bertambah bukan?
Walaupun saat ini Hinata malah menangis, tapi kekuatan seorang gadis tidak ditentukan dari tangisan mereka, tapi seberapa keras mereka berusaha. Dan Hinata sudah berusaha walaupun mengalami kegagalan. Ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan kebebasannya kembali.
Hinata merasa hatinya telah melunak, mungkin karena ia telah melepaskan beban berat yang diterimanya di masa lalu yang bahkan belum pernah ia keluarkan dalam bentuk tangisan sekecil apapun. Tapi sekarang Hinata bisa menangis sepuasnya, ia bisa mengeluarkan semuanya sebebas yang ia bisa, bahkan sampai air matanya berubah menjadi darah sekalipun.
"Tou-san, Kaa-san, Hina-chan merindukan kalian… " Pertama kali sejak ibunya meninggal, Hinata membiarkan dirinya merindu. Sedari kecil, ayahnya tidak pernah menolerir rasa rindu, sedih, dan airmata. Di mata Hiashi, air mata hanya menambah beban dan kesedihan, ia sering mencubit atau memukul Hinata kecil kalau sampai gadis itu menangis didepan matanya.
Ayahnya selalu bilang segalanya akan baik-baik saja. Padahal tidak, apanya yang baik-baik saja jika kau kehilangan seorang Ibu? Apanya yang baik-baik saja kalau ayahmu terkena kanker dan meninggalkanmu begitu cepat? Apanya yang baik-baik saja jika kau diculik dan dikurung tanpa bisa pergi kemanapun? Tidak ada yang baik-baik saja. Semuanya gawat saat ini.
Hinata memang sudah melunak saat ini, tapi sekarang rasa bencinya kepada Sasuke malah bertambah berkali-kali lipat. Dan sekarang, Hinata benar-benar tidak bisa keluar dari tempat ini, alasan pemuda itu menculiknya saja belum jelas.
Hinata meringkuk di tempat tidur, menempelkan dadanya dengan kaki-kakinya, memegangi kedua lengan porselennya dengan kuat, sayangnya Hinata tidak pernah memelihara kuku-kukunya, kalau tidak, sekarang lengan-lengannya sudah robek karena cengkramannya sendiri.
Akhirnya Hinata tertidur ditengah-tengah tangisannya, mungkin Hinata bahkan tidak sadar dirinya tertidur.
Semoga besok lebih baik dari hari ini.
Semoga…
~0~
Hinata terbangun jam enam pagi, kepalanya terasa sangat berat, hampir seperti saat pagi pertama ia dibawa Sasuke ke rumah ini. Tapi saat ini rasanya berbeda. Hinata merasa tidak ingin pergi dari tempat tidur. Semangatnya hilang sama sekali saat ini, bahkan rasanya lebih hilang dari kemarin dan Hinata merasa sangat sakit. Lagipula, sakit atau tidak, tetap saja tidak ada yang bisa Hinata lakukan untuk keluar dari tempat ini. Ini pilihannya sendiri, lebih baik begini daripada berusaha susah-susah tapi hasilnya percuma.
Padahal Hinata sudah bisa menangis kemarin, tapi sekarang sepertinya tak ada yang tersisa. Jadi ini mungkin sebabnya seseorang harus pergi ke psikiater secara berkala. Timbunan perasaannya selama bertahun-tahun tidak bisa dihilangkan secara instan dalam satu hari.
Jika Hinata bisa berpikir positif, mungkin ia bisa menganggap perlakuan Sasuke bagian dari terapi, walaupun sedikit terlambat dan perasaan Hinata pagi ini mungkin tidak bisa dicegah. Tapi Hinata terlalu buta, hanya melihat hal-hal buruk yang dilakukan pemuda itu dan membencinya dengan cepat karena merusak kebebasannya, dan kata-kata dinginnya yang sama sekali tidak menghibur.
Beberapa jam kemudian, Ayame mengetuk pintu. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ayame masuk kedalam kamar yang dipakai Hinata.
"Hinata-sama, sarapannya sudah siap. Hinata-sama, anda tidak apa-apa?" Ayame mendekati Hinata yang meringkuk berlapiskan selimut di salah satu sisi tempat tidur. Gadis indigo itu hanya mengangguk lemah, bibirnya yang biasanya pucat pun saat ini lebih pucat lagi, Ayame memegang lengan Hinata, dingin, seperti mayat.
"Astaga! Hinata-sama, Anda sakit! Sebaiknya saya panggilkan Sasuke-sama." Sebelum Ayame keluar dari ruangan itu , Hinata menahan tangannya.
"Tidak, Ayame-san, aku baik-baik saja. Tolong, aku hanya harus ke kamar mandi. Bantu aku." Hinata tersenyum meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja dengannya. Kebohongan, tepat seperti yang selalu dilakukan ayahnya. Tapi ini lebih baik, daripada nanti Sasuke datang kesini dan malah membunuh Hinata.
Dengan ragu Ayame menurut, membantu Hinata duduk, lalu menjinjing lengan Hinata dipundaknya, lalu berjalan sambil menahan tubuh lemah Hinata yang kelihatannya bisa jatuh dan pecah kapan saja.
Hinata memberi isyarat pada Ayame untuk membawanya ke wastafel, lalu memegangi kran lumba-lumba wastafel itu dengan kuat, lalu mulai memuntahkan isi perutnya. Ayame cepat-cepat mengumpulkan rambut panjang Hinata dan mengangkatnya tinggi-tinggi, satu tangannya lagi memijat-mijat tengkuk Hinata.
"Hinata-sama, jadi Hinata-sama sudah mengandung?" Tanya Ayame setelah mereka kembali lagi ke tempat tidur.
Hinata syok, mungkin Ayame mengira muntahnya tadi adalah morning sickness yang biasa dialami wanita hamil.
"Tidak, Ayame-san, a-anak siapa?" Hinata tetap mencoba menjawab walaupun saat ini suaranya sudah hampir menghilang.
Ayame tertawa, bukankah saat ini sudah sangat jelas hubungan Hinata dengan Sasuke? Bahkan Sasuke sendiri yang meminta Ayame untuk melayani gadis ini dengan baik. Sasuke bahkan pulang setiap hari sejak Hinata dirumah ini. Bukannya mereka pasangan?
Hinata tidak sempat menanggapi tawa Ayame karena kepalanya tiba-tiba sangat sakit. Gadis itu memegangi kepalanya sambil meringis, tapi tetap berusaha menenangkan Ayame dan merebahkan tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa Ayame, kau boleh pergi." Mau tak mau, Ayame keluar dari ruangan itu, setelah sebelumnya mengingatkan Hinata untuk meminum teh Camomile dan sarapan pagi yang ditinggalkannya di ruangan itu.
Hinata bahkan tidak ada niatan untuk memakan makanan itu, perutnya terasa hampar, tidak lapar, tidak merasakan apa-apa, sedangkan mulutnya terasa pahit, membuat Hinata semakin berkeras menolak makanan tersebut walaupun faktanya ia membutuhkannya.
Ayame membawa pergi makanan itu jam satu siang dengan helaan napas panjang. Tak satupun tegukan atau suapan masuk kedalam mulut Hinata, dan sekarang keadaannya malah semakin parah. Ia hanya merespon setiap kata-kata Ayame dengan gerakan kepala, seperti tidak cukup kuat untuk berbicara.
Mungkin Hinata bukan hamil, tidak mungkin separah itu kalau hanya masalah hamil muda. Ayame harus bilang ke Sasuke tentang hal ini secepat mungkin. Ia toh tidak bisa menolong Hinata, tidak bisa melakukan apapun, lagipula kalau sampai terjadi apa-apa terhadap Hinata, sepertinya ia harus membayar mahal karena melalaikan tugas, serta mengingat betapa protektifnya Sasuke pada Hinata. Dan ia sudah kenyang akan ceramah Sasuke tentang menjaga dan merawat gadis ini. Sebenarnya gadis yang beruntung, menjadi berlian bagi pemuda seperti Sasuke, yang takkan pernah dimimpikannya, karena Ayame juga mengagumi tuan mudanya itu.
~0~
Ayame benar-benar tidak bisa dipercaya.
Setidaknya itulah yang Hinata voniskan kepada pelayan muda yang malang itu. Sekarang Sasuke sudah berada dikamarnya lagi, bertingkah seolah tidak ada yang ia lakukan pada Hinata kemarin siang.
Baru saja lima belas menit yang lalu Ayame pergi mengambil baki sarapannya, sekarang Sasuke ikut-ikutan datang.
"Kau tidak apa-apa Hinata, bangunlah." Sasuke berkata dingin pada Hinata, retoris, itu lebih tepat dikatakan perintah dan bukannya membantunya sembuh, Hinata malah akan semakin sakit kalau Sasuke datang.
Hinata tetap meringkuk, memunggungi Sasuke dan masih tetap mengenakan selimut sebatas leher. Berusaha tidak mengindahkan perkataan Sasuke. Lebih baik ia berkonsentrasi pada sakit kepalanya daripada mendengarkan Sasuke.
"Sa-Sasuke-sama maaf, tapi apakah Hinata-sama tidak membutuhkan dokter?" Ayame berkata takut-takut, agak sedikit khawatir kalau-kalau penyakit Hinata parah, dan seperti yang sering diberitakan di televisi, Hinata bisa-bisa akan mati karena telatnya penanganan.
"Tidak, aku tahu Ayame. Kalau dia mau, dia bisa bangun dan meloncat sekarang juga dari tempat tidur."
Ayame mundur, ia tidak ingin memulai perdebatan dengan tuan mudanya ini. Tapi Hinata menggantikan peran Ayame, dengan sedikit memaksa suara seraknya keluar, mengatakannya dengan datar dan dingin. "Katakan satu alasan saja kenapa aku mau bangun, Sasuke."
Sasuke terdiam sebentar dan mendecih, "Kau akan tahu suatu hari, Hinata. Semua manusia diciptakan untuk itu."
Tidak ada respon lagi dari Hinata, Sasuke memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Urusan Hinata ini benar-benar membuatnya pusing, ia bahkan tidak menyangka gadis kuat yang berusaha mati-matian untuk menyelamatkan ayahnya kini berubah menjadi gadis lemah tidak punya semangat hidup. Sasuke mengerti psikologi dasar, tapi benar-benar sulit mengerti gadis didepannya ini. Apa mungkin caranya salah? Bukannya ketegasan selalu bisa menyelesaikan masalah? Kenapa sih dengan gadis ini?
"Tiga puluh menit lagi kau akan ada sesi dengan psikiater." Sasuke keluar lalu menutup pintu itu dengan pelan, hampir tidak menimbulkan suara.
Rutukan Hinata hanya sebatas dalam pikirannya, karena tubuhnya kini sudah benar-benar kaku dan tidak mau merespon perintah dalam otaknya lagi. Kali ini psikiater? Memangnya ada yang salah dengan kejiwaan Hinata? Yah memang ada banyak masalah dalam otaknya. Tapi ini, pakai psikiater segala, padahal Hinata tidak gila, mendekati pun tidak.
Lagipula Hinata tidak akan bisa menjawab apapun kalau psikiater itu bertanya macam-macam, tenaganya sekarang sudah habis.
Tapi Ayame memaksanya minum susu, segelas penuh. Membuat Hinata mati-matian menahan muntahnya. Setidaknya kekuatannya bertambah sedikit. Walaupun hanya sedikit.
~0~
Psikiater yang sudah cukup berumur itu keluar dari kamar yang ditempati Hinata setelah sesi selama setengah jam. Lalu digiring Ayame menuju ke ruang tamu menemui Sasuke.
"Hhhh… Uchiha-san, gadis ini benar-benar sakit dan terluka." Sasuke tahu itu. Tahu dengan tepat apa yang terjadi pada gadis ini di masa lalu.
"Anda harus berusaha keras. Anda mencintai gadis ini bukan? Dia menyimpannya sendiri terlalu lama. Lebih lama dari yang kebanyakan orang mampu. Dia gadis yang kuat."
"Jadi? Tapi kemarin dia baik-baik saja." Sasuke menyilangkan tangannya didepan dada.
"Nervous Breakdown memang sering secara mendadak. Saya tidak akan memberinya obat. Saya percaya kalian berdua bisa mengatasinya," Psikiater itu menarik napas panjang.
"Berikan Hinata cinta Anda, Uchiha-san, itulah yang ia butuhkan. Mungkin agak sedikit lama, karena Hinata belum mencintai Anda, tapi ini hanya soal waktu dan keadaan, saya melihat ia begitu kagum pada Anda, sebelum membenci Anda, tentunya. Ia mungkin belum siap memberikan hatinya lagi, takut kehilangan. Atau mungkin takut Anda tidak mencintainya, bertepuk sebelah tangan maksud saya. Itulah sebabnya Anda harus menunjukkan cinta Anda perlahan-lahan.
"Bicaralah padanya, tentang apa saja. Sedikit demi sedikit ia akan menyadari seseorang disisinya, dan memercayakan semua perasaannya pada Anda, lalu melepaskan bebannya. Hanya bicara, bisa dimulai dari hal-hal paling sederhana."
"Hn… Akan kucoba."
"Semoga berhasil, Uchiha-san. Kalau begitu saya pamit, semoga Hinata cepat sembuh, ia gadis yang cantik. Anda tidak salah pilih. Hihihi…"
"Terimakasih Tsunade-san."
Salah seorang pelayan mengantarkan Psikiater itu sampai ke gerbang utama mansion Uchiha, sementara Sasuke masih duduk di kursi nyamannya.
Kuncinya adalah berbicara. Hanya bicara.
Sasuke sering berpidato didepan umum, memberikan motivasi kepada orang banyak, bahkan bisa berbicara sangat persuasif dan membuat orang terlena dan langsung terbujuk menanamkan saham pada Uchiha Enterprises. Tapi ini bicara yang berbeda, dari hati ke hati, dari pria ke wanita. Bagaimana caranya Sasuke memulai?
Sasuke harus memikirkannya malam ini. Ia akan membiarkan Hinata beristirahat sekarang, agar gadis itu merasa lebih baik. Berbicara satu setengah jam dengan psikiater dengan keadaan seperti itu pasti membuatnya lelah.
Sasuke akan memulainya besok. Ia pasti akan menyelamatkan Hinata.
~0~
"Aku membawakan sarapanmu." Hinata terbelalak, kali ini pembawa sarapannya bukan Ayame, tapi Uchiha Sasuke! CEO Uchiha Enterprises? Orang terkaya nomor 5 se-Jepang dan nomor 20 sedunia, sepuluh besar pengusaha muda tersukses ditingkat dunia, membawakannya sarapan?
Sungguh mengherankan bahwa dikeadaan seperti ini Hinata masih bisa berpikiran seperti itu. Tapi toh, apa yang bisa dipikirkan Hinata saat keadaan seperti ini? Kecuali hal-hal yang ada didepan matanya seperti Sasuke.
Tidak ada gerakan yang berarti dari Hinata, masih seperti kemarin, keadaannya pun masih sama, tidak ada peningkatan. Hinata tidak pernah benar-benar sakit seumur hidup, tetapi sepertinya yang ini akan berlangsung lama. Dan Hinata tidak dapat melakukan apapun untuk mengubahnya.
Setelah meletakkan sarapan Hinata di bawah kaki gadis itu, Sasuke membungkuk kemudian mengangkat sesuatu dari lantai.
"Dia akan menemanimu sepanjang hari." Makhluk kecil itu terangkat, lalu melayang ke hadapan Hinata.
"Alex!" Suara terkejut Hinata bahkan masih sangat lemah dan sama seraknya dengan kemarin. Tapi Hinata mengulurkan tangannya keluar dari selimut untuk mengelus makhluk kecil berbulu itu. Kucing itu tetap disana, meringkuk bersama Hinata, mata biru indahnya menatap intens pada Hinata lalu memberikan satu kedipan, tanda persahabatan. Membuat Hinata memeluknya tanpa perlawanan.
"Baiklah, Hinata. Sekarang kau harus benar-benar makan."
"Tidak mau." Hinata merajuk.
"Aku memaksa." Sasuke menyingkap selimut Hinata, tanpa Hinata sempat protes, lalu mendudukan gadis itu dengan menggendongnya sedikit.
Hinata meringis, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Sasuke. Nampan makanan Hinata ditaruh di pangkuan gadis itu, bubur, telur rebus, dan jus cranberry.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau makan sesuatu, Hinata."
Daripada diinvasi Sasuke terus, lebih baik mencoba makan. Hinata mengambil gelas jus cranberry, satu-satunya yang sepertinya bisa diterima perutnya saat ini.
Satu tegukan, Hinata lalu menutup mulutnya. Mengerti apa yang terjadi, Sasuke lalu menggendong Hinata didepan tubuhnya, lalu segera berjalan cepat ke kamar mandi dan menurunkan gadis itu di depan wastafel. Dengan sigap memegangi rambut Hinata.
Tanpa sadar, Hinata memeluk pinggang Sasuke untuk mencari keseimpangan dan penopang saat menumpahkan isi perutnya yang bahkan belum berisi. Membuat Sasuke yang berhati es mau tak mau merasakan jantungnya berdetak dua kali leih cepat, untung ia masih bisa mengendalikan diri.
Semuanya berjalan dengan diam, tanpa kata-kata, karena hal itu memang yang paling tepat saat ini.
Meskipun ingin, Sasuke tidak menggendong Hinata kali ini. Ia harus berjalan sampai ke tempat tidur, Hinata harus menemukan kekuatannya sendiri. Walaupun Sasuke masih harus menopangnya dan membantunya berjalan.
Hinata ingin mengelak dari bantuan Sasuke, tapi kaki-kaki jelinya saat ini tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Lebih baik pasrah dan menawarkan diri untuk dibantu, bukan?
Sasuke gagal memberikan Hinata makanan dan membuatnya makan. Semua yang masuk kedalam lambungnya akan keluar lagi, percuma saja memberinya makan. Baki makanannya sudah diletakkan jauh dari jangkauan penglihatan Hinata. Mungkin nanti siang gadis ini akan bisa makan.
Hinata kembali meringkuk, menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai ke dagu, tapi satu tangannya terulur keluar, berharap bisa menemukan kehangatan dari makhluk kecil berbulu penuh kehidupan didepannya, dengan posisi miring membelakangi Sasuke.
Sasuke menarik kursi rias dibelakangnya ke dekat tempat tidur, dan duduk dibelakang Hinata. Kali ini Sasuke harus membuat kontak verbal dengan gadis ini.
Kedua tangan Sasuke menopang pada tempat tidur, "Bicaralah, Hinata."
Sasuke tak tahu bagaimana caranya, ini terlihat salah. Ia mengacak rambutnya pelan.
Sepertinya cara tadi tidak berhasil, Hinata tidak mengeluarkan suara apapun, mungkin caranya harus diubah.
"Baiklah, akan kutunjukkan caranya." Sasuke tak tahu apa yang ia lakukan, tapi sepertnya akan berjalan dengan baik.
"IQ-ku 145 dan aku pandai menyanyi." Apa ini? Sekarang Sasuke tak tahu apa yang ia katakan. Ia tak pernah tahu bagaimana caranya berbicara dengan wanita, masalahnya, tak butuh bicara pun semua wanita tetap akan jatuh ke ranjangnya. Sebelumnya berhubungan dengan lawan jenis tidak pernah sesulit ini, bahkan dengan ibunya.
"Terdengar seperti pamer." Hinata merespon dengan suara yang lebih mirip dengan desisan bergetar.
Cara ini berhasil, Hinata mengatakannya. Tanpa sadar perasaannya sudah dikeluarkan, ia bilang apa yang ada didalam pikirannya, Sasuke pamer. Sasuke pamer? Sepertinya kata 'pamer' bermakna negatif, tapi kata 'pamer' tidak pernah seindah ini ditelinga Sasuke. Ia akan menggunakan cara ini lagi nanti.
Sasuke mengecek jam tangan Rolex-nya, jam delapan pagi, Sasuke harus pergi ke kantor, ia harus bermain lagi dengan saham dan matematika lagi. Artinya harus meninggalkan Hinata juga.
"Aku harus bekerja. Aku akan kembali jam makan siang." Sasuke berjalan keluar, tanpa salam perpisahan, apalagi kecupan di dahi.
Hinata harus mengakui, rasanya nyaman didekat Sasuke. Meskipun jantungnya berdetak cepat, keberadaan Sasuke membatnya sedikit senang. Pria itu tidak seburuk kelihatannya. Mungkinkah Hinata memercayai Sasuke sekali lagi? Atau tetap berusaha menyangkal perasaannya?
TBC
Hmmm… sudah chapter 4! But still long way to go.
Nulis chapter ini jadi keinget sama novel psikologinya Torey Hayden "The Mechanical Cat"(maaf, buku bacaan saya kucing semua *plak). Gimana yah rasanya hidup dalam dunia fantasi? (Bukan fantasi jorok, ya). Intinya bukan dunia fantasi sih, tapi gimana kamu percaya sama lingkungan kamu, kalo ga percaya sama lingkungan, pake kucing aja buat ngecek daerah, aman gak dari hantu. (author ngaco)
Ternyata memperbaiki kejiwaan itu butuh waktu lamalamalamalama! Kasihan Hinata, menderita terus gak ada temen curhat. Gak nyangka juga ntar Sasuke nyediain dirinya buat dicurhatin, (oke, yang kita baca di chapter ini memang Sasu yang curhat).
Oh ya, literatur, Nervous Breakdown (Mental Breakdown): Mental illness that caused a person cannot function in day-to-day live. Causes are varied, in Hinata's case, it's because intimate and family relationship, even work and financial problem also take role.
Review loh ya. Ni udah update cepet ini. Oh ya, kontak SasuHina-nya udah lumayan kan? :D
