KIDNAPPED
Kamichama NekoChi
Disclaimer : Naruto absolutely belongs to Masashi Kishimoto
WARNING :OOC, Gaje, bit Western, Typo(s)
5th chapter: "Now, Look at Him"
Sasuke benar-benar kembali pada jam makan siang. Ditangannya ada dua bungkusan besar berbentuk kotak. Hinata tidak bisa menebak apa isinya, semoga saja bukan alat-alat untuk membuatnya seperti berada dirumah sakit.
Hinata tidak tidur sejak Sasuke meninggalkannya tadi pagi, tidak bisa tidur lebih tepatnya, sekarang tubuhnya tidak bisa menurut lagi pada perintah otaknya, sel-sel saraf penghubungnya seperti pergi entah kemana.
Sasuke membuka bungkusan itu dan menaruhnya di lemari meja (kabinet) berwarna soft cream yang berderet di ruangan itu. Sasuke mengeluarkan isinya, sebuah laptop berwarna violet yang cantik dari kotak yang paling besar, lalu disusul segala peralatannya, kemudian sebuah iPad dari kotak yang lebih kecil, yang sudah dilindungi dengan leather case berwarna ungu muda, terakhir ponsel layar sentuh yang sepertinya keluaran terbaru dari kotak yang paling kecil.
Sasuke memulai dengan iPad-nya, dengan masih berada dalam posisi berdiri, jari-jari lentiknya bermain di layar sentuh alat itu. Hinata yang terjaga mengikuti gerakan tangan Sasuke dengan matanya, tanpa dibutuhkan pemikiran dan kesadaran, matanya hanya mengikuti jemari itu melakukan manuvernya dengan cepat dan hati-hati.
"Ada 1189 judul dan kurasa masih muat diisi sepuluh ribu lagi." Sasuke akhirnya mendongak pada Hinata, mendapati sepasang mata sewarna mutiara itu sedang menatapnya.
"Terpesona, eh?" Sasuke menyeringai.
Hinata cepat-cepat memalingkan wajahnya ke selimutnya, memainkan tangannya di ujung-unjung selimut didepan lehernya untuk mengalihkan perhatiannya sendiri. Wajahnya memerah.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, gadis ini benar-benar sulit ditebak, terkadang menyenangkan dan bersikap malu-malu seperti ini, kadang juga bersikap super menyebalkan dan ketus. Tapi Sasuke tahu, gadis ini tidak bisa terus-terusan berbohong akan perasaannya sendiri.
Sasuke ingat pesan Hiashi untuk menjaga gadis ini dengan sepenuh hati karena Hiashi tahu Sasuke memberikan hatinya pada anak gadisnya. Sebenarnya, tanpa Hiashi berpesan pun Sasuke akan tetap menjaga gadis ini, kemauannya sendiri, karena hatinya sudah dicuri oleh wanita Hyuuga ini sejak pandangan pertamanya.
Hinata bahkan tidak pernah benar-benar melihatnya sebelum ini. Keputusannya untuk tetap tak terlihat selama beberapa waktu membuat Hinata tentu saja menganggapnya sebagai orang asing, meskipun memang benar begitu. Bagi Hinata, tentu saja, karena Sasuke dan Hiashi sudah mengenal satu sama lain sejak lama, lebih tepatnya sejak Hinata menolak tawaran pekerjaan di Uchiha Enterprises. Lebih mudah mengerti Hiashi daripada mengerti anak perempuannya, menurut Sasuke, jauh, Hinata sulit sekali didekati, berbeda dengan wanita-wanita lain yang selalu mudah didapatkan.
Sasuke tipe orang yang tidak bisa menolerir penolakan, jadi saat ia mengirimkan tawaran pekerjaan kepada Hinata yang posisinya sangat tinggi tapi ditolaknya mentah-mentah, Sasuke tidak bisa tinggal diam. Ia harus turun tangan sendiri dan mengetahui apa yang terjadi. Ia datang sendiri ke rumah mungil Hinata, melihat gadis itu berjalan ke jalan dari rumah mungil yang ditumbuhi tanaman rambat clematis dan wisteria di teralis khusus rumah itu. Tamannya dipenuhi dengan lavender, geranium, pansy dan beberapa mawar besar yang disangga tiang-tiang besi. Terkesan manis, tepat seperti gadis yang baru saja keluar dari rumah ini. Awalnya Sasuke mengira bukan gadis itu yang ia tawari bekerja di perusahaannya, karena gadis itu terlihat lemah dan manja, tapi Sasuke salah sampai dia masuk ke dalam. Dan ia tahu ia tidak jatuh cinta pada gadis yang salah sekarang.
Sasuke kembali dari masa lalunya, hatinya tersenyum, walaupun keadaan Hinata begini dan gadis itu belum menyadari Sasuke, paling tidak Sasuke merasa berhutang budi pada dirinya sendiri. Kalau Hinata tinggal dirumah seorang diri dan keadaanya seperti ini, entah hanya tinggal beberapa hari lagi Hinata akan ditemukan membusuk di kamarnya.
"Tolstoy, London, Proust, Ishiguro, Harper Lee, dan…"
Sasuke mengernyit sedikit.
"Ada novel anak-anak? Jacqueline Wilson, Roald Dahl, L.M Montgomery, Dr. Seuss?"
Hinata menelan ludah mendengar daftar novelis klasik yang disebutkan Sasuke dari daftar e-book di iPad-nya, bagaimana Sasuke mendapatkan semua itu? Pasti harganya mahal sekali. Sasuke sengaja membacakannya, membuat Hinata merasa lapar. Tidak membaca selama beberapa minggu membuat jiwa seninya meraung-raung. Ya, novel anak-anak itu juga termasuk favorit Hinata.
"Tidak sebelum kau makan siang," Sasuke seperti tahu pikiran Hinata, jadi buku-buku itu untuk memancing Hinata ya?
Ayame yang sudah sejak lima menit lalu menenteng baki makanan, membangunkan Hinata dan membantunya mengubah posisi menjadi duduk, lalu meletakkan baik pangkuan Hinata, mencoba merayu Hinata makan. Kali ini menunya berbeda, sup hangat beraroma krim dan ayam bercampur dengan jagung membuat Alex menaikkan kepalanya tinggi-tinggi. Tapi Hinata dengan enggan menyuapkan sesendok sup itu ke mulutnya. Sedikit mual, tapi sepertinya tidak keburu keluar, Hinata menambah sekali lagi, sampai pada suapan ketiga dan ia sudah tidak kuat, lalu menekan makanannya agar tidak keluar dengan minum seteguk jus jeruk.
Ayame membawa baki itu jauh-jauh dari hadapan Hinata, tiga suapan saja sudah merupakan kemajuan dan jika dipaksa lebih banyak lagi, Hinata malah akan mengeluarkannya. Berbeda dengan Hinata, mata Alex mengikuti kemana Ayame membawa baki itu, mamasang posisi siap siaga, lalu berlari meloncat dan mengejar Ayame, melewati Sasuke tanpa menengok kearahnya. Hinata telat menangkapnya, tangannya baru maksimal merentang saat kucing itu sudah keluar ruangan.
"Biarkan dia, dia akan datang sendiri kalau kau butuh." Sasuke merujuk pada Alex, kelakuannya sudah mulai nakal lagi. Sekarang burung-burung berkicau di mansion Uchiha sudah pergi entah kemana.
Hinata melayangkan pandangannya pada Sasuke sekilas, lalu menunduk lagi.
Sasuke menepuk puncak kepala Hinata pelan dengan iPad barunya, lalu menyerahkan benda itu ke Hinata, yang diterima Hinata dengan ragu-ragu.
"Termasuk laptop dan ponselnya, kau boleh mengontak siapapun. Termasuk polisi kalau ini bisa dikategorikan penculikan."
Berarti Hinata tidak bisa menelepon polisi dan bilang bahwa ia diculik, padahal itulah yang ia pikirkan tadi kalau Sasuke memberinya alat komunikasi.
Hinata menangangguk pelan, "Te-terima kasih Sasuke-san. Ta-tapi kenapa?"
Entah, 'kenapa' dalam pertanyaan Hinata bisa berarti apa saja.
"I dare do all that may become a man. Who dares more is none." Sasuke menyeringai, entah kenapa itu yang ada dipikirannya saat Hinata bertanya 'mengapa'.
"Macbeth1)?" Kutipan itu juga bisa berarti apa saja. Apa saja. Ambisi laki-laki kan bukannya sedikit. Seringaian Sasuke membuat Hinata bergidik pula.
Sasuke tidak heran Hinata tahu, Hiashi bercerita banyak, gadis ini penggemar karya-karya klasik. Semua buku yang Sasuke masukkan di iPad yang dipegang Hinata di pangkuannya adalah semua yang gadis itu inginkan. Dan Sasuke senang karena pemberiannya sekarang diterima Hinata dengan tangan terbuka
"Ya."
Hinata terkesima. Sasuke adalah laki-laki pertama yang mau membahas hal-hal seperti itu. Ayahnya tidak pernah mengerti apa yang ia bicarakan, dan Gaara, tidak pernah sedikitpun menaruh minat pada buku-buku kuno seperti itu. Tapi Sasuke berbeda, ia seperti punya pengetahuan seluas lautan, Hinata menyukai gaya bicaranya yang cerdas dan tenang, tidak bisa lagi menolak untuk mengakui hal ini pada dirinya sendiri.
Sasuke menari kursi meja rias lagi, seperti tadi pagi, tapi kali ini Hinata duduk dan Sasuke bisa memandang gadis ini ketika berbicara dengannya. Tatapan juga memberikan kontribusi bagi pembentukan sebuah hubungan.
Hinata tersenyum lemah, ia sudah lelah membenci Sasuke terus menerus kali ini. Tapi juga masih belum bisa memberikan hatinya pada lelaki ini. Hanya menganggapnya seperti teman bicara ketika menunggu antrian atau menunggu bel masuk saat ujian universitas.
"Sasuke-san me…membaca?" Hinata ingin tahu lebih jauh rupanya.
"Ya, dan bermain."
"Macbeth?"
"Bukan, The King2). Dan banyak lainnya." Sasuke adalah Drama King di SMA-nya di Spencer, Iowa. Hinata heran, bagaimana orang seperti Sasuke bisa bermain peran? Tapi berhubung ini Sasuke, tak ada yang mempertanyakan kemampuannya dalam segala hal.
"Yang lain?"
"Les Mis. Marius."
Hinata ber-ah pendek, kemudian meneruskan, "A...aku se...selalu suka Eponine."
"Kau bermain?" Sasuke tahu ini berhasil, meskipun hanya frasa-frasa pendek yang belum sempurna untuk disebut sebagai kalimat, tapi percakapannya dengan Hinata berjalan lancar.
"Ti…tidak!" Hinata berharap andai saja ia bisa lebih percaya diri didepan umum dan suara kecilnya bisa lebih tinggi lagi, ia akan bisa memerankan peran. Tapi Hinata selalu bersekolah disekolah negeri, dramanya kisaran drama cerita rakyat dan cerita fiksi karangan sendiri, tidak ada kesempatan sama sekali.
Kebanyakan gadis akan memimpikan Cosette dan mengidolakannya, tapi Hinata malah memilih Eponine. Tapi Hinata hanya menyukainya, mungkin karena pengorbanannya? Tapi tokoh Eponine juga bukan tokoh yang terlalu baik. Entahlah, Hinata hanya menyukainya saja.
"Dengar, Hinata," Sasuke menghela napas panjang, ini sudah ia pikirkan sejak tadi malam, meskipun ini benar-benar sulit tapi mungkin Sasuke banar-benar harus melakukannya.
"Kau boleh keluar dari sini kalau kau sembuh." Jantung Hinata mencelos, kaget, senang, dan… ada satu perasaan aneh seperti kecewa.
Tapi rasa senangnya mendominasi, Hinata akan berusaha sembuh, kalau begitu. Hinata sudah membayangkan, ia akan menerima tawaran mengajar di universitasnya dulu, menyewa apartemen kecil yang nyaman, dan berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Ia akan bahagia. Hinata memikirkan suami dan anak-anak, ayahnya pasti senang bisa punya cucu-cucu yang lucu. Tapi suami? Entah kenapa pikiran Hinata tertuju pada pemuda dewasa didepannya, membuatnya memerah.
"Te…terima kasih Sasuke-san." Kalau dipikir-pikir, sekarang keadaannya justru terbalik, Hinata membutuhkan Sasuke sekarang, Hinata harus mengakui, ia berhutang pada pemuda ini. Telah merawatnya, tanpa pamrih.
Seketika itu keinginan Hinata untuk mengetahui alasan Sasuke menculiknya tempo hari muncul lagi, apakah cinta? Mana mungkin orang yang dendam bisa begitu baik padanya dan memerhatikannya? Hinata tak mau berharap banyak, mana mungkin orang seperti Sasuke jatuh cinta pada orang seperti Hinata yang tak punya kelebihan sama sekali. Hinata bahkan tidak punya kepercayaan diri hanya untuk sekedar memikirkannya.
"Hn. Yang penting kau sembuh."
'Dan menemukan alasan untuk bangun' Sasuke menambahkan dalam hatinya.
Sasuke lalu pergi lagi, karena jam makan siang sudah habis dan dia harus kembali ke kantornya.
Hinata memikirkan tawaran Sasuke tadi. Jadi intinya, dia harus sembuh. Kalau bisa, dua hari dari sekarang Hinata harus bisa berjalan sendiri!
~0~
Matahari berlari menuju ke barat, bulan mengejarnya, terkena sinarnya sedikit tapi tetap saja tak bisa menangkapnya. Tapi matahari membantu bulan bersinar, walaupun hanya satu sisi, sedangkan sisi lainnya akan gelap sampai akhir zaman. Itu salah bulan sendiri, terlalu menutup diri.
Temboknya begitu kuat, tapi tetap saja tidak mampu menahan Hinata yang kakinya bergetar begitu kuat. Hinata berjuang ke kamar mandi, tubuhnya sudah terasa tidak enak, walaupun pelayan Sasuke memandikannya dengan handuk basah tadi sore, rasanya berbeda dan Hinata tidak mendapatkan kesegaran sama sekali. Lagipula mandi mungkin bisa menambah kesehatannya, siapa tahu sehabis mandi dengan air hangat, kaki Hinata tidak bergetar seperti sekarang ini. Tapi yang terpenting adalah semangat hidupnya yang sudah kembali sedikit demi sedikit.
Hinata menghidupkan shower, lalu mengira-ngira suhu yang pas. Hinata sengaja memilih shower, agar kaki-kakinya bisa berlatih untuk berdiri dengan baik lagi.
Setelah selesai, Hinata mencoba mengambil jubah handuk diseberangnya, tangan kanannya memegangi kran dan tangan kirinya mencoba meraih handuk itu. Terlalu jauh. Ini pertama kalinya Hinata mengeluh akan kamar madi yang kelewat lebar, membuatnya harus menjangkau terlalu jauh. Hinata akhirnya bisa menyambar handuknya, tapi melupakan pegangannya pada kran. Dan terjatuh dengan keras di lantai kamar mandi.
Hinata meringis, seluruh badannya terasa sakit. Memar-memar sudah terlihat di pundak dan kakinya, ditambah kaki kanannya keseleo. Gadis malang itu berusaha bangun, menggapai penggantung handuk. Percuma, kaki-kakinya tak cukup kuat untuk bangun, tangannya juga terlalu gemetar untuk menyeret tubuhnya keluar.
Hinata hanya meringis, tidak sampai menangis, tapi ia berharap seseorang akan menemukannya dengan cepat, lantai kamar mandinya dingin dan basah, ia bisa mati kalau tak ada yang menemukannya malam ini. Hinata menutupi tubuh telanjangnya dengan jubahnya tadi, berharap bisa mengurangi dinginnya kamar mandi itu.
~0~
"Temetemetemetemetmeeeeeee! Teme! Kembalikan roh Sasuke ke tubuhnya! Pergilah kau setan tuli!"
"Diam kau, Dobe!" Sasuke kesal, daritadi Naruto hanya mengganggunya bekerja, orang ini memang tidak bisa diam, setiap ada makhluk hidup didepannya, makhluk hidup itu harus menanggapinya berbicara, walaupun itu semut sekalipun. Dalam hal ini, Naruto klop sekali dengan Alex, selain fisiknya mirip, mereka berdua hiperaktif satu sama lain, entah saling mengejar, petak umpet, atau hanya guling-gulingan di lantai, mansion Uchiha jadi taman bermain mendadak. Tapi kalau Sakura ada, jangankan bergerak, bernapas pun kalau dilarang dia akan berhenti.
Sebenarnya Sasuke tidak bekerja, ia hanya memutar-mutar jarinya di touchpad laptop spesifikasi tingginya dengan wajah serius, tetapi pikirannya melayang, kerumah, ke Hinata. Ini salah Naruto, tadinya Sasuke ingin segera pulang, tapi Naruto meneleponnya, mobilnya macet, jadi ia harus menjemput Naruto dan tidak bisa pulang cepat. Bagaimana bisa Rolls Royce V16 bisa macet? Kalau bukan orang sebodoh Naruto pemiliknya, takkan terjadi. Dan bukannya pulang dengan segera, Naruto malah mengajaknya ke Sapphire Sky Dining miliknya. Memangnya mereka kencan?
"Ah… Sasuke nggak asik. Kita kan sudah lama tidak keluar berdua. Kau sibuk sih." Naruto mengerucutkan bibirnya, mencoba menarik perhatian Sasuke.
"Sejak kapan aku asik? Sudah, aku mau pulang. Perasaanku tak enak." Sasuke mematikan laptopnya, menunggunya beberapa detik sebelum menutupnya, oh tentu saja laptop dengan kapasitas RAM 8 Gigabyte itu akan hidup dan mati dengan cepat.
"Ah? Sasuke? Sejak kapan kau punya perasaan?" Naruto membuat ekspresi heran dengan mengangkat alis pirangnya tinggi-tinggi. Pria blasteran yang satu ini memang dipuja-puja banyak wanita, karena kulit kecoklatannya yang seksi, ramput pirang dan mata bening biru yang indah dan bercahaya. Sakura bilang, seharusnya sudah dari dulu Naruto memulai debut di Hollywood. Ditambah Sasuke, mereka seperti pasangan homo yang diidam-idamkan banyak wanita.
Sasuke mengabaikan Naruto, langsung berjalan ke tangga berpilin yang disusun seperti RNA menuju ke lantai satu, buru-buru menuju tempat parkir dan langsung menuju ke mobilnya. Hari ini Sasuke 'hanya' menggunakan salah satu Saab-nya, tidak terlalu mencolok dijalan dan termasuk paling aman dikelasnya. Lebih baik bukan? Daripada Naruto, harga selangit tapi tetap macet dan menyusahkan orang.
"Oi… Temeee nanti aku pulang sama siapa?" Sasuke membuka pintu mobil tiga puluh ribu dollarnya, kemudian cepat-cepat melaju, sedikit khawatir Naruto bisa menyusulnya dan malah masuk lagi ke mobilnya.
Sasuke mengklason mobilnya beberapa kali, sedikit tidak sabar karena gerbangnya lama sekali belum dibuka juga. Seorang security membukakan gerbangnya, kemudian Sasuke langsung memasukkan mobilnya dengan cepat dan lancar.
"Okaerinasai, Sasuke-sama." Dua orang pelayan menyambut kedatangan Sasuke dengan sopan, yang dibalas dengan gumaman 'hn' singkat dari tuan muda mereka.
Sasuke melonggarkan dasinya, hari ini sangat melelahkan dan Sasuke ingin segera mandi, ini sudah sangat malam.
Tapi matanya menuju kearah kamar Hinata.
Terang. Apakah dia belum tidur? Tanpa pikir panjang, Sasuke segera memasuki kamar itu.
Ayame sedang memasangkan kompres ke kening Hinata ketika tiba-tiba Sasuke membuka pintu. Tubuhnya membeku seketika. Ia akan kena masalah sekarang.
"Ada apa?" yang dimaksud Sasuke adalah Hinata yang terbaring dan memakai kompres. Ternyata firasat buruknya benar.
"Hi…hinata-sama, saya menemukannya tergeletak di kamar mandi, ke…kedinginan, dan sekarang beliau demam." Ayame menjawab takut-takut.
"Kenapa kau tidak menjaganya? Bukankah itulah satu-satunya tugas yang kubebankan padamu?" Sasuke berkata dingin, sangat marah. Tapi Sasuke bukanlah orang yang biasa meledak-ledak seperti bom.
"Ma..maaf."
"Aku akan menelepon dokter. Setelah itu kau harus menjaganya disini, jangan keluar."
"Ba..baik, Sasuke-sama."
Sasuke berjalan menuju tempat dimana Hinata terbaring, gadis itu sudah tertidur rupanya. Sasuke menyentuh kening Hinata yang tertidur, panas sekali, berbeda dengan akhir-akhir ini yang biasanya tubuhnya dingin.
"Tak apa, hanya demam, besok dia akan baikan dan sembuh, biarkan saja beristirahat." Dokter berambut abu-abu itu berkata seraya melepas stetoskop dari telinganya menuju ke lehernya, kemudian menyimpannya kembali didalam tas praktiknya.
Dokter itu hanya meninggalkan plester penurun panas untuk Hinata, percaya bahwa gadis ini akan baik-baik saja.
"Kau tidak boleh kemana-mana, Ayame, jaga Hinata kali ini. Ketuk pintuku jika terjadi sesuatu." Dan semoga tidak terjadi sesuatu.
~0~
"Sasuke-sama! Sasuke-sama!" Seorang pelayan menggedor-gedor pintu Sasuke pada jam dua malam.
Tahu apa yang terjadi, Sasuke segera membuka pintu. Tanpa bertanya, ia langsung berjalan dengan setengah berlari ke kamar Hinata.
Pemandangan selanjutnya membuat jantung Sasuke mencelos, tubuh Hinata mengejang hebat dan hidungnya mengeluarkan darah, mimisan.
"Sasuke-sama! Suhunya 420 Celcius dan, dan…" Ayame tidak bisa melanjutkan, suaranya bergetar karena tangisan dan ketakutan, tangannya terkena darah cukup banyak karena berusaha menghentikan mimisan Hinata yang tak kunjung berhenti, dan sepertinya Hinata tak sadarkan diri.
Sasuke menggendong Hinata keluar, lengan kekarnya beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan karena tubuh Hinata belum berhenti mengejang juga.
Saat ini seluruh pelayan di mansion Uchiha berada dalam siaga satu, keadaan seperti ini sudah menjadi latihan mereka sebelum direkrut menjadi pelayan keluarga Uchiha. Tanpa Sasuke komando, mobil Saab-nya tadi malam sudah siap berjalan, lengkap dengan supir yang terlatih untuk memicu mobil sekencang mungkin. Dan tanpa menunggu lama pula, Sasuke masuk ke kursi belakang sedan itu.
"Hinata, Hinata, bertahanlah." Sasuke memeluk tubuh Hinata erat, berusaha meredam kejang-kejang Hinata, sekarang piyama biru tua pemuda itu berubah menjadi kehitaman di bagian dada, menjadi serat-serat kapiler bagi darah dari hidung Hinata yang terus-terusan mengalir.
Sasuke merutuk pada dokter bodoh yang memeriksa Hinata tadi, seharusnya ia tahu, seharusnya Hinata sudah berada dirumah sakit sejak tadi, seharusnya hal ini tidak terjadi. Seharusnya ia tahu kalau suhunya akan setinggi ini dan membuat Hinata kejang. Atau Ayame juga salah, ia tidak menjaga Hinata dengan baik dan membiarkannya pingsan kedinginan dikamar mandi. Atau seandainya saja Naruto tidak memaksanya, mungkin sejak sore hingga larut malam Sasuke akan saling mengobrol dengan Hinata, dan berharap esok hari Hinata tidak apa-apa. Sebenarnya tidak ada yang patut disalahkan, tapi terkadang perasaan seseorang akan menjadi lebih labil dan berusaha mencari kesalahan orang lain, berusaha mencari celah supaya peristiwa ini tidak terjadi, berusaha mengulang waktu seandainya bisa.
Sasuke segera keluar dari mobilnya begitu mereka sampai didepan Emergency Unit St. Luke's International Hospital dan langsung melarikan Hinata kedalam gedung tersebut. Beberapa perawat langsung menuntunnya untuk memasuki salah satu ruangan bersekat tirai, meminta Sasuke menunggu sebentar. Sekarang Sasuke merasa seperti orang biasa, pelayanannya tidak spesial karena ini benar-benar mendadak dan dini hari, tidak memungkinkan untuk melakukan reservasi dahulu.
"Sejak kapan kau jadi lemah Hinata? Seharusnya kan kejadian ini hanya terjadi pada anak-anak." Sasuke mengerutkan keningnya, hanya demam, tapi di tubuh kecil Hinata bisa menjadi peristiwa serius.
"Sasuke-san, Sasuke-san…" Hinata sadarkan diri, tangannya menggapai-gapai seperti mencari sesuatu, kemudian menabrak tangan Sasuke, lalu meletakannya diatas tangan Sasuke. Tak pelak membuat empunya terlonjak kaget, sejak kapan Hinata menjadi seperti ini?
Sasuke menatap Hinata, datar seperti biasa, tapi Hinata cukup tahu bahwa pria itu khawatir, "Aku tak apa-apa, cuma pusing. Izinkan aku tidur dulu ya."
Hinata menutup matanya lagi, kali ini lebih tenang dan terkendali, suhu tubuhnya sudah tidak sepanas yang tadi. Sasuke menggenggam tangan gadis itu, baru sadar betapa anyirnya tubuhnya dan tubuh Hinata, dan hampir seluruh dagu dan leher Hinata terbalur darah yang belum sampai mengering.
"Cepat sembuh. Kau ingin pergi kan?"
TBC
Macbeth, karya Shakespeare, dialog ini aku ambil dari film V for Vendetta, entah kenapa walaupun beda dari ambisinya si gila Macbeth atau V, tapi cinta bisa jadi ambisi yang kuat, kan?
The King, yang dibunuh Macbeth akhirnya, hohoho…
Sedikit-sedikit kebuka kan kenapa Sasu nyulik Hina? Tapi bukan wasiat Hiashi intinya kenapa Sasu nyulik Hinata, kalo dilogika, menjaga seseorang ga harus membawa orang itu untuk tinggal serumah dengan paksa, kan? Hayo coba tebak deh alasan masuk akal lain.
Aku juga rada sedih kaya Hinata, kalo jadi geek anime mah masi ada temennya, nah ini geek karya sastra klasik. Tak ada satupun temanku yang niat baca Anna Karenina, atau sekedar novel anak2nya Dr. Seuss, paling juga pada taunya Lorax, itupun dari kartunnya. Huhu… sedih. Di Indonesia juga jarang sih ada yg terbitin, jadi kalo beli 'ilegal'.
Novelnya Kazuo Ishiguro juga bagus, katanya novelis Jepang paling hebat.
Udah ah, RnR ojo lali yo. Wkwk... *dilemparin tomat.
