Diclaimer: Give em all to Masashi Kishimoto, exclud Alex and my plot!

Chapter 6: Revelation

Sasuke meletakkan tangannya di kening Hinata, mencoba membandingkan suhu badan gadis itu dengan tadi malam. Normal. Sasuke tahu Hinata akan baik-baik saja. Dokter keluarga Uchiha menyatakan bahwa Hinata terkena infeksi selaput otak ringan (screw you medical terms!), bukan sesuatu yang serius. Dengan beberapa perawatan intensif dan injeksi antibiotik teratur, Hinata akan sehat seperti sediakala.

Hinata tertidur dengan tenang setelah kejangnya tadi malam, kepalanya terkulai kesamping dengan beberapa rambut indigo berkilau menutupi pipi mulusnya. Napasnya teratur, ringan, dan tanpa beban. Dengan penampilan malaikat itu, pria normal manapun akan bertahan semalaman hanya untuk menikmati irama napas Hinata dan mengagumi wajah sempurnanya yang sehalus porselen.

Termasuk Sasuke.

Ia sama sekali tidak tidur tadi malam. Hanya memandangi Hinata sepanjang malam. Bolak-balik dengan khawatir dan berharap gadis ini baik-baik saja.

Sialan. Sasuke tidak tahu seorang gadis dapat membuatnya seperti ini. Seperti orang bodoh. Seperti Naruto yang tahun lalu membawa satu grup orkestra ke kediaman Haruno dan membawa bunga, menunggu tiga jam hingga Sakura mau keluar, hanya untuk mendapatkan omelan Sakura, seperti biasa, kemudian nyengir dan memberi Sakura berbagai hadiah, berlutut dihadapannya dan melamar Sakura. Oke, itu kelewat bodoh, paling tidak Sasuke tidak sebodoh itu.

Cinta bukanlah kata yang mengisi ruang-ruang hati didalam diri Sasuke. Cinta seperti Naruto pada Sakura tak dapat bisa dicerna dalam proses kimiawi dalam otak Sasuke. Sasuke menyayangi Okaa-sannya, namun tidak mengerti mengapa Naruto bisa bersikap bodoh dan memberikan segalanya untuk Sakura. Dan cinta, tak membawa keuntungan apapun. Maka cinta telah diputuskan Sasuke menjadi hal yang harus dihindari.

Nafsu dan gairah, adalah sesuatu yang harus dibuang, namun selalu muncul. Dan Sasuke tak bisa menghindari kedua hal itu, selama ini gadis-gadis dan wanita-wanita silih berganti mengisi tempat tidur pria ini. Sasuke telah memutuskan bahwa membuang nafsu dan gairah menjadi kebutuhannya, jauh diatas kebutuhannya akan cinta.

Namun, selama beberapa minggu, gairahnya terlupakan, tergantikan oleh rasa aneh. Semacam rasa ingin memiliki yang meletup-letup, terhadap gadis yang berada didepannya. Perasaan yang benar-benar baru, bagi Sasuke. Ia tak pernah benar-benar menginginkan apapun, tak pernah menemukan keinginan aneh terhadap sesuatu. Perusahaan, harta melimpah, dan segala kemewahan yang ia dapatkan saat ini bukan keinginannya, semua ini hanyalah alat bagi Sasuke untuk menghindari dirinya memikirkan hal-hal tentang dirinya sendiri. Tak menemukan hiburan dalam apa yang dilakukannya. Semua hanyalah pelarian.

Masa lalu, Sasuke hanya butuh berlari dari masa lalu.

Jadi disinilah Hinata, yang dibawa dengan keinginan Sasuke. Keinginan yang tak dapat dimengerti Sasuke. Antara memenuhi permintaan Hiashi untuk menjaganya, atau kasihan pada gadis itu. Ah, tidak, Sasuke bisa mengirim ratusan orang untuk menjaga putri pria itu selama 24 jam, kasihan? Hinata bisa saja dengan mudah mendapatkan pria kaya lain untuk memenuhi kebutuhannya seumur hidup, dengan wajah secantik dan perangai selembut itu. Jadi? Ya, Sasuke menyadari Hinata menjadi ambisinya, menyadari bahwa ia menginginkannya.

~0~

Hinata berada di salah satu kamar Mansion Uchiha, kamarnya yang sejak beberapa hari lalu telah ditempatinya. Sasuke membawa Hinata ke rumah sakit tadi malam, kemudian meminta perawatan rumah full-assistance, dengan beberapa dokter dan perawat yang selalu siap.

Sekretaris Sasuke sudah meneleponnya 23 kali pagi ini. Dengan tidak tertarik Sasuke hanya meletakkan ponselnya di meja kerjanya. Jadi mungkin sekarang panggilan itu menjadi 49 kali atau lebih. Lagipula Sasuke sudah mengutus Karin, salah satu petinggi di Uchiha corp. untuk mengurus segalanya. Hanya hari ini.

Sasuke duduk di sofa sambil membaca beberapa buku. Kemudian mendongak kearah Hinata ketika gadis itu menggerakkan kepalanya dan membuka mata. Mengerjap, kemudian menatap kosong kearah Sasuke.

"Sa-Sasuke-san..." Suara parau Hinata menyambut Sasuke yang berjalan mendekatinya dengan tenang.

"Hn." Sasuke berdiri disamping tempat tidur Hinata dan melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya. Menunggu reaksi lanjutan dari Hinata.

"Te... terima kasih." Masih dengan tatapan kosong, Hinata mengucapkan terimakasihnya pada Sasuke. Namun, dalam suaranya, terdapat ketulusan. Ya. Hinata mengatakannya dengan tulus. Ia merasa sangat berterimakasih pada Sasuke. Membuat Sasuke sedikit terkejut, namun keterkejutan itu tetap saja tak mampu menghadirkan raut di wajah datarnya.

"Aku tak melakukan apapun, Hinata. Tak perlu berterimakasih. Berusahalah berdiri diatas kakimu sendiri. Lalu keluarlah dari sini." Hinata tercekat, merasa malu dan sedikit marah, tak menyangka bahwa Sasuke mengatakan hal sesinis itu. Seolah menganggapnya hama yang menganggu bagi Sasuke. Tapi, bukankah Sasuke yang membawanya ke tempat ini? Hinata benar-benar bingung. Orang ini sungguh aneh, tak bisa ditebak, tak bisa dibaca, Sasuke adalah beton berlapis baja, dan Hinata, hanyalah sinar alpha yang hanya dapat menembus kertas tipis. Bukan hati sekeras milik Sasuke.

Sebelum Hinata dapat menanggapi pernyataan Sasuke, seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar Hinata. Wanita itu dengan mudah dapat dikenali sebagai seseorang yang memiliki hubungan darah dengan Sasuke, melihat betapa miripnya ia dengan pria yang sedang berada di sisi Hinata. Dengan anggun, beliau berjalan mendekati tempat tidur Hinata, kemudian menepuk pundak Sasuke.

"Kaa-san." Sasuke menggumam rendah. Wanita itu, Mikoto Uchiha adalah Ibu kandung Sasuke, dari segi fisik, mereka sangat mirip. Sekarang Hinata tahu darimana Sasuke mendapatkan rambut berwarna raven dan mata hitam kelam yang menghipnotis itu. Ternyata dari Ibunyalah semua kesombongan melalui kesempurnaan wajah Sasuke berasal.

"Sasu-kun. Kaa-san sudah jauh-jauh datang dari New Zealand bukan hanya untuk mendengar dua kata itu darimu. Haaaahhhh..." Mikoto tertawa kecil lalu memeluk anak semata wayangnya dengan lembut, tak lupa mengelus rambut putra kesayangannya.

Sasuke tetap diam saja, namun membalas pelukan Kaa-sannya dengan lembut. Mikoto membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke, yang dijawab dengan anggukan kecil oleh pemuda itu. Sedetik kemudian, Sasuke melangkahkan kakinya menjauhi tempat tidur, menuju pintu keluar, lalu keluar dari ruangan.

Mikoto lalu duduk di sisi tempat tidur, menggerakkan tangannya untuk mencapai dan mengenggam tangan Hinata kemudian meletakannya di pangkuannya. "Ahhhh... Hinata-chan, kau secantik dugaanku ya... Sasuke pintar" Mikoto tertawa kecil. Matanya memancarkan kelembutan, mirip seperti mata Hinata sebelum semuanya terjadi.

"A...ahh... te-terimakasih" Hinata menjawab sekenanya, masih sangat lemah untuk berpikir apapun atau menjawab pertanyaan apapun.

"Hinata-chan. Maafkan aku menganggumu yang sedang istirahat, tapi aku punya suatu hal penting yang harus kubicarakan denganmu." Raut wajah mikoto berubah serius.

"Begini, kau pasti heran, marah, atau bahkan penasaran mengapa Sasuke menculik dan membawamu kesini bukan? Aku disini akan menjelaskan semuanya padamu. Hal ini tidak mudah bagi Sasuke, ia bahkan tak akan mengijinkanku menceritakan hal ini kepadamu. Namun, aku tak sanggup melihatnya menderita berkelanjutan karena hal ini."

Hinata tercekat. Menderita? Kehidupan Sasuke sungguh sempurna, bagaimana bisa ia menderita?

Mikoto melanjutkan, "Kehidupannya tidak sesempurna yang kau kira Hinata. Ini adalah masa lalu Sasuke. Waktu berumur 12 tahun, Sasuke... Sasuke diculik oleh seorang wanita. Kami kehilangan Sasuke selama dua bulan. Setelah berbagai proses pencarian, dan ketika kami sudah hampir putus asa, Sasuke akhirnya ditemukan. Dengan keadaan yang mengenaskan. Dan.. dan wanita itu tidak hanya menculik Sasuke. Wanita itu, Orochimaru, telah melakukan berbagai pelecehan seksual dan kekerasan. Keadaannya sangat mengenaskan..."

Mikoto tidak sanggup menahan air matanya. Membayangkan tubuh mengenaskan Sasuke ketika ditemukan olenya, luka sayatan dan luka bakar akibat rokok yang disulutkan pada tubuhnya, tubuhnya yang hanya bersisa tulangnya saja. Mikoto dapat mendengar teriakan nyaring, teriakan anaknya ketika wanita itu menyiksanya, menyuruhnya melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukannya, melecehkannya, dan membiarkan anak itu hidup untuk membawa beban itu seumur hidupnya.

Meskipun belum menjadi seorang ibu, Hinata mengerti, betapa hancurnya hati seorang ibu ketika anaknya disakiti dengan sadis dan tanpa perasaan. Hinata dapat merasakan matanya berkaca-kaca mendengar penuturan Mikoto. Membayangkan bagaimana Sasuke yang benar-benar tampan dan menarik, menerima perlakuan semacam itu di usianya yang masih muda.

"Sebelum peristiwa ini terjadi. Sasuke adalah anak yang penuh semangat, baik hati, ceria, dan polos. Kejadian ini menyebabkan trauma berat pada Sasuke kecil. Kami telah mengerahkan banyak psikolog anak ternama untuk menghilangkan traumanya. Namun, sebesar apapun ia mencoba, tidak dapat mengembalikan Sasuke kecil pada dirinya yang dulu. Hingga saat ini." Mikoto kemudian tersenyum, senyum pahit diantara kalimat dan air matanya.

"Trauma itu masih tersisa Hinata, diantara diamnya Sasuke, terdapat berbagai beban masa lalu yang pahit. Dia sulit mencintai wanita. Menggunakan wanita demi kepuasan semata. Tak pernah menganggap serius mereka. Wanita adalah alat baginya, seperti wanita itu menggunakan Sasuke dulu demi kepuasan dan harta Uchiha.

"Sasuke tak pernah merasakan cinta, Hinata, tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Tak pernah mengakui perasaannya, bahkan pada dirinya sendiri. Mungkin, perlakuannya padamu saat ini, diartikannya hanya sebatas rasa ingin memiliki... dan bukan... cinta." Mikoto menghela napas, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kalimatnya.

"Kau adalah harapanku, harapan kami, Hinata. Mungkin, dengan cinta, dan segala keindahannya yang tak pernah dirasakan Sasuke pada wanita manapun, dapat menghilangkan segala kenangan buruk masa lalunya. Mengembalikan Sasuke kami seperti yang dulu. Menghadirkan senyum di wajahnya... yang sudah tak kulihat selama puluhan tahun.

"Cobalah mencintainya Hinata. Cobalah berada disampingnya. Kau harapan terakhirku Hinata... berusahalah." Air mata Mikoto mengalir lebih deras lagi. Hatinya tersayat-sayat mengingat hal kelam yang menimpa putranya.

Hinata menutup matanya, mencoba mencerna kata-kata Mikoto. Air mata Hinata yang sedari tadi menumpuk dipelupuk matanya, akhirnya tumpah tanpa dapat ditahan. Hinata merasa bersalah pada Sasuke. Perlakuannya selama ini pada pemuda itu. Sikap dinginnya terhadap semua perlakuan baiknya. Hinata menganggap dirinya egois, hanya memikirkan dirinya sendiri, merasa dirinya adalah orang paling tidak beruntung di dunia ini. Menolak untuk berusaha untuk dirinya sendiri, padahal Tou-sannya sudah mengingatkan dirinya berkali-kali, untuk berjuang demi dirinya sendiri. Hinata tak menyangka Sasuke merasakan luka yang lebih besar dari yang ia rasakan.

"Mikoto-san. Ka.. kalau begitu ijinkanlah aku berusaha demi Sasuke... Aku.. aku akan berusaha mencintainya, akan berusaha menolongnya Mikoto-san." Hinata membalik posisi tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Mikoto, keatas tangan wanita paruh baya itu, kemudian meremasnya pelan.

"Hinata, panggil aku Kaa-san. Aku tahu Hinata, kau pasti akan menolongku, hatimu sangat baik Hinata. Orangtuamu sangat luar biasa, andaikan aku dapat bertemu dengan mereka. Hinata, aku turut berduka atas kehilanganmu." Mikoto tersenyum dengan keteduhan seorang ibu pada Hinata.

~0~

Sejak kedatangan Mikoto yang telah menjelaskan semuanya, Hinata akhirnya mengerti. Rasa tidak suka pada Sasuke karena telah menculiknya diam-diam seluruhnya dapat ditolerir oleh Hinata. Hatinya terlalu pemaaf, Hinata tak pernah bisa membenci seseorang terlalu lama. Mungkin sikap dingin Sasuke adalah caranya menyampaikan segala sesuatu, tanpa bermaksud buruk atau menyakiti hatinya. Perasaannya berubah menjadi rasa simpati, berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan Sasuke dengan baik.

Kesehatan Hinata pun sudah naik secara eksponensial, ia sudah bisa berjalan-jalan, bermain dengan Alex, bahkan memasak di dapur raksasa mansion Uchiha. Nervous breakdown konyol yang kemarin divoniskan dokter pada dirinya entah mengapa menguap begitu saja.

Namun, sudah seminggu semenjak kepulangan Uchiha Mikoto, Hinata juga belum bertemu kembali dengan Sasuke. Ayame bilang bahwa Sasuke kemungkinan besar sedang mengerjakan proyek yang cukup besar di Singapura, Uchiha Corp. mendirikan sebuah pusat penelitian mikrobiologi atau semacamnya, pendidikan pelayan itu pun tak mampu menjelaskan lebih jauh (author juga gak dong).

Hinata menyaksikan kepulangan Sasuke pada hari berikutnya, malam-malam sekali, namun pemuda itu tak menyadari keberadaan Hinata. Sebersit rasa di hati Hinata merindukan keberadaan Sasuke. Aura pemuda itu memberikan sesuatu pada Hinata yang tak dapat dilupakannya.

Besoknya, Hinata bangun pagi-pagi sekali, kali ini Hinata ingin menunjukkan sedikit kebaikan pada Sasuke, dan sebagai ucapan terima kasihnya karena telah memberikan tumpangan rumah dan perlindungan pada Hinata. Hinata tahu, sebentar lagi ia harus keluar dari sini, Sasuke sudah bilang begitu, dan Hinata tak mau menjadi beban. Ia kuat, ia bisa berdiri sendiri dan melanjutkan hidupnya sendiri. Hinata tetap akan memenuhi permintaan Mikoto, namun dengan caranya sendiri, dan tak harus menjadi beban dirumah ini lebih lama. Jadi, Hinata membuat Sponge Cake sederhana dengan selai tomat, tomat adalah makanan favorit Sasuke. Dan mungkin alternatif seperti ini dapat diapresiasi oleh Sasuke.

Jam 8 pagi, Hinata melihat Sasuke sudah duduk dengan tenang di balkon dekat kolam renang rumah itu sambil menyeruput kopinya dan membaca beberapa tumpuk dokumen. Hinata mengumpulkan nyali, kemudian berjalan menekatinya sambil membawa baki yang berisi cake buatannya sepanjang pagi.

"Sa...sa...sasuke-san." Hinata menelan ludah. Takut akan respon pemuda itu.

"Hn" Sasuke menjawab dan mengalihkan pandangannya ke Hinata. Sedikit senang karena menurut laporan pelayannya, Hinata sudah jauh lebih baik. Matanya turun meneliti penampilan Hinata pagi itu. Sunny dress polos dengan cardigan, tak lupa celana legging dibawah lutut. Old fashioned, tapi selalu manis dan cute, dibadan Hinata. Sasuke tak bisa menolak gagasan dalam pikirannya bahwa Hinata adalah gadis termanis yang pernah ia lihat, memandanginya selama beberapa jam tak akan membuatnya bosan. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang menyediakan diri untuknya. Cantik, namun tidak menarik. Ada jutaan gadis seperti itu. Hinata berbeda, sungguh berbeda.

Sasuke kembali pada Hinata, menunggu gadis itu mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu padanya. Mungkin Hinata ingin berpamitan pada Sasuke untuk pulang? Melihat betapa tidak sukanya gadis itu berada satu atap dengannya. Meskipun bagian dari pemuda itu menginginkan Hinata tetap berada disitu. Menjadi miliknya.

"Aku... me...membuatkanmu keik tomat." Hinata menelan ludah.

Sasuke tidak menyangka, Hinata berubah drastis. Sejak kapan ia peduli padanya? Pikiran Sasuke kembali pada Mikoto yang mengunjunginya seminggu yang lalu, yang meminta dirinya ditinggal berdua saja dengan Hinata. Mungkinkah Ibunya sudah mengatakan segalanya tentang Sasuke? Lalu mengubah Hinata menjadi simpati padanya? Jika belas kasihan adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh Hinata saat ini, jika di keik itu berisi belas kasihan. Maka tidak, Sasuke tidak akan menerimanya.

"Simpan saja Hinata. Aku tidak akan memakannya" Hinata terbelalak, sesaat kemudian, mata pucatnya menampilkan kekecewaan, lalu berbalik dengan menundukkan kepalanya.

Sasuke menangkap lengan Hinata sebelum gadis itu benar-benar berbalik. Menggenggam lengannya dengan erat, namun tanpa menyakiti gadis itu. "Jika ini karena kau kasihan padaku, lebih baik simpan saja Hinata. Aku tidak membutuhkannya." Sasuke mendesis, menakuti gadis yang ditahannya.

TBC

AKHIRNYA SETELAH HAMPIR 2 TAHUN HIATUS

GOMEN NEEEE MINNA. T_T

Setelah baca review2 dari kalian, aku terharu, lalu mengumpulkan otak dan semangat untuk menulis. *hugs

Sasuke-kunnnn... *nangis Ternyata kau menyimpan rahasia besar nak.

AUTHOR JANJI BAKAL UPDATE KILAT KALO REVIEWNYA UDAH NEMBUS 110!