Disclaimer: I'm making no money from these characters.
Chapter 7: Bright day to begin.
Hinata merapatkan kedua tangannya lalu menariknya ke udara, melakukan sedikit streching. Lalu menutup matanya, berusaha memikirkan sesuatu-atau malah berusaha melupakannya. Kepalan tangannya dilepaskan, dengan lemas, Hinata membiarkan kedua tangannya jatuh ke kasur yang sedang ia tiduri. Hinata membuka matanya lagi, kemudian mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya menyatu. Tiba-tiba wajahnya memerah, tidak ada siapapun di kamar itu, namun Hinata tetap berusaha menutupi wajah merahnya.
Sudah dua jam Hinata seperti ini. Berguling-guling di atas kasur sambil memikirkan sesuatu. Hinata bukannya putus asa, ia sudah mencoba memikirkan hal-hal lain, bunga-bunga didepan rumahnya sudah mulai mengering karena terlalu lama tak disiram, mereka pasti merana menunggu kedatangan Hinata. Oh, seperti Hinata merana menunggu kedatangan-nya.
"Arrrghhh" Hinata memikirkannya lagi. Bagaimanapun ia mencoba untuk memikirkan hal-hal lain, pikirannya selalu kembali ke saat itu.
Flashback begins.
Hinata sudah memutuskan untuk pulang ke rumahnya bersama Tou-sannya dulu di Konoha. Sudah sejak seminggu lalu Hinata merencanakannya. Sebenarnya Hinata bisa saja langsung pulang, dan berpamitan kepada orang-orang yang bekerja dirumah ini. Namun, sebagian hatinya memaksanya untuk menjaga kesopanan dan menunggu tuan rumah untuk berpamyitan, sebagian lagi, seperti, ingin menemui Sasuke sekali lagi. Hinata juga tak dapat berada di rumah ini. Ia seperti beban, lagipula Hinata kan juga punya kehidupan.
Keputusan ini, bukannya Hinata ingin menyerah, menghindar dari permintaan Ibu Hinata. Tapi sepertinya Sasuke juga sudah tidak peduli dengan Hinata. Minggu lalu pria itu melambungkan perminyaannya ke langit, tapi kemudian menjatuhkannya ke tanah. Seperti balon yang ditiup setengah dari volume maksimalnya, lalu melepaskan genggamannya pada balon itu, isinya keluar tak terkendali dan jatuh pelan-pelan. Ya, tepat seperti balon itu. Hinata merasa diperhatikan dan merasa sedikit berarti. Tapi kemudian Sasuke mengacuhkannya, sejak peristiwa keik itu.
Hinata ingin melupakan rasa simpatinya pada Sasuke, sepertinya itu lebih baik. Berusaha mencintainya dengan dirinya saat ini, terlepas dari bagaimanapun masa lalunya. Hinata mengerti bahwa Sasuke dengan segala cara ingin melupakan masa lalunya, dengan Hinata terlalu berlebihan perhatian padanya, dengan sikapnya yang berubah, akan membuat Sasuke menganggap Hinata hanya merasa kasihan, lalu pada akhirnya akan mengingatkan Sasuke pada masa lalunya.
Sasuke bodoh. Bodoh. Bodoh. Kalau ia benar-benar tertarik pada Hinata seharusnya pria itu lebih berusaha kan. Hinata menepuk keningnya. Ia yang bodoh, Hinata terlalu percaya diri, Ibu Sasuke terlalu berharap padanya. Mungkin menyiksa Hinata adalah bagian dari hiburan pribadi Sasuke. Hinata benar-benar bingung.
Hinata berlari ke jendela, suara mobil sport mengoar dari gerbang, Hinata berani bertaruh, itu pasti Sasuke. Ini hari minggu, biasanya Sasuke keluar untuk bermain golf dengan petinggi-petinggi di negara itu, menjalin keakraban dan membicarakan hal-hal rumit tentang politik dan rencana serta proses pelaksanaan proyek demi kelancaran bisnis Uchiha.
Benar saja, Sasuke berada dalam mobil itu, dengan pakaian olahraga putih-hitam. Hinata memerah, lelaki itu selalu terlihat menarik, membuat jantung Hinata berdebar dengan frekuensi lebih tinggi dibanding frekuensi normalnya.
Hinata berlari lagi kearah pintu, Sasuke harus dihadang sebelum ia pergi lagi. Dia lelaki yang super sibuk, satu detik pulang kerumah, tiga detik kemudian sudah pergi lagi sambil membawa setumpuk file. Hinata benar-benar harus mengeluarkan seluruh kemampuan atletikya dengan maksimal untuk mengejar Sasuke kali ini.
Hinata sudah melihat Sasuke yang berjalan menuju kamarnya, sebelum Sasuke masuk, Hinata berlari sekuat tenaga. Ini lebih menegangkan, Hinata akhirnya mendekat pada Sasuke tepat 2 meter sebelum tangannya meraih kenop pintu kamarnya. Hinata mengerem saat itu juga, tapi ternyata otaknya tak mampu menghitung dengan persamaan fisika secara tepat saat ini.
"Sasuke-san tung...Bruukkk!" Hinata menabrak Sasuke. Keras. Sesuai dengan hukum kekekalan momentum, Hinata terpental kebelakang, pantatnya menghantam lantai. Tapi tubuh kuat Sasuke menahan dirinya sendiri agar ia tak sampai terjatuh, namun kepalanya terbentur pintu, dari suara tumbukannya, Hinata dapat membayangkan betapa sakitnya.
Hinata meringis, merasa sungguh sungguh bersalah pada Sasuke. Dengan cepat bangun lalu membukukkan badan. "Ma.. maafkan aku Sasuke-san aku... aku... benar-benar ceroboh." Hinata mengintip melalui celah poninya, berharap Sasuke baik-baik saja.
"Hn... argh" Sasuke meringis. Hinata semakin terintimidasi, merasa bersalah, tanpa pikir panjang, Hinata berlari ke dapur, Hinata harus mengambil es batu secepat mungkin.
Sasuke menyeringai. Gadis aneh, memangnya dia tidak bisa belajar dari kesalahan? Tidak takut terjatuh lagi? Sasuke lalu membalikkan badan untuk membuka kamarnya, dengan kepala berdenyut yang dapat diabaikannya dengan mudah.
"Sasuke-san tunggu!" Hinata mencegah Sasuke sebelum ia masuk ke kamarnya, dengan kompres es batu dan baskom di tangannya. Sasuke tertawa dalam hati, gadis ini sungguh polos, dengan kebaikan yang langka. Wajah Hinata merah merona, semerah tomat kesukaan Sasuke, ditambah dengan gigitan pada bibir bawahnya, dengan khawatir menunggu jawaban Sasuke. Hinata terlihat sangat manis.
Sasuke dapat membayangkan wajah itu dipelukannya, kelelakiannya tergelitik, ingin sekali mendekap gadis di depannya sambil mengelus rambut selembut beludru yang tergantung begitu sempurna di kepalanya.
"Sasuke-san ke-kepalamu pasti sakit. I...ijinkan aku." Hinata membungkuk lagi, karena tidak melihat adanya respon dari Sasuke.
"Hn... baiklah. Ke kamarku saja" Sasuke membukakan pintu ke kamarnya. Tetapi kemudian menutupnya kembali.
"Aku berubah pikiran, disofa itu saja." Sasuke duduk di sofa yang dimaksudnya pada Hinata. Alex berulah lagi, Sasuke menduga ia sudah meletakkan banyak bangkai burung dan tikus di bawah tempat tidurnya, membuat kamar nyamannya berbau bangkai menyengat, kucing itu selalu begitu saat Sasuke jarang muncul dihadapannya. Sasuke menggerutu, ia sedang capek sekali dan ingin merasakan kasur empuknya setelah sekian lama. Dasar wanita tua bodoh, pikir Sasuke. Hinata memasang wajah penasaran, yang lagi-lagi, menggemaskan.
"A...ada apa?" Hinata penasaran, tapi kemudian menelan rasa penasarannya dan dengan segera meminta ijin Sasuke untuk mengompres kepala pemuda itu, yang disambut dengan anggukan singkat Sasuke.
Hinata mengompres kepala Sasuke, yang ternyata luka tabrakan mereka tadi cukup parah. terdapat benjolan dengan diameter sama dengan jempol Hinata. Gadis itu meringis, rasanya pasti sakit.
"A... ano... Sasuke-san, ini pasti sakit sekali. Sekali lagi ma.. maafkan aku" Hinata benar-benar merasa bersalah akan kecerobohannya, sedikit melamun, dan tanpa sadar air es sudah mengalir di pipi Sasuke.
Hinata panik sekali lagi. Dengan cepat ia menghentikan aliran air yang hampir melewati rahang Sasuke, dan berusaha mengeringkannya dengan tangan kosong karena ia tadi lupa mengambil tisu juga. Tiga kebodohan berturut-turut dilakukan Hinata.
Sasuke menaikkan tangannya, menahan tangan Hinata di pipi pemuda itu. Meletakkan tangannya di atas telapak tangan Hinata. Hinata semakin panik, kali ini benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukannya. Secara instan, wajah Hinata memerah. Menengok kanan kiri dengan khawatir seolah dia butuh dibantu mengatasi kepanikan ini.
Berbeda dengan Hinata, Sasuke hanya diam dan menutup matanya. Dinginnya air es dan hangatnya tangan Hinata memberikan sensasi tersendiri bagi Sasuke, apalagi ditambah lembutnya tangan mini yang menyalurkan kehangatan itu.
"Aku baik-baik saja Hinata, tak pernah sebaik ini" Kata-kata Sasuke membuat jantung Hinata yang berada dibelakang Sasuke berdebar tak karuan, wajahnya semerah tomat. Kupu-kupu diperutnya juga berulah. Berapa banyak sih proses kimia dalam tubuhnya yang menyangkut dengan emosinya saat ini? Hinata merasa terjungkir balik karena emosinya
"Kenapa kau mendatangiku tadi?" Sasuke membuka matanya, namun tak melepaskan tangan Hinata dari pipinya, belum puas menikmati transfer kalor dari tangan itu.
"A... ah... A...ano... A... Aku.. ingin pamit pulang." Sasuke melepaskan tangannya dari atas tangan Hinata, lalu berdiri setelah mendengar pernyataan Hinata yang sudah ia duga sebelumnya. Sasuke merasa sedikit berat hati, tapi ia juga kasihan akan gadis itu yang tak dapat menjalani harinya sesuai dengan yang ia inginkan, mengurung seorang gadis dirumahnya juga bukan hal yang bijak menurut Sasuke. Masih ada kesempatan-kesempatan lain jika ia ingin memiliki gadis ini. Dengan cara yang benar, yang diinginkan oleh Hinata pula.
Sasuke menyeringai dalam hati, pemikirannya tentang Hinata, yang juga menginginkannya, Sasuke yakin, dengan beberapa sentuhan lagi, Hinata akan menjadi miliknya. Sebentar lagi rasa kasihan Hinata terhadap masa lalunya akan tergantikan dengan rasa yang sama seperti yang ia rasakan.
"Baiklah, aku akan mandi dulu sebelum mengantarmu." Sasuke tetap pada wajah datarnya, menghambat Hinata yang mencoba membaca apa yang ada di pikirannya.
"Tapi a..aku, bisa..." Sasuke sudah menghilang sebelum Hinata sempat menyelesaikan kalimatnya, Hinata bisa pulang sendiri naik kereta. Sasuke tidak perlu memaksanya untuk mengantarkannya. Lagipula perjalanan ke Konoha bukannya singkat. Hinata mendesah, merasa tak enak jika nanti ia benar-benar merepotkan Sasuke.
~0~
Udara pagi itu sangat menyenangkan, berawan dengan matahari yang mengintip sedikit dari balik awan putih seperti kapas. Angin sedang menarikan tarian bahagia, tak terburu-buru dan tak agresif. Bunga-bunga sudah jelas tak mau kalah menunjukkan kecantikannya, menambah keindahan pagi yang sempurna.
Hinata menghirup napas dalam-dalam, menyesap setiap keindahan yang diberikan alam pagi itu di halaman depan Mansion Uchiha sembari menunggu pria yang tadi berjanji untuk mengantarnya pulang.
Sasuke keluar dari pintu utama, berjalan kearah Hinata yang sudah menunggunya sejak tadi, lalu menepuk kepala Hinata untuk memberikan kode bahwa ia sudah berada disitu dan siap untuk pergi. "Ayo. Hinata"
"Baik Sasuke-san." Hinata menundukkan kepalanya, lagi-lagi memerah karena perlakuan Sasuke. Hidungnya menangkap sesuatu. Bau khas Sasuke. Aroma musk yang khas ditambah sabun-entah-wangi-apa yang sangat menonjolkan kelelakiannya membuat Hinata mati-matian harus mengatur napas.
Sasuke menyebabkan partikel beraroma yang ada di kepala Hinata berterbangan hingga ke hidung saat ia menepuk kepala gadis itu. Ia baru menyadari Hinata selalu beraroma seperti ini. Seperti campuran vanilla dan lavender yang khas. Membuat Sasuke merasa sedikit nyaman dan damai. Oh... andaikan saja ia bisa memegang rambut itu lebih lama dan melepaskan lebih banyak lagi aroma yang menempel di rambut itu.
Bibir Hinata membentuk O besar melihat mobil yang ditumpangi Sasuke. Sebuah Audi convertible berwarna silver, seperti yang digunakan Tony Stark dalam Iron Man. Hinata menelan ludah, memangnya pantat rakyat jelata seperti Hinata pantas menduduki mobil semewah itu?
Dengan ragu Hinata berjalan ke mobil itu, berhati-hati agar tak menyentuh apapun. Lalu dengan cepat menarik beberapa lembar tisu dari tasnya, lalu menata tisu itu di permukaan tempat duduk depan yang akan ditempatinya.
"Tunggu. Hinata, apa yang kau lakukan?" Sasuke menautkan kedua alisnya, tidak mengerti sama sekali akan apa yang sedang dilakukan Hinata.
"Aku... aku tak ingin mengotori mobil seperti ini Sasuke-san" Kata Hinata sambil memastikan tiap celah tertutupi oleh tisunya.
Sasuke menahan tawa, membuat wajah pucatnya merah. "Memangnya nanti kau akan ngompol? Kita bisa berhenti di suatu tempat kok jadi jangan khawatir, kau takkan ngompol Hinata"
Hinata merasa sangat malu, ingin sekali mengubur dirinya dalam-dalam di bawah tanah. Salah tingkah, Hinata merasakan panas menjalar ke wajahnya.
"Ma-maafkan aku Sasuke-san... bukan... maksuku bukan ngompol... aaaa... mmm" Hinata bingung, tidak punya kata-kata lagi untuk menjelaskannya pada Sasuke.
Sasuke menumpukan sikunya diatas kemudi, selagi menutupi mulutnya untuk menyembunyikan ekspresinya. Sasuke memutuskan ini adalah hobi barunya, menggoda Hyuuga Hinata ternyata sangat menyenangkan.
'Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.' Pikir Sasuke.
'Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang.' Pikir Hinata, yang sudah meletakkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang.
~TBC~
It's short, but I hope you guys enjoy.
