hahahay! aku kembali lagi!*bubarbubar* aku tidak tau mau ngomong apa._. silakan membaca saja ya! selamat membaca! ^^
"apa benar kau mencintaiku
apa benar kau menyayangiku
aku hanya ingin jawabanmu…
itu saja…tolong jawab..aku bisa gila"
First
Bab 2
"kuminta kau diam. Tutup mulutmu saja." kata suara berat orang yang membekapku. Dibukanya pintu apartemenku. Kugigit tangannya yang memakai sarung tangan.
"ARGH! Apa maksudmu!" katanya marah.
"siapa kau?"kataku melihat orang yang membekapku,aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker. Hanya matanya yang terlihat, dengan iris berwarna kelabu. "mau apa kau! Keluar sekarang juga!"teriakku marah begitu melihatnya. Tiba-tiba dia kembali membekapku.
"diam. Tolong diam. Tutup mulut besarmu itu."katanya sedikit panik. Aku baru akan menggigit tangannya lagi, ketika tiba-tiba terdengar suara derap kaki dari luar pintu. Terdengar suara peluru ditembakkan. Sekali. Dua kali. Lalu hening.
Terdengar suara derap langkah yang berbeda. Ini lebih berat. Lalu disusul suara-suara langkah kaki lain.
"kemana dia? Kita kehilangan jejaknya lagi!"
"tuan,kami tak menemukan dia dimana-mana. Apa yang harus kami lakukan?"
Tiba-tiba dia melepas bekapanku lalu menarikku ke balkon. Dia tampak menlihat-lihat sekitar.
"kita lompat," katanya berbisik.
"kau gila? Jarak dari sini ke lantai bawah kurang lebih 12 meter!" kataku berbisik juga. Apa dia gila?
"sekarang!" katanya, tanpa menunggu jawabanku. Ditariknya diriku keatas dinding pagar,lalu memelukku sebelum dia menarikku untuk terjun ke bawah. Kupeluk dia erat. Sungguh ini gila! Tiba-tiba kami jatuh disesuatu yang empuk. Ternyata benda itu adalah kasur. Ternyata tetangga di bawah apartemenku menjemur kasur, untung dia belum pulang dan balkonnya lebih luas dari balkonku, sehingga kami tidak terjun ke bawah. Dari sini aku bisa dengar,pintu apartemenku didobrak oleh orang-orang tadi.
"bagaimana sekarang?" tanyaku bingung lalu melihat ke bawah, jaraknya kira-kira masih 9 meter ke bawah. Dia hanya diam, sambil mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya. "apa yang kau cari?" tanyaku heran. Dia hanya diam,lalu mengeluarkan seutas tali. Diikatnya tali ke sebuah besi di dekat pagar balkon.
"ayo." Katanya lalu melempar tali ke bawah. Belum sempat aku memprotes, dia sudah menarikku dan meluncur dengan mulus sampai kami menginjakkan kaki di tanah.
Tiba-tiba dia menarik pistolnya dan membungkukkan diriku. Terdengar beberapa suara tembakan peluru, lalu hening. Dia buru-buru menarikku. Aku berusaha mengikuti langkah kakinya.
"cepat masuk" katanya sambil membuka pintu mobil. Aku buru-buru masuk. Dia melaju dengan kecepatan tinggi. Entah kemana. Dia meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"kau urus cctvnya" katanya pada seseorang di seberang telpon,lalu melempar handphone itu ke jok belakang. Aku hanya memandang dia,lalu mengalihkan pandang ketika dia menoleh. Tiba-tiba kami berhenti di suatu hotel. Apa yang akan dia lakukan? Kenapa membawaku ke hotel? Dia keluar dari mobil, lalu mendekatiku.
"maafkan aku." katanya sambil membekapku dengan sebuah kain. Seketika kepalaku rasanya berputar hebat, dan kemudian semua gelap.
Aku terbangun paginya dengan badan terasa pegal semua dan kepala pusing. Ingatanku langsung mengarah ke kejadian tadi malam. Aku menatap sekitarku. Mataku menangkap sebuah kertas yang sepertinya sengaja di letakkan di meja samping tempat tidur.
Tinggallah disini untuk sementara sampai 3 hari kedepan. Aku ingatkan jangan katakan apapun pada polisi atau orang-orang yang tidak kau kenal, soal kejadian tadi malam. Jika kau dibawa polisi ke kantor polisi,katakan kau sedang pergi malam itu. Lebih baik kau tutup mulutmu,atau orang-orang itu akan mengambil nyawamu. Apartemenmu sekarang sedang diperiksa polisi. Percayalah . tutup mulutmu rapat-rapat.
Aku meletakkan kertas itu di tempat semula. Tutup mulut? Apa aku melakukan kesalahan? Ah,sudahlah,aku berdiri dari kasur, tiba-tiba sesuatu jatuh di depanku. Beberapa lembar uang 10 pound. kukumpulkan uang lalu memasukkan ke tas. Kuseret diriku kamar mandi. Aku kaget karna ada kemeja di dekat washtafel. Setelah berendam cukup lama, kupakai kemeja itu lalu keluar kamar mandi. Aku meminta room boy untuk mengantarkan makanan ke kamarku. Saat kunyalakan tv,berita tentang kejadian semalam diberitakan dimana-mana. Salah satu stasiun tv menuliskan bahwa itu ulah pembunuh bayaran. Aku terpaku melihatnya. Tiba-tiba hpku berdering, dan ternyata telpon dari Ginny.
"Hermione, kau baik-baik saja?" dari suara Ginny,sepertinya dia terlihat khawatir.
"aku baik-baik saja Ginny. Tidak usah khawatir." Kata Hermione menenangkan Ginny.
"syukurlah. Berhati-hatilah. Kemungkinan kita akan dipanggil ke kantor polisi. Jadi siap-siap saja. Aku tutup telponnya ya." Kata Ginny, lalu telpon terputus. Kuletakkan hpku di samping tempat tidur.
Tiba-tiba pintu diketuk, ternyata seorang room boy.
"ini makanan anda,nona. Dan ada paket untuk anda. Permisi." Kubuka paketku, ternyata isinya baju-baju wanita. Tidak ada surat atau sebagainya. Kalau dari bau baju-baju ini, seperti baju baru. Aku kembali menyimpan baju-baju itu, mungkin dari Ginny. Sungguh membosankan, di sekitar hotel ini juga tidak ada tempat menarik.
Normal POV
Keesokkan harinya,seperti kemarin, Hermione hanya mengurung diri di kamar. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang. Hermione membuka sedikit pintu kamarnya. Menyembulkan kepalanya.
"Nona Hermione Granger?" kata orang itu.
"siapa kau?" Hermioen memandang curiga pria yang berdiri di hadapannya.
"aku polisi. Anda dipanggil ke kantor polisi sekarang. Atas kasus yang terjadi kemarin." Katanya sesopan mungkin. Menunjukkan kartu identitasnya.
"oh. Baiklah, tunggu sebentar." Kata Hermione lalu menutup pintu. "aku harus pakai baju apa?" kata Hermione, dia menarik paket yang dikirimkan kepadanya. Dipilihnya salah satu baju, lalu memakainya.
"ikut aku sekarang." Kata polisi itu. Hermione mengikuti sampai ke dalam mobil. Sesampainya disana, Hermione langsung dibawa ke ruang introgasi.
"ah, nona Granger, silakan duduk. Apa polisi yang membawa anda kesini ramah? " Kata seorang polisi, seakan sedang acara minum teh. Dengan tenang Hermione duduk. Hermione mengangguk pelan.
"jadi, langsung saja. Dimana anda ketika kejadian?" Tanya polisi itu tanpa basa-basi. Hermione menatap polisi itu tenang.
"di rumah temanku." Hermione berusaha membuat suaranya setenang mungkin. "apa yang anda lakukan?" tanyanya lagi. "tentu saja bersenang-senang. Pesta hallowen." kata Hermione menambahkan mimik ceria. "ah,ya." Pertanyaan demi pertanyaan terus berlanjut. Sekitar pukul 3 sore Hermione baru dilepas keluar. Terlihat seorang pria berdiri disamping Ginny, tapi itu bukan Harry. Ginny tersenyum lebar melihat Hermione.
"bagaimana Hermione? Apa yang mereka tanyakan?" kata Ginny penasaran.
"ya begitulah, apa yang aku lakukan saat kejadian, dimana aku saat itu, dan sebagainya." Kata Hermione santai.
"dan kau jawab?" Tanya Ginny.
"aku bilang, aku sedang diluar. Lagipula memang aku masih di rumah Lavender." Kata Hermione, memasang wajah biasa. Sedangkan pria yang tadi disamping Ginny, masih di tempat semula, bersandar di dinding, sambil meniup permen karetnya.
"kau tinggal dimana sekarang? kenapa tidak pulang? Apa kau sudah ke apartemen?" tanya Ginny. Hermione agak kaget.
"aku tinggal di di hotel. Ah… aku bertemu temanku, teman lama, katanya aku mabuk, lalu dia membawaku kesana." Hermione mengatakan dengan agak gugup. Ginny menatap Hermione curiga, tapi buru-buru digantikan dengan senyuman.
"sampai kapan kau disana?" tanya Ginny.
"besok, kurasa. Besok aku kembali ke apartemen." Ginny masih tersenyum, lalu melirik kearah pria yang tadi bersamanya.
"ah, iya, Hermione, ini aku kenalkan, temanku." Kata Ginny menarik Hermione. Hermione melihat wajah itu, sangat familiar.
"kau? Suatu kesialan bertemu denganmu lagi." kata Hermione dengan tatapan antara tidak percaya dan sinis.
"ah, gadis bodoh. Kau mencariku,eh? Ingin meminta maaf? Tidak usah, aku sudah memaafkanmu." Katanya dengan percaya diri.
"percaya diri sekali. Kau kira siapa dirimu. Enak saja, meminta maaf padamu? Kau kira siapa dirimu? Pangeran William? Menjijikkan sekali sikapmu." Hermione melempar tatapan membunuh pada orang itu. Lalu ditatap balik juga oleh orang itu.
"kalian saling kenal?" kata Ginny bingung. Tidak ada yang menjawab. "Hei! Aku tanya apa kalian saling kenal?" kata Ginny lebih keras. "Hermione! Draco!" teriak Ginny merasa diacuhkan. Draco mengalihkan pandangannya, lau berdeham dan memasang wajah datar.
"kau jadi ingin menumpang mobilku?" tanya Draco pada Ginny.
"ya. Harry sedang sibuk. Maaf merepotkanmu." Kata Ginny. Hermione berbalik keluar kantor polisi. "hei,Mione! Kau mau kemana?" kata Ginny menahan tangan Hermione.
"aku mau pulang ke hotel." Kata Hermione ketus.
"ikutlah denganku. Diluar sini sangat dingin." Kata Ginny. Sementara dari jauh, Draco memandang Hermione.
"naik mobil orang itu? Dimana harga diriku?" kata Hermione sinis.
Draco menghampiri mereka dengan mobilnya, "cepat masuk. ingin sakit?" Ginny menarik tangan Hermione masuk ke dalam mobil.
"Ginny Weasley!" teriak Hermione.
"aish. Jangan berteriak di telingaku. Jalan Draco." Kata Ginny, Draco menjalankan mobilnya melewati jalan-jalan ramai. Sepanjang perjalanan Hermione memasang wajah kesal. "jangan pasang wajah itu, Hermione. Sungguh tidak enak dilihat. Ditengah jalan, hp Ginny bergetar.
"Harry! Ah,apa? Oh, baiklah." Ginny menutup telponnya. "Draco,turunkan aku disini saja." Kata Ginny, Draco meminggirkan mobilnya.
"Ginny? Kau mau kemana? bagaimana denganku?" kata Hermione.
"Draco, antarkan Mione ke hotel ya. Aku pergi dulu! Thanks,Draco!" kata Ginny, lalu berlari menjauh.
"Hei, Ginny!" teriak Hermione dari jendela mobil. Draco meluncurkan mobilnya ke hotel. Hermione hanya diam.
Mobil berhenti, "sudah sampai,turunlah." Kata Draco. Hermione keluar mobil, lalu berjalan masuk ke hotel tanpa melihat ke belakang. Sementara Draco hanya menatap datar Hermione sebelum membawa mobilnya pergi.
Esoknya Hermione mengemasi barang-barangnya. Dia melirik paketnya, "apa mungkin ini dari Ginny? Tapi kemarin dia tidak bicara apapun?" gumam Hermione lalu dibawanya paket itu. Hermione mengurus proses check out, lalu menghentikan taksi untuk ke apartemen. Hermione menatap apartemennya, lalu ke balkon. Ingatannya kembali pada kejadian malam itu. Hermione menggelengkan kepalanya, mengusir ingatan tersebut. Keadaan apartemen tersebut terlihat, well, sangat berantakan. Seharian, Hermione membersihkan apartemen tersebut.
Malamnya, Hermione memilih untuk makan diluar. Di restaurant favoritnya. Hermione selalu datang ke restaurant ini, selalu di tempat yang sama ,di samping jendela di lantai 2, bahkan para pelayan di restaurant sudah hafal dengan Hermione dan pesanannya. Saat naik ke lantai 2, Hermione melihat, tempat yang biasanya dia duduki, telah di tempati orang lain. Akhirnya, dia memilih duduk di meja sampingnya. Seorang waitress menghampiri Hermione sambil membawa es krim coklat.
"seperti biasa, Mione. Ada yang kau inginkan?" tanya waitress itu.
"ah, thanks, Lucy. Kali ini aku ingin coba lasagna. Tapi kenapa disini terlihat sepi sekali?" Kata Hermione
"mungkin karna cuaca. Diluar memang dingin sekali." Kata Lucy, mengedikkan bahunya.
Hermione memakan es krimnya sambil melihat pemandangan kota di saat malam hari, lalu matanya beralih memperhatikan pria yang duduk di tempat favoritnya. Sepertinya dia kenal dengan orang ini.
Tiba-tiba Lucy datang membawa pesanan Hermione. "silakan menikmati, Nona Granger." Kata Lucy sambil tertawa pelan.
"kau ini, thanks, Lucy." Kata Hermione, tersenyum lebar. Hermione menyicipi sedikit lasagnanya. "enak." Gumamnya pelan.
"ah. Ternyata kita bertemu lagi." Kata seseorang. Hermione mendongak, pria di depannya membuka topi. Hermione menatap sinis.
"hah, sungguh menjengkelkan. Bisa gila aku." Hermione memutar matanya, mengacuhkan orang di depannya.
"kemana tatapan membunuh yang biasa kau tunjukan padaku?"
Hermione menghela nafas, "begini. Bisakah kau diam? Aku sedang tidak berniat bertengkar denganmu, Draco." Hermione memakan potongan terakhir dari lasagnanya.
"ah, orang sepertimu ternyata bisa juga mengendalikan emosi." Hermione memandang sinis Draco, sebelum pergi meninggalkannya. Diluar gedung, tiba-tiba 4 pria menghadang Hermione. Hermione mundur selangkah.
"siapa kalian?" katanya waspada.
"Nona Hermione Granger?" kata orang yang paling depan.
"siapa kalian?" kata Hermione memandang waspada orang-orang di depannya. Orang yang paling depan memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya. Orang-orang itu maju mendekati Hermione.
Salah satu orang berusaha menahan tangan Hermione. Hermione langsung berputar dan membanting orang tersebut. Yang lainnya langsung maju melihat temannya dibanting. Hermione membanting 2 orang sekaligus dan memiting mereka. Tiba-tiba orang yang mungkin 'bos' dari kelompok itu menodongkan pistol di kepala Hermione. Hermione terpaku.
"diam dan ikut kami, atau kau akan mati." Katanya.
Hermione diam di tempat. Tapi, tiba-tiba pistol yang ditodongkan padanya terjatuh dan terdengar suara rintihan.
"pergilah, segeralah pindah apartemen." Kata seseorang. Hermione berbalik, tapi orang itu sudah menghilang. Terdengar suara sirine polisi. Hermione buru-buru menghentikan sebuah taksi.
"Ginny! Kau dimana? Aku butuh bantuanmu." Kata Hermione pada Ginny dari telpon.
"ada apa Hermione? Aku, aku di rumah Harry. Bagaimana kalau aku menjemputmu di stasuin King's Cross? Aku tunggu kau disana."
"baiklah, thanks Ginny." Hermione menutup telponnya. "tolong antarkan aku ke stasiun King's Cross."
"baik." Kata sang supir, lalu menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Hermione memasang wajah cemas. Akhirnya dia sampai dan membayar taksinya. Ginny sudah berada disana dan langsung menghampiri Hermione.
"ada apa, Mione?" Ginny menatap Hermione khawatir.
"kita harus pindah dari apartemen, Ginny." Kata Hermione.
"kenapa? ah, aku tau ini. Jangan bilang biaya sewanya terlalu mahal?" kata Ginny.
"bukan itu, tapi…" Hermione berpikir sejenak. "tidak. Aku, aku, aku hanya merasa aku tidak nyaman disana." Hermione menatap Ginny nanar.
"owh. Tapi, begini, Mione… ada yang ingin kukatakan." Ginny menggigit bibirnya. "aku…aku akan menikah."
To Be Continued...
Bagaimana? Masih kurang seru ya? maaf ya... karna ini juga dikerjakan dengan agak terburu-buru-,-v
silakan tinggalkan jejak...karna review anda sangat berguna untukku dan perbaikkan ff ini. Terimakasih^^
