TARA! Myung kembali lagi. Maaf apdetnya telat banget *bow dalem-dalem* jadwal myung masih kacau jadi acara nulis-menulis jadi berkurang, Myung usahakan bab selanjutnya diapdet tepat waktu atau lebih cepat^^ sebelumnya Myung minta maaf, jika masih ada salah ketik, atau kurang greget ceritanya ._. oke gak banyak omong, cekidot!


"Aku tidak tahu kenapa…
tapi aku tidak bisa melupakanmu…
walau hanya 1 detik…
bayang-bayang akan dirimu terus dipikiranku"

First

Bab 4

"P-Paman?"

Seorang pria berdiri di depan pintu. Wajahnya terlihat angkuh tapi sangat tampan. Tiba-tiba sebuah cengiran terpampang di wajahnya.

"Hai, Draco. Sudah lama sekali tidak bertemu." Kata orang itu masih dengan cengirannya. Draco bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arah pamannya.

"Ya. Sudah lama sekali." Draco langsung memeluk pamannya. Mereka berpelukan hangat, Draco melepas pelukannya.

"Tadi kulihat kau membawa seorang wanita, Draco. Siapa dia? Kulihat sangat cantik. Kelihatannya dia mabuk? Apa dia pacarmu?"

"Ah, bukan siapa-siapa,Paman." Sang paman mengangkat alisnya. Draco sedikit salah tingkah, "Sejak kapan paman datang?"

"Jangan mengubah arah pembicaraan, Nak." Draco hanya diam.

"Hanya teman. Bukan siapa-siapa. Aku hanya menolongnya." Kata Draco. "Sudahlah, Paman, itu tidak penting."lanjutnya cepat.

"Kau mau membawanya ke dalam bahaya? Kau membawanya kesini sama saja kau membawanya ke dalam bahaya."

"Aku pastikan dia akan aman." Kata Draco.

"Kau berubah. Baru setengah tahun kita tidak bertemu, kau sudah sangat berbeda. Terserah padamu saja. Berhati-hatilah. Well, bagaimana kehidupanmu disini? Rumah sebesar ini apa tidak berlebihan? Kaukan tinggal sendiri."

"Hahaha. Ini rumah yang bagus. Aku tidak akan menyianyiakannya. Kenapa kau bisa kesini, Paman Sirius?"

"Mengenang masa lalu, saat aku masih bisa melihat orangtua Harry dan orangtuamu." Sirius tersenyum getir. Tapi langsung digantikan dengan senyum hangat. "Kudengar dari Harry, kalian akan Korea Selatan?"

"Ya, apa paman akan hadir juga? Aku rindu Seoul."

"Hahaha. Aku akan datang. Kalau begitu, sampai jumpa di pesta. Aku masih ada janji." Katanya.

"Berhati-hatilah!" kata Draco, sambil mengantar pamannya keluar rumah.

"Jaga dirimu. Jangan melakukan hal bodoh. Terus berhati-hati!" kata Sirius lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu bergerak menjauh. Draco masuk ke dalam, melintas di depan kamar Hermione. Dibukanya pintu perlahan. Terlihat Hermione yang masih tertidur nyenyak. Draco melangkah masuk, tanpa bunyi langkah kaki. Dipandanginya wajah Hermione lalu mengelus pelan rambut Hermione.

"Aku harap, aku tidak salah orang." Gumam Draco, lalu bangkit berdiri, dan menutup pintu.

Draco duduk di balik meja kerjanya lagi, diambil hpnya lalu kembali melihat video yang didapatnya hari ini. Video terus berputar. Hingga sebuah gambar memperlihatkan Macnair dan sekretarisnya serta seseorang yang Draco lihat adalah dokter kepala di rumah sakit tempat Hermione dulu. Draco memperhatikan dengan seksama.

"Kau ingin berapa?" dokter itu tidak menjawab, tampangnya menjadi marah. Macnair meletakkan beberapa tumpukan uang. "Masih kurangkah? Atau kau ingin izin doktermu dicabut? Atau pelaporan pada Presdir Rodolphus?" ancam Macnair, dokter itu seketika menjadi ketakutan.

"Baik, baik! Aku setuju dengan rencana ini, hanya pekerja dari perusahaanmukan yang harus kami bunuh? Perjanjian ini harus kau ingat, aku tidak mau rugi. Tapi, jika terbongkar, aku tidak mau berurusan dengan orang sepertimu lagi!" katanya lalu segera pergi. Draco melepas headphonenya, wajahnya terlihat kesal.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan sepasang manik hazel yang indah. Sedikit lingkaran hitam tampak di wajahnya. Matanya mencoba beradaptasi dengan lingkugan sekitarnya. Matanya terbelalak kaget.

"Dimana aku?" serunya panik. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Menampakkan sesosok pria jangkung dengan rambut masih acak-acakkan dan muka kusut serta hanya mengenakkan celana training dan kaus tipis. Yah, siapa lagi kalau bukan sang pemilik rumah.

"Kau sudah bangun? Cepat bersihkan dirimu. Kamar mandinya pintu kedua dari kanan." Kata Draco sambil melempar sebuah handuk. Hermione menangkapnya masih dengan ekspresi campur aduk.

"Ini dimana? Kenapa kau juga disini?" tanya Hermione. Bukannya menjawab pertanyaan Hermione, Draco hanya menatapnya tanpa ekspresi lalu menutup pintu dengan keras.

"Kasar sekali dia." gumam Hermione. Tiba-tiba pintu terbuka lagi.

"Apa kau bilang?" kata Draco dengan tatapan membunuh.

"Menurutmu? Kau kira aku takut dengan tatapanmu itu."balas Hermione dengan kesal. Draco langsung memasang wajah dingin, lalu melempar sebuah kain warna putih. Sekali lagi Hermione menangkapnya.

"Pakai itu, aku tidak punya baju wanita." Kata Draco lalu menutup pintu. Hermione merentangkan kain yang dilempar Draco. Ternyata sebuah kemeja laki-laki. Hermione lalu masuk ke kamar mandi sesuai petunjuk Draco dengan wajah merengut.

Selesai mandi, Hermione memakai kemeja Draco yang kebesaran dan celana hitam untuk kerja miliknya. Hermione membuka pintu kamarnya. Sebuah ruangan luas dengan berbagai peralatan mewah masuk ke dalam pengelihatannya. Matanya menatap sekelilingnya, mencoba menerka dimana dirinya dan kenapa bisa di tempat ini?

"Sudah puas mengagumi rumahku?" kata sebuah suara.

"Ini rumahmu? Kenapa aku bisa disini? Apa yang terjadi? Dan dimana kemeja kerjaku?" tanya Hermione.

"Kau sama sekali tidak ingat?" Draco balik bertanya. Hermione menggelengkan kepalanya. Draco menghela nafas. "Kau mabuk berat tadi malam. Jadi aku membawamu ke rumahku, karna aku tidak tahu dimana rumahmu. Dan soal kemejamu, semalam kau muntah, jadi aku gunakan kemejamu untuk membersihkan bekasnya di mulutmu. Kau membuatku hampir tidak tidur semalaman!" Kata Draco panjang lebar. Hermione menatap Draco tidak percaya. Sejenak ingatan itu terlintas. "Sudah ingat? kalau begitu kau buat sarapan." Kata Draco seenaknya sambil meninggalkan Hermione yang masih berkutat dengan pikirannya.

"Kenapa harus aku yang membuat sarapan?" protes Hermione.

"Hei, kau masih ada perjanjian denganku. Jadi jangan banyak protes. Sudah sana buat sarapan. Dapur ada disana!" kata Draco sambil menunjuk arah dapur. Hermione mau tidak mau mengikuti perintah Draco.

Hermione membuka kulkas, melihat apa yang bisa dimasak. Hermione mengambil sebungkus bakso dan spaghetti kemasan. Berencana untuk membuat spaghetti saja.

Draco menyalakan ipadnya, mencari-cari bukti tambahan yang bisa menjatuhkan Macnair. Aroma masakan menyeruak ke indra penciumannya. Draco menatap kearah dapur. Mencoba menerka apa yang dimasak Hermione. Draco mengalihkan perhatiannya ke ipad lagi.

" Makanan sudah siap! Ayo makan!" kata Hermione dari balik rak yang memisahkan dapur dengan ruang tengah. Draco berjalan ke meja makan.

"Spaghetti? Dari baunya lumayan." Komentar Draco melihat sepiring spaghetti. Hermione meletakkan piring serta sendok dan garpu di depan Draco. Draco langsung mengambil spaghettinya. Hermione bertopang dagu, menunggu komentar Draco.

"Masakanmu enak juga." Kata Draco sambil tersenyum senang.

Deg. Hati Hermione mencelos. 'reaksi dan senyum itu…mirip dengannya.' Hermione menatap Draco tidak percaya. 'tidak mungkin itu bukan dia,apa mungkin dia? Tidak bukan,tapi senyum itu…senyum yang mirip dengan senyumnya. Ah, Hermione,lupakan dia. Lupakan dia!' Hermione menggelengkan kepalanya. Draco melirik Hermione curiga. Hermione mengambil spaghettinya, memakannya dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba hp Draco berdering,

"Drakke, apa kau bertemu Hermione? Aku berusaha menelponnya, tapi tidak dijawab." Kata Ginny. Draco melirik ke Hermione.

"Tunggu sebentar." Draco menyerahkan hpnya pada Hermione. Hermione menatap Draco bingung, tapi diambilnya hp Draco.

"Halo?" kata Hermione.

"MIONE! KEMANA SAJA KAU! AKU HAMPIR MATI KARNA KHAWATIR!" teriak Ginny. Hermione menjauhkan hp Draco dari telinganya.

"Maaf, Ginny. Ada hal yang terjadi, maafkan aku. APA? HARI INI? AKU LUPA! Baik-baik,Ginny. Tenang. Baik." Hermione mengembalikan hp Draco. "Kau tidak bilang hari ini kita berangkat ke Korea!" teriak Hermione panik.

"Aku kira kau ingat." kata Draco santai. Hermione terlihat kesal. "Makan saja dulu, nanti kuantar kau ke apartemenmu." Kata Draco, kembali ke makanannya. Hermione mendelik kesal.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Terimakasih." Kata Hermione lalu berbalik ke apartemennya. Draco mengikuti Hermione dari belakang. Hermione berjalan naik tangga dengan terburu-buru, sehingga tidak menyadari Draco ada di belakangnya. Hermione membuka pintu apartemennya tanpa ditutup kembali, dia langsung masuk ke kamarnya. Draco berdiri di depan pintu. Saat dia ingin masuk, terdengar suara berkresek dari bawah sepatunya. Ditundukkan kepalanya, dan terlihat sepucuk surat. Draco mengambilnya, tidak ada alamat pengirim dan prangko.

Untuk Miss Hermione Granger.

Tertulis jelas di amplop. Draco masuk ke dalam apartemen Hermione. Hermione membuka pintu kamarnya, melihat siapa yang datang.

"Kenapa kau masuk?" pekik Hermione. Draco mengangkat surat yang ditemukannya.

"Ini untukmu, kutemukan di depan pintu. Sebaiknya kau cepat. Aku akan menjemputmu nanti." Kata Draco lalu berbalik keluar.

"Tidak perlu aku bisa naik bis." Teriak Hermione. Draco tidak menjawab, terus berjalan keluar apartemen Hermione.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Sebelum berangkat Draco kembali melihat video dari kantor Macnair. Tepat saat video diputar, Macnair dan sekretarisnya sedang berargumen.

"Apa ini tidak berlebihan, Tuan?"

"Biarkan, aku mengambil uang dari yayasanku untuk keperluan bersama juga, lagipula, yayasan itu atas namaku. Kau jangan banyak protes."

"Tapi, bukankah itu pelanggaran? Mengambil uang rakyat, bukankah-"

"Kau tidak usah ikut campur, mengambil sedikit uang rakyat juga tidak akan membuat rugi. Apa peduliku, mereka juga tidak tahu. Rakyat itu mudah dibodohi, jadi menipu mereka seperti menipu anak kecil saja. Rakyat juga tidak bisa berbuat apa-apa, kau harus tahu itu. Lebih baik kau jangan ikut campur, Rood. Pergi ke ruanganmu!" Rood keluar.

Draco membanting menarik headphonenya, wajahnya terlihat murka. Draco tidak menampakkan ekspresi satupun. Diambilnya berbagai kertas. Bukti-bukti kejahatan Macnair, mulai dari foto-foto hingga artikel-artikel yang menyangkut tindak korupsi dan masalah perusahaannya, lalu dimasukkannya ke dalam sebuah ampolp besar.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione menatap seluruh bandara Incheon dengan perasaan gembira, rindu, serta sedih. Hermione berputar menatap seluruh bandara. Sebuah senyum menghiasi wajahnya. Matanya berbinar bahagia.

"Aku kembali." Kata Hermione pelan, hampir tidak di dengar. Sementara tidak jauh dari Hermione, Draco tersenyum. Wajahnya menyiratkan kerinduan. Secara bersamaan, Hermione dan Draco mengeluarkan sebuah foto.

"Kalaupun waktu akan berputar seribu kali aku pasti akan bertemu denganmu. Lee Yoon Soo. " Gumam Hermione lirih. Setitik air mata menuruni pipinya.

Draco tersenyum melihat foto itu. Kenangan masa lalu yang sangat berharga.

"Aku harap itu benar dirimu. Kim Yeon Woo." Ucapnya sangat pelan.

Mereka memasukkan foto itu kembali ke saku mantel lalu mendorong troli mereka keluar bandara.

"Ada paket untuk anda." Ron terlihat bingung. Dibukanya paket dengan cepat. Di dalamnya apa sebuah amplop besar. Ron membukanya, isinya beberapa foto Macnair, dan artikel-artikel tentang tindak korupsinya. Mata Ron melebar.

"Neville! Cepat selidiki kertas-kertas ini! Aku ingin hasi secepatnya!" teriak Ron. Matanya menatap tajam kertas di depannya. Orang yang dipanggil Neville, langsung menghampiri meja Ron. "Cepat selidiki siapa yang megirim ini! Dan periksa kebenaran dari kertas-kertas ini!" Neville mengangguk. Ron tampak berpikir keras. Tangannya mengepal erat.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione mengikuti seorang roomboy yang berjalan di depannya membawakan barang-barangnya.

"Ini kamarmu, Nona." Katanya dengan bahasa Inggris. Hermione tersenyum, lalu memberikan selembar 10.000 won pada roomboy itu. Hermione menjatuhkan diri di kasur. Hermione membongkar mengambil tasnya. Sebuah amplop jatuh saat Hermione ingin mengambil hp. Hermione memungutnya. Kilasan ingatan saat Draco memberi tahunya ada sebuah surat terlintas. Hermione membuka surat itu. Ditariknya keluar sebuah kertas.

Hermione, apa kau masih ingat denganku? Aku merindukanmu. Aku harap kau tidak membenciku. Ayah minta maaf karna semuanya. Ayah sangat menyesal. Ayah akan jelaskan semuanya. Mungkin pada waktu itu, ibumu tidak menceritakan semuanya. Ibumu sudah tahu akan penyakitnya. Dia menyuruh ayah untuk pergi, meninggalkan ibumu untuk hidup bahagia. Tapi ibumu tidak mengizinkan ayah membawamu. Ibumu bilang, jika Ayah membawamu, dan Ayah menikah dengan orang lain, mungkin Ayah tidak akan bisa melupakan ibumu. Ibumu seakan sudah tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Ibumu ingin bersamamu hingga detik terakhir. Sebenarnya Ayah ingin menjemputmu, tapi Ibumu membawamu pergi ke Korea. Ayah tidak bisa menemukan kalian. Hingga Ayah mendapat kabar, Ibumu sudah pergi kesisi-Nya dari Bibimu. Tapi tidak ada yang memberitahu Ayah dimana sebenarnya kau tinggal. Akhirnya Ayah tahu kau hidup dengan nenekmu. Saat Ayah datang ke Korea, kau sudah pindah. Ayah tidak menemukanmu dimana-mana. Ayah minta maaf padamu. Sungguh, ayah langsung mencarimu saat tahu kau terlibat kasus para pembunuh bayaran itu. Akhirnya Ayah menemukanmu. Ini alamat rumah Ayah. Tinggalah bersama Ayah. Ayah menyayangimu.

Air mata menuruni pipi Hermione semakin deras.

"Ayah…" bisik Hermione tertahan. Isakan mulai terdengar dari mulutnya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione melangkahkan kakinya dengan gontai, di sepanjang sungai Han. Akhirnya dia duduk di rumput sambil menikmati pemandangan di depannya. Sungai Han pada malam hari, mengingatkan Hermione pada masa lalunya.

Flashback

"Hahaha! Kau kira aku akan kalah darimu!" teriak seorang anak laki-laki kecil yang sangat tampan. Wajahnya sama sekali bukan wajah khas orang Korea. Wajahnya sama seperti orang barat. Gadis kecil dibelakangnya juga sama. Tapi mereka berbicara dalam bahasa korea yang bisa dibilang sangat fasih.

"Aku tidak akan menyerah!" teriak gadis kecil itu. Dia berlari sekuat tenaga menyusul anak laki-laki kecil di depannya. "Wee! Aku di depanmu!" teriaknya. Anak laki-laki itu berlari menyusul.

"Hei! Yeon Woo! Sekarang siapa yang di depanmu! Wee!" kata anak laki-laki kecil sambil menjulurkan lidahnya. Gadis kecil dibelakangnya tertawa.

"Awas saja kau Yoon Soo!" teriaknya. Mereka tampak sangat bahagia. Benar-benar sangat bahagia.

Flashback End

Seseorang berjalan di depannya, menatap Sungai Han, tidak menyadari kehadiran Hermione.

"Draco?" orang itu menoleh. Sedikit terkejut melihat Hermione."Apa yang kau lakukan disini?"

"Apa yang kau lakukan disini?" ulang Draco.

"Aku bertanya duluan."

"Aku juga punya pertanyaan yang sama." Kata Draco. Tidak ada yang bicara. Mereka saling menatap tanpa ekspresi.

"Bukan urusanmu." Kata Hermione mengalihkan pandangannya dari Draco. Draco menatap Hermione datar. "Berhenti melihatku seperti itu." Draco mengalihkan pandangannya ke Sungai Han.

"Matamu sembab." Kata Draco. Hermione hanya terdiam. Tidak berani menjawab. "Jangan menyesali apapun, karna itu buka kesalahanmu."

"Kau tahu apa tentangku!" Hermione bangkit lalu meninggalkan Draco yang hanya menatapnya. "Merusak suasana hati saja." gerutu Hermione.

Hermione berjalan sendirian di tengah keramaian kota Seoul. Jalan yang dulu yang sering dilaluinya. Hermione duduk di halte bis. Bis berhenti. Hermione naik ke dalam lalu duduk di salah satu bangku. Memakai headphonenya.

Hajimal geol geuraesseo moreuncheok haebeorilgeol
Anboineun geotcheoreom bolsueopneun geotcheoreom

Neol aye bojimalgeol geuraetnabwa
Domangchil geol geuraesseo motdeuleuncheok geureolgeol

Deutjido motaneun cheok
Deuleul su eopneun geotcheoreom

Aye ne sarang deutji aneulgeol

Maldo eopsi sarangeul alge hago
Maldo eopsi sarangeul naege jugo

Sumgyeol hanajocha neol damge haenotgo
Ireoke domangganigga

Hermione memejamkan matanya mulutnya mengikuti setiap kata. Penguasaan bahasa Koreanya belum dia lupakan. Hermione memandang keluar jendela memperhatikan setiap bangunan yang dia lewati. Semuanya sudah berubah sejak terakhir kali dia lihat 5 tahun lalu. Hermione turun di dekat sebuah sekolah. Hermione memandangi gedung sekolah yang masih tampak sama setelah di lulus. Papan nama sekolah itu masih terlihat bagus. Hermione menatap rindu gerbang sekolah. Tidak menyadari Draco berdiri beberapa meter di belakangnya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Dengan ini kalian resmi sabagai suami-istri. Silakan mencium pengantinmu."

Harry mencium Ginny di depan para tamu. Hermione tersenyum senang dari bawah altar melihat adegan di depannya. Seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Ibu Ginny, Molly Weasley, menangis terharu melihat anaknya. Hermione sempat melirik Draco yang berdiri tidak jauh darinya. Dia juga bertepuk tangan, senyumnya membuat dia terlihat sangat…tampan. Hermione menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang baru saja terlintas. Salah satu kakak Ginny, George Weasley, menebar konfeti diatas mereka. Kedua pasangan itu terlihat bahagia. Hermione sedikit iri melihat Ginny.

Acara dansa dimulai. Harry dan Ginny turun ke lantai dansa. Hermione duduk diantara parvati dan Lavender. Tidak lama ada seorang pemuda, yang tidak Hermione kenal mengajak Parvati untuk berdansa. Parvati menerima ajakan itu, sambil mengedip jahil ke Hermione dan Lavender. Lavender hanya cemberut. Seorang pria datang lagi dan mengajak Lavender. Tinggal Hermione sendiri duduk di meja sambil meminum Rainbow Icenya. Draco datang dan langsung meminum minuman Hermione hingga tinggal setengah gelas.

"Hei! Itu minumanku!" Draco tetap meminum minuman Hermione. "Kaukan bisa mengambil sendiri!"

"Kalau aku tidak dikerumuni wanita-wanita itu aku juga tidak akan mengambil minumanmu!"

"Hah? Kenapa mereka mengerumunimu?" tanya Hermione bingung.

"Mungkin karna aku tampan." Kata Draco dengan percaya diri berlebihan.

"Tampan? Kau tidak punya kaca ya di rumah? Perlu kubelikan kaca untukmu?"

"Hey! Asal bicara! Yang mendaftar jadi pacarku itu banyak!" mereka terus saling meledek dan menyindir tanpa memperhatikan 2 pasang mata memperhatikan mereka. Ginny tersenyum penuh arti pada Harry.

"Kurasa aku cukup lega." Gumam Ginny. Harry mengerutkan alisnya. "Aku tidak perlu khawatir lagi siapa yang akan melindungi Mione di London." Jelas Ginny. Harry hanya tersenyum, melirik sekali lagi kearah Hermione-Draco lalu menarik Ginny pergi.

"Cukup! Ini konyol!" seru Hermione.

"Kau yang mulai!" Draco mengambil dengan seenaknya sebuah kue dari nampan seorang pelayan yang sedang lewat. Pelayan itu hendak memprotes karna itu pesanan orang lain, tapi ditahannya. Draco memakan kuenya. Hermione memandang Draco kesal. "Kenapa? Jangan menatapku dengan ekspresi itu!" Hermione memukul kepala Draco dengan tas tangannya. "Auch! Apa maksudmu!"

"Kukira kau tidak akan kesakitan karna kepalamu itu dari batu."

"Kau gila!" Draco terus mengusap-ngusap kepalanya. Hermione menyeringai, lalu mengalihkan pandangannya ke para tamu yang sedang berdansa. Seseorang menepuk pundaknya. Hermione tersentak kaget.

"Hai, Hermione."

"Ah, kau mengagetkanku, Jaksa Ron." Ron tertawa pelan. "Kau tidak berdansa?"

"Ah, aku baru saja berdansa. Sedangkan kau, kenapa tidak?" Draco pura-pura bersikap tidak peduli sambil memandangi Harry dan Ginny.

"Sedang malas. Aku kurang menyukai pesta dansa." Ron mengangguk mengerti.

"Aku pergi dulu kalau begitu, sampai jumpa." Hermione tersenyum manis. Draco yang tadi hanya memandang orang-orang, sambil menguping pembicaraan Hermione dan Ron, bangkit berdiri dari kursinya, hendak pergi.

"Hei, kau mau kemana?"sahut Hermione.

"Ingin tahu sekali. Bukan urusanmu." Kata Draco lalu berjalan menjauh. Hermione mendelik kesal, mulai menyumpahi Draco dengan berbagai macam kejadian.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Draco dan Harry duduk di salah satu meja restoran hotel mereka. 2 cangkir kopi di depan mereka.

"Bagaimana malam pertama? Eh?" seringai jahil tercetak di wajah Draco. Harry memukul lengan Draco.

"Tutup mulutmu itu." Menatap Draco dengan tatapan membunuh. Draco terkekeh. Lalu sunyi. "Aku rindu Seoul, dan sekarang aku bisa menginjakkan kaki disini lagi." Kata Harry memecah keheninga lalu menyesap kopinya.

"Ya. Dan kenangan kita dulu. Aku ingin ke rumah Paman Sirius. Kurasa besok aku akan kesana. Persediaan peluruku juga mulai habis." Draco duduk dengan santai menikmati kopinya.

"Hahaha, kalau begitu aku titip salam saja dan pelurunya, kalau ada senjata baru,jangan lupa bawakan untukku. Ngomong-ngomong kurasa untukmu ada kenangan lain, kalau tidak salah, gadis manis yang sering bersamamu, siapa namanya, ah ya, Nona Kim Yeon Woo!" Harry terkekeh. Draco melempar tatapan diam-kau-atau-kau-kucekoki-racun. "Tenanglah. Rahasimu aman padaku. Tapi, mate, apa kau sekarang ingin berpaling ke Hermione?"

"Hey! Apa hubunganku dengan dia! Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan Ginny!" kata Draco kesal.

"Hahaha, ayolah, mate. Kau tidak pernah berubah dari dulu. Jadi bagaimana rencana kita?"

"Aku akan muncul di depannya 4 hari lagi, seharusnya rencana dia untuk acara bakti sosial dan pengobatan gratisnya hari ini. Tapi tampaknya diundur hingga 4 hari lagi. Bersenang-senanglah dengan Ginny. Dan, satu lagi, suruhlah Ginny menggunakan nama Korea."

"Ah, ya! Nama korea. Akan kubicarakan pada Ginny. Tapi, ada yang ingin kukatakan padamu, Draco." Draco menatap Harry dengan alis terangkat sambil meminum kopinya. "Ginny sudah tahu semuanya." Draco meletakkan gelas kopinya dengan tenang. "Kau tidak marah?"

"Aku sudah tahu. Dari tatapan Ginny, aku sudah tahu kalau dia mengetahuinya." Harry terdiam. "Tenang, mate. Kau hanya tinggal urus soal kependudukkannya. Buat jejaknya menghilang, dan dia akan baik-baik saja. Aku pergi dulu. Masih ada urusan yang harus kutangani." Draco menghabiskan kopinya, lalu pergi meninggalkan Harry yang masih berkutat dengan pikirannya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Seperti sebelumnya Hermione kembali keluar ke jalanan kota Seoul. Menikmati malam terakhirnya di negeri ginseng ini. Hermione menikmati hembusan angin dingin yang menerpa tubuhnya. Sebuah mobil berhenti. Sang pengemudi dari dalam mobil menatap Hermione yang memejamkan matanya. Draco Malfoy. Iseng dia menelpon Hermione. Hermione langsung membuka matanya lalu meraih hpnya.

"Kenapa menelponku?" tanya Hermione.

"Kau dimana?" Hermione menoleh ke kanan-kiri.

"Memang kenapa?"

"Cepat kemari." Cengiran muncul di wajah Draco.

"Kemana?"

"Apa dari tempatmu kau tidak melihatku?" Hermione mengerutkan keningnya sambil menoleh ke segala arah mencari sosok Draco. Hermione melihat Draco nyengir dari dalam mobil. Draco membuka kaca mobilnya.

"Kau menyewa mobil?" tanya Hermione. Draco mengangguk. "Ah,ya. Bagi orang sepertimu uang hanya untuk dihamburkan." Sindir Hermione.

"Singkirkan pikiranmu itu. Kau mau jalan-jalan?" Hermione menatap Draco dengan ekspresi tidak bisa dijelaskan. "Kau tidak mau? Baiklah." Draco bersiap untuk menjalankan mobilnya lagi. Hermione menahan pintu mobil Draco. "Naiklah." Hermione membuka pintu mobil. Draco menurunkan atap mobilnya lalu menjalankan mobilnya.

Hermione tertawa senang saat angin menerpa wajahnya. Rambut coklatnya berkibar. Draco tersenyum geli melihat Hermione.

"Apa yang kau perhatikan?"tanya Hermione masih tersenyum gembira.

"Kenapa kau begitu gembira?" Hermione tersenyum kecil. Dia tertawa pelan.

"Dulu aku pernah tinggal disini. Aku rindu kota ini." Hermione memejamkan matanya. Draco memberhentikan mobil di dekat sungai Han. Mata Hermione berbinar melihat pemandangan Sungai Han yang sangat indah. Udara semakin dingin. Hermione sedikit menggigil. Draco melepas syalnya lalu melilitkannya di leher Hermione.

"Kau pakai saja!" Hermione hendak melepas syal di lehernya, Draco menahan tangan Hermione.

"Pakai saja. Dingin seperti ini sudah biasa untukku."

"Terimakasih." Hermione keluar dari mobil lalu duduk di rumput. Draco mengikuti duduk disamping Hermione. Keheningan menyergap mereka. Tidak ada yang berbicara, membiarkan keheningan diantaranya. Hingga akhirnya Hermione berbicara,

"Dulu, saat berumur 7 tahun aku dibawa ibuku ke Seoul. Tinggal bersama dengan nenekku. Aku belum tahu kalau Ibuku mengidap leukimia. Siang dan malam Ibuku bekerja untuk membiayaiku hidup, pekerjaannya tidak jelas, kadang Ibuku pulang malam, bahkan pagi. Setiap hari sepulang sekolah, yang aku lihat hanya ada nenekku yang menjemputku. Setiap malam aku terbangun saat mendengar pintu terbuka. Aku selalu mengintip dari balik pintu kamar Ibuku. Rasanya aku ingin ikut bekerja setidaknya untuk meringankan beban Ibuku."

Hermione menahan air matanya. Lalu menghela nafas.

"Hingga suatu saat, nenek tidak menjemputku di sekolah. Aku menunggu sampai 1 jam di sekolah."

Flashback

Seorang Bibi, yang Hermione tahu tinggal disebelah rumahnya berlari ke arahnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat Hermione.

"Bibi, kenapa Bibi menangis? Kemana nenekku? Kenapa dia tidak menjemputku?" tanya Hermione kecil. Dia tidak menjawab sama sekali. Dibawanya Hermione ke rumah sakit. "Kenapa kesini? Kenapa kita tidak pulang ke rumah?"

"Kau harus kuat" dia mencoba tersenyum, walau itu senyum terpaksa. Hermione melihat neneknya duduk di depan ruangan UGD, menangis tersedu-sedu. Dia langsung berlari dan memeluknya.

"Hermione, cucuku. Ja-jangan pernah t-tinggalkan nenek ya, Sayang. J-jangan pernah. Nenek ak-kan selalu ada disisimu." Ucap neneknya terbata-bata. Hermione terlihat sangat bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seorang dokter keluar, wajahnya terlihat sangat sedih. Nenek Hermione langsung menghampirinya.

Dokter itu menggeleng pelan. Sang nenek menangis keras. Dicengkeramnya baju dokter itu,

"SELAMATKAN PUTRIKU! SELAMATKAN DIA! DIA MASIH BISA HIDUP! AKU TAHU ITU!" tangisnya keras, menggoncang-goncang tubuh dokter itu. Hermione hanya terpaku di tempat. "KAU BOHONG! TIDAK MUNGKIN! DIA PUTRIKU SATU-SATUNYA! DIA ANAK YANG KUAT! KAU BOHONG!" teriakan neneknya membuat para suster serta bibi tetangga Hermione menghampirinya dan menenangkannya. Sang nenek masih tidak melepas tangannya dari dokter itu. "SELAMATKAN PUTRIKU…dokter…selamatkan putriku…putriku yang malang…" tangisannya makin deras, dan pingsan.

Air mata Hermione mengalir deras. Mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tangannya mencengkeram rok sekolahnya erat.

"Ibu…" bisiknya lirih. Kemeja sekolahnya basah karna air matanya. Hermione terduduk lemas di lantai rumah sakit. "Ibu…jangan tinggalkan aku!" Bibi yang tadi memeluknya lalu mengikuti nenek dan para tim medis masuk ke ruang UGD.

Tangisan Hermione langsung pecah kembali saat melihat ibunya terbaring diam di atas kasur. Hermione langsung berlari ke arah Ibunya, dan memegang tangan Ibunya.

"Ibu! Ini aku, Mione! Jangan tinggalkan aku, Ibu! Jangan tinggalkan aku!" air mata terus mengalir di pipinya. Perlahan mata Ibunya terbuka sedikit. Neneknya yang sudah sadar menangis tersedu-sedu dibelakang Hermione.

"Sayang, Ibu sudah menunggumu dari tadi." Ibunya berhenti sejenak. "Akhirnya kau datang."

"Ibu…jangan tinggalkan aku…Ibu…" Hermione makin mengeratkan genggamannya. Ibunya tersenyum.

"Ibu harap, kau bisa hidup bahagia. Jaga dirimu dan nenekmu ya…Ibu harap kau bisa terus berprestasi. Ibu bangga padamu, Mione." Ibunya menarik nafas, lalu melanjutkan kalimatnya, "Jadilah pribadi yang kuat. Jadilah orang yang bisa menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarmu. Ibu tahu kau bisa menilai orang dengan baik. Ibu akan terus bersamamu, janganlah takut, setiap orang yang kau sanyangi akan selalu bersamamu." Dengan kata terakhir itu Ibu Hermione menghembuskan nafas terakhirnya. Bunyi mesin pendektesi detak jantung berbunyi. Garis lurus terlihat di layarnya.

"IBU!" air mata Hermione menetes di pipi Ibunya. Seorang suster merangkul Hermione. Hermione mencoba berontak. Hermione terus menangis. "IBU! JANGAN TINGGALKAN AKU!" teriak Hermione, dan tak lama tubuhnya merosot jatuh, pingsan.

Flashback End

Draco mengulurkan tangannya. Memeluk Hermione erat. Hermione menangis.

"Keluarkan semuanya. Jangan dipendam" Kata Draco pelan. Hermione terus menangis dipelukan Draco. Draco mengusap kepala Hermione pelan. Kaos tipis Draco basah oleh air mata Hermione. Terus seperti itu hingga Hermione sudah lebih tenang.

"Maaf, aku jadi cengeng begini." Gumam Hermione.

"Tidak apa." Perlahan Hermione menyadari posisinya dengan Draco, lalu mendorong Draco pelan. Mengalihkan pandangannya ke Sungai Han, wajahnya bersemu. Draco menyadari tingkah Hermione, hanya tersenyum geli. "Pulang sekarang?" Hermione mengangguk tanpa melihat Draco. Draco membuka pintu mobilnya, diikuti Hermione yang masih tidak mau memandangnya. Sepanjang perjalanan Hermione hanya terdiam. Hingga sampai hotel, Hermione langsung turun.

"Terimakasih." Katanya lalu segera masuk ke hotel. Draco yang masih duduk di mobil hanya tersenyum.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Selamat menikmati bulan madu kalian! Aku pergi dulu!" kata Draco.

"Telpon jika terjadi sesuatu." Kata Harry sambil menepuk pundak Draco.

"Kau seperti seorang ayah yang ingin melepas kepergian anaknya untuk wajib militer saja." Sindir Draco dengan seringai jahil. Harry nyengir. Sebelum berbalik Draco mencari sosok Hermione. Tapi tidak terlihat dimanapun. Sebuah mobil sudah menunggu Draco di depan hotel untuk mengantarnya ke bandara Incheon.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione meletakkan rangkaian bunga diatas sebuah makam. Sebuah nisan yang ditumbuhi sulur-sulur tanaman liar berdiri kokoh diatas makam. Hermione menyingkirkan sulur-sulur tanaman liar. Hermione mengelus nisan itu pelan.

Jean Charoline Granger

21 September 1970 - 28 November 1998

"Didunia ini yang tidak bisa dihindari adalah takdir"

Hermione meneteskan air matanya. "Aku kembali Ibu." Bisiknya pelan. Perlahan Hermione tesenyum, "Apa aku sudah sesuai dengan harapanmu, Ibu? Aku rindu padamu." Hermione terus bicara pada batu nisan itu, seolah-olah sedang bicara dengan Ibunya, hingga matahari semakin tinggi. "Aku harus pergi, Ibu. Aku usahakan untuk kembali kesini." Kata Hermione, sekali lagi dielusnya batu nisan itu lalu berbalik pergi.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione menghela nafasnya. Hermione memeriksa alamatnya sekali lagi. Handel Place No. 3. Hermione melihat no rumah di depan pintu pagarnya. Angka 3 tertera di depan pintu. Hermione menarik nafas dalam, lalu menekan bel. Terdengar suara orang berlari. Pintu terbuka memperlihatkan sesosok pria jangkung dengan beberapa helai rambut yang sudah beruban. Tidak sadar mata Hermione berkaca-kaca.

"Ayah…" yang dipanggil Hermione langsung memeluk Hermione erat. Hermione menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis bahagia. "Maafkan a-aku t-telah membenci A-ayah." Kata Hermione dengan sesunggukan. Ayahnya memeluk Hermione makin erat.

"Maafkan Ayah juga karna tidak berusaha mencarimu terus." Sang ayah melepaskan pelukannya lalu menarik Hermione masuk ke dalam rumahnya. Mereka terus berbincang, hingga pintu tiba-tiba terbuka. Memperlihatkan sesosok wanita paruh baya yang menenteng sebuah tas penuh belanjaan.

"Merlia, kau sudah pulang? Untung kau cepat pulang! Kita kedatangan tamu istimewa!" ucap Ayah Hermione semangat. Wanita itu tersenyum hangat.

"Hai, Hermione." wanita itu memeluk Hermione sayang. Hermione terlihat terkejut. Wanita itu melepas pelukannya. "Akhirnya aku bisa melihatmmu secara langsung, bukan dari foto." Hermione tersenyum.

"Ini Merliana, ibu tirimu sekarang." Kata Ayahnya. "Dan ah, ya, mana Blaise?" Merlia naik ke lantai atas. Sepertinya memanggil orang yang bernama Blaise.

"Kenapa kau membawa koper? Berencana pindah kesini?" tanya Ayah.

"Ah, aku baru pulang dari Korea. Temanku menikah disana." Ayahnya mengangguk mengerti.

"Menginaplah. Ayo, Blaise!" kata Merlia. Turun dari tangga.

"Baiklah. Kalau Ibu ingin seperti itu." Kata Hermione, merasa sedikit aneh mengucap kata Ibu pada wanita lain. Merlia mengusap pelan kepala Hermione. Seorang pemuda berdiri di tengah tangga. Kulitnya hitam, tapi tampangnya bisa dibilang lumayan. Hermione menoleh kearahnya, mata Blaise memperhatikan Hermione dari atas ke bawah. Hermione hanya tersenyum melihatnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Ayahnya.

"Blaise, bisa kau antar Mione ke kamarnya?" kata Ayah. Blaise menegakkan dirinya lalu berjalan ke atas. Hermione menarik kopernya. Agak kesusahan menaiki tangga. Blaise berdecak lalu turun dan mengambil koper dari tangan Hermione, lalu naik ke atas. Blaise membuka salah satu pintu,lalu meletakkan koper Hermione.

"Terimakasih." Kata Hermione. Blaise hanya mengangguk, lalu menutup pintu. Hermione melihat kesekeliling kamarnya. Dindingnya dicat merah dengan beberapa lukisan abstrak. Sebuah ranjang King Size berdiri di pojok ruangan.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione memakan nasi gorengnya, di meja makan bersama Ayah dan Ibu tirinya. Blaise datang dengan setelan jas.

"Kau bertugas hari ini?" tanya Ayah.

"Ya, mengawal Macnair." Kata Blaise.

"Berhati-hatilah. Tugas pengawal itu berat." Blaise hanya mengangguk.

"Apa aku boleh ikut?" tanya Hermione.

"Ya, itu acara untuk umum." Kata Blaise. "Kau boleh jadi tim sukarelawan." Hermione nyengir senang, lalu berlari ke kamarnya.

Blaise menyalakan mesin mobilnya, Hermione duduk di samping dengan tampang gembira.

"Kenapa kau begitu senang? Inikan hanya acara biasa." Kata Blaise sambil mengemudikan mobilnya.

"Dari dulu, aku senang pergi ke acara-acara seperti ini." Kata Hermione senyum masih tertempel di wajahnya. Mereka akhirnya sampai di lokasi.

"Aku pergi dulu. Kau tunggulah disana. Acara dimulai sebentar lagi. Satu lagi, jika nanti terjadi sesuatu, dan aku harus mengawal Macnair, kau bawa mobilku pulang ke rumah. Kunci mobil cadangan ada di bawah bawah jok pengemudi." kata Blaise, Hermione mengangguk. Hermione duduk di salah satu bangku. Seorang wanita menghampirinya.

"Miss Hermione Granger?" katanya. Hermione menoleh.

"Ya. Saya. Ada apa?" tanya Hermione.

"Kakak anda baru saja memberitahu kami, kalau anda ingin ikut menjadi tim sukarelawan. Ini bajunya." Kata wanita itu sambil menyerahkan sebuah rompi berwarna merah.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Oh, ya, terimakasih." Hermione memakai rompi itu lalu mengikuti wanita itu.

Macnair datang dengan para pengawalnya, sebelum maju ke panggung untuk memberi sambutan, dia memanggil salah satu pengawalnya dan sekretarisnya.

"Perhatikan seluruh orang disini. Cari orang yang kemarin masuk ke kantorku. Perhatikan orang-orang yag mencurigakan." bisik Macnair. Keduanya mengangguk lalu pergi. Macnair berjalan ke depan panggung. Orang-orang bertepuk tangan. Macnair memulai sambutannya.

Draco turun dari mobilnya, memandang dari kejauhan acara bakti social tersebut. Dipakainya rompi yang sudah dicurinya dari salah satu tim sukarelawan. Draco memakai topinya lalu berjalan ke keramaian. Para penjaga membiarkannya lewat. Draco menggendong tasnya yang berisi kardus minuman.

Hermione membantu seorang nenek duduk di salah satu bangku. Beberapa anak kecil berkerumun, Hermione tersenyum pada anak-anak itu, lalu berjongkok di depan mereka. Berusaha membujuk mereka untuk duduk. Anak-anak langsung duduk, saat Hermione bilang mereka akan mendapat permen jika berkelakuan baik. Seseorang menepuk pundaknya.

"Senang bertemu denganmu lagi."

"Ah, Jaksa Ron! Tidak kukira kita akan bertemu lagi disini. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hermione.

"Urusan pekerjaan. Kasus yang melibatkan orang yang mengadakan acara ini." Bisik Ron.

"Maksudmu," Hermione tidak melanjutkan kata-katanya. Ron mengangguk. Hermione mengerti maksud Ron, lalu terdiam memperhatikan Macnair.

Draco berjalan santai ke belakang panggung. Pura-pura membawa beberapa kardus minuman. Para pengawal membiarkannya lewat. Draco meletakkan kardus itu di tempat rias para bintang tamu. Lalu menyusup ke balik tirai. Draco mencari letak pengendali layar panggung. Seorang petugas berdiri disana. Draco mengambil sebotol minuman dari tasnya. Diketuknya pintu masuk ke ruangan itu. Petugas itu menoleh. Draco mengangkat botol minumannya lalu meletakkan botol itu dan pergi. Petugas itu sempat bingung tapi dihiraukannya, lalu mengambil botol itu dan meminumnya. Draco mengintip dari balik tirai. Petugas itu bersandar di kursinya.

Perlahan genggamannya pada botol minuman mengendur, botol itu jatuh, dan petugas tersebut pingsan. Draco masuk ke dalam ruangan itu lalu memasukkan sebuah flashdisk ke salah satu CPU. Lalu langsung keluar, menyelinap seperti saat dia masuk. Sekretaris Macnair melihat Draco, tangannya meraih pundak Draco. Draco terdiam di tempat.

"Siapa kau?" tanya Rood. Draco diam tidak menjawab. "Bukankah kau orang yang saat itu menyusup ke kantor Macnair?" kata Rood. Draco memegang tangan Rood di pundaknya, memutar tubuhnya lalu membantingnya ke lantai. Rood tampak kesakitan. Draco hendak pergi, tapi kakinya di tahan Rood. Rood bangkit berdiri dengan cepat lalu meninju Draco. Rood hendak meninju Draco lagi, tapi tangannya ditahan Draco, Draco memelintir tangan Rood, Rood berteriak kesakitan, Draco membanting Rood sekali lagi, kali ini Rood benar-benar terkapar memegangi tangannya.

Hermione dan Ron masih berdiri di tempat semula. Hingga tiba-tiba muncul sebuah gambar. Sebuah rekaman video saat Macnair Macnair dan sekretarisnya berdebat tentang tindak korupsi yang dilakukan Macnair serta saat Macnair dan seorang dokter berencana untuk membunuh pasien dari perusahaan Macnair dan saat sekretarisnya menyuap beberapa dokter agar tidak membocorkan hal tersebut. Ron langsung mengambil hpnya.

"Segera buat surat penahanan Macnair!" katanya lalu mengangguk pada Hermione sebelu pergi. Orang-orang yang datang mulai ribut dengan video itu. Beberapa berteriak marah. Macnair tampak pucat.

Draco berbalik meninggalkan Rood. Tapi 2 orang pengawal Macnair menghadangnya, salah satu dari mereka menerjang Draco. Draco menghindar dengan mudah, pengawal kedua memegang tangan Draco lalu menekuknya ke belakang dengan kuat. Pengawal pertama mengambil pisau dari sakunya. Draco menjejak lantai lalu menendang pengawal pertama tepat di dagunya pengawal itu terjatuh, pisaunya melayang, Draco menggerakkan kepalanya ke belakang, tepat mengenai kepala pengawal kedua, pengawal itu meringis memegangi hidungnya yang berdarah. Pegangannya pada tangan Draco terlepas. Draco menendang perut orang itu hingga jatuh kebelakang. Pengawal pertama mengambil pisaunya hendak menikam Draco. Draco menahan tangan pengawal itu. Keduanya adu kekuatan. Draco memegang tangan orang itu dengan kedua tangannya, lalu memutar dirinya, orang itu ikut berputar lalu terjatuh. Draco meninju pengawal itu lalu bergegas pergi.

Macnair diamankan oleh 2 pengawalnya. Hermione melihat Blaise salah satunya. Matanya terus mengikuti Blaise. Blaise sempat melihat Hermione lalu mengangguk. Hermione mengangguk mengerti.

Draco berusaha bersikap biasa, melewati para pengawal. Beberapa pengawal melihatnya curiga. Draco menurunkan topinya. Lalu bergegas menyusul Macnair. Draco melihat Macnair dibawa oleh 2 pengawal. Draco meninju salah satu pengawal, hingga jatuh tersungkur. Pengawal yang lain maju lalu menendang Draco, Draco menahan kaki Blaise, lalu membantingnya. Macnair buru-buru masuk ke mobilnya, Draco berlari menuju mobilnya, mengejar Macnair. Macnair menyalip beberapa kendaraan, diikuti Draco dibelakangnya. Macnair tampak panik, lalu mengambil jalan pintas, Draco langsung memutar balik arah.

Di jalan sepi Macnair melintas, pikirnya sudah aman dari Draco, saat berbelok, terlihat Draco sudah menunggu disana memblokir jalan. Macnair mengerem mobilnya, Draco berjalan mendekat Macnair mengambil ancang-anacang melarikan diri, Draco menarik pistolnya lalu menembak ban mobil belakang Macnair. Draco berlari ke sisi kanan mobil, Macnair mengunci dirinya di dalam mobil. Draco memecahkan kaca mobil dengan sikutnya. Macnair buru-buru keluar dari mobil, dan berlari, Draco mengambil pistolnya lalu mengarahkannya ke punggung Macnair, Draco menarik pelatuknya, dan tubuh Macnair merosot jatuh.


Nah, bagaimana? masih kurang greget? maafkan Myung yang masih polos ini #muntahsemua lagu yang diatas itu judulnya WITHOUT WORDS, ost nya drama korea You're Beautiful, Myung suka lagu itu^^ oke, karna Myung ingin cepat-cepat menge-post kan cerita ini karna sudah telat banget, jadi maafkan Myung karna tidak membalas review anda.. Myung menyesal... nanti Myung usahakan di bab selanjutnya untuk membalas ^^ Tolong reviewnya! terimakasih! ^^ v *bow