haloo! myung kembali! MAAF TELAT BANGET! . myung lupa kalau belum post, myung ingetnya udah di post. maaf ya._. maaf kalau masih ada salah ketik. oke gak banyak curcol. selamat membaca!


"Aku tidak tahu
apa kau sama sepertiku
Tapi saat aku melihatmu
hatiku selalu berdebar-debar"

Draco menarik pistolnya lalu mengarahkannya ke punggung Macnair, Draco menarik pelatuknya, dan tubuh Macnair merosot jatuh.

First

Bab 5

Buk. Tubuh Macnair jatuh ke aspal,sebuah peluru bius tertancap di punggungnya. Draco menyimpan pistolnya kembali, sambil berjalan kearah Macnair. Diseretnya masuk ke dalam mobil tubuh Macnair. Hp Draco bergetar.

"Ah, kau sudah memulai aksimu. " Kata Harry. Terdengar dentingan cangkir dan suara-suara ribut. Dihiraukannya suara Harry yang terus berbicara, dia manambah kecepatan mobilnya.

"Kau mau apakan dia?" ucap Harry, wajah Macnair terlihat ketakutan.

"Menurutmu?" Draco melirik Macnair dari spion mobil. Wajah Macnair tampak sangat ketakutan. "Aku bukan tipe orang dengan mudah membunuh orang." Lanjutnya lalu mengurangi kecepatan mobilnya. Macnair tampak sedikit lega.

"Lalu? Kau ingin apakan dia?"

"Beritanya sudah menyebar,bukan? Aku punya ide lain." Kata Draco, seringai terpasang di wajahnya. Harry terkekeh.

"Baiklah, terserah padamu. Aku menunggu kabarnya." Telpon ditutup.

Draco memberhentikan mobil di dekat taman kota. Taman kota terlihat sangat ramai dengan orang-orang. Beberapa berbisik-bisik tentang kejadian yang sedang ramai di televisi baru saja. Draco memasang kembali maskernya dan memakai jaket hitam, lalu membuka pintu mobil. Tidak ada memperhatikan Draco sama sekali. Dibukanya pintu mobil bagian belakang. Menarik dengan paksa Macnair. Macnair berusaha memberontak. Draco bergegas masuk ke dalam mobil. Orang-orang mulai melihat Macnair lalu mengerumuninya.

Macnair pura-pura pingsan. Tiba-tiba seseorang menumpahkan air di muka Macnair, seketika Macnair membuka matanya. Orang-orang berteriak marah. Macnair tampak ketakutan. Seorang ibu yang kebetulan menenteng tas belanjaan, melempar telur ke wajah Macnair. Sempat hening lalu orang-orang mulai memukuli Macnair.

"BERANINYA KAU MERAMPAS UANG KAMI!"

"KAU KIRA KAMI BODOH!"

"KAU BUKAN MANUSIA!"

"SEHARUSNYA KAU TIDAK BERADA DI NEGARA INI!"

Seseorang berjalan mendekat terlihat sedang mencoba menghubungi polisi. Hermione dengan panik menelpon kantor polisi. Kerumunan warga bertambah banyak. Hermione tampak panik dengan kerumunan yang makin bertindak anarkis. Tiba-tiba sekelompok orang datang dengan seragam khas pengawal dan berusaha membubarkan warga. Hermione berbicara pada salah satu dari orang-orang itu.

Suara sirine polisi terdengar. Para polisi membubarkan kerumunan warga. Beberapa orang masih berusaha melempari Macnair dengan bermacam barang.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Sementara di suatu ruangan mewah, seorang pria dengan wajah angkuh sedang duduk di sofa. Dengan gaya bak seorang bangsawan, menuang sebotol wine ke gelasnya. Matanya menatap tajam televisi. Menyimak berita yang dibawa oleh sang reporter.

"Disini suasana mulai tenang,massa telah membubarkan diri setelah polisi membawa Macnair. Beberapa saat lalu, warga melempari Macnair dengan telur dan batu." Kata Sang reporter dengan mengebu-ngebu, "Sepertinya Macnair mendapat luka yang cukup serius,sementara mobilnya ditemukan menghalangi-"

Orang itu hanya meminum wine dengan tenang. Dia mengalihkan pandangannya ke sebuah pigura berisi foto. Foto seorang anak kecil sedang tertawa gebira dipelukan seorang wanita. Dia mengambil foto itu,

"Rencana yang bagus, nak." katanya. Dia menghela nafas berat, sambil membalik foto tersebut. Sebuah tulisan tertera disana. Draco saat berumur 2 tahun. "Baiklah." Dia meminum kembali winenya. "Ayah akan membantumu."

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Draco duduk di pinggir sungai Thames, memandangi pantulan langit senja Inggris sambil merenggangkan tubuhnya. Headphone terpasang di telinganya. Sebuah lagu mengalun lembut.

mae-il mae-il gyeote itko shipeunde
sarang-ha-go shipeunde
waeh ireohke seoroye mami dareun geonji
waeh naman geureohke neol wonha-go tto wonhaneunji

nae-il nae-irimyeon hokshi
nae mami jeonhae jil-ji moreundan
apeun hyimangeuro nareul machwiihamyeo
kyeou kyeou ireohke tto harureul neomgigo isseo

Draco memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba angin berhenti, Draco membuka matanya, sebuah tangan memegang buku menutupi wajah sang pemilik tangan. Draco menyingkirkan buku itu, terlihat Hermione tersenyum geli. Rambutnya dikuncir satu, beberapa helai rambut membingkai wajahnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" kata Draco kaget. Senyum masih tertempel di wajah Hermione.

"Setiap ada waktu aku akan berjalan-jalan disini. Kau sendiri?" Hermione memasukkan buku ke tasnya.

"Menurutmu?" kata Draco dengan nada datar. Hermione hanya mengedikkan bahu sambil ikut duduk. Draco memutar bola matanya.

"Kau mau cokelat?" tawar Hermione sambil menyodorkan sepotong cokelat. Draco menggeleng pelan. Hermione menggigit cokelatnya. Draco melirik Hermione lalu merebut cokelat di tangan Hermione dan menggigitnya.

"Hei!" Hermione menatap Draco yang terus memakan cokelatnya. "Tadi aku tawari tidak mau! Sekarang malah mengambil cokelatku. Apa kau tidak diajarkan sopan santun?" Gerutu Hermione. Sunyi lagi. tidak ada yang bicara, hanya suara patahan cokelat yang terdengar.

"Kenapa berjalan sendirian?" tanya Draco memecah keheningan.

"Ginny sudah di Korea, jadi tidak ada yang menemaniku." Kata Hermione. "Bagaimana ya, kabar mereka disana?"

"Mereka masih menikmati bulan madu mereka. Harry akan kembali sekitar seminggu lagi, Ginny akan datang Natal nanti. Harry yang bilang padaku kemarin." Hermione berteriak gembira.

"Hahaha. Akhirnya, aku merindukan Ginny!" kata Hermione senang lalu buru-buru berdeham melihat Draco menatapnya dengan syok. "Ehm. Kau dan Harry itu sahabat dekat ya? Ginny bilang dimana ada Harry pasti ada kau, atau sebaliknya."

"Hah, gadis itu mulai membual lagi. Macam sehidup semati saja." Kata Draco. Hermione terbahak mendengar perkataan Draco. "Apa yang kau tertawakan? Berhenti tertawa!" bukannya berhenti, Hermione malah makin terbahak.

Tawanya baru berhenti ketika melihat wajah Draco yang terlihat garang.

"Ehm. Hei, kau sudah lihat berita? Kau pasti tidak percaya! Mac-"

"Aku tidak tertarik." Draco bangkit dari duduknya. Hermione hanya melongo. Draco berjalan kembali ke mobilnya. Hermione mendengus kesal lalu berjalan pergi. Draco membuka pintu mobilnya, menghela nafas sebantar lalu menjalankan mobilnya. Hermione memperhatikan mobil Draco yang berjalan menjauh.

"Sungguh temperamental." Hermione bangkit berdiri dan kembali berjalan menyusuri sungai Thames.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione mengambil salah satu buku dari rak buku perpustakaan kampusnya. Dibawanya buku itu ke meja. Dikibasnya debu diatas buku tersebut lalu mulai membacanya. Seseorang duduk disampingnya dengan tumpukan buku. Hermione menoleh, memperhatikan gadis itu. Wajahnya yang khas orang asia tampak sangat mencolok, blazernya berwarna merah tua sama seperti Hermione, milik jurusan seni. Gadis itu terseyum pada Hermione.

"Hai. Aku Hermione. Hermione Granger." Hermione mengulurkan tangannya.

"Cho, Cho Chang. Senang bertemu denganmu. Kau kelas seni juga? Aku kelas akting."

"Benarkah? Aku kelas vokal. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya?"

"Tentu saja, aku baru masuk bulan ini. Jadi kau seniorku? Ah, kukira aku tidak akan bertemu dengan senior yang ramah." Gadis itu tersenyum senang.

"Hahaha. Masih banyak senior yang ramah disini." Hermione membalas senyum gadis itu lalu kembali ke bukunya. Tiba-tiba hpnya bergetar. Heh,cepat ke tempat kemarin kita bertemu di restoran terapung di sungai. Hermione mendengus kesal sambil memutar matanya lalu membereskan barang-barangnya."Menyebalkan. Em, kurasa aku harus pergi dulu. Sampai jumpa lagi." Hermione melambaikan tangannya.

"Hati-hati." Teriak Cho. Hermione mengacungkan jempolnya. Sementara sang penjaga perpustakaan, Mrs. Pince, berdeham keras. Cho buru-buru diam dan pura-pura membaca bukunya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hermione berjalan kearah Draco yang duduk di dalam mobilnya. Wajahnya terlihat serius. Hermione merdecak pelan. Lalu mengetuk kaca mobil. Draco terperangah kaget, buru-buru mematikan ipadnya dan membuka kaca mobilnya.

"Kau membuatku kaget saja! Kaukan bisa gunakan cara lain untuk tidak mengagetkanku seperti itu!" bentak Draco. Hermione menyipitkan matanya.

"Lalu menurutmu cara apa yang bisa aku lakukan?" Draco menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Yah," Draco tampak bingung, "Kau kan bisa pikir sendiri! Kenapa aku harus memberitahumu! Dasar bodoh." Hermione memutar bola matanya. "Aish! Sudah ayo masuk!"Kata Draco sambil menarik tangan Hermione. Draco menarik salah satu kursi untuk Hermione duduk, Hermione duduk dengan sedikit bingung. Draco mendengus geli, sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri.

"Kau baru pulang kuliah?" Hermione mengangguk sambil memandang kesekelilingnya.

"Kenapa kesini?" kata Hermione pelan, hampir berbisik.

"Kalau kau mentraktirku disini, maka kuanggap lunas hutangmu."

"Kau gila! Makanan disini sangat mahal! Aku juga tidak membawa uang untuk makan disini!" kata Hermione dengan tatapan tidak percaya. Draco hanya menyeringai, lalu memanggil seorang waitress.

"2 steak, 1 piring spaghetti, 1 botol wine,dan 1 gelas soda." Kata Draco, waitress itu mengangguk lalu pergi. Hermione melongo tidak percaya.

"Kau gila! Aku harus membayar semua makanan itu? Kau ingin membuatku malu?" kata Hermione berbisik tertahan. Draco menyeringai.

"Dan mau taruh dimana mukaku jika kau yang membayar semua makanan itu? Hem?" ucap Draco. Hermione tampak kebingungan. "Tidak pantas jika wanita yang membayar, jadi aku mentraktirmu. Dan pembayaran hutangmu masih berlaku." Jelas Draco. Seorang waitress membawa pesanan mereka. "Em, tolong 1 es krim vanilla." Waitress itu mengangguk lalu pergi. Hermione hanya memandangi steak di depannya. "Makanlah. Perlu kusuapi?"

"Tidak perlu, aku bukan anak kecil." Kata Hermione lalu mengiris daging steaknya. Waitress itu datang dengan gelas besar berisi es krim.

"Makanlah setelah steakmu habis." Draco menuang wine ke gelasnya.

"Untukku? Bagaimana kau tahu kalau aku menyukai es krim vanilla?"

"Kulihat kau sering memesan ini di restoran tempat dulu kita bertemu. Cepat makan." Hermione mengiris steaknya. "Kudengar, kau sudah bertemu Ayahmu?" Hermione mengangguk tanda mengiyakan. "Jadi sekarang kau tinggal dimana? Di rumah ayahmu?"

"Tetap di apartemenku, aku lebih suka hidup mandiri." Hermione meminum sodanya.

"Dan pekerjaanmu di kedai kopi?"

" Tentu saja aku teruskan, aku tidak berniat berhenti sebenarnya. Lebih baik memakai uang sendiri, jadi tidak menyusahkan ayahku." Draco diam menatap Hermione. Hermione memakan es krimnya. Draco memandang ke sungai Thames beruntung mereka berada diluar bangunan restoran dan sekarang matahari mendekati detik-detik terbenam. Hermione ikut memperhatikan sungai Thames yang mengelilingi mereka lalu meletakkan sendoknya.

"Sudah selesai?" Draco menoleh ke Hermione. Hermione mengangguk. Draco mengangkat dagu Hermione dan mengelap sisa es krim disudut mulut Hermione dengan ibu jarinya. Wajah Hermione memerah. "Ayo kita keluar. Disini mulai ramai." Kata Draco lalu menarik Hermione ke luar dari restoran setelah membayar.

"Terimakasih" kata Hermione sambil tersenyum agak canggung. Mereka berdiri di pinggir sungai Thames, menyaksikan matahari yang mulai terbenam. "1,2,3,4,5,"

"6,7,8,9," Draco menatap Hermione sambil tersenyum.

"10" kata mereka bersamaan. Matahari benar-benar sudah terbenam. Keduanya tersenyum.

"Dulu aku sering melakukan ini dengan teman masa kecilku." Hermione tersenyum,"Tapi dia pergi, dan aku juga pergi ke Prancis. Kami tidak pernah berhubungan lagi." Draco memandang Hermione dengan tatapan tidak bisa dijelaskan. Hermione menarik nafas panjang lalu mengeluarkan sebuah syal dari tasnya. "Ini milikmu. Terimakasih." Draco mengambil syalnya, lalu melilitkan syal itu ke leher Hermione. Hermione hanya diam. Menatap Draco. Keduanya berpandangan sesaat.

"Untukmu." Hermione menunduk menyembunyikan wajahnya yang bisa disamakan dengan kepiting rebus. "Kuantar pulang sekarang?" Hermione menggeleng. "Kenapa?"

"Tidak usah, aku bisa naik bis. Lagipula aku harus ke rumah temanku dulu." Kata Hermione. "Terimakasih untuk hari ini."

"Baiklah. Aku juga ada urusan." Kata Draco lalu masuk ke mobilnya. Hermione melambaikan tangan sebelum mobil itu menjauh. Draco melihat Hermione yang berbalik pergi menuju halte bis dari kaca spion.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Sedangkan di tempat lain, Ron Weasley yang dikelilingi tumpukan buku dan kertas. Tampak berpikir. Seseorang menghampirinya.

"Ini hasil dari penyelidikan. Plat mobil yang digunakan penculik Macnair adalah palsu. Cctv di jalan yang mereka lewati telah dimatikan, dan dia juga memakai masker, jadi wajahnya tidak terlihat." Ron memukul mejanya dengan kesal.

"Sial. Terus lakukan penyelidikan, Neville." Orang yang dipanggil Neville mengangguk lalu kembali ke mejanya. Ron mengambil mantelnya lalu berjalan keluar.

"Kau mau kemana?" kata seorang wanita. Ron menoleh.

"Hanya sebentar. Aku akan kembali lagi, Pansy."kata Ron, lalu menutup pintu.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Ron membuka pintu rumahnya.

"Luna?" katanya melihat seorang wanita duduk di kursi meja makan. Dia tersenyum.

"Kau baru datang. Ayo makan dulu, sudah kusiapkan untukmu." Ron duduk di kursi lainnya, sambil melonggarkan dasinya. "Kau tampak lelah. Makanlah ini. Mione yang memberikannya. Oleh-oleh dari Korea. Kalau tidak salah, namanya kimchi." Ron tersenyum.

"Terimakasih. Kau satu-satunya orang yang masih memperhatikanku." Kata Ron sambil memakan kimchinya.

"Masih banyak orang yang meperhatikanmu. Kau tampak banyak pikiran, apa kau ditugaskan menyelidiki kasus panculikan Macnair?" kata Luna. Ron menghela nafas lalu mengangguk. "Jangan pendam semuanya sendirian, kau bisa cerita padaku." Ron tersenyum senang.

"Terimakasih. Kau paling mengerti diriku, dibanding diriku sendiri."

"Cepat makan. Bukankah, setelah ini kau harus kembali ke kantor?"

"Dari dulu kau tidak pernah berubah, selalu bisa mengetahui apa saja urusanku." Luna tersenyum.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Draco bersandar pada meja kerjanya, dengan secangir kopi di tangannya. Tatapannya mengarah pada sebuah papan dengan foto-foto para petinggi di pemerintahan. Draco memperhatikan satu persatu dari mereka. Tiba-tiba hpnya bergetar. Draco meraih hpnya. Sebuah pesan. Nama Hermione tertulis jelas. Draco membuka sms tersebut. Kau sedang tidak membutuhkan bantuanku? Draco menyeringai. Tidak. Hpnya bergetar lagi. Sungguh? Di sisi lain Hermione duduk di sofa ruang tengahnya sambil memeluk seelor kucing. Draco nyengir, lalu mengambil mantelnya.

Hermione mendecakkan lidahnya.

"Kenapa tidak dibalas. Menyebalkan." Gumam Hermione kesal. Dia merebahkan diri. Sambil menatap televisi di depannya. Hermione terus mengganti channel tanpa minat, lalu beralih ke bukunya. Tidak berapa lama buku itu ditutup dengan keras. Hermione menghela nafas lalu beralih ke dapur. Jam menunjukan pukul 8 malam. Tiba-tiba pintunya diketuk. "Siapa yang datang?" Hermione langsung membuka pintu tanpa melihat intercom.

Draco berdiri di depan pintu dengan wajah senang. Hermione melongo tak percaya.

"Kenapa kau disini?" seru Hermione. Draco malah menerobos masuk ke dalam apartemen Hermione. "Hei! Ini kau tidak punya sopan santun ya?"

"Kau punya minuman? Aku haus, kenapa kau memilih apartemen paling atas, sungguh melelahkan." Kata Draco sambil dudu di sofa.

"Hei! Ini rumah perempuan! Seenaknya saja kau masuk! Ini juga sudah malam, apa yang orang-orang akan pikirkan tentang diriku jika ada pria masuk malam-malam begini? Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun?" cecar Hermione.

"Bawel sekali, kalau tidak mau memberiku minum, aku bisa sendiri!" Draco bangkit berdiri lalu berjalan kearah dapur dan membuka lemari es. "Kenapa disini banyak sekali es krim vanilla? Hei, bukankah ini kimchi?" kata Draco lalu mengambil kotak makan berisi kimchi.

"Kau tahu kimchi?" Hermione duduk di kursi meja makan.

"Tentu saja, Pamanku pernah membelikannya." Kata Draco lalu mencicipi kimchinya. "Ini enak sekali! Ini buatanmu?" Draco meraih piring dan sumpit. Dengan lahap Draco memakan kimchi sampai di kotak makan hanya bersisa setengahnya lagi. "Ini enak sekali!" Hermione yang sedari tadi memperhatikan Draco makan, tersenyum senang.

"Benarkah? Kukira kau tidak suka." Hermione bangkit berdiri lalu memberikan segelas air pada Draco. "Kau kesini hanya untuk meminta makanan? Begitu?"

"Tidak. Tadinya tidak berniat makan disini hanya ingin meminta minum."

"Kenapa kau kesini? Bukankah jarak antara rumahku dan rumahmu lumayan jauh?"

"Aku kebetulan lewat." Kata Draco. "Baiklah aku pulang! Terimakasih kimchinya!" kata Draco lalu menutup pintu.

"Dasar makhluk sialan. Kesini hanya untuk makan. Dia kira rumahku restoran?" Hermione memasukkan kotak makan itu kembali ke lemari es. Diluar Draco menyalakan mesin mobilya, tapi tidak bisa. Draco terus mencoba, tapi tidak berhasil. Dibukanya kap mobil, dan asap langsung keluar. Draco terbatuk-batuk. Lalu menutup kembali kap mobilnya.

"Sial. Harry juga tidak ada. Sungguh sial. Ah, mau bagaimana lagi." Tiba-tiba dari atas muncul kucuran air dan tepat mengenai kepala Draco. Rambut dan bajunya basah. "ARGH! SIAPA DI ATAS?" Draco menengok ke atas.

"Maaf,nak! Aku tidak melihatmu!" teriak seorang wanita dengan sebuah ember di tangannya. Draco melihat bajunya yang yang sudah kotor oleh asap dari mobilnya dan basah dari air yang-entah-apa tadi. Draco mencium bau tidak sedap menguar dari mantelnya yang basah.

"Yak! Air apa ini? Baunya menjijikkan!" Draco mengambil tas dan sebuah kardus, lalu kembali masuk ke apartemen.

Sedangkan di apartemennya Hermione sedang membuat coklat panas sambil bersenandung. Tiba-tiba pintunya diketuk lagi.

"Siapa lagi yang datang malam-malam begini?" Hermione melihat intercomnya. "Draco? Mau apa lagi dia?" Hermione membuka pintu. "Kenapa kembali lagi?" Draco masuk apartemen Hermione dan menjatuhkan diri di sofa. Hermione mengendus bau tidak sedap lalu menutup hidungnya. "Hei, lepas mantelmu yang entah bau apa itu!"

"Mobilku mogok. Jarak dari sini ke bengkel jauh. Malam-malam seperti ini juga bengkel sudah mau tutup. Rumahku juga jauh dari sini."

"Mobil semewah itu? Hahaha. Sungguh malangnya anak itik ini. Lalu kau kesini, ingin menginap begitu?" Hermione bertopang dagu di atas meja makan. Draco tampak kaget. "Jawabannya tidak." Kata Hermione menekankan kata terakhir.

"Hei! Aku sudah menolongmu waktu itu!"

"Kau selalu berteriak padaku! Kau pikir aku tuli!" Draco menghela nafas.

"Begini saja. Kalau kau mengijinkanku menginap disini, hutangmu kuanggap lunas! Bagaimana?" tawar Draco. Hermione berpikir sesaat.

"Baiklah. Tapi malam ini saja. Kau bisa tidur di kamar itu. Dan satu lagi," Draco menoleh pada Hermione, "Cepat bersihkan tubuhmu! Aku tidak tahan dengan baunya!" kata Hermione sambil menutup hidungnya lalu berjalan ke kamarnya.

Draco masuk ke kamar yang ditunjuk Hermione lalu mengambil kasur dan bantal dari lemarinya. Hermione membuka pintu kamar.

"Ini handuknya!" Hermione melempar handuk berwarna putih. "Putar ke kiri kerannya jika kau ingin menggunakan air hangat! Cepat mandi aku tidak tahan baunya!"

"Hei, kau punya baju ganti tidak?"

"Kurasa cuma kemejamu yang dulu kupinjam." Hermione masuk ke kamarnya. Lalu keluar lagi dengan sebuah kemeja dan celana training. "Pakai itu." Hermione menutup pintu lumayan keras. Draco masuk ke kamar mandi.

Hermione meneruskan membuat susu cokelatnya, lalu meletakkan segelas di meja makan lalu masuk ke kamarnya. Draco keluar dari kamar mandi.

"Itu ada coklat untukmu. Cepat minum sebelum dingin." Kata Hermione menjulurkan kepalanya dari dalam kamar. Draco meminum coklat itu dengan perasaan bingung.

"Hei, aku boleh minta es krimmukan? Terimakasih!" Draco mengambil sendok dan mulai memakan es krim Hermione. Hermione menjulurkan kepalanya dari dalam kamar. "Kenapa?"

"Siapa yang memperbolehkanmu memakan es krimku?"

"Kau masih punya berkotak-kotak lagi, aku hanya mengambil satu kotak! Pelit sekali." Draco mengganti channel tv sambil terus menggerutu. Hermione keluar dari kamar lalu mengambil sebuah apel dari kulkas. Hermione menatap Draco kesal sebentar sebelum masuk ke kamarnya lagi.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Draco baru keluar dari kamar mandi ketika aroma makanan menyeruak ke indra penciumannya. Hermione masi dengan pakaian semalam tampak berkutat dengan masakan. Draco berdiri di samping Hermione.

"Kau masak apa?" kata Draco melihat wajan penggorengan. Hermione tersentak kaget.

"Kau mengagetkanku!"

"Telur?" Draco beralih panci di sebelahnya dan membuka tutupnya. "Ini apa?" Hermione menutup kembali pancinya.

"Kau akan tau nanti! Cepat ganti pakaianmu! Kemeja dan celanamu sudah kering, tapi mantelmu, kurasa baunya belum hilang. Semuanya ada di atas sofa." kata Hermione sambil membalik telurnya. "Aku heran kenapa kau tidak mempunyai pakaian ganti di mobilmu. Padahal saat itu kau memberiku baju wanita. Aku mulai curiga padamu." Kata Hermione dengan sumpit di tangannya.

"Yak! Kau kira aku tidak normal begitu? Aku ini pria normal! Seenaknya saja kau." Hermione menaikkan alisnya. "Baju itu tadinya ingin kuberikan pada orang lain! Banyak tanya sekali, urus saja urusanmu!" kata Draco sambil mengambil pakaiannya lalu membanting pintu kamarnya.

"Hei! Kau kira ini rumahmu! Jangan seenaknya membanting pintu! kalau rusak kau yang harus ganti!" teriak Hermione kesal. Hermione menghidangkan semua makanan di meja lalu masuk ke kamar mandi. Draco keluar kamar lalu duduk di sofa dan menyalakan tv.

Beberapa menit kemudian Hermione keluar dari kamar mandi dan langsung masuk ke kamarnya. Draco tertawa terbahak melihat kartun di tv.

"Heh, ayo makan." Kata Hermione yang sudah berpakaian rapi. Draco bangit berdiridan duduk di kursi. Hermione membuka tutup panci. "Cepat makan." Hermione meletakkan piring di depan Draco.

"Ini ramen?" kata Draco lalu mengambil banyak-banyak. Hermione hanya memutar matanya. Mereka makan dengan tenang. "Masakanmu enak." Hermione tersenyum senang. Tiba-tiba hp Draco bergetar. Draco buru-buru menarik hpnya keluar dari kantong. Pesan dari Harry. Lihat tv saluran 14 atau 15 dia yang berikutnya. Draco mengambil remote lalu menganti channel 14.

"Disini reporter Christy melaporkan, hari ini Antonin Dolohov melakukan uji coba penerbangan pesawat baru yaitu Jet Crush 1408. Rencananya pesawat ini akan mulai dioperasikan untuk penumpang sipil pada bulan Januari mendatang. Sekarang persiapan mulai dilakukan. Bisa dilihat disini Antonin Dolohov sudah datang dan-"

"Bukankah itu Antonin Dolohov? Kalau tidak salah, sekarang kakakku bekerja untuk mengawalnya. Kalau aku tidak salah." Draco langsung menoleh ke Hermione.

" Bukankah dia pengawal Macnair?"

"Dipindah tugaskan. Cepat makan, aku masih ada urusan. Hari ini Ayahku diundang makan malam oleh perdana menteri."

"Memangnya kau juga diundang?"

"Ibuku sedang sakit, jadi aku yang menggantikannya." Hermione bangkit berdiri dan meletakkan piringnya di pencucian. Draco memandang Hermione lalu ke tv.

"Ini saatnya."


Bagaimana? hehehe. masih begitu-begitu aja. emang. muehehehe =D

Untuk Another: wkwkwk ^^ oke akan dipercepat *mudahmudahan#amin*

Untuk CullenMalfoy: rate M? wah, gimana yak._. mudahmudahan berdoa aja #plakk

Untuk Kiki Chan as'Yuki Hime Hikaru: ahaha. memang idenya dari situ ._. wkwkwk tapi usahin dibedain ^^

Untuk ochan malfoy: *peluk ochan eraterat* makasi ya udah setia menunggu^^ maaf myung kali ini ingkar janji._. myung beneran lupa.

Oke Bab selanjutanya silakan tunggu! karna myung udah buat, jadi silakan menunggu sedikit lagi ^^ mungkin di post 4/5 hari lagi ^^ muehehehe XD