Limit?

By : cronos01

Cast: Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon

Zhang Yixing/ Wu Yixing

Wu Yifan/ Kris

Huang Zitao

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jongdae/ Byun Jongdae

Kim Minseok/ Byun Minseok

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D

Warning : Yaoi, sorry for Typo's. NO Bash! No copy. Don't Like, Don't Read. Simple!

So, Enjoy it!

Chapter 2

Previously…

"Naneun, Huang Zitao, Tao." Jawab Tao dengn wajah yang khawatir.

Kris sontak rasa sakit yang ada ditubuhnya menghilang begitu saja, membuatnya melebarkan matanya karena kaget.

"Zi—Zitao?"

~LIMIT~

Next…

"Akh!" tiba-tiba namja yang berada disamping Tao itu berteriak tertahan.

Tao semakin panik, disudut matanya sebuah kristal bening begitu saja menetes. Tao melihat tangan kurus namja itu mengcengkram surai emas indah itu, Tao tangannya dengan ragu meraih tangan kurus itu, ia menarik halus cengkraman itu.

"Tidak baik menarik rambutmu seperti itu." Ujar Tao dengan suara yang halus.

Kris malah menghempaskan begitu saja tangan Tao, membuat tangan putih Tao berbentur dengan pembatas tangga. Sontak Tao langsung meringis tapi rasa sakitnya terlupakan saat Kris yang sedang tidak baik-baik saja itu, bersikeras untuk berdiri dan menuruni tangga dan hasilnya Kris, namja itu jatuh di pertengahan anak tangga. Tanpa berpikir Tao mencoba untuk berdiri membantu Kris walau, ia berkali-kali akan terjatuh, kakinya sama sekali tidak mau menopang tubuhnya. Masih dengan sekuat tenaga mencoba untuk bangkit, nafasnya mulai terdengar lelah karena memaksakan kakinya untuk bekerja.

Sebuah suara memanggilnya membuat Tao langsung sontak bersyukur dalam hati.

"baekhyun, hyung?"

Pemilik suara itu Baekhyun langsung menghampiri Tao, tak lama Chanyeol sang kekasih datang dan tak kalah paniknya melihat sahabatnya. Kris, tergeletak begitu saja di pertengahan anak tangga.

"Kris!" teriak Chanyeol.

Sementara Chanyeol menghampiri Kris, Baekhyun membantu Tao kembali ke kursi roda. Sebuah memar terlihat jelas di tangan kanan Tao, Baekhyun sontak bertanya, "Ini, memar apa, tao? Kau jatuh?" paniknya.

Tao yang sedikit kelelahan mencoba menormalkan deru nafasnya lalu menjawab, "Ani, hyung. ini keteledoran ku tadi, tak sengaja menabrak pembatas tangga."

Baekhyun menghela nafas, "Tao, sudah hyung katakan untuk hati-hati bukan. Kau bisa saja jatuh bergelinding dari tangga ini, Tao."

Tao menggeleng dan tersenyum menenangkan Baekhyun. "Gwaenchana, Hyung. Itu tidak mungkin terjadi, aku bisa menjaga diriku."

Setelah beberapa kali mencoba menyadarkan Kris, Chanyeol kini berhasil menggendong tubuh tinggi Kris ang masih dalam keadaan pingsan.

"Apa yang terjadi dengan, Kris?" tanya Baekhyun tak kalah khawatir, Tao yang duduk dikursi roda pun masih mencoba melihat keadaan Kris.

"Dia harus segera dibawa ke klinik, Hyung. Keadaannya tidak baik." Ujarnya.

Chanyeol mengangguk setuju dengan Tao dan mereka pun langsung pergi menuju Klinik.

~LIMIT~

Flashback On

I tahun yang lalu, di sebuah tempat yang minim pencahayaan namun, diterangi dengan lampu-lampu warna-warni dan musik berirama cepat diputar dengan sangat kencang. Seluruh orang yang ada disana, menari tak beraturan mengikuti irama musik, mereka menari seakan malam itu merupakan malam terakhir mereka. Beberapa wanita berpakaian seksi pun berlalu lalang mengantarkan sebuah nampan berisikan minuman berkadar alkohol tinggi.

Dipojok ruangan keempat namja berparas gagah itu kini sudah dibawah pengaruh minuman yang memabukkan mereka. Malam ini mereka memutuskan unuk mengadakan reunian SMA. Merasa sekarang adalah umur mereka untuk bebas dan menikmati apa yang dulu tidak bisa anak SMA nikmati. Disinilah sekarang, disebuah diskotik mereka menyewa khusus untuk mereka malam ini.

Kris, Kai, Sehun dan Chanyeol mereka duduk memojokan diri mereka di pojok diskotik itu. Disamping mereka wanita-wanita seksi melayani mereka dengan baju-baju yang sangat minim tapi diantara mereka semua hanya Kris lah yang tidak ingin ditemani seorang wanita.

Kai dengan wajah yang terlihat mabok tertawa kepada Kris, "Hik, yak hyung! kau sudah kuliah tapi masih kolot sekali. Wanita-wanita ini, mereka menggiurkan bukan? hik, hik" ujar Kai dengan suara yang keras karena jika ia tidak berteriak suaranya akan kalah dengan musik yang terputar.

Sehun yang masih terlihat bisa mengendalikan kemabukannya, ia tertawa mendengar ucapan Kai. "Hahaha, Kai. Kris hyung itu, takut sekali dengan abeojinya, tidak mungkin bukan seorang pewaris Wu Corporation tersandung kasus asusila. Hik, "

Kris dengan mata yang mulai terlihat berat pun hanya bisa menatap kedua orang tua itu dengan dingin.

"Aku tidak suka dengan yeoja-yeoja murahan itu, asal kalian tau. Ingat kalian sudah memiliki kekasih. Hik, hik." Ujar Kris tak ingin kalah.

Chanyeol yang berada disamping Kris memukul bahu Kris dan berbisik kepada Kris. "mereka tidak akan tau, Kris. Lagipula ini malam terakhir kita bertemu bukan? Sebelum Kai pergi melanjutkan kuliah ke Vancouver."

Mereka bertiga mengangguk, Sehun pun berdiri dari duduknya dan mengajak ketiga sahabatnya itu untuk menari. "Kalian, kita nikmati saja malam ini. Hik, hik. Kita habiskan malam ini disana." Ujarnya sambil menunjuk desakan orang-orang yang mulai menari dengan setengah sadar.

Kris menggeleng tanda ia tidak tertarik lalu kembali meminum anggurnya begitupula, dengan Kai yang ingin berdua saja dengan Kris.

Sebuah seringaian terlihat diwajah Kai, Kris menyadarinya, "Wae?" tanya Kris lirih.

"Hyung, kau—apa kau bahagia dengan kekangan yang ayahmu berikan?"

Kris menatap Kai dengan ekor matanya. "Kau pikir?"

Kai tertawa, ia sudah tau jawaban Kris. Ternyata Kris pun muak.

"Lalu kenapa kau tidak bersenang-senang saja?" tanya Kai lagi.

Kris menuangkan minuman berwarna merah tua itu kedalam gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk.

"Biarpun aku muak dengan abeoji. Aku sangat menghormatinya, Kai. Dia yang bisa membuatku seperti sekarang ini. Aku juga punya impian, Kai. Tidak seperti kau." Jelas Kris dengan tenang.

Kai berdecih, "Cih, aku sudah tidak percaya lagi dengan mereka! Kedua orang tuaku! Mereka justru yang membuatku seperti ini, hyung." geram Kai.

Kris memukul bahu sahabatnya itu, menenangkan. "Bagaimana pun juga mereka sudah membesarkanmu ingat itu."

Memang diantara mereka berempat Kris lah yang paling dewasa, tapi malam ini benar0benar malam kebodohan Kris. Ia tidak pernah datang ketempat yang berisik ini namun, malam ini Kris seolah tergoda ingin juga merasakan dunia orang dewasa sesungguhnya.

"Kai, aku lelah. Bolehkah aku tidur sebentar?" tanya Kris ia mulai merasa mual dan pusing sepertinya karena ia meminum terlalu banyak anggur.

Melihat Kris yang sudah terlihat tertidur sedikit pulas, Kai mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam sakunya. Ia menyuntikan cairan itu ke lengannya, cairan itu berisikan cairan terlarang yang membuatnya sangat ketagihan, saat ia sedang dipusingkan dengan masalah keluarganya, narkoba lah yang menjadi tempatnya mengadu. Ya, ia menggunakan obat-obat itu sejak mereka lulus SMA dan Kai tidak mau tau apa konsekuensinya. Kris tiba-tiba ia bangun dari tidurnya, ia melihat apa yang Kai lakukan, Kris langsung menghempaskan kasar tangan Kai namun, suntikan itu masih digenggam erat oleh Kai.

Kai geram, "Hyung, apa yang kau lakukan!"

Kris ia memandang Kai dengan kesal, "Barang apa itu, Kai?! Hyung ti—"

"Biarkan saja, Hyung! biarkan saja, hanya ini yang bisa membuatku tenang hyung. hanya ini!"

Kris menggelengkan kepalanya dan masih berusaha menarik paksa barang itu namun, sialnya barang itu justru menusuk lengan Kris beruntung cairan itu sudah habis digunakan oleh Kai, sontak Kai langsung menarik suntikan itu. Kris menggeram marah, ia meninju wajah Kai. Sehun dan Chanyeol yang sibuk dengan dunia mereka, mendengar para pelayan wanita di diskotik itu berteriak dari arah meja mereka,, mereka langsung balik ke meja mereka. Kris saat ini memukul Kai habis-habisan. Kai yang sudah ingin berusha untuk berdiri kembali dipukul oleh Kris.

Flashback End.

"Andweh, kau tidak boleh melakukan itu." Itulah kata-kata yang kris igauankan dalam tidurnya.

Kini ia dengan infus yang tertancap ditangannya tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit ditemani seorang namja yang tadi menemuinya di tangga kampus, Tao. Mendengar igauan Kris, Tao terbangun dari tidurnya, Tao membersihkan peluh yang ada di dahi Kris, ia menatap wajah namja itu.

"Dia sangat indah." Lirih Tao.

Tao hendak menyentuh wajah Kris yang masih terlihat pucat itu namun, tiba-tiba mata sang empu terbuka membuat Tao langsung menarik kembali tangannya.

"K—kau sudah sadar?" tanya Tao hati-hati.

Kris deru nafasnya tidak beraturan, mimpi. Mimpi itu datang lagi, kejadian beberapa bulan yang lalu itu datang lagi. Kris melihat sekeliling ruangan, matanya jatuh kepada Tao tapi bukannya luluh ia malah bangun dari tidurnya dan menarik paksa infus yang tertancap di tangannya, membuat darah mengalir begitu saja. Tao langsung panik dan hendak berdiri tapi ia lupa jika kakinya tidak bisa berfungsi akibatnya ia terjatuh. Kris kedua matanya langsung terbuka lebar, ingin menolong namja yang tidak dikenal itu tapi ia tidak mungkin menyentuh orang itu, darah mengalir di tangannya. Kris berusaha untuk masa bodoh, ia mengambil jaketnya yang terlipat diatas nakas dan mengambil tissue yang ada di dalam kantung, membersihkan darahnya. Kris melangkah menuju pintu kelluar klinik.

Tiba-tiba suara lembut Tao membuat langkah kaki Kris berhenti. "gege, bolehkah aku memanggilmu gege?"

Kris masih diam tak bergeming di posisinya.

Dan suara Tao kembali terdengar, "Ge, tak apa jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku, aku tau kita baru kenal. Tapi gege tidak bisa pergi begitu saja, keadaanmu belum baik."

Sesaat hening terdengar dan suara Tao kembali terdengar. "Aku akan gege tidak nyaman dengan kehadiranku tapi kaki ini—kaki ini seprtinya tidak bersahabat dengan ku saat ini." Suara itu terdengar sumbang seakan menahan tangis.

Kris, sontak hatinya bergetar. Pertama kali, sejak penyakit itu datang Kris tidak pernah memiliki peraasaan lagi terhadap orang lain tapi saat ini beda, hatinya rasanya ingin meledak, meronta karena mndengar sederet kalimat polos yang menyiratkan kesedihan. Kris mencoba menolehkan kepalanya kebelakang, disana namja yang mempunyai warna rambut yang sama dengannya tengah menundukan kepala, menangis. Mencoba untuk tetap berkeras hati, ia membuka pintu klinik itu dan hendak beranjak keluar namun, sampai didepan pintu, Kris mendapat tamparan keras.

Baekhyun, namja manis itulah yang memberi tamparan keras kepada Kris. Matanya yang cukup besar itu melihat Kris dengan tajam.

"Bisa-bisanya kau membiarkan seseorang tidak berdaya seperti itu, Kris!" teriak Baekhyun dengan air mata yang sudah menggenang namun, terdengar tegas.

Baekhyun mendengar semuanya dari tadi. Mendengar tao yang dengan polosnya meminta Kris untuk tetap beristirahat namun, sang naga itu tetap bersikukuh pergi meninggalkan Tao yang terjatuh karena mungkin mau menghadang Kris pergi.

"Kau tidak tau apa-apa, Baek." Ucap Kris tetap tenang.

"Apa yang tidak ku ketahui?! Kau sungguh tidak tau diri, Kris. Dia, dialah yang menyelamatkanmu, kau tau itu?!"

Baekhyun menunggu respon yang berarti dari Kris namun, sosok itu hanya diam menatap kosong mata Baekhyun.

"Kau tidak tau kan? Jangan coba-coba untuk mendekatinya lagi, Kris! Ia memang lumpuh tapi hati dia tidak lumpuh, Kris. Asal kau tau itu." Tukas Baekhyun terakhir kali sebelum ia masuk kedalam ruangan dan menabrak bahu Kris.

Baekhyun membantu Tao bangkit sementara, Tao ia masih menangis tanpa suara dan berkata dengan lirih, "Jangan bentak dia, hyung. aku yang salah. Seharusnya aku tau kalau aku tidak bisa apa-apa tapi aku sok-sokan menjadi pahlawan."

Baekhyun menatap Tao sedih dan memalingkan wajahnya kearah Kris yang masih berdiri disana dan mendengar lagi perkataan Tao. Chanyeol pun tiba-tiba datang, tampaknya ia berlari karena nafasnya terlihat ngos-ngosan.

"Kris?"

"Chan, antarkan ku pulang." Ujar Kris lirih.

Chanyeol kedua keningnya berkerut."Wae geurae? Baekkie kenapa Tao menangis? Eoh? Ada apa ini sebenarnya, jelaskan." Tanya Chanyeol penasaran.

"Tanyakan sendiri pada sahabatmu itu!" jawab Baekhyun kasar.

~LIMIT~

Kris hanya memandang kosong jalanan sekitar. Disampingnya Chanyeol yang tengah mengemudi sesekali melirik kepada hyung naga itu. Disini posisinya Chanyeol masih belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya, hanya saja melihat Tao yang menangis dan tatapan tajam yang Baekhyun berikan, masalahnya pasti ada sangkut pautnya degan Kris, Chanyeol ingin bertanya tapi, kelihatannya sahabatnya itu sedang dalam mood yang buruk. Chanyeol berusaha mendinginkan keadaan dengan menyalakan musik di tape mobilnya.

Setelah beberapa menit Chnayeol mengemudi akhirnya kini mereka telah sampai dikediaman Kris. Kris masih belum berkutik walau namja itu memang sudah tau kalau mereka telah sampai. Chanyeol menyentuh bahu Kris pelan.

"Hyung, sudah sampai."

Kris hanya melihat kearah Chanyeol masih dengan pandangan yang kosong.

"Chanyeol, apa namja yang bernama Tao itu, sepupunya Baekhyun?" cicit Kris.

Sontak Chanyeol langsung mengangguk, "Hm, waeyo hyung?"

"Benarkah?" lirih Kris lagi namun, Chanyeol dapat melihat mata namja itu berkaca-kaca.

"Yak, hyung! gwaenchana? Akh, benar dugaanku kau belum baik-baik saja." Ucap Chanyeol.

Kris sontak mata yang tadinya redup ini kini terlihat sedikit lebih cerah.

"Gwaenchana, gomawo, Chan. Aku pulang." Singkat Kris lalu keluar begitu saja dari mobil Chanyeol meninggalkan Chanyeol denga wajah bingungnya.

"Kris hyung, tidak gila kan?" tukas Chanyeol sendiri.

~LIMIT~

Chanyeol turun dari mobilnya sambil membawa seikat bunga mawar, dengan riang ia memencet bel pagar rumah yang ia kunjungi sekarang dan pintu pagar itu tak lama terbuka. Seorang namja yang sudah tidak keliatan muda itu tersenyum kepada Chanyeol.

"Eoh, Chanyeol. Wae geurae? Kau mencari Baekhyun ya?" begitulah ucap namja itu.

Chanyeol dengan hormat membungkukan tubuhnya dan berkata, "Nde, eommonie. Dia ada?"

Xiumin namja paruh baya itu mengangguk dan mempersilahkan Chanyeol masuk. Dalam perjalanan mereka masuk ke dalam rumah Baekhyun, Xiumin berbincang-bincang dengan Chanyeol.

"Channie, sepertinya Baekhyun dalam mood tidak baik, dia pulang langsung masuk kedalam kamar, eomma ketuk tidak dijawab. Kau ada masalah dengannya?"

Chanyeol menghela nafas, "Aniyo, bukan aku yang punya masalah tapi Kris, spertinya mereka terlibat pertengkaran kecil."

Xiumin ikut mneghela nafas. "Sepertinya Tao juga terlibat, dia terlihat habis menangis tadi. Tunggu sebentar, eomma panggilkan Baekhyun, ne."

Chanyeol mengangguk. Tak lama kekasihnya itu datang dengan wajah yang suram.

"Baekki, jangan seperti ini. Kenapa kau melibatkan aku, eoh?"

Baekhyun melipat kedua tangannya di dada dan menatap Chanyeol tajam, "Kau tidak bisa mengajarkan sahabatmu itu perasaan, eoh?! Aku mendengarkan Tao memohon kepadanya untuk beristirahat tapi namja brengsek itu malah menganggap angin omongan Tao. Sungguh tak tau diri!" tukas Baekhyun.

Chanyeol meringis melihat kekasih, beginilah kekasihnya jika sudah terbawa api emosi.

"Baekki, wajahmu sungguh jelek jika sedang marah, Baek. Berhentilah, aku membawakan bunga untukmu." Ujar Chanyeol tenang.

Mendengar kata bunga, pandangan Baekhyun teralihkan melihat seikat bunga mawar merah di tangan Chanyeol. Baekhyun langsung merampas bunga itu dan mencium aromanya, tak disadarinya sebuah senyuman terlihat diwajahnya yang manis itu.

"Nah, itu baru kekasih ku. Yang tadi itu seperti nenek sihir yang ingin mengubahku jadi kodok." Ujar Chanyeol sambil menyubit dagu kecil Baekhyun.

Baekhyun tertawa mendengar lelucon kekanak-kanakan kekasihnya.

"Ingin ku cium?" tanya Chanyeol polos.

Baekhyun langsung memukul dada Chanyeol, "Yak, bertemuku dirumah saja kau mesum, bagaimana diluar rumah?!"

Chanyeol hanya tertawa dan merasa sudah tidak tahan. Sudah lama ia tidak mengecup bibir kecil itu, bibir yang selalu memarahinya jika ia melakukan hal yang diluar batas, bibir yang selalu membalas kecupan yang ia berikan dan bibir yang selalu memanggil namanya. Chanyeol langsung mengecup bibir Baekhyun, membuat sang pemilik bibir itu kembali menerima ciuman Chanyeol.

~LIMIT~

Matahari mulai menampakan kembali sosoknya, disambut oleh burung-burung yang bercicit dan terbang kesana kemari. Seorang namja berperawakan China-Eropa itu masih tergolek lemah diatas tempat tidurnya. Kedua kristal bening itu terbuka, ia menatap cahaya yang masuk dari sela-sela gorden kamarnya, menghirup udara yang masih bisa ia rasakan dan tak lama terlihat sebuah senyuman di ujung bibir kecil nan tebal itu.

"Terimakasih, Tuhan. Aku masih kau berikan kesempatan." Ujarnya di tengah suasana yang hening didalam kamarnya.

Wu Yifan atau yang sering disapa Kris itu bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah namja itu masuk tak lama sebuah suara gemericik air terdengar. Setelah selesai dengan urusannya, ia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk dan terdapat butiran-butiran air jatuh dari surai emasnya. Tiba-tiba suara ketukan pint terdengar.

"Kris, sarapan dulu, Nak." Ujar sang eomma dari luar sana.

Kris yang sedang berganti pakaian hanya dapat berteriak menjawab ibunya. "Ye, eomma."

Suara langkah kaki sang eomma menjauhi kamar Kris. Setelah selsai berganti baju Kris berkaca pada kaca besar yang ada di kamarnya. Ia tertawa remeh, tertawa untuk dirinya sendiri. Penampilannya kini sangat jauh berbeda dengan dia yang dulu, Kris menyentuh rahangnya kian menirus dan memandang nanar tanda kehitaman di matanya. Ketakutan terbesarnya lah yang membuat tanda kehitaman itu terlihat. Kris tidak pernah ingin tertidur lelap disetiap malamnya, ia selalu berusaha untuk tetap terjaga. Selain karena ingin tetap terjaga, jujur Kris tidak pernah bisa tidur dengan nyaman, hampir setiap hari ia mengalami demam yang cukup tinggi membuat harus menahan kesakitan sendiri. Kris lelah. Ia lelah dengan rasa sakit yang selalu dirasakannya, disaat ia ingin terbebas dari kesakitannya sebuah kenyataan menghantuinya, ia takut akan kematian.

Kris turun dari tangga rumahnya, ia memberikan senyuman termanis untuk sang eomma yang tegah sibuk menata sarapan untuk anak dan suaminya. Namja tinggi itu menghapiri Lay dan mengecup dahi sang eomma.

"Pagi, eomma."

Lay tersenyum dan balas mengecup Kris di pipi, "hm, pagi juga, Nak."

Kris duduk dikursi khusus tempatnya makan, ia meminum segelas susu putih yang disiapkan untuknya. Kris menghela nafas dan hanya menatap menu maanan yang ada didepannya. Lay yang melihat Kris hanya terbengong langsung mendekati sang anak dan mengelus lembut bahu anaknya.

"Kau tidak nafsu makan ya? Ingin eomma buatkan apa, Kris?" tanya Lay.

Kris tersenyum dan menggenngam tangan Lay yang bertengger di bahunya, ia menggeleng, "Tidak usah, eomma tidak perlu repot-repot memasakan ku makanan."

"apanya yang repot Kris, kau itu anak eomma. Sudah kewajiban eomma memasakan apa yang kau inginkan." Ujar Lay, Diakhir dengan helaan nafas.

"Biarkan saja kalau dia tidak mau makan. Buang-buang waktu saja memasakan anak seperti itu." Suara Suho tiba-tiba terdengar.

Suho tanpa menatap Kris ia dudk di kursi makannya. Kris saat ini hanya bisa menunsukan kepalanya.

"Yeobo," tegur Lay.

Suho sama sekali tidak peduli, ia membuka koran dan berkonsentrasi membaca setiap berita yang ada. Lay hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang suami. Kris merasa kehdirannya hanya akan memperkeruh mood sang ayah pagi ini, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya.

"Eomma, hari ini aku tidak ada jadwal kuliah." Ujar Kris.

"Lalu, kau ingin pergi kemana, Kris?" tanya Lay heran.

Kris tersenyum, "Ada hal yang harus Kris urus eomma."

Lay mengelus surai sang anak dan menghela nafas, "Geurae, jangan pulang terlalu malam ne, Kris. Kau tidak boleh terlalu banyak kena angin."

Kris tersenyum dan mengiyakan ucapan sang eomma. Kris mengecup dahi Lay dan menatap sang ayah yang masih membuang pandnagan darinya.

"Aku pergi. Abeoji, eomma." Pamit Kris.

Setelah kepergian Kris, Lay benar-benar harus memberi tindakan kepada suaminya.

Lay mengangkat piring makanan yang tadi ia sediakan untuk Kris dan memperlihatkannya pada sang suami sambil berkata, "kau lihat? Anakmu, anak kita! Aku bahkan tak tau berapa kali dia makan selama sehari. Kau masih bisa berprilaku sekejam itu, eoh?!" teriak Lay dengan nada yang sumbang, menahan tangis.

Suho melipat korannya dan menatap Lay tajam. "Sudahlah biarkan saja dia. Kau jangan ingin terus-terusan di bohongi oleh tampak dia yang sangat polos itu! Jika dia benar-benar polos dan baik, tidak mungkin dia menderita penyakit menjijikan seperti itu!"

Lay menggelengkan kepalanya, benar-benar kehabisan akal merubah mind set sang suami. "Kau bahkan tidak mau mendengar ceritanya, apa yang ia alami, Suho. Kau selalu berpikir buruk tentangnya!" bentak lay mulai menangis.

Suho meredam amarahnya dengan menghela nafas kasar, "aku tidak mau tau apa yang ia alami. Yang aku tau, aku membesarkannya dengan sangat susah payah. Menjadikannya namja yang berpendidikan tapi, ternyata ia mengecewakanku, Lay." Tukas Suho sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan sang istri yang sudah menangis dengan keras.

Tanpa diketahui Lay, Kris belum berangkat pergi, ia masih berdiri diluar rumah tepatnya didepan pintu rumahnya, namja itu mencengkram dadanya yang terasa sakit. Mendengar semua ucapan ayahnya, hatinya merasa sangat perih. Kris menangis.

"Mianhae, abeoji." Bisiknya.

~LIMIT~

Walaupun ia hidup dengan keluarga ibunya, Tao tetap merasa tidak enak. Tidak enak saat, ia harus diam saja melihat keluarga ini berkerja. Xiumin, sang imo dan Baekhyun sellau menyibukan diri mereka di dapur sementara Tao hanya bisa duduk diam di kursi roda melihat mereka mondar-mandir memasak. Tao benar-benar merasa hanya menjadi penonton.

"baekhyun hyung, adakah yang perlu aku kerjakan?" tanya Tao sambil mengayuh kursi rodanya.

Dengan cepat baekhyun menjawab, "Eobseo, Tao. Tak ada kau diam saja disana, ne. sebentar lagi makanan ini jadi."

"Hyung! aku bisa berkerja. Aku bisa membantu kalian. Kenapa? Kenapa aku tidak boleh membantu?!" sentak Tao, tampakya Tao benar-benara kesal. Kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Xiumin langsung melihat Tao. "Tao, bukannya kau tidak boleh membantu. Kita hanya tidak in—"

"Aku tau aku hanya akan merusak segalanya! Aku hanya kan merepotkan kalian!" potong Tao lalu ia memutar balikan arah kursi rodanya dan pergi meninggalkan Baekhyun dan Xiumin.

"Tao! Yak, Tao-ya!" teriak Baekhyun tapi sepertinya Tao benar-benar marah.

Chen, sang paman turun dari lantai atas. Ia melihat tao mendorong kursi rodanya keluar dari rumah. "Wae geurae? Kenapa Tao keluar sambil menangis?" tanyanya.

Mendengar kata sang ayah, baekhyun hendka ingin meninggalkan pekerjaannya dan menyusul Tao tapi sang ibu langsung mencegahnya. "Ia hanya sedang terguncang. Biarkan dia sendiri." Kata Xiumin.

Sementara Chen masih berdiri membantu, tidak mengerti apa yang terjadi.

~LIMIT~

Sungai Han pagi ini masih sepi oleh pengunjung, membuat beberapa orang yang ingin sendiri benar-benar akan merasakan ketenangan. Kris bersandar pada pohon besar yang tertananm di pinggiran Sungai terindah di Korea itu. Ia melempar beberapa kerikil ke sungai tersebut sehingga menimbulkan riak air. sebuah handphone miliknya ia keluarkan dari kantung celana, ia mencari beberapa kontak dan jarinya berhenti pada sebuah nama kontak 'Sehun' dan ia memencet tombol panggil. Tak lama terdengar jawaban dari seberang sana.

"Nde, hyung?"

Lama Kris baru menjawab, "kau punya nomor, Kai?"

"Kai? Sejak pertemuan kita malam itu. Aku tidak berhubungan lagi dengannya, hyung. jad aku tidak punya. Wae?"

"Ani, hanya bertanya."

Terdengar deheman dari Sehun.

Kris kembali berbicara. "Yang pergi ke Vancouver saat itu harusnya Kai saja bukan?"

"Nde, hyung. seharsnya begitu bukan? Keundae hyung, sebenarnya ada apa kau mencari Kai? Malam itu kalian bertengkar bukan? Apa sebenarnya maslahnya, hyung?"

Kris hanya bisa diam. "Aku—aku ingin bertemu dengannya. Ada yang harus dibicarakan." Kris menjawab tapi dia tidak menjawab maslahnya dengan Kai, it membuat Sheun menghela nafas kesal diseberang sana.

"Yasudahlah, hyung. jangan buat keributan lagi datangi saja rumahnya, sepertinya keluarganya masih disana." Kata Sehun.

"Hm, gomawo Sehun." Ucap Kris lalu memutuskan sammbungan teleponnya.

Kris pun meninggalkan sungai Han namun, saat ia pergi meninggalkan sungai Han, Tao datang dan berteduh dibawah pohon yang tadi menjadi tempat Kris berteduh juga. Mereka hampir bertemu, jika saja Kris lebih lama, ia akan bertemu dengan takdirnya.

~LIMIT~

Jika bukan harinya ia pergi ke kampus, Luhan membuka café kopinya lebih awal. Kini ia sedang membersihkan cafenya selagi menunggu karyawannya yang lain sampai. Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti didepan cafenya, Luhan yang mengetahui siapa pemilik mobil itu langsung merapihkan penampilannya dan tersenyum ceria berjalan keluar café.

"Luhannie." Sapa orang itu, Sehun. Ia langsung memeluk kekasihnya yang jauh lebih tua 2 tahun darinya itu.

Luhan pun menyambut pelukan Sehun dengan erat.

"kenapa datang kesini pagi sekali, hun?" tanyanya.

Sehun pura-pura berpikir, "Hm… menemui sang kekasih mungkin." Jawabnya.

Jawaban Sehun berhasil membuat Luhan tersipu malu. Mereka pun masuk kedalam café dengan saling berpelukan.

~LIMIT~

Kejadian beberapa tahun yang lalu itu menjadikan penyesalan terbesar bagi Sehun, Chanyeol dan Kris tepatnya. Tidak hanya orang tua mereka yang kecewa, kekasih mereka pun ikut kecewa. Luhan setelah mengetahui Sehun bercengkaram adengan yeooja-yeoja bar, ia sempat tidak ingin bertemu dengan sehun selama beberapa bulan, begitupula dengan Baekhyun. Namja yang tak kalah manisnya dengan Luhan itu juga sempat memutuskan hubungannya dengan Chanyeol dengan alasan ia tidak ingin berdampingan dengan namja yang sudah di peluk-peluk oleh yeoja-yeoja murahan. Beruntung Kris saat itu belum memiliki kekasih dan lagi kedua orang tuanya belum mengetahui hal bodoh yang ia lakukan dulu. Itu yang membuat Kris kecewa pada diri dia sendiri.

Kris ia menatap sebuah rumah yang terlihat sangat besar. Ia melangkahkan kainya dengan ragu ke pagar tinggi rumah tersebut. Kris memencet tombol bel tak lama seorang satpam rumah itu keluar.

"Cari siapa, tuan?"

Sosok penjaga rumah itu berbeda dengan penjaga yang dulu menjaga rumah sahabatnya, Kai. Kris tak lama tersadar dari lamunannya.

"Ah, ini rumah keluarga Kim?" tanya kris.

"ya, dulunya. Mereka sudah pindah sekarang." Jawab penjaga itu.

Kedua kening Kris berkerut, "Pindah?"

"Ya, 6 bulan yang lalu."

Sontak tubuh Kris melemas. Sosok yang membuat mimpinya hancur, kebagaiannya menghilang kini pergi begitu saja. Tubuh Kris sempat oleng, membuat namja paruh baya didepannya khawatir.

"Tuan, gwaenchana?"

Kris tersenyum dan mencoba melepaskan lengannya yang digenggam namja itu. "Hm, gawaenchana. Kalau gitu, terima kasih, Ajusshi." Tukas Kris lalu pergi.

Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudinya. Hancur, semuanya hancur. Kris belum sempat bertemu dengan orang yang sudah menghancurkannya. Kris mengepalkan tangannnya hingga buku-buku jarinya memutih, Kris kembali mengendarai mobilnya dengan kecapatan yang cukup tinggi.

~LIMIT~

Baekhyun mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat lambat, ia melirik-lirik keadaan sekitar. Tao, hingga siang hari ini dia belum pulang terlebih lagi langit yang mulai mendung membuat Baekhyun makin khawatir. Petir berskala kecil mulai terlihat, Baekhyun di sudut matanya kini sudah terdapat air mata, Baekhyun memang sangat lemah dengan hal-hal yang berurusan dengan Tao.

Baekhyun memutuskan untuk memberhentikan mobilnya di dekat sungai Han. Ia mempunyai feeling kalau Tao ada ditempat ini. Hujan mulai turun, awalnya hanya rintik-rintik namun, lama kelamaan rintik-rintik itu kian membesar dan intensitasnya semakin sering jatuh membasahi bumi.

Disebuah pohon yang cukup besar, Baekhyun melihat seorang namja yang sangat dikenalinya, sudah terduduk di rumput dengan tubuh yang basah. Tao sengaja menjatuhkan dirinya dari kursi roda.

"Tao?!" teriak Baekhyun dan berlari menghampiri Tao.

Namja panda itu menangis. Baekhyun sontak memeluk sepupunya.

"Gwaenchana, Tao. Hyung disini." Bisik Baekhyun diantara derasnya hujan.

"Kaki ini, hyung. kenapa ia tidak berfungsi, eoh?! Kenapa dia sama sekali tidak membantu ku, hyung!" marah Tao sambil memukul kakinya disertai dengan air mata yang terus menetes.

Baekhyun menghentikan tindakan Tao tersebut dan menangkupkan wajah pucat sepupunya itu.

"Tao! Dengarkan, hyung. ia kan berfungsi, hanya butuh waktu, Tao. Kau akan bisa berjalan lagi." Ujar Baekhyun sambil menatap mata Tao.

Tao langsung menarik Baekhyun kedalam pelukannya, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Baekhyun. Kini Baekhyun hanya bisa menemani Tao yang masih terus terisak didalam pelukannya, derasnya hujan seakan ikut sedih melihat keadaan namja panda itu.

~LIMIT~

Kris masuk kedalam rumahnya dengan wajah yang pucat. Sang ayah, Suho tiba-tiba langsung melemparkan beberapa kertas ke wajah Kris. Kris langsung membungkuk memungut kertas-kertas tersebut. Betapa terkejutnya Kris, melihat gambar-gambar yang tercetak disana. Gambar kejadian 1 tahun yang lalu. Terlihat jelas, diri dan disampingnya Chanyeol tengah meminum-minuman berkadar alkohol tinggi. Suho benar-benar sudah tidak tahan ia menampar Kris.

"IGE MWOYA?! KAU MASIH INGIN MENGELAK APA LAGI, ANAK BRENGSEK!"

Lay keluar dari dapur dengan wajah bingung.

"Yeobo, wae ge—"

"KAU LIHAT SENDIRI. ANAK YANG SELAMA INI KAU ANGGAP BAIK, TERNYATA HANYA TOPENG!" teriak Suho.

Melihat Lay yang sangat terkejut melihat gamba-gambar tersebut, Suho tersenyum remeh, "Kau sudah lihat? Anak ini tidak tau berterima kasih!" suho mengarahkan telunjuknya kearah Kris.

Sementara Kris, hanya diam berdiri mematung. Lay, memukul-mukul dada sang anak dengan lembut.

"Kris, jelaskan ini. Ini bohong bukan? Kau tidak datang ke tempat memalukan ini kan, Kris? Jelaskan pada eomma, Kris." Ujar Lay dengan air mata.

Kris mengangkat wajhanya menatap sang ibu menyesal.

"Mianhae, eomma. Aku memang datang kesana." Lirih Kris.

Suho kembali melayangkan tinjuannya.

"Geumanhae, Yeobo! Teriak Lay sudah bersimpuh memeluk kaki sang suami.

Kris sama sekali tidak melawan, ia hanya menunduk. Melihat sang ibu yang bersimpuh Kris mengangkat tubuh namja itu. Ia beranikan dirinya menatap sang ayah.

"Abeoji. Aku memang datang kesana tapi aku tidak melakukan apapun abeoji, aku tidak melkaukan hal-hal yang bisa membuatmu hancur. Kalaupun akau ingin menghancurkanmu, sudah dari dulu, abeoji." Jelas Kris.

Suho dengan nafas yang tersengal-sengal karena emosi tidak ingin lagi mndengarkan penjelasan Kris, ia mengeluarkan sebuah kartu dari kantung celananya dan melemparnya ke Kris.

"Kau, pergi jauh-jauh dari keluarga ini. Bawa semua barang-barangmu tinggal saja di apartemen, kehadiranmu hanya membuat kekacauan." Ujar Suho

"Yeobo, tidak, jangan. Aku tidak bisa jika Kris tidak disini." Ujar Lay.

Kris menangkupkan wajah eommanya. "Eomma, gwaenchana. Eomma bisa menemuiku jika eomma ingin. Aku tidak ingin pekerjaan abeoji terganggu." Kata Kris dengan senyuman.

Kris menghapus air mata Lay sementara Suho pergi begitu saja meninggalkan istri dan anaknya. Melihat kepergian sang ayah, Kris berkata, "Gomawo, abeoji." Dengan wajah yang sudah babak belur dan pucat Kris masih bisa tersenyum kepada sang ayah.

Suho, jika saja ia bisa jujur dan mengungkapkan. Ia tidak ingin kehilangan anaknya itu. Sejujurnya.

ToBeContinue….

Aaaaaaaaaaaaa….author kembali! Ternyata banyak juga yang tertarik dengan ff ini..hehhehe, seneng deh :D gomawo ne, buat yang sudah menantikan, membaca, mengfollow dan mengfavoritekan…

Author sebenarnya gak tega buat Kris kayak gini tapi entah kenapa sebuah ide dengan pokok cerita seperti ini melintas tapi apapun buat readers, author kan buatkan..

Berikan lagi review dan saran kalian ne… GOMAWO, SARANGHAE ! J

BIG THANKS & REPLY FOR REVIEW :

celindazifan: Iya bisa kok, gaklah Tao gak lumpuh selamanya… Gomawo reviewnya^^

GingerBeep: udah lanjut ya, author usahakan deh… Gomawo reviewnya^^

Kiakia21: hehe, terima kasih pujiannya, kiakia. Udah lanjut nee… Gomawo reviewnya^^

BabyZi: Disini udah dijelasin kok, ternyata karena keteledoran, maslah kecil bisa membuat semuanya hancurkan… ckckck. Tao tuh namja berhati peri, dia masih belum ngerti cinta nih sayangnya… Gomawo semangat dan reviewnya^^

Aiko Michishige: udah lanjut yaaa, Gomawo reviewnya^^

LVenge: gak sih, gak saling kenal sebenarnya. Cuman gak tau kenapa Kris kayak ngerasa punya feel pas dengar nama itu. Udah di lanjutin yaa… Gomawo semangatnya dan reviewnya^^

ariviavina6: hihi, udah lanjut nih… Gomawo reviewnya^^

pantao: maafkan author yang kejam L, udah lanjut yaa… Gomawo reviewnya^^

ChanKai Love: udah next yaaa.. Gomawo reviewnya^^

buttao: udah lanjut yaaa,, Gomawo reviewnya^^

dan para silent reader, GAMSAHAMNIDA…